Memasuki Gerbang Norwegia Utara

Sebelum masuk ke episode selanjutnya dari perjalanan darat saya di Skandinavia, saya mau cerita tentang behind the scene-nya dulu nih, Pembaca. Jadi, bagian ini adalah salah satu bagian yang saya rasa paling berat untuk ditulis. Bukan karena sulit atau terlalu membosankan, melainkan karena ada sepotong ingatan saya yang hilang berkaitan dengan bagian yang akan saya ceritakan ini. Biasanya, saya selalu rajin menulis detil-detil kecil perjalanan yang menarik dalam jurnal perjalanan saya, tetapi kali ini tidak. Pada tahap perjalanan ini, saya sedang malas. Selain karena mulai lelah berada di dalam mobil dengan posisi duduk yang sama selama berhari-hari, pemandangan di sekitar saya yang biasanya bergunung-gunung mulai tak terlihat. Sekedar info, saya penggemar berat lanskap gunung bercampur hutan hijau dan danau atau fjord biru. Saya tidak begitu suka pantai (apalagi yang bukan pantai tropis) dan tundra yang sepi pohon. Akibat kemalasan saya ini, saya jadi lebih banyak meremehkan saktinya punya jurnal perjalanan dan lebih memilih untuk mengandalkan memori visual saya yang biasanya tajam. Entah karena saya tidur terlalu lama atau karena memori tersebut tidak seistimewa bagian lain dari perjalanan ini, ia hilang begitu saja. Akan tetapi, kisah perjalanan tetap harus ditulis dan dilanjutkan, bukan? Oleh karena itu, saya pun berusaha mengumpulkan motivasi untuk menulis juga cerita ini pada akhirnya.

Oke, kita mulai lagi, ya? Ingatkah Pembaca tentang kompleks perkemahan saya yang berada dekat dengan pelabuhan feri? Setelah saya dijemput di Trondheim, kami tidak langsung bergerak ke utara, tetapi ke arah barat menuju pelabuhan feri di perkemahan tersebut. Entah apa alasannya, tetapi kami mengambil jalan memutar yang menyeberangi fjord dan melewati daratan di seberang sana yang katanya sih akan menyatu kembali di ujungnya.

Untuk menaiki feri, kami harus mengantri bersama mobil-mobil lainnya. Pelayaran kali itu terasa sangat singkat karena Trondheimfjord yang kami seberangi tidak begitu luas. Di bawah sinar mentari siang hari yang terik, kami tiba di seberang, di sebuah wilayah bernama Rørvik. Mobil kami memasuki rute 715 yang menyusuri tepi Trondheimfjord yang biru. Meski namanya fjord, ia tidak dipagari tebing tinggi seperti Hardangerfjord dan Geirangerfjord. Jika kita tidak mengetahui sejarah pembentukannya, fjord ini lebih tampak seperti teluk biasa yang jauh menjorok ke daratan.

Usut punya usut, alasan mengapa mobil kami memutar ke arah barat dan tidak langsung ke utara dari Trondheim adalah karena ayah Chris, Tor Vidar, ingin menunjukkan sebuah tempat yang sangat sering ia datangi. Tor Vidar mempunyai hobi berburu dan biasanya hal tersebut dilakukan bersama teman-temannya di Norwegia Utara. Jika ia pergi berburu, ia akan menginap di sebuah kabin yang disewakan di tepi fjord tersebut. Kabin tersebut hanya terdiri dari sebuah rumah milik pribadi dengan beberapa kamar yang disewakan, tetapi populer oleh turis-turis yang bepergian seorang diri.

Saat kami tiba di sana, kami bertemu dengan seorang turis perempuan asal Jerman berusia sekitar 40 tahun yang bersepeda dari Jerman ke Norwegia seorang diri. Whoa! Saya sampai kagum ketika ia menyebutkan rute perjalanannya selagi berbasa-basi dengan kami. Norwegia memang menjadi tujuan favorit turis-turis asal Jerman yang ingin mengikuti semangat zurück zur Natur atau kembali ke alam yang sudah didengungkan sejak zaman Romantik. Bahkan bahasa Jerman menjadi bahasa asing kedua setelah Inggris dalam dunia turisme di Norwegia. Saya jadi tergoda prospek kerja di sini nih, Pembaca hehehe 😛

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Trondheimfjord ke utara. Sebuah jembatan yang menyambung dua daratan yang terpisah oleh dua fjord akhirnya mengantarkan kami pada jalan utama yang seharusnya kami lewati apabila tidak memutar dari Trondheim. Saya tidak ingat banyak mengenai perjalanan tersebut karena saya banyak tertidur. Yang saya ingat hanyalah hamparan vegetasi yang sudah bercampur dengan tetumbuhan tundra yang didominasi warna kuning dan merah. Ada beberapa danau besar yang tidak saya tahu namanya yang juga sempat kami lewati di sepanjang jalan. Cuaca sedikit mendung hari itu dan jalanan yang kami lalui tampak sangat sepi. Lagi-lagi kami sempat berkendara cukup lama tanpa bertemu satu mobil pun.

Saya juga sempat melihat pemandangan yang menyedihkan (meskipun sebetulnya mungkin bukan apa-apa). Di beberapa hutan yang terhampar di kiri kanan jalan, saya menemukan adanya bagian-bagian yang gundul dan hanya ditumbuhi tunggul-tunggul pohon. Tebakan saya langsung mengarah pada penebangan hutan. Mungkin hutan tersebut memang boleh digunakan untuk industri atau sekedar bahan baku di rumah untuk kayu bakar dan sejenisnya, saya juga tidak tahu. Tetapi agak sedih memang melihat hutan di negara tersebut yang sangat hijau dan nyaris menutup seluruh area kecuali kota dan desa memiliki area yang gundul karena ditebang 😦 Kalau dari jendela mobil kelihatan sekali, lho, Pembaca.

