Memasuki Gerbang Norwegia Utara

Sebelum masuk ke episode selanjutnya dari perjalanan darat saya di Skandinavia, saya mau cerita tentang behind the scene-nya dulu nih, Pembaca. Jadi, bagian ini adalah salah satu bagian yang saya rasa paling berat untuk ditulis. Bukan karena sulit atau terlalu membosankan, melainkan karena ada sepotong ingatan saya yang hilang berkaitan dengan bagian yang akan saya ceritakan ini. Biasanya, saya selalu rajin menulis detil-detil kecil perjalanan yang menarik dalam jurnal perjalanan saya, tetapi kali ini tidak. Pada tahap perjalanan ini, saya sedang malas. Selain karena mulai lelah berada di dalam mobil dengan posisi duduk yang sama selama berhari-hari, pemandangan di sekitar saya yang biasanya bergunung-gunung mulai tak terlihat. Sekedar info, saya penggemar berat lanskap gunung bercampur hutan hijau dan danau atau fjord biru. Saya tidak begitu suka pantai (apalagi yang bukan pantai tropis) dan tundra yang sepi pohon. Akibat kemalasan saya ini, saya jadi lebih banyak meremehkan saktinya punya jurnal perjalanan dan lebih memilih untuk mengandalkan memori visual saya yang biasanya tajam. Entah karena saya tidur terlalu lama atau karena memori tersebut tidak seistimewa bagian lain dari perjalanan ini, ia hilang begitu saja. Akan tetapi, kisah perjalanan tetap harus ditulis dan dilanjutkan, bukan? Oleh karena itu, saya pun berusaha mengumpulkan motivasi untuk menulis juga cerita ini pada akhirnya.

Oke, kita mulai lagi, ya? Ingatkah Pembaca tentang kompleks perkemahan saya yang berada dekat dengan pelabuhan feri? Setelah saya dijemput di Trondheim, kami tidak langsung bergerak ke utara, tetapi ke arah barat menuju pelabuhan feri di perkemahan tersebut. Entah apa alasannya, tetapi kami mengambil jalan memutar yang menyeberangi fjord dan melewati daratan di seberang sana yang katanya sih akan menyatu kembali di ujungnya.

Untuk menaiki feri, kami harus mengantri bersama mobil-mobil lainnya. Pelayaran kali itu terasa sangat singkat karena Trondheimfjord yang kami seberangi tidak begitu luas. Di bawah sinar mentari siang hari yang terik, kami tiba di seberang, di sebuah wilayah bernama Rørvik. Mobil kami memasuki rute 715 yang menyusuri tepi Trondheimfjord yang biru. Meski namanya fjord, ia tidak dipagari tebing tinggi seperti Hardangerfjord dan Geirangerfjord. Jika kita tidak mengetahui sejarah pembentukannya, fjord ini lebih tampak seperti teluk biasa yang jauh menjorok ke daratan.

Usut punya usut, alasan mengapa mobil kami memutar ke arah barat dan tidak langsung ke utara dari Trondheim adalah karena ayah Chris, Tor Vidar, ingin menunjukkan sebuah tempat yang sangat sering ia datangi. Tor Vidar mempunyai hobi berburu dan biasanya hal tersebut dilakukan bersama teman-temannya di Norwegia Utara. Jika ia pergi berburu, ia akan menginap di sebuah kabin yang disewakan di tepi fjord tersebut. Kabin tersebut hanya terdiri dari sebuah rumah milik pribadi dengan beberapa kamar yang disewakan, tetapi populer oleh turis-turis yang bepergian seorang diri.

Saat kami tiba di sana, kami bertemu dengan seorang turis perempuan asal Jerman berusia sekitar 40 tahun yang bersepeda dari Jerman ke Norwegia seorang diri. Whoa! Saya sampai kagum ketika ia menyebutkan rute perjalanannya selagi berbasa-basi dengan kami. Norwegia memang menjadi tujuan favorit turis-turis asal Jerman yang ingin mengikuti semangat zurück zur Natur atau kembali ke alam yang sudah didengungkan sejak zaman Romantik. Bahkan bahasa Jerman menjadi bahasa asing kedua setelah Inggris dalam dunia turisme di Norwegia. Saya jadi tergoda prospek kerja di sini nih, Pembaca hehehe 😛

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Trondheimfjord ke utara. Sebuah jembatan yang menyambung dua daratan yang terpisah oleh dua fjord akhirnya mengantarkan kami pada jalan utama yang seharusnya kami lewati apabila tidak memutar dari Trondheim. Saya tidak ingat banyak mengenai perjalanan tersebut karena saya banyak tertidur. Yang saya ingat hanyalah hamparan vegetasi yang sudah bercampur dengan tetumbuhan tundra yang didominasi warna kuning dan merah. Ada beberapa danau besar yang tidak saya tahu namanya yang juga sempat kami lewati di sepanjang jalan. Cuaca sedikit mendung hari itu dan jalanan yang kami lalui tampak sangat sepi. Lagi-lagi kami sempat berkendara cukup lama tanpa bertemu satu mobil pun.

Saya juga sempat melihat pemandangan yang menyedihkan (meskipun sebetulnya mungkin bukan apa-apa). Di beberapa hutan yang terhampar di kiri kanan jalan, saya menemukan adanya bagian-bagian yang gundul dan hanya ditumbuhi tunggul-tunggul pohon. Tebakan saya langsung mengarah pada penebangan hutan. Mungkin hutan tersebut memang boleh digunakan untuk industri atau sekedar bahan baku di rumah untuk kayu bakar dan sejenisnya, saya juga tidak tahu. Tetapi agak sedih memang melihat hutan di negara tersebut yang sangat hijau dan nyaris menutup seluruh area kecuali kota dan desa memiliki area yang gundul karena ditebang 😦 Kalau dari jendela mobil kelihatan sekali, lho, Pembaca.

Ketika saya terbangun, mobil sudah siap-siap parkir di depan sebuah supermarket. Tujuan kami adalah mencari makan di dalam gedung supermarket yang tampak seperti mal nanggung berlantai satu. Tentu saja tujuan kami itu tidak terpenuhi, karena memang sepengetahuan saya, restoran di dalam gedung supermarket itu merupakan hal yang tidak lazim di Norwegia. Beruntunglah ada seorang ibu-ibu penduduk setempat yang menunjukkan keberadaan sebuah restoran tidak jauh dari bangunan supermarket itu.

Bagian inilah yang hilang dari memori saya. Saya tidak ingat sama sekali apa nama restoran tersebut. Saya hanya yakin bahwa kota kecil tersebut bernama Grong dan terletak di provinsi Nord-Trondelag, provinsi Norwegia selatan yang paling utara. Restoran tersebut terletak tidak jauh dari sebuah kios bahan-bahan pokok. Di bagian luarnya terdapat semacam teras untuk area makan outdoor dengan meja-meja berpayung. Saya ingat langit mulai gerimis ketika saya memasuki restoran tersebut.

3674166955_2fb541fe34

Pusat kota Grong. Saya yakin betul restoran yang saya singgahi berada di daerah ini. Sumber: http://www.flickriver.com/

Saya sama sekali tidak mengetahui apa menu yang dijual di sana. Fokus saya hanya pada interior bagian dalam restoran tersebut. Kesan saya terhadap interiornya adalah rumahan. Meja-mejanya besar seperti meja makan keluarga dan ada banyak meja kosong di sana sini. Saya yang berjalan paling depan memilih sebuah meja di sudut ruangan, di bawah rak yang berisi pajangan-pajangan khas pedesaan Norwegia. Tamplak meja berwarna putih dengan alas makan berwarna hijau muda. Desain tirai dan tata meja betul-betul mengingatkan saya pada suasana rumah di pedesaan.

Di meja tersebut ada beberapa majalah dan brosur yang berkaitan dengan kota tersebut dan tempat wisata yang ada di sekitarnya. Dari salah satu brosur tersebut saya mengetahui bahwa wilayah itu terkenal dengan peternakan salmonnya. Ada sebuah tempat budidaya salmon yang berlokasi tidak jauh dari pusat kota. Akan tetapi, saya tidak menemukan adanya buku menu di antara brosur-brosur tersebut, sehingga saya tidak mengetahui makanan apa yang dijual di restoran tersebut.

6388509211_e001edf5e3

Patung di pusat kota Grong, menggambarkan wilayah tersebut sebagai penghasil salmon. Sumber: http://www.flickriver.com/

Pucuk dicinta, ulam tiba. Di saat saya sedang memimpikan hidangan hangat di hari hujan tersebut (dan karena berhari-hari saya sudah makan makanan dingin atau cepat dingin karena dimakan di alam terbuka), ibu Chris berjalan kembali ke meja dari arah dapur dan memberi tahu saya kabar terbaik yang bisa saya dapatkan di hari itu. Restoran tersebut adalah restoran all you can eat yang dengan membayar sejumlah biaya sudah bisa makan apa saja yang tersedia. Bukan hanya itu saja, menu yang tersedia semuanya fresh, homemade dan masih hangat. :”3

Dari delapan menu yang ada, saya mencoba enam macam menu. Di antaranya ada pasta, salmon, tumis sayuran sejenis capcay dan daging bersaus gravy. Piring saya sampai penuh oleh makanan-makanan yang kalau dimakan bersama-sama entah rasanya cocok atau tidak. Bukannya saya rakus, Pembaca, tetapi saya belum makan sejak pagi, plus kapan lagi ‘kan ada makanan homemade yang masih hangat? Setelah sukses mendapatkan semua makanan yang saya inginkan tersebut, saya kembali ke meja dan duduk di sebelah Chris yang memesan burger khas Meksiko dengan nachos yang akhirnya diberikan ke saya karena ia tidak begitu menyukainya.

Santapan tersebut betul-betul membuat saya kenyang. Seusai dari restoran yang saya lupa namanya itu, kami berjalan kaki sedikit menuju sebuah supermarket yang berada tepat di sebelahnya. Saatnya menyetok camilan dan minuman untuk perjalanan yang masih panjang. Saya membeli beberapa bungkus keripik yang berukuran besar dan tidak bohong. Maksudnya tidak bohong adalah bungkus-bungkus keripik tersebut besar karena keripiknya dan bukan karena setengahnya berisi angin. 😀

Berbekal perut kenyang, camilan yang banyak serta minum, kami melanjutkan perjalanan menuju utara. Kami menggunakan jalan raya E6 yang berkelok-kelok mengikuti sebuah sungai yang salah satu air terjunnya digunakan untuk pembangkit listrik. Jalan tersebut membawa kami pada sebuah kota kecil bernama Namsskogan yang terletak di sebuah daratan mirip pulau di sungai tersebut. Kota yang terletak di Nord Trondelag ini menjadi kota terakhir yang kami lalui sebelum memasuki wilayah Norwegia Utara.

Tepat di perbatasan antara Nord-Trondelag dan provinsi Nordland di sebelah utaranya kami berhenti sejenak. Meski ada semacam area tempat parkir di sebelah kiri jalan, kami memilih untuk berhenti di tengah jalan. Alasannya karena sama sekali tidak ada mobil yang lewat selain mobil kami! Jalanan tersebut betul-betul kosong. Di depan kami berdiri sebuah gapura yang cantik yang bernama Nordlandsporten. Desainnya yang berlekuk-lekuk dengan warna hijau, putih dan kemerahan, langsung mengingatkan saya pada aurora yang menjadi atraksi utama wisata di Norwegia Utara. Di bawah gapura tersebut juga terpampang tulisan “Nord Norge” berwarna biru yang menandakan ketibaan saya di wilayah itu. Akan tetapi, karena hari sedikit hujan dan kami berhenti di tengah jalan, saya hanya membuka jendela dan mengabadikan pemandangan tersebut dari dalam mobil.

13697237_10210506222118295_4656081447858195550_n

Nordlandsporten di hari hujan.

13729172_10210506222158296_1059795228298464525_n

Tulisan di gerbang yang berarti Norwegia Utara.

Melewati gapura tersebut berarti menyeberang dari Nord-Trondelag di Norwegia bagian selatan menuju Nordland di Norwegia Utara. Kami semakin dekat dengan ujung perjalanan kami. Kota pertama yang kami lalui bernama Majavatn. Kota ini terletak di tepi sebuah danau besar bernama sama. Danau besar itu memiliki anak danau yang berukuran lebih kecil bernama Lille Majavatnet. Di sebelah timurnya tampak menjulang pegunungan Børgefjell yang juga merupakan taman nasional. Memasuki wilayah Norwegia Utara juga berarti memasuki wilayah suku Sami. Suku asli daerah Skandinavia dan Kutub yang dahulu sempat terdiskriminasi ini banyak mendiami wilayah tersebut. Majavatn adalah salah satu daerah yang mereka gunakan untuk menggembalakan rusa kutub.

Jalur selanjutnya membentang sejajar dengan rel kereta api jurusan Trondheim-Bodø yang juga melintasi stasiun Majavatn. Di kiri kanan saya menjulang pegunungan-pegunungan yang meski tidak terlalu tinggi tetap memiliki puncak-puncak berselimutkan salju karena dinginnya udara. Di antara jalan raya dan pegunungan tersebut terbentang padang tundra dengan semak dan lumut berwarna kuning kemerahan yang disela-selanya terdapat kolam-kolam atau sungai kecil yang mengalir. Beberapa kali jalan yang kami lalui bersilangan dengan rel kereta api, tetapi tidak pernah betul-betul bertemu di permukaan yang sama. Kadang-kadang, jalanan yang kami lalui memasuki terowongan selagi rel kereta membentang di atasnya. Kadang-kadang terjadi hal sebaliknya, rel kereta yang melewati terowongan yang di atasnya adalah jalan untuk kendaraan. Jujur saja, Pembaca, selama di Norwegia saya belum pernah bertemu palang pintu kereta api, apalagi perlintasan yang tidak berpalang. Kereta yang lewat juga sangat jarang, meski saya mengetahui keberadaannya karena dua tahun sebelumnya saya pernah menaikinya.

32494901

Danau Majavatnet di Majavatn. Sumber: http://www.geodruid.com/

Dari Majavatn kami melewati sebuah kota yang ukurannya lebih besar lagi dan lagi-lagi terletak di antara perairan, tetapi kali ini perairannya adalah sebuah sungai. Kota ini namanya Trofors dan juga memiliki sebuah stasiun yang dilalui jika kita menggunakan kereta dari Trondheim ke arah utara. Kami tidak berhenti di Trofors dan terus melanjutkan perjalanan. Pikiran untuk mencari tempat bermalam mulai muncul di kepala kami karena di balik matahari yang masih bersinar terdapat jam yang sudah menunjuk pukul 19:00. Saya tidak menolak ide tersebut, karena sebetulnya punggung saya sudah lelah duduk di mobil sepanjang hari.

Beberapa saat setelah melewati Trofors, kami tiba di sebuah kota yang lebih besar lagi dan terletak tepat di mulut sebuah fjord bernama Vefsnfjorden (jangan tanya bacanya gimana ya, Pembaca 🙂 ). Kota bernama Mosjøen ini memiliki salah satu kompleks perkemahan terbaik di Norwegia (menurut saya) yaitu Pluscamp. Pokoknya, kalau Pembaca berkesempatan mengunjungi Norwegia dan harus menginap dalam perjalanan, carilah kompleks ini jika ada, karena Pembaca sekalian tidak akan menyesal. Aduh, kok saya jadi endorse gratisan begini ya? Seandainya bisa dibayar pakai Kroner.

