Harta Karun Bersejarah di Istana Uskup Trondheim

Hari ketiga saya di perkemahan diawali dengan terbangunnya saya karena tenda yang saya tempati bergoyang ke sana kemari. Udara juga terasa semakin dingin. Ketika saya membuka mata, saya tersadar bahwa angin bertiup sangat kencang di pagi itu. Saya yakin kalau patok yang kami pasang untuk mendirikan tenda itu tidak terpasang kuat, tenda itu pasti sudah terbang tertiup angin.

Saya merangkak keluar dari ruang tidur saya dan mendapati hanya ayah Chris yang sudah bangun dan mulai membereskan barang. Kegiatan pagi itu adalah mengepak kembali barang-barang kami karena sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan ke arah utara. Setelah kegagalan mendapatkan tangkapan yang memuaskan ketika memancing, kami harus mencari tempat lain yang mungkin memiliki lebih banyak ikan. Saya sendiri sudah punya rencana tentang tempat-tempat lain yang harus saya kunjungi.

Singkat cerita, orang tua Chris menawarkan untuk menyelesaikan proses pengepakan barang dan membongkar tenda, sedangkan kami berdua akan diantar kembali ke Trondheim untuk menghabiskan dua museum yang tersisa dengan tiket terusan yang kami punya. Kali ini saya tidak lagi merasa seperti anak kurang ajar karena sudah dijelaskan dalam obrolan antarbudaya di malam sebelumnya. Akhirnya, setelah selesai mengepak tas dan koper sendiri, saya dan Chris kembali diantar oleh ayahnya ke Trondheim.

Kami tidak punya waktu banyak untuk berpetualang di hari itu, karena kami akan dijemput lagi sekitar tengah hari untuk melanjutkan perjalanan. Kami turun di seberang Munkegata karena alun-alun ditutup untuk kendaraan bermotor. Ketika melintasi alun-alun tersebutlah saya memperoleh kesempatan untuk melihat lebih dekat proyek galian yang tersebar di pinggir jalan. Dari jauh, tempat tersebut tampak seperti perbaikan jalan, namun setelah didekati, terdapat hal yang berbeda pada pagar pembatasnya. Bukan hanya tulisan “dilarang melintas” yang terpasang di pagar pembatasnya, melainkan juga kertas-kertas berlaminating yang berisi foto-foto benda-benda yang tampak seperti penemuan arkeologis seperti sepatu tua dan potongan kain tua. Tulisan keterangan dalam kertas-kertas itu berbahasa Norwegia dan saya tidak mengerti seluruhnya, namun saya berhasil menangkap informasi bahwa proyek galian tersebut adalah proyek penggalian situs arkeologi. Tampaknya telah ditemukan banyak peninggalan-peninggalan dari masa lampau di bawah pusat kota Trondheim. Wow, pembaca, saya menjadi sangat penasaran dan bersemangat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penemuan-penemuan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, saya tidak dapat berlama-lama membaca satu persatu kertas informasi tersebut. Saya dan Chris kembali menyusuri Munkegata untuk memasuki kompleks Nidarosdomen. Tujuan kami adalah kompleks bekas istana uskup yang memiliki beberapa museum di dalamnya. Kami memilih museum pertama yang berada di sebelah kanan gerbang kompleks yang tampak berbenteng tersebut. Meski interior bangunan bagian dalam kompleks tersebut tampak tua, museum yang kami datangi ini memiliki pintu kaca dan interiornya jauh lebih modern dibandingkan tampak luarnya.

photo0jpg

Pintu masuk Riksregaliene yang bergaya abad pertengahan. Sumber: http://www.tripadvisor.com

Museum yang kami kunjungi pertama tersebut adalah Riksregaliene atau Crown Regalia. Museum ini memajang koleksi benda-benda kerajaan khususnya mahkota, perhiasan dan tongkat yang digunakan untuk upacara-upacara kenegaraan. Salah satu upacara tersebut tentu saja upacara pelantikan raja yang biasa dilakukan di Nidarosdomen. Di lantai satu terdapat sejarah singkat mengenai Kerajaan Norwegia. Meskipun saat ini pemerintahannya dikepalai oleh seorang perdana menteri, negara ini adalah satu dari sedikit negara Eropa yang bertahan dalam bentuk monarki.

Pada masa Viking Age, Norwegia terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Salah satu raja kerajaan tersebut, Harald Hårfagre, memimpin pemberontakan yang berujung pada penyatuan kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Sayangnya, persatuan ini tak berlangsung lama karena kemudian kerajaan tersebut jatuh ke tangan Kerajaan Denmark. Setelah kristenisasi oleh Olav Tryggvasson yang dilanjutkan oleh Olav Haraldson (St.Olav), Norwegia sempat lepas sesaat dari jajahan Denmark. Selanjutnya selama bertahun-tahun, negara ini berpindah-pindah dari tangan Kerajaan Swedia dan Denmark sebagai bagian dari sebuah persatuan dua negara (union). Tanggal 17 Mei 1814 menjadi hari di mana Kerajaan Norwegia akhirnya berdiri sebagai kerajaan merdeka yang tidak lagi menjadi anggota perserikatan dengan Swedia maupun Denmark. Saat ini, Kerajaan Norwegia dipimpin oleh Raja Harald V dan Ratu Sonja.

Dari lantai satu, saya beranjak menuruni tangga. Suasana di museum tersebut cenderung gelap karena minimnya lampu penerangan besar. Menuruni tangga tersebut membawa saya pada ruangan-ruangan yang lebih gelap lagi. Yang saya ingat, seluruh dindingnya berwarna hitam dan lampu-lampu hanya ditempatkan di dekat koleksi museum. Tangga tersebut mengantar saya pada sebuah lorong yang dindingnya dipenuhi deretan foto dan lukisan. Foto-foto dan lukisan tersebut dipasang berurutan dari yang paling tua hingga yang paling baru. Semuanya menampilkan upacara pemahkotaan raja-raja yang pernah memimpin di Norwegia, termasuk Raja Harald V yang dimahkotai tahun 1991.

13920789_10157956431480377_4246437749748692284_n

Foto/lukisan upacara penobatan Raja Harald V dan Ratu Sonja di Nidarosdomen tahun 1991.

Memasuki ruangan selanjutnya, saya berpapasan dengan seorang bapak-bapak tanpa ekspresi yang berpakaian resmi seperti pengawal kerajaan modern. Mulanya, saya pikir beliau hanyalah petugas museum yang menyediakan jasa pemandu. Karena saya hanya ingin melihat-lihat, saya tidak begitu fokus dengan keberadaannya. Apa yang ada dalam ruangan selanjutnya jauh lebih layak menjadi fokus saya. Deretan kotak-kotak kaca dengan lampu di sekitarnya menampakkan koleksi perhiasan milik keluarga kerajaan sejak zaman raja-raja terdahulu di ruangan gelap tersebut. Rupanya inilah sebabnya mengapa ruangan-ruangan di museum tersebut sengaja dibuat gelap – agar kita dapat mengamati koleksi perhiasan tersebut lebih detil.

Tidak hanya koleksi perhiasan, beberapa kotak kaca di ruangan tersebut juga memajang pedang-pedang yang menjadi aksesoris pakaian resmi kerajaan. Pedang-pedang tersebut memiliki sarung berlapis emas dan berhias ukiran ornamen aneka bentuk. Akan tetapi, bagian terbaik dari koleksi tersebut tentu saja berbagai aksesoris yang dikenakan oleh Raja Harald V dan Ratu Sonja pada hari penobatan mereka. Satu set aksesoris tersebut terdiri dari jubah merah berbulu seperti kostum raja dalam dongeng-dongeng, sebuah mahkota besar yang terbuat dari emas dengan hiasan aneka batu mulia dan mutiara air tawar Norwegia, sebuah tongkat emas dan sebuah bola bertahtakan salib yang mereka bawa di tangan kanan dan kiri mereka selagi mengucap sumpah. Bola tersebut merupakan simbol planet bumi dan kekuasaan monarki sedangkan tongkat melambangkan otoritas raja yang sifatnya sementara saja. Ada pula sebuah tanduk kecil dari emas yang berisi minyak urapan. Tradisi minyak urapan berasal dari Timur Tengah dan melambangkan raja sebagai wakil pilihan Tuhan di dunia. Keindahan dan nilai historisnya membuat saya ingin mengabadikan benda-benda itu dalam foto, yang tentu saja tidak jadi karena lagi-lagi saya melihat bapak-bapak lain berpakaian resmi seperti pengawal itu mondar-mandir di ruangan tempat saya berada. Rasanya seperti diawasi ketat, Pembaca hahaha… 😀

riksregalier1

Jubah kebesaran raja yang dikenakan pada upacara penobatan. Sumber: http://www.trondheim.no

Karena merasa tidak nyaman, saya menyarungkan kembali kamera saya. Saya jadi penasaran, jangan-jangan koleksi ini asli dan bukan replika. Kemudian, bapak-bapak yang dari tadi mondar-mandir di ruangan ini bukanlah petugas museum atau pemandu (karena mereka tidak pakai jubah merah seperti seragam petugas museum lainnya), melainkan betul-betul penjaga barang-barang berharga tersebut. Dan benar saja dugaan saya, Pembaca! Chris tiba-tiba datang mendekati saya dan bilang bahwa semua benda di ruangan itu asli dan bukan replika. Ia baru saja bertanya langsung pada salah satu dari bapak-bapak itu. Katanya, jika ada acara resmi kerajaan yang menggunakan pakaian atau aksesoris tersebut, benda-benda koleksi museum itu akan dikeluarkan dan diambil dari kotak kacanya. Wow, saya nyaris tidak percaya. Semua benda tersebut asli dan diletakkan di bangunan yang menurut saya tampak tidak tahan maling. Kalau di negara saya pasti sudah ada usaha perampokan dari kapan tau.

Setelah berkeliling di ruangan tersebut dan melihat semua koleksi, saya beranjak pergi menuju ruang pembatas lorong dan tangga. Chris tidak terlihat, sepertinya ada di belakang saya. Saya sempat melihat ada mesin pengunci dengan kode yang melekat di samping pintu pembatas ruangan koleksi tersebut dengan tangga. Kemudian, Chris datang menyusul saya sambil menunjukkan hasil jepretan terbaru kameranya. Foto-foto hasil mengabadikan koleksi museum yang baru kami lihat ada di sana. Bisa-bisanya anak ini diam-diam mengambil foto. Katanya sih, petugasnya mengamati dia tetapi diam saja. Saya pun menyesal tidak mengambil foto satu pun di sana. 😦

Tujuan kami selanjutnya adalah museum terakhir di area tersebut yang dapat diakses dengan tiket terusan, yaitu Erkebispegården atau Museum Istana Uskup. Seperti namanya, museum ini mengambil sebagian besar bekas bangunan yang dulunya merupakan istana uskup, tepatnya pada bagian sayap selatan dan timur. Kami melintasi pelataran dalam bekas istana tersebut, yang kini sudah berupa lapangan kering tanpa apa-apa. Seluruh bangunan istana uskup tersebut sebetulnya masih tampak seperti aslinya, bercat merah dan terbuat dari kayu dengan penampakan seperti mansion dari abad pertengahan.

erkebispegarden-archbishop1

Kompleks istana uskup – halaman dalam. Sumber: http://www.tripadvisor.com.

 

 

Museum Istana Uskup ini sebetulnya merupakan museum arkeologi. Dari luar tampak kecil, padahal museum ini memiliki tiga lantai dan banyak sekali koleksi. Koleksi-koleksi tersebut berupa rekam sejarah pembangunan Nidarosdomen dan benda-benda temuan dari penggalian arkeologis di bawah katedral tersebut serta kompleks istana uskup. Mungkin suatu hari nanti koleksi itu akan bertambah dengan temuan-temuan dari proyek galian yang saya lihat di dekat alun-alun tadi.

Begitu saya memasuki pintu museum, saya langsung disambut dengan patung batu yang dipajang bersama dengan papan informasi berisi ajakan untuk mencoba menyentuhnya. Permukaan batu itu sangat hitam, yang langsung meyakinkan saya bahwa batu itu adalah soapstone, yang dipakai untuk membangun Nidarosdomen. Patung batu itu menjadi satu-satunya koleksi dari soapstone yang boleh disentuh pengunjung. Patung-patung lain yang rupanya jauh lebih indah di dalam museum itu dilarang untuk disentuh.

erkebisp1

Deretan patung orang kudus dan lengkung jendela bergaya Gotik di lantai satu. Sumber: http://www.trondheim.no

Lantai satu museum tersebut memajang koleksi patung-patung asli yang ditemukan di Nidarosdomen. Patung-patung berbagai orang kudus dan dekorasi pahatan wajah manusia yang ditemukan pada pilar-pilar Nidarosdomen menghiasi dinding-dinding ruangan di lantai satu. Wajah-wajah manusia tersebut menampilkan aneka ekspresi dan emosi yang berbeda. Tidak diketahui wajah-wajah siapakah yang dijadikan penghias tiang tersebut. Ada pula tiga potongan dari patung gargoyle yang biasanya menjadi saluran air hujan di gereja-gereja berarsitektur Gotik. Di tengah ruangan terdapat kolam air mancur kecil dengan hiasan patung kodok yang juga ditemukan di katedral tersebut. Pada bagian belakang ruangan, saya dapat melihat detil pahatan lengkung jendela yang menjadi ciri khas bangunan bergaya Gotik.

13880185_10157956432130377_989940612195488199_n

Air mancur patung kodok.

 

Selanjutnya, saya menaiki tangga menuju lantai dua. Koleksi di lantai dua lebih berfokus pada sejarah kota Trondheim dan Nidarosdomen itu sendiri. Dekat dengan tangga terdapat jajaran miniatur bangunan gereja dari bentuknya yang paling awal hingga menjadi seperti yang sekarang ini. Setiap miniatur bangunan di masa lampau diletakkan pada fondasi yang bergambar denah ruangan dari bentuk yang paling baru, sehingga kami bisa melihat perbandingan luas antara Nidarosdomen di masa lalu dan masa kini.

13920946_10157956432160377_7979093211412051557_n

Bangunan awal Nidarosdomen (kapel St.Olav) dan denah bangunan Nidarosdomen sekarang.

Setelah melalui deretan miniatur tersebut, saya tiba pada ruangan berbentuk lingkaran terbuka yang dindingnya dipenuhi lukisan. Lukisan yang tampak seperti sketsa pada buku dongeng tersebut menceritakan sejarah Nidarosdomen yang berkembang seiring dengan meluasnya kota Trondheim. Kisah tersebut berawal pada peperangan yang menewaskan St.Olav, pendirian kapel yang menjadi tujuan peziarah, pembangunan gereja yang semakin besar, bencana kebakaran yang dialami berulang kali, hingga renovasi dan restorasi bangunan katedral di zaman modern. Dipamerkan pula lukisan yang menceritakan awal mula kota Trondheim yang berupa pemukiman bangsa Viking di tepi fjord yang semakin meluas di sepanjang Sungai Nidelva hingga menjadi kota abad pertengahan yang maju dan menjadi salah satu yang terbesar di Norwegia. Ada pula lukisan-lukisan suasana sehari-hari di istana uskup, yang ternyata pernah menjadi markas militer juga.

Pada awalnya, saya tidak mengetahui bahwa museum tersebut lebih luas dari yang sudah saya jelajahi. Adanya beberapa pengunjung yang menuruni tangga menuju ke lantai dasar memberi tahu saya, bahwa tangga dari lantai satu ke bawah ternyata dapat diakses. Tepat di bawah tangga terhampar banyak potongan bebatuan yang dipajang begitu saja. Tampaknya bebatuan tersebut adalah bagian-bagian dari bangunan katedral yang belum ditemukan pasangan atau letaknya. Saya tiba-tiba teringat salah satu perkataan pemandu wisata di Nidarosdomen. Ada legenda populer di kota itu mengatakan bahwa jika Nidarosdomen selesai dibangun kembali seperti sediakala, seluruh kota Trondheim akan tenggelam di dalam fjord. Entah legenda itu benar atau tidak, kenyataannya sampai saat ini tim renovasi Nidarosdomen memang menyembunyikan sepotong batu di antara potongan-potongan batu yang berserakan tersebut agar pembangunan katedral itu tidak pernah 100% selesai.

Di seberang tumpukan batu-batu tersebut, tepatnya di sisi timur ruangan terdapat semacam bekas fondasi bangunan berupa susunan batu yang usianya tampak sudah ratusan tahun. Rupanya, tumpukan bebatuan itu adalah fondasi dan dinding asli dari istana uskup tersebut. Di samping fondasi tersebut ada miniatur ruangan berbentuk persegi dari potongan-potongan kayu yang di dalamnya berisi diorama orang-orang sedang bekerja dari abad pertengahan. Tersebar di sekeliling miniatur tersebut dipajang berbagai temuan-temuan arkeologis dari penggalian situs Nidarosdomen dan istana uskup dalam sebuah ruangan luas berdinding batu bata.

archbishops-palace-museum-trondheim_3867407_l

Ruangan berdinding batu bata yang memamerkan koleksi penemuan arkeologis. Wilayah berpagar tersebut adalah lantai dan fondasi asli bangunan istana uskup. Sumber: http://www.mygola.com

Setiap koleksi di ruangan itu seolah mendongengi saya dengan kisah-kisah dan sejarah bangunan tersebut dari abad pertengahan. Pada masa itu, uskup yang berkedudukan di Nidarosdomen tinggal di dalam istana tersebut bersama seperangkat pembantunya, pelayan, pekerja, dan budak-budak. Bahkan uskup diperbolehkan memiliki tentara, khususnya ketika konflik antara pemuka agama dengan para bangsawan semakin menajam. Seperti dikisahkan pada banyak sejarah abad pertengahan, masa itu adalah masa kegelapan ketika kekuatan agama banyak ikut campur dalam dunia politik, yang menjadikan para rohaniwan menjadi ikut gila kekuasaan dan tamak. Runtuhnya kekuasaan uskup Katolik di Nidarosdomen tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik dengan bangsawan tersebut dan menurunnya pamor akibat reformasi gereja yang digaungkan Martin Luther.

Meskipun namanya istana uskup, ia tidak sama dengan biara-biara yang hanya dihuni oleh rohaniwan atau sesama pria. Penemuan arkeologis berupa sisir rambut, cermin, perhiasan, potongan pakaian dan sepatu tua yang masih awet bentuknya menunjukkan bahwa di dalam istana tersebut tinggal juga wanita dan anak-anak. Penggalian arkeologis juga menemukan naskah-naskah religi kuno di kompleks istana uskup tersebut. Beberapa naskah tersebut berbahasa Latin, tetapi masih menggunakan aksara Rune khas bangsa Viking. Di bagian belakang kiri ruangan tersebut ada koleksi koin-koin dan berbagai bentuk alat tukar yang ditemukan juga di kompleks istana uskup. Koin-koin tersebut memiliki cap wajah atau kode nama uskup yang sedang berkuasa, persis seperti koin-koin bercap wajah atau nama raja yang sering kita temui. Hal tersebut menandakan bahwa pada masa itu, istana uskup memiliki pencetak koin sendiri. Dipamerkan pula berbagai alat yang digunakan oleh para pencetak koin tersebut untuk menghasilkan alat tukar yang terbuat dari emas atau perak itu. Pada masa itu, orang tidak menilai harga koin berdasarkan angka yang tertera di sana, melainkan berdasarkan ukuran atau beratnya.