Ketika saya terbangun, mobil sudah siap-siap parkir di depan sebuah supermarket. Tujuan kami adalah mencari makan di dalam gedung supermarket yang tampak seperti mal nanggung berlantai satu. Tentu saja tujuan kami itu tidak terpenuhi, karena memang sepengetahuan saya, restoran di dalam gedung supermarket itu merupakan hal yang tidak lazim di Norwegia. Beruntunglah ada seorang ibu-ibu penduduk setempat yang menunjukkan keberadaan sebuah restoran tidak jauh dari bangunan supermarket itu.

Bagian inilah yang hilang dari memori saya. Saya tidak ingat sama sekali apa nama restoran tersebut. Saya hanya yakin bahwa kota kecil tersebut bernama Grong dan terletak di provinsi Nord-Trondelag, provinsi Norwegia selatan yang paling utara. Restoran tersebut terletak tidak jauh dari sebuah kios bahan-bahan pokok. Di bagian luarnya terdapat semacam teras untuk area makan outdoor dengan meja-meja berpayung. Saya ingat langit mulai gerimis ketika saya memasuki restoran tersebut.

3674166955_2fb541fe34

Pusat kota Grong. Saya yakin betul restoran yang saya singgahi berada di daerah ini. Sumber: http://www.flickriver.com/

Saya sama sekali tidak mengetahui apa menu yang dijual di sana. Fokus saya hanya pada interior bagian dalam restoran tersebut. Kesan saya terhadap interiornya adalah rumahan. Meja-mejanya besar seperti meja makan keluarga dan ada banyak meja kosong di sana sini. Saya yang berjalan paling depan memilih sebuah meja di sudut ruangan, di bawah rak yang berisi pajangan-pajangan khas pedesaan Norwegia. Tamplak meja berwarna putih dengan alas makan berwarna hijau muda. Desain tirai dan tata meja betul-betul mengingatkan saya pada suasana rumah di pedesaan.

Di meja tersebut ada beberapa majalah dan brosur yang berkaitan dengan kota tersebut dan tempat wisata yang ada di sekitarnya. Dari salah satu brosur tersebut saya mengetahui bahwa wilayah itu terkenal dengan peternakan salmonnya. Ada sebuah tempat budidaya salmon yang berlokasi tidak jauh dari pusat kota. Akan tetapi, saya tidak menemukan adanya buku menu di antara brosur-brosur tersebut, sehingga saya tidak mengetahui makanan apa yang dijual di restoran tersebut.

6388509211_e001edf5e3

Patung di pusat kota Grong, menggambarkan wilayah tersebut sebagai penghasil salmon. Sumber: http://www.flickriver.com/

Pucuk dicinta, ulam tiba. Di saat saya sedang memimpikan hidangan hangat di hari hujan tersebut (dan karena berhari-hari saya sudah makan makanan dingin atau cepat dingin karena dimakan di alam terbuka), ibu Chris berjalan kembali ke meja dari arah dapur dan memberi tahu saya kabar terbaik yang bisa saya dapatkan di hari itu. Restoran tersebut adalah restoran all you can eat yang dengan membayar sejumlah biaya sudah bisa makan apa saja yang tersedia. Bukan hanya itu saja, menu yang tersedia semuanya fresh, homemade dan masih hangat. :”3

Dari delapan menu yang ada, saya mencoba enam macam menu. Di antaranya ada pasta, salmon, tumis sayuran sejenis capcay dan daging bersaus gravy. Piring saya sampai penuh oleh makanan-makanan yang kalau dimakan bersama-sama entah rasanya cocok atau tidak. Bukannya saya rakus, Pembaca, tetapi saya belum makan sejak pagi, plus kapan lagi ‘kan ada makanan homemade yang masih hangat? Setelah sukses mendapatkan semua makanan yang saya inginkan tersebut, saya kembali ke meja dan duduk di sebelah Chris yang memesan burger khas Meksiko dengan nachos yang akhirnya diberikan ke saya karena ia tidak begitu menyukainya.

Santapan tersebut betul-betul membuat saya kenyang. Seusai dari restoran yang saya lupa namanya itu, kami berjalan kaki sedikit menuju sebuah supermarket yang berada tepat di sebelahnya. Saatnya menyetok camilan dan minuman untuk perjalanan yang masih panjang. Saya membeli beberapa bungkus keripik yang berukuran besar dan tidak bohong. Maksudnya tidak bohong adalah bungkus-bungkus keripik tersebut besar karena keripiknya dan bukan karena setengahnya berisi angin. 😀

Berbekal perut kenyang, camilan yang banyak serta minum, kami melanjutkan perjalanan menuju utara. Kami menggunakan jalan raya E6 yang berkelok-kelok mengikuti sebuah sungai yang salah satu air terjunnya digunakan untuk pembangkit listrik. Jalan tersebut membawa kami pada sebuah kota kecil bernama Namsskogan yang terletak di sebuah daratan mirip pulau di sungai tersebut. Kota yang terletak di Nord Trondelag ini menjadi kota terakhir yang kami lalui sebelum memasuki wilayah Norwegia Utara.

Tepat di perbatasan antara Nord-Trondelag dan provinsi Nordland di sebelah utaranya kami berhenti sejenak. Meski ada semacam area tempat parkir di sebelah kiri jalan, kami memilih untuk berhenti di tengah jalan. Alasannya karena sama sekali tidak ada mobil yang lewat selain mobil kami! Jalanan tersebut betul-betul kosong. Di depan kami berdiri sebuah gapura yang cantik yang bernama Nordlandsporten. Desainnya yang berlekuk-lekuk dengan warna hijau, putih dan kemerahan, langsung mengingatkan saya pada aurora yang menjadi atraksi utama wisata di Norwegia Utara. Di bawah gapura tersebut juga terpampang tulisan “Nord Norge” berwarna biru yang menandakan ketibaan saya di wilayah itu. Akan tetapi, karena hari sedikit hujan dan kami berhenti di tengah jalan, saya hanya membuka jendela dan mengabadikan pemandangan tersebut dari dalam mobil.

13697237_10210506222118295_4656081447858195550_n

Nordlandsporten di hari hujan.

13729172_10210506222158296_1059795228298464525_n

Tulisan di gerbang yang berarti Norwegia Utara.

Melewati gapura tersebut berarti menyeberang dari Nord-Trondelag di Norwegia bagian selatan menuju Nordland di Norwegia Utara. Kami semakin dekat dengan ujung perjalanan kami. Kota pertama yang kami lalui bernama Majavatn. Kota ini terletak di tepi sebuah danau besar bernama sama. Danau besar itu memiliki anak danau yang berukuran lebih kecil bernama Lille Majavatnet. Di sebelah timurnya tampak menjulang pegunungan Børgefjell yang juga merupakan taman nasional. Memasuki wilayah Norwegia Utara juga berarti memasuki wilayah suku Sami. Suku asli daerah Skandinavia dan Kutub yang dahulu sempat terdiskriminasi ini banyak mendiami wilayah tersebut. Majavatn adalah salah satu daerah yang mereka gunakan untuk menggembalakan rusa kutub.

Jalur selanjutnya membentang sejajar dengan rel kereta api jurusan Trondheim-Bodø yang juga melintasi stasiun Majavatn. Di kiri kanan saya menjulang pegunungan-pegunungan yang meski tidak terlalu tinggi tetap memiliki puncak-puncak berselimutkan salju karena dinginnya udara. Di antara jalan raya dan pegunungan tersebut terbentang padang tundra dengan semak dan lumut berwarna kuning kemerahan yang disela-selanya terdapat kolam-kolam atau sungai kecil yang mengalir. Beberapa kali jalan yang kami lalui bersilangan dengan rel kereta api, tetapi tidak pernah betul-betul bertemu di permukaan yang sama. Kadang-kadang, jalanan yang kami lalui memasuki terowongan selagi rel kereta membentang di atasnya. Kadang-kadang terjadi hal sebaliknya, rel kereta yang melewati terowongan yang di atasnya adalah jalan untuk kendaraan. Jujur saja, Pembaca, selama di Norwegia saya belum pernah bertemu palang pintu kereta api, apalagi perlintasan yang tidak berpalang. Kereta yang lewat juga sangat jarang, meski saya mengetahui keberadaannya karena dua tahun sebelumnya saya pernah menaikinya.

32494901

Danau Majavatnet di Majavatn. Sumber: http://www.geodruid.com/

Dari Majavatn kami melewati sebuah kota yang ukurannya lebih besar lagi dan lagi-lagi terletak di antara perairan, tetapi kali ini perairannya adalah sebuah sungai. Kota ini namanya Trofors dan juga memiliki sebuah stasiun yang dilalui jika kita menggunakan kereta dari Trondheim ke arah utara. Kami tidak berhenti di Trofors dan terus melanjutkan perjalanan. Pikiran untuk mencari tempat bermalam mulai muncul di kepala kami karena di balik matahari yang masih bersinar terdapat jam yang sudah menunjuk pukul 19:00. Saya tidak menolak ide tersebut, karena sebetulnya punggung saya sudah lelah duduk di mobil sepanjang hari.

Beberapa saat setelah melewati Trofors, kami tiba di sebuah kota yang lebih besar lagi dan terletak tepat di mulut sebuah fjord bernama Vefsnfjorden (jangan tanya bacanya gimana ya, Pembaca 🙂 ). Kota bernama Mosjøen ini memiliki salah satu kompleks perkemahan terbaik di Norwegia (menurut saya) yaitu Pluscamp. Pokoknya, kalau Pembaca berkesempatan mengunjungi Norwegia dan harus menginap dalam perjalanan, carilah kompleks ini jika ada, karena Pembaca sekalian tidak akan menyesal. Aduh, kok saya jadi endorse gratisan begini ya? Seandainya bisa dibayar pakai Kroner.

031_hr

Halaman depan area berkemah Pluscamp di Mosjøen. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

Pluscamp Mosjøen berlokasi sangat strategis. Kami tidak perlu masuk hutan naik gunung atau masuk-masuk jalanan kota untuk mencapainya. Cukup berbelok kiri sedikit dari jalur E6 yang kami lalui, kami sudah tiba di kompleks perkemahan dengan deretan kabin berwarna merah yang sangat khas Norwegia. Dari halaman depannya saja, saya bisa mengetahui ada fasilitas apa saja di sana. Selain kafe dan pizzeria, perkemahan ini juga memiliki arena bowling, mini golf, kereta api mini dan berbagai mainan outdoor untuk keluarga. Jarak kompleks ini juga tidak jauh dari kolam renang kota. Bukan hanya itu saja, meskipun namanya perkemahan, tempat ini tidak hanya menawarkan kemah saja. Segala bentuk tempat bermalam ada mulai dari kemah, mobil trailer, kabin, bungalow, hostel bahkan hotel. Nah, puas memilih ‘kan?

Karena hanya transit dan untuk menghemat biaya, kami menyewa sebuah bungalow dengan satu kamar saja. Bungalow ini unik, karena terletak dalam satu bangunan rumah besar yang terbagi empat tanpa pintu penghubung. Dalam satu bagian sudah terdapat garasi, satu kamar tidur, kamar mandi luas dengan shower, meja makan, kitchen set, sofa yang bisa dibuka menjadi tempat tidur, dan teras belakang dengan tempat untuk duduk-duduk. Melihat ukurannya yang dua kali rumah saya bikin saya tidak berkeberatan untuk tinggal di situ saja. Kamar tidur jatuh kepada kedua orang tua sedangkan saya dan Chris akan bersempit ria di sofa.

027_hr-4

Bungalow yang kita sewa. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

001_hr

Sofa tempat saya tidur dan dapur. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

005_hr

Meja makan. Luas ‘kan bungalownya? Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

Jam menunjukkan pukul 20:00 yang berarti saya seharusnya sudah lapar. Akan tetapi, rasa lapar saya dikalahkan oleh keinginan bermain bowling. Gara-gara mencoba main bowling di acara perpisahan salah satu kolega di kantor saya yang sekaligus jadi yang pertama kalinya bagi saya, saya jadi ketagihan bermain olahraga yang satu ini. Tentu saja saat itu saya menjadi yang paling bontot, tetapi hari ini saya ingin mencoba untuk tidak menjadi yang terbontot.

Setelah beristirahat sejenak, kami segera melangkah keluar dari bungalow dan menuju bangunan utama tempat kafe, pizzeria dan arena bowling berada. Tempat tersebut akan tutup pukul 21:00, sehingga permainan kami mungkin akan berlangsung satu ronde saja. Sebelum menuju arena bowling, kami terlebih dahulu melintasi restoran yang cat dan interiornya didominasi warna-warna cerah penggugah selera. Restoran itu sangat amat ramai. Bukan hanya oleh manusia tetapi juga oleh suara-suara mereka. Saya langsung mengenali bahasa yang mereka bicarakan – bahasa Jerman. Semua tamu restoran itu turis-turis Jerman, dan mereka sibuk menatap layar televisi besar yang ternyata menayangkan kompetisi sepakbola se-Eropa tempat kesebelasan Jerman tengah berlaga. Ya ampun, saya jadi ingin ikut nonton dan teriak. Maklum, saya sudah menjadi penggemar berat kesebelasan Jerman sejak tahun 2006 😀 Kalau nggak ada timnas Jerman, saya nggak bakal nih sampai di Norwegia. Tapi cerita yang itu lain kali aja ya, Pembaca 🙂

Arena bowling terletak di sisi belakang bangunan restoran. Hanya terdapat enam lini saja di ruangan tersebut. Bola-bola aneka warna tersusun rapi di tempatnya. Pada saat tiba, saya tidak tahu sama sekali bahwa perbedaan warna tersebut menandai perbedaan berat. Bahkan beratnya berapa saja tercantum dalam sebuah plakat informasi di dekat susunan bola tersebut. Seperti biasa kami harus menyebutkan nama untuk dicantumkan di papan skor serta ukuran sepatu untuk mendapatkan sepatu khusus yang mereka pinjamkan.

7_hr

Arena bowling di Mosjøen Camping. Sumber: http://www.mosjoenhotell.no

13709807_10210506224038343_2886542650695744732_n

Rak bola dan area duduk.

Urutan bermainnya adalah ibu dan ayah Chris, kemudian Chris dan terakhir saya. Pada mulanya, saya memimpin klasemen, sedangkan ayah Chris menjadi yang paling bontot. Tapi jangan senang dulu, karena ini yang namanya keberuntungan pemula. Menurut papan skor yang juga bisa mengukur keras dan cepatnya lemparan kita, lemparan saya sangat pelan dan sesungguhnya tidak memadai. Jadi, skor-skor tinggi yang saya peroleh di awal permainan sebetulnya hanya karena kebetulan saja lemparan saya sedang lurus.

13769629_10210506222718310_8139659809903286610_n

Skor awal. Abaikan typo di nama saya 😛

Memasuki pertengahan ronde, tangan saya mulai pegal. Tadinya saya tidak sadar hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan saya akan berat bola. Saya hanya mengambil dan mengukur bola berdasarkan informasi dari ketiga pemain lain yang badan-badannya sebesar raksasa dibanding saya 😦 Tentu saja ringan bagi mereka masih tergolong berat bagi saya. Saya punya bola favorit yang warnanya oranye dan pink. Bola tersebutlah yang dianjurkan oleh mereka untuk saya pakai karena katanya paling ringan. Akan tetapi, skor yang saya dapatkan justru semakin rendah, karena lemparan saya sudah jauh dari lurus. Ibu Chris yang saat itu memimpin di papan skor menyarankan saya untuk memperkuat lemparannya.

13700111_10210506225838388_7839711189934625619_n

Bola oranye dan pink jadi favorit saya.

Ketika tiba giliran saya melempar, saya pun segera mengambil ancang-ancang. Tanpa mau sok-sok berpose ala atlet bowling profesional, saya cengkeram bola kuat-kuat dan siap melempar. Akan tetapi, dasar saya yang memang terbelakang di olahraga, bola itu malah jatuh ke lantai sebelum saya berhasil melemparnya. Saya pun langsung jadi bahan tertawaan oleh keluarga Chris. :’D Saat itu saya hanya bersyukur bolanya tidak menimpa kaki saya.

13728927_10210506225878389_5147341954524943384_n

Chris dan Tor Vidar. Menunggu giliran sambil nge-bir 😀

Melewati pertengahan ronde, saya sudah cukup pasrah mengetahui bahwa apa pun yang saya lakukan, saya akan berakhir di urutan paling belakang. Sementara itu, ayah Chris yang tadinya paling bontot berhasil mengejar dan menduduki peringkat dua klasemen. Ibunya semakin tidak tertandingi. Jujur saja, saya tidak pernah melihatnya sebagai sosok atlet sebelumnya. Saya hanya mengenalnya sebagai ibu yang pandai memasak dan membuat prakarya, tetapi juga aktif di kegiatan-kegiatan politik. Ternyata beliau diam-diam berbakat juga jadi atlet bowling, hahaha 😀 Klasemen final menunjukkan ibu Chris di urutan pertama, ayahnya di urutan kedua, Chris ketiga dan saya menjadi buntut. Persis seperti urutan nama kami dalam klasemen. Tidak apa-apa ya, Pembaca, yang penting senang.

Anehnya, setelah bermain bowling, saya hanya merasa lapar dan tidak lelah. Setelah kembali ke bungalow dan makan smørbrød (lagi), saya bergabung dengan Chris di sofa yang sudah sibuk mengeluarkan pion-pion dari sebuah kotak berwarna biru. Kotak itu kami beli di toko suvenir dekat Nidarosdomen. Isinya adalah permainan tradisional bangsa Viking yang dikenal dengan Hnefatafl. Permainan ini bisa dibilang caturnya bangsa Viking. Di dalam kotak biru itu terdapat selembar kain bergambar persegi berkotak-kotak yang menjadi arena bermain dan pion-pion dalam dua warna berbentuk prajurit Viking. Salah satu pion berukuran lebih besar dan menyimbolkan seorang raja atau jarl. Nah, ini dia permainan yang cocok untuk saya!

hnefatafl1_70

Hnefatafl. Sumber: http://www.norseamerica.com

Bagaimana sih cara bermain Hnefatafl ini? Cara bermainnya sangat mudah, Pembaca. Salah satu pemain akan menjadi suku yang bertahan. Tugasnya adalah melindungi dan mengantarkan raja dari kotak di tengah menuju salah satu dari empat bentengnya, yaitu kotak yang berada di keempat sudut arena bermain. Raja akan dilindungi oleh pion-pion pasukannya sejumlah 13 orang. Sementara itu, pemain lainnya akan bermain menjadi suku penyerang. Mereka mendapatkan 24 pion yang disusun berbaris di keempat sisi arena bermain. Tugas pion adalah melucuti satu persatu pasukan raja dan menangkap raja sebelum ia berhasil masuk ke dalam benteng. Semua pion tersebut diizinkan bergerak ke arah vertikal dan horisontal tetapi tidak boleh diagonal. Yang diperbolehkan melangkah diagonal hanya raja. Untuk melucuti pasukan lawan, pemain harus memerangkap pion sasaran di antara dua pion miliknya. Kebayang ‘kan, Pembaca?

hnefatafl-viking-white-pieces-king

Pion-pion Hnefatafl berbentuk mini Viking. Sumber: http://www.mastersofgames.com/

Saat itu saya bermain sebagai penyerang, sedangkan Chris menjadi pemain bertahan. Saya membutuhkan waktu kira-kira 20-25 menit untuk memenangkan ronde itu. Saya berhasil menduduki benteng dan menawan raja. Lumayanlah, hadiah hiburan setelah jadi si bontot dalam permainan bowling. Kemenangan tersebut bukan keberuntungan pemula lho, Pembaca. Rahasianya terletak pada karakter saya yang overthinker, yang kebetulan berkebalikan dengan Chris yang action dulu baru mikir 😀 Balik lagi ke permainannya, Hnefatafl ini memang permainan yang cocok untuk para overthinkers atau mereka yang mau olahraga otak.

Dengan berakhirnya permainan Hnefatafl yang melelahkan otak itu, berakhir pula hari kelima perjalanan darat kami. Kedua orang tua Chris sudah pergi tidur. Saatnya kami berdua pergi tidur juga. Rencananya, besok pagi kami akan langsung melanjutkan perjalanan menuju tujuan terakhir bagi kedua orang tua Chris tetapi tidak bagi kami para penggemar sejarah zaman Viking. Ada apa di hari keenam? Ikuti terus perjalanan si tukang mimpi di blog ini ya, Pembaca! 🙂

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Pluscamp di Mosjøen:

http://mosjoenhotell.no/camping/en/

Tentang Norwegia Utara:

http://www.nordnorge.com/en

Antibosan di Kala Berkemah: Main di Pantai, Yatzy dan Obrolan Antarbudaya

Saya terbangun pada pagi hari kedua di perkemahan karena merasa tempat tidur saya semakin lama semakin tidak nyaman. Usut punya usut, setelah merangkak keluar dari ruang tidur, saya baru tahu bahwa matras saya kempes. Sepertinya karena memang sudah tua dan mungkin udaranya keluar pelan-pelan selama saya tertidur. Dimulailah pekerjaan memompa matras yang melelahkan tersebut untuk kedua kalinya.

Selesai dengan matras dan melipat selimut, saya dan yang lainnya duduk mengitari meja makan untuk menyantap sarapan yang tak lain dan tak bukan adalah smørbrød. Ellen sudah mengambil beraneka macam topping dari kotak pendingin di mobil dan menyebarnya di atas meja. Berbagai pilihan topping dari asin, manis sampai tidak berasa tersedia di sana. Saya sih masih tetap setia dengan topping favorit saya. 🙂

Tidak ada waktu banyak untuk berleha-leha di hari itu, karena kami semua sudah punya kegiatan sepanjang siang hingga sore hari. Orang tua Chris akan pergi memancing di laut sedangkan kami berdua akan mengunjungi sebuah kota kenangan. Aduh, istilahnya ya, Pembaca hehehe 😛 Akhirnya, saya memutuskan untuk mandi dan keramas sambil menunggu baterei ponsel saya terisi penuh kembali. Percaya tidak percaya, kompleks perkemahan ini canggih juga. Setiap tenda mendapatkan satu rol berisi empat stop kontak untuk listrik yang langsung tersambung pada pancang-pancang listrik yang tersebar di area tersebut. Tidak hanya itu, kompleks perkemahan Flakk Camping ini juga memiliki akses wifi gratis bagi para tamu-tamunya. Tentu saja kecepatannya bukan kecepatan super yang cocok untuk streaming film di Youtube, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan browsing standar. Akses wifi tercepat dapat diperoleh di dekat bangunan resepsionis yang menyatu dengan kamar mandi dan dapur.

img_5438-730x350

Bangunan resepsionis yang tersambung dengan kamar mandi dan dapur.

Saat saya tiba di kamar mandi, saya tidak lagi mendapati keadaan sepi seperti malam sebelumnya. Kali ini ada beberapa pekemah lain yang sudah di sana. Saya harus mengantri satu giliran untuk dapat menggunakan salah satu bilik kamar mandi di situ. Selain itu, saya tidak lagi bisa berlama-lama menikmati air panas gratis karena ketika saya di dalam, saya mendengar suara kasak-kusuk beberapa orang di luar, yang sepertinya juga mengantri mandi di belakang saya. Salah juga memutuskan untuk keramas sekarang. Untungnya saya punya motivasi lain, yaitu cepat-cepat berangkat menuju kota kenangan agar sempat melihat banyak hal di sana.

Kami diantar oleh Tor Vidar dengan mobil menuju kota tersebut. Kami berangkat pada pukul 11.00 pagi dan menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Sementara itu, Ellen dengan baik hati menawarkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk karena kami belum sempat mencuci sama sekali di perjalanan tersebut. Mungkin kalau di negara kita, yang begini sudah dibilang tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Saya enak-enak bermain sedangkan ibunya yang sudah membantu saya agar bisa mewujudkan road trip impian ini sibuk mencuci pakaian kotor sendiri. Sudah begitu, cucian di perkemahan tersebut tidak boleh ditinggal-tinggal karena kemungkinan pencurian atau hilang selalu ada. Sebetulnya di Norwegia sendiri tidak banyak peristiwa pencurian, tetapi kompleks perkemahan ini ‘kan untuk wisatawan mancanegara.

Saya menghabiskan waktu di kota kenangan hingga pukul 18.00. Sesungguhnya petualangan saya belum berakhir ketika saya dijemput kembali setelah orang tua Chris selesai memancing. Untungnya, mereka bersedia mengantar kami kembali ke kota tersebut esok pagi. Cerita tentang petualangan di kota kenangan ini, berikut nama kotanya akan saya bagikan di bagian selanjutnya ya, Pembaca 🙂 Sepanjang jalan pulang kami saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tentang impian yang saya miliki di kota yang baru saja saya kunjungi dan tentang ketidakberuntungan orang tua pacar saya dalam mendapatkan banyak ikan. Sebelum kembali ke perkemahan, kami pun sempat mampir di sebuah minimarket (menurut saya, karena bagi orang di pedesaan tersebut toko itu adalah supermarket) untuk membeli bahan makan malam.

Tiba kembali di kemah, saya mendapati tetangga-tetangga kami telah berganti. Kini di seberang kami berdiri sebuah lavvu, yaitu tenda kerucut khas suku Sami, suku asli yang mendiami wilayah utara Skandinavia. Saya mengira penghuninya pun orang Sami, ternyata bukan. Tenda besar itu milik sebuah keluarga Filipina yang salah satu anggotanya menikah dengan orang Norwegia. Filipina-Norwegia adalah pasangan Skandinasia paling mainstream di negara tersebut. Seperti orang-orang Indonesia, keluarga yang didominasi perempuan tersebut bersuara sangat lantang dibandingkan mayoritas wisatawan Eropa yang ada di sana. Mereka sibuk main kartu, memasak, dan melakukan aktivitas lainnya dengan disertai mengobrol dan bercanda. Suara cekikikan berulang kali terdengar. Suasana yang tadinya tenang seperti di hutan tiba-tiba berubah seperti suasana bus sekolah yang dipenuhi murid-murid yang hendak pergi study tour. 😥

Meski cukup berisik, sepertinya aktivitas tersebut legal karena tidak ada yang menegur. Saya pun memutuskan untuk menghindari keramaian dengan pergi mengeksplor berbagai sudut perkemahan. Lagi-lagi saya dan Chris meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk memasak makan malam. Tujuan utama saya sebetulnya adalah pantai yang terletak di daerah perkemahan tersebut. Tentu saja saya tidak berharap banyak, karena saya tahu bahwa pantai-pantai di sini tidak akan seindah di kampung halaman saya. Satu hal yang saya inginkan adalah memperoleh cinderamata dari alam berupa bebatuan unik atau kulit kerang. Saya memang hobi mengumpulkan benda-benda dari alam ketika sedang bepergian. Selain batu dan kulit kerang, saya mengoleksi daun kering, bunga liar dan bulu burung yang jatuh di tanah.

Ternyata, akses menuju pantai tidak mudah untuk ditemukan. Mula-mula saya berusaha memasuki pantai dari sisi kiri yang dekat dengan dermaga feri. Daerah tersebut dipenuhi oleh karavan wisatawan dan para pekemah yang tengah berjemur. Tidak ingin mengganggu, saya pun berjalan melewati jalan setapak dan mencari daerah yang sepi oleh pekemah. Bagian tengah pantai tampak sepi, tetapi begitu tiba di sana, saya mendapati kumpulan semak-semak berupa rerumputan tinggi yang tampak tajam. Karena saya hanya mengenakan sandal jepit, saya tidak berani menerobos semak-semak tersebut. Di situ pula saya menyadari hal yang lucu. Rupanya, identiknya pantai dan sandal jepit itu hanya ditemukan di pantai-pantai tropis atau Mediterania. Saya mengamati anak-anak wisatawan yang bermain di sisi kiri pantai rata-rata mengenakan sepatu bot karet atau sepatu lain yang tertutup. Wah, memang ya, beda alam beda pakaian hahaa 😀

img_5309-730x350

Pantai dekat Flakk Camping. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

275-640x306

Dermaga dekat penyeberangan feri. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

img_6765-730x350

Kadang-kadang dari pantai juga tampak kapal-kapal yang melintas. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

Setelah kembali ke jalan setapak dan menyusuri deretan kabin, saya menemukan akses mudah menuju pantai, yang ternyata dipagari kawat berduri dan dipasangi tulisan yang kira-kira berarti “wilayah privat”. Lho, kok wilayah privat? Bukankah di Norwegia ada hak mengakses alam bagi semua orang? Saya pun belajar bahwa semua kebebasan ada batasnya. Rupanya, allemansratten yang terkenal itu tidak mutlak berlaku di semua wilayah. Ada beberapa wilayah yang sangat dekat dengan alam yang masih termasuk wilayah privat. Umumnya wilayah tersebut adalah lahan pertanian dan peternakan.

Kecewa karena tidak menemukan akses ke pantai, saya hampir menyerah dan bermaksud kembali ke tenda. Akan tetapi, rasa penasaran dan semangat menjelajah saya terus membujuk saya untuk pergi ke pantai. Akhirnya setelah intip sana longok sini, saya dan Chris pun berhasil mencapai pantai dengan menemukan sebuah perahu yang terparkir tak jauh dari salah satu kabin. Perahu tersebut seakan menjadi penunjuk jalan bagi kami untuk menuju pantai yang nyaris tidak berpasir dan dipenuhi bebatuan. Laut yang berada di dekatnya pun tidak tampak indah karena dipenuhi ganggang hijau dan rumput laut yang membuat airnya pun berubah menjadi hijau seperti beracun. Pokoknya jelek deh kalau dibandingkan dengan pantai di negara tropis.

13707655_10210506183117320_4820452775019664205_n

Sisi indah pantai yang berhasil saya abadikan.

13754412_10210506182877314_6049990346547174463_n

Di sebelah kiri adalah pelabuhan feri.

Saya pun langsung berfokus pada pencarian bebatuan dan kerang unik. Di dekat pagar yang membatasi pantai dengan wilayah privat tadi, terdapat hamparan bebatuan putih yang dipenuhi dengan kulit kerang yang tersapu ombak hingga ke pantai. Saya melompati bebatuan, mencelupkan kaki di air laut dan melewati onggokan-onggokan rumput laut kering yang terbawa ombak hingga tiba ke hamparan bebatuan tersebut. Selagi saya sibuk mencari kerang, Chris mencari bebatuan unik di dekat laut. Tiba-tiba ia memanggil saya untuk mengingatkan agar saya berhati-hati, karena ternyata ia menemukan banyak paku dan besi-besi rongsokan yang sudah berkarat teronggok di salah satu bagian pantai. Rongsokan berkarat tersebut mengubah warna bebatuan putih menjadi coklat kemerah-merahan. Tampaknya rongsokan besi tersebut berasal dari rongsokan perahu atau kapal yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Agak kecewa melihat ketidaksempurnaan keindahan alam di negeri impian saya 😦

13718608_10210506184757361_1845469634209788576_n

Warna bebatuan yang kemerahan terkena karat dari rongsokan besi.

13690808_10210506184797362_7051292684426885602_n

Pantai tiga warna: merah di kanan bawah, hijau abu-abu di kiri bawah dan putih di bagian atas.

Meski keindahannya tak sempurna dan jauh tertinggal dibandingkan pantai Indonesia, kami menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai tersebut hingga matahari menjelang terbenam. Kami berhasil mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan unik sebanyak yang mampu kami bawa dengan tangan kosong, karena kami lupa membawa wadah atau kantong plastik. Dengan perut yang mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan menyantap makan malam.

Ketika kami tiba, makan malam sudah terhidang di atas meja lipat plastik yang kami bawa. Hari itu menunya adalah nasi dengan lauk berupa campuran daging sapi, jamur dan paprika bersaus coklat kental yang entah apa namanya. Saya suka menyebutnya nasi kari Norwegia, meskipun menurut pakar masakan pasti namanya lain lagi. Saya juga harus menyebutkan, bahwa nasi di sini lebih pulen dibandingkan nasi di beberapa wilayah di Indonesia (kecuali di rumah saya tentunya, karena saya sangat suka nasi pulen). Mengapa bisa demikian? Rahasianya adalah karena mereka tidak kenal magic jar atau magic com dan alat-alat memasak nasi lainnya. Beras di Norwegia tidak dijual dalam karung-karung seperti di Indonesia, tetapi di dalam kotak-kotak semacam sereal. Di dalam kotak tersebut, beras sudah ditakar per porsi di dalam plastik-plastik yang aman jika terkena panas. Yang harus kita lakukan tinggal memasukkan plastik itu ke dalam air panas dan merebusnya selama kira-kira 10-15 menit sampai nasi tanak. Sejujurnya saya lebih suka cara ini karena kepraktisannya. Tidak perlu lagi mencuci beras atau membersihkan magic jar. Kita pun bisa sesekali memeriksa tingkat kepulenan nasi tanpa harus buka tutup magic jar yang sedang memasak. Tidak ada tuh istilah nasi kurang air, setengah jadi dan sebagainya. Hehehe 😛

Kami semua menyantap makan malam tersebut dengan lahap, bahkan ada yang menambah. Selesai makan dan membereskan piring kotor, kami tak juga beranjak dari meja makan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam kedua di tenda tersebut dengan bermain Yatzy. Permainan ini sebetulnya versi Skandinavianya Yahtzee, hanya berbeda sedikit pada aturannya. Sejak mencoba bermain pada malam tahun baru 2016, saya agak ketagihan main ini. Cara bermainnya adalah dengan mengocok enam buah dadu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan permintaan dalam daftar dan jumlahnya sebesar mungkin. Misalnya, dua buah angka yang sama dan tiga buah angka yang sama, maka saya harus memperoleh misalnya 3 x angka 6 dan 2 x angka 5. Yang menang adalah yang mengumpulkan angka tertinggi jika seluruh hasil dijumlah. Permainan ini akan jadi seru kalau hokinya besar, karena untuk menang memang sangat mengandalkan hoki. Akhirnya segala cara yang nggak masuk akal pun dicoba, misalnya meniup-niup dadu sebelum dilempar. Ya kali bakal ada efeknya 😀

Ketika saya bermain di malam tahun baru, saya ketiban keberuntungan pemula. Baru mencoba main pertama kali, saya langsung menang. Lain dengan permainan di kemah. Tiba-tiba keberuntungan saya hilang seperti tertiup angin. Dua sampai tiga ronde bermain, nama saya hanya nangkring di posisi dua atau tiga. Sepertinya saya harus bersyukur dengan tidak menempati posisi bontot. Sebaliknya, Chris yang berada di urutan terakhir di malam tahun baru justru menang atau berada di atas saya. Begitulah, Pembaca, serunya bermain Yatzy yang hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Selain itu, permainan ini juga merupakan antibosan yang ampuh ketika berkemah atau melakukan perjalanan panjang. Sayangnya, ia tidak begitu populer di Indonesia.

Karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, Tor Vidar yang akan menyetir pun pamit tidur setelah permainan selesai. Sementara itu, saya, Chris dan Ellen duduk-duduk di sekitar meja makan dan mengobrol. Saya pun memanfaatkan waktu itu sambil mengerjakan salah satu hobi saya, yaitu mewarnai. Sekedar info, saya salah satu penggemar berat adult coloring book. 😛 Sambil menggerakkan spidol di atas gambar yang saya warnai, saya bertanya banyak hal, mula-mula dengan Chris. Kami mendiskusikan tentang perbedaan budaya – hal yang sangat saya sukai.

Saya bertanya tentang hal yang selama dua hari ini telah saya dan dia lakukan – sibuk bermain selagi orang tuanya mengurus segalanya. Kalau di Indonesia, hal tersebut sudah pasti dianggap kurang sopan, apalagi jika pihak orang tua tidak mengungkapkan izinnya atau justru menyuruh anaknya untuk pergi bermain. Mendengar pembicaraan kami, Ellen pun ikut menimbrung. Ia menjelaskan bahwa memang demikian hubungan anak dan orang tua di negaranya. Secara fisik terkesan sama sekali tidak dekat. Jujur saja, saya cuma pernah lihat Chris dan orang tuanya berpelukan ketika ia hendak pergi jauh, misalnya ke tempat saya. Sedangkan saya sampai sekarang masih suka gelendotan ke ibu saya. 😀 Selain itu, orang tua dan anak kedudukannya relatif setara, terutama ketika sang anak sudah dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, di mana kedudukan orang tua dan anak ya atas bawah, bahkan kadang-kadang sampai anaknya menikah (apalagi kalau anaknya perempuan).

Mendengar cerita saya, Ellen balik bertanya apakah orang tua di Indonesia sangat ketat dalam mendidik anak. Saya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan Skandinavia, tentu terkesan sangat ketat, tetapi kami juga sangat dekat secara fisik dan emosional. Chris bilang, di Norwegia, anak-anak justru tidak sabar untuk lepas dari orang tuanya. Semakin mereka dewasa, mereka akan semakin berusaha menjauh. Fenomena ini juga ada di Indonesia, tetapi tentu kita tidak bisa sebebas itu. Ada hubungan timbal balik yang sangat berbeda antara kedua negara tersebut.

Di Indonesia, ketika orang tua memutuskan untuk memiliki anak, sebagian besar masih banyak berpikir bahwa mereka akan melakukan pengorbanan besar demi pertumbuhan anaknya. Tetapi pengorbanan besar tersebut seringkali bukan tanpa pamrih. Ada beberapa orang tua yang saya kenal yang kemudian berekspektasi bahwa anaknya akan berbalik membantunya ketika sudah dewasa. Membantu di sini bukan secara fisik, tetapi materi. Misalnya dengan berprofesi yang menghasilkan banyak uang atau bahkan (yang lebih parah), meneruskan cita-cita orang tuanya yang tidak kesampaian. Menurut analisis sederhana dan amatiran saya, penyebabnya adalah kurang baiknya kondisi kesejahteraan dan perekonomian negara. Wah, jauh sekali ya! Mengapa bisa demikian?

Saya bandingkan keadaaan di Indonesia dengan keadaan di Norwegia berdasarkan penjelasan Chris dan ibunya. Di Norwegia, sebuah negara yang ekonominya sudah sejahtera, orang tua tidak terlalu pusing memikirkan pengorbanan besar berupa materi yang harus mereka keluarkan demi membesarkan anak. Ketika anak lahir, mereka sudah memperoleh tunjangan dari pemerintah, kalau tidak salah sampai anak tersebut berusia 18 tahun. Selain itu, biaya pendidikan yang biasanya menelan paling banyak porsi dari bujet hidup sudah gratis, kecuali universitas. Ditambah lagi, ketika orang tua sudah pensiun, mereka mendapat uang pensiun yang jumlahnya tidak kecil dari pemerintah. Nah, kebayang ‘kan, dari situ saja bebannya sudah berkurang banyak. Begitulah kalau uang rakyat tidak dikorupsi. Padahal dua negara di atas sama-sama penghasil minyak. 😉 Intinya, orang tua dan anak menjadi tidak punya tanggung jawab bantuan materi secara timbal balik seperti di Indonesia.

Memikirkan hal tersebut, saya pun jadi penasaran. Di Indonesia, orang tua banyak yang bekerja keras membanting tulang agar anaknya dapat kuliah setinggi-tingginya, sehingga ketika anak gagal memperoleh pekerjaan yang sebanding dengan biaya kuliahnya, orang tua pun jadi kecewa. Bagaimana keadaannya di negeri matahari tengah malam ini? Ternyata, hal tersebut sangat jarang terjadi, Pembaca. Menurut Ellen, ada beberapa orang tua yang melakukannya dan tentu hal tersebut – menabung dari hasil kerja demi kuliah anaknya – adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, sebagian besar orang tua menganggap kuliah adalah pilihan anaknya dan tidak wajib, sehingga jika mereka ingin berkuliah, merekalah yang harus mencari uangnya sendiri. Toh sebetulnya biaya kuliah tidak terlalu mahal dan ada program pinjaman pemerintah. Saya pernah cek biaya kuliah sebuah jurusan sastra di Universitas Bergen hanya sebesar Rp 800.000,- kalau dikurs ke Rupiah, sedangkan saya ketika di UI dulu satu semester bisa 3 juta! Alhasil, anak-anak yang ingin kuliah banyak yang membiayai sendiri kuliahnya, misalnya dengan bekerja part time. Wah, berbeda sekali ya 🙂

Pada akhirnya, kedua budaya yang berbeda tersebut tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, ada keyakinan populer di masyarakat bahwa sebetulnya yang dibutuhkan manusia adalah relasi dan komunikasi dengan manusia lainnya. Terlalu individualis tentu saja tidak baik. Di sisi lain, manusia memang pada dasarnya terlahir seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Ada baiknya belajar menjadi mandiri sepenuhnya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita terpaksa berdiri sendiri atau kapan orang-orang yang biasa membantu tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya, diskusi itu membuat saya berkesimpulan dan bertekad untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak-anak di masa depan saya dengan budaya Skandinasia, gabungan antara Skandinavia dan Asia, Norwegia dan Indonesia. Itu pun kalau hubungannya berlanjut, hehehe 🙂 Doakan saja ya, Pembaca!

mit Liebe,

Frouwelinde