Menuju Geiranger: Fjord, Danau dan Terowongan Terpanjang di Dunia

Berbeda dari banyak orang lainnya, saya nggak mau jalan-jalan ke tujuan-tujuan wisata dan cuma main jepret kamera. Apalagi kalau isinya muka saya semua. Saya senang belajar, terlebih lagi mengetahui fakta-fakta unik tentang suatu tempat. Kalau bisa nggak cuma yang diberi tahu oleh pemandu wisata. Maka dari itu, maklum-maklum saja ya, Pembaca, kalau foto-foto yang bertebaran di blog ini kurang bagus atau banyak yang mencong. Saya memang tidak terlalu fokus dengan jepretan foto, terutama kalau sedang di tempat bagus. Kamera terbaik adalah mata kita, bukan begitu Pembaca?

Omong-omong soal mata adalah kamera, kira-kira itulah bekal saya di 11 jam perjalanan berikutnya bersama dengan pelajaran geografi yang telah saya refresh di otak saya di Hardangervidda Natursenter. Dalam 11 jam yang sama sekali tidak singkat ini, mobil kami akan menempuh jarak kurang lebih 377 km ke utara, melewati kenampakan alam seperti yang telah saya pelajari di museum tersebut. Akhirnya, saya nggak cuma belajar teori tapi praktik juga 😀 Tapi, sudah tentu ada bedanya menggunakan kamera sungguhan dan mata sendiri. Kamera sungguhan punya memori, mata kita bisa menipu. Alhasil, saya pun harus mengakui bahwa ini adalah tulisan tersulit yang saya hasilkan dari seluruh perjalanan saya. Dengan jalan yang begitu panjang dan kenampakan alam yang mirip atau serupa berulang-ulang di depan mata saya, berulang kali saya harus memutar otak untuk mengingat rute yang benar yang saya lalui dalam perjalanan tersebut. Waduh, saya jadi banyak mengoceh nih. Langsung aja dimulai cerita selanjutnya yah..

Setelah berhenti beberapa saat di Øvre Eidfjord, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Eidfjord yang terletak di tepi Hardangerfjord, salah satu fjord yang terkenal di Norwegia. Melihat fjord yang biru tersebut, saya kini dapat membayangkan, bahwa ujung yang terletak dekat kota Eidfjord tersebut pasti sangat dalam, karena Eidfjord adalah kota di tepi Hardangerfjord yang paling jauh dari laut.

hardanger

Hardangerfjord

Dari Rv 7, saya berbelok ke Rv 13 melalui sebuah terowongan yang berujung pada sebuah jembatan panjang bernama Hardangerbrua. Hardangerbrua membentang di atas Hardangerfjord dan merupakan salah satu jembatan terpanjang di dunia. Sudah sejak lama saya ingin menyaksikan Hardangerfjord dari jembatan ini. Sayang sekali, ruang bagi kendaraan cukup sempit sehingga meskipun jembatan ini dilengkapi dengan jalur sepeda dan pejalan kaki, saya tidak bisa menepi sembarangan untuk turun dan mengambil foto. 😦 Padahal, dulu saya sering iseng menggunakan fitur street view Google Maps dan menjatuhkan kursor berbentuk orang-orangan di atas jembatan ini, hanya untuk mengagumi pemandangannya dari layar komputer saya. Jembatan ini menghubungkan terowongan Bu dengan terowongan Vallavik. Sebetulnya, dekat dengan terowongan Bu ada tempat parkir apabila kita ingin berjalan kaki di sepanjang Hardangerbrua. Kami tidak mengambil kesempatan tersebut mengingat perjalanan yang masih begitu panjang. Akhirnya, saya (terpaksa) membuat permohonan lagi dalam hati, agar suatu hari dapat berjalan melintasi jembatan tersebut.

en.hardangerfjord.com

Hardangerbrua dan zona pejalan kakinya. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

en.hardangerfjord.com.jpg2

Hardangerfjord yang cantik dilihat dari Hardangerbrua. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

Terowongan Vallavik (Vallaviktunnelen) ini panjangnya 7,51 km. Bisa dibilang inilah pertama kalinya saya memasuki terowongan yang demikian panjang. Jangan kaget dulu, Pembaca, karena nanti saya akan ketemu dengan yang lebih panjang lagi. 😛 Terowongan Vallavik memiliki sebuah bundaran bercabang tiga di dalamnya yang masing-masing mengantar kita ke sisi gunung yang berbeda. Jalur yang saya ambil menembus gunung hingga ke tepi sebuah danau bernama Granvinsvatnet dekat kota Granvin, Hordaland. Berkendara menyusuri danau itu, saya berjalan terus menuju sebuah kota cantik bernama Vossevangen atau sering juga disebut dengan Voss. Kami berhenti sebentar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kota ini untuk membeli makanan ringan untuk bekal di perjalanan.

Saya mengikuti jalan bernama Strandavegen di Rute E16 dari Voss. Di sebelah kiri saya tersebar rumah-rumah bergaya tradisional Norwegia di lereng gunung, sedangkan di kiri saya adalah Sungai Strandaelvi. Beberapa kilometer ke arah utara, mobil kami melalui sebuah air terjun di tepi jalan. Air terjun tersebut, Tvindefoss, betul-betul terletak di tepi jalan dan hanya dipisahkan oleh kompleks camping dan berseberangan dengan Sungai Strandaelvi. Di sekitar Tvindefoss ini terdapat banyak area rekreasi untuk aneka kegiatan seperti memancing dan arung jeram. Air terjun tersebut sendiri memiliki ketinggian 120 m tetapi jatuhannya yang mengalir turun melalui tebing batu membuatnya tampak seperti selendang putih.

tvindefoss

Tvindefoss di tepi jalan.

Terus berkendara di Rute E16, saya melalui kota Gudvangen dan Flåm. Dua kota kecil ini terletak di tepi dua fjord yang merupakan anak dari Sognefjord. Sognefjord adalah fjord yang serba “ter-” di Norwegia, yaitu terdalam, terlebar dan terpanjang. Gudvangen ada di ujung Naerøyfjord sedangkan Flåm ada di ujung Aurlandsfjord. Saya mengetahui tentang keindahan dua kota dan fjord ini melalui salah satu buku favorit saya, “Scandinavian Explorer” karangan Asanti Astari.

11543323

Buku yang sangat saya rekomendasikan buat yang tertarik ke Skandinavia 🙂 Sumber: http://www.goodreads.com/

Menurut buku itu juga, Gudvangen dan Flåm adalah dua kota yang akan dilalui jika kita mengikuti tur singkat “Norway in a Nutshell” dari Bergen ke Oslo. Dengan tur yang super populer tersebut, kalian sudah dapat melihat poin-poin penting dari alam Norwegia seperti fjord, air terjun, kota tua dan pegunungan. Dalam paket tur itu, para peserta bisa berlayar dari Gudvangen ke Flåm melalui kedua fjord tersebut dengan kapal. Serius, waktu baca bukunya saya pengen banget. Sayangnya ketika saya berkesempatan untuk berada di kota tersebut, saya cuma numpang lewat. 😦

 

Ya, namanya juga road trip pasti bakal banyak tempat yang cuma numpang dilewati. Sambil bikin permohonan lagi supaya bisa ikut Norway in a Nutshell suatu hari, saya melanjutkan perjalanan menuju Lærdal. Untuk mencapai kota tersebut dari tepi Aurlandsfjord, saya harus memasuki terowongan yang panjangnya tak terdeskripsikan lagi. Dua puluh empat setengah kilo, Pembaca! 24,5 km! Nggak tanggung-tanggung lagi, terowongan Lærdal (Lærdaltunnelen) ini langsung menyandang nama sebagai terowongan darat terpanjang di dunia. Padahal, terowongan nomor dua terpanjang yang ada di Swiss “hanya” 16 km. Kalau terowongan Vallavik yang saya lewati sebelumnya itu menembus gunung, terowongan ini pasti menembus pegunungan. Saya sempat jatuh tertidur dalam proses menembus pegunungan tersebut. Parahnya lagi, ketika saya bangun, saya masih berada di dalam terowongan itu. Kebayang ‘kan panjangnya? Berasa naik mobil dari Jakarta Pusat sampai Depok.

europe-norway-facts-worlds-longest-tunnel-laerdals-tunnel_outside_dsc05697

Lærdaltunnelen. Sumber: http://www.bergen-guide.com/

lc3a6rdalstunnelen_norway

Dalamnya terowongan terpanjang di dunia. Sumber: http://en.wikipedia.org/

Untunglah terowongan mahapanjang ini masih ada ujungnya. Betapa bahagianya saya ketika melihat cahaya di ujung dan pegunungan hijau kembali menyambut saya. Saya pun tiba di Lærdal dengan selamat tanpa keruntuhan bebatuan gunung maupun terjebak dalam terowongan karena hal lain. Setelah beberapa saat menempuh jalan yang diapit lembah hijau dan satu terowongan lagi, saya tiba di tepi Sognefjord yang entah sisi sebelah mananya lagi.

Fjord ini adalah fjord keempat yang saya lihat selama perjalanan ini. Tenang saja, Pembaca, saya tidak akan muntah karena bosan. Saya justru suka dengan pemandangan fjord yang tidak ada di negara saya ini. Belum lagi, kali ini saya punya cara berbeda untuk menikmatinya. Tidak dengan berkendara melipir di sisinya, tidak juga lewat jembatan panjang. Saya akan berlayar menyeberangi Sognefjord. Woohoo!! Girangnya saya mendengar adanya kesempatan berlayar di fjord meskipun cuma 20 menit.

Prosesnya tidak jauh berbeda dengan naik feri. Pertama-tama mengantri di depan pintu kapal, membayar tiket kemudian masuk dan parkir di lantai dasar. Selanjutnya, saya diperbolehkan turun dan berjalan-jalan ke dek atas maupun minum kopi di kafe kapal sampai kapal merapat di seberang. Tentu saja saya memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati pemandangan fjord terbesar di Norwegia itu sambil mencari udara segar. Rasa lelah akibat duduk berjam-jam di mobil segera terobati ketika saya berdiri di dek dan merekam sedikit perjalanan menyeberangi Sognefjord yang singkat namun tak terlupakan dengan kamera saya.

sognefjord with ferry

Menyeberangi Sognefjord

sognefjord

Dalam waktu singkat, kapal merapat di sisi utara fjord terpanjang di Norwegia tersebut. Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke utara sambil mulai tengak-tengok kiri kanan mencari restoran buka. Setelah berjam-jam, perut saya pun menyerah dan minta diisi makanan selain keripik atau snack-snack ringan lainnya. Jujur saja, mencari makanan di Norwegia itu sampai sekarang masih jadi masalah saya. Bukan karena saya alergi dengan makanan Skandinavia atau terlalu tawar dan lain-lain. Kalau lapar, makanan dingin pun akan saya santap. Masalahnya, mencari restoran di Norwegia dengan menu yang variatif dan harga yang terjangkau itu seperti mencari rusa kutub di gurun sahara. Karena (nyaris) tidak mungkin, kami mencari alternatif, seperti membawa bekal sendiri atau terpaksa makan makanan junk food.

Beberapa kali makan makanan buatan sendiri yang tentu saja terdiri dari smørbrød, lidah kami ingin sesuatu yang lain. Berhentilah kami di sebuah kota di salah satu cabang fjord yang lain bernama Sogndalfjøra. Tadinya, kami bermaksud mencari makanan Asia, yang ternyata hanya ada minimarketnya tanpa restoran. Setelah mondar-mandir di jalan yang sama, kami berhenti di sebuah restoran bernama Den Gamle Nabo. Begitu masuk, tampak interior yang mengesankan bahwa restoran tersebut adalah restoran mewah. Lain kesannya setelah saya duduk dan membuka menu makanan. Ujung-ujungnya isinya burger dan kebab juga. Memang bukan junk food sih, karena dimasaknya saja lama sekali dan bukan makanan cepat saji, tapi tetap saja saya bosan dengan sandwich, burger dan teman-temannya itu. Hiks 😥 Sekedar info, menurut saya restoran ini nggak terlalu recommended. Selain makanannya yang lama datangnya, rasanya terbilang biasa saja dan harganya agak overpriced.