3d67a04d81c834fa51a98ef4802250c8

Diorama pekerja pencetak koin di istana uskup. Sumber: http://www.allevent.in

Sebagai penggemar berat sejarah abad pertengahan, berkeliling di antara koleksi temuan arkeologis di istana uskup serasa dikelilingi oleh harta karun. Harta karun-harta karun ini bercerita pada saya seperti apakah kehidupan di masa lampau itu. Saya membayangkan bangunan tempat saya berdiri itu sebagai sebuah rumah besar dengan halaman luas yang selalu sibuk, khususnya di siang hari. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Hewan-hewan ternak mencari makan dan berjalan-jalan di halaman tersebut. Pedagang berbagai benda berlalu lalang dan para pengawal bergantian menjaga gerbang. Di berbagai ruangan yang masih ada hingga sekarang itu, para pelayan uskup hidup dan bekerja menghasilkan bahan-bahan pokok untuk kehidupan. Pembuat roti menggiling gandum dan memanggang roti, para pencetak koin memproduksi keping-keping emas, para wanita menjahit dan mencuci pakaian, dan beraneka kegiatan lainnya. Sang uskup akan sibuk melayani audiensi dan misa di katedral, lalu kembali ke istananya di malam hari untuk berdoa, membaca manuskrip religi dan mengerjakan tugas-tugas administratif. Semuanya terjadi di balik tembok tinggi yang membentengi istana uskup tersebut.

Bagaimana dengan di sisi sebaliknya? Apa yang terjadi di luar dinding istana uskup? Di berbagai rumah-rumah dan bangunan tua yang tersebar di penjuru kota Trondheim abad pertengahan yang semakin meluas? Adakah istana yang lebih besar lagi dari istana sang uskup? Adakah kesibukan para nelayan dan penjual ikan dekat jembatan kota tua dan gerbang kebahagiaan? Adakah festival atau pasar besar di alun-alun kota? Hanya waktu yang akan menjawabnya, seiring dengan terungkapnya harta karun-harta karun lainnya yang tengah digali di alun-alun kota. Kembali saya melintasi proyek penggalian itu ketika hendak kembali ke mobil yang sudah menjemput dan akan membawa saya lebih jauh ke utara. Selamat tinggal, Trondheim, semoga saya kembali ke sana lagi suatu hari nanti. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Riksregaliene

https://www.trondheim.com/norwegian-crown-regalia

http://www.kongehuset.no/seksjon.html?tid=28696&sek=27269

Tentang Erkebispegården

http://www.nidarosdomen.no/en/attractions/erkebispeg%C3%A5rden

Menilik Sejarah Kristenisasi Bangsa Viking di Nidarosdomen

Musim gugur 2014 adalah kali pertama kaki saya menjejak tanah Norwegia. Dengan rute yang nyaris sama, saya melakukan perjalanan dari selatan ke utara, tetapi saat itu saya menggunakan kereta. Suatu hari dalam dua minggu perjalanan saya, saya tiba di sebuah stasiun di tengah hujan yang turun rintik-rintik. Suatu kesalahan fatal membuat saya terpaksa membuang waktu satu hari yang seharusnya saya gunakan untuk mengeksplor kota tempat stasiun tersebut berada. Sialnya lagi, cuaca betul-betul tidak berpihak pada saya. Satu hari yang tersisa sebagai satu-satunya kesempatan saya untuk menikmati kota tersebut terpaksa dihabiskan di hotel saja, karena begitu saya tiba di kamar hotel, hujan justru bertambah deras. Sejak hari itu, saya bertekad untuk membayar kesalahan saya dan mengunjungi kota tersebut suatu hari nanti.

Kota tersebut adalah Trondheim, yang oleh karena pengalaman saya maka saya sebut kota kenangan. 🙂 Tentu tak hanya itu saja alasannya, karena bertualang di kota tersebut di bawah mentari musim panas adalah hal yang tak terlupakan. Trondheim dapat dicapai dengan mobil dari Flakk Camping selama 30 menit. Sudah sejak lama, saya dan Chris sangat ingin mengunjungi kota ini. Sebagai penggemar berat sejarah abad pertengahan dan bangsa Viking, Trondheim adalah kota wajib kunjung bagi kami berdua.

Tujuan utama saya di sini adalah sebuah bangunan yang juga menjadi ikon kota Trondheim, yaitu Nidarosdomen. Nidarosdomen adalah katedralnya kota Trondheim yang juga merupakan satu-satunya gereja berarsitektur gotik di seluruh Norwegia. Tidak hanya itu saja, katedral ini sudah berdiri sejak masa abad pertengahan dan menjadi saksi sejarah kristenisasi bangsa Viking dan perkembangan gereja di negara tersebut. Nah, kebayang ‘kan berapa banyak cerita yang tidak sabar untuk diungkap di balik bangunan ini?

Karena saya naik mobil, saya tidak menemui kesulitan untuk mencapai Nidarosdomen. Akan tetapi, jika saya naik kereta, saya harus berjalan cukup lumayan untuk tiba di sana. Dari stasiun, saya harus menyeberangi jembatan yang tepat berada di depan pintu masuk stasiun menuju Sondre Gate. Saya harus menyusuri jalan tersebut hingga tiba di Kongens Gate tempat saya harus mengambil belokan ke kanan. Begitu tiba di bundaran yang juga merupakan alun-alun kota, saya tinggal berbelok ke kiri memasuki Munkegata. Sebetulnya dari alun-alun tersebut sangat mudah untuk menemukan Nidarosdomen. Menaranya yang menjulang tinggi akan tampak jelas dari sana.

IMG_4134

Alun-alun kota Trondheim

Jika naik mobil, kita bisa memarkir mobil di sepanjang Munkegata. Jalan tersebut dipagari oleh gedung-gedung penting, termasuk gedung pengadilan dan balai kota. Dahulu, ketika Nidarosdomen masih digunakan dalam upacara penobatan raja atau anggota kerajaan, mereka akan diarak melalui jalan tersebut. Di ujung Munkegata adalah pintu masuk utara kompleks katedral Nidarosdomen. Begitu tiba, saya langsung disambut oleh hijaunya pepohonan yang menaungi area pemakaman yang mengelilingi Nidarosdomen. Batu-batu nisan yang indah berhiaskan patung maupun batu-batu nisan yang sudah sangat tua tersebar di pemakaman nan asri tersebut. Tidak jauh dari pintu masuk berdiri sebuah patung peringatan untuk mengenang para pejuang yang gugur dalam Perang Dunia II. Tampak juga bangku-bangku taman yang dapat digunakan untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan. Meskipun tua, pemakaman ini tampak sama sekali tidak menyeramkan.

Saya berbelok ke kanan menuju sisi barat bangunan Nidarosdomen. Untuk memasuki katedral tersebut sebagai turis, saya perlu membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk tersebut dapat dibeli di Nidarosdomen Besøkssenter yang berlokasi di sisi kiri pintu masuk utama gereja. Tempat tersebut, selain melayani penjualan tiket juga merupakan toko suvenir dan memiliki kafe di dalamnya. Untuk petualangan hari itu, saya membeli tiket kombinasi seharga 180 NOK. Harga tersebut sudah termasuk tur dengan pemandu di Nidarosdomen, Erkebispegården (Archbishop’s Palace Museum) dan Riksregaliene (Crown Regalia). Dengan tiket terpisah, saya harus membayar 90 NOK untuk setiap tempat tersebut. Hal tersebut berarti saya mendapat 3 tempat dengan membayar untuk 2 tempat dengan tiket kombinasi. Semua dana hasil penjualan tiket tersebut masuk ke kantong pemerintah setempat dan digunakan untuk restorasi dan perawatan bangunan tersebut yang terus berlangsung dan tidak murah. Jadi, jangan komplain ya kalau harganya mahal hehehe 😛

Sebelum memasuki bangunan katedral untuk memulai tur, saya menikmati keindahan arsitektur fasade depan gereja. Wajah depan Nidarosdomen dihias dengan patung-patung orang kudus yang bernaung di bawah lengkung-lengkung atap khas gaya gotik. Deret paling atas adalah patung-patung nabi dan raja dari kitab Perjanjian Lama. Deret tengah merupakan tempat patung-patung santo-santa dari Norwegia sedangkan pada deret paling bawah terdapat patung rasul-rasul dan kisah penyaliban. Dua menara menjulang dengan atap-atapnya yang lancip di sisi kiri dan kanan. Pada puncak menara barat laut berdiri patung malaikat Mikael. Ada fakta unik di balik pembuatan patung-patung tersebut. Karena para pematungnya tidak mengetahui wajah asli orang-orang kudus tersebut, mereka pun menggunakan tokoh-tokoh modern sebagai model wajahnya. Contohnya, patung malaikat Mikael mencontoh wajah Bob Dylan, yang dipilih karena terinspirasi oleh perjuangannya menentang Perang Vietnam. Dari sisi depan tersebut tampak pula menara utama di bagian tengah yang beratap kerucut berwarna hijau. Dinding katedral tersebut dihias oleh jendela-jendela tinggi yang melancip di atas. Pada bagian tengah wajah depannya terpasang kaca patri bunga mawar yang juga menjadi khas bangunan katedral. Di atasnya adalah ukiran bertema penghakiman terakhir. Bagian barat gereja yang rumit ini juga merupakan bagian bangunan yang paling baru dan terakhir selesai direstorasi pada tahun 1969.

IMG_4099

Wajah depan Nidarosdomen, dipenuhi deretan patung orang kudus.

IMG_4133

Wajah depan Nidarosdomen (detil) dengan patung kisah penyaliban di tengah tepat di bawah jendela mawar.

Puas mengagumi keindahan wajah barat katedral Nidaros, saya masuk dan mengikuti turis-turis lainnya. Rupanya, seorang pemandu telah siap memulai tur di dalam katedral tersebut. Kami duduk di deretan kursi di bagian belakang gereja selagi pemandu yang berpakaian seragam jubah merah tersebut memulai penjelasannya. Selain bahasa Inggris, yang juga adalah tur yang saya ikuti karena bahasa Norwegia saya masih sangat terbelakang :’D, tersedia juga tur dalam bahasa Prancis dan Jerman. Sang pemandu memulai penjelasannya dengan memberi tahu kami sebuah aturan yang sangat mengecewakan. Dilarang mengambil foto di dalam Nidarosdomen, katanya. 😦 Sayang sekali, padahal arsitektur bagian dalamnya sangat cantik.

Sang pemandu mulai bercerita, bahwa pada zaman dahulu, kira-kira pada abad ke-9, terjadi ekspansi bangsa Viking besar-besaran ke berbagai penjuru Eropa. Salah satu dari mereka, Olav Haraldsson adalah seorang kepala suku Viking yang terkenal karena aksi heroiknya di wilayah Baltik. Dari Baltik, ia berlayar ke berbagai tempat lainnya seperti Inggris dan Prancis. Ketika di wilayah Normadia, Prancis, ia berkenalan dengan ajaran kristiani yang digunakan oleh penguasa setempat sebagai alat untuk mengendalikan dan memimpin masyarakat sampai ke dunia spiritual mereka. Di saat itulah ia menyadari betapa menguntungkannya ajaran Kristiani. Konon katanya ia mempelajari ajaran ini dan dibaptis pula. Ketika suatu saat ia dipercaya untuk memimpin Norwegia Timur oleh Raja Denmark, ia mendirikan gereja sebagai suatu institusi dan menjadikan agama Katolik Roma sebagai agama resmi negara karena terinspirasi oleh Duke Normandia. Ia juga melarang ritual agama lain, termasuk kaum pagan yang saat itu mendominasi Skandinavia. Akibatnya, banyak penduduk setempat yang dipaksa menganut agama Katolik dengan hukuman mati sebagai ganjarannya apabila mereka menolak. Dalam peperangan di Stiklestad, Olav dan pasukannya berhasil dikalahkan oleh penduduk wilayah Trondelag yang memberontak akibat pemaksaan agama yang dilakukannya.

Sejujurnya saya bingung, bagaimana orang bertangan besi seperti itu dapat menjadi orang kudus. Rupanya, raja Denmark yang kemudian mengambil alih pemerintahan setelah tewasnya Olav memerintah dengan lebih kejam lagi. Ia menarik pajak tinggi dari rakyat dan membuat mereka sengsara. Kondisi terjajah membuat orang-orang menginginkan sosok seperti Olav yang meskipun kejam tetapi berjuang untuk kemerdekaan bangsa mereka dari penjajahan. Hal ini pun dimanfaatkan oleh masyarakat yang mendukung Raja Olav dengan memulai kultus yang menyatakan bahwa Raja Olav tewas sebagai martir dan kemudian menjadi santo pelindung Norwegia.

4b7650cfae98f36f0b459029cc498a9d

Patung St. Olav di fasade depan gereja dalam perayaan pesta namanya.

Lalu apa kaitannya kisah Raja Olav dengan Nidarosdomen? Menurut Mbak Pemandu Wisata, Nidarosdomen dibangun di atas makam St. Olav. Berawal dari sebuah kapel kecil pada abad pertengahan yang semakin ramai oleh peziarah, Nidarosdomen terus dibangun dan diperluas. Pembangunannya melintasi berbagai zaman yang buktinya tampak jelas pada perbedaan gaya arsitektur bagian-bagian yang membentuk gereja tersebut. Nidarosdomen juga sempat mengalami bencana kebakaran beberapa kali. Setelah peristiwa yang terakhir bahkan sempat lama tidak diperbaiki atau direstorasi seadanya karena saat itu Norwegia didominasi oleh Kristen Protestan yang tidak begitu mementingkan keindahan bangunan gereja yang dipenuhi patung apalagi mengkultuskan Santo Olav. Bangunan yang ada sekarang berukuran lebih kecil daripada ukuran terbesar yang pernah ada, tetapi sebagian besar desainnya dibuat semirip mungkin kecuali lukisan-lukisan pada kaca patri.

Kaca patri sisi utara menggambarkan kisah Perjanjian Lama sedangkan bagian selatan menceritakan kisah Perjanjian Baru. Kaca patri mawar yang berada di dinding barat Nidarosdomen adalah karya Gabriel Kielland dan menggambarkan kisah penghakiman terakhir. Kaca-kaca patri ini mengelilingi ruangan bagian barat yang juga menjadi sisi panjang dari keseluruhan bangunan yang berbentuk salib. Di bawah kaca patri mawar terpasang megah organ Steinmeyer yang berukuran sangat besar. Pada bagian depan ruangan tersebut berdiri salib besar dari perak di atas sebuah altar kecil. Salib tersebut merupakan pemberian dari emigran Norwegia-Amerika di abad ke-20.

13938357_10157956426940377_3762976875906191797_n

Kaca patri mawar dengan kisah penghakiman terakhir di atas organ Steinmeyer. Jangan tanya bagaimana cara mendapatkan foto ini 😀

13939558_10157956431855377_582581952923537058_n

Salib perak besar di altar sebelah barat pemberian emigran Norwegia-Amerika.

Dari sisi barat bangunan, saya mengikuti pemandu menuju sayap utara Nidarosdomen. Di sisi utara tersebut juga terdapat organ yang ukurannya lebih kecil dan tidak semegah organ Steinmeyer di bagian barat. Akan tetapi, organ yang bernama Wagner ini lebih legendaris. Bukan karena ia ada hubungannya dengan Richard Wagner sang komposer ternama, melainkan karena organ ini dibuat oleh orang yang sama dengan yang membuat organ milik Johann Sebastian Bach. Kebayang ‘kan setua apa? Uniknya lagi, organ bergaya barok ini menjadi salah satu dari sejumlah kecil organ bertipe sama yang masih bertahan dan lestari hingga saat ini. Sebagian besar organ Wagner yang pernah dibuat telah hancur akibat Perang Dunia II. Sebagai penutup di ruangan tersebut, pemandu menginformasikan bahwa akan ada konser musik singkat menggunakan organ tersebut di hari itu. Wah, beruntungnya saya! 🙂

Selanjutnya, saya beralih ke bagian timur bangunan gereja yang juga membentuk kepala salib. Zona tersebut mungkin menjadi zona yang paling penting dari seluruh bangunan gereja, terutama karena kekayaannya akan sejarah dan legenda yang berkaitan dengan St. Olav. Setelah melalui sederetan kursi umat, saya tiba di altar lain yang lebih besar. Altar ini terletak di dalam oktagon, yaitu semacam ruang berbentuk segi delapan yang dipagari oleh lengkung-lengkung khas gaya gotik. Di atas oktagon terpaku sebuah salib besar dan kiri kanannya berdiri patung-patung. Tidak jauh dari oktagon tersebut terdapat sebuah baskom tua yang dulu digunakan untuk upacara pembaptisan.

Oktagon ini menyimpan banyak cerita. Menurut pemandu, ruangan tersebut dulunya merupakan tempat menyimpan relikui St. Olav. Sekedar informasi, setiap gereja yang dibangun umumnya memiliki relikui dari santo santa yang namanya digunakan untuk gereja tersebut. Konon katanya, relikui St. Olav ditempatkan dalam sebuah kotak berbentuk bangunan gereja berhiaskan kepala naga, sama seperti kepala naga yang menghias Heddal Stavkirke yang terinspirasi dari arsitektur bangsa Viking. Sayangnya, baik relikui maupun kotaknya sudah tidak ada. Lagi-lagi menurut pemandu, sebetulnya tidak ada orang yang tahu di mana tepatnya makam St. Olav. Pada intinya, cerita yang mereka percaya adalah bahwa di atas tanah tersebut pernah berdiri kapel kecil di atas makam St. Olav yang selalu ramai oleh peziarah. Entah sebetulnya di sisi gereja yang mana makam tersebut berada tidak ada yang tahu.

Saya dan pengunjung lainnya kemudian diajak untuk memutari sisi luar oktagon tersebut. Di bagian belakang oktagon terdapat ruangan kecil yang berisi altar tua yang juga kecil dan berhiaskan lukisan kisah hidup St. Olav. Tidak jauh dari ruangan tersebut terdapat ceruk kecil yang dipagari. Di bagian atasnya terdapat cermin yang memungkinkan kita untuk melongok ke dalamnya. Tempat tersebut adalah sumur St. Olav yang airnya diyakini dapat menyembuhkan orang sakit. Ketika airnya mengering, sumur tersebut berubah menjadi sumur permohonan tempat orang melempar koin dan berharap doanya dikabulkan. Dikatakan bahwa sumur tersebut adalah tempat yang paling sering didatangi dan disentuh orang. Pemandu menunjukkan dinding di sekitar sumur yang berwarna sangat hitam, sangat berbeda dengan sisi dinding lain di gereja tersebut yang cenderung abu-abu. Ternyata, Nidarosdomen dibangun menggunakan soapstone, yang jika disentuh manusia lama kelamaan akan berubah warna menjadi hitam karena bereaksi dengan keringat.

13921198_10157956427120377_2589680361280272305_n

Altar di belakang oktagon yang berlukiskan kisah hidup St. Olav.

Tur hampir berakhir. Pemandu mengantar saya dan para pengunjung lain menuju sisi selatan bangunan gereja sebagai perhentian terakhir. Di tempat itu, kursi-kursi sudah mulai disusun sebagai persiapan untuk menonton konser organ. Menutup penjelasannya, ia menunjukkan arsitektur sisi selatan yang tampak berbeda dari bagian lain gereja tersebut. Arsitektur bagian ini tidak didekorasi oleh lengkung lancip, tetapi hanya lengkung biasa dan lebih sederhana ciri khas gaya Romanik yang berasal dari Italia. Romanik dan gotik memang merupakan dua gaya bangunan yang dominan dan menjadi ciri khas abad pertengahan dengan romanik sebagai yang lebih tua. Gaya romanik yang tersisa di sisi selatan Nidarosdomen menunjukkan bahwa bagian tersebut berasal dari masa yang berbeda dari sisi lain yang selamat dari bencana kebakaran. Sambil menginformasikan mengenai konser yang akan segera dimulai dan sisi bangunan lain yang masih dapat dijelajahi, sang pemandu mengakhiri turnya.