031_hr

Halaman depan area berkemah Pluscamp di Mosjøen. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

Pluscamp Mosjøen berlokasi sangat strategis. Kami tidak perlu masuk hutan naik gunung atau masuk-masuk jalanan kota untuk mencapainya. Cukup berbelok kiri sedikit dari jalur E6 yang kami lalui, kami sudah tiba di kompleks perkemahan dengan deretan kabin berwarna merah yang sangat khas Norwegia. Dari halaman depannya saja, saya bisa mengetahui ada fasilitas apa saja di sana. Selain kafe dan pizzeria, perkemahan ini juga memiliki arena bowling, mini golf, kereta api mini dan berbagai mainan outdoor untuk keluarga. Jarak kompleks ini juga tidak jauh dari kolam renang kota. Bukan hanya itu saja, meskipun namanya perkemahan, tempat ini tidak hanya menawarkan kemah saja. Segala bentuk tempat bermalam ada mulai dari kemah, mobil trailer, kabin, bungalow, hostel bahkan hotel. Nah, puas memilih ‘kan?

Karena hanya transit dan untuk menghemat biaya, kami menyewa sebuah bungalow dengan satu kamar saja. Bungalow ini unik, karena terletak dalam satu bangunan rumah besar yang terbagi empat tanpa pintu penghubung. Dalam satu bagian sudah terdapat garasi, satu kamar tidur, kamar mandi luas dengan shower, meja makan, kitchen set, sofa yang bisa dibuka menjadi tempat tidur, dan teras belakang dengan tempat untuk duduk-duduk. Melihat ukurannya yang dua kali rumah saya bikin saya tidak berkeberatan untuk tinggal di situ saja. Kamar tidur jatuh kepada kedua orang tua sedangkan saya dan Chris akan bersempit ria di sofa.

027_hr-4

Bungalow yang kita sewa. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

001_hr

Sofa tempat saya tidur dan dapur. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

005_hr

Meja makan. Luas ‘kan bungalownya? Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

Jam menunjukkan pukul 20:00 yang berarti saya seharusnya sudah lapar. Akan tetapi, rasa lapar saya dikalahkan oleh keinginan bermain bowling. Gara-gara mencoba main bowling di acara perpisahan salah satu kolega di kantor saya yang sekaligus jadi yang pertama kalinya bagi saya, saya jadi ketagihan bermain olahraga yang satu ini. Tentu saja saat itu saya menjadi yang paling bontot, tetapi hari ini saya ingin mencoba untuk tidak menjadi yang terbontot.

Setelah beristirahat sejenak, kami segera melangkah keluar dari bungalow dan menuju bangunan utama tempat kafe, pizzeria dan arena bowling berada. Tempat tersebut akan tutup pukul 21:00, sehingga permainan kami mungkin akan berlangsung satu ronde saja. Sebelum menuju arena bowling, kami terlebih dahulu melintasi restoran yang cat dan interiornya didominasi warna-warna cerah penggugah selera. Restoran itu sangat amat ramai. Bukan hanya oleh manusia tetapi juga oleh suara-suara mereka. Saya langsung mengenali bahasa yang mereka bicarakan – bahasa Jerman. Semua tamu restoran itu turis-turis Jerman, dan mereka sibuk menatap layar televisi besar yang ternyata menayangkan kompetisi sepakbola se-Eropa tempat kesebelasan Jerman tengah berlaga. Ya ampun, saya jadi ingin ikut nonton dan teriak. Maklum, saya sudah menjadi penggemar berat kesebelasan Jerman sejak tahun 2006 😀 Kalau nggak ada timnas Jerman, saya nggak bakal nih sampai di Norwegia. Tapi cerita yang itu lain kali aja ya, Pembaca 🙂

Arena bowling terletak di sisi belakang bangunan restoran. Hanya terdapat enam lini saja di ruangan tersebut. Bola-bola aneka warna tersusun rapi di tempatnya. Pada saat tiba, saya tidak tahu sama sekali bahwa perbedaan warna tersebut menandai perbedaan berat. Bahkan beratnya berapa saja tercantum dalam sebuah plakat informasi di dekat susunan bola tersebut. Seperti biasa kami harus menyebutkan nama untuk dicantumkan di papan skor serta ukuran sepatu untuk mendapatkan sepatu khusus yang mereka pinjamkan.

7_hr

Arena bowling di Mosjøen Camping. Sumber: http://www.mosjoenhotell.no

13709807_10210506224038343_2886542650695744732_n

Rak bola dan area duduk.

Urutan bermainnya adalah ibu dan ayah Chris, kemudian Chris dan terakhir saya. Pada mulanya, saya memimpin klasemen, sedangkan ayah Chris menjadi yang paling bontot. Tapi jangan senang dulu, karena ini yang namanya keberuntungan pemula. Menurut papan skor yang juga bisa mengukur keras dan cepatnya lemparan kita, lemparan saya sangat pelan dan sesungguhnya tidak memadai. Jadi, skor-skor tinggi yang saya peroleh di awal permainan sebetulnya hanya karena kebetulan saja lemparan saya sedang lurus.

13769629_10210506222718310_8139659809903286610_n

Skor awal. Abaikan typo di nama saya 😛

Memasuki pertengahan ronde, tangan saya mulai pegal. Tadinya saya tidak sadar hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan saya akan berat bola. Saya hanya mengambil dan mengukur bola berdasarkan informasi dari ketiga pemain lain yang badan-badannya sebesar raksasa dibanding saya 😦 Tentu saja ringan bagi mereka masih tergolong berat bagi saya. Saya punya bola favorit yang warnanya oranye dan pink. Bola tersebutlah yang dianjurkan oleh mereka untuk saya pakai karena katanya paling ringan. Akan tetapi, skor yang saya dapatkan justru semakin rendah, karena lemparan saya sudah jauh dari lurus. Ibu Chris yang saat itu memimpin di papan skor menyarankan saya untuk memperkuat lemparannya.

13700111_10210506225838388_7839711189934625619_n

Bola oranye dan pink jadi favorit saya.

Ketika tiba giliran saya melempar, saya pun segera mengambil ancang-ancang. Tanpa mau sok-sok berpose ala atlet bowling profesional, saya cengkeram bola kuat-kuat dan siap melempar. Akan tetapi, dasar saya yang memang terbelakang di olahraga, bola itu malah jatuh ke lantai sebelum saya berhasil melemparnya. Saya pun langsung jadi bahan tertawaan oleh keluarga Chris. :’D Saat itu saya hanya bersyukur bolanya tidak menimpa kaki saya.

13728927_10210506225878389_5147341954524943384_n

Chris dan Tor Vidar. Menunggu giliran sambil nge-bir 😀

Melewati pertengahan ronde, saya sudah cukup pasrah mengetahui bahwa apa pun yang saya lakukan, saya akan berakhir di urutan paling belakang. Sementara itu, ayah Chris yang tadinya paling bontot berhasil mengejar dan menduduki peringkat dua klasemen. Ibunya semakin tidak tertandingi. Jujur saja, saya tidak pernah melihatnya sebagai sosok atlet sebelumnya. Saya hanya mengenalnya sebagai ibu yang pandai memasak dan membuat prakarya, tetapi juga aktif di kegiatan-kegiatan politik. Ternyata beliau diam-diam berbakat juga jadi atlet bowling, hahaha 😀 Klasemen final menunjukkan ibu Chris di urutan pertama, ayahnya di urutan kedua, Chris ketiga dan saya menjadi buntut. Persis seperti urutan nama kami dalam klasemen. Tidak apa-apa ya, Pembaca, yang penting senang.

Anehnya, setelah bermain bowling, saya hanya merasa lapar dan tidak lelah. Setelah kembali ke bungalow dan makan smørbrød (lagi), saya bergabung dengan Chris di sofa yang sudah sibuk mengeluarkan pion-pion dari sebuah kotak berwarna biru. Kotak itu kami beli di toko suvenir dekat Nidarosdomen. Isinya adalah permainan tradisional bangsa Viking yang dikenal dengan Hnefatafl. Permainan ini bisa dibilang caturnya bangsa Viking. Di dalam kotak biru itu terdapat selembar kain bergambar persegi berkotak-kotak yang menjadi arena bermain dan pion-pion dalam dua warna berbentuk prajurit Viking. Salah satu pion berukuran lebih besar dan menyimbolkan seorang raja atau jarl. Nah, ini dia permainan yang cocok untuk saya!

hnefatafl1_70

Hnefatafl. Sumber: http://www.norseamerica.com

Bagaimana sih cara bermain Hnefatafl ini? Cara bermainnya sangat mudah, Pembaca. Salah satu pemain akan menjadi suku yang bertahan. Tugasnya adalah melindungi dan mengantarkan raja dari kotak di tengah menuju salah satu dari empat bentengnya, yaitu kotak yang berada di keempat sudut arena bermain. Raja akan dilindungi oleh pion-pion pasukannya sejumlah 13 orang. Sementara itu, pemain lainnya akan bermain menjadi suku penyerang. Mereka mendapatkan 24 pion yang disusun berbaris di keempat sisi arena bermain. Tugas pion adalah melucuti satu persatu pasukan raja dan menangkap raja sebelum ia berhasil masuk ke dalam benteng. Semua pion tersebut diizinkan bergerak ke arah vertikal dan horisontal tetapi tidak boleh diagonal. Yang diperbolehkan melangkah diagonal hanya raja. Untuk melucuti pasukan lawan, pemain harus memerangkap pion sasaran di antara dua pion miliknya. Kebayang ‘kan, Pembaca?

hnefatafl-viking-white-pieces-king

Pion-pion Hnefatafl berbentuk mini Viking. Sumber: http://www.mastersofgames.com/

Saat itu saya bermain sebagai penyerang, sedangkan Chris menjadi pemain bertahan. Saya membutuhkan waktu kira-kira 20-25 menit untuk memenangkan ronde itu. Saya berhasil menduduki benteng dan menawan raja. Lumayanlah, hadiah hiburan setelah jadi si bontot dalam permainan bowling. Kemenangan tersebut bukan keberuntungan pemula lho, Pembaca. Rahasianya terletak pada karakter saya yang overthinker, yang kebetulan berkebalikan dengan Chris yang action dulu baru mikir 😀 Balik lagi ke permainannya, Hnefatafl ini memang permainan yang cocok untuk para overthinkers atau mereka yang mau olahraga otak.

Dengan berakhirnya permainan Hnefatafl yang melelahkan otak itu, berakhir pula hari kelima perjalanan darat kami. Kedua orang tua Chris sudah pergi tidur. Saatnya kami berdua pergi tidur juga. Rencananya, besok pagi kami akan langsung melanjutkan perjalanan menuju tujuan terakhir bagi kedua orang tua Chris tetapi tidak bagi kami para penggemar sejarah zaman Viking. Ada apa di hari keenam? Ikuti terus perjalanan si tukang mimpi di blog ini ya, Pembaca! 🙂

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Pluscamp di Mosjøen:

http://mosjoenhotell.no/camping/en/

Tentang Norwegia Utara:

http://www.nordnorge.com/en

Menilik Sejarah Kristenisasi Bangsa Viking di Nidarosdomen

Musim gugur 2014 adalah kali pertama kaki saya menjejak tanah Norwegia. Dengan rute yang nyaris sama, saya melakukan perjalanan dari selatan ke utara, tetapi saat itu saya menggunakan kereta. Suatu hari dalam dua minggu perjalanan saya, saya tiba di sebuah stasiun di tengah hujan yang turun rintik-rintik. Suatu kesalahan fatal membuat saya terpaksa membuang waktu satu hari yang seharusnya saya gunakan untuk mengeksplor kota tempat stasiun tersebut berada. Sialnya lagi, cuaca betul-betul tidak berpihak pada saya. Satu hari yang tersisa sebagai satu-satunya kesempatan saya untuk menikmati kota tersebut terpaksa dihabiskan di hotel saja, karena begitu saya tiba di kamar hotel, hujan justru bertambah deras. Sejak hari itu, saya bertekad untuk membayar kesalahan saya dan mengunjungi kota tersebut suatu hari nanti.

Kota tersebut adalah Trondheim, yang oleh karena pengalaman saya maka saya sebut kota kenangan. 🙂 Tentu tak hanya itu saja alasannya, karena bertualang di kota tersebut di bawah mentari musim panas adalah hal yang tak terlupakan. Trondheim dapat dicapai dengan mobil dari Flakk Camping selama 30 menit. Sudah sejak lama, saya dan Chris sangat ingin mengunjungi kota ini. Sebagai penggemar berat sejarah abad pertengahan dan bangsa Viking, Trondheim adalah kota wajib kunjung bagi kami berdua.

Tujuan utama saya di sini adalah sebuah bangunan yang juga menjadi ikon kota Trondheim, yaitu Nidarosdomen. Nidarosdomen adalah katedralnya kota Trondheim yang juga merupakan satu-satunya gereja berarsitektur gotik di seluruh Norwegia. Tidak hanya itu saja, katedral ini sudah berdiri sejak masa abad pertengahan dan menjadi saksi sejarah kristenisasi bangsa Viking dan perkembangan gereja di negara tersebut. Nah, kebayang ‘kan berapa banyak cerita yang tidak sabar untuk diungkap di balik bangunan ini?

Karena saya naik mobil, saya tidak menemui kesulitan untuk mencapai Nidarosdomen. Akan tetapi, jika saya naik kereta, saya harus berjalan cukup lumayan untuk tiba di sana. Dari stasiun, saya harus menyeberangi jembatan yang tepat berada di depan pintu masuk stasiun menuju Sondre Gate. Saya harus menyusuri jalan tersebut hingga tiba di Kongens Gate tempat saya harus mengambil belokan ke kanan. Begitu tiba di bundaran yang juga merupakan alun-alun kota, saya tinggal berbelok ke kiri memasuki Munkegata. Sebetulnya dari alun-alun tersebut sangat mudah untuk menemukan Nidarosdomen. Menaranya yang menjulang tinggi akan tampak jelas dari sana.

IMG_4134

Alun-alun kota Trondheim

Jika naik mobil, kita bisa memarkir mobil di sepanjang Munkegata. Jalan tersebut dipagari oleh gedung-gedung penting, termasuk gedung pengadilan dan balai kota. Dahulu, ketika Nidarosdomen masih digunakan dalam upacara penobatan raja atau anggota kerajaan, mereka akan diarak melalui jalan tersebut. Di ujung Munkegata adalah pintu masuk utara kompleks katedral Nidarosdomen. Begitu tiba, saya langsung disambut oleh hijaunya pepohonan yang menaungi area pemakaman yang mengelilingi Nidarosdomen. Batu-batu nisan yang indah berhiaskan patung maupun batu-batu nisan yang sudah sangat tua tersebar di pemakaman nan asri tersebut. Tidak jauh dari pintu masuk berdiri sebuah patung peringatan untuk mengenang para pejuang yang gugur dalam Perang Dunia II. Tampak juga bangku-bangku taman yang dapat digunakan untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan. Meskipun tua, pemakaman ini tampak sama sekali tidak menyeramkan.