Kami meninggalkan restoran itu dan Sogndalfjøra di bawah awan mendung dan gerimis. Meskipun demikian, sinar matahari tetap dapat menembus awan tersebut, membuat hari tetap terang untuk melanjutkan perjalanan. Kami melalui Rv 5 dan terus menuju ke utara. Setelah lembah dan gunung serta jalanan berkelok-kelok, kami mendekati taman nasional lagi. Jostedalbreen Nasjonalpark, taman nasional itu, adalah rumah dari gletser terbesar yang ada di daratan Eropa. Luas total dari gletsernya sendiri adalah 487 km persegi. Sama seperti Sognefjord, gletser ini pun memiliki cabang-cabang. Pelajaran geografi di Hardangervidda Natursenter membantu saya membayangkan, bahwa pada zaman es dulu, Sognefjord dan anak-anaknya pun menjadi bagian dari gletser raksasa ini.

boyabreen

Bøyabreen, salah satu anak gletser dari Jostedalbreen.

Kalau dilihat dari atas lewat peta Google, gletser ini tampak seperti tangan putih besar yang jari-jarinya menjulur ke berbagai arah. Salah satu jari tersebut, Bøyabreen, menjulur ke arah kota Fjærland dan tampak dari Rv 5 yang saya lalui. Wow, ternyata ukurannya cukup besar meski hanya cabang dari gletser utama. Untuk mencapai gletser ini, ada belokan kecil ke kanan dari jalan raya utama. Di sisi jalan tersebut terdapat kabin dan area berkemah. Kalau mengikuti jalan tersebut, kita akan tiba di sebuah danau kecil di kaki gletser tersebut. Tentu saja saya tidak mampir ke danau maupun gletser tersebut (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu. Sekedar informasi, gletser-gletser ini, betapa pun indahnya, sedang terancam kehancuran akibat pemanasan global. Ukuran mereka semakin menyusut setiap tahunnya karena es abadi yang ada pada mereka mencair perlahan-lahan.

Bagaimana, Pembaca? Sudah lelah mengikuti cerita saya? Tenang saja, kita sudah setengah jalan, kok. Kalau lihat gambar-gambar yang ada mungkin bisa sedikit mengurangi rasa lelah. Hehehe 😛 Lewat dari Bøyabreen, saya melalui beberapa terowongan pendek dan tiba di kota Skei. Setelah bundaran, saya mengambil jalan ke arah utara melewati jalur E39. Lagi-lagi jalur Eropa. Jalur E39 berkelok-kelok melewati beberapa danau di kiri-kanan, menanjak di dekat Byrkjelo dan turun ke kota Utvik yang terletak di tepi sebuah fjord. *terdengar suara gubrak dari bangku pembaca* Cape deh..

Fjord yang kali ini tidak panjang dan besar seperti Sognefjord. Namanya adalah Innvikfjord dan merupakan cabang bagian dalam dari Nordfjord yang terletak dekat laut. Begitu banyaknya fjord di negara ini, saya sampai berpikir jangan-jangan waktu Tuhan menciptakan Norwegia, Dia tinggal copy paste edit edit lagi. Hahahaa..  Duh, kan saya jadi melantur. Di Innvikfjord ini (sialnya) tidak ada jembatan maupun jasa penyeberangan feri. Alhasil kami pun harus memutari lewat tepiannya untuk mencapai kota Stryn di seberang. By the way, kota Stryn ini cantik sekali lho. Ketika saya tiba di sana, matahari bersinar cerah sekali meski hari sudah menjelang senja. Stryn menjadi tampak seperti resor musim panas yang diapit laut (fjord) dan dipunggungi pegunungan. Tak jauh dari tepi fjord banyak terdapat trailer-trailer para wisatawan dan kabin-kabin liburan yang menandakan bahwa kota ini memang tempat wisata yang populer.

xxxxxstryn

Stryn di tepi fjord dan kaki gunung. Sumber: http://www.morenytt.no/

Jalan kembali menanjak ke arah pegunungan yang melatari kota tersebut. Di samping saya, sungai Stryneelva berkelok-kelok dengan cantik, membawa air jernih dari pegunungan hingga turun ke fjord. Agak di atas, saya bertemu dengan danau lagi yang menjadi sumber air bagi Innvikfjord, yaitu Oppstrynsvatnet. Di tepi danau tersebut terdapat Pusat Pengunjung Taman Nasional Jostedalbreen (Jostedalbreen Nasjonalparksenter). Stryn dan kakaknya yang terletak agak di atas, Oppstryn, memang menjadi start awal bagi para petualang yang ingin mendaki gletser-gletser Jostedal karena letaknya yang memang dekat.

Saya terus melanjutkan perjalanan semakin naik ke pegunungan. Perjalanan mendaki gunung tersebut dibantu oleh terowongan-terowongan yang mempersingkat waktu. Tahu-tahu saya sudah pindah provinsi dari Sogn og Fjordane ke Oppdal. Begitu keluar dari terowongan terakhir, di samping saya terbentang danau yang panjang. Nama danau itu, Langvatnet, betul-betul berarti Danau Panjang. Tidak jauh berkendara menyusuri danau tersebut, ada lagi danau yang namanya Danau Dalam alias Djupvatnet. Saya mulai berpikir, jangan-jangan saking banyaknya danau, orang Norwegia kehabisan nama untuk menamai mereka. Terbukti ada beberapa danau dengan nama yang sama kalau kita niat banget meneliti setiap peta provinsi di Norwegia. Djupvatnet terletak di provinsi yang berbeda lagi, namanya More og Romsdal. Ternyata ada perbatasan tiga provinsi di atas pegunungan tersebut.

djupvatnet

Djupvatnet dikelilingi pegunungan bersalju.

Puncak pegunungan tersebut masih banyak yang tertutup salju. Beberapa bagian tampak seperti daerah kutub utara atau Svalbard, kepulauan di utara Norwegia tempat kediaman beruang kutub. Dari jauh, ketika saya baru saja keluar dari terowongan, tempat tersebut tampaknya sepi. Tidak ada tetumbuhan yang terlihat selain lumut tundra. Hanya ada beberapa mobil yang melintas. Saya nyaris yakin bahwa tempat tersebut tidak berpenghuni dan sangat antah-berantah di puncak gunung, sampai saya melihat sebuah bangunan dari kayu yang ternyata kabin dan penginapan. Astaga! Benar-benar ya orang-orang utara ini, mencari personal space sampai ke puncak gunung yang dingin begini!

Sebuah papan informasi di pinggir jalan memberi tahu saya bahwa tempat yang saya lalui berketinggian  1.030 m.d.p.l., lebih tinggi dari Hardangervidda. Tidak jauh dari penginapan tersebut, terdapat papan penunjuk arah dan jalan kecil yang menanjak. Jalan tersebut, mengarah ke puncak tertinggi di dekat situ, Dalsnibba, dengan ketinggian 1.476 m.d.p.l. Karena diburu waktu, kami tidak mengambil jalan tersebut melainkan turun menuju lembah. Mengikuti Rv 63, kami berhenti di sebuah titik pandang yang terletak di pinggir jalan. Dari tepi jalan yang tanpa pagar pembatas tersebut, saya berdiri dan menyaksikan keindahan panorama lembah yang berkelok di bawah. Pegunungan bersalju di kejauhan membingkai lembah hijau tersebut. Dari tebing-tebing di kiri kanan lembah, saya dapat melihat air terjun-air terjun kecil hasil lelehan salju di puncak gunung. Sungguh pemandangan yang bisa mencuri nafas saking bagusnya.

13707610_10210497256414158_560097613247220246_n

Pemandangan lembah dari viewing point di ketinggian 1.030 m.d.p.l.

Dari tempat itu, saya dapat melihat hasil dari proses pembentukan alam yang saya pelajari di Hardangervidda Natursenter. Danau-danau di puncak gunung tadi, seperti Langvatnet dan Djupvatnet adalah danau yang menampung air hujan atau lelehan salju. Danau tersebut mengalir menjadi air terjun kecil melalui tebing-tebing dan jatuh ke aliran sungai di lembah. Aliran sungai yang berkelok tersebut kemudian berlanjut ke fjord. Fjord terus mengalir hingga ke laut. Menakjubkan, bukan? Semua teori yang saya pelajari jadi nyata di depan mata. 🙂

Setelah menikmati pemandangan dan meluruskan kaki beberapa menit, kami berjalan lagi menuju lembah, kali ini dengan sebuah tujuan: mencari tempat bermalam. Kebetulan, mayoritas tim roadtrip kami adalah procrascinator yang senang mencari di detik-detik terakhir menjelang tengah malam. Tentu saja hal tersebut berdampak buruk, karena beberapa penginapan di sepanjang jalan menuju lembah sudah penuh. Maklum saja, karena saya memang semakin mendekati salah satu tujuan wisata terfavorit di Norwegia. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil kamar kosong apapun yang kami temukan setelah itu.

Di sebuah belokan dekat Hotel Utsikten, mata kami menangkap sebuah papan yang dipasang di pinggir jalan yang menginformasikan adanya kamar kosong. Tentu bukan kamar di hotel tersebut, melainkan kamar di sebuah rumah milik pasangan manula yang terletak di seberang hotel. Rumah tersebut bergaya jadul mengikuti pemiliknya, bahkan cara pembayaran sewa kamar pun sudah lanjut usia. Ketika mayoritas penduduk Norwegia sudah cashless, pasangan ini justru menagih bayar sewa dengan uang kontan. Alhasil, orang tua Chris harus mencari ATM di kota terdekat.

Sementara mereka pergi, saya dibiarkan turun dan menikmati pemandangan. Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun seperti biasa langit masih terang benderang. Bahkan langit lebih terang dari malam sebelumnya karena lokasi saya berada jauh lebih di utara. Dengan semangat, saya melipir di tepi jalan raya, mencari tempat yang lebih terbuka dan tidak tertutup pepohonan. Setelah menemukan tempat terbaik, saya berhenti. Dibatasi oleh pagar pembatas jalan, jauh di bawah sana tepat di depan mata saya, terbentang perhentian terakhir perjalanan darat hari kedua: Geirangerfjord. Karena hari telah larut, perairan tersebut sangat kosong. Tak satu pun kapal pesiar para turis yang tampak seperti pada gambar-gambar dalam kartu pos. Sebuah air terjun yang deras tampak jatuh dari pegunungan di belakang saya. Airnya mengalir melalui jeram-jeram kecil menuju fjord yang indah tersebut.

geirangerfjord

Geirangerfjord dari pinggir jalan, dekat tempat saya menginap pada pukul 23.00

Apakah saya bosan dengan fjord? Tidak sama sekali. Saya bahkan berdiri di titik tersebut, memandangi Geirangerfjord selama bermenit-menit sampai mobil kembali. Entah berapa fjord telah saya lewati sejak dari Eidfjord. Konon katanya, jika kita berkendara dari Kristiansand (kota di selatan Norwegia) sampai Trondheim, kita harus menyeberang 8 fjord dan memakan waktu 22 jam. Saya tidak bertemu fjord sebanyak itu, tapi saya rasa cukup sering untuk membuat hal tersebut tidak istimewa lagi. Tidak seperti itu sih kalau bagi saya. Tidak percaya? Kalau kata slogan sebuah perusahaan pelayaran di fjord bernama Fjord Norway, you have to be here to believe it – kamu harus berada di sini untuk percaya.:)

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Informasi tentang Hardangerfjord dan jembatannya:

http://en.hardangerfjord.com/ullensvang/things-to-do/hardanger-bridge-on-foot-or-on-wheels-p1083353

Tvindefoss dan area perkemahan di sekitarnya:

http://www.tvinde.no/

Salah satu perusahaan pelayaran untuk wisata fjord:

http://www.fjordnorway.com/

Paket tur yang saya sebut-sebut di atas dan selalu bikin saya pengen:

https://www.norwaynutshell.com/original-norway-in-a-nutshell/

 

Apakah Air Fjord Asin atau Tawar?