13935158_10157956431800377_1290815797782794496_n

Detil bangunan yang bergaya gotik.

Selagi menunggu konser dimulai, saya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang belum dieksplor bersama pemandu. Salah satunya adalah sebuah meja yang terletak di sisi kiri altar utama yang berisi kertas-kertas kecil tempat saya dapat menuliskan doa. Menurut keterangan yang ada di atas meja tersebut, doa-doa yang ditulis oleh para pengunjung akan didoakan bersama-sama dalam misa atau ibadah yang berikutnya. Ada pula sebuah meja lain di dekat deretan kursi yang disusun untuk menonton konser. Meja ini lebih merupakan tempat menaruh lilin. Di dekatnya disediakan lilin yang boleh saya ambil dan saya nyalakan. Keterangan di tempat menaruh lilin tersebut mengajak para pengunjung untuk menyalakan lilin bagi keluarga atau kenalan yang sudah meninggal dan mendoakan mereka agar selalu berada dalam damai.

IMG_4106

Meja tempat pengunjung menulis doa.

IMG_4107

Keranjang berisi kumpulan doa.

Sebelum menonton konser, saya juga sempat mengunjungi makam bawah tanah di Nidarosdomen. Tidak terlalu mudah menemukan makam ini. Saya hanya mengetahui bahwa ruangan tersebut dapat diakses, namun setelah berputar-putar, saya baru menyadari adanya sebuah tangga untuk turun ke bawah tanah melalui sisi kanan sayap barat bangunan gereja. Makam bawah tanah tersebut diterangi oleh lampu-lampu yang cukup terang sehingga jauh dari kesan seram. Di dalamnya terdapat makam-makam dengan batu-batu nisan yang besar. Nisan-nisan tersebut dipahat dengan indah, namun sudah banyak yang retak akibat berbagai bencana yang terjadi selama ratusan tahun. Pahatan membentuk malaikat menjadi motif dominan pada nisan-nisan tersebut, diikuti oleh simbol-simbol keluarga bangsawan. Memang, sebagian besar orang yang boleh dimakamkan di Nidarosdomen di masa itu hanyalah kaum bangsawan dan orang-orang yang terpandang di masyarakat. Akan tetapi, saat ini, memakamkan orang di Nidarosdomen sudah tidak diperbolehkan lagi karena katedral ini sudah menjadi cagar budaya.

Selesai berkeliling di makam bawah tanah, saya beranjak kembali ke atas karena konser organ akan segera dimulai. Saya duduk di barisan belakang dan menikmati permainan organ yang terdiri dari lagu-lagu klasik, salah satunya adalah favorit saya, Canon in D karya Johann Pachelbel. Kira-kira ada total lima lagu yang dimainkan oleh sang organis. Konser berlangsung sekitar setengah jam dan suara organ Wagner tua tersebut terdengar sangat merdu. Penampilan sang organis pun sukses memukau penonton.

Setelah konser berakhir, kursi disusun kembali untuk memberi ruang bagi para pengunjung. Tujuan saya berikutnya adalah suatu tempat yang memang sengaja saya sisakan untuk penutup yang manis. Menara tertinggi katedral Nidarosdomen yang dapat dicapai dari tangga di sudut kanan sayap selatan gedung gereja. Tahun 2013, ketika saya berada di Munich, saya juga pernah menaiki 139 anak tangga untuk mencapai puncak menara salah satu gereja tertua di pusat kotanya. Ternyata, menyaksikan kota dari ketinggian telah diam-diam menjadi hobi saya. 😀 Kali ini saya bermaksud menantang kemampuan diri dengan menaiki menara yang lebih tinggi lagi, yaitu 172 anak tangga.

Untuk mencapai puncak menara, pengunjung tidak diperbolehkan naik sendirian. Harus ada pemandu yang membimbing mereka. Pemandu ini akan mengumpulkan para pengunjung yang hendak mengikuti tur singkat ke menara sekaligus menarik biaya tiket tambahan sebesar 40 NOK. Pemandu grup saya saat itu namanya Maria. Sebelum mulai naik, Maria berpesan pada kami bahwa ukuran tangga yang akan kami naiki sangat sempit, sehingga bagi peserta yang berpenyakit atau berbadan terlalu besar untuk ukuran tangga disarankan untuk mengundurkan diri. Ia menambahkan peringatan itu dengan menceritakan tentang seorang turis yang sangat gemuk dan terjepit di tangga.

Dari sejumlah turis yang berkumpul dan berniat naik, akhirnya tersisa enam orang termasuk saya dan pacar saya. Dua orang lainnya adalah pasangan turis berbahasa Italia dan dua lainnya adalah pria dan wanita yang umurnya cukup tua. Rombongan kami pun mulai menaiki tangga dengan Maria berada di urutan paling belakang karena ia harus siap mengantar turun apabila ada anggota rombongan yang tiba-tiba sakit atau mengalami klaustrofobia akibat sempitnya tangga. Benar saja, ketika tangga sampai pada lingkaran kedua, dua orang tua tersebut menyerah dan turun. Saya pikir, sayang sekali 40 Kroner mereka, tapi lebih baik daripada tiba-tiba sakit atau tewas. Sebelum melanjutkan langkah, saya menunggu Maria kembali, sengaja agar saya mudah jika ingin bertanya-tanya.

Setelah tiga tingkat saya lalui, saya tiba di sebuah pintu. Pintu tersebut mengarah ke pelataran dalam gereja yang mengelilingi aula-aula besarnya. Akan tetapi, pelataran tersebut terbilang sempit, sehingga hanya dapat digunakan untuk lewat saja. Di situ saya menyadari adanya bendera yang lebih mirip permadani dinding tergantung menjulur ke bawah dari langit-langit sayap selatan gereja. Salah satunya bersimbol kerajaan Inggris. Menurut penjelasan Maria, bendera tersebut dipasang sebagai penghormatan terhadap Inggris yang telah bersedia menampung keluarga kerajaan Norwegia yang mengungsi selama Perang Dunia II. Karena alasan yang sama pula, Nidarosdomen juga menyelenggarakan misa gereja Anglikan. Info tambahan, Nidarosdomen dimiliki oleh tiga denominasi gereja yang bergantian merayakan misa atau kebaktian di dalamnya, yaitu Katolik, Protestan dan Anglikan.

Melalui pelataran dalam tersebut, saya menyeberang menuju bagian tengah gereja tempat tangga menuju menara terletak. Pintu menuju tangga berukuran lebih kecil dari pintu yang saya lalui sebelumnya. Demikian pula tangga yang melingkar-lingkar menuju puncak. Ruang tangga yang sempit dan anak tangga yang ketinggiannya tidak selalu sama membuat saya harus berhati-hati menaikinya. Ternyata, pembangunan tangga yang demikian bukan tanpa alasan. Tangga-tangga menuju menara di bangunan abad pertengahan selalu didesain sempit, tidak rata dan melingkar searah jarum jam. Alasannya karena hal tersebut memudahkan penghuni bangunan bertahan dari serangan musuh. Musuh yang menyerang dari bawah dan menaiki tangga akan kesulitan mengayunkan pedang karena ruang dekat bagian tengah tangga yang tersedia bagi tangan kanan mereka lebih sempit, terlebih lagi tidak ada pegangan di tangga menara tersebut. Sementara itu, tangan kanan penghuni yang bertahan memiliki ruang yang lebih luas untuk mengayunkan pedang karena berada dekat dinding luar tangga. Kondisi anak tangga dengan ketinggian tidak sama juga menguntungkan pihak penghuni yang sudah hafal dengan kondisi rumahnya sendiri. Musuh yang harus berjalan dalam kegelapan akan lebih sulit menapak dengan hati-hati. Hebat ya, ternyata, arsitek-arsitek abad pertengahan sudah mampu berpikir sedetil itu.

Tapi bangsa Viking ‘kan badannya tinggi-tinggi, bagaimana bisa mereka melalui tangga sesempit ini dengan leluasa? Pertanyaan saya langsung disambut jawaban Maria yang tidak saya duga. Katanya, orang Norwegia termasuk bangsa Viking pada abad pertengahan memiliki tinggi rata-rata yang hanya 160 cm. Sulit dipercaya ya, Pembaca? Mereka hanya 10 cm lebih tinggi dari saya! Dan lagi, mereka sudah merupakan yang tertinggi di Eropa di masa itu. Berarti tinggi rata-rata penduduk Eropa abad pertengahan mungkin lebih rendah dibandingkan penduduk Indonesia di masa kini.

Setelah dua kali berhenti karena harus mengatur nafas, saya tiba dengan selamat di puncak menara. Saya lihat Chris ternyata lebih ngos-ngosan lagi. Sepertinya badannya yang nyaris terlalu besar untuk ruang tangga lumayan menyulitkan dirinya. Kami beristirahat sejenak sebelum melangkah ke pelataran di puncak menara. Maria tidak ikut, karena ia akan berjaga di dekat pintu dan siap apabila ada dari kami yang ingin bertanya. Ia akan menjadi orang terakhir yang turun setelah kami semua puas melihat-lihat dan memutuskan untuk kembali.

Akhirnya saya melangkah keluar. Dengan berpegangan pada atap menara, saya berjalan pelan-pelan memutari puncak menara sembari mengagumi keindahan Trondheim dari ketinggian. Pemandangan terindah ada di sisi utara yang menghadap ke fjord. Dari situ terlihat pula Munkholmen yang tampak kecil di Trondheimsfjord, yaitu sebuah pulau tempat sebuah biara yang telah berdiri sejak abad pertengahan berada. Biara tersebut sempat menjadi penjara dan benteng pada zaman-zaman setelahnya dan saat ini menjadi museum yang dapat dikunjungi dengan menumpang perahu dari pelabuhan Trondheim. Sementara itu, pelataran sisi selatan menyajikan pemandangan sungai Nidelva yang berkelok-kelok di belakang kompleks istana uskup yang kini telah menjadi museum.

13912763_10157956428770377_3627441134496933_n

Munkegata dengan Munkholmen yang tampak di kejauhan.

IMG_4118

Sisi barat kota Trondheim.

IMG_4125

Sisi timur kota Trondheim.

IMG_4128

Pekarangan dalam benteng yang dulunya kompleks istana uskup.

IMG_4127

Sisi selatan kota Trondheim dan Sungai Nidelva.

Sambil berjalan memutari pelataran, Chris menceritakan pengalamannya kepada saya. Ternyata, kunjungan kami ke Nidarosdomen saat itu bukan yang pertama untuknya. Waktu masih kecil, dia pernah juga naik ke menara ini bersama orang tuanya, tapi saat itu ia berjalan merangkak karena takut ketinggian. Haha, lucunya! Saya dulu juga pernah jadi penakut, takut berdiri di atas gunung karena saya pikir saya akan merosot karena gunung itu miring. :’D Selagi mengobrol, saya juga memperhatikan atap menara yang berwarna hijau telur asin. Warna tersebut sama dengan atap gereja katedral di Jakarta. Belakangan saya baru mengetahui bahwa untuk membuat warna tersebut, arsitek dan konstruktor bangunan yang bertugas merestorasi Nidarosdomen menggunakan campuran dari air seni hewan dan zat kimia yang sifatnya asam. Hiiiyyy…

IMG_4113

Menara barat laut yang terdapat patung malaikat Mikael dan atap hijau gereja.

Setelah selesai mengitari pelataran, saya kembali bertemu dengan Maria yang menunggu di dekat tangga. Kami adalah dua orang terakhir yang tiba. Pasangan yang berbahasa Italia yang naik bersama kami tadi sudah turun lebih dahulu. Sebelum turun, kami meminta tolong Maria untuk mengambil foto kami berdua. Sambil cekikikan tiba-tiba Chris iseng bertanya apakah mungkin menyewa Nidarosdomen untuk pernikahan. Wah, sebetulnya dari tadi saya juga bertanya-tanya, Pembaca. Siapa yang tidak bermimpi menikah di gereja seindah ini dan sebersejarah ini? Kebetulan saya juga pecinta sejarah abad pertengahan. Pas banget pokoknya! Sambil tertawa pula Maria menjawab, bahwa untuk menikah di Nidarosdomen calon pengantin harus membooking dari 2 tahun sebelum tanggal pernikahannya. Untuk menikah dikenakan biaya sebesar 11000 NOK, sudah termasuk segala fasilitas di dalamnya termasuk pastur yang menikahkan dan koor. Wah, saya jadi bermimpi nih, Pembaca. 😀

13880167_10157956429250377_248092827643299993_n

Oleh-oleh foto dari Maria, pemandu wisata kami.

Kunjungan ke menara menjadi penutup dari rangkaian tur saya di Nidarosdomen. Tidak terasa berjam-jam sudah saya habiskan untuk menjelajah katedral abad pertengahan tersebut. Keluar dari bangunan gereja, saya baru tersadar bahwa tiket saya berlaku untuk dua museum lain. Saya melihat jam di ponsel sudah menampilkan angka 14.00. Dengan terburu-buru saya berlari menyeberangi halaman depan gereja menuju kompleks yang terpagari benteng tua yang tampak seperti bangunan abad pertengahan. Di balik tembok tersebut terdapat lapangan lagi dengan papan penunjuk jalan yang memberi tahu arah kedua museum lain yang bisa diakses dengan tiket terusan. Saya langsung menuju museum pertama yang berada dekat dengan pintu masuk di benteng tersebut. Tentu saja saya harus kecewa ketika petugas museum di balik meja resepsionis memberi tahu bahwa mereka akan tutup. Ternyata, selain akhir pekan, museum-museum di area tersebut hanya buka dari pukul 10.00 sampai 14.00 saja. Nyaris saja saya pulang dengan kerugian sebesar 120 NOK jika saja mas-mas petugas tidak mengatakan pada saya bahwa tiket terusan berlaku 3 hari. 🙂

13557762_10157774297340377_1033448694795456581_n

Foto berdua dulu sebelum pulang 🙂 🙂 🙂

Akhirnya, saya dan Chris berniat untuk kembali ke Trondheim esok hari sebelum kami meneruskan perjalanan ke utara. Sebagai penghibur akan gagalnya kami mencapai museum lainnya tepat waktu, kami beranjak menuju bangunan bersejarah lain di kota tersebut yang layak dikunjungi. Bangunan tersebut merupakan sebuah jembatan tua yang menyeberangi sungai Nidelva dan terletak di sebelah timur jika berjalan dari Nidarosdomen. Dari bentuknya, jembatan tersebut tak lebih dari jembatan biasa, meski ia memiliki dua gapura merah dari kayu yang disebut oleh Gerbang Kebahagiaan (Lykkens Portal) oleh masyarakat setempat. Selain nama tersebut, jembatan tua itu tidak memiliki nama lain. Orang menyebutnya Gamle Bybrua saja, yang kalau diterjemahkan memang bermakna Jembatan Kota Tua.

IMG_4143

Gamle Bybrua yang memiliki jalur sepeda dan pejalan kaki.

IMG_4135

Plakat tentang sejarah pembangunan jembatan.

Gamle Bybrua pertama kali berdiri pada tahun 1685 setelah kebakaran besar yang melanda Trondheim yang juga menghancurkan Nidarosdomen. Jembatan ini menggantikan jembatan lama yang dibiarkan hancur, yaitu Elgeseter. Konon, kenampakannya berbeda sekali dengan yang dapat kita lihat saat ini. Dahulu, jembatan ini terbuat dari kayu yang berdiri di atas tiga penyangga dari batu. Jembatan ini tertutup dan memiliki gerbang. Di setiap ujungnya terdapat pos jaga tempat orang membayar pajak jika ingin melintas. Pada masa itu, fungsinya lebih sebagai menjaga dari serangan musuh dibandingkan sebagai penghubung antarzona kota.

Jembatan versi modernnya berdiri pada 1861. Ia tidak lagi memiliki gerbang dan tertutup, bahkan memungkinkan saya untuk melihat pemandangan rumah-rumah tua dan dermaga di kedua tepi sungai. Rumah-rumah beraneka warna ini memang menjadi ciri khas pelabuhan di Norwegia. Ia tidak hanya terdapat di Trondheim, tetapi juga di Bergen (yang paling terkenal) dan Oslo (yang sudah menjadi kawasan elit dan modern). Gamle Bybrua tidak mengalami perubahan ukuran lebar jalan. Kebanyakan hanya pejalan kaki dan sepeda yang menyeberang melalui jembatan ini. Setidaknya, saya tidak sempat melihat mobil melaluinya ketika saya berada di sana.

IMG_4136

Rumah-rumah pelabuhan dan dermaga.

IMG_4137

Rumah-rumah beraneka warna.

13873111_10157956430155377_3751723672716774171_n

Sisi lain Sungai Nidelva.

IMG_4147

Numpang narsis di Gamle Bybrua.

Berputar-putar di Trondheim akhirnya membuat perut saya keroncongan. Saya teringat makanan yang terakhir saya makan adalah waktu sarapan tadi. Saya dan Chris memutuskan untuk mampir ke mall nanggung yang ada di alun-alun sambil menunggu orang tuanya menjemput kami kembali ke perkemahan. Saat itu, suasana berisik sekali karena sedang ada konser musik dan bazaar di alun-alun. Ingatan saya melayang ke dua tahun lalu, ketika saya berada di kota ini pertama kali. Hotel yang saya tempati tidak jauh dari alun-alun maupun Nidarosdomen. Akan tetapi, saat ini hotel tersebut sudah tidak tampak lagi. Dua tahun cukup untuk mengubah sedikit wajah kota itu. Di sana-sini memang saya lihat sedang ada banyak perbaikan jalan. Tampak dari banyaknya area di dekat alun-alun yang dipagari tanda larangan untuk dilewati. Sebetulnya area tersebut bukan perbaikan jalan, namun hal itu akan saya ketahui pada hari berikutnya, ketika saya melanjutkan petualangan saya di Trondheim.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Situs resmi Nidarosdomen:

http://www.nidarosdomen.no/en/

Situs resmi kota Trondheim:

https://trondheim.com/

Artikel tentang Gamle Bybrua:

https://www.visitnorway.com/places-to-go/trondelag/trondheim/things-to-do/attractions/the-old-town-bridge-gamle-bybro/

Disclaimer: foto-foto di dalam katedral diambil oleh Chris, entah bagaimana ia bisa mengambil foto di dalam saya juga tidak tahu 😀

Antibosan di Kala Berkemah: Main di Pantai, Yatzy dan Obrolan Antarbudaya

Saya terbangun pada pagi hari kedua di perkemahan karena merasa tempat tidur saya semakin lama semakin tidak nyaman. Usut punya usut, setelah merangkak keluar dari ruang tidur, saya baru tahu bahwa matras saya kempes. Sepertinya karena memang sudah tua dan mungkin udaranya keluar pelan-pelan selama saya tertidur. Dimulailah pekerjaan memompa matras yang melelahkan tersebut untuk kedua kalinya.

Selesai dengan matras dan melipat selimut, saya dan yang lainnya duduk mengitari meja makan untuk menyantap sarapan yang tak lain dan tak bukan adalah smørbrød. Ellen sudah mengambil beraneka macam topping dari kotak pendingin di mobil dan menyebarnya di atas meja. Berbagai pilihan topping dari asin, manis sampai tidak berasa tersedia di sana. Saya sih masih tetap setia dengan topping favorit saya. 🙂

Tidak ada waktu banyak untuk berleha-leha di hari itu, karena kami semua sudah punya kegiatan sepanjang siang hingga sore hari. Orang tua Chris akan pergi memancing di laut sedangkan kami berdua akan mengunjungi sebuah kota kenangan. Aduh, istilahnya ya, Pembaca hehehe 😛 Akhirnya, saya memutuskan untuk mandi dan keramas sambil menunggu baterei ponsel saya terisi penuh kembali. Percaya tidak percaya, kompleks perkemahan ini canggih juga. Setiap tenda mendapatkan satu rol berisi empat stop kontak untuk listrik yang langsung tersambung pada pancang-pancang listrik yang tersebar di area tersebut. Tidak hanya itu, kompleks perkemahan Flakk Camping ini juga memiliki akses wifi gratis bagi para tamu-tamunya. Tentu saja kecepatannya bukan kecepatan super yang cocok untuk streaming film di Youtube, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan browsing standar. Akses wifi tercepat dapat diperoleh di dekat bangunan resepsionis yang menyatu dengan kamar mandi dan dapur.

img_5438-730x350

Bangunan resepsionis yang tersambung dengan kamar mandi dan dapur.