Saya berbelok ke kanan menuju sisi barat bangunan Nidarosdomen. Untuk memasuki katedral tersebut sebagai turis, saya perlu membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk tersebut dapat dibeli di Nidarosdomen Besøkssenter yang berlokasi di sisi kiri pintu masuk utama gereja. Tempat tersebut, selain melayani penjualan tiket juga merupakan toko suvenir dan memiliki kafe di dalamnya. Untuk petualangan hari itu, saya membeli tiket kombinasi seharga 180 NOK. Harga tersebut sudah termasuk tur dengan pemandu di Nidarosdomen, Erkebispegården (Archbishop’s Palace Museum) dan Riksregaliene (Crown Regalia). Dengan tiket terpisah, saya harus membayar 90 NOK untuk setiap tempat tersebut. Hal tersebut berarti saya mendapat 3 tempat dengan membayar untuk 2 tempat dengan tiket kombinasi. Semua dana hasil penjualan tiket tersebut masuk ke kantong pemerintah setempat dan digunakan untuk restorasi dan perawatan bangunan tersebut yang terus berlangsung dan tidak murah. Jadi, jangan komplain ya kalau harganya mahal hehehe 😛

Sebelum memasuki bangunan katedral untuk memulai tur, saya menikmati keindahan arsitektur fasade depan gereja. Wajah depan Nidarosdomen dihias dengan patung-patung orang kudus yang bernaung di bawah lengkung-lengkung atap khas gaya gotik. Deret paling atas adalah patung-patung nabi dan raja dari kitab Perjanjian Lama. Deret tengah merupakan tempat patung-patung santo-santa dari Norwegia sedangkan pada deret paling bawah terdapat patung rasul-rasul dan kisah penyaliban. Dua menara menjulang dengan atap-atapnya yang lancip di sisi kiri dan kanan. Pada puncak menara barat laut berdiri patung malaikat Mikael. Ada fakta unik di balik pembuatan patung-patung tersebut. Karena para pematungnya tidak mengetahui wajah asli orang-orang kudus tersebut, mereka pun menggunakan tokoh-tokoh modern sebagai model wajahnya. Contohnya, patung malaikat Mikael mencontoh wajah Bob Dylan, yang dipilih karena terinspirasi oleh perjuangannya menentang Perang Vietnam. Dari sisi depan tersebut tampak pula menara utama di bagian tengah yang beratap kerucut berwarna hijau. Dinding katedral tersebut dihias oleh jendela-jendela tinggi yang melancip di atas. Pada bagian tengah wajah depannya terpasang kaca patri bunga mawar yang juga menjadi khas bangunan katedral. Di atasnya adalah ukiran bertema penghakiman terakhir. Bagian barat gereja yang rumit ini juga merupakan bagian bangunan yang paling baru dan terakhir selesai direstorasi pada tahun 1969.

IMG_4099

Wajah depan Nidarosdomen, dipenuhi deretan patung orang kudus.

IMG_4133

Wajah depan Nidarosdomen (detil) dengan patung kisah penyaliban di tengah tepat di bawah jendela mawar.

Puas mengagumi keindahan wajah barat katedral Nidaros, saya masuk dan mengikuti turis-turis lainnya. Rupanya, seorang pemandu telah siap memulai tur di dalam katedral tersebut. Kami duduk di deretan kursi di bagian belakang gereja selagi pemandu yang berpakaian seragam jubah merah tersebut memulai penjelasannya. Selain bahasa Inggris, yang juga adalah tur yang saya ikuti karena bahasa Norwegia saya masih sangat terbelakang :’D, tersedia juga tur dalam bahasa Prancis dan Jerman. Sang pemandu memulai penjelasannya dengan memberi tahu kami sebuah aturan yang sangat mengecewakan. Dilarang mengambil foto di dalam Nidarosdomen, katanya. 😦 Sayang sekali, padahal arsitektur bagian dalamnya sangat cantik.

Sang pemandu mulai bercerita, bahwa pada zaman dahulu, kira-kira pada abad ke-9, terjadi ekspansi bangsa Viking besar-besaran ke berbagai penjuru Eropa. Salah satu dari mereka, Olav Haraldsson adalah seorang kepala suku Viking yang terkenal karena aksi heroiknya di wilayah Baltik. Dari Baltik, ia berlayar ke berbagai tempat lainnya seperti Inggris dan Prancis. Ketika di wilayah Normadia, Prancis, ia berkenalan dengan ajaran kristiani yang digunakan oleh penguasa setempat sebagai alat untuk mengendalikan dan memimpin masyarakat sampai ke dunia spiritual mereka. Di saat itulah ia menyadari betapa menguntungkannya ajaran Kristiani. Konon katanya ia mempelajari ajaran ini dan dibaptis pula. Ketika suatu saat ia dipercaya untuk memimpin Norwegia Timur oleh Raja Denmark, ia mendirikan gereja sebagai suatu institusi dan menjadikan agama Katolik Roma sebagai agama resmi negara karena terinspirasi oleh Duke Normandia. Ia juga melarang ritual agama lain, termasuk kaum pagan yang saat itu mendominasi Skandinavia. Akibatnya, banyak penduduk setempat yang dipaksa menganut agama Katolik dengan hukuman mati sebagai ganjarannya apabila mereka menolak. Dalam peperangan di Stiklestad, Olav dan pasukannya berhasil dikalahkan oleh penduduk wilayah Trondelag yang memberontak akibat pemaksaan agama yang dilakukannya.

Sejujurnya saya bingung, bagaimana orang bertangan besi seperti itu dapat menjadi orang kudus. Rupanya, raja Denmark yang kemudian mengambil alih pemerintahan setelah tewasnya Olav memerintah dengan lebih kejam lagi. Ia menarik pajak tinggi dari rakyat dan membuat mereka sengsara. Kondisi terjajah membuat orang-orang menginginkan sosok seperti Olav yang meskipun kejam tetapi berjuang untuk kemerdekaan bangsa mereka dari penjajahan. Hal ini pun dimanfaatkan oleh masyarakat yang mendukung Raja Olav dengan memulai kultus yang menyatakan bahwa Raja Olav tewas sebagai martir dan kemudian menjadi santo pelindung Norwegia.

4b7650cfae98f36f0b459029cc498a9d

Patung St. Olav di fasade depan gereja dalam perayaan pesta namanya.

Lalu apa kaitannya kisah Raja Olav dengan Nidarosdomen? Menurut Mbak Pemandu Wisata, Nidarosdomen dibangun di atas makam St. Olav. Berawal dari sebuah kapel kecil pada abad pertengahan yang semakin ramai oleh peziarah, Nidarosdomen terus dibangun dan diperluas. Pembangunannya melintasi berbagai zaman yang buktinya tampak jelas pada perbedaan gaya arsitektur bagian-bagian yang membentuk gereja tersebut. Nidarosdomen juga sempat mengalami bencana kebakaran beberapa kali. Setelah peristiwa yang terakhir bahkan sempat lama tidak diperbaiki atau direstorasi seadanya karena saat itu Norwegia didominasi oleh Kristen Protestan yang tidak begitu mementingkan keindahan bangunan gereja yang dipenuhi patung apalagi mengkultuskan Santo Olav. Bangunan yang ada sekarang berukuran lebih kecil daripada ukuran terbesar yang pernah ada, tetapi sebagian besar desainnya dibuat semirip mungkin kecuali lukisan-lukisan pada kaca patri.

Kaca patri sisi utara menggambarkan kisah Perjanjian Lama sedangkan bagian selatan menceritakan kisah Perjanjian Baru. Kaca patri mawar yang berada di dinding barat Nidarosdomen adalah karya Gabriel Kielland dan menggambarkan kisah penghakiman terakhir. Kaca-kaca patri ini mengelilingi ruangan bagian barat yang juga menjadi sisi panjang dari keseluruhan bangunan yang berbentuk salib. Di bawah kaca patri mawar terpasang megah organ Steinmeyer yang berukuran sangat besar. Pada bagian depan ruangan tersebut berdiri salib besar dari perak di atas sebuah altar kecil. Salib tersebut merupakan pemberian dari emigran Norwegia-Amerika di abad ke-20.

13938357_10157956426940377_3762976875906191797_n

Kaca patri mawar dengan kisah penghakiman terakhir di atas organ Steinmeyer. Jangan tanya bagaimana cara mendapatkan foto ini 😀

13939558_10157956431855377_582581952923537058_n

Salib perak besar di altar sebelah barat pemberian emigran Norwegia-Amerika.

Dari sisi barat bangunan, saya mengikuti pemandu menuju sayap utara Nidarosdomen. Di sisi utara tersebut juga terdapat organ yang ukurannya lebih kecil dan tidak semegah organ Steinmeyer di bagian barat. Akan tetapi, organ yang bernama Wagner ini lebih legendaris. Bukan karena ia ada hubungannya dengan Richard Wagner sang komposer ternama, melainkan karena organ ini dibuat oleh orang yang sama dengan yang membuat organ milik Johann Sebastian Bach. Kebayang ‘kan setua apa? Uniknya lagi, organ bergaya barok ini menjadi salah satu dari sejumlah kecil organ bertipe sama yang masih bertahan dan lestari hingga saat ini. Sebagian besar organ Wagner yang pernah dibuat telah hancur akibat Perang Dunia II. Sebagai penutup di ruangan tersebut, pemandu menginformasikan bahwa akan ada konser musik singkat menggunakan organ tersebut di hari itu. Wah, beruntungnya saya! 🙂

Selanjutnya, saya beralih ke bagian timur bangunan gereja yang juga membentuk kepala salib. Zona tersebut mungkin menjadi zona yang paling penting dari seluruh bangunan gereja, terutama karena kekayaannya akan sejarah dan legenda yang berkaitan dengan St. Olav. Setelah melalui sederetan kursi umat, saya tiba di altar lain yang lebih besar. Altar ini terletak di dalam oktagon, yaitu semacam ruang berbentuk segi delapan yang dipagari oleh lengkung-lengkung khas gaya gotik. Di atas oktagon terpaku sebuah salib besar dan kiri kanannya berdiri patung-patung. Tidak jauh dari oktagon tersebut terdapat sebuah baskom tua yang dulu digunakan untuk upacara pembaptisan.

Oktagon ini menyimpan banyak cerita. Menurut pemandu, ruangan tersebut dulunya merupakan tempat menyimpan relikui St. Olav. Sekedar informasi, setiap gereja yang dibangun umumnya memiliki relikui dari santo santa yang namanya digunakan untuk gereja tersebut. Konon katanya, relikui St. Olav ditempatkan dalam sebuah kotak berbentuk bangunan gereja berhiaskan kepala naga, sama seperti kepala naga yang menghias Heddal Stavkirke yang terinspirasi dari arsitektur bangsa Viking. Sayangnya, baik relikui maupun kotaknya sudah tidak ada. Lagi-lagi menurut pemandu, sebetulnya tidak ada orang yang tahu di mana tepatnya makam St. Olav. Pada intinya, cerita yang mereka percaya adalah bahwa di atas tanah tersebut pernah berdiri kapel kecil di atas makam St. Olav yang selalu ramai oleh peziarah. Entah sebetulnya di sisi gereja yang mana makam tersebut berada tidak ada yang tahu.

Saya dan pengunjung lainnya kemudian diajak untuk memutari sisi luar oktagon tersebut. Di bagian belakang oktagon terdapat ruangan kecil yang berisi altar tua yang juga kecil dan berhiaskan lukisan kisah hidup St. Olav. Tidak jauh dari ruangan tersebut terdapat ceruk kecil yang dipagari. Di bagian atasnya terdapat cermin yang memungkinkan kita untuk melongok ke dalamnya. Tempat tersebut adalah sumur St. Olav yang airnya diyakini dapat menyembuhkan orang sakit. Ketika airnya mengering, sumur tersebut berubah menjadi sumur permohonan tempat orang melempar koin dan berharap doanya dikabulkan. Dikatakan bahwa sumur tersebut adalah tempat yang paling sering didatangi dan disentuh orang. Pemandu menunjukkan dinding di sekitar sumur yang berwarna sangat hitam, sangat berbeda dengan sisi dinding lain di gereja tersebut yang cenderung abu-abu. Ternyata, Nidarosdomen dibangun menggunakan soapstone, yang jika disentuh manusia lama kelamaan akan berubah warna menjadi hitam karena bereaksi dengan keringat.

13921198_10157956427120377_2589680361280272305_n

Altar di belakang oktagon yang berlukiskan kisah hidup St. Olav.

Tur hampir berakhir. Pemandu mengantar saya dan para pengunjung lain menuju sisi selatan bangunan gereja sebagai perhentian terakhir. Di tempat itu, kursi-kursi sudah mulai disusun sebagai persiapan untuk menonton konser organ. Menutup penjelasannya, ia menunjukkan arsitektur sisi selatan yang tampak berbeda dari bagian lain gereja tersebut. Arsitektur bagian ini tidak didekorasi oleh lengkung lancip, tetapi hanya lengkung biasa dan lebih sederhana ciri khas gaya Romanik yang berasal dari Italia. Romanik dan gotik memang merupakan dua gaya bangunan yang dominan dan menjadi ciri khas abad pertengahan dengan romanik sebagai yang lebih tua. Gaya romanik yang tersisa di sisi selatan Nidarosdomen menunjukkan bahwa bagian tersebut berasal dari masa yang berbeda dari sisi lain yang selamat dari bencana kebakaran. Sambil menginformasikan mengenai konser yang akan segera dimulai dan sisi bangunan lain yang masih dapat dijelajahi, sang pemandu mengakhiri turnya.

13935158_10157956431800377_1290815797782794496_n

Detil bangunan yang bergaya gotik.

Selagi menunggu konser dimulai, saya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang belum dieksplor bersama pemandu. Salah satunya adalah sebuah meja yang terletak di sisi kiri altar utama yang berisi kertas-kertas kecil tempat saya dapat menuliskan doa. Menurut keterangan yang ada di atas meja tersebut, doa-doa yang ditulis oleh para pengunjung akan didoakan bersama-sama dalam misa atau ibadah yang berikutnya. Ada pula sebuah meja lain di dekat deretan kursi yang disusun untuk menonton konser. Meja ini lebih merupakan tempat menaruh lilin. Di dekatnya disediakan lilin yang boleh saya ambil dan saya nyalakan. Keterangan di tempat menaruh lilin tersebut mengajak para pengunjung untuk menyalakan lilin bagi keluarga atau kenalan yang sudah meninggal dan mendoakan mereka agar selalu berada dalam damai.

IMG_4106

Meja tempat pengunjung menulis doa.

IMG_4107

Keranjang berisi kumpulan doa.

Sebelum menonton konser, saya juga sempat mengunjungi makam bawah tanah di Nidarosdomen. Tidak terlalu mudah menemukan makam ini. Saya hanya mengetahui bahwa ruangan tersebut dapat diakses, namun setelah berputar-putar, saya baru menyadari adanya sebuah tangga untuk turun ke bawah tanah melalui sisi kanan sayap barat bangunan gereja. Makam bawah tanah tersebut diterangi oleh lampu-lampu yang cukup terang sehingga jauh dari kesan seram. Di dalamnya terdapat makam-makam dengan batu-batu nisan yang besar. Nisan-nisan tersebut dipahat dengan indah, namun sudah banyak yang retak akibat berbagai bencana yang terjadi selama ratusan tahun. Pahatan membentuk malaikat menjadi motif dominan pada nisan-nisan tersebut, diikuti oleh simbol-simbol keluarga bangsawan. Memang, sebagian besar orang yang boleh dimakamkan di Nidarosdomen di masa itu hanyalah kaum bangsawan dan orang-orang yang terpandang di masyarakat. Akan tetapi, saat ini, memakamkan orang di Nidarosdomen sudah tidak diperbolehkan lagi karena katedral ini sudah menjadi cagar budaya.

Selesai berkeliling di makam bawah tanah, saya beranjak kembali ke atas karena konser organ akan segera dimulai. Saya duduk di barisan belakang dan menikmati permainan organ yang terdiri dari lagu-lagu klasik, salah satunya adalah favorit saya, Canon in D karya Johann Pachelbel. Kira-kira ada total lima lagu yang dimainkan oleh sang organis. Konser berlangsung sekitar setengah jam dan suara organ Wagner tua tersebut terdengar sangat merdu. Penampilan sang organis pun sukses memukau penonton.

Setelah konser berakhir, kursi disusun kembali untuk memberi ruang bagi para pengunjung. Tujuan saya berikutnya adalah suatu tempat yang memang sengaja saya sisakan untuk penutup yang manis. Menara tertinggi katedral Nidarosdomen yang dapat dicapai dari tangga di sudut kanan sayap selatan gedung gereja. Tahun 2013, ketika saya berada di Munich, saya juga pernah menaiki 139 anak tangga untuk mencapai puncak menara salah satu gereja tertua di pusat kotanya. Ternyata, menyaksikan kota dari ketinggian telah diam-diam menjadi hobi saya. 😀 Kali ini saya bermaksud menantang kemampuan diri dengan menaiki menara yang lebih tinggi lagi, yaitu 172 anak tangga.

Untuk mencapai puncak menara, pengunjung tidak diperbolehkan naik sendirian. Harus ada pemandu yang membimbing mereka. Pemandu ini akan mengumpulkan para pengunjung yang hendak mengikuti tur singkat ke menara sekaligus menarik biaya tiket tambahan sebesar 40 NOK. Pemandu grup saya saat itu namanya Maria. Sebelum mulai naik, Maria berpesan pada kami bahwa ukuran tangga yang akan kami naiki sangat sempit, sehingga bagi peserta yang berpenyakit atau berbadan terlalu besar untuk ukuran tangga disarankan untuk mengundurkan diri. Ia menambahkan peringatan itu dengan menceritakan tentang seorang turis yang sangat gemuk dan terjepit di tangga.

Dari sejumlah turis yang berkumpul dan berniat naik, akhirnya tersisa enam orang termasuk saya dan pacar saya. Dua orang lainnya adalah pasangan turis berbahasa Italia dan dua lainnya adalah pria dan wanita yang umurnya cukup tua. Rombongan kami pun mulai menaiki tangga dengan Maria berada di urutan paling belakang karena ia harus siap mengantar turun apabila ada anggota rombongan yang tiba-tiba sakit atau mengalami klaustrofobia akibat sempitnya tangga. Benar saja, ketika tangga sampai pada lingkaran kedua, dua orang tua tersebut menyerah dan turun. Saya pikir, sayang sekali 40 Kroner mereka, tapi lebih baik daripada tiba-tiba sakit atau tewas. Sebelum melanjutkan langkah, saya menunggu Maria kembali, sengaja agar saya mudah jika ingin bertanya-tanya.

Setelah tiga tingkat saya lalui, saya tiba di sebuah pintu. Pintu tersebut mengarah ke pelataran dalam gereja yang mengelilingi aula-aula besarnya. Akan tetapi, pelataran tersebut terbilang sempit, sehingga hanya dapat digunakan untuk lewat saja. Di situ saya menyadari adanya bendera yang lebih mirip permadani dinding tergantung menjulur ke bawah dari langit-langit sayap selatan gereja. Salah satunya bersimbol kerajaan Inggris. Menurut penjelasan Maria, bendera tersebut dipasang sebagai penghormatan terhadap Inggris yang telah bersedia menampung keluarga kerajaan Norwegia yang mengungsi selama Perang Dunia II. Karena alasan yang sama pula, Nidarosdomen juga menyelenggarakan misa gereja Anglikan. Info tambahan, Nidarosdomen dimiliki oleh tiga denominasi gereja yang bergantian merayakan misa atau kebaktian di dalamnya, yaitu Katolik, Protestan dan Anglikan.

Melalui pelataran dalam tersebut, saya menyeberang menuju bagian tengah gereja tempat tangga menuju menara terletak. Pintu menuju tangga berukuran lebih kecil dari pintu yang saya lalui sebelumnya. Demikian pula tangga yang melingkar-lingkar menuju puncak. Ruang tangga yang sempit dan anak tangga yang ketinggiannya tidak selalu sama membuat saya harus berhati-hati menaikinya. Ternyata, pembangunan tangga yang demikian bukan tanpa alasan. Tangga-tangga menuju menara di bangunan abad pertengahan selalu didesain sempit, tidak rata dan melingkar searah jarum jam. Alasannya karena hal tersebut memudahkan penghuni bangunan bertahan dari serangan musuh. Musuh yang menyerang dari bawah dan menaiki tangga akan kesulitan mengayunkan pedang karena ruang dekat bagian tengah tangga yang tersedia bagi tangan kanan mereka lebih sempit, terlebih lagi tidak ada pegangan di tangga menara tersebut. Sementara itu, tangan kanan penghuni yang bertahan memiliki ruang yang lebih luas untuk mengayunkan pedang karena berada dekat dinding luar tangga. Kondisi anak tangga dengan ketinggian tidak sama juga menguntungkan pihak penghuni yang sudah hafal dengan kondisi rumahnya sendiri. Musuh yang harus berjalan dalam kegelapan akan lebih sulit menapak dengan hati-hati. Hebat ya, ternyata, arsitek-arsitek abad pertengahan sudah mampu berpikir sedetil itu.

Tapi bangsa Viking ‘kan badannya tinggi-tinggi, bagaimana bisa mereka melalui tangga sesempit ini dengan leluasa? Pertanyaan saya langsung disambut jawaban Maria yang tidak saya duga. Katanya, orang Norwegia termasuk bangsa Viking pada abad pertengahan memiliki tinggi rata-rata yang hanya 160 cm. Sulit dipercaya ya, Pembaca? Mereka hanya 10 cm lebih tinggi dari saya! Dan lagi, mereka sudah merupakan yang tertinggi di Eropa di masa itu. Berarti tinggi rata-rata penduduk Eropa abad pertengahan mungkin lebih rendah dibandingkan penduduk Indonesia di masa kini.

Setelah dua kali berhenti karena harus mengatur nafas, saya tiba dengan selamat di puncak menara. Saya lihat Chris ternyata lebih ngos-ngosan lagi. Sepertinya badannya yang nyaris terlalu besar untuk ruang tangga lumayan menyulitkan dirinya. Kami beristirahat sejenak sebelum melangkah ke pelataran di puncak menara. Maria tidak ikut, karena ia akan berjaga di dekat pintu dan siap apabila ada dari kami yang ingin bertanya. Ia akan menjadi orang terakhir yang turun setelah kami semua puas melihat-lihat dan memutuskan untuk kembali.

Akhirnya saya melangkah keluar. Dengan berpegangan pada atap menara, saya berjalan pelan-pelan memutari puncak menara sembari mengagumi keindahan Trondheim dari ketinggian. Pemandangan terindah ada di sisi utara yang menghadap ke fjord. Dari situ terlihat pula Munkholmen yang tampak kecil di Trondheimsfjord, yaitu sebuah pulau tempat sebuah biara yang telah berdiri sejak abad pertengahan berada. Biara tersebut sempat menjadi penjara dan benteng pada zaman-zaman setelahnya dan saat ini menjadi museum yang dapat dikunjungi dengan menumpang perahu dari pelabuhan Trondheim. Sementara itu, pelataran sisi selatan menyajikan pemandangan sungai Nidelva yang berkelok-kelok di belakang kompleks istana uskup yang kini telah menjadi museum.

13912763_10157956428770377_3627441134496933_n

Munkegata dengan Munkholmen yang tampak di kejauhan.

IMG_4118

Sisi barat kota Trondheim.

IMG_4125

Sisi timur kota Trondheim.

IMG_4128

Pekarangan dalam benteng yang dulunya kompleks istana uskup.

IMG_4127

Sisi selatan kota Trondheim dan Sungai Nidelva.

Sambil berjalan memutari pelataran, Chris menceritakan pengalamannya kepada saya. Ternyata, kunjungan kami ke Nidarosdomen saat itu bukan yang pertama untuknya. Waktu masih kecil, dia pernah juga naik ke menara ini bersama orang tuanya, tapi saat itu ia berjalan merangkak karena takut ketinggian. Haha, lucunya! Saya dulu juga pernah jadi penakut, takut berdiri di atas gunung karena saya pikir saya akan merosot karena gunung itu miring. :’D Selagi mengobrol, saya juga memperhatikan atap menara yang berwarna hijau telur asin. Warna tersebut sama dengan atap gereja katedral di Jakarta. Belakangan saya baru mengetahui bahwa untuk membuat warna tersebut, arsitek dan konstruktor bangunan yang bertugas merestorasi Nidarosdomen menggunakan campuran dari air seni hewan dan zat kimia yang sifatnya asam. Hiiiyyy…

IMG_4113

Menara barat laut yang terdapat patung malaikat Mikael dan atap hijau gereja.

Setelah selesai mengitari pelataran, saya kembali bertemu dengan Maria yang menunggu di dekat tangga. Kami adalah dua orang terakhir yang tiba. Pasangan yang berbahasa Italia yang naik bersama kami tadi sudah turun lebih dahulu. Sebelum turun, kami meminta tolong Maria untuk mengambil foto kami berdua. Sambil cekikikan tiba-tiba Chris iseng bertanya apakah mungkin menyewa Nidarosdomen untuk pernikahan. Wah, sebetulnya dari tadi saya juga bertanya-tanya, Pembaca. Siapa yang tidak bermimpi menikah di gereja seindah ini dan sebersejarah ini? Kebetulan saya juga pecinta sejarah abad pertengahan. Pas banget pokoknya! Sambil tertawa pula Maria menjawab, bahwa untuk menikah di Nidarosdomen calon pengantin harus membooking dari 2 tahun sebelum tanggal pernikahannya. Untuk menikah dikenakan biaya sebesar 11000 NOK, sudah termasuk segala fasilitas di dalamnya termasuk pastur yang menikahkan dan koor. Wah, saya jadi bermimpi nih, Pembaca. 😀

13880167_10157956429250377_248092827643299993_n

Oleh-oleh foto dari Maria, pemandu wisata kami.

Kunjungan ke menara menjadi penutup dari rangkaian tur saya di Nidarosdomen. Tidak terasa berjam-jam sudah saya habiskan untuk menjelajah katedral abad pertengahan tersebut. Keluar dari bangunan gereja, saya baru tersadar bahwa tiket saya berlaku untuk dua museum lain. Saya melihat jam di ponsel sudah menampilkan angka 14.00. Dengan terburu-buru saya berlari menyeberangi halaman depan gereja menuju kompleks yang terpagari benteng tua yang tampak seperti bangunan abad pertengahan. Di balik tembok tersebut terdapat lapangan lagi dengan papan penunjuk jalan yang memberi tahu arah kedua museum lain yang bisa diakses dengan tiket terusan. Saya langsung menuju museum pertama yang berada dekat dengan pintu masuk di benteng tersebut. Tentu saja saya harus kecewa ketika petugas museum di balik meja resepsionis memberi tahu bahwa mereka akan tutup. Ternyata, selain akhir pekan, museum-museum di area tersebut hanya buka dari pukul 10.00 sampai 14.00 saja. Nyaris saja saya pulang dengan kerugian sebesar 120 NOK jika saja mas-mas petugas tidak mengatakan pada saya bahwa tiket terusan berlaku 3 hari. 🙂

13557762_10157774297340377_1033448694795456581_n

Foto berdua dulu sebelum pulang 🙂 🙂 🙂

Akhirnya, saya dan Chris berniat untuk kembali ke Trondheim esok hari sebelum kami meneruskan perjalanan ke utara. Sebagai penghibur akan gagalnya kami mencapai museum lainnya tepat waktu, kami beranjak menuju bangunan bersejarah lain di kota tersebut yang layak dikunjungi. Bangunan tersebut merupakan sebuah jembatan tua yang menyeberangi sungai Nidelva dan terletak di sebelah timur jika berjalan dari Nidarosdomen. Dari bentuknya, jembatan tersebut tak lebih dari jembatan biasa, meski ia memiliki dua gapura merah dari kayu yang disebut oleh Gerbang Kebahagiaan (Lykkens Portal) oleh masyarakat setempat. Selain nama tersebut, jembatan tua itu tidak memiliki nama lain. Orang menyebutnya Gamle Bybrua saja, yang kalau diterjemahkan memang bermakna Jembatan Kota Tua.

IMG_4143

Gamle Bybrua yang memiliki jalur sepeda dan pejalan kaki.

IMG_4135

Plakat tentang sejarah pembangunan jembatan.

Gamle Bybrua pertama kali berdiri pada tahun 1685 setelah kebakaran besar yang melanda Trondheim yang juga menghancurkan Nidarosdomen. Jembatan ini menggantikan jembatan lama yang dibiarkan hancur, yaitu Elgeseter. Konon, kenampakannya berbeda sekali dengan yang dapat kita lihat saat ini. Dahulu, jembatan ini terbuat dari kayu yang berdiri di atas tiga penyangga dari batu. Jembatan ini tertutup dan memiliki gerbang. Di setiap ujungnya terdapat pos jaga tempat orang membayar pajak jika ingin melintas. Pada masa itu, fungsinya lebih sebagai menjaga dari serangan musuh dibandingkan sebagai penghubung antarzona kota.

Jembatan versi modernnya berdiri pada 1861. Ia tidak lagi memiliki gerbang dan tertutup, bahkan memungkinkan saya untuk melihat pemandangan rumah-rumah tua dan dermaga di kedua tepi sungai. Rumah-rumah beraneka warna ini memang menjadi ciri khas pelabuhan di Norwegia. Ia tidak hanya terdapat di Trondheim, tetapi juga di Bergen (yang paling terkenal) dan Oslo (yang sudah menjadi kawasan elit dan modern). Gamle Bybrua tidak mengalami perubahan ukuran lebar jalan. Kebanyakan hanya pejalan kaki dan sepeda yang menyeberang melalui jembatan ini. Setidaknya, saya tidak sempat melihat mobil melaluinya ketika saya berada di sana.

IMG_4136

Rumah-rumah pelabuhan dan dermaga.

IMG_4137

Rumah-rumah beraneka warna.

13873111_10157956430155377_3751723672716774171_n

Sisi lain Sungai Nidelva.