Bertahun lamanya saya punya pertanyaan ini di kepala saya. Kebetulan saya belum pernah sungguh-sungguh berdiri di tepi fjord dan mencicipi airnya. Jadi, bagaimana saya bisa tahu jawaban pertanyaan yang super nggak penting itu? Ditambah lagi, dua hari petualangan menyaksikan panorama alam Norwegia semakin menambah pertanyaan-pertanyaan di otak saya yang selalu haus pengetahuan. Saya boleh berbahagia, karena tidak lama setelah saya meninggalkan Vøringfossen, saya segera mendapatkan jawabannya. Woohoo!! 🙂

Meninggalkan lahan parkir dekat titik pandang kedua di Vøringfossen, mobil kami bergerak menuruni gunung menuju lembah Måbødalen di bawah. Pemandangan alam yang hijau berulang kali lenyap setiap kali mobil kami memasuki terowongan. Dugaan saya, mungkin ada ribuan terowongan di Norwegia. Beberapa di antaranya saya lalui dalam perjalanan menuju ke lembah. Terowongan-terowongan ini berbeda dengan yang pernah saya lalui di Indonesia, tempat kebanyakan terowongan hanya melintas di bawah jalan layang atau rel kereta api. Terowongan di Norwegia betul-betul menembus gunung, sehingga ketika saya masuk dari satu sisi dinding gunung, di ujung terowongan saya bisa tiba di sisi sebaliknya dengan pemandangan yang sama sekali berbeda. Pada umumnya, terowongan-terowongan di Norwegia sangat panjang. Misalnya terowongan yang saya lalui di daerah tersebut, saya lalui dalam waktu 3 menit. Namanya saja menembus gunung hehehe..

Setelah melewati beberapa terowongan, tibalah saya di kaki pegunungan tempat sebuah kota (atau desa?) bernama Øvre Eidfjord terletak. Daerah ini sebetulnya merupakan bagian yang lebih tinggi dari kota Eidfjord yang sebelumnya saya sebut. Berhubung orang tua Chris ingin beristirahat dan duduk-duduk mengopi, kami berhenti di sebuah bangunan semacam museum yang berwarna merah. Di seberang bangunan itu adalah sebuah toko suvenir dan kafe yang menjual aneka makanan dan minuman yang bervariasi. Karena saya dan Chris tidak lapar dan tidak suka kopi, berpencarlah tim lintas alam kami. Orang tuanya beranjak ke kafe, sedangkan kami menuju museum.

Museum tersebut adalah Hardangervidda Natursenter, yang memajang berbagai koleksi interaktif mengenai kondisi alam yang tersebar di wilayah Taman Nasional Hardangervidda. Museum berlantai tiga tersebut menyajikan berbagai pengetahuan mengenai keadaan biologis, ekologis, dan geografis wilayah tersebut dengan cara yang sangat menarik. Museum ini buka dari tanggal 20 Maret sampai 31 Oktober, mulai pukul 10.00 sampai 18.00. Khusus tanggal 15 Juni sampai 20 Agustus atau high season, mereka buka sejak pukul 09.00 sampai 19.00. Setelah membeli tiket seharga 130 NOK per orang, saya dan pacar saya memulai eksplorasi di museum tersebut.

13754293_10210487774017104_8079086022493348786_n

Hardangervidda Natursenter

 

Rute yang saya pilih untuk berkeliling di museum tersebut agak aneh. Kebanyakan orang memulai dengan menonton tayangan film pengetahuan alam yang menunjukkan panorama di Hardangervidda. Akan tetapi, saya terpaksa harus melewatkan film tersebut karena ketika saya masuk, film tersebut sudah dimulai. Tidak mau mengganggu yang lain, saya pun memutuskan untuk berkeliling. Pertama-tama, saya memulai dari lantai dua (yaitu tempat loket pembelian tiket berada), kemudian turun ke lantai satu dan kembali naik ke lantai tiga.

Di lantai dua terdapat koleksi rusa kutub dalam berbagai ukuran yang diawetkan dan dipajang sebagai diorama. Diorama tersebut menunjukkan bagaimana penduduk dari zaman batu telah mendiami wilayah Hardangervidda karena mengikuti migrasi rusa kutub untuk mata pencaharian mereka. Dari situ pula saya baru tahu bahwa rusa kutub adalah satu-satunya jenis rusa yang setara secara biologis. Eh? Maksudnya? Ya, karena mereka sama-sama punya tanduk.

natursenteret_reinsdyr-forfra.jpg

Diorama migrasi rusa kutub. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Di lantai yang sama, terdapat simulasi runtuhnya bebatuan gunung yang merupakan salah satu hal yang sering terjadi di lereng gunung. Simulasi ini dilengkapi dengan suara yang menyerupai runtuhan gunung. Di pojok belakang kiri terdapat diorama beberapa jenis burung yang hidup di Taman Nasional Hardangervidda. Selain itu, hal yang menarik bagi saya adalah miniatur gunung berapi dan berbagai jenis bentuk letusannya yang bersifat interaktif. Jika kita menekan tombol yang ada di kotak pelindungnya, kita akan menyaksikan simulasi letusan dan lelehan lava yang menarik. Saya jadi ingat pelajaran geografi saya di SMA. 🙂

Dari lantai dua, saya turun ke lantai satu. Segera saya disambut dengan akuarium besar yang mengoleksi beberapa jenis ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Di samping akuarium tersebut, terdapat diorama suasana hutan dengan patung seorang pemburu dari abad pertengahan bernama Ottar. Diorama ini pun bersifat interaktif. Ottar dapat menjelaskan mengenai kehidupan di dataran tinggi pegunungan dari berbagai masa. Serasa didongengi deh!

akvarium_fisk

Salah satu ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Tak jauh dari kedua diorama tersebut, terdapat koleksi glasiologi. Glasiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gletser, yang memang banyak terdapat di Norwegia. Ayo, siapa yang masih ingat apakah gletser itu? 🙂 Sebetulnya saya juga tidak ingat sampai ketika saya membaca lagi di Hardangervidda Natursenter 😛 Jadi intinya, gletser adalah endapan es yang terbentuk karena tumpukan salju yang turun terus menerus, biasanya di daerah kutub atau di puncak gunung yang sangat tinggi. Es yang semakin berat akan tertarik gravitasi dan mengalir ke bawah secara perlahan-lahan seperti sungai dan mengikis permukaan tanah, membentuk daratan berbentuk cekung seperti sungai, danau, lembah, ngarai dan sebagainya. Fenomena gletser ini merupakan salah satu topik favorit saya dalam buku “Pustaka Alam LIFE: Gunung” yang selalu saya baca ketika kecil dulu. Sayangnya, saya belum sempat merasakan sensasi berjalan di atas gletser yang banyak dipromosikan oleh jasa-jasa tur di Norwegia. 😦

Dekat dengan penjelasan mengenai gletser itu terdapat semacam benda putih mirip es yang dipajang di dinding. Dugaan saya, benda itu adalah simulasi bentuk es yang ada di gletser. Saya terkejut ketika saya menyentuhnya dan mendapati bahwa benda itu dingin dan basah. Wah, es sungguhan ternyata! Kembali saya menjadi norak dan berkali-kali menyentuh es tersebut. Karena aneh, Pembaca, esnya tidak meleleh sama sekali. Malah lucu bagi saya, karena ada cap tangan di sana. Seseorang pasti iseng menempelkan tangan di es tersebut.

glasiologi

Contoh es gletser sebelum ada cap tangannya hehehe.. 😛 Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Berlalu dari es tersebut, saya menuju sebuah layar di tengah ruangan yang menampilkan semacam film singkat. Film itulah yang akhirnya menjawab pertanyaan saya. Ternyata, fjord adalah anaknya gletser yang sudah terbentuk sejak 25 juta tahun lalu. Fjord terbentuk dari gletser yang ketika meluncur ke bawah dengan lambat turut mengikis permukaan tanah yang berada di bawahnya. Proses ini berlangsung selama jutaan tahun hingga tanah terkikis bermeter-meter dalamnya. Suatu ketika. gletser yang telah mencair tersebut mengering, sehingga air laut menggenangi cekungan yang terbentuk dari erosinya. Lahirlah fjord, yang semakin mendekati laut semakin dangkal. Dari penjelasan itu, saya pun dapat menyimpulkan, bahwa air fjord tawar pada ujungnya dan semakin asin pada mulutnya yang dekat dengan laut ^^.

Di sebelah layar tersebut terdapat diorama berbentuk gua yang dapat kita masuki. Di dalam gua batu tersebut dipajang berbagai koleksi bebatuan dan mineral yang ditemukan di wilayah Hardangervidda. Menariknya, koleksi tersebut boleh disentuh, sehingga saya pun mengambil kesempatan tersebut untuk merasakan aneka permukaan batu yang berbeda. Batu-batuan yang banyak ditemukan di Hardangervidda antara lain konglomerat dan berbagai jenis marmer. Percaya atau tidak, batuan tertua yang ditemukan di Hardangervidda berusia 1100 dan 1700 juta tahun. Fosil-fosil batuan yang ditemukan menunjukkan bahwa dulu sekali dataran ini terletak di dasar laut dan Norwegia terletak di selatan khatulistiwa. Ini fakta paling mencengangkan yang saya pelajari di museum ini, Pembaca!

geologi

Diorama berbentuk gua dan contoh bebatuan yang bisa disentuh. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Selesai mengeksplor lantai satu, saya naik ke lantai tiga. Sebagian besar lantai tiga digunakan untuk memajang diorama-diorama ekologis yang berfokus pada keragaman flora dan fauna di Hardangervidda. Beberapa diorama dilengkapi dengan layar yang menampilkan kuis interaktif. Pertanyaan-pertanyaannya seputar habitat, makanan dan cara berkembang biak hewan-hewan yang ada di sana, misalnya burung hantu, rubah kutub dan kelinci salju. Ada juga informasi tentang jenis-jenis bunga yang tumbuh di Hardangervidda. Menarik sekali. Saya mengetahui dari koleksi-koleksi tersebut, bahwa dataran tinggi Hardangervidda adalah satu-satunya tempat di Norwegia yang terletak cukup jauh dari kutub tetapi memiliki keragaman satwa yang khas wilayah kutub, seperti rubah arktik.

Akhirnya, berakhirlah pelajaran geografi saya di Hardangervidda Natursenter. Secara teori, saya jadi tahu banyak tentang kondisi geografis di negara impian saya. Secara praktek, saya belum ada apa-apanya. Saya masih perlu banyak belajar (baca: menyaksikan secara langsung yang sudah dipelajari). Haha.. bilang aja mau jalan-jalan, ya? 😛 Dengan senang hati, saya turun ke lantai dua, mengamati peta area Hardangervidda dan melangkah keluar menuju kafe tempat orang tua Chris masih duduk dan asyik minum kopi.

13700220_10210487774137107_5545287188875557187_n.jpg

Kafe dan beberapa rumah di kota Øvre Eidfjord yang dikelilingi pegunungan cantik dan air terjun.

 

Sambil menunggu mereka, saya mengamati keadaan sekitar. Kota kecil tersebut, Øvre Eidfjord, bagi saya tampak seperti desa. Pada dasarnya tidak ada yang spesial di situ, selain karena pesona alam yang mengelilinginya. Saya pribadi tidak keberatan pindah ke sana, walaupun kabarnya kota kecil ini semakin ditinggalkan penduduknya. Hanya ada sekitar 100 sampai 200 orang yang masih mendiami kota tersebut. Sebagian besarnya orang-orang lanjut usia atau petani yang hidup dari turisme dan pertanian. Anak-anak mudanya sudah pergi ke kota-kota yang lebih besar mencari pekerjaan yang lebih baik. Kabar baiknya, Eidfjord baru kedatangan penduduk baru dari luar Norwegia. Beberapa orang dari Jerman dan Belanda baru saja pindah ke kota tersebut. Duh, saya jadi pengen juga nih, Pembaca 🙂 Tapi saya malah harus meninggalkan kota itu, karena perjalanan ke tempat bermalam selanjutnya masih sangat sangat panjang. Ikuti terus, ya! 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Hardangervidda Natursenter:

http://hardangerviddanatursenter.no/

 

 

 

Air Terjun Vøringfossen: Semakin Cantik dari Tepi Jurang

Perjalanan hari kedua saya akan dimulai di sekitar sebuah kota kecil yang berlokasi sekitar 5 km dari kabin saya. Namanya Eidfjord. Kota yang menurut saya lebih tepat disebut desa ini dikelilingi pesona alam mulai dari air terjun sampai fjord. Saya akan bertualang di beberapa pesona alam tersebut. Oleh karena itu, sejak malam hari saya diwanti-wanti untuk bangun pagi.

Sebetulnya saya bingung dengan definisi “pagi” di Norwegia, atau lebih tepatnya di keluarga Chris. Kalau saya atau keluarga saya akan berkendara selama 13 jam, saya pasti sudah disuruh-suruh bangun dari jam 5 pagi. Tapi di sini lain. Pagi yang dimaksud adalah maksimal jam 9 pagi, karena kita akan berangkat pukul 10. Anehnya, dalam waktu satu jam itu tiba-tiba semua orang sudah siap. Entah karena orang di sana punya kemampuan menghentikan waktu atau memang waktu berjalan lebih lambat di belahan bumi utara pada siang hari. Atau mungkin memang saya saja yang pikirannya aneh hehehe 😛

Beruntunglah saya terbangun cukup pagi karena langit yang sudah terang kembali tampak di jendela kecil kamar saya. Mumpung belum ada yang bangun, seperti biasa saya beranjak menuju kamar mandi. Siapa bangun duluan dapat air panas paling banyak 😀 Memang itu yang saya incar sejak mengetahui bahwa air panas terbatas. Siapa coba yang mau mandi di air beku di ketinggian tidak jauh lebih rendah dari 1000 meter?

Setelah saya mandi, berturut-turut keluarga pacar saya bangun dan mandi. Kemudian, kami makan bersama di ruang makan. Menunya tidak jauh-jauh dari makanan paling khas Skandinavia, smørbrødMakanan ini berbentuk sandwich yang terbuka alias tidak ditumpuk. Topping-nya bisa dipilih dari berbagai variasi makanan beku maupun selai aneka buah. Intinya, smørbrød ini makanan dingin. Saya sempat mengalami culture shock ketika menyusun toppingnya. Sebetulnya ini bukan pertama kalinya saya menyantap sandwich ini, tapi berkali-kali memakan makanan yang sama membuat saya ingin mencoba variasi topping. Apalagi, topping yang kami bawa sebagai bekal dari rumah banyak sekali. Kalau dijejer bisa memenuhi satu meja panjang.

norwegian-open-sandwich-01

Smørbrød, makanan khas Skandinavia dengan dua jenis topping. Sumber: http://www.wikipedia.no

Saat itu, saya menaruh daging asap di atas roti gandum saya. Kemudian, saya menghiasnya dengan keju rasa daging asap yang bentuk tempatnya menyerupai pasta gigi (kebayang ‘kan?). Melihat itu, Chris dan Ellen tertawa terbahak-bahak. Saya yang tidak tahu menahu apa-apa menjadi malu dan merasa aneh. Rupanya, keju olesan tadi harusnya dijadikan dasar seperti mentega. Ellen sampai berpikir, “anak ini seleranya unik!”. Sekarang saya sudah punya topping favorit, yaitu leverpostei (semacam olesan yang terbuat dari hati babi), daging asap atau salmon segar, salad, saus Thousand Island dan bawang goreng. Bawang gorengnya beda lho dengan yang di Indonesia.

Usai makan, kami bergotong royong membersihkan kabin dan mengepak kembali koper-koper ke mobil. Di kabin disediakan sebuah vacuum cleaner yang harus digunakan untuk membersihkan semua ruangan. Kami juga harus mencuci semua peralatan makan dan memasak yang kami gunakan. Sebetulnya boleh saja kalau ingin meninggalkan kabin setelah digunakan dan membiarkan jasa bersih-bersih dari pihak penginapan untuk melakukannya. Untuk itu dikenakan biaya tambahan yang kebetulan saya tidak tahu berapa.

Setelah mengembalikan kunci ke bangunan administrasi, kami berkendara sejauh 2-3 km menuju tujuan kami berikutnya, Vøringfossen. Air terjun dengan ketinggian 182 m ini merupakan salah satu pesona alam tak jauh dari Eidfjord yang saya kunjungi hari itu. Untuk menikmati keindahannya, disediakan dua titik pandang yang dilengkapi dengan platform view (kira-kira diterjemahkan jadi apa ya ini? Teras pandang?) bagi para turis. Teras pandang pertama terletak lebih tinggi, tidak jauh dari Hotel Fossli yang terkenal dengan arsitektur Art Nouveau-nya. Untuk mencapainya, cukup mengikuti papan penunjuk jalan dari Rute 7 yang akan menunjukkan belokan kecil di sisi kanan menuju hotel tersebut. Dengan mengikuti jalan kecil tersebut, kita akan tiba di parkiran bangunan hotel yang dibatasi oleh kios suvenir dan kafe di sisi kanannya.

Dari parkiran tersebut, saya berjalan turun ke arah barat menuju teras pandang yang pertama. Pada saat itu, sebagian dari teras tersebut sedang direnovasi. Belakangan saya baru mengetahui bahwa renovasi tersebut merupakan bagian dari rencana pembuatan titik pandang yang lebih aman di area air terjun tersebut. Desainnya mengikuti desain dari pemenang sayembara arsitektur tersebut yang bernama Carl Viggo Hølmebakk. Rencananya, teras pandang yang baru akan memiliki sebuah jembatan yang memungkinkan kita untuk berjalan menyeberang di atas air terjun tersebut. Sayang sekali, diperkirakan teras pandang ini baru akan jadi pada tahun 2023. Duh, saya sudah tidak sabar nih, Pembaca 🙂

Meskipun sedang direnovasi, kita tetap dapat menikmati pemandangan utama di air terjun tersebut dari sisi lain teras yang panjang. Saya berjalan ke arah barat untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Vøringfossen, air terjun yang terdiri dari dua buah aliran utama berukuran besar dan kecil ini, bersumber dari sungai Bjoreia. Pada musim dingin, aliran sungai ini dialihkan sebagian untuk PLTA, sehingga mengakibatkan berkurangnya volume air yang jatuh ke lembah. Oleh karena itu, waktu yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Vøringfossen adalah selama musim panas. Dari ketinggian 182 m (ada juga yang mengatakan 145 m), air terjun cantik ini jatuh ke lembah Måbødalen membentuk sungai kecil berkelok-kelok. Berdiri di teras pandang tersebut, saya dapat berada dekat dengan aliran air terjun yang berukuran kecil dan berhadapan dengan air terjun utama.

13775342_10210487685374888_5381075976703549339_n

Air terjun besar jatuh ke lembah Måbødalen setinggi 182 m dilihat dari teras pandang pertama.

13707653_10210487687054930_91134712225383818_n

Lembah Måbødalen tampak berkelok-kelok dari teras pandang pertama.

Pada awalnya, saya tidak berencana untuk berhenti di titik pandang kedua, karena saya tidak tahu tentang keberadaannya. Dari teras pandang pertama tersebutlah saya melihat ke bawah bahwa ada suatu tempat di mana bus-bus turis berhenti dan orang-orang berkerumun mengabadikan foto. Kebetulan, titik pandang kedua berlokasi tidak jauh dari titik pandang pertama dan memang akan saya lewati dalam perjalanan menuju tujuan selanjutnya. Cukup kembali ke jalan utama, yaitu Rute 7, kemudian menyeberangi Sungai Bjoreia dan saya tiba di titik pandang kedua.

Titik pandang kedua tidak memiliki teras pandang, melainkan hanya berupa bukit-bukit batu dan jalan raya yang memiliki trotoar yang langsung berbatasan dengan lembah Måbødalen yang curam. Tempat tersebut juga dilengkapi dengan lahan parkir, kafe dan toko suvenir. Dari tempat itu, saya dan Chris berpisah dengan orang tuanya. Mula-mula saya berjalan menyusuri trotoar tersebut. Dari titik pandang kedua inilah saya berhasil mengabadikan air terjun Vøringfossen persis seperti yang tampak pada kartu pos-kartu pos. Tempat tersebut memungkinkan saya melihat kedua air terjun secara lebih jelas. Jika ingin lebih jelas lagi, disediakan jalan setapak menuju kaki air terjun, tetapi kita harus menuju Måbødalen terlebih dahulu. Lamanya trekking menuju kaki air terjun adalah sekitar 90 menit perjalanan bolak-balik.

13781972_10210487688134957_5322852074411576658_n

Kedua air terjun tampak dari titik pandang kedua (dari trotoar tepi jalan). Bangunan merah di puncak adalah Hotel Fossli, tempat teras pandang pertama berada.

Dasar saya yang tidak gampang puas, saya masih merasa bahwa pemandangan di trotoar tersebut belum cukup. Kebetulan sekali di perjalanan kembali ke lahan parkir, saya bertemu dengan orang tua Chris yang rupanya memilih sudut pandang lain, yaitu bukit-bukit batu. Bergeraklah saya menuju bukit-bukit batu yang ada di sebelah kanan lahan parkir. Bukit-bukit batu tersebut tidak memiliki jalan setapak dan ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, sehingga kita harus memilih jalan sendiri dengan menentukan pijakan yang aman.

Sebelum mulai mendaki, saya menyadari bahwa beberapa pohon diikat dengan pita putih di rantingnya, terutama jika ada percabangan jalan. Di situlah saya menyadari bahwa pita putih tersebut adalah penanda jalan yang aman. Di saat saya begitu yakin dengan jalan yang saya pilih, di situlah saya menyadari keberadaan beberapa batu nisan di bukit batu tersebut. Batu nisan yang dilengkapi foto itu mencatat nama seseorang beserta negara asalnya, yang anehnya bukan dari Norwegia. Saya pun menggali informasi pada pacar saya karena penasaran. Ternyata, batu nisan tersebut hanya penanda. Maksudnya, tidak ada jenazah yang dikuburkan di bawahnya. Lalu ke manakah jenazahnya? Entahlah, konon katanya tidak ditemukan. Orang-orang di foto tersebut adalah turis-turis yang mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang Måbødalen karena kurang hati-hati ketika mengamati air terjun. Hiiii… bulu kuduk saya langsung merinding membayangkan hal tersebut.

Seolah menjadi peringatan bagi saya, saya pun melangkah dengan hati-hati ketika menaiki bukit batu. Dengan teliti, saya berusaha memperhatikan pita putih agar tidak salah jalan. Saya berhasil mencapai puncak bukit yang ternyata nyaris tidak memiliki pagar pembatas di tepi jurang. Antara saya dan air terjun yang jatuh ratusan meter itu betul-betul tidak ada batasnya! Sekarang saya paham mengapa banyak turis yang jatuh ke jurang. Bahkan ketika saya berada di sana pun, saya sempat bertemu dengan pasangan fotografer yang dengan gilanya bisa duduk di tepi jurang dengan kaki menggantung, atau berbaring di tepinya demi mendapatkan foto terbaik. Saya saja terpaksa berjalan pelan-pelan karena kaki sudah gemetaran melihat curam dan tingginya jurang, meskipun bahaya tersebut tidak menghentikan saya untuk mengabadikan dan menikmati keindahan panorama di situ.

13754402_10210487691055030_8919875463095236640_n

Lembah Måbødalen tampak dari titik pandang di bukit batu. Untuk mengambil foto ini saya harus doa dulu hehehe.. 😀 Perhatikan, tidak ada batas antara jurang dan tanah yang saya pijak.

 

13707572_10210487689574993_916131325475627775_n

Duduk di tepi jurang dengan latar belakang air terjun kecil. Di belakang saya itu sudah jurang dan tidak ada pagarnya >.<

 

Lembah Måbødalen yang berkelok mengikuti sungai terlihat lebih jelas dari puncak bukit tersebut. Diiringi suara derasnya air yang jatuh dari Bjoreia, saya melongok ke bawah, menyaksikan Vøringfossen dari jarak yang begitu dekat. Dari tempat tersebut pula saya dapat melihat air terjun yang kecil dengan lebih jelas. Tebing-tebing di sepanjang lembah tampak berdiri tegak dengan curam. Saya kadang berandai-andai, bagaimana orang dapat mencapai puncak tebing itu ketika belum ada helikopter.

Puas bertakut ria di puncak bukit sembari menikmati indahnya air terjun Vøringfossen, saya berniat kembali ke lahan parkir karena mendung mulai tiba. Beberapa langkah turun ke bawah, saya terjebak kebingungan. Saya merasa ada lebih banyak pohon yang ditandai pita putih. Bukan hanya itu, tiba-tiba ada turis-turis datang dari berbagai arah. Saya jadi bingung ke mana arah pulang. Dengan nekad, saya mengambil salah satu jalan di sebelah kiri. Jalan ini lebih sulit dibandingkan ketika saya naik tadi. Bebatuan yang saya gunakan untuk menapak lebih licin dan memiliki perbedaan ketinggian yang jauh antara satu sama lain. Jalan tersebut membawa saya ke bagian yang agak tinggi. Dari situlah saya melihat lahan parkir. Tanpa basa basi lagi saya langsung melangkah ke arah lahan parkir tempat kedua orang tua Chris (lagi-lagi) sudah menunggu. Dengan rasa lega saya pun kembali ke mobil dan bersiap untuk pesona alam selanjutnya.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.fjordnorway.com/top-attractions/voringsfossen

 

Heddal Stavkirke: Cerita Menarik dari Masa Lampau

Ada sebuah masa ketika laki-laki dan perempuan tak boleh duduk bersama dalam bangunan gereja di Norwegia. Bukan karena mereka tidak setara, melainkan karena perempuan dipercaya memiliki kelebihan yang menguntungkan bagi laki-laki. Ada suatu waktu ketika orang tak hanya membawa kitab suci ketika beribadah di gereja, tetapi juga pisau dan kapak. Fakta-fakta unik tersebut baru saya ketahui ketika menjejakkan kaki di sebuah gereja tua abad pertengahan di kota kecil bernama Heddal yang terletak di wilayah (Kommune) Telemark.

Heddal berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Sandefjord, bahkan mungkin bisa lebih singkat dari itu, karena saya sempat berhenti beberapa saat dan salah jalan karena GPS pun kadang-kadang gagal membaca peta ^^. Perjalanan darat dari Sandefjord melewati pedesaan yang asri dengan rumah-rumah yang terletak saling berjauhan. Di kiri kanan jalan terhampar ladang gandum yang luas, yang gandum-gandumnya sudah dipanen dan diletakkan dalam kantung-kantung berbentuk gulungan berwarna putih atau merah muda. Unik juga melihat beberapa gulungan berwarna merah muda yang ternyata merupakan salah satu bagian dari kampanye donasi bagi penderita kanker payudara.

Beberapa bagian jalan dipagari oleh bunga-bunga cantik berwarna ungu dan merah muda yang disebut Lupin (lupinus perennis). Bunga-bunga ini sangat sering dijumpai di sepanjang jalan dan rel kereta api. Meskipun cantik, bunga ini sudah masuk daftar hitam pemerintah Norwegia karena tumbuh seperti parasit. Mereka dapat bertahan hidup hingga 50 tahun dan mudah sekali tumbuh hingga menutupi semua area terbuka seperti rumput liar dan mematikan tumbuhan-tumbuhan lain. Saat ini ada larangan untuk membiakkan tanaman cantik tersebut.

13707567_10210478037213690_966267333865620098_n

Lupin di tepi jalan.

13709890_10210478036893682_755905832452098007_n

Lupin – detil

Kembali ke jalan setelah mengamati lupin, saya pun tiba di Heddal sekitar pukul 14.00. Dari parkiran mobil, saya dapat melihat Heddal Stavkirke (entah bagaimana menerjemahkan kata ini dalam bahasa Indonesia ^^) menjulang dengan menaranya yang tua dan berarsitektur unik. Di seberang bangunan gereja terdapat bangunan yang berbentuk seperti peternakan yang dulunya pun sempat difungsikan sebagai gereja. Saat ini, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi gedung administrasi dengan museum mini di basement serta kafe dan toko suvenir di lantai dasar. Di tempat inilah kita harus membeli tiket sebelum mengunjungi bangunan gereja. Tiket yang berbentuk stiker bundar bergambar bangunan gereja tersebut harus ditempelkan pada dada atau bagian pakaian lainnya. Tiket tersebut berlaku untuk gereja, museum di basement dan museum terbuka yang berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki. Harganya 70 NOK untuk low season (20 Mei – 14 Juni dan 1 September – 10 September) dan 80 NOK untuk high season (15 Juni – 31 Agustus). Seperti banyak museum lainnya di Norwegia, Heddal Stavkirke hanya buka pada musim panas.

13690676_10210478036933683_4729573031571280846_n

Heddal Stavkirke dan kompleks pemakamannya

Eksplorasi saya di kompleks Heddal Stavkirke diawali dengan mengunjungi museum mini di basement yang terdiri dari dua ruangan. Museum kecil ini menceritakan sedikit tentang sejarah pembangunan Heddal Stavkirke dan benda-benda bersejarah yang digunakan atau ditemukan di daerah tersebut. Salah satunya adalah delapan buah kapak tua yang dipajang di dinding. Kapak-kapak tersebut merupakan milik para penduduk yang juga menjadi jemaat gereja pada masa lampau. Mereka hidup sekitar tahun 1600, ketika memiliki senjata adalah hukum wajib bagi semua pria. Minimal mereka harus memiliki sebuah kapak. Para jemaat gereja tersebut, yang kebanyakan adalah petani, membawa kapak-kapak tersebut ke gereja dan menempatkannya di bagian luar dari bangunan gereja. Tindakan tersebut dipercaya mampu menakut-nakuti atau menjaga gereja dari serangan roh-roh jahat di luar.

13680740_10210487172162058_5396257890338219052_n

Kapak-kapak tua milik para jemaat gereja masa lalu.

Selain kapak tersebut, di museum juga dipajang lukisan-lukisan dan replika potongan detil dekorasi bangunan gereja. Lukisan-lukisan yang ada menceritakan beberapa kejadian penting dalam sejarah bangsa Viking, yang gaya dekorasinya memberikan pengaruh kuat pada arsitektur gereja. Rupanya, teknik pemotongan kayu dan pembangunan Stavkirke sama dengan teknik yang digunakan bangsa Viking untuk membangun kapal-kapal panjang (longship) mereka. Hal tersebut menjadi rahasia kokohnya bangunan gereja hingga saat ini. Di ruangan kedua dipamerkan benda-benda peninggalan bangsa Viking yang mereka gunakan sehari-hari seperti aneka senjata, tameng, perhiasan dan peralatan rumah tangga. Di bagian tengah ruangan kedua terdapat etalase berisi benda-benda yang dulu pernah digunakan di dalam gereja. Salah satunya merupakan sebuah kitab suci tua berukuran besar yang ditulis dalam aksara Gotik seperti yang digunakan Gutenberg pada mesin cetaknya.

13709930_10210487177442190_971905180996368197_n

Kitab suci tua dengan aksara bergaya Gotik.

Tidak hanya memajang barang koleksi, museum kecil tersebut juga menyediakan kostum abad pertengahan yang dapat kita sewa untuk berfoto, juga kursus singkat mengenai aksara Rune yang digunakan bangsa Viking beserta cara mengukirnya di kayu. Ketika saya berada di ruangan tersebut, seorang pria berkostum Viking berwarna merah tengah sibuk berbicara dengan seorang perempuan yang entah sesama pengunjung atau staf museum saya juga tidak tahu. Kita simpan dulu cerita tentang pria Viking ini, karena nantinya ia akan jadi karakter penting dalam petualangan saya hari itu.

Berlanjut dari museum mini, saya keluar dan menyeberang jalan kecil menuju Heddal Stavkirke. Gereja tua berarsitektur unik tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-12. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa mungkin bangunan tersebut berusia lebih tua lagi. Heddal Stavkirke, yang dikelilingi kompleks pemakaman sebagaimana gereja-gereja di Norwegia pada umumnya, merupakan salah satu dari 750 bangunan gereja serupa yang dahulu pernah berdiri di negeri Viking tersebut. Saat ini hanya ada 28 Stavkirke yang masih berdiri dan Heddal Stavkirke adalah yang terbesar. Istilah Stavkirke atau stave church merujuk pada struktur rangka penopang bangunan berupa pilar-pilar kayu (staves) vertikal dan horisontal yang terbuat dari kayu pinus. Struktur seperti ini merupakan hal yang khas dari bangunan gereja di Eropa barat laut (Skandinavia).

Saya memasuki bangunan gereja tepat ketika pemandu mulai menjelaskan detil-detil dan aneka fakta menarik mengenai gereja tersebut. Sekedar informasi, tur dengan pemandu sudah termasuk dalam harga tiket. Pemandu menjelaskan bahwa Heddal Stavkirke didedikasikan untuk Bunda Maria yang namanya terukir dalam aksara Rune di salah satu dinding kayu lorong luar gereja. Selain struktur pilarnya, bangunan gereja ini memiliki beberapa detil yang menarik. Salah satunya adalah ukiran atap dan pintu yang menggambarkan hewan dan tumbuhan yang merupakan motif khas bangsa Viking. Ukiran-ukiran tersebut konon dipercaya sebagai simbol-simbol untuk menangkal roh-roh jahat yang datang dari utara. Jika diperhatikan, pada bagian gerbang terdapat ukiran yang menyerupai ular yang melingkar sedemikian rupa hingga kepala ular tersebut bertemu ekornya. Desain ini sangat banyak ditemui pada karya seni dan arsitektur Viking, tetapi di gereja ini, ia menjadi simbol lingkaran tak berujung. Simbol ini seolah memperingatkan roh jahat agar tidak mengganggu karena mereka akan terperangkap dalam lingkaran tak berujung seperti ular tersebut. Entah apa makna asli dari desain tersebut pada masa Viking sebelum agama kristen masuk, tetapi pendapat pribadi saya mengatakan bahwa simbol itu sudah ditafsirkan ulang untuk memenuhi ide-ide kristiani.

13729153_10210487222203309_3968156055809752292_n

Ukiran ular tak berujung pada bagian pintu.

13782103_10210487202042805_844442292418862898_n

Interior dalam gereja.

Kepercayaan bahwa roh-roh jahat datang dari sebelah utara membuat perempuan dan laki-laki harus duduk terpisah. Perempuanlah yang harus duduk pada deret bangku sebelah utara sementara laki-laki menempati deret selatan. Hal ini dilakukan karena masyarakat pada masa itu meyakini bahwa perempuan memiliki kemampuan magis untuk menangkal roh jahat dan melindungi para pria tersebut. Menarik, bukan? Ternyata penghargaan terhadap perempuan yang menjadi salah satu hal yang khas dari negara-negara Skandinavia sudah ada sejak zaman dahulu.

Para perempuan tersebut duduk di sisi utara, tempat tiang tertua dari bangunan gereja tersebut berdiri kokoh di sudutnya. Pada dinding sebelah utara pula kita dapat memperhatikan bahwa lukisan di dinding tersebut telah diganti. Awal mulanya, Heddal Stavkirke merupakan gereja Katolik yang memiliki lukisan para rasul dan kisah jalan salib di dinding sekelilingnya. Namun, sejak Reformasi Gereja sekitar tahun 1600-an, lukisan tersebut ditimpa dengan lukisan ornamen bunga mawar untuk menghindari kultus terhadap gambar atau patung yang tidak sesuai dengan ajaran Protestan. Sampai saat ini, kita masih dapat melihat lukisan asli di sela-sela lukisan ornamen mawar tersebut.

Sementara itu, para pria duduk di sebelah kanan atau sisi selatan bangunan gereja. Jika diperhatikan, dinding kayu di sisi selatan memiliki banyak lubang pipih di permukaannya. Menurut penjelasan Mbak Pemandu, lubang-lubang tersebut berasal dari pisau yang ditancapkan di dinding pada masa lalu oleh para jemaat gereja sebagai tempat menggantung topi. Tapi tidak semua jemaat boleh melakukannya, karena kebiasaan unik ini hanya boleh dilakukan oleh orang kaya saja. Hmm.. ternyata masih ada pengkelasan dari segi ekonomi 😀

13769421_10210487202922827_5016864429074121055_n

Kursi berukiran kisah Volsunga Saga dan bagian tangan yang menghitam.

Deretan bangku di utara dan selatan menghadap ke daerah altar yang tidak boleh diakses pengunjung (tapi boleh dilihat kok ^^). Tema lukisan pada altar adalah kisah penyaliban dan perjamuan terakhir. Selain dari suasananya yang sangat khas abad pertengahan, di dekat altar terdapat sebuah kursi kayu yang unik. Kursi tersebut didekorasi dengan ukiran yang lagi-lagi tipikal Norse yaitu kisah tentang Brynhildr dan Sigurd Fåvnesbane sang penakluk naga dalam saga Germanik kuno, Volsunga Saga. Saga yang berkaitan kuat dengan mitologi Norse ini juga merupakan salah satu media lisan yang digunakan dalam penyebaran agama kristen di abad pertengahan. Bukan cuma itu yang menarik dari kursi tua ini. Pada ujung sandaran tangan terdapat semacam bagian berbentuk bulat yang menghitam. Konon katanya, bagian tersebut menjadi hitam akibat sering dipelintir oleh uskup ketika berkunjung dan duduk di situ. Jika sang uskup marah, ia akan memelintir ujung sandaran tangan tersebut. Hahaha.. boleh percaya, boleh juga tidak 🙂

Setelah puas berkeliling di area bangunan gereja dan tak lupa meninggalkan kesan pesan dalam buku tamu, saya beranjak ke museum terbuka yang terletak di atas bukit di sebelah timur. Untuk mencapainya, saya harus berjalan kaki di jalan setapak yang menanjak selama sekitar 15 menit. Museum terbuka yang disebut Heddal Bygdetun ini merupakan kompleks peternakan dan pemukiman penduduk dari abad ke-18 yang dilestarikan dan dijadikan museum. Setiap rumah memiliki nama serta tahun pembangunannya dan masing-masing memamerkan berbagai hal yang khas dari wilayah Telemark mulai dari arsitektur kayunya sampai pakaian tradisionalnya.

Rumah pertama yang saya masuki berlantai dua dan berlangit-langit rendah. Isinya adalah perabotan rumah tangga dan peralatan masak seperti panci dan tungku. Rumah di sebelahnya yang masih semodel memamerkan karya-karya rajutan dengan motif-motif khas Telemark. Dari kedua rumah tersebut, saya berjalan menuju rumah utama yang paling besar dan terletak di tengah kompleks. Rumah tersebut, selain berfungsi sebagai dapur dari kafe mini yang ada di kompleks museum, juga memajang berbagai koleksi yang masih asli dari masa lampau. Ruangan besar di lantai satu yang terletak di sebelah dapur memajang sebuah meja panjang dan perapian tua. Dahulu, ruangan tersebut berfungsi sebagai ruang makan.

13754130_10210487288604969_7629065352935167194_n

Heddal Bygdetun

Dari lantai satu, saya menaiki tangga sempit yang berada di bagian depan rumah untuk mencapai lantai dua. Di lantai dua juga terdapat dua ruangan. Yang pertama merupakan ruang tinggal bagi keluarga yang menempati rumah tersebut di masa lalu. Di ruang tersebut terdapat dua tempat tidur kayu yang menurut saya ukurannya terlalu kecil untuk tidur dengan nyaman. Di sudut lain ruangan tersebut terdapat tempat tidur bayi, yang bersebelahan dengan meja di depan dinding berlukisan malaikat. Dari situ, saya berjalan ke ruangan kedua yang memajang pakaian tradisional Norwegia atau yang disebut bunad.

Setiap wilayah memiliki bunad yang berbeda-beda meski bentuk dasarnya sama. Di ruangan ini dipajang bunad khas Telemark dan biografi tentang seorang wanita yang pernah tinggal di peternakan tersebut dan bekerja sebagai pembuat bunad. Awalnya, ia hanya menjahit untuk dirinya sendiri. Namun, setiap kali ia menyelesaikan satu bunad, tetangga atau kenalannya akan meminta atau berusaha membelinya. Akhirnya, ia pun menjadi penjahit bunad.

Lelah berjalan-jalan, saya memutuskan untuk mencicipi hidangan khas daerah tersebut di kafe kecil di lantai bawah. Seorang pelayan dengan pakaian bunad merekomendasikan semacam pancake yang disebut lapper dan disertai pilihan saus stroberi atau krim. Saya duduk di beberapa bangku yang disediakan di sekitar rumah utama tersebut sambil menikmati udara segar musim panas Norwegia. Hidangan pun datang dalam beberapa menit saja. Sambil menghidangkan, sang pelayan menjelaskan bahwa makanan tersebut biasa dimakan untuk sarapan para penduduk desa tersebut di masa lampau. Lapper ini, meskipun tampaknya agak gosong karena dipanggang di tungku tradisional, rasanya manis seperti pancake atau kue khas Jepang dorayaki. Semakin lezat terutama setelah dibubuhi saus stroberi dan krim. Walaupun hanya makan satu potong, saya cukup kenyang untuk melanjutkan perjalanan.

13718500_10210487289164983_8307632213461258181_n

Lapper dan jus apel

Dari Heddal Bygdetun, saya kembali menuruni jalan setapak yang mengarah ke bangunan gereja. Saatnya mengakhiri eksplorasi saya di Heddal Stavkirke dan melanjutkan ke perhentian berikutnya. Demikian rencana yang ada di kepala saya, pacar saya dan orang tuanya. Tapi dasar gak mau rugi, alih-alih lurus ke parkiran mobil, saya justru berbelok kembali ke gedung administrasi. Niatnya hanya mau beli suvenir titipan ibu saya berupa magnet lemari es, kemudian dilanjut ke toilet. Eh, justru saya dan pacar saya belok kembali ke museum mini di basement.

Saya tahu ada yang saya belum lakukan di sana. Untuk melaksanakan maksud kami, kami pun berbicara dengan pria Viking yang sedari tadi masih di sana. Ia adalah staf museum, sekaligus guru yang akan mengajari saya tentang Rune. Dengan biaya 30 NOK, saya mengambil menit-menit terakhir sebelum tutupnya museum untuk berguru pada pria Viking tersebut. Oh ya, saya tidak sebut namanya karena memang saya tidak tanya. Takut terlalu pribadi untuk masyarakat introvert seperti Norwegia. Tetapi, sambil berusaha mengukir huruf Rune pada potongan kayu seperti yang ia ajarkan, saya justru mengepo sedikit kehidupannya. Ternyata, ia adalah seorang lulusan arkeologi dan sejarah yang menggemari reenactment atau rekonstruksi hidup peristiwa-peristiwa sejarah. Ia sudah sering memasang stand di festival-festival abad pertengahan yang sangat saya sukai.

Tangannya begitu terampil mengukir huruf-huruf Rune di atas potongan kayu ask. Saya berusaha mengikutinya sambil bertanya tentang aksara Rune. Rupanya, aksara Rune sudah tidak digunakan lagi sejak orang-orang mengenal perkamen dan tinta. Aksara Rune hanya digunakan pada kayu dan batu, mengingat bentuknya yang patah-patah dan kaku. Setiap huruf memiliki makna masing-masing, yang nanti akan saya bahas di cerita petualangan lainnya (ditunggu ya ^^).

Setelah obrolan panjang, jari-jari pegal dan serutan kulit kayu di mana-mana, saya berhasil mengukir Rune saya sendiri yang berbunyi “Helsing fra Heddal” yang berarti “Salam dari Heddal”. Saya pun berpamitan dan berterima kasih pada sang guru yang sudah dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan saya, berikut menghadapi wajah norak saya sebagai penggemar sejarah Viking dan abad pertengahan dari negeri yang jauh. Saya pun kembali ke mobil dan menemui kedua orang tua Chris yang tampak tidak sabar menunggu. Maklum, perjalanan masih panjang. Maaf ya, Om dan Tante! Tapi saya bahagia banget lho!

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Heddal Stavkirke dalam bahasa Inggris:

http://www.heddalstavkirke.no/lang/gb

Kisah Volsunga Saga:

http://www.timelessmyths.com/norse/nibelungs.html

Dari Swedia ke Norwegia via Laut Utara

Sekali berlayar, satu dua negara terlampaui. Begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk awal perjalanan darat saya sembari menikmati musim panas Skandinavia. Sebetulnya kurang tepat juga sih disebut “melampaui”, karena saya hanya menyebrang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Gak apa-apalah, setidaknya menginjakkan kaki di dua negara ^^ Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya naik kapal feri lho. Padahal saya tinggal di negara kepulauan dan maritim, tapi ujung-ujungnya justru berlayar pertama kali di negeri orang.

Perjalanan darat saya menuju Norwegia Utara musim panas 2016 ini dimulai di kota tepi pantai Halden di perbatasan Norwegia-Swedia. Perjalanan yang telah menjadi impian saya sejak lama ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari pacar saya, Chris dan ayah ibunya, Tor Vidar dan Ellen. Dari Halden, saya berangkat pukul 09.00 menuju kota pelabuhan lainnya di Swedia yang bernama Strömstad. Strömstad berjarak 30 menit perjalanan dengan mobil dari Halden, tepatnya sedikit di sebelah selatan. Lho? Kok malah turun ke Selatan dan bukan naik ke Utara? Karena perjalanan darat akan melalui sebelah barat Norwegia dan untuk mencapai kota pertama di sana yaitu Sandefjord, jalur tercepat adalah melalui laut dari Strömstad. Lebih jelasnya lagi memang harus lihat peta di bawah ini 😀

fesavcoloroutes

Rute-rute Color Line. Rute yang saya lalui adalah Strömstad – Sandefjord. Sumber: http://www.ferrysavers.es/

Dari Strömstad, saya menumpang kapal feri milik maskapai pelayaran Color Line bernama M/S Bohus. Woohoo.. pelayaran dengan feri pertama saya!! *norak mode: on*. Tarif perjalanan dengan M/S Bohus dapat berubah-ubah sesuai kapasitas dan permintaan pasar. Untuk saat ini, tarif satu kali pelayaran adalah 130 NOK untuk satu mobil dan satu orang, plus 30 NOK per penumpang tambahan. Dengan tiket tersebut, kita sudah memperoleh makan siang berupa buffet dan berbelanja di duty free Color Line. Lumayan banget nih 🙂

Perjalanan berawal di pelabuhan Strömstad. Setelah mobil diparkir di lantai dasar kapal, penumpang naik ke lantai dua tempat restoran dan kafe berada. Restoran untuk buffet berada di bagian belakang kapal dengan dikelilingi jendela kaca yang memungkinkan kita untuk melihat pemandangan laut yang biru dan pulau-pulau karang yang bertebaran. Saya mendapat meja dekat jendela belakang kapal, sehingga saya dapat melihat pelabuhan Strömstad semakin mengecil di kejauhan seiring dengan berlayarnya kapal. Lamanya pelayaran menuju Sandefjord adalah 2 jam 30 menit.

300px-color_bohus

M/S Bohus, kapal feri yang saya tumpangi. Sumber: http://www.en.wikimedia.org/

Interior kapal didominasi warna coklat tua dari kayu-kayu yang membentuk dindingnya dan memberi suasana antik pada kapal. Tidak perlu banyak penerangan di dalam kapal karena sinar matahari bersinar cerah hari itu hingga mampu menembus jendela-jendela di sepanjang dinding kapal. Ombaknya cukup kuat karena angin berhembus relatif kencang. Saya terombang-ambing ketika hendak mengambil makanan dari buffet yang tersedia. Derita punya badan kecil 😥 Alhasil saya harus berjalan sambil berpegangan pada tiang atau meja-kursi.

bohus_1971_inr_001

Interior restaurant buffet M/S Bohus yang didominasi kayu. Sumber: http://www.faktaomfartyg.se/

Menu yang ditawarkan sangat bervariatif meski didominasi makanan Eropa. Untuk menu pembuka disediakan beberapa jenis salad yang bisa kita ramu sendiri. Menu utama disediakan pilihan potato wedges atau roti dengan lauk berupa sosis, telur dan daging yang dimasak dengan berbagai cara. Ada salmon juga yang menjadi favorit saya setiap kali pergi ke Norwegia. Sebagai penutup, kita bisa memilih es krim, buah dan puding. Nyam! Lezatnya 🙂

Entah mengapa, sehabis makan saya justru mengantuk parah. Mungkin akibat masih jet lag karena saya baru mendarat dua hari lalu sehabis terbang 19 jam dari Jakarta. Mungkin juga akibat ombak yang terasa seperti ayunan bayi (eh, beneran loh! Saya ‘kan baru pertama kali naik kapal feri 😀) Saya pun sukses tertidur pulas di meja selama kira-kira setengah jam. Astaga! Beneran buang-buang waktu. Untungnya saya masih punya peran lain, yaitu mengawasi tas-tas dan barang-barang bawaan yang ditinggal keluarga Chris yang dengan asyiknya menikmati udara segar di luar.

Nah, udara segar! Ini dia yang saya butuhkan supaya berhenti tidur. Akhirnya, begitu orang tua Chris kembali, saya dan dia buru-buru naik ke lantai atas untuk menikmati udara segar. Sulit juga ternyata berjalan di dalam kapal yang terombang-ambing, terutama ketika menaiki tangga. Ternyata, di lantai tiga terdapat dek yang terbuka. Di sana berjajar beberapa meja yang di atasnya dipasang atap tempat orang-orang bisa makan dan minum di udara terbuka. Sedikit ke atas lagi di bagian belakang kapal adalah daerah yang benar-benar terbuka (tanpa atap) yang juga dilengkapi beberapa bangku. Senangnya berlibur di Norwegia adalah sedikitnya jumlah manusia, sehingga bangku-bangku tersebut tidak penuh, apalagi oleh orang-orang yang berfoto tanpa henti ^^ Akan tetapi, sebagai orang Asia (atau Indonesia) saya tentu tidak lupa menjepret beberapa foto dan selfie di sini, walaupun angin bertiup kencang dan berkali-kali foto selfie saya dipenuhi rambut hahaha 😀 Rasa kantuk saya langsung terobati setelah duduk-duduk di atas beberapa saat. Sekedar info, meskipun matahari bersinar dan langit cerah tanpa awan, angin laut Skandinavia cukup dingin. Jangan lupa membawa jaket atau cardigan (syukur-syukur punya windbreaker) sebagai penangkal dingin 🙂

13669053_10210478002692827_4267706585559891217_n

Birunya laut dan langit utara 🙂

13700141_10210478002532823_7280807025074329443_n

Narsis di tengah tiupan angin laut hehehe… 😛

Berlalu dari dek terbuka, saya menuju bagian depan kapal yang ternyata tempat toko-toko berada. Ada toko suvenir Color Line yang menjual aneka suvenir bertema laut atau kapal dan pakaian-pakaian, khususnya pakaian anti dingin yang sangat penting dibawa ketika bepergian ke Skandinavia. Di bagian terdepan adalah duty free shop yang menjual aneka benda dari kosmetik hingga makanan. Di duty free shop ini kita cukup menunjukkan tiket dan akan mendapatkan potongan harga yang lumayan. Cukup murah dibandingkan dengan membeli di darat, terlebih di Norwegia yang nilai mata uangnya lebih tinggi dibanding Swedia. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli bekal minuman di perjalanan dan beberapa snack.

Selesai membayar, terdengarlah pengumuman dari nahkoda kapal yang memberi tahu kami untuk kembali ke mobil karena kapal akan segera merapat di pelabuhan Sandefjord. Berakhirlah pelayaran singkat dengan kapal feri pertama saya yang sangat berkesan tersebut. Setelah kembali ke mobil dan menunggu beberapa saat, pintu kapal dibuka dan kami pun langsung meluncur kembali ke Norwegia. Eits, tidak bisa langsung keluar dari pelabuhan, karena mobil kita dihentikan sebentar oleh petugas. Beliau meminta kami memperlihatkan identitas atau paspor. Border control, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, untuk menghindari masuknya imigran ilegal dari Uni Eropa. Dengan ramah, Pak Petugas mencari saya ketika melihat ada paspor Indonesia. Saya pun membalas dengan sapaan dan tersenyum. Kemudian, ia mempersilakan mobil kami untuk terus berjalan. Dengan demikian, dimulailah perjalanan darat kami yang sesungguhnya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.colorline.com/crossings/from_str_mstad_to_sandefjord

Siapkan Nyawamu di Luar Negeri!

Ini bukan tentang menjaga diri dari hal-hal yang berbahaya selama bepergian. Juga bukan tentang menjaga kesehatan apalagi menghadapi bahaya terorisme. Ini hanyalah tulisan tentang mempersiapkan sebuah benda yang sangat penting di kala bepergian. Paspor dan visa, alias nyawa kita ketika bepergian terutama ke luar negeri. Mengapa ini jadi nyawa kita? Karena paspor, terlebih lagi visa, adalah identitas kita di luar negeri sekaligus dokumen yang punya pernyataan sah bahwa kita memasuki atau berada di wilayah suatu negara secara legal. Kita tidak bisa jalan-jalan tanpa ini. Memasuki negara tertentu saja belum tentu bisa. Nah, kalau hilang? Ya udah mati aja. Hahaha..  Gak seburuk itu sih. Kalau hilang ya harus mengurus ke polisi dan KBRI yang pastinya ribet. Jangan sampai tertangkap gak punya paspor atau visa karena ancaman hukumannya deportasi dan larangan memasuki negara tersebut. Gak mau kan?

Beruntunglah saya belum pernah punya pengalaman kehilangan paspor dan visa. Bisa nangis kejer di pojokan deh kalau kejadian. Bikinnya aja susah terus hilang 😥 Bicara tentang buat paspor dan visa, di sini saya akan cerita tentang pengalaman saya membuat keduanya.

Paspor

Saya membuat paspor pertama kali tahun 2009 sebelum berangkat ke Thailand untuk pertukaran pelajar dari SMA. Bikinnya bisa dibilang dadakan. Maklum, belum pernah ke luar negeri sebelumnya, bahkan gak kebayang bakal bisa ke luar negeri di usia semuda itu. Singkat cerita, guru saya yang mengurus pertukaran pelajar tiba-tiba bertanya apakah saya sudah punya paspor. Ketika saya jawab tidak, beliau buru-buru menyuruh saya buat karena tanggal keberangkatan tidak lama lagi. Waktu itu saya buat paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur, walaupun saya domisili di Bekasi. Biar mudah saja, karena kebetulan ada kenalan orang tua di situ. Setelah diambil data-data biometrik dan wawancara singkat tentang alasan pembuatan paspor, akhirnya paspor pun jadi beberapa hari kemudian. Saya tidak terlalu ingat proses detilnya karena masih bingung dengan ini itu.

Kemudian pada tahun 2014, saya perpanjang paspor saya. Proses yang kali ini lebih terekam di ingatan saya karena saya sudah lebih dewasa dan banyak tahu. Kali ini buatnya di Kantor Imigrasi Karawang. Wuahh.. tambah jauh! Alasannya saat itu karena ibu saya berkantor di Cikarang dan di situlah ia biasa membantu karyawan-karyawan membuat paspor untuk dinas. Wahh.. jarak 5 tahun sudah beda sekali. Kantor imigrasi lebih tertib prosesnya, lebih bersih dan lebih rapi. Prosesnya kurang lebih sama: memasukkan dokumen-dokumen yang diperlukan (misalnya akte kelahiran dan KK), mengambil data-data biometrik (foto dan scan sidik jari), dan wawancara singkat. Hati-hati jika kalian bertato di bagian yang terlihat pada foto karena petugasnya suka sensi dan keberatan. Padahal sih menurut saya aneh, karena tato justru berguna untuk tanda pengenal diri. Setelah semuanya selesai, paspor bisa diambil maksimal seminggu setelahnya. Paspor lama saya tidak dibuang, tetapi dikembalikan dalam keadaan digunting dan dicap. Tandanya tidak berlaku lagi. Selesailah urusan nyawa yang pertama.

Sekedar saran nih, ada baiknya kalau sempat kita sudah buat paspor bahkan sebelum berencana ke luar negeri. Selain mempersingkat waktu persiapan keberangkatan kalau tiba-tiba ketiban berkat, juga menginspirasi dan memacu kita untuk melakukan perjalanan lebih jauh lagi. Hal ini juga disarankan oleh salah satu dosen FEBUI yang terkenal, Bapak Rhenald Kasali. Dalam tulisannya (bisa dibaca di sini nih: https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/patrya-pratama/passport-by-rhenald-kasali), beliau pernah menceritakan bagaimana beliau mempersiapkan mahasiswa-mahasiswanya untuk menjadi warga dunia dan menjelajah dunia lebih luas lagi. Caranya: buat paspor dulu bahkan sebelum ada rencana pergi!

Visa

Dari berbagai jenis visa yang ada di dunia turisme, saya hanya pernah membuat visa Schengen. Visa Schengen dapat digunakan untuk bepergian di negara-negara Uni Eropa dan beberapa negara EEA (seperti Norwegia dan Islandia) dengan lama maksimal 90 hari/3 bulan. Biasanya, sekali sudah dicap di salah satu bandara yang berada di wilayah Schengen, kita bisa bepergian ke wilayah Schengen lain tanpa melalui pemeriksaan paspor dan visa. Setidaknya demikian pengalaman saya ketika bepergian ke Austria melalui Jerman. Akan tetapi, perkembangan terbaru yang muncul akibat gelombang migrasi ke Eropa mengubah peraturan tersebut di beberapa daerah. Baru-baru ini, saya memasuki Norwegia via Swedia lewat laut dan mereka tetap memberlakukan pengecekan paspor dan visa alias border control.

Lalu, bagaimana cara memperoleh visa Schengen? Visa Schengen bisa di-apply di semua kedutaan yang termasuk wilayahnya. Ada beberapa alternatif negara yang bisa dipilih untuk pembuatan visa Schengen, yaitu: 1) negara pertama yang dikunjungi atau negara tempat kita memasuki wilayah Schengen atau 2) negara tujuan utama tempat kita akan tinggal paling lama selama perjalanan. Saya selalu memilih alternatif kedua. Beberapa negara yang termasuk wilayah Schengen tidak punya perwakilan kedutaan di Indonesia, sehingga kita harus mengajukan visa lewat kedutaan lain yang mengambil tanggung jawabnya, misalnya visa ke Latvia harus lewat kedubes Jerman sedangkan visa Islandia bisa lewat kedubes negara Nordik lain seperti Denmark atau Norwegia.

Visa Schengen Lewat Kedubes Jerman

Tahun 2013, saya mengajukan permohonan visa Schengen melalui kedutaan Jerman karena memang saya akan berada di sana selama 1 bulan. Proses pengajuan visa diawali dengan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan berdasarkan jenis visa yang diinginkan dan membuat janji temu dengan pihak kedutaan. Pada saat itu, formulir pengajuan visa hanya dapat diisi secara manual, tetapi sekarang sudah ada versi online yang bisa diisi secara elektronik dan tinggal dicetak. Janji temu dapat dibuat melalui website kedutaan Jerman, yang biasanya dapat dipilih dari pk 08.00 – 12.00 dari hari Senin sampai Jumat. Jika terlambat, kita akan diletakkan pada urutan terakhir dan kalau tidak memungkinkan, kita harus membuat janji temu lagi.

Waktu itu saya berangkat pk 08.00 untuk janji temu pk 10.00. Jangan lupa untuk membawa bukti pembuatan janji temu tersebut untuk ditunjukkan pada pihak kedutaan. Sudah sepagi itu pun jalanan Jakarta masih macet luar biasa. Beruntunglah supir taksi yang saya tumpangi pintar dan berhasil menerobos kemacetan. Caranya? Masuk tol dan nebeng di belakang mobil pejabat yang lewat. Hehehe.. Dari arah Pancoran tahu-tahu saya sudah tiba di daerah Semanggi. Kedubesnya sendiri ada di Jl. Thamrin, di seberang Menara BCA dan di samping Mandarin Oriental Hotel.

Begitu tiba, saya harus absen ke satpam kedutaan sambil menunjukkan bukti janji temu yang dicocokkan dengan nomor paspor saya di daftar yang dibawanya. Selanjutnya, saya disuruh menunggu di luar pagar sembari antri. Maklum, tiba kepagian setelah nebeng mobil pejabat ^^. Ternyata, saya baru boleh masuk kira-kira satu jam sebelum giliran kita tiba. Begitu masuk, tas saya diperiksa dan handphone wajib dimatikan sebelum dititipkan pada satpam. Handphone tersebut akan ditempatkan di loker yang kuncinya boleh saya bawa untuk nanti diambil lagi setelah selesai. Kemudian, saya langsung naik ke lantai 2 di bagian pembuatan visa.

Tiba di lantai dua, saya diabsen lagi. Kali ini oleh staf kedutaan bagian konsuler. Ternyata kita tidak bisa langsung ke loket. Setelah dipastikan hadir, nama kita akan diserahkan pada petugas loket untuk kemudian dipanggil. Lagi-lagi menunggu dan tanpa handphone atau apapun yang bisa dijadikan penghilang bosan. Alhasil saya pun mengepo pembicaraan orang-orang sekitar 😀 Ada yang mau ke Jerman untuk kuliah, kerja, bahkan nikah. Waktu itu sempat mikir, kapan ya saya ke sana buat nikah? Hahaa.. Sekarang sih sudah gak lagi berhubung sudah pindah haluan 😛

Kira-kira setengah jam kemudian, tibalah giliran saya. Penyerahan dokumen relatif lancar karena petugas tidak banyak bertanya terutama setelah mengetahui bahwa saya berangkat dengan beasiswa dari insitusi Jerman (DAAD). Hanya saja petugasnya kurang ramah. Waktu itu, saya yang masih bego belum tahu kalau dokumen hanya perlu diletakkan di kotak yang ada di depan saya. Kotak itu kemudian akan ditarik oleh si petugas sehingga bergeser ke tempatnya dan dokumen pun bisa diambil. Berhubung saya belum pernah lihat sistem kotak begitu, saya letakkan tangan saya di situ bersama dengan dokumen-dokumen yang saya bawa. Dengan suara tinggi dan wajah sebal, si petugas langsung berkata: “kalau tangan kamu masih ditaruh di situ gimana caranya saya bisa ambil dokumen kamu?!”. Dalam hati saya, ya ampun Mbak… ‘kan bisa dijelasin pelan-pelan. Belakangan saya tahu dari rekan kerja kalau memang petugas kedutaan dilatih untuk galak dan bicara seperti itu. Dalam hati lagi, ya ampun kasihan banget ya… bertahun-tahun kerja diajarin jadi beremosi negatif gitu. Katanya sih buat keamanan. Katanya. Tapi saya jadi punya penilaian negatif terhadap pelayanannya. Semoga tidak kejadian dengan para pembaca sekalian 🙂

Hal yang mengecewakan tidak sampai di situ, karena waktu proses visa yang sebetulnya relatif cepat dibandingkan negara-negara Schengen lain (min. 3 hari dan rata-rata seminggu) jadi lebih lama karena dokumen yang kurang. Ya, betul sekali, saya tidak memasukkan asuransi perjalanan, karena ternyata beasiswa saya hanya memberikan asuransi untuk selama di sana. Parahnya, petugas yang galak saat itu tidak memberi tahu apa-apa dan langsung menerima semua dokumen saya seperti tanpa masalah. Begitu tiba hari yang dijadwalkan untuk pengambilan visa, saya baru ditelepon bahwa ada yang kurang. Alhasil saya membuang waktu 1 minggu hanya untuk mengantarkan dokumen yang kurang tersebut. Beruntunglah pada akhirnya saya memperoleh visa tersebut tanpa kendala yang berarti. Rata-rata visa Jerman, apabila tidak terkendala, bisa diambil seminggu setelah hari pengajuan.

Visa Schengen Lewat Norway Visa Application Center

Nah, mengapa bukan di kedutaan? Pertanyaan bagus, nih. Karena Norwegia menggunakan pihak ketiga untuk membantu mengurus pengajuan visa. Bisa saja sih, kalau mau apply via kedutaan, tetapi prosesnya lebih lama dan waktu yang tersedia lebih sedikit. Norway Visa Application Center letaknya ada di kantor VFS Global di Kuningan City. Informasi tambahan, negara-negara lain yang juga pakai jasa VFS Global adalah Italia, Spanyol, Denmark, Swedia, Austria, UK, dan Selandia Baru.

Sejujurnya, dibandingkan dengan lewat kedutaan, saya lebih suka cara ini. Atmosfer tempat pengajuan visa jauh lebih santai karena tidak berada di tanah diplomatik yang diawasi security selama 24 jam. Pelayanannya juga jauh lebih memuaskan dan ramah karena petugas-petugasnya dilatih untuk bersikap ramah dan helpful, bukan galak dan awas. Selain itu, lokasinya juga lebih terjangkau dan murah dari tempat tinggal saya (terutama setelah ada feeder Transjakarta dari Stasiun Tebet hehehe..).

Dibandingkan ketika mengajukan visa ke Jerman, dokumen yang saya bawa jauh lebih rumit dan banyak. Proses pengajuan visa diawali dengan memilih tipe visa. Jangan salah, kalau di kedubes Jerman hanya ada 3 tipe visa (turisme, kunjungan dan bisnis), di kedubes Norwegia mungkin ada lebih dari 7 tipe! Di antaranya ada kunjungan turis, kunjungan teman, kunjungan kekasih/partner, bisnis/kerja, kuliah, au pair, dll. Semua tipe tersebut punya persyaratan yang beda-beda. Berhubung saya diundang oleh pacar sendiri, saya harus memenuhi persyaratan dokumen untuk kunjungan kekasih/partner. Yang berbeda dari tipe ini dengan tipe visa lain adalah adanya surat undangan dari pihak pengundang, surat garansi sponsor (alias bukti kalau dia dan keluarganya akan membiayai akomodasi saya dan tidak menelantarkan saya di sana), kartu identitasnya/paspornya dan kuesioner mengenai hubungan yang dijalani. Paling malas mengisi yang terakhir ini karena rasanya seperti dikepo luar biasa. Bahkan ada pertanyaan: “apakah Anda berencana menikah? Sudah menentukan tanggal?” Aduhh.. yang begitu dibaca banyak orang dari petugas loket visa sampai bagian konsuler kedutaan. Diarsipkan pula oleh dinas imigrasi Norwegia. Tapi tenang, syarat ini baru saja dihapus tahun 2016 🙂

Kembali pada proses, setelah semua dokumen disiapkan, selanjutnya adalah mengisi formulir pengajuan visa. Formulir yang berhalaman-halaman ini sama persis isinya dengan yang saya isi secara manual di kedubes Jerman. Bedanya, untuk dapat mengisi formulir ini, kita harus buat akun di website dinas imigrasi Norwegia (UDI). Setelah punya akun, barulah kita bisa mengisi formulir dan melakukan pengajuan visa sebanyak yang kita inginkan. Kalau belum mengisi ini plus membayar biaya pembuatan visa Schengen sebesar 60 Euro, kita tidak bisa mengajukan visa ke Application Center. Cara membayarnya pun wajib menggunakan kartu kredit. Nah, ini dia bencananya buat yang belum terbiasa dengan masyarakat cashless seperti Norwegia. Alhasil saya selalu pinjam punya pacar hehehe… 😛

Selanjutnya, formulir yang sudah diprint, cover letter beserta bukti bayar yang kita peroleh dari situs tersebut harus dibawa bersama dengan sisa dokumen pelengkap ke Application Center. Karena biasanya tidak banyak antrian, untuk Norway Visa Application Center tidak diperlukan pembuatan janji temu (horeee..!!!). Saya langsung saja datang, melalui pemeriksaan tas, mematikan handphone, memperoleh nomor antrian dan menunggu di area tunggu yang sudah disediakan di dalam dengan banyak kursi dan TV layar datar yang memutar film promosi masing-masing negara tujuan. Puas deh di-spoiler sebelum pergi 🙂

Tiga kali saya mengajukan visa di sini, sebanyak dua kali saya bisa langsung ke loket nyaris tanpa antri. Apalagi ketika musim dingin, seingat saya waktu itu cuma ada saya. Mana tahan orang Indonesia sama dingin beku ala kutub utara 😀 Pengalaman berbeda terjadi pada liburan musim panas. Tiba-tiba seolah-olah semua orang Indonesia ingin berlibur ke Norwegia. Hasil menguping pembicaraan beberapa staf tour and travel yang mengantri bersama saya, ternyata pasar turisme Rusia-Skandinavia lagi booming akhir-akhir ini (atau mungkin memang banyak orang Indonesia yang bertambah kaya ^^). Bukan hanya antrian yang memanjang, melainkan juga proses pembuatan visa. Saya ingat, visa Norwegia pertama saya jadi hanya dalam waktu 3 hari alias standar minimum waktu proses visa Schengen. Visa liburan musim panas saya jadi dalam waktu 8-9 hari gara-gara antrian dari grup-grup tur yang banyak luar biasa itu.

Di loket sendiri semuanya sangat lancar. Petugasnya ramah dan sangat membantu. Mereka akan membantu memastikan bahwa tipe visa kita sudah tepat, kemudian mengecek dan menyusun satu persatu dokumen yang kita bawa sesuai persyaratan dengan teliti. Bahkan kadang-kadang menandai bagian-bagian penting dengan stabilo untuk memudahkan pihak kedutaan. Jika ada yang salah tulis, mereka membantu kita mengoreksinya dengan tip ex dan bolpoin yang kemudian dibubuhkan tanda tangan kita dekat dengan bagian informasi yang diganti. Sama sekali tidak kaku dan ketat. Satu-satunya syarat yang sangat mereka tekankan adalah tidak ada dokumen yang distaples dan bahwa paspor tidak boleh diberikan bersama sarungnya. Jika ada dokumen yang kurang, mereka akan meminta kita untuk menggunakan jasa fotokopi yang ada di tempat tersebut, mencetaknya dengan printer yang juga disediakan, atau menyusulkannya via email ke website mereka yang akan diteruskan ke pihak kedutaan. Mudah sekali, sama sekali tidak ada yang dipersulit.

Tentu saja pelayanan tersebut tidak gratis ^^ hahaha… tapi setidaknya ada pilihan, bukan? Untuk pelayanan tersebut dikenakan biaya Rp 200.000, – dan tambahan Rp 20.000,- jika kita ingin menggunakan jasa notifikasi SMS untuk proses visa kita dan kapan bisa diambil. Rangkaian proses pengajuan visa berakhir dengan pengambilan data biometrik (foto dan sidik jari) apabila kita belum pernah melakukannya. Sejak beberapa tahun terakhir, negara-negara Schengen mewajibkan hal ini. Apabila kita sudah pernah memberikan data biometrik di salah satu negara Schengen, dalam 5 tahun ke depan kita tidak perlu lagi memberikannya karena sudah tersimpan di database semua negara Schengen 🙂 Kecuali kalau tidak bisa terbaca seperti yang terjadi pada saya tahun lalu *hiks*

Pada intinya, setiap tempat pengajuan visa punya plus minus baik dari segi keamanan maupun kenyamanan. Kalau saya pribadi sih, masih tetap berharap kedutaan Jerman membuka loket di Kuningan City 🙂

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful websites that I use:

Visa Schengen via Jerman

http://www.jakarta.diplo.de/Vertretung/jakarta/id/01_20Visa_20idn/0-visabestimmungen.html

Visa Schengen via Norwegia

http://www.norway.or.id/studywork/visaandresidence/Visas-and-Residence-Permits/Schengen-visa/Schengen-Visa/

http://www.vfsglobal.com/norway/indonesia/

https://www.udi.no/en/ (website resmi Dinas Imigrasi Norwegia)