Saat saya tiba di kamar mandi, saya tidak lagi mendapati keadaan sepi seperti malam sebelumnya. Kali ini ada beberapa pekemah lain yang sudah di sana. Saya harus mengantri satu giliran untuk dapat menggunakan salah satu bilik kamar mandi di situ. Selain itu, saya tidak lagi bisa berlama-lama menikmati air panas gratis karena ketika saya di dalam, saya mendengar suara kasak-kusuk beberapa orang di luar, yang sepertinya juga mengantri mandi di belakang saya. Salah juga memutuskan untuk keramas sekarang. Untungnya saya punya motivasi lain, yaitu cepat-cepat berangkat menuju kota kenangan agar sempat melihat banyak hal di sana.

Kami diantar oleh Tor Vidar dengan mobil menuju kota tersebut. Kami berangkat pada pukul 11.00 pagi dan menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Sementara itu, Ellen dengan baik hati menawarkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk karena kami belum sempat mencuci sama sekali di perjalanan tersebut. Mungkin kalau di negara kita, yang begini sudah dibilang tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Saya enak-enak bermain sedangkan ibunya yang sudah membantu saya agar bisa mewujudkan road trip impian ini sibuk mencuci pakaian kotor sendiri. Sudah begitu, cucian di perkemahan tersebut tidak boleh ditinggal-tinggal karena kemungkinan pencurian atau hilang selalu ada. Sebetulnya di Norwegia sendiri tidak banyak peristiwa pencurian, tetapi kompleks perkemahan ini ‘kan untuk wisatawan mancanegara.

Saya menghabiskan waktu di kota kenangan hingga pukul 18.00. Sesungguhnya petualangan saya belum berakhir ketika saya dijemput kembali setelah orang tua Chris selesai memancing. Untungnya, mereka bersedia mengantar kami kembali ke kota tersebut esok pagi. Cerita tentang petualangan di kota kenangan ini, berikut nama kotanya akan saya bagikan di bagian selanjutnya ya, Pembaca 🙂 Sepanjang jalan pulang kami saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tentang impian yang saya miliki di kota yang baru saja saya kunjungi dan tentang ketidakberuntungan orang tua pacar saya dalam mendapatkan banyak ikan. Sebelum kembali ke perkemahan, kami pun sempat mampir di sebuah minimarket (menurut saya, karena bagi orang di pedesaan tersebut toko itu adalah supermarket) untuk membeli bahan makan malam.

Tiba kembali di kemah, saya mendapati tetangga-tetangga kami telah berganti. Kini di seberang kami berdiri sebuah lavvu, yaitu tenda kerucut khas suku Sami, suku asli yang mendiami wilayah utara Skandinavia. Saya mengira penghuninya pun orang Sami, ternyata bukan. Tenda besar itu milik sebuah keluarga Filipina yang salah satu anggotanya menikah dengan orang Norwegia. Filipina-Norwegia adalah pasangan Skandinasia paling mainstream di negara tersebut. Seperti orang-orang Indonesia, keluarga yang didominasi perempuan tersebut bersuara sangat lantang dibandingkan mayoritas wisatawan Eropa yang ada di sana. Mereka sibuk main kartu, memasak, dan melakukan aktivitas lainnya dengan disertai mengobrol dan bercanda. Suara cekikikan berulang kali terdengar. Suasana yang tadinya tenang seperti di hutan tiba-tiba berubah seperti suasana bus sekolah yang dipenuhi murid-murid yang hendak pergi study tour. 😥

Meski cukup berisik, sepertinya aktivitas tersebut legal karena tidak ada yang menegur. Saya pun memutuskan untuk menghindari keramaian dengan pergi mengeksplor berbagai sudut perkemahan. Lagi-lagi saya dan Chris meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk memasak makan malam. Tujuan utama saya sebetulnya adalah pantai yang terletak di daerah perkemahan tersebut. Tentu saja saya tidak berharap banyak, karena saya tahu bahwa pantai-pantai di sini tidak akan seindah di kampung halaman saya. Satu hal yang saya inginkan adalah memperoleh cinderamata dari alam berupa bebatuan unik atau kulit kerang. Saya memang hobi mengumpulkan benda-benda dari alam ketika sedang bepergian. Selain batu dan kulit kerang, saya mengoleksi daun kering, bunga liar dan bulu burung yang jatuh di tanah.

Ternyata, akses menuju pantai tidak mudah untuk ditemukan. Mula-mula saya berusaha memasuki pantai dari sisi kiri yang dekat dengan dermaga feri. Daerah tersebut dipenuhi oleh karavan wisatawan dan para pekemah yang tengah berjemur. Tidak ingin mengganggu, saya pun berjalan melewati jalan setapak dan mencari daerah yang sepi oleh pekemah. Bagian tengah pantai tampak sepi, tetapi begitu tiba di sana, saya mendapati kumpulan semak-semak berupa rerumputan tinggi yang tampak tajam. Karena saya hanya mengenakan sandal jepit, saya tidak berani menerobos semak-semak tersebut. Di situ pula saya menyadari hal yang lucu. Rupanya, identiknya pantai dan sandal jepit itu hanya ditemukan di pantai-pantai tropis atau Mediterania. Saya mengamati anak-anak wisatawan yang bermain di sisi kiri pantai rata-rata mengenakan sepatu bot karet atau sepatu lain yang tertutup. Wah, memang ya, beda alam beda pakaian hahaa 😀

img_5309-730x350

Pantai dekat Flakk Camping. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

275-640x306

Dermaga dekat penyeberangan feri. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

img_6765-730x350

Kadang-kadang dari pantai juga tampak kapal-kapal yang melintas. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

Setelah kembali ke jalan setapak dan menyusuri deretan kabin, saya menemukan akses mudah menuju pantai, yang ternyata dipagari kawat berduri dan dipasangi tulisan yang kira-kira berarti “wilayah privat”. Lho, kok wilayah privat? Bukankah di Norwegia ada hak mengakses alam bagi semua orang? Saya pun belajar bahwa semua kebebasan ada batasnya. Rupanya, allemansratten yang terkenal itu tidak mutlak berlaku di semua wilayah. Ada beberapa wilayah yang sangat dekat dengan alam yang masih termasuk wilayah privat. Umumnya wilayah tersebut adalah lahan pertanian dan peternakan.

Kecewa karena tidak menemukan akses ke pantai, saya hampir menyerah dan bermaksud kembali ke tenda. Akan tetapi, rasa penasaran dan semangat menjelajah saya terus membujuk saya untuk pergi ke pantai. Akhirnya setelah intip sana longok sini, saya dan Chris pun berhasil mencapai pantai dengan menemukan sebuah perahu yang terparkir tak jauh dari salah satu kabin. Perahu tersebut seakan menjadi penunjuk jalan bagi kami untuk menuju pantai yang nyaris tidak berpasir dan dipenuhi bebatuan. Laut yang berada di dekatnya pun tidak tampak indah karena dipenuhi ganggang hijau dan rumput laut yang membuat airnya pun berubah menjadi hijau seperti beracun. Pokoknya jelek deh kalau dibandingkan dengan pantai di negara tropis.

13707655_10210506183117320_4820452775019664205_n

Sisi indah pantai yang berhasil saya abadikan.

13754412_10210506182877314_6049990346547174463_n

Di sebelah kiri adalah pelabuhan feri.

Saya pun langsung berfokus pada pencarian bebatuan dan kerang unik. Di dekat pagar yang membatasi pantai dengan wilayah privat tadi, terdapat hamparan bebatuan putih yang dipenuhi dengan kulit kerang yang tersapu ombak hingga ke pantai. Saya melompati bebatuan, mencelupkan kaki di air laut dan melewati onggokan-onggokan rumput laut kering yang terbawa ombak hingga tiba ke hamparan bebatuan tersebut. Selagi saya sibuk mencari kerang, Chris mencari bebatuan unik di dekat laut. Tiba-tiba ia memanggil saya untuk mengingatkan agar saya berhati-hati, karena ternyata ia menemukan banyak paku dan besi-besi rongsokan yang sudah berkarat teronggok di salah satu bagian pantai. Rongsokan berkarat tersebut mengubah warna bebatuan putih menjadi coklat kemerah-merahan. Tampaknya rongsokan besi tersebut berasal dari rongsokan perahu atau kapal yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Agak kecewa melihat ketidaksempurnaan keindahan alam di negeri impian saya 😦

13718608_10210506184757361_1845469634209788576_n

Warna bebatuan yang kemerahan terkena karat dari rongsokan besi.

13690808_10210506184797362_7051292684426885602_n

Pantai tiga warna: merah di kanan bawah, hijau abu-abu di kiri bawah dan putih di bagian atas.

Meski keindahannya tak sempurna dan jauh tertinggal dibandingkan pantai Indonesia, kami menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai tersebut hingga matahari menjelang terbenam. Kami berhasil mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan unik sebanyak yang mampu kami bawa dengan tangan kosong, karena kami lupa membawa wadah atau kantong plastik. Dengan perut yang mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan menyantap makan malam.

Ketika kami tiba, makan malam sudah terhidang di atas meja lipat plastik yang kami bawa. Hari itu menunya adalah nasi dengan lauk berupa campuran daging sapi, jamur dan paprika bersaus coklat kental yang entah apa namanya. Saya suka menyebutnya nasi kari Norwegia, meskipun menurut pakar masakan pasti namanya lain lagi. Saya juga harus menyebutkan, bahwa nasi di sini lebih pulen dibandingkan nasi di beberapa wilayah di Indonesia (kecuali di rumah saya tentunya, karena saya sangat suka nasi pulen). Mengapa bisa demikian? Rahasianya adalah karena mereka tidak kenal magic jar atau magic com dan alat-alat memasak nasi lainnya. Beras di Norwegia tidak dijual dalam karung-karung seperti di Indonesia, tetapi di dalam kotak-kotak semacam sereal. Di dalam kotak tersebut, beras sudah ditakar per porsi di dalam plastik-plastik yang aman jika terkena panas. Yang harus kita lakukan tinggal memasukkan plastik itu ke dalam air panas dan merebusnya selama kira-kira 10-15 menit sampai nasi tanak. Sejujurnya saya lebih suka cara ini karena kepraktisannya. Tidak perlu lagi mencuci beras atau membersihkan magic jar. Kita pun bisa sesekali memeriksa tingkat kepulenan nasi tanpa harus buka tutup magic jar yang sedang memasak. Tidak ada tuh istilah nasi kurang air, setengah jadi dan sebagainya. Hehehe 😛

Kami semua menyantap makan malam tersebut dengan lahap, bahkan ada yang menambah. Selesai makan dan membereskan piring kotor, kami tak juga beranjak dari meja makan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam kedua di tenda tersebut dengan bermain Yatzy. Permainan ini sebetulnya versi Skandinavianya Yahtzee, hanya berbeda sedikit pada aturannya. Sejak mencoba bermain pada malam tahun baru 2016, saya agak ketagihan main ini. Cara bermainnya adalah dengan mengocok enam buah dadu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan permintaan dalam daftar dan jumlahnya sebesar mungkin. Misalnya, dua buah angka yang sama dan tiga buah angka yang sama, maka saya harus memperoleh misalnya 3 x angka 6 dan 2 x angka 5. Yang menang adalah yang mengumpulkan angka tertinggi jika seluruh hasil dijumlah. Permainan ini akan jadi seru kalau hokinya besar, karena untuk menang memang sangat mengandalkan hoki. Akhirnya segala cara yang nggak masuk akal pun dicoba, misalnya meniup-niup dadu sebelum dilempar. Ya kali bakal ada efeknya 😀

Ketika saya bermain di malam tahun baru, saya ketiban keberuntungan pemula. Baru mencoba main pertama kali, saya langsung menang. Lain dengan permainan di kemah. Tiba-tiba keberuntungan saya hilang seperti tertiup angin. Dua sampai tiga ronde bermain, nama saya hanya nangkring di posisi dua atau tiga. Sepertinya saya harus bersyukur dengan tidak menempati posisi bontot. Sebaliknya, Chris yang berada di urutan terakhir di malam tahun baru justru menang atau berada di atas saya. Begitulah, Pembaca, serunya bermain Yatzy yang hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Selain itu, permainan ini juga merupakan antibosan yang ampuh ketika berkemah atau melakukan perjalanan panjang. Sayangnya, ia tidak begitu populer di Indonesia.

Karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, Tor Vidar yang akan menyetir pun pamit tidur setelah permainan selesai. Sementara itu, saya, Chris dan Ellen duduk-duduk di sekitar meja makan dan mengobrol. Saya pun memanfaatkan waktu itu sambil mengerjakan salah satu hobi saya, yaitu mewarnai. Sekedar info, saya salah satu penggemar berat adult coloring book. 😛 Sambil menggerakkan spidol di atas gambar yang saya warnai, saya bertanya banyak hal, mula-mula dengan Chris. Kami mendiskusikan tentang perbedaan budaya – hal yang sangat saya sukai.

Saya bertanya tentang hal yang selama dua hari ini telah saya dan dia lakukan – sibuk bermain selagi orang tuanya mengurus segalanya. Kalau di Indonesia, hal tersebut sudah pasti dianggap kurang sopan, apalagi jika pihak orang tua tidak mengungkapkan izinnya atau justru menyuruh anaknya untuk pergi bermain. Mendengar pembicaraan kami, Ellen pun ikut menimbrung. Ia menjelaskan bahwa memang demikian hubungan anak dan orang tua di negaranya. Secara fisik terkesan sama sekali tidak dekat. Jujur saja, saya cuma pernah lihat Chris dan orang tuanya berpelukan ketika ia hendak pergi jauh, misalnya ke tempat saya. Sedangkan saya sampai sekarang masih suka gelendotan ke ibu saya. 😀 Selain itu, orang tua dan anak kedudukannya relatif setara, terutama ketika sang anak sudah dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, di mana kedudukan orang tua dan anak ya atas bawah, bahkan kadang-kadang sampai anaknya menikah (apalagi kalau anaknya perempuan).

Mendengar cerita saya, Ellen balik bertanya apakah orang tua di Indonesia sangat ketat dalam mendidik anak. Saya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan Skandinavia, tentu terkesan sangat ketat, tetapi kami juga sangat dekat secara fisik dan emosional. Chris bilang, di Norwegia, anak-anak justru tidak sabar untuk lepas dari orang tuanya. Semakin mereka dewasa, mereka akan semakin berusaha menjauh. Fenomena ini juga ada di Indonesia, tetapi tentu kita tidak bisa sebebas itu. Ada hubungan timbal balik yang sangat berbeda antara kedua negara tersebut.

Di Indonesia, ketika orang tua memutuskan untuk memiliki anak, sebagian besar masih banyak berpikir bahwa mereka akan melakukan pengorbanan besar demi pertumbuhan anaknya. Tetapi pengorbanan besar tersebut seringkali bukan tanpa pamrih. Ada beberapa orang tua yang saya kenal yang kemudian berekspektasi bahwa anaknya akan berbalik membantunya ketika sudah dewasa. Membantu di sini bukan secara fisik, tetapi materi. Misalnya dengan berprofesi yang menghasilkan banyak uang atau bahkan (yang lebih parah), meneruskan cita-cita orang tuanya yang tidak kesampaian. Menurut analisis sederhana dan amatiran saya, penyebabnya adalah kurang baiknya kondisi kesejahteraan dan perekonomian negara. Wah, jauh sekali ya! Mengapa bisa demikian?

Saya bandingkan keadaaan di Indonesia dengan keadaan di Norwegia berdasarkan penjelasan Chris dan ibunya. Di Norwegia, sebuah negara yang ekonominya sudah sejahtera, orang tua tidak terlalu pusing memikirkan pengorbanan besar berupa materi yang harus mereka keluarkan demi membesarkan anak. Ketika anak lahir, mereka sudah memperoleh tunjangan dari pemerintah, kalau tidak salah sampai anak tersebut berusia 18 tahun. Selain itu, biaya pendidikan yang biasanya menelan paling banyak porsi dari bujet hidup sudah gratis, kecuali universitas. Ditambah lagi, ketika orang tua sudah pensiun, mereka mendapat uang pensiun yang jumlahnya tidak kecil dari pemerintah. Nah, kebayang ‘kan, dari situ saja bebannya sudah berkurang banyak. Begitulah kalau uang rakyat tidak dikorupsi. Padahal dua negara di atas sama-sama penghasil minyak. 😉 Intinya, orang tua dan anak menjadi tidak punya tanggung jawab bantuan materi secara timbal balik seperti di Indonesia.

Memikirkan hal tersebut, saya pun jadi penasaran. Di Indonesia, orang tua banyak yang bekerja keras membanting tulang agar anaknya dapat kuliah setinggi-tingginya, sehingga ketika anak gagal memperoleh pekerjaan yang sebanding dengan biaya kuliahnya, orang tua pun jadi kecewa. Bagaimana keadaannya di negeri matahari tengah malam ini? Ternyata, hal tersebut sangat jarang terjadi, Pembaca. Menurut Ellen, ada beberapa orang tua yang melakukannya dan tentu hal tersebut – menabung dari hasil kerja demi kuliah anaknya – adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, sebagian besar orang tua menganggap kuliah adalah pilihan anaknya dan tidak wajib, sehingga jika mereka ingin berkuliah, merekalah yang harus mencari uangnya sendiri. Toh sebetulnya biaya kuliah tidak terlalu mahal dan ada program pinjaman pemerintah. Saya pernah cek biaya kuliah sebuah jurusan sastra di Universitas Bergen hanya sebesar Rp 800.000,- kalau dikurs ke Rupiah, sedangkan saya ketika di UI dulu satu semester bisa 3 juta! Alhasil, anak-anak yang ingin kuliah banyak yang membiayai sendiri kuliahnya, misalnya dengan bekerja part time. Wah, berbeda sekali ya 🙂

Pada akhirnya, kedua budaya yang berbeda tersebut tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, ada keyakinan populer di masyarakat bahwa sebetulnya yang dibutuhkan manusia adalah relasi dan komunikasi dengan manusia lainnya. Terlalu individualis tentu saja tidak baik. Di sisi lain, manusia memang pada dasarnya terlahir seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Ada baiknya belajar menjadi mandiri sepenuhnya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita terpaksa berdiri sendiri atau kapan orang-orang yang biasa membantu tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya, diskusi itu membuat saya berkesimpulan dan bertekad untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak-anak di masa depan saya dengan budaya Skandinasia, gabungan antara Skandinavia dan Asia, Norwegia dan Indonesia. Itu pun kalau hubungannya berlanjut, hehehe 🙂 Doakan saja ya, Pembaca!

mit Liebe,

Frouwelinde

 

 

 

Asyiknya Berkemah Pertama Kali

Ketika teman-teman saya dulu berlomba-lomba naik gunung dan berkemah, saya sama sekali tidak tertarik. Bayangan saya, berkemah itu repot. Sudah bawa-bawa tenda di backpack (tahu sendiri badan saya mungil ^^), harus masak sendiri pakai bahan-bahan yang juga harus dibawa, plus bingung kalau mau mandi. Dulu sekali waktu saya kecil, saya pernah ke Bumi Perkemahan Pramuka yang ada di Cibubur. Setelah lihat keadaannya plus kamar mandinya, saya menyimpulkan bahwa berkemah itu bukan untuk saya.

Baru setelah saya punya pacar di kampus, yang sekarang sudah jadi mantan, saya mulai tertarik berkemah. Ini gara-gara mantan saya itu aktif di kegiatan kampus seperti Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) dan organisasi lainnya yang untuk team building saja harus berkemah segala, di tepi laut pula. Saya ingat di salah satu ceritanya, dia pamer ke saya soal melihat bintang di malam hari dari luar tenda. Katanya, biasanya daerah perkemahan yang di alam bebas itu gelap, sehingga polusi cahaya sedikit dan bintang-bintang di langit jadi kelihatan. Mupenglah saya sejak saat itu. Hahaha…

Nasib kurang berpihak pada saya. Selama saya di Indonesia, saya tidak pernah punya kesempatan berkemah. Pernah suatu kali saya diajak oleh mantan saya, yang tentunya kepentok izin orang tua. Ternyata, kesempatan saya memang ditahan dulu oleh Tuhan yang Mahaesa. Sama seperti pengalaman berlayar, saya pun berkemah pertama kali justru bukan di Indonesia melainkan di Norwegia. *sembah sujud kepada Tuhan yang Maha Memberi* huehehe 😛

Awalnya, kami tidak berencana untuk berkemah. Rencananya, setelah dari Trollstigen, kami akan bergerak ke arah utara menuju sebuah kota bernama Trondheim. Kota ini adalah kota terbesar ketiga di Norwegia dan kami berencana untuk menginap di kabin yang tidak jauh dari sana. Kabin yang kami incar letaknya di dalam kompleks Øysand Camping, yaitu sebuah lokasi berlibur yang dilengkapi kabin-kabin dan lahan untuk mendirikan kemah. Letak kompleks ini sekitar satu jam di selatan Trondheim dan langsung menghadap ke laut lepas yang juga adalah Fjord Trondheim. Kompleks kemah ini juga memiliki pantai berpasir sepanjang 2 km. Kebayang ‘kan cantiknya?

Ada dua rute yang bisa digunakan untuk mencapai Øysand dari Trollstigen. Rute pertama melalui Åndalsnes dan berjarak lebih pendek, tetapi harus menyeberangi fjord beberapa kali. Rute kedua jauh lebih panjang karena memutari Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella yang luas, tetapi tanpa fjord. Kami memutuskan untuk mengambil rute yang panjang untuk menghemat biaya, karena kapal feri untuk menyeberangi fjord itu tidak murah juga kalau dihitung-hitung.

Saya tidak begitu ingat apa saja yang saya lihat di sepanjang perjalanan selain pegunungan yang dikelilingi hutan-hutan hijau yang di antaranya terselip desa-desa kecil dan sungai-sungai yang berkelok-kelok. Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella sendiri merupakan rangkaian pegunungan yang diapit lembah-lembah di antaranya. Salah satu rangkaiannya, Trollheimen, pernah muncul dalam salah satu film horor Norwegia yang saya tonton, judulnya “Trollhunter”. Trollheimen, seperti namanya, menjadi sebuah dataran tinggi yang didiami oleh troll-troll berukuran raksasa yang mengejar manusia yang memburunya. Meskipun digambarkan suram dan dingin di dalam film, dataran tinggi yang berada di taman nasional ini sangat cerah dan berwarna di musim panas 🙂 Tidak ada pepohonan yang tumbuh, karena ketinggiannya memberikannya iklim tundra. Yang tersebar hanya bebatuan dan lumut yang berwarna cerah.

mv5bmtkymtgxnziwof5bml5banbnxkftztcwnjyynjm5na-_v1_uy268_cr00182268_al_

Poster film Trollhunter yang bersetting di Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella.

Dari jalan raya E6 yang saya lalui untuk mengitari taman nasional tersebut, terdapat sebuah belokan ke kiri yang jika diikuti akan mengantar saya pada sebuah lapangan parkir dan jalan setapak menuju bangunan yang menjadi viewing point di daerah itu. Viewing point kali ini bukan berbentuk teras melainkan bangunan persegi panjang yang terbuat dari baja dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap ke arah Snøhetta, gunung tertinggi kedua di Norwegia. Jika duduk di dalam kotak besar tersebut, kita juga dapat menyaksikan panorama tundra pegunungan yang luas dan masih alami. Omong-omong, saya cerita begini bukan karena saya pernah berdiri di dalamnya, tetapi saya sempat melihat foto beserta informasinya di acara Nordic Midsummer Party tahun 2015 yang diselenggarakan oleh kedutaan-kedutaan negara Nordik. Mobil saya sih meluncur bebas saja selama di E6 dan tentunya melewati belokan ke arah viewing point tersebut. Mungkin lain kali ya, Pembaca 🙂

Setelah melintasi tundra pegunungan di Dovrefjell, saya terus berkendara ke utara melewati beberapa kota lagi. Setelah berhari-hari melalui jalanan yang menanjak, kali ini jalan yang kami lalui semakin menurun. Pepohonan hijau dan lahan-lahan pertanian semakin banyak dijumpai. Gunung-gunung yang menjulang sekarang ada di belakang kami dan semakin tidak terlihat. Suhu udara terasa lebih hangat karena semakin ke utara, matahari semakin lama bersinar, tetapi tidak dengan anginnya yang tetap saja dingin. Kali ini angin lebih banyak berhembus dari arah laut.

Saya tiba di Øysand pada senja hari yang tampak seperti siang hari karena mentari yang begitu cerah. Selagi orang tua Chris masuk ke bangunan resepsionis untuk menanyakan tempat, kami berdua menumpang ke toilet. Percayalah, perjalanan ke toilet yang sebetulnya singkat ini menjadi sangat menyenangkan bagi saya. Setelah berhari-hari melihat gunung, kini saya dapat melihat hamparan pasir pantai dan laut biru yang berkilauan diterpa sinar matahari. Letak pantai tersebut tepat di samping bangunan toilet yang menyatu dengan bangunan kamar mandi. Saya sempat melihat hal unik pula di area mandi tersebut. Ternyata, untuk membuka pintu kamar mandi, para tamu yang berkemah di situ dibekali dengan kartu akses yang harus ditempelkan ke pintu. Wah, modern sekali kompleks kemah ini. Pikiran saya pun mulai membanding-bandingkan keadaan yang baru saya lihat dengan keadaan di kampung halaman 😀

58508188

Pantai pasir di Øysand Camping diterpa sinar matahari terbenam. Cantik banget ya.. 🙂 Sumber: http://www.panoramio.com/

dsc-0479

Bangunan resepsionis di Øysand Camping. Sumber: http://www.oysandcamping.no/

Sayangnya, saya justru disambut kabar buruk begitu tiba di mobil. Semua kamar dan lahan kemah penuh. Terpaksa saya mengucapkan selamat tinggal pada deburan ombak yang menenangkan, pasir yang putih dan hangat serta pemandangan matahari terbenam yang saya yakin akan tampak sangat cantik dari tempat tersebut. Akan tetapi, setidaknya ada satu hal yang berhasil kami dapatkan dari tempat itu, yaitu sebuah buku kumpulan alamat lokasi-lokasi perkemahan yang tersebar di seluruh Norwegia. Mulailah kami membuka halaman demi halaman dan mencari tempat yang cocok sebagai pengganti Øysand Camping. Salah satunya yang tampak begitu menjanjikan adalah Flakk Camping, yang terletak sekitar 30 menit di utara Øysand, mendekati Trondheim. Dari foto-foto di buku itu, tampaknya kompleks perkemahan tersebut punya kabin yang kamarnya cukup luas dan teras untuk berjemur. Lumayanlah kalau masih ada tempat 🙂

img_5584-730x350

Kompleks perkemahan Flakk Camping. Sama-sama di tepi pantai seperti Øysand Camping. Sumber: http://www.flakk-camping.no/

 

Mobil pun kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara melintasi desa-desa hingga tiba di kompleks perkemahan Flakk Camping yang juga terletak di tepi laut, bahkan dekat dengan pelabuhan feri. Mulanya, saya bersemangat membayangkan kabin-kabin kecil yang ada di foto dalam buku, hingga saya pun menerima kabar buruk kembali. Semua kabin sudah direservasi. Yang tersisa hanyalah lahan untuk mendirikan kemah. Waduh! Jujur saja, meskipun saya tadinya mupeng berkemah, setelah berjam-jam duduk di mobil dan kelelahan, saya sekarang lebih memilih kabin. Nggak kebayang kalau harus mendirikan tenda sendiri dan mandi cepat-cepat karena banyak yang antri. 😥 Ya, tapi apa boleh buat?

img_7076-730x350

Tadinya saya ingin kabin kecil ini. 😦 Sumber: http://www.flakk-camping.no/

 

img_53101-730x350

Atau trailer dengan tenda tambahan seperti ini. Sumber: http://www.flakk-camping.no/

Kami pun segera memarkir mobil kami di lahan yang sudah disediakan. Lahan berbentuk persegi panjang yang ditumbuhi rumput dan berbatasan dengan lahan pertanian milik pribadi tersebut ternyata sudah dipenuhi para wisatawan. Bentuk dan ukuran tenda mereka bermacam-macam. Ada yang sangat kecil dan hanya bisa digunakan untuk tidur, sedangkan meja dan kursi lipat mereka dipasang di dekatnya. Ada pula yang super komplit dengan bagian kamar tidur yang terpisah dan ruangan lain untuk memasak. Karena cuaca sangat cerah, sebagian besar para penghuni tenda tersebut duduk-duduk di kursi lipat sambil makan dan berjemur.

Saat itu sekitar pukul 20.00 dan matahari masih menggantung di langit dengan sinarnya yang sangat cerah. Kami segera memanfaatkan waktu tersebut untuk memasang tenda. Ini adalah kali pertama saya melihat proses memasang tenda. Wuih, ternyata teknologi pemasangan tenda sudah modern sekali ya! Atau sebetulnya biasa-biasa saja tapi memang dasar saya yang belum pernah berkemah sebelumnya. Intinya, walaupun semua dikerjakan secara manual, ternyata segala peralatan sudah ada. Pertama-tama, saya menyambung rangka. Kira-kira ada enam buah rangka yang akan membentuk atap tenda saya. Jujur saja, saya tidak tahu bahan yang digunakan untuk membuat rangka tersebut. Yang saya ingat, rangka tersebut dipasang dengan cara menyambung-nyambung seperti kalau kita main sambung sedotan yang ada di acara-acara outbound. Meskipun tekstur luarnya keras, ternyata setelah disambung hingga panjang dan dimasukkan ke dalam lubang-lubang di tendanya, rangka itu bisa ditekuk.

fb_img_1478597578635

Apa daya cuma ada yang seperti ini 😦

Ujung rangka tersebut kemudian ditancapkan ke tanah. Di beberapa bagian rangka tersebut terdapat pula semacam tali yang digunakan untuk memperkokoh tenda. Tali tersebut harus ditarik dan diikat pada pancang-pancang yang kemudian ditancapkan di tanah sampai dalam. Hal ini dilakukan juga untuk mencegah tenda terbang akibat tertiup angin. Menurut saya, ini bagian yang tersulit, karena pancang tersebut harus betul-betul menancap di dalam tanah hingga hanya tersisa bagian kepalanya saja. Saya mencoba dengan kaki tidak berhasil, dengan palu pun masih gagal. Akhirnya saya menyerah dan membiarkan para pria mengambil alih hahaha 😀

 

Setelah tenda berdiri, kami memasang pemisah ruangan. Tenda kami yang berwarna kuning dan hijau tersebut berukuran cukup besar dan dapat dibagi menjadi tiga ruangan. Dua ruangan untuk kamar tidur dan satu ruangan yang terbuka untuk meletakkan meja makan dan berfungsi sebagai dapur. Saya nyaris bernafas lega melihat tenda yang sudah berdiri dan pemisah ruangan yang sudah terpasang. Ternyata masih ada satulagi yang harus saya lakukan: menyiapkan tempat tidur. Di dalam mobil, kami sudah membawa dua buah matras. Yang pertama lebih modern, tinggal tekan tombol dan matras akan terisi udara serta menggembung dengan sendirinya. Tentu saja yang satu ini jatuh ke tangan kedua orang tua. Saya pun harus mengambil matras yang

20160630_202749

Bekerja keras memompa matras 😀

harus dipompa secara manual. Mula-mula, saya memompa dengan kaki. Kemudian saya merasa lelah dan berganti menggunakan tangan. Akhirnya tangan dan kaki pun menjadi lelah dan Chris gantian yang memompa matras tersebut sampai penuh. Memang sepertinya badan saya tidak didesain untuk berkemah 😀

 

Selesai dengan tenda, kami segera membuka meja dan mulai memasak makan malam seadanya. Kali ini menunya burger sederhana. Isinya hanya daging burger, saus dan bumbu campuran yang banyak mecinnya, persis seperti burgernya abang-abang kaki lima jajanan anak SD. Meskipun bukan favorit saya sama sekali, saya tetap menyantapnya sampai habis karena makanan terakhir yang saya makan adalah wafel di Trollstigen. Kebayang ‘kan laparnya kayak apa? Dua tangkup burger berhasil saya santap dalam waktu singkat di malam hari itu.

20160630_214710

Burger setengah jadi. Abaikan saja bagian sausnya haha 😛

Kegiatan berikutnya yang saya lakukan setelah perut terisi penuh adalah mandi. Kegiatan ini adalah yang paling saya benci ketika berada di tempat umum. Saya tidak suka berbagi kamar mandi dengan orang lain yang tidak saya kenal, apalagi kalau orangnya banyak. Dari kecil saya paling tidak suka acara retreat, rekoleksi, seminar atau apapun namanya yang menginap di luar rumah dan harus berbagi kamar mandi dengan banyak orang. Seringkali saya bangun sangat pagi demi mendapatkan kamar mandi yang bersih. Kalau tidak, biasanya saya akan menemukan sampah berupa bungkus sachet sampo atau sabun, tisu dan rambut-rambut rontok di lantai kamar mandi yang basah. Hiiiiiyyyy…

Malam itu saya terpaksa harus mandi meski sudah larut. Sudah seharian tidak bersentuhan dengan air, kulit menjadi lengket dan tentu tidak nyaman jika langsung pergi tidur. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mandi di kamar mandi yang digunakan beramai-ramai oleh wisatawan mancanegara tersebut. Alangkah bahagianya saya ketika mendapati tidak adanya antrian di kamar mandi tersebut (ya iyalah, siapa coba yang mau mandi malam-malam?). Di dalam bangunan kamar mandi terdapat empat bilik. Salah satunya hanya berisi toilet. Meski demikian, toilet tersebut bukan satu-satunya yang tersedia di kompleks perkemahan tersebut. Masih ada toilet lain yang berada di bangunan yang terpisah. Sepertinya memang sengaja ditempatkan terpisah agar antrian tidak menumpuk. Karena urusan saya hanya mandi, saya pun masuk ke salah satu bilik setelah sebelumnya melepas sandal yang saya pakai dan meletakkannya di rak di depan pintu kamar mandi.

Di dalam kamar mandi yang relatif sempit tersebut ada sebuah kursi untuk menaruh pakaian bersih. Antara kursi dan ruang shower dipisahkan oleh tirai. Sekali lagi saya terkejut ketika mengetahui keadaan shower tersebut. Selain memiliki air panas, rupanya shower itu bekerja secara otomatis. Ia hanya akan menyala apabila sensornya merasakan panas tubuh kita. Begitu kita bergerak dan berdiri sejauh lebih dari 30 cm, shower akan mati secara otomatis. Wah, pintar juga caranya. Dengan begini air tidak akan membanjiri atau menyiprat ke segala arah. Bahkan tidak akan membasahi ruangan tempat kursi berada. Mandi larut malam yang saya pikir akan jadi mimpi buruk malah membuat saya betah berlama-lama di dalam kamar mandi. Saya pun langsung membuat rencana untuk keramas besok paginya berhubung rambut sudah lepek karena tidak dikeramas berhari-hari.

Selesai mandi, saya berjalan kembali ke tenda melewati dapur umum. Dapur berupa ruangan yang dilengkapi bak cuci piring dan bangku-bangku untuk makan dan menunggu tersebut rupanya memiliki hal yang menarik yang baru pertama kali saya temui. Di sisi kiri dinding dapur terdapat rak buku dua tingkat yang di dalamnya terletak buku-buku dari berbagai bahasa. Belakangan, saya baru mengetahui dari Ellen bahwa setiap wisatawan boleh meletakkan satu buku di situ dan mengambil yang lain dengan gratis. Wow, cara yang sangat menarik untuk bertukar budaya! Akan sangat beruntung jika kita bisa menguasai beberapa bahasa. Sayangnya, satu-satunya buku yang saya bawa masih sangat saya sayangi dan belum rela untuk ditukar hehehe.. 🙂

Tantangan saya berikutnya adalah tidur. Mulanya saya bingung, bagaimana bisa orang tidak kehabisan nafas dengan tidur di tenda yang pintu pemisah antarruangnya diretsleting rapat. Saya berpikir untuk menyisakan lubang kecil di retsleting itu agar udara bisa masuk, namun dicegah oleh Chris karena katanya udara akan jadi dingin nantinya. Agak tidak percaya sih, tapi ya sudahlah ikut saja karena saya baru pertama kali berkemah. Di bawah langit yang masih sangat terang, saya merangkak masuk ke bilik tidur saya yang berupa matras beralaskan kain dan dilengkapi selimut tebal. Rupanya, matras tersebut terasa sangat dingin. Saya langsung menggulung diri di dalam selimut tebal dan berusaha tidur. Beruntung saya sudah kelelahan, sehingga tak butuh waktu lama untuk jatuh tertidur. 🙂

Hari pertama berkemah memberi saya kesan yang baik. Ternyata berkemah itu cukup menyenangkan, terutama kalau fasilitasnya bersih. Buat saya, hal tersebut adalah yang terpenting. Saya jadi tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi di hari kedua. Sampai jumpa di cerita berikutnya! 😀

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang tempat-tempat berkemah yang saya lewati:

http://www.oysandcamping.no/

http://www.flakk-camping.no/?lang=en

 

Menuruni Tangga Troll Berkelok Sebelas

Kalau di Indonesia ada jalan meliuk-liuk yang terkenal dengan nama Kelok 9, di Norwegia juga ada yang serupa, tapi keloknya ada 11. Mungkin belum apa-apa dibanding Kelok 44-nya Indonesia, yang saya juga kaget ketika membaca tentang jalan tersebut pertama kali, tetapi Kelok 11 ini lebih terkenal dan lebih menantang. Apa penyebabnya?

Kelok 11-nya Norwegia ini namanya Trollstigen, yang artinya “Tangga Troll” dan letaknya tepat di mulut lembah yang dipagari oleh gunung Trollveggen, yang berarti “Dinding Troll”. Yang pernah menonton film-film fantasi seperti Harry Potter dan The Hobbit pasti familiar dengan makhluk ini. Di film-film fantasi semacam itu, troll digambarkan sebagai makhluk raksasa yang bau dan bodoh, serta bisa berubah menjadi batu jika terkena sinar matahari. Tentu saja legenda aslinya lebih mengerikan lagi, karena troll bisa memangsa manusia bahkan menukar bayi manusia dengan anaknya. Demikian kata dongeng-dongeng kuno Skandinavia. Konon katanya, troll hidup berkelompok di dalam hutan atau gua-gua yang terletak di dinding gunung. Mereka takut terhadap cahaya matahari, petir dan bunyi lonceng gereja.