IMG_4147

Numpang narsis di Gamle Bybrua.

Berputar-putar di Trondheim akhirnya membuat perut saya keroncongan. Saya teringat makanan yang terakhir saya makan adalah waktu sarapan tadi. Saya dan Chris memutuskan untuk mampir ke mall nanggung yang ada di alun-alun sambil menunggu orang tuanya menjemput kami kembali ke perkemahan. Saat itu, suasana berisik sekali karena sedang ada konser musik dan bazaar di alun-alun. Ingatan saya melayang ke dua tahun lalu, ketika saya berada di kota ini pertama kali. Hotel yang saya tempati tidak jauh dari alun-alun maupun Nidarosdomen. Akan tetapi, saat ini hotel tersebut sudah tidak tampak lagi. Dua tahun cukup untuk mengubah sedikit wajah kota itu. Di sana-sini memang saya lihat sedang ada banyak perbaikan jalan. Tampak dari banyaknya area di dekat alun-alun yang dipagari tanda larangan untuk dilewati. Sebetulnya area tersebut bukan perbaikan jalan, namun hal itu akan saya ketahui pada hari berikutnya, ketika saya melanjutkan petualangan saya di Trondheim.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Situs resmi Nidarosdomen:

http://www.nidarosdomen.no/en/

Situs resmi kota Trondheim:

https://trondheim.com/

Artikel tentang Gamle Bybrua:

https://www.visitnorway.com/places-to-go/trondelag/trondheim/things-to-do/attractions/the-old-town-bridge-gamle-bybro/

Disclaimer: foto-foto di dalam katedral diambil oleh Chris, entah bagaimana ia bisa mengambil foto di dalam saya juga tidak tahu 😀

Antibosan di Kala Berkemah: Main di Pantai, Yatzy dan Obrolan Antarbudaya

Saya terbangun pada pagi hari kedua di perkemahan karena merasa tempat tidur saya semakin lama semakin tidak nyaman. Usut punya usut, setelah merangkak keluar dari ruang tidur, saya baru tahu bahwa matras saya kempes. Sepertinya karena memang sudah tua dan mungkin udaranya keluar pelan-pelan selama saya tertidur. Dimulailah pekerjaan memompa matras yang melelahkan tersebut untuk kedua kalinya.

Selesai dengan matras dan melipat selimut, saya dan yang lainnya duduk mengitari meja makan untuk menyantap sarapan yang tak lain dan tak bukan adalah smørbrød. Ellen sudah mengambil beraneka macam topping dari kotak pendingin di mobil dan menyebarnya di atas meja. Berbagai pilihan topping dari asin, manis sampai tidak berasa tersedia di sana. Saya sih masih tetap setia dengan topping favorit saya. 🙂

Tidak ada waktu banyak untuk berleha-leha di hari itu, karena kami semua sudah punya kegiatan sepanjang siang hingga sore hari. Orang tua Chris akan pergi memancing di laut sedangkan kami berdua akan mengunjungi sebuah kota kenangan. Aduh, istilahnya ya, Pembaca hehehe 😛 Akhirnya, saya memutuskan untuk mandi dan keramas sambil menunggu baterei ponsel saya terisi penuh kembali. Percaya tidak percaya, kompleks perkemahan ini canggih juga. Setiap tenda mendapatkan satu rol berisi empat stop kontak untuk listrik yang langsung tersambung pada pancang-pancang listrik yang tersebar di area tersebut. Tidak hanya itu, kompleks perkemahan Flakk Camping ini juga memiliki akses wifi gratis bagi para tamu-tamunya. Tentu saja kecepatannya bukan kecepatan super yang cocok untuk streaming film di Youtube, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan browsing standar. Akses wifi tercepat dapat diperoleh di dekat bangunan resepsionis yang menyatu dengan kamar mandi dan dapur.

img_5438-730x350

Bangunan resepsionis yang tersambung dengan kamar mandi dan dapur.

Saat saya tiba di kamar mandi, saya tidak lagi mendapati keadaan sepi seperti malam sebelumnya. Kali ini ada beberapa pekemah lain yang sudah di sana. Saya harus mengantri satu giliran untuk dapat menggunakan salah satu bilik kamar mandi di situ. Selain itu, saya tidak lagi bisa berlama-lama menikmati air panas gratis karena ketika saya di dalam, saya mendengar suara kasak-kusuk beberapa orang di luar, yang sepertinya juga mengantri mandi di belakang saya. Salah juga memutuskan untuk keramas sekarang. Untungnya saya punya motivasi lain, yaitu cepat-cepat berangkat menuju kota kenangan agar sempat melihat banyak hal di sana.

Kami diantar oleh Tor Vidar dengan mobil menuju kota tersebut. Kami berangkat pada pukul 11.00 pagi dan menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Sementara itu, Ellen dengan baik hati menawarkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk karena kami belum sempat mencuci sama sekali di perjalanan tersebut. Mungkin kalau di negara kita, yang begini sudah dibilang tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Saya enak-enak bermain sedangkan ibunya yang sudah membantu saya agar bisa mewujudkan road trip impian ini sibuk mencuci pakaian kotor sendiri. Sudah begitu, cucian di perkemahan tersebut tidak boleh ditinggal-tinggal karena kemungkinan pencurian atau hilang selalu ada. Sebetulnya di Norwegia sendiri tidak banyak peristiwa pencurian, tetapi kompleks perkemahan ini ‘kan untuk wisatawan mancanegara.

Saya menghabiskan waktu di kota kenangan hingga pukul 18.00. Sesungguhnya petualangan saya belum berakhir ketika saya dijemput kembali setelah orang tua Chris selesai memancing. Untungnya, mereka bersedia mengantar kami kembali ke kota tersebut esok pagi. Cerita tentang petualangan di kota kenangan ini, berikut nama kotanya akan saya bagikan di bagian selanjutnya ya, Pembaca 🙂 Sepanjang jalan pulang kami saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tentang impian yang saya miliki di kota yang baru saja saya kunjungi dan tentang ketidakberuntungan orang tua pacar saya dalam mendapatkan banyak ikan. Sebelum kembali ke perkemahan, kami pun sempat mampir di sebuah minimarket (menurut saya, karena bagi orang di pedesaan tersebut toko itu adalah supermarket) untuk membeli bahan makan malam.

Tiba kembali di kemah, saya mendapati tetangga-tetangga kami telah berganti. Kini di seberang kami berdiri sebuah lavvu, yaitu tenda kerucut khas suku Sami, suku asli yang mendiami wilayah utara Skandinavia. Saya mengira penghuninya pun orang Sami, ternyata bukan. Tenda besar itu milik sebuah keluarga Filipina yang salah satu anggotanya menikah dengan orang Norwegia. Filipina-Norwegia adalah pasangan Skandinasia paling mainstream di negara tersebut. Seperti orang-orang Indonesia, keluarga yang didominasi perempuan tersebut bersuara sangat lantang dibandingkan mayoritas wisatawan Eropa yang ada di sana. Mereka sibuk main kartu, memasak, dan melakukan aktivitas lainnya dengan disertai mengobrol dan bercanda. Suara cekikikan berulang kali terdengar. Suasana yang tadinya tenang seperti di hutan tiba-tiba berubah seperti suasana bus sekolah yang dipenuhi murid-murid yang hendak pergi study tour. 😥

Meski cukup berisik, sepertinya aktivitas tersebut legal karena tidak ada yang menegur. Saya pun memutuskan untuk menghindari keramaian dengan pergi mengeksplor berbagai sudut perkemahan. Lagi-lagi saya dan Chris meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk memasak makan malam. Tujuan utama saya sebetulnya adalah pantai yang terletak di daerah perkemahan tersebut. Tentu saja saya tidak berharap banyak, karena saya tahu bahwa pantai-pantai di sini tidak akan seindah di kampung halaman saya. Satu hal yang saya inginkan adalah memperoleh cinderamata dari alam berupa bebatuan unik atau kulit kerang. Saya memang hobi mengumpulkan benda-benda dari alam ketika sedang bepergian. Selain batu dan kulit kerang, saya mengoleksi daun kering, bunga liar dan bulu burung yang jatuh di tanah.

Ternyata, akses menuju pantai tidak mudah untuk ditemukan. Mula-mula saya berusaha memasuki pantai dari sisi kiri yang dekat dengan dermaga feri. Daerah tersebut dipenuhi oleh karavan wisatawan dan para pekemah yang tengah berjemur. Tidak ingin mengganggu, saya pun berjalan melewati jalan setapak dan mencari daerah yang sepi oleh pekemah. Bagian tengah pantai tampak sepi, tetapi begitu tiba di sana, saya mendapati kumpulan semak-semak berupa rerumputan tinggi yang tampak tajam. Karena saya hanya mengenakan sandal jepit, saya tidak berani menerobos semak-semak tersebut. Di situ pula saya menyadari hal yang lucu. Rupanya, identiknya pantai dan sandal jepit itu hanya ditemukan di pantai-pantai tropis atau Mediterania. Saya mengamati anak-anak wisatawan yang bermain di sisi kiri pantai rata-rata mengenakan sepatu bot karet atau sepatu lain yang tertutup. Wah, memang ya, beda alam beda pakaian hahaa 😀

img_5309-730x350

Pantai dekat Flakk Camping. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

275-640x306

Dermaga dekat penyeberangan feri. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

img_6765-730x350

Kadang-kadang dari pantai juga tampak kapal-kapal yang melintas. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

Setelah kembali ke jalan setapak dan menyusuri deretan kabin, saya menemukan akses mudah menuju pantai, yang ternyata dipagari kawat berduri dan dipasangi tulisan yang kira-kira berarti “wilayah privat”. Lho, kok wilayah privat? Bukankah di Norwegia ada hak mengakses alam bagi semua orang? Saya pun belajar bahwa semua kebebasan ada batasnya. Rupanya, allemansratten yang terkenal itu tidak mutlak berlaku di semua wilayah. Ada beberapa wilayah yang sangat dekat dengan alam yang masih termasuk wilayah privat. Umumnya wilayah tersebut adalah lahan pertanian dan peternakan.

Kecewa karena tidak menemukan akses ke pantai, saya hampir menyerah dan bermaksud kembali ke tenda. Akan tetapi, rasa penasaran dan semangat menjelajah saya terus membujuk saya untuk pergi ke pantai. Akhirnya setelah intip sana longok sini, saya dan Chris pun berhasil mencapai pantai dengan menemukan sebuah perahu yang terparkir tak jauh dari salah satu kabin. Perahu tersebut seakan menjadi penunjuk jalan bagi kami untuk menuju pantai yang nyaris tidak berpasir dan dipenuhi bebatuan. Laut yang berada di dekatnya pun tidak tampak indah karena dipenuhi ganggang hijau dan rumput laut yang membuat airnya pun berubah menjadi hijau seperti beracun. Pokoknya jelek deh kalau dibandingkan dengan pantai di negara tropis.

13707655_10210506183117320_4820452775019664205_n

Sisi indah pantai yang berhasil saya abadikan.

13754412_10210506182877314_6049990346547174463_n

Di sebelah kiri adalah pelabuhan feri.

Saya pun langsung berfokus pada pencarian bebatuan dan kerang unik. Di dekat pagar yang membatasi pantai dengan wilayah privat tadi, terdapat hamparan bebatuan putih yang dipenuhi dengan kulit kerang yang tersapu ombak hingga ke pantai. Saya melompati bebatuan, mencelupkan kaki di air laut dan melewati onggokan-onggokan rumput laut kering yang terbawa ombak hingga tiba ke hamparan bebatuan tersebut. Selagi saya sibuk mencari kerang, Chris mencari bebatuan unik di dekat laut. Tiba-tiba ia memanggil saya untuk mengingatkan agar saya berhati-hati, karena ternyata ia menemukan banyak paku dan besi-besi rongsokan yang sudah berkarat teronggok di salah satu bagian pantai. Rongsokan berkarat tersebut mengubah warna bebatuan putih menjadi coklat kemerah-merahan. Tampaknya rongsokan besi tersebut berasal dari rongsokan perahu atau kapal yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Agak kecewa melihat ketidaksempurnaan keindahan alam di negeri impian saya 😦

13718608_10210506184757361_1845469634209788576_n

Warna bebatuan yang kemerahan terkena karat dari rongsokan besi.

13690808_10210506184797362_7051292684426885602_n

Pantai tiga warna: merah di kanan bawah, hijau abu-abu di kiri bawah dan putih di bagian atas.

Meski keindahannya tak sempurna dan jauh tertinggal dibandingkan pantai Indonesia, kami menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai tersebut hingga matahari menjelang terbenam. Kami berhasil mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan unik sebanyak yang mampu kami bawa dengan tangan kosong, karena kami lupa membawa wadah atau kantong plastik. Dengan perut yang mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan menyantap makan malam.

Ketika kami tiba, makan malam sudah terhidang di atas meja lipat plastik yang kami bawa. Hari itu menunya adalah nasi dengan lauk berupa campuran daging sapi, jamur dan paprika bersaus coklat kental yang entah apa namanya. Saya suka menyebutnya nasi kari Norwegia, meskipun menurut pakar masakan pasti namanya lain lagi. Saya juga harus menyebutkan, bahwa nasi di sini lebih pulen dibandingkan nasi di beberapa wilayah di Indonesia (kecuali di rumah saya tentunya, karena saya sangat suka nasi pulen). Mengapa bisa demikian? Rahasianya adalah karena mereka tidak kenal magic jar atau magic com dan alat-alat memasak nasi lainnya. Beras di Norwegia tidak dijual dalam karung-karung seperti di Indonesia, tetapi di dalam kotak-kotak semacam sereal. Di dalam kotak tersebut, beras sudah ditakar per porsi di dalam plastik-plastik yang aman jika terkena panas. Yang harus kita lakukan tinggal memasukkan plastik itu ke dalam air panas dan merebusnya selama kira-kira 10-15 menit sampai nasi tanak. Sejujurnya saya lebih suka cara ini karena kepraktisannya. Tidak perlu lagi mencuci beras atau membersihkan magic jar. Kita pun bisa sesekali memeriksa tingkat kepulenan nasi tanpa harus buka tutup magic jar yang sedang memasak. Tidak ada tuh istilah nasi kurang air, setengah jadi dan sebagainya. Hehehe 😛

Kami semua menyantap makan malam tersebut dengan lahap, bahkan ada yang menambah. Selesai makan dan membereskan piring kotor, kami tak juga beranjak dari meja makan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam kedua di tenda tersebut dengan bermain Yatzy. Permainan ini sebetulnya versi Skandinavianya Yahtzee, hanya berbeda sedikit pada aturannya. Sejak mencoba bermain pada malam tahun baru 2016, saya agak ketagihan main ini. Cara bermainnya adalah dengan mengocok enam buah dadu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan permintaan dalam daftar dan jumlahnya sebesar mungkin. Misalnya, dua buah angka yang sama dan tiga buah angka yang sama, maka saya harus memperoleh misalnya 3 x angka 6 dan 2 x angka 5. Yang menang adalah yang mengumpulkan angka tertinggi jika seluruh hasil dijumlah. Permainan ini akan jadi seru kalau hokinya besar, karena untuk menang memang sangat mengandalkan hoki. Akhirnya segala cara yang nggak masuk akal pun dicoba, misalnya meniup-niup dadu sebelum dilempar. Ya kali bakal ada efeknya 😀

Ketika saya bermain di malam tahun baru, saya ketiban keberuntungan pemula. Baru mencoba main pertama kali, saya langsung menang. Lain dengan permainan di kemah. Tiba-tiba keberuntungan saya hilang seperti tertiup angin. Dua sampai tiga ronde bermain, nama saya hanya nangkring di posisi dua atau tiga. Sepertinya saya harus bersyukur dengan tidak menempati posisi bontot. Sebaliknya, Chris yang berada di urutan terakhir di malam tahun baru justru menang atau berada di atas saya. Begitulah, Pembaca, serunya bermain Yatzy yang hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Selain itu, permainan ini juga merupakan antibosan yang ampuh ketika berkemah atau melakukan perjalanan panjang. Sayangnya, ia tidak begitu populer di Indonesia.

Karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, Tor Vidar yang akan menyetir pun pamit tidur setelah permainan selesai. Sementara itu, saya, Chris dan Ellen duduk-duduk di sekitar meja makan dan mengobrol. Saya pun memanfaatkan waktu itu sambil mengerjakan salah satu hobi saya, yaitu mewarnai. Sekedar info, saya salah satu penggemar berat adult coloring book. 😛 Sambil menggerakkan spidol di atas gambar yang saya warnai, saya bertanya banyak hal, mula-mula dengan Chris. Kami mendiskusikan tentang perbedaan budaya – hal yang sangat saya sukai.

Saya bertanya tentang hal yang selama dua hari ini telah saya dan dia lakukan – sibuk bermain selagi orang tuanya mengurus segalanya. Kalau di Indonesia, hal tersebut sudah pasti dianggap kurang sopan, apalagi jika pihak orang tua tidak mengungkapkan izinnya atau justru menyuruh anaknya untuk pergi bermain. Mendengar pembicaraan kami, Ellen pun ikut menimbrung. Ia menjelaskan bahwa memang demikian hubungan anak dan orang tua di negaranya. Secara fisik terkesan sama sekali tidak dekat. Jujur saja, saya cuma pernah lihat Chris dan orang tuanya berpelukan ketika ia hendak pergi jauh, misalnya ke tempat saya. Sedangkan saya sampai sekarang masih suka gelendotan ke ibu saya. 😀 Selain itu, orang tua dan anak kedudukannya relatif setara, terutama ketika sang anak sudah dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, di mana kedudukan orang tua dan anak ya atas bawah, bahkan kadang-kadang sampai anaknya menikah (apalagi kalau anaknya perempuan).

Mendengar cerita saya, Ellen balik bertanya apakah orang tua di Indonesia sangat ketat dalam mendidik anak. Saya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan Skandinavia, tentu terkesan sangat ketat, tetapi kami juga sangat dekat secara fisik dan emosional. Chris bilang, di Norwegia, anak-anak justru tidak sabar untuk lepas dari orang tuanya. Semakin mereka dewasa, mereka akan semakin berusaha menjauh. Fenomena ini juga ada di Indonesia, tetapi tentu kita tidak bisa sebebas itu. Ada hubungan timbal balik yang sangat berbeda antara kedua negara tersebut.

Di Indonesia, ketika orang tua memutuskan untuk memiliki anak, sebagian besar masih banyak berpikir bahwa mereka akan melakukan pengorbanan besar demi pertumbuhan anaknya. Tetapi pengorbanan besar tersebut seringkali bukan tanpa pamrih. Ada beberapa orang tua yang saya kenal yang kemudian berekspektasi bahwa anaknya akan berbalik membantunya ketika sudah dewasa. Membantu di sini bukan secara fisik, tetapi materi. Misalnya dengan berprofesi yang menghasilkan banyak uang atau bahkan (yang lebih parah), meneruskan cita-cita orang tuanya yang tidak kesampaian. Menurut analisis sederhana dan amatiran saya, penyebabnya adalah kurang baiknya kondisi kesejahteraan dan perekonomian negara. Wah, jauh sekali ya! Mengapa bisa demikian?

Saya bandingkan keadaaan di Indonesia dengan keadaan di Norwegia berdasarkan penjelasan Chris dan ibunya. Di Norwegia, sebuah negara yang ekonominya sudah sejahtera, orang tua tidak terlalu pusing memikirkan pengorbanan besar berupa materi yang harus mereka keluarkan demi membesarkan anak. Ketika anak lahir, mereka sudah memperoleh tunjangan dari pemerintah, kalau tidak salah sampai anak tersebut berusia 18 tahun. Selain itu, biaya pendidikan yang biasanya menelan paling banyak porsi dari bujet hidup sudah gratis, kecuali universitas. Ditambah lagi, ketika orang tua sudah pensiun, mereka mendapat uang pensiun yang jumlahnya tidak kecil dari pemerintah. Nah, kebayang ‘kan, dari situ saja bebannya sudah berkurang banyak. Begitulah kalau uang rakyat tidak dikorupsi. Padahal dua negara di atas sama-sama penghasil minyak. 😉 Intinya, orang tua dan anak menjadi tidak punya tanggung jawab bantuan materi secara timbal balik seperti di Indonesia.

Memikirkan hal tersebut, saya pun jadi penasaran. Di Indonesia, orang tua banyak yang bekerja keras membanting tulang agar anaknya dapat kuliah setinggi-tingginya, sehingga ketika anak gagal memperoleh pekerjaan yang sebanding dengan biaya kuliahnya, orang tua pun jadi kecewa. Bagaimana keadaannya di negeri matahari tengah malam ini? Ternyata, hal tersebut sangat jarang terjadi, Pembaca. Menurut Ellen, ada beberapa orang tua yang melakukannya dan tentu hal tersebut – menabung dari hasil kerja demi kuliah anaknya – adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, sebagian besar orang tua menganggap kuliah adalah pilihan anaknya dan tidak wajib, sehingga jika mereka ingin berkuliah, merekalah yang harus mencari uangnya sendiri. Toh sebetulnya biaya kuliah tidak terlalu mahal dan ada program pinjaman pemerintah. Saya pernah cek biaya kuliah sebuah jurusan sastra di Universitas Bergen hanya sebesar Rp 800.000,- kalau dikurs ke Rupiah, sedangkan saya ketika di UI dulu satu semester bisa 3 juta! Alhasil, anak-anak yang ingin kuliah banyak yang membiayai sendiri kuliahnya, misalnya dengan bekerja part time. Wah, berbeda sekali ya 🙂

Pada akhirnya, kedua budaya yang berbeda tersebut tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, ada keyakinan populer di masyarakat bahwa sebetulnya yang dibutuhkan manusia adalah relasi dan komunikasi dengan manusia lainnya. Terlalu individualis tentu saja tidak baik. Di sisi lain, manusia memang pada dasarnya terlahir seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Ada baiknya belajar menjadi mandiri sepenuhnya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita terpaksa berdiri sendiri atau kapan orang-orang yang biasa membantu tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya, diskusi itu membuat saya berkesimpulan dan bertekad untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak-anak di masa depan saya dengan budaya Skandinasia, gabungan antara Skandinavia dan Asia, Norwegia dan Indonesia. Itu pun kalau hubungannya berlanjut, hehehe 🙂 Doakan saja ya, Pembaca!

mit Liebe,

Frouwelinde

 

 

 

Lembah Stroberi dan Sungai Legenda di Valldal

Salah satu hal yang menginspirasi saya untuk bermimpi melakukan perjalanan ke Norwegia adalah sebuah tayangan acara panduan wisata di televisi. Dahulu, ketika tayangan stasiun TV di Indonesia masih bermutu, acara semacam ini banyak sekali tersebar di berbagai stasiun TV, terutama pada akhir pekan. Salah satu acara wisata favorit saya berjudul Food Discovery, yang dulu pernah tayang di Metro TV pada minggu pagi. Food Discovery ini pada intinya mengajak pemirsanya berjalan-jalan ke berbagai belahan dunia untuk mencicipi makanan khas yang dibuat dari bahan-bahan khas dari negara yang didatangi pula. Usut punya usut, program Food Discovery ini ternyata buatan Nordic World AS; salah satu perusahaan penyiaran di Norwegia 😀 Memang kalau sudah jodoh nggak ke mana ya, Pembaca 🙂

Dalam episodenya yang berjudul “Norway: Strawberries and Wild Salmon”, penonton dapat ikut bertualang di alam Norwegia sembari memetik stroberi segar dan memancing salmon di sungai-sungai yang kemudian dimasak ala Norwegia. Ya ampun, waktu saya lihat stroberi-stroberinya, saya sampai ngiler-ngiler. Segar-segar dan merah sekali. Stroberi-stroberi tersebut dimakan dengan krim sebagai hidangan penutup dalam tayangan tersebut. Sejujurnya, saya tidak pernah begitu menyukai stroberi karena rasanya kebanyakan asam. Hanya saja, tayangan Food Discovery yang langsung menjadi episode favorit saya itu berhasil meyakinkan saya bahwa di belahan bumi lain ada stroberi-stroberi merah segar yang manis.

Bertahun-tahun setelah saya menyaksikan tayangan yang begitu membekas di benak saya ini (lebay banget ya, Pembaca!), saya duduk di sebuah mobil mini van berwarna biru yang tengah berkendara di sepanjang rute turisme Geiranger-Trollstigen di Norwegia. Tuh, betul ‘kan, saya memang berjodoh sama negara ini. 😉 Dari teras pandang Ørnesvingen, saya mencapai puncak pegunungan dan turun lagi melalui lembah Eidsdal. Di bagian atas, lembah ini tampak sepi tak berpenghuni. Hanya ada daratan hijau dan sungai kecil yang mengalir dari air terjun-air terjun di tebing-tebing gunung. Semakin ke bawah, semakin banyak terdapat rumah-rumah dan peternakan, yang pada akhirnya berujung di desa Eidsdal.

123807810

Desa Eidsdal di tepi Storfjord tempat pelabuhan feri untuk menyeberang ke Valldal. Sumber: http://www.panoramio.com

Eidsdal terletak di tepi Storfjord yang merupakan ibu dari Geirangerfjord. Dari sanalah saya akan menyeberangi fjord tersebut menuju daratan di seberang. Mungkin di sinilah titik bosannya saya dengan fjord. Karena lamanya yang tidak lebih dari 30 menit, saya memutuskan untuk diam di dalam mobil selagi feri tersebut menyeberang. Kebetulan mobil saya berada di tengah-tengah feri di antara mobil-mobil lainnya dan agak sulit diakses kembali kalau saya tinggal turun dan berjalan-jalan. Benar juga, tak lama menunggu sudah terdengar kembali pengumuman bahwa feri akan merapat di seberang.

Tiba di seberang, kami berkendara di tepian Storfjord yang airnya berkilauan tertimpa sinar matahari. Rasanya kalau punya banyak waktu, saya masih ingin leyeh-leyeh di tepi fjord sambil mendinginkan kaki dan menikmati pemandangan. Road trip itu melelahkan lho meskipun kerjanya hanya duduk saja. Mungkin justru karena itu, ya?

Rute yang kami tempuh adalah Rv 63. Rute ini menyeberangi mulut Sungai Valldøla yang mengalir langsung ke Storfjord dan berbelok ke utara memasuki lembah Valldal. Lembah Valldal inilah tempat di mana impian masa kecil saya yang muncul akibat menonton Food Discovery terwujud. Berlalu dari pusat kota, di kiri kanan jalan semakin terdapat jajaran semak-semak hijau yang adalah perkebunan stroberi. Setiap rumah tampak dikelilingi oleh perkebunan stroberi yang terhampar luas. Tampaknya, pertanian stroberi adalah industri yang menyokong kota ini, di samping turisme tentunya.

13718803_10210497555621638_7443641769481001047_n

Kebun stroberi di sepanjang jalan.

13718713_10210497555541636_797349671437581808_n

Perkebunan stroberi adalah sumber mata pencaharian penduduk Valldal.

Beberapa saat berkendara di antara kebun stroberi, mata saya menangkap pemandangan yang tidak biasa. Ada beberapa ibu-ibu duduk di tepi jalan dengan penutup kepala khas pedesaan di bawah payung di belakang meja yang dipenuhi stroberi. Di depan tumpukan kemasan stroberi tersebut tertera angka yang menunjukkan harga. Mereka adalah penjual jalanan pertama di Norwegia yang saya lihat yang menjajakan makanan, karena penjual jalanan di sana rata-rata menjual koran dan majalah. Saya kira ibu-ibu pedagang seperti itu hanya ada di Cisarua 😀 Kami pun berhenti di dekat salah seorang dari mereka dan membeli sekotak stroberi seharga 40 NOK.

13726764_10210497555581637_4557067469048957665_n

Ini dia stroberi yang saya beli di pinggir jalan 🙂 Ini no filter, no edit lho gambarnya. Selamat ngiler ya, Pembaca! 😛

Jujur, saya belum pernah melihat stroberi sebesar-besar dan semerah stroberi itu sebelumnya. Dengan yakin, saya pun menarik daunnya dan langsung menggigit daging stroberi yang sangat juicy tersebut. Wow, ternyata tayangan Food Discovery itu nggak bohong, Pembaca! Stroberi merah segar dan manis memang tumbuh di belahan bumi utara yang memiliki empat musim. Terbayang betapa lezatnya jika saat itu saya punya krim kocok untuk melengkapi stroberi tersebut. Satu lagi impian dalam daftar saya yang bisa dicoret. 🙂

Berbekal stroberi segar dari Valldal, saya kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara melawan arah arus Sungai Valldøla yang berkelok-kelok di sisi jalan raya. Sekitar 15 km ke utara dari kota Valldal, terdapat perhentian di tepi jalan dekat sebuah jembatan. Di dekat perhentian itu ada sebuah platform view lain, tapi pemandangannya bukan lagi fjord melainkan Sungai Valldøla yang jernih. Platform view berbentuk jembatan yang berkelok-kelok di antara pepohonan itu menyeberangi sungai jernih yang jatuh dalam sebuah jurang sempit bernama Gudbrandsjuvet.

jsa_2

Platform view yang menjembatani Sungai Valldøla. Sumber: architektur.mapolismagazin.com

 

Apa yang menarik dari jurang sempit ini? Pertama, formasi bebatuannya yang berbentuk seperti relung-relung gua. Bentuk bebatuan tersebut tercipta dari kikisan air Sungai Valldøla selama ratusan tahun. Menariknya lagi, kalau dilihat dari atas, air sungai yang mengalir menerobos bebatuan dan menabrak dinding-dinding gua tersebut berwarna biru muda cerah dan sangat jernih. Semua pemandangan ini dilatarbelakangi oleh Gunung Trollkyrkja yang menjulang jauh di selatan. Kalau saja hari tidak mulai gerimis ketika saya tiba di sana, mungkin saya bisa berlama-lama memandangi tarian sungai di bawah kaki saya dan memotret gerakannya dari berbagai sudut 🙂

13699991_10210497637983697_4421603176788588366_n

Gunung Trollkyrkja di selatan Sungai Valldøla

13697228_10210497641263779_7063496354760320236_n

Sungai Valldøla mengalir melalui relung-relung bebatuan Gudbrandsjuvet.

13729036_10210497640463759_910385978884913404_n

Melalui bebatuan dengan indahnya

13697161_10210497638663714_8050249868958279901_n

Tuh, lihat, biru banget ya airnya.. 🙂

Selain keindahan dan kejernihannya, jurang selebar 5 m dengan kedalaman 25 m ini juga menarik karena legendanya. Nama Gudbrandsjuvet sendiri berarti Jurang Gudbrand. Konon dikatakan dalam dongeng abad ke-16 bahwa ada seorang pria bernama Gudbrand yang melompat ke dalam jurang ini untuk melarikan diri dari orang-orang yang mengejarnya. Gudbrand, yang diceritakan selamat dan akhirnya tinggal di sebuah pondok di tepi Sungai Valldøla ini, diburu orang-orang yang marah karena ia membawa lari seorang perempuan untuk dinikahinya. Karena legenda ini, orang menamai jurang tersebut dengan namanya.

Di tempat ini, sekali lagi arsitek-arsitek lanskap Norwegia memamerkan kebolehan mereka. Teras pandang yang berkelok dan menjembatani sungai tersebut juga dilengkapi dengan pijakan-pijakan yang diberi lubang dan dinding-dinding pembatas dari kaca sehingga memungkinkan kita untuk mengintip apa yang ada di bawah jembatan. Di ujung teras pandang tersebut terdapat Cafe Juvet, yaitu sebuah kafe berarsitektur modern dengan dinding-dinding kaca yang menghadap pemandangan Sungai Valldøla. Desainnya persis seperti rumah modern impian saya yang punya banyak jendela besar dan terletak di dekat alam bebas. Sayangnya, karena hari hujan, saya pun tidak dapat berlama-lama di tempat tersebut karena saya harus cepat-cepat berlalu ke perhentian selanjutnya sebelum cuaca semakin memburuk.

706274

Lanskap platform view berlatar belakang pegunungan Trollkyrkja. Di sebelah kanan adalah Cafe Juvet yang berdinding kaca. Sumber: http://www.nasjonalturistveger.no

utendors

Platform view dilihat dari atas. Sumber: http://www.trollstigen.no

Untuk kembali ke mobil, saya mengambil jalan memutar sehingga tidak melewati platform view melainkan jembatan batu tempat jalan raya untuk kendaraan melintas. Ternyata, di sisi lain jembatan tersebut itulah Sungai Valldøla menjadi air terjun yang jatuh ke lembah Valldal dan mengalir berkelok-kelok hingga ke muaranya di Storfjord. Jembatan tersebut mengantar saya kembali ke tempat parkir mobil-mobil. Tepat sebelum gerimis semakin lebat, saya berhasil masuk ke mobil. Tinggal berharap cuaca akan membaik sebelum saya tiba di destinasi selanjutnya.

13668977_10210497638343706_6768529989582049433_n

Jembatan yang saya lalui ketika kembali ke mobil. Di sebaliknya adalah Sungai Valldøla yang jatuh ke lembah Valldal menjadi air terjun.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Gudbrandsjuvet di rute turis nasional Geiranger – Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=Gudbrandsjuvet

Heddal Stavkirke: Cerita Menarik dari Masa Lampau

Ada sebuah masa ketika laki-laki dan perempuan tak boleh duduk bersama dalam bangunan gereja di Norwegia. Bukan karena mereka tidak setara, melainkan karena perempuan dipercaya memiliki kelebihan yang menguntungkan bagi laki-laki. Ada suatu waktu ketika orang tak hanya membawa kitab suci ketika beribadah di gereja, tetapi juga pisau dan kapak. Fakta-fakta unik tersebut baru saya ketahui ketika menjejakkan kaki di sebuah gereja tua abad pertengahan di kota kecil bernama Heddal yang terletak di wilayah (Kommune) Telemark.

Heddal berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Sandefjord, bahkan mungkin bisa lebih singkat dari itu, karena saya sempat berhenti beberapa saat dan salah jalan karena GPS pun kadang-kadang gagal membaca peta ^^. Perjalanan darat dari Sandefjord melewati pedesaan yang asri dengan rumah-rumah yang terletak saling berjauhan. Di kiri kanan jalan terhampar ladang gandum yang luas, yang gandum-gandumnya sudah dipanen dan diletakkan dalam kantung-kantung berbentuk gulungan berwarna putih atau merah muda. Unik juga melihat beberapa gulungan berwarna merah muda yang ternyata merupakan salah satu bagian dari kampanye donasi bagi penderita kanker payudara.

Beberapa bagian jalan dipagari oleh bunga-bunga cantik berwarna ungu dan merah muda yang disebut Lupin (lupinus perennis). Bunga-bunga ini sangat sering dijumpai di sepanjang jalan dan rel kereta api. Meskipun cantik, bunga ini sudah masuk daftar hitam pemerintah Norwegia karena tumbuh seperti parasit. Mereka dapat bertahan hidup hingga 50 tahun dan mudah sekali tumbuh hingga menutupi semua area terbuka seperti rumput liar dan mematikan tumbuhan-tumbuhan lain. Saat ini ada larangan untuk membiakkan tanaman cantik tersebut.

13707567_10210478037213690_966267333865620098_n

Lupin di tepi jalan.

13709890_10210478036893682_755905832452098007_n

Lupin – detil

Kembali ke jalan setelah mengamati lupin, saya pun tiba di Heddal sekitar pukul 14.00. Dari parkiran mobil, saya dapat melihat Heddal Stavkirke (entah bagaimana menerjemahkan kata ini dalam bahasa Indonesia ^^) menjulang dengan menaranya yang tua dan berarsitektur unik. Di seberang bangunan gereja terdapat bangunan yang berbentuk seperti peternakan yang dulunya pun sempat difungsikan sebagai gereja. Saat ini, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi gedung administrasi dengan museum mini di basement serta kafe dan toko suvenir di lantai dasar. Di tempat inilah kita harus membeli tiket sebelum mengunjungi bangunan gereja. Tiket yang berbentuk stiker bundar bergambar bangunan gereja tersebut harus ditempelkan pada dada atau bagian pakaian lainnya. Tiket tersebut berlaku untuk gereja, museum di basement dan museum terbuka yang berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki. Harganya 70 NOK untuk low season (20 Mei – 14 Juni dan 1 September – 10 September) dan 80 NOK untuk high season (15 Juni – 31 Agustus). Seperti banyak museum lainnya di Norwegia, Heddal Stavkirke hanya buka pada musim panas.

13690676_10210478036933683_4729573031571280846_n

Heddal Stavkirke dan kompleks pemakamannya

Eksplorasi saya di kompleks Heddal Stavkirke diawali dengan mengunjungi museum mini di basement yang terdiri dari dua ruangan. Museum kecil ini menceritakan sedikit tentang sejarah pembangunan Heddal Stavkirke dan benda-benda bersejarah yang digunakan atau ditemukan di daerah tersebut. Salah satunya adalah delapan buah kapak tua yang dipajang di dinding. Kapak-kapak tersebut merupakan milik para penduduk yang juga menjadi jemaat gereja pada masa lampau. Mereka hidup sekitar tahun 1600, ketika memiliki senjata adalah hukum wajib bagi semua pria. Minimal mereka harus memiliki sebuah kapak. Para jemaat gereja tersebut, yang kebanyakan adalah petani, membawa kapak-kapak tersebut ke gereja dan menempatkannya di bagian luar dari bangunan gereja. Tindakan tersebut dipercaya mampu menakut-nakuti atau menjaga gereja dari serangan roh-roh jahat di luar.

13680740_10210487172162058_5396257890338219052_n

Kapak-kapak tua milik para jemaat gereja masa lalu.

Selain kapak tersebut, di museum juga dipajang lukisan-lukisan dan replika potongan detil dekorasi bangunan gereja. Lukisan-lukisan yang ada menceritakan beberapa kejadian penting dalam sejarah bangsa Viking, yang gaya dekorasinya memberikan pengaruh kuat pada arsitektur gereja. Rupanya, teknik pemotongan kayu dan pembangunan Stavkirke sama dengan teknik yang digunakan bangsa Viking untuk membangun kapal-kapal panjang (longship) mereka. Hal tersebut menjadi rahasia kokohnya bangunan gereja hingga saat ini. Di ruangan kedua dipamerkan benda-benda peninggalan bangsa Viking yang mereka gunakan sehari-hari seperti aneka senjata, tameng, perhiasan dan peralatan rumah tangga. Di bagian tengah ruangan kedua terdapat etalase berisi benda-benda yang dulu pernah digunakan di dalam gereja. Salah satunya merupakan sebuah kitab suci tua berukuran besar yang ditulis dalam aksara Gotik seperti yang digunakan Gutenberg pada mesin cetaknya.

13709930_10210487177442190_971905180996368197_n

Kitab suci tua dengan aksara bergaya Gotik.

Tidak hanya memajang barang koleksi, museum kecil tersebut juga menyediakan kostum abad pertengahan yang dapat kita sewa untuk berfoto, juga kursus singkat mengenai aksara Rune yang digunakan bangsa Viking beserta cara mengukirnya di kayu. Ketika saya berada di ruangan tersebut, seorang pria berkostum Viking berwarna merah tengah sibuk berbicara dengan seorang perempuan yang entah sesama pengunjung atau staf museum saya juga tidak tahu. Kita simpan dulu cerita tentang pria Viking ini, karena nantinya ia akan jadi karakter penting dalam petualangan saya hari itu.

Berlanjut dari museum mini, saya keluar dan menyeberang jalan kecil menuju Heddal Stavkirke. Gereja tua berarsitektur unik tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-12. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa mungkin bangunan tersebut berusia lebih tua lagi. Heddal Stavkirke, yang dikelilingi kompleks pemakaman sebagaimana gereja-gereja di Norwegia pada umumnya, merupakan salah satu dari 750 bangunan gereja serupa yang dahulu pernah berdiri di negeri Viking tersebut. Saat ini hanya ada 28 Stavkirke yang masih berdiri dan Heddal Stavkirke adalah yang terbesar. Istilah Stavkirke atau stave church merujuk pada struktur rangka penopang bangunan berupa pilar-pilar kayu (staves) vertikal dan horisontal yang terbuat dari kayu pinus. Struktur seperti ini merupakan hal yang khas dari bangunan gereja di Eropa barat laut (Skandinavia).

Saya memasuki bangunan gereja tepat ketika pemandu mulai menjelaskan detil-detil dan aneka fakta menarik mengenai gereja tersebut. Sekedar informasi, tur dengan pemandu sudah termasuk dalam harga tiket. Pemandu menjelaskan bahwa Heddal Stavkirke didedikasikan untuk Bunda Maria yang namanya terukir dalam aksara Rune di salah satu dinding kayu lorong luar gereja. Selain struktur pilarnya, bangunan gereja ini memiliki beberapa detil yang menarik. Salah satunya adalah ukiran atap dan pintu yang menggambarkan hewan dan tumbuhan yang merupakan motif khas bangsa Viking. Ukiran-ukiran tersebut konon dipercaya sebagai simbol-simbol untuk menangkal roh-roh jahat yang datang dari utara. Jika diperhatikan, pada bagian gerbang terdapat ukiran yang menyerupai ular yang melingkar sedemikian rupa hingga kepala ular tersebut bertemu ekornya. Desain ini sangat banyak ditemui pada karya seni dan arsitektur Viking, tetapi di gereja ini, ia menjadi simbol lingkaran tak berujung. Simbol ini seolah memperingatkan roh jahat agar tidak mengganggu karena mereka akan terperangkap dalam lingkaran tak berujung seperti ular tersebut. Entah apa makna asli dari desain tersebut pada masa Viking sebelum agama kristen masuk, tetapi pendapat pribadi saya mengatakan bahwa simbol itu sudah ditafsirkan ulang untuk memenuhi ide-ide kristiani.

13729153_10210487222203309_3968156055809752292_n

Ukiran ular tak berujung pada bagian pintu.

13782103_10210487202042805_844442292418862898_n

Interior dalam gereja.

Kepercayaan bahwa roh-roh jahat datang dari sebelah utara membuat perempuan dan laki-laki harus duduk terpisah. Perempuanlah yang harus duduk pada deret bangku sebelah utara sementara laki-laki menempati deret selatan. Hal ini dilakukan karena masyarakat pada masa itu meyakini bahwa perempuan memiliki kemampuan magis untuk menangkal roh jahat dan melindungi para pria tersebut. Menarik, bukan? Ternyata penghargaan terhadap perempuan yang menjadi salah satu hal yang khas dari negara-negara Skandinavia sudah ada sejak zaman dahulu.

Para perempuan tersebut duduk di sisi utara, tempat tiang tertua dari bangunan gereja tersebut berdiri kokoh di sudutnya. Pada dinding sebelah utara pula kita dapat memperhatikan bahwa lukisan di dinding tersebut telah diganti. Awal mulanya, Heddal Stavkirke merupakan gereja Katolik yang memiliki lukisan para rasul dan kisah jalan salib di dinding sekelilingnya. Namun, sejak Reformasi Gereja sekitar tahun 1600-an, lukisan tersebut ditimpa dengan lukisan ornamen bunga mawar untuk menghindari kultus terhadap gambar atau patung yang tidak sesuai dengan ajaran Protestan. Sampai saat ini, kita masih dapat melihat lukisan asli di sela-sela lukisan ornamen mawar tersebut.

Sementara itu, para pria duduk di sebelah kanan atau sisi selatan bangunan gereja. Jika diperhatikan, dinding kayu di sisi selatan memiliki banyak lubang pipih di permukaannya. Menurut penjelasan Mbak Pemandu, lubang-lubang tersebut berasal dari pisau yang ditancapkan di dinding pada masa lalu oleh para jemaat gereja sebagai tempat menggantung topi. Tapi tidak semua jemaat boleh melakukannya, karena kebiasaan unik ini hanya boleh dilakukan oleh orang kaya saja. Hmm.. ternyata masih ada pengkelasan dari segi ekonomi 😀

13769421_10210487202922827_5016864429074121055_n

Kursi berukiran kisah Volsunga Saga dan bagian tangan yang menghitam.

Deretan bangku di utara dan selatan menghadap ke daerah altar yang tidak boleh diakses pengunjung (tapi boleh dilihat kok ^^). Tema lukisan pada altar adalah kisah penyaliban dan perjamuan terakhir. Selain dari suasananya yang sangat khas abad pertengahan, di dekat altar terdapat sebuah kursi kayu yang unik. Kursi tersebut didekorasi dengan ukiran yang lagi-lagi tipikal Norse yaitu kisah tentang Brynhildr dan Sigurd Fåvnesbane sang penakluk naga dalam saga Germanik kuno, Volsunga Saga. Saga yang berkaitan kuat dengan mitologi Norse ini juga merupakan salah satu media lisan yang digunakan dalam penyebaran agama kristen di abad pertengahan. Bukan cuma itu yang menarik dari kursi tua ini. Pada ujung sandaran tangan terdapat semacam bagian berbentuk bulat yang menghitam. Konon katanya, bagian tersebut menjadi hitam akibat sering dipelintir oleh uskup ketika berkunjung dan duduk di situ. Jika sang uskup marah, ia akan memelintir ujung sandaran tangan tersebut. Hahaha.. boleh percaya, boleh juga tidak 🙂

Setelah puas berkeliling di area bangunan gereja dan tak lupa meninggalkan kesan pesan dalam buku tamu, saya beranjak ke museum terbuka yang terletak di atas bukit di sebelah timur. Untuk mencapainya, saya harus berjalan kaki di jalan setapak yang menanjak selama sekitar 15 menit. Museum terbuka yang disebut Heddal Bygdetun ini merupakan kompleks peternakan dan pemukiman penduduk dari abad ke-18 yang dilestarikan dan dijadikan museum. Setiap rumah memiliki nama serta tahun pembangunannya dan masing-masing memamerkan berbagai hal yang khas dari wilayah Telemark mulai dari arsitektur kayunya sampai pakaian tradisionalnya.

Rumah pertama yang saya masuki berlantai dua dan berlangit-langit rendah. Isinya adalah perabotan rumah tangga dan peralatan masak seperti panci dan tungku. Rumah di sebelahnya yang masih semodel memamerkan karya-karya rajutan dengan motif-motif khas Telemark. Dari kedua rumah tersebut, saya berjalan menuju rumah utama yang paling besar dan terletak di tengah kompleks. Rumah tersebut, selain berfungsi sebagai dapur dari kafe mini yang ada di kompleks museum, juga memajang berbagai koleksi yang masih asli dari masa lampau. Ruangan besar di lantai satu yang terletak di sebelah dapur memajang sebuah meja panjang dan perapian tua. Dahulu, ruangan tersebut berfungsi sebagai ruang makan.

13754130_10210487288604969_7629065352935167194_n

Heddal Bygdetun

Dari lantai satu, saya menaiki tangga sempit yang berada di bagian depan rumah untuk mencapai lantai dua. Di lantai dua juga terdapat dua ruangan. Yang pertama merupakan ruang tinggal bagi keluarga yang menempati rumah tersebut di masa lalu. Di ruang tersebut terdapat dua tempat tidur kayu yang menurut saya ukurannya terlalu kecil untuk tidur dengan nyaman. Di sudut lain ruangan tersebut terdapat tempat tidur bayi, yang bersebelahan dengan meja di depan dinding berlukisan malaikat. Dari situ, saya berjalan ke ruangan kedua yang memajang pakaian tradisional Norwegia atau yang disebut bunad.

Setiap wilayah memiliki bunad yang berbeda-beda meski bentuk dasarnya sama. Di ruangan ini dipajang bunad khas Telemark dan biografi tentang seorang wanita yang pernah tinggal di peternakan tersebut dan bekerja sebagai pembuat bunad. Awalnya, ia hanya menjahit untuk dirinya sendiri. Namun, setiap kali ia menyelesaikan satu bunad, tetangga atau kenalannya akan meminta atau berusaha membelinya. Akhirnya, ia pun menjadi penjahit bunad.

Lelah berjalan-jalan, saya memutuskan untuk mencicipi hidangan khas daerah tersebut di kafe kecil di lantai bawah. Seorang pelayan dengan pakaian bunad merekomendasikan semacam pancake yang disebut lapper dan disertai pilihan saus stroberi atau krim. Saya duduk di beberapa bangku yang disediakan di sekitar rumah utama tersebut sambil menikmati udara segar musim panas Norwegia. Hidangan pun datang dalam beberapa menit saja. Sambil menghidangkan, sang pelayan menjelaskan bahwa makanan tersebut biasa dimakan untuk sarapan para penduduk desa tersebut di masa lampau. Lapper ini, meskipun tampaknya agak gosong karena dipanggang di tungku tradisional, rasanya manis seperti pancake atau kue khas Jepang dorayaki. Semakin lezat terutama setelah dibubuhi saus stroberi dan krim. Walaupun hanya makan satu potong, saya cukup kenyang untuk melanjutkan perjalanan.

13718500_10210487289164983_8307632213461258181_n

Lapper dan jus apel

Dari Heddal Bygdetun, saya kembali menuruni jalan setapak yang mengarah ke bangunan gereja. Saatnya mengakhiri eksplorasi saya di Heddal Stavkirke dan melanjutkan ke perhentian berikutnya. Demikian rencana yang ada di kepala saya, pacar saya dan orang tuanya. Tapi dasar gak mau rugi, alih-alih lurus ke parkiran mobil, saya justru berbelok kembali ke gedung administrasi. Niatnya hanya mau beli suvenir titipan ibu saya berupa magnet lemari es, kemudian dilanjut ke toilet. Eh, justru saya dan pacar saya belok kembali ke museum mini di basement.

Saya tahu ada yang saya belum lakukan di sana. Untuk melaksanakan maksud kami, kami pun berbicara dengan pria Viking yang sedari tadi masih di sana. Ia adalah staf museum, sekaligus guru yang akan mengajari saya tentang Rune. Dengan biaya 30 NOK, saya mengambil menit-menit terakhir sebelum tutupnya museum untuk berguru pada pria Viking tersebut. Oh ya, saya tidak sebut namanya karena memang saya tidak tanya. Takut terlalu pribadi untuk masyarakat introvert seperti Norwegia. Tetapi, sambil berusaha mengukir huruf Rune pada potongan kayu seperti yang ia ajarkan, saya justru mengepo sedikit kehidupannya. Ternyata, ia adalah seorang lulusan arkeologi dan sejarah yang menggemari reenactment atau rekonstruksi hidup peristiwa-peristiwa sejarah. Ia sudah sering memasang stand di festival-festival abad pertengahan yang sangat saya sukai.

Tangannya begitu terampil mengukir huruf-huruf Rune di atas potongan kayu ask. Saya berusaha mengikutinya sambil bertanya tentang aksara Rune. Rupanya, aksara Rune sudah tidak digunakan lagi sejak orang-orang mengenal perkamen dan tinta. Aksara Rune hanya digunakan pada kayu dan batu, mengingat bentuknya yang patah-patah dan kaku. Setiap huruf memiliki makna masing-masing, yang nanti akan saya bahas di cerita petualangan lainnya (ditunggu ya ^^).

Setelah obrolan panjang, jari-jari pegal dan serutan kulit kayu di mana-mana, saya berhasil mengukir Rune saya sendiri yang berbunyi “Helsing fra Heddal” yang berarti “Salam dari Heddal”. Saya pun berpamitan dan berterima kasih pada sang guru yang sudah dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan saya, berikut menghadapi wajah norak saya sebagai penggemar sejarah Viking dan abad pertengahan dari negeri yang jauh. Saya pun kembali ke mobil dan menemui kedua orang tua Chris yang tampak tidak sabar menunggu. Maklum, perjalanan masih panjang. Maaf ya, Om dan Tante! Tapi saya bahagia banget lho!

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Heddal Stavkirke dalam bahasa Inggris:

http://www.heddalstavkirke.no/lang/gb

Kisah Volsunga Saga:

http://www.timelessmyths.com/norse/nibelungs.html

Dari Swedia ke Norwegia via Laut Utara

Sekali berlayar, satu dua negara terlampaui. Begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk awal perjalanan darat saya sembari menikmati musim panas Skandinavia. Sebetulnya kurang tepat juga sih disebut “melampaui”, karena saya hanya menyebrang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Gak apa-apalah, setidaknya menginjakkan kaki di dua negara ^^ Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya naik kapal feri lho. Padahal saya tinggal di negara kepulauan dan maritim, tapi ujung-ujungnya justru berlayar pertama kali di negeri orang.

Perjalanan darat saya menuju Norwegia Utara musim panas 2016 ini dimulai di kota tepi pantai Halden di perbatasan Norwegia-Swedia. Perjalanan yang telah menjadi impian saya sejak lama ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari pacar saya, Chris dan ayah ibunya, Tor Vidar dan Ellen. Dari Halden, saya berangkat pukul 09.00 menuju kota pelabuhan lainnya di Swedia yang bernama Strömstad. Strömstad berjarak 30 menit perjalanan dengan mobil dari Halden, tepatnya sedikit di sebelah selatan. Lho? Kok malah turun ke Selatan dan bukan naik ke Utara? Karena perjalanan darat akan melalui sebelah barat Norwegia dan untuk mencapai kota pertama di sana yaitu Sandefjord, jalur tercepat adalah melalui laut dari Strömstad. Lebih jelasnya lagi memang harus lihat peta di bawah ini 😀

fesavcoloroutes

Rute-rute Color Line. Rute yang saya lalui adalah Strömstad – Sandefjord. Sumber: http://www.ferrysavers.es/

Dari Strömstad, saya menumpang kapal feri milik maskapai pelayaran Color Line bernama M/S Bohus. Woohoo.. pelayaran dengan feri pertama saya!! *norak mode: on*. Tarif perjalanan dengan M/S Bohus dapat berubah-ubah sesuai kapasitas dan permintaan pasar. Untuk saat ini, tarif satu kali pelayaran adalah 130 NOK untuk satu mobil dan satu orang, plus 30 NOK per penumpang tambahan. Dengan tiket tersebut, kita sudah memperoleh makan siang berupa buffet dan berbelanja di duty free Color Line. Lumayan banget nih 🙂

Perjalanan berawal di pelabuhan Strömstad. Setelah mobil diparkir di lantai dasar kapal, penumpang naik ke lantai dua tempat restoran dan kafe berada. Restoran untuk buffet berada di bagian belakang kapal dengan dikelilingi jendela kaca yang memungkinkan kita untuk melihat pemandangan laut yang biru dan pulau-pulau karang yang bertebaran. Saya mendapat meja dekat jendela belakang kapal, sehingga saya dapat melihat pelabuhan Strömstad semakin mengecil di kejauhan seiring dengan berlayarnya kapal. Lamanya pelayaran menuju Sandefjord adalah 2 jam 30 menit.

300px-color_bohus

M/S Bohus, kapal feri yang saya tumpangi. Sumber: http://www.en.wikimedia.org/

Interior kapal didominasi warna coklat tua dari kayu-kayu yang membentuk dindingnya dan memberi suasana antik pada kapal. Tidak perlu banyak penerangan di dalam kapal karena sinar matahari bersinar cerah hari itu hingga mampu menembus jendela-jendela di sepanjang dinding kapal. Ombaknya cukup kuat karena angin berhembus relatif kencang. Saya terombang-ambing ketika hendak mengambil makanan dari buffet yang tersedia. Derita punya badan kecil 😥 Alhasil saya harus berjalan sambil berpegangan pada tiang atau meja-kursi.

bohus_1971_inr_001

Interior restaurant buffet M/S Bohus yang didominasi kayu. Sumber: http://www.faktaomfartyg.se/

Menu yang ditawarkan sangat bervariatif meski didominasi makanan Eropa. Untuk menu pembuka disediakan beberapa jenis salad yang bisa kita ramu sendiri. Menu utama disediakan pilihan potato wedges atau roti dengan lauk berupa sosis, telur dan daging yang dimasak dengan berbagai cara. Ada salmon juga yang menjadi favorit saya setiap kali pergi ke Norwegia. Sebagai penutup, kita bisa memilih es krim, buah dan puding. Nyam! Lezatnya 🙂

Entah mengapa, sehabis makan saya justru mengantuk parah. Mungkin akibat masih jet lag karena saya baru mendarat dua hari lalu sehabis terbang 19 jam dari Jakarta. Mungkin juga akibat ombak yang terasa seperti ayunan bayi (eh, beneran loh! Saya ‘kan baru pertama kali naik kapal feri 😀) Saya pun sukses tertidur pulas di meja selama kira-kira setengah jam. Astaga! Beneran buang-buang waktu. Untungnya saya masih punya peran lain, yaitu mengawasi tas-tas dan barang-barang bawaan yang ditinggal keluarga Chris yang dengan asyiknya menikmati udara segar di luar.

Nah, udara segar! Ini dia yang saya butuhkan supaya berhenti tidur. Akhirnya, begitu orang tua Chris kembali, saya dan dia buru-buru naik ke lantai atas untuk menikmati udara segar. Sulit juga ternyata berjalan di dalam kapal yang terombang-ambing, terutama ketika menaiki tangga. Ternyata, di lantai tiga terdapat dek yang terbuka. Di sana berjajar beberapa meja yang di atasnya dipasang atap tempat orang-orang bisa makan dan minum di udara terbuka. Sedikit ke atas lagi di bagian belakang kapal adalah daerah yang benar-benar terbuka (tanpa atap) yang juga dilengkapi beberapa bangku. Senangnya berlibur di Norwegia adalah sedikitnya jumlah manusia, sehingga bangku-bangku tersebut tidak penuh, apalagi oleh orang-orang yang berfoto tanpa henti ^^ Akan tetapi, sebagai orang Asia (atau Indonesia) saya tentu tidak lupa menjepret beberapa foto dan selfie di sini, walaupun angin bertiup kencang dan berkali-kali foto selfie saya dipenuhi rambut hahaha 😀 Rasa kantuk saya langsung terobati setelah duduk-duduk di atas beberapa saat. Sekedar info, meskipun matahari bersinar dan langit cerah tanpa awan, angin laut Skandinavia cukup dingin. Jangan lupa membawa jaket atau cardigan (syukur-syukur punya windbreaker) sebagai penangkal dingin 🙂

13669053_10210478002692827_4267706585559891217_n

Birunya laut dan langit utara 🙂

13700141_10210478002532823_7280807025074329443_n

Narsis di tengah tiupan angin laut hehehe… 😛

Berlalu dari dek terbuka, saya menuju bagian depan kapal yang ternyata tempat toko-toko berada. Ada toko suvenir Color Line yang menjual aneka suvenir bertema laut atau kapal dan pakaian-pakaian, khususnya pakaian anti dingin yang sangat penting dibawa ketika bepergian ke Skandinavia. Di bagian terdepan adalah duty free shop yang menjual aneka benda dari kosmetik hingga makanan. Di duty free shop ini kita cukup menunjukkan tiket dan akan mendapatkan potongan harga yang lumayan. Cukup murah dibandingkan dengan membeli di darat, terlebih di Norwegia yang nilai mata uangnya lebih tinggi dibanding Swedia. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli bekal minuman di perjalanan dan beberapa snack.

Selesai membayar, terdengarlah pengumuman dari nahkoda kapal yang memberi tahu kami untuk kembali ke mobil karena kapal akan segera merapat di pelabuhan Sandefjord. Berakhirlah pelayaran singkat dengan kapal feri pertama saya yang sangat berkesan tersebut. Setelah kembali ke mobil dan menunggu beberapa saat, pintu kapal dibuka dan kami pun langsung meluncur kembali ke Norwegia. Eits, tidak bisa langsung keluar dari pelabuhan, karena mobil kita dihentikan sebentar oleh petugas. Beliau meminta kami memperlihatkan identitas atau paspor. Border control, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, untuk menghindari masuknya imigran ilegal dari Uni Eropa. Dengan ramah, Pak Petugas mencari saya ketika melihat ada paspor Indonesia. Saya pun membalas dengan sapaan dan tersenyum. Kemudian, ia mempersilakan mobil kami untuk terus berjalan. Dengan demikian, dimulailah perjalanan darat kami yang sesungguhnya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.colorline.com/crossings/from_str_mstad_to_sandefjord