Meskipun mengerikan, makhluk mistis ini menjadi ikon dalam pariwisata Norwegia. Selain banyaknya nama tempat yang mengandung kata “troll”, khususnya nama gunung, kita juga dapat menemukan banyak sekali patung troll maupun aneka suvenir yang menampilkan bentuknya di toko-toko di seluruh Norwegia. Salah satu tempat tersebut adalah Trollstigen, si Kelok 11 yang menjadi highlight dari rute turis nasional Geiranger-Trollstigen.

2813717880_bc4bb900bf_b

Rambu-rambu jalan yang kira-kira berarti “hati-hati Anda memasuki kawasan tempat tinggal Troll” di sebuah jalan dekat Trollstigen.

Untuk mencapai Trollstigen, saya berkendara dari Gudbrandsjuvet ke utara mengikuti Rv 63. Setelah melewati lembah dan danau, saya tiba di sebuah parkiran yang luas. Udara dingin segera menyambut saya begitu keluar dari mobil. Dari parkiran tersebut, yang terlihat hanyalah rangkaian pegunungan Trolltindene tempat gunung Trollveggen menjulang dalam barisan. Di sebelah utara dari lapangan parkir tersebut terdapat bangunan berbentuk segitiga yang bergaya modern dan berdinding kaca. Bangunan itulah yang meyakinkan saya bahwa saya telah tiba di Trollstigen, karena dari foto-foto traveler pendahulu terlihat bahwa bangunan tersebut bersambungan dengan teras pandang di tempat itu.

13770445_10210497692905070_956772189147172521_n

Pemandangan dari parkiran mobil. Mobilnya sengaja nggak kelihatan soalnya gunung-gunungnya lebih bagus hehehe... 😛

Dari parkiran mobil tersebut, saya berjalan menuju kompleks bangunan modern itu. Dekat ke arah parkiran ada bagian bangunan yang memanjang, yang terdiri dari sebuah toko suvenir dan toilet. Bangunan utama yang berbentuk segitiga itu sendiri merupakan sebuah kafe yang dilengkapi dengan area outdoor untuk bersantap sambil menikmati udara terbuka. Melewati kafe tersebut, saya tiba di sebuah jembatan kecil. Di bawah saya mengalir Sungai Istra yang dangkal dan berair jernih. Saking jernihnya, saya sampai dapat melihat bebatuan yang ada di dasarnya. Saya hampir yakin, air tersebut aman diminum terutama bagi manusia-manusia berperut negara dunia ketiga yang terbiasa dengan air jorok. 😀

13781773_10210497692825068_5553267697006949204_n

Sungai Istra yang mengalir dari pegunungan menuju Trollstigen. Bangunan kecil di sebelah kiri adalah bagian dari toko suvenir dan toilet.

13697228_10210497692945071_4460814014682775778_n

Jernihnya air Sungai Istra

13769603_10210497694785117_678421444593349411_n

Bebatuan yang tampak di dasar kolam

Rupanya Sungai Istra mengalir ke sebuah kolam, namun ia tidak berhenti di situ. Kolam yang tenang tersebut dangkal dan bertingkat-tingkat, tetapi, seiring dengan langkah saya di tepinya yang mengarah pada teras pandang, kolam itu berlanjut menjadi air terjun Stigfossen yang meluncur deras ke lembah Isterdalen. Air terjun Stigfossen tersebut memotong jalan berkelok-kelok Trollstigen di bawah jembatan Stigfossbrua. Jatuhan airnya menciptakan musik alam yang mengiringi eksplorasi saya di tempat tersebut.

13775557_10210497693545086_4949504534842049945_n

Jatuhan Sungai Istra menjadi air terjun Stigfossen yang berada di bawah teras pandang pertama.

Setelah berjalan sekitar 3 menit dari kafe, saya tiba di percabangan jalan. Jika saya berjalan lurus, saya akan tiba di teras pandang pertama. Dari teras pandang ini, saya dapat menyaksikan Stigfossen dari dekat karena letaknya tepat di atas jatuhan air terjun tersebut. Pagar teralis yang tidak terlalu tinggi memungkinkan saya untuk menikmati pemandangan lembah di bawah beserta sebelas kelokan yang menegangkan tersebut dari atas.

13731556_10210497694145101_2782790880908267803_n

Percabangan jalan yang saya temui. Belokan di sebelah kanan membawa saya ke teras pandang pertama.

13731549_10210497694425108_3892594050079029013_n

Sungai Istra jatuh dari kolam bertingkat tepat di bawah teras pandang pertama.

13729072_10210497693625088_2360366054819675380_n

Aliran Sungai Istra

13718499_10210497698105200_1669695545800383779_n

Ujung atas Stigfossen yang meluncur turun menuju lembah Isterdalen.

Beberapa menit berdiri di teras pandang pertama, saya mulai merasa kedinginan. Hari itu memang tidak hujan. Bisa dibilang, cuacanya cukup baik untuk menyaksikan keindahan Trollstigen dan saya cukup beruntung mendapatkannya. Seorang teman yang baru tiba di sana beberapa hari setelah saya meninggalkan tempat itu hanya dapat melihat kelokan-kelokan yang tertutup kabut. Meski demikian, cuaca hari itu tidak bisa dibilang cerah juga. Matahari masih malu-malu bersembunyi di balik awan dan tanpa matahari di atas, udara dingin pegunungan langsung menusuk kulit, ditambah lagi dengan angin yang berhembus. Rasanya, kalau sedang tidak travelling, saya maunya mlungker di pojok kafe yang hangat.

Akan tetapi, yang semacam itu tentu bukan saya. Setelah berpencar karena orang tua Chris ingin bersantai menghangatkan badan di kafe, saya dan dia berlanjut menuju platform view kedua. Letak platform view ini ada di ujung jalan yang berbelok ke kanan dari percabangan jalan yang saya sebut di atas tadi. Untuk mencapainya, kami harus menuruni banyak anak tangga yang dibangun di atas tebing-tebing gunung. Tenang saja, tangga ini sama sekali tidak berbahaya kok. Seperti platform view lainnya yang sudah saya kunjungi selama di Norwegia, teras pandang Trollstigen juga menganut prinsip aman dan indah. Prinsip tersebut  berarti menyediakan sarana bagi turis untuk menyaksikan pemandangan dan menikmati alam dari titik yang terindah melalui bangunan-bangunan yang aman tetapi juga bernilai estetis pada arsitekturnya. Keren, yah! 🙂

Di tengah dinginnya angin, saya pun akhirnya tiba di ujung tangga tersebut. Platform view yang kedua sangat menjorok ke luar dinding tebing dan nyaris seperti menggantung tanpa pijakan di bawah lantainya. Akan tetapi di situlah pemandangan terbaik Trollstigen dapat disaksikan. Di sebelah kanan tampak jelas Stigfossen mengalir deras menuju lembah Isterdalen, sedangkan jauh di sebelah kiri terdapat air terjun kecil lain yang berasal dari lelehan salju di puncak gunung dan jatuh ke sungai Tverelva. Sementara itu, mobil-mobil yang tampak kecil berjalan meliuk-liuk mengikuti sebelas kelokan tangga troll tersebut. Gunung Trollveggen juga tampak menjulang di sebelah kanan lembah, sedangkan Gunung Bispe di sebelah kirinya.

13716014_10210497698505210_1670436514549290200_n

Gunung Bispe menjulang di sebelah kiri teras pandang.

13707663_10210497694105100_7223438750275678365_n

Pegunungan Trolltindene yang memagari lembah Isterdalen.

Situasi di teras pandang kedua cukup ramai. Banyak turis yang ingin berfoto bersama fenomena alam tersebut. Untuk mendapatkan foto, saya harus bergiliran mengantri agar dapat berdiri di titik terbaik. Selagi mengantri, saya mengamati beberapa jenis turis yang ada di sana. Pasangan manula tampak mendominasi, kebanyakan berasal dari Jerman. Kuat juga ternyata mereka melalui anak tangga yang demikian banyak. Ada pula pasangan muda dengan bayinya yang masih dibawa dalam baby stroller. Waduh, saya nggak sanggup deh petualangan di alam sambil bawa-bawa kereta bayi. Ada lagi empat turis perempuan yang tampaknya bersaudara atau berteman, yang mengenakan pakaian agak janggal untuk petualangan di alam: rok terusan tipis  dan sepatu berhak. Ajaib, pikir saya, bagaimana bisa wanita-wanita tangguh ini melawan alam dalam pakaian demikian. Saya saja sudah kedinginan.

13700227_10210497698225203_1096881325932044091_n

Sebelas kelokan Trollstigen dan jembatan kecil Stigfossbrua yang menyebrangi aliran Stigfossen.

13680871_10210497693705090_6122799112275390689_n

Air terjun kecil di sebelah kanan teras pandang yang jatuh ke Sungai Tverelva di lembah.

Begitu giliran saya tiba, saya segera memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Saya khawatir langit akan semakin mendung dan jadi hujan. Beberapa foto berhasil saya dapatkan dari teras pandang kedua. Setelah selesai, saya segera beranjak dari tempat itu dan memberikan spot tersebut bagi pemburu foto selanjutnya. Dinginnya angin berhasil membujuk saya untuk menyusul kedua orang tua Chris untuk menghangatkan bada di kafe. Sudah terbayang lezatnya secangkir coklat panas yang mungkin ada di sana. Rupanya, untuk sampai ke kafe saja, saya harus jalan perlahan-lahan agar bisa mengatur nafas. Anak tangga yang banyak jumlahnya tadi kali ini harus dinaiki, bukan dituruni. Kira-kira 15 menit kemudian saya pun berhasil tiba di kafe dengan selamat.

13716164_10210497697385182_643850141368773684_n

Trollstigen yang dilalui mobil-mobil yang tampak kecil.

13769554_10210497695025123_4288420993302560546_n

Lembah Isterdalen

Menu di Kafe Trollstigen dijual semi prasmanan. Mirip Hoka Hoka Bento gitu deh. Untuk makanan, kita bisa memilih berbagai jenis smørbrød yang ada di etalase, atau memesan sesuai daftar yang tertera di situ. Seperti kafetaria di Norwegia pada umumnya, Kafe Trollstigen juga menyediakan menu harian yang berbeda setiap harinya. Kali ini menunya adalah sup. Setelah melihat-lihat, pilihan saya pun jatuh pada secangkir coklat panas dan waffle dengan selai stroberi khas Norwegia. Masih belum bisa move on dari stroberi hehehe..:P

Setelah mendapatkan pesanan, saya memilih meja di tengah ruangan berarsitektur modern tersebut. Ruangan yang didominasi warna netral seperti abu-abu dan putih itu memiliki dinding kaca di kedua sisinya yang berhadapan pada kolam air terjun Stigfossen dan pegunungan Trolltindene. Di salah satu sisinya yang memiliki tembok tergantung beberapa foto berukuran besar berwarna hitam putih. Foto-foto tersebut adalah bagian dari museum mini Trollstigen yang menyajikan informasi tentang bagaimana jalan berkelok 11 tersebut dibangun pada awalnya. Di tengah ruangan tersebut saya bercakap-cakap dengan pacar saya sambil menikmati makan siang saya yang berupa waffle tersebut. Waffle khas Norwegia tersebut berbentuk empat hati yang bertemu di bagian tengahnya. Bagian atasnya dituangi saus stroberi yang manis. Saking manisnya sampai-sampai membuat coklat panas saya terasa pahit 😀 Seharusnya saya tidak menghabiskan coklatnya setelah saya selesai dengan waffle-nya, ya?

13508950_10157770420730377_7226976578999220056_n

Di dalam kafe Trollstigen, waffle saya sudah habis sedangkan coklat panas masih penuh 😛

Kami menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit sampai setengah jam di kafe tersebut. Dengan perut kenyang, kami meninggalkan tempat itu menuju toko suvenir. Toko suvenir di Trollstigen adalah salah satu yang terlengkap dari beberapa toko suvenir yang telah saya kunjungi. Selain pajangan, kaos dan magnet kulkas yang umum dijumpai, toko ini juga menjual aneka syal dengan motif khas Viking dan aksesoris dari perak atau platina berbentuk benda-benda khas Norwegia. Salah satu yang saya peroleh di sini adalah syal merah hati bergambar ukiran Viking dan sepasang anting-anting perak berbentuk hewan favorit saya, beruang kutub. 😛

Tepat ketika saya keluar dari toko suvenir, gerimis mulai turun kembali. Cuaca memang cepat berubah di Norwegia, terutama di daerah pegunungan. Saya sudah mengingat informasi tersebut sejak membaca buku “Scandinavian Explorer”. Oleh karena itu, setidaknya jaket bertudung selalu ada di tangan saya. Beruntungnya saya, jarak dari toko suvenir ke mobil tidak terlalu jauh, sehingga saya dapat segera berteduh dan melanjutkan perjalanan. Kali ini, kami akan betul-betul merasakan sensasi menuruni tangga troll tersebut. Konon katanya, menaikinya akan lebih sulit lagi karena kemiringan tanjakannya mencapai 10%.

13754616_10210497698025198_6345388384742234700_n

Penulis numpang narsis yaa… 😛

Dengan perlahan, mobil meluncur mengikuti kelokan-kelokan berbentuk seperti jepit rambut yang ada. Di setiap kelokan, terdapat papan petunjuk yang dipasang di bebatuan di dekatnya dan bertuliskan nama dari kelokan tersebut. Nama-nama tersebut di antaranya Bispesvingen, Uri Martin Svingen, Langdalsvingen dan lain-lain. Di antara kelokan ke-5 dan ke-6, terdapat jembatan kecil Stigfossbrua yang melintang di atas aliran air terjun Stigfossen yang saya lihat di teras pandang tadi. Brandlisvingen pun menutup rangkaian kelokan di tangga troll ini sebagai kelokan ke-11.

Untuk menyetir melalui Trollstigen ini diperlukan keahlian yang cukup, terutama untuk urusan berbelok di jalan sempit. Selain itu, kendaraan-kendaraan yang ukurannya terlalu panjang juga dilarang melalui jalan ini karena akan susah berbelok. Perlu diingat pula, Trollstigen hanya dibuka selama beberapa bulan dalam setahun, umumnya sejak akhir musim semi (Mei) sampai awal musim gugur (Oktober) dengan tanggal yang bervariasi yang bisa diketahui dari website resmi turisme Norwegia atau rute turisme nasional Geiranger-Trollstigen. Hal ini disebabkan oleh cuaca buruk dan salju yang menumpuk pada musim dingin yang akan membahayakan para pengendara. Jadi, selamat menguji kemampuan menyetir kalian! Atau kalau takut, silakan naik bus turis dan jadi penumpang seperti saya. 😀

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Trollstigen di rute turis nasional Geiranger-Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=Trollstigen

Tentang detil arsitektur teras pandang dan Kafe Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/about-us/architecture-and-art?start=Reiulf+Ramstad+Arkitekter+AS

Lembah Stroberi dan Sungai Legenda di Valldal

Salah satu hal yang menginspirasi saya untuk bermimpi melakukan perjalanan ke Norwegia adalah sebuah tayangan acara panduan wisata di televisi. Dahulu, ketika tayangan stasiun TV di Indonesia masih bermutu, acara semacam ini banyak sekali tersebar di berbagai stasiun TV, terutama pada akhir pekan. Salah satu acara wisata favorit saya berjudul Food Discovery, yang dulu pernah tayang di Metro TV pada minggu pagi. Food Discovery ini pada intinya mengajak pemirsanya berjalan-jalan ke berbagai belahan dunia untuk mencicipi makanan khas yang dibuat dari bahan-bahan khas dari negara yang didatangi pula. Usut punya usut, program Food Discovery ini ternyata buatan Nordic World AS; salah satu perusahaan penyiaran di Norwegia 😀 Memang kalau sudah jodoh nggak ke mana ya, Pembaca 🙂

Dalam episodenya yang berjudul “Norway: Strawberries and Wild Salmon”, penonton dapat ikut bertualang di alam Norwegia sembari memetik stroberi segar dan memancing salmon di sungai-sungai yang kemudian dimasak ala Norwegia. Ya ampun, waktu saya lihat stroberi-stroberinya, saya sampai ngiler-ngiler. Segar-segar dan merah sekali. Stroberi-stroberi tersebut dimakan dengan krim sebagai hidangan penutup dalam tayangan tersebut. Sejujurnya, saya tidak pernah begitu menyukai stroberi karena rasanya kebanyakan asam. Hanya saja, tayangan Food Discovery yang langsung menjadi episode favorit saya itu berhasil meyakinkan saya bahwa di belahan bumi lain ada stroberi-stroberi merah segar yang manis.

Bertahun-tahun setelah saya menyaksikan tayangan yang begitu membekas di benak saya ini (lebay banget ya, Pembaca!), saya duduk di sebuah mobil mini van berwarna biru yang tengah berkendara di sepanjang rute turisme Geiranger-Trollstigen di Norwegia. Tuh, betul ‘kan, saya memang berjodoh sama negara ini. 😉 Dari teras pandang Ørnesvingen, saya mencapai puncak pegunungan dan turun lagi melalui lembah Eidsdal. Di bagian atas, lembah ini tampak sepi tak berpenghuni. Hanya ada daratan hijau dan sungai kecil yang mengalir dari air terjun-air terjun di tebing-tebing gunung. Semakin ke bawah, semakin banyak terdapat rumah-rumah dan peternakan, yang pada akhirnya berujung di desa Eidsdal.

123807810

Desa Eidsdal di tepi Storfjord tempat pelabuhan feri untuk menyeberang ke Valldal. Sumber: http://www.panoramio.com

Eidsdal terletak di tepi Storfjord yang merupakan ibu dari Geirangerfjord. Dari sanalah saya akan menyeberangi fjord tersebut menuju daratan di seberang. Mungkin di sinilah titik bosannya saya dengan fjord. Karena lamanya yang tidak lebih dari 30 menit, saya memutuskan untuk diam di dalam mobil selagi feri tersebut menyeberang. Kebetulan mobil saya berada di tengah-tengah feri di antara mobil-mobil lainnya dan agak sulit diakses kembali kalau saya tinggal turun dan berjalan-jalan. Benar juga, tak lama menunggu sudah terdengar kembali pengumuman bahwa feri akan merapat di seberang.

Tiba di seberang, kami berkendara di tepian Storfjord yang airnya berkilauan tertimpa sinar matahari. Rasanya kalau punya banyak waktu, saya masih ingin leyeh-leyeh di tepi fjord sambil mendinginkan kaki dan menikmati pemandangan. Road trip itu melelahkan lho meskipun kerjanya hanya duduk saja. Mungkin justru karena itu, ya?

Rute yang kami tempuh adalah Rv 63. Rute ini menyeberangi mulut Sungai Valldøla yang mengalir langsung ke Storfjord dan berbelok ke utara memasuki lembah Valldal. Lembah Valldal inilah tempat di mana impian masa kecil saya yang muncul akibat menonton Food Discovery terwujud. Berlalu dari pusat kota, di kiri kanan jalan semakin terdapat jajaran semak-semak hijau yang adalah perkebunan stroberi. Setiap rumah tampak dikelilingi oleh perkebunan stroberi yang terhampar luas. Tampaknya, pertanian stroberi adalah industri yang menyokong kota ini, di samping turisme tentunya.

13718803_10210497555621638_7443641769481001047_n

Kebun stroberi di sepanjang jalan.

13718713_10210497555541636_797349671437581808_n

Perkebunan stroberi adalah sumber mata pencaharian penduduk Valldal.

Beberapa saat berkendara di antara kebun stroberi, mata saya menangkap pemandangan yang tidak biasa. Ada beberapa ibu-ibu duduk di tepi jalan dengan penutup kepala khas pedesaan di bawah payung di belakang meja yang dipenuhi stroberi. Di depan tumpukan kemasan stroberi tersebut tertera angka yang menunjukkan harga. Mereka adalah penjual jalanan pertama di Norwegia yang saya lihat yang menjajakan makanan, karena penjual jalanan di sana rata-rata menjual koran dan majalah. Saya kira ibu-ibu pedagang seperti itu hanya ada di Cisarua 😀 Kami pun berhenti di dekat salah seorang dari mereka dan membeli sekotak stroberi seharga 40 NOK.

13726764_10210497555581637_4557067469048957665_n

Ini dia stroberi yang saya beli di pinggir jalan 🙂 Ini no filter, no edit lho gambarnya. Selamat ngiler ya, Pembaca! 😛

Jujur, saya belum pernah melihat stroberi sebesar-besar dan semerah stroberi itu sebelumnya. Dengan yakin, saya pun menarik daunnya dan langsung menggigit daging stroberi yang sangat juicy tersebut. Wow, ternyata tayangan Food Discovery itu nggak bohong, Pembaca! Stroberi merah segar dan manis memang tumbuh di belahan bumi utara yang memiliki empat musim. Terbayang betapa lezatnya jika saat itu saya punya krim kocok untuk melengkapi stroberi tersebut. Satu lagi impian dalam daftar saya yang bisa dicoret. 🙂

Berbekal stroberi segar dari Valldal, saya kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara melawan arah arus Sungai Valldøla yang berkelok-kelok di sisi jalan raya. Sekitar 15 km ke utara dari kota Valldal, terdapat perhentian di tepi jalan dekat sebuah jembatan. Di dekat perhentian itu ada sebuah platform view lain, tapi pemandangannya bukan lagi fjord melainkan Sungai Valldøla yang jernih. Platform view berbentuk jembatan yang berkelok-kelok di antara pepohonan itu menyeberangi sungai jernih yang jatuh dalam sebuah jurang sempit bernama Gudbrandsjuvet.

jsa_2

Platform view yang menjembatani Sungai Valldøla. Sumber: architektur.mapolismagazin.com

 

Apa yang menarik dari jurang sempit ini? Pertama, formasi bebatuannya yang berbentuk seperti relung-relung gua. Bentuk bebatuan tersebut tercipta dari kikisan air Sungai Valldøla selama ratusan tahun. Menariknya lagi, kalau dilihat dari atas, air sungai yang mengalir menerobos bebatuan dan menabrak dinding-dinding gua tersebut berwarna biru muda cerah dan sangat jernih. Semua pemandangan ini dilatarbelakangi oleh Gunung Trollkyrkja yang menjulang jauh di selatan. Kalau saja hari tidak mulai gerimis ketika saya tiba di sana, mungkin saya bisa berlama-lama memandangi tarian sungai di bawah kaki saya dan memotret gerakannya dari berbagai sudut 🙂

13699991_10210497637983697_4421603176788588366_n

Gunung Trollkyrkja di selatan Sungai Valldøla

13697228_10210497641263779_7063496354760320236_n

Sungai Valldøla mengalir melalui relung-relung bebatuan Gudbrandsjuvet.

13729036_10210497640463759_910385978884913404_n

Melalui bebatuan dengan indahnya

13697161_10210497638663714_8050249868958279901_n

Tuh, lihat, biru banget ya airnya.. 🙂

Selain keindahan dan kejernihannya, jurang selebar 5 m dengan kedalaman 25 m ini juga menarik karena legendanya. Nama Gudbrandsjuvet sendiri berarti Jurang Gudbrand. Konon dikatakan dalam dongeng abad ke-16 bahwa ada seorang pria bernama Gudbrand yang melompat ke dalam jurang ini untuk melarikan diri dari orang-orang yang mengejarnya. Gudbrand, yang diceritakan selamat dan akhirnya tinggal di sebuah pondok di tepi Sungai Valldøla ini, diburu orang-orang yang marah karena ia membawa lari seorang perempuan untuk dinikahinya. Karena legenda ini, orang menamai jurang tersebut dengan namanya.

Di tempat ini, sekali lagi arsitek-arsitek lanskap Norwegia memamerkan kebolehan mereka. Teras pandang yang berkelok dan menjembatani sungai tersebut juga dilengkapi dengan pijakan-pijakan yang diberi lubang dan dinding-dinding pembatas dari kaca sehingga memungkinkan kita untuk mengintip apa yang ada di bawah jembatan. Di ujung teras pandang tersebut terdapat Cafe Juvet, yaitu sebuah kafe berarsitektur modern dengan dinding-dinding kaca yang menghadap pemandangan Sungai Valldøla. Desainnya persis seperti rumah modern impian saya yang punya banyak jendela besar dan terletak di dekat alam bebas. Sayangnya, karena hari hujan, saya pun tidak dapat berlama-lama di tempat tersebut karena saya harus cepat-cepat berlalu ke perhentian selanjutnya sebelum cuaca semakin memburuk.

706274

Lanskap platform view berlatar belakang pegunungan Trollkyrkja. Di sebelah kanan adalah Cafe Juvet yang berdinding kaca. Sumber: http://www.nasjonalturistveger.no

utendors

Platform view dilihat dari atas. Sumber: http://www.trollstigen.no

Untuk kembali ke mobil, saya mengambil jalan memutar sehingga tidak melewati platform view melainkan jembatan batu tempat jalan raya untuk kendaraan melintas. Ternyata, di sisi lain jembatan tersebut itulah Sungai Valldøla menjadi air terjun yang jatuh ke lembah Valldal dan mengalir berkelok-kelok hingga ke muaranya di Storfjord. Jembatan tersebut mengantar saya kembali ke tempat parkir mobil-mobil. Tepat sebelum gerimis semakin lebat, saya berhasil masuk ke mobil. Tinggal berharap cuaca akan membaik sebelum saya tiba di destinasi selanjutnya.

13668977_10210497638343706_6768529989582049433_n

Jembatan yang saya lalui ketika kembali ke mobil. Di sebaliknya adalah Sungai Valldøla yang jatuh ke lembah Valldal menjadi air terjun.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Gudbrandsjuvet di rute turis nasional Geiranger – Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=Gudbrandsjuvet

Sebut Namaku di Geirangerfjord

Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Norwegia, saya sempat bertemu teman-teman dekat saya di kampus. Begitu mereka tahu bahwa saya akan pergi road trip dan melewati tempat-tempat yang super cantik, mereka langsung titip sesuatu. Titipannya bukan oleh-oleh dan bukan foto juga. Titipan agak aneh ini namanya titip sebut nama. Pertama kali muncul ketika salah satu dari teman-teman dalam “geng” saya itu berangkat ke Munich, Jerman mendahului yang lain karena menang kompetisi mengarang di Goethe-Institut. Kami semua tak percaya bahwa salah satu dari kami akhirnya berangkat ke Eropa, ke kota impiannya pula. Sebelum ia berangkat, kami semua memintanya untuk menyebut nama kami satu persatu di tempat-tempat yang khas Munich, terutama yang kita ngebet banget untuk kunjungi. Kita percaya bahwa sebut nama itu setara dengan doa agar orang yang kita sebut namanya akan tiba di tempat itu juga suatu hari nanti.

Sama seperti teman saya, saya pun kena titipan sebut nama ini. Kadang-kadang titipannya disampaikan lewat pesan Whatsapp atau komentar di foto Instagram ketika saya sudah berangkat. Jadilah daftar panjang nama yang harus saya hafalkan supaya tidak ada yang terlewat. Tempat sebut nama yang mereka pesan adalah Geirangerfjord, yang tidak jauh dari tempat saya menginap di akhir hari kedua perjalanan darat saya.

Boleh dibilang, kamar tempat saya bermalam ketika tiba di Geiranger adalah kamar sisa. Selain opsinya sebagai kamar di rumah privat yang sebetulnya nggak saya banget karena kurangnya privasi, dua kamar yang kami peroleh juga merupakan dua kamar yang tersisa di rumah tersebut. Total ada empat kamar yang disewakan oleh pasangan orang tua pemilik rumah itu. Sebelumnya, kamar-kamar di rumah berlantai tiga tersebut dihuni oleh anak-anak mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan pindah ke kota, orang tua mereka menyewakan kamar-kamar tersebut untuk turis yang berkunjung ke Geiranger.

Suasana menginap di rumah milik privat memang sangat berbeda dari hotel atau kabin. Tidak ada resepsionis, yang ada hanya sebuah buku tamu yang tergeletak di atas meja di depan pintu. Buku tamu ini harus diisi dengan data singkat penyewa, di antaranya nama, alamat dan nomor telepon. Pernah saya iseng membuka-buka buku tersebut karena penasaran siapa yang menginap di kamar-kamar tersebut. Ternyata, tamu-tamu yang menginap di sana datang dari mancanegara, bahkan negara-negara yang jauh seperti Kanada dan Australia.

Interior kamar memang terkesan seadanya dan tabrak warna. Persis seperti rumah sederhana. Hanya satu yang menyatukan semua gaya tersebut, kesan zaman dulu yang tentunya tidak mengherankan mengingat pemiliknya adalah pasangan manula. Saya mendapat kamar yang ukurannya cukup luas dengan tempat tidur queen size bersprei ungu tanpa corak. Di atas sprei tersebut dihamparkan penutup tempat tidur yang terbuat dari bahan rajutan. Di kamar tersebut ada meja dengan lampu tidur, meja dan kursi dekat jendela, lemari kecil, mesin pembuat kopi yang juga bisa dipakai merebus air, dan wastafel dengan air hangat dan dingin yang bisa dipakai untuk cuci muka dan gosok gigi. Lumayan banget ‘kan? Sementara untuk mandi disediakan dua buah kamar mandi yang dapat dipakai bergantian dengan tamu lain. Ukurannya terbilang sempit, namun dilengkapi air panas dan sangat bersih. 🙂

Akan tetapi, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya menyukai tempat itu. Pada pagi hari ketiga dalam perjalanan darat kami, saya terbangun cukup cepat untuk ukuran musim panas Norwegia. Kira-kira pukul 8 pagi, saya melangkah turun dari tempat tidur hendak membuka jendela untuk mengganti udara kamar. Begitu saya buka tirai berwarna krem yang menutupi jendela kaca besar khas rumah-rumah Skandinavia itu, saya menyadari bahwa hari tengah hujan. Tidak deras memang, hanya rintik-rintik seperti ketika saya tiba di tempat tersebut malam sebelumnya. Saya urung membuka jendela dan menunggu beberapa saat sambil menulis jurnal perjalanan.

Tak lama kemudian, hujan pun berhenti dan awan kabut yang tadinya menutupi pemandangan di luar menghilang perlahan. Saya kembali membuka tirai dan mendorong daun jendela. Astaga, bagusnya! Sebuah air terjun tampak mengalir jatuh dari tebing tak jauh dari kamar saya. Saya menggeser pandangan ke sebelah barat dan hanya dapat terpana menyaksikan apa yang saya lihat. Sebuah pelangi cantik yang tampak jelas melengkung indah di atas Geirangerfjord. Fjord biru tersebut masih saja sepi dari kapal-kapal turis, menambah keindahan panorama yang saya saksikan dari jendela kamar saya. Detik itu juga saya ingin tinggal di situ saja supaya bisa menyaksikan pemandangan semacam itu setiap pagi.

view hotel

Hotel di seberang jendela kamar saya.

view waterfall

Ada air terjun jauh di atas tebing.

rainbow geiranger

Pelangi di Geirangerfjord. Pengen gak sih lihat begini tiap bangun pagi?

Sayangnya, aktivitas menikmati pemandangan saya tidak dapat berlangsung lama, karena saya harus beranjak lagi untuk perjalanan berikutnya. Setelah mandi, bersiap-siap dan makan pagi, kami meninggalkan kamar bernuansa vintage tersebut untuk kembali berkendara menuju utara. Rute yang akan kami tempuh adalah salah satu rute turis nasional Norwegia yang terpopuler: Geiranger-Trollstigen.

Dari penginapan tersebut, kami menuruni jalan berkelok menuju Geirangerfjord dan melintasi jembatan yang di bawahnya mengalir jeram yang berasal dari air terjun yang saya lihat dari jendela tadi. Air terjun tersebut mengalir ke Geirangerfjord melalui sungai itu. Di kiri-kanan jalan banyak terdapat penginapan, kabin dan hotel aneka rupa dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Geiranger ini memang merupakan kota turis yang sangat populer. Siapa coba yang tidak tertarik menyaksikan keindahan fjord yang masuk dalam daftar UNESCO World’s Heritage List ini?

Geirangerfjord, bersama dengan Nærøyfjord memang bertengger di daftar warisan budaya dunia versi UNESCO. Tentu alasannya bukan hanya sekedar karena keindahannya. Menurut situs resmi UNESCO, kedua fjord di barat Norwegia tersebut berhasil masuk dalam daftar karena bentuknya yang paling menyerupai model fjord zaman purba dan masih menunjukkan proses geologi pembentukan fjord hingga kini. Benar saja lho, kabarnya, tebing-tebing pegunungan setinggi kurang lebih 1400 m yang mengapit Geirangerfjord masih mengalami pergeseran setiap tahunnya. Jika pergeseran yang terjadi cukup besar, hal tersebut berpotensi menimbulkan runtuhnya bebatuan gunung atau bahkan sebagian tubuh gunung ke fjord berkedalaman kira-kira 500 m itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Tsunami besar yang akan menghantam kota turis Geiranger, seperti yang menjadi inspirasi cerita film Norwegia berjudul Bølgen atau The Wave dalam versi Inggrisnya. Aduh, seramnya! Memang tidak ada ya, tempat di dunia ini yang sungguh-sungguh aman.

Selain karena struktur dan kenampakannya, Geirangerfjord juga terdaftar sebagai situs warisan budaya dunia karena lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Penduduk desa-desa di sepanjang Geirangerfjord mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak serta berbicara dalam dialek Sunnmøre, yang kalau kata Chris merupakan dialek terindah di Norwegia. Nah, peternakan dan pertanian mereka ini kadang-kadang dibangun jauh di atas tebing-tebing yang hanya dapat dicapai dengan mendaki atau berjalan kaki. Beberapa kompleks pertanian ini sekarang sudah ditinggalkan dan berubah jadi tujuan wisata yang aksesnya sangat terbatas. Sayangnya, saya belum sempat lihat langsung peternakan-peternakan di tebing ini.

Ketika saya tiba di kota Geiranger, sebuah kapal pesiar besar berwarna putih tampak sedang berlabuh. Dari namanya, kapal tersebut tampaknya merupakan kapal turis dari Italia. Ia membunyikan klaksonnya berulang-ulang hingga suaranya bergema ketika menyentuh tebing-tebing fjord yang saya tanjaki. Sebetulnya, pada awalnya saya berpikir bahwa saya akan punya kesempatan untuk berlayar di Geirangerfjord dan nggak cuma sekedar menyeberang dengan feri saja. Tentu saja hal tersebut tidak terjadi. Mobil kami justru semakin menanjaki tebing menjauhi Geiranger. Saya pun jadi kecewa karena saya pikir saya hanya akan numpang lewat saja di fjord terindah di Norwegia tersebut.

Beberapa saat setelah melewati beberapa tikungan di tebing tersebut, saya melihat keramaian di sebuah sudut jalan. Rupanya ada sebuah teras pandang untuk menikmati panorama Geirangerfjord dari atas. Woohoo!! Begitu mendapat izin keluar, saya langsung lompat dari mobil dan menyeberang jalan menuju teras pandang tersebut. Suara gemericik air dari air terjun kecil di dekat teras pandang itu segera menyambut saya. Teras pandang tersebut bernama Ørnesvingen atau Tikungan Elang, karena letaknya yang memang di tikungan kesebelas di tebing tersebut dan memungkinkan kita menyaksikan keindahan Geirangerfjord dari perspektif elang alias dari atas. Tepat di bawah teras pandang yang beberapa bagiannya terbuat dari kaca tersebut, mengalir sungai kecil yang merupakan sambungan dari air terjun yang menyambut saya tadi.

white cruise ship

Geirangerfjord dan kapal pesiar tampak dari Ørnesvingen.

ab3b516e727be1a4504792f0500488a1

Air terjun yang mengalir melalui kaca-kaca di Ørnesvingen. Arsitektur yang keren ini karya perusahaan arsitektur 3RW – Sixten Rahlff. Sumber: http://www.nasjonaleturistveger.no/

Dari teras pandang tersebut, saya dapat melihat kota Geiranger di sebelah timur yang tampak kecil. Kapal pesiar Italia tadi juga masih berlabuh pada tempatnya. Sementara itu, di sebelah kanan, agak jauh dekat kelokan pertama di Geirangerfjord, tampak air terjun yang sangat terkenal, yaitu De Sju Søstre. Mungkin Pembaca sering mendengarnya dengan nama Seven Sisters Waterfall. Air terjun ini merupakan air terjun dengan tujuh aliran yang jaraknya sangat berdekatan dan merupakan salah satu highlight dari tur di Geirangerfjord dengan menggunakan kapal.

seven sisters 3

Seven Sisters Waterfall dekat kelokan di Geirangerfjord.

seven sisters detail

Seven Sisters Waterfall (close up)

Setelah mengabadikan panorama yang khas gambar kartu pos tersebut, saya menyepi di sudut yang mendekati air terjun terkenal itu. Selagi tidak banyak orang, saya mengeluarkan daftar nama-nama di otak saya dan mulai menyebut satu persatu nama teman saya yang sudah titip sebut nama. Pertama-tama, dua nama teman saya yang sama-sama penyuka abad pertengahan dan Skandinavia, kemudian teman saya yang memperkenalkan saya pada negara-negara Skandinavia, adik saya, teman saya yang lain dan begitu seterusnya sampai nama-nama itu kesebut semua. Mudah-mudahan suatu hari nanti kalian bisa berdiri di teras pandang ini ya, teman-teman dan Pembaca sekalian yang namanya tidak bisa saya sebut satu persatu. 🙂

me and seven sisters

Numpang narsis sebelum perjalanan berlanjut lagi 🙂 hehehe…

Selesai dengan ritual sebut nama, saya menghampiri Chris yang rupanya sibuk membuat beberapa foto dalam berbagai mode dan filter dengan kamera DSLR-nya. Selanjutnya, kami kembali menyeberang jalan menuju mobil yang terparkir untuk melanjutkan perjalanan di rute Geiranger-Trollstigen yang akan semakin seru tentunya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi turisme Norwegia yang berisi tujuan-tujuan wisata dari seluruh Norwegia beserta tips-tips yang berguna:

https://www.visitnorway.com/

Website resmi turisme di Geiranger dan area sekitarnya:

http://www.visitalesund-geiranger.com/en/

Tentang teras pandang Ørnesvingen di Geiranger:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=%C3%98rnesvingen

 

 

Menuju Geiranger: Fjord, Danau dan Terowongan Terpanjang di Dunia

Berbeda dari banyak orang lainnya, saya nggak mau jalan-jalan ke tujuan-tujuan wisata dan cuma main jepret kamera. Apalagi kalau isinya muka saya semua. Saya senang belajar, terlebih lagi mengetahui fakta-fakta unik tentang suatu tempat. Kalau bisa nggak cuma yang diberi tahu oleh pemandu wisata. Maka dari itu, maklum-maklum saja ya, Pembaca, kalau foto-foto yang bertebaran di blog ini kurang bagus atau banyak yang mencong. Saya memang tidak terlalu fokus dengan jepretan foto, terutama kalau sedang di tempat bagus. Kamera terbaik adalah mata kita, bukan begitu Pembaca?

Omong-omong soal mata adalah kamera, kira-kira itulah bekal saya di 11 jam perjalanan berikutnya bersama dengan pelajaran geografi yang telah saya refresh di otak saya di Hardangervidda Natursenter. Dalam 11 jam yang sama sekali tidak singkat ini, mobil kami akan menempuh jarak kurang lebih 377 km ke utara, melewati kenampakan alam seperti yang telah saya pelajari di museum tersebut. Akhirnya, saya nggak cuma belajar teori tapi praktik juga 😀 Tapi, sudah tentu ada bedanya menggunakan kamera sungguhan dan mata sendiri. Kamera sungguhan punya memori, mata kita bisa menipu. Alhasil, saya pun harus mengakui bahwa ini adalah tulisan tersulit yang saya hasilkan dari seluruh perjalanan saya. Dengan jalan yang begitu panjang dan kenampakan alam yang mirip atau serupa berulang-ulang di depan mata saya, berulang kali saya harus memutar otak untuk mengingat rute yang benar yang saya lalui dalam perjalanan tersebut. Waduh, saya jadi banyak mengoceh nih. Langsung aja dimulai cerita selanjutnya yah..

Setelah berhenti beberapa saat di Øvre Eidfjord, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Eidfjord yang terletak di tepi Hardangerfjord, salah satu fjord yang terkenal di Norwegia. Melihat fjord yang biru tersebut, saya kini dapat membayangkan, bahwa ujung yang terletak dekat kota Eidfjord tersebut pasti sangat dalam, karena Eidfjord adalah kota di tepi Hardangerfjord yang paling jauh dari laut.

hardanger

Hardangerfjord

Dari Rv 7, saya berbelok ke Rv 13 melalui sebuah terowongan yang berujung pada sebuah jembatan panjang bernama Hardangerbrua. Hardangerbrua membentang di atas Hardangerfjord dan merupakan salah satu jembatan terpanjang di dunia. Sudah sejak lama saya ingin menyaksikan Hardangerfjord dari jembatan ini. Sayang sekali, ruang bagi kendaraan cukup sempit sehingga meskipun jembatan ini dilengkapi dengan jalur sepeda dan pejalan kaki, saya tidak bisa menepi sembarangan untuk turun dan mengambil foto. 😦 Padahal, dulu saya sering iseng menggunakan fitur street view Google Maps dan menjatuhkan kursor berbentuk orang-orangan di atas jembatan ini, hanya untuk mengagumi pemandangannya dari layar komputer saya. Jembatan ini menghubungkan terowongan Bu dengan terowongan Vallavik. Sebetulnya, dekat dengan terowongan Bu ada tempat parkir apabila kita ingin berjalan kaki di sepanjang Hardangerbrua. Kami tidak mengambil kesempatan tersebut mengingat perjalanan yang masih begitu panjang. Akhirnya, saya (terpaksa) membuat permohonan lagi dalam hati, agar suatu hari dapat berjalan melintasi jembatan tersebut.

en.hardangerfjord.com

Hardangerbrua dan zona pejalan kakinya. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

en.hardangerfjord.com.jpg2

Hardangerfjord yang cantik dilihat dari Hardangerbrua. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

Terowongan Vallavik (Vallaviktunnelen) ini panjangnya 7,51 km. Bisa dibilang inilah pertama kalinya saya memasuki terowongan yang demikian panjang. Jangan kaget dulu, Pembaca, karena nanti saya akan ketemu dengan yang lebih panjang lagi. 😛 Terowongan Vallavik memiliki sebuah bundaran bercabang tiga di dalamnya yang masing-masing mengantar kita ke sisi gunung yang berbeda. Jalur yang saya ambil menembus gunung hingga ke tepi sebuah danau bernama Granvinsvatnet dekat kota Granvin, Hordaland. Berkendara menyusuri danau itu, saya berjalan terus menuju sebuah kota cantik bernama Vossevangen atau sering juga disebut dengan Voss. Kami berhenti sebentar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kota ini untuk membeli makanan ringan untuk bekal di perjalanan.

Saya mengikuti jalan bernama Strandavegen di Rute E16 dari Voss. Di sebelah kiri saya tersebar rumah-rumah bergaya tradisional Norwegia di lereng gunung, sedangkan di kiri saya adalah Sungai Strandaelvi. Beberapa kilometer ke arah utara, mobil kami melalui sebuah air terjun di tepi jalan. Air terjun tersebut, Tvindefoss, betul-betul terletak di tepi jalan dan hanya dipisahkan oleh kompleks camping dan berseberangan dengan Sungai Strandaelvi. Di sekitar Tvindefoss ini terdapat banyak area rekreasi untuk aneka kegiatan seperti memancing dan arung jeram. Air terjun tersebut sendiri memiliki ketinggian 120 m tetapi jatuhannya yang mengalir turun melalui tebing batu membuatnya tampak seperti selendang putih.

tvindefoss

Tvindefoss di tepi jalan.

Terus berkendara di Rute E16, saya melalui kota Gudvangen dan Flåm. Dua kota kecil ini terletak di tepi dua fjord yang merupakan anak dari Sognefjord. Sognefjord adalah fjord yang serba “ter-” di Norwegia, yaitu terdalam, terlebar dan terpanjang. Gudvangen ada di ujung Naerøyfjord sedangkan Flåm ada di ujung Aurlandsfjord. Saya mengetahui tentang keindahan dua kota dan fjord ini melalui salah satu buku favorit saya, “Scandinavian Explorer” karangan Asanti Astari.

11543323

Buku yang sangat saya rekomendasikan buat yang tertarik ke Skandinavia 🙂 Sumber: http://www.goodreads.com/

Menurut buku itu juga, Gudvangen dan Flåm adalah dua kota yang akan dilalui jika kita mengikuti tur singkat “Norway in a Nutshell” dari Bergen ke Oslo. Dengan tur yang super populer tersebut, kalian sudah dapat melihat poin-poin penting dari alam Norwegia seperti fjord, air terjun, kota tua dan pegunungan. Dalam paket tur itu, para peserta bisa berlayar dari Gudvangen ke Flåm melalui kedua fjord tersebut dengan kapal. Serius, waktu baca bukunya saya pengen banget. Sayangnya ketika saya berkesempatan untuk berada di kota tersebut, saya cuma numpang lewat. 😦

 

Ya, namanya juga road trip pasti bakal banyak tempat yang cuma numpang dilewati. Sambil bikin permohonan lagi supaya bisa ikut Norway in a Nutshell suatu hari, saya melanjutkan perjalanan menuju Lærdal. Untuk mencapai kota tersebut dari tepi Aurlandsfjord, saya harus memasuki terowongan yang panjangnya tak terdeskripsikan lagi. Dua puluh empat setengah kilo, Pembaca! 24,5 km! Nggak tanggung-tanggung lagi, terowongan Lærdal (Lærdaltunnelen) ini langsung menyandang nama sebagai terowongan darat terpanjang di dunia. Padahal, terowongan nomor dua terpanjang yang ada di Swiss “hanya” 16 km. Kalau terowongan Vallavik yang saya lewati sebelumnya itu menembus gunung, terowongan ini pasti menembus pegunungan. Saya sempat jatuh tertidur dalam proses menembus pegunungan tersebut. Parahnya lagi, ketika saya bangun, saya masih berada di dalam terowongan itu. Kebayang ‘kan panjangnya? Berasa naik mobil dari Jakarta Pusat sampai Depok.

europe-norway-facts-worlds-longest-tunnel-laerdals-tunnel_outside_dsc05697

Lærdaltunnelen. Sumber: http://www.bergen-guide.com/

lc3a6rdalstunnelen_norway

Dalamnya terowongan terpanjang di dunia. Sumber: http://en.wikipedia.org/

Untunglah terowongan mahapanjang ini masih ada ujungnya. Betapa bahagianya saya ketika melihat cahaya di ujung dan pegunungan hijau kembali menyambut saya. Saya pun tiba di Lærdal dengan selamat tanpa keruntuhan bebatuan gunung maupun terjebak dalam terowongan karena hal lain. Setelah beberapa saat menempuh jalan yang diapit lembah hijau dan satu terowongan lagi, saya tiba di tepi Sognefjord yang entah sisi sebelah mananya lagi.

Fjord ini adalah fjord keempat yang saya lihat selama perjalanan ini. Tenang saja, Pembaca, saya tidak akan muntah karena bosan. Saya justru suka dengan pemandangan fjord yang tidak ada di negara saya ini. Belum lagi, kali ini saya punya cara berbeda untuk menikmatinya. Tidak dengan berkendara melipir di sisinya, tidak juga lewat jembatan panjang. Saya akan berlayar menyeberangi Sognefjord. Woohoo!! Girangnya saya mendengar adanya kesempatan berlayar di fjord meskipun cuma 20 menit.

Prosesnya tidak jauh berbeda dengan naik feri. Pertama-tama mengantri di depan pintu kapal, membayar tiket kemudian masuk dan parkir di lantai dasar. Selanjutnya, saya diperbolehkan turun dan berjalan-jalan ke dek atas maupun minum kopi di kafe kapal sampai kapal merapat di seberang. Tentu saja saya memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati pemandangan fjord terbesar di Norwegia itu sambil mencari udara segar. Rasa lelah akibat duduk berjam-jam di mobil segera terobati ketika saya berdiri di dek dan merekam sedikit perjalanan menyeberangi Sognefjord yang singkat namun tak terlupakan dengan kamera saya.

sognefjord with ferry

Menyeberangi Sognefjord

sognefjord

Dalam waktu singkat, kapal merapat di sisi utara fjord terpanjang di Norwegia tersebut. Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke utara sambil mulai tengak-tengok kiri kanan mencari restoran buka. Setelah berjam-jam, perut saya pun menyerah dan minta diisi makanan selain keripik atau snack-snack ringan lainnya. Jujur saja, mencari makanan di Norwegia itu sampai sekarang masih jadi masalah saya. Bukan karena saya alergi dengan makanan Skandinavia atau terlalu tawar dan lain-lain. Kalau lapar, makanan dingin pun akan saya santap. Masalahnya, mencari restoran di Norwegia dengan menu yang variatif dan harga yang terjangkau itu seperti mencari rusa kutub di gurun sahara. Karena (nyaris) tidak mungkin, kami mencari alternatif, seperti membawa bekal sendiri atau terpaksa makan makanan junk food.

Beberapa kali makan makanan buatan sendiri yang tentu saja terdiri dari smørbrød, lidah kami ingin sesuatu yang lain. Berhentilah kami di sebuah kota di salah satu cabang fjord yang lain bernama Sogndalfjøra. Tadinya, kami bermaksud mencari makanan Asia, yang ternyata hanya ada minimarketnya tanpa restoran. Setelah mondar-mandir di jalan yang sama, kami berhenti di sebuah restoran bernama Den Gamle Nabo. Begitu masuk, tampak interior yang mengesankan bahwa restoran tersebut adalah restoran mewah. Lain kesannya setelah saya duduk dan membuka menu makanan. Ujung-ujungnya isinya burger dan kebab juga. Memang bukan junk food sih, karena dimasaknya saja lama sekali dan bukan makanan cepat saji, tapi tetap saja saya bosan dengan sandwich, burger dan teman-temannya itu. Hiks 😥 Sekedar info, menurut saya restoran ini nggak terlalu recommended. Selain makanannya yang lama datangnya, rasanya terbilang biasa saja dan harganya agak overpriced.

Kami meninggalkan restoran itu dan Sogndalfjøra di bawah awan mendung dan gerimis. Meskipun demikian, sinar matahari tetap dapat menembus awan tersebut, membuat hari tetap terang untuk melanjutkan perjalanan. Kami melalui Rv 5 dan terus menuju ke utara. Setelah lembah dan gunung serta jalanan berkelok-kelok, kami mendekati taman nasional lagi. Jostedalbreen Nasjonalpark, taman nasional itu, adalah rumah dari gletser terbesar yang ada di daratan Eropa. Luas total dari gletsernya sendiri adalah 487 km persegi. Sama seperti Sognefjord, gletser ini pun memiliki cabang-cabang. Pelajaran geografi di Hardangervidda Natursenter membantu saya membayangkan, bahwa pada zaman es dulu, Sognefjord dan anak-anaknya pun menjadi bagian dari gletser raksasa ini.

boyabreen

Bøyabreen, salah satu anak gletser dari Jostedalbreen.

Kalau dilihat dari atas lewat peta Google, gletser ini tampak seperti tangan putih besar yang jari-jarinya menjulur ke berbagai arah. Salah satu jari tersebut, Bøyabreen, menjulur ke arah kota Fjærland dan tampak dari Rv 5 yang saya lalui. Wow, ternyata ukurannya cukup besar meski hanya cabang dari gletser utama. Untuk mencapai gletser ini, ada belokan kecil ke kanan dari jalan raya utama. Di sisi jalan tersebut terdapat kabin dan area berkemah. Kalau mengikuti jalan tersebut, kita akan tiba di sebuah danau kecil di kaki gletser tersebut. Tentu saja saya tidak mampir ke danau maupun gletser tersebut (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu. Sekedar informasi, gletser-gletser ini, betapa pun indahnya, sedang terancam kehancuran akibat pemanasan global. Ukuran mereka semakin menyusut setiap tahunnya karena es abadi yang ada pada mereka mencair perlahan-lahan.

Bagaimana, Pembaca? Sudah lelah mengikuti cerita saya? Tenang saja, kita sudah setengah jalan, kok. Kalau lihat gambar-gambar yang ada mungkin bisa sedikit mengurangi rasa lelah. Hehehe 😛 Lewat dari Bøyabreen, saya melalui beberapa terowongan pendek dan tiba di kota Skei. Setelah bundaran, saya mengambil jalan ke arah utara melewati jalur E39. Lagi-lagi jalur Eropa. Jalur E39 berkelok-kelok melewati beberapa danau di kiri-kanan, menanjak di dekat Byrkjelo dan turun ke kota Utvik yang terletak di tepi sebuah fjord. *terdengar suara gubrak dari bangku pembaca* Cape deh..

Fjord yang kali ini tidak panjang dan besar seperti Sognefjord. Namanya adalah Innvikfjord dan merupakan cabang bagian dalam dari Nordfjord yang terletak dekat laut. Begitu banyaknya fjord di negara ini, saya sampai berpikir jangan-jangan waktu Tuhan menciptakan Norwegia, Dia tinggal copy paste edit edit lagi. Hahahaa..  Duh, kan saya jadi melantur. Di Innvikfjord ini (sialnya) tidak ada jembatan maupun jasa penyeberangan feri. Alhasil kami pun harus memutari lewat tepiannya untuk mencapai kota Stryn di seberang. By the way, kota Stryn ini cantik sekali lho. Ketika saya tiba di sana, matahari bersinar cerah sekali meski hari sudah menjelang senja. Stryn menjadi tampak seperti resor musim panas yang diapit laut (fjord) dan dipunggungi pegunungan. Tak jauh dari tepi fjord banyak terdapat trailer-trailer para wisatawan dan kabin-kabin liburan yang menandakan bahwa kota ini memang tempat wisata yang populer.

xxxxxstryn

Stryn di tepi fjord dan kaki gunung. Sumber: http://www.morenytt.no/

Jalan kembali menanjak ke arah pegunungan yang melatari kota tersebut. Di samping saya, sungai Stryneelva berkelok-kelok dengan cantik, membawa air jernih dari pegunungan hingga turun ke fjord. Agak di atas, saya bertemu dengan danau lagi yang menjadi sumber air bagi Innvikfjord, yaitu Oppstrynsvatnet. Di tepi danau tersebut terdapat Pusat Pengunjung Taman Nasional Jostedalbreen (Jostedalbreen Nasjonalparksenter). Stryn dan kakaknya yang terletak agak di atas, Oppstryn, memang menjadi start awal bagi para petualang yang ingin mendaki gletser-gletser Jostedal karena letaknya yang memang dekat.

Saya terus melanjutkan perjalanan semakin naik ke pegunungan. Perjalanan mendaki gunung tersebut dibantu oleh terowongan-terowongan yang mempersingkat waktu. Tahu-tahu saya sudah pindah provinsi dari Sogn og Fjordane ke Oppdal. Begitu keluar dari terowongan terakhir, di samping saya terbentang danau yang panjang. Nama danau itu, Langvatnet, betul-betul berarti Danau Panjang. Tidak jauh berkendara menyusuri danau tersebut, ada lagi danau yang namanya Danau Dalam alias Djupvatnet. Saya mulai berpikir, jangan-jangan saking banyaknya danau, orang Norwegia kehabisan nama untuk menamai mereka. Terbukti ada beberapa danau dengan nama yang sama kalau kita niat banget meneliti setiap peta provinsi di Norwegia. Djupvatnet terletak di provinsi yang berbeda lagi, namanya More og Romsdal. Ternyata ada perbatasan tiga provinsi di atas pegunungan tersebut.

djupvatnet

Djupvatnet dikelilingi pegunungan bersalju.

Puncak pegunungan tersebut masih banyak yang tertutup salju. Beberapa bagian tampak seperti daerah kutub utara atau Svalbard, kepulauan di utara Norwegia tempat kediaman beruang kutub. Dari jauh, ketika saya baru saja keluar dari terowongan, tempat tersebut tampaknya sepi. Tidak ada tetumbuhan yang terlihat selain lumut tundra. Hanya ada beberapa mobil yang melintas. Saya nyaris yakin bahwa tempat tersebut tidak berpenghuni dan sangat antah-berantah di puncak gunung, sampai saya melihat sebuah bangunan dari kayu yang ternyata kabin dan penginapan. Astaga! Benar-benar ya orang-orang utara ini, mencari personal space sampai ke puncak gunung yang dingin begini!

Sebuah papan informasi di pinggir jalan memberi tahu saya bahwa tempat yang saya lalui berketinggian  1.030 m.d.p.l., lebih tinggi dari Hardangervidda. Tidak jauh dari penginapan tersebut, terdapat papan penunjuk arah dan jalan kecil yang menanjak. Jalan tersebut, mengarah ke puncak tertinggi di dekat situ, Dalsnibba, dengan ketinggian 1.476 m.d.p.l. Karena diburu waktu, kami tidak mengambil jalan tersebut melainkan turun menuju lembah. Mengikuti Rv 63, kami berhenti di sebuah titik pandang yang terletak di pinggir jalan. Dari tepi jalan yang tanpa pagar pembatas tersebut, saya berdiri dan menyaksikan keindahan panorama lembah yang berkelok di bawah. Pegunungan bersalju di kejauhan membingkai lembah hijau tersebut. Dari tebing-tebing di kiri kanan lembah, saya dapat melihat air terjun-air terjun kecil hasil lelehan salju di puncak gunung. Sungguh pemandangan yang bisa mencuri nafas saking bagusnya.

13707610_10210497256414158_560097613247220246_n

Pemandangan lembah dari viewing point di ketinggian 1.030 m.d.p.l.

Dari tempat itu, saya dapat melihat hasil dari proses pembentukan alam yang saya pelajari di Hardangervidda Natursenter. Danau-danau di puncak gunung tadi, seperti Langvatnet dan Djupvatnet adalah danau yang menampung air hujan atau lelehan salju. Danau tersebut mengalir menjadi air terjun kecil melalui tebing-tebing dan jatuh ke aliran sungai di lembah. Aliran sungai yang berkelok tersebut kemudian berlanjut ke fjord. Fjord terus mengalir hingga ke laut. Menakjubkan, bukan? Semua teori yang saya pelajari jadi nyata di depan mata. 🙂

Setelah menikmati pemandangan dan meluruskan kaki beberapa menit, kami berjalan lagi menuju lembah, kali ini dengan sebuah tujuan: mencari tempat bermalam. Kebetulan, mayoritas tim roadtrip kami adalah procrascinator yang senang mencari di detik-detik terakhir menjelang tengah malam. Tentu saja hal tersebut berdampak buruk, karena beberapa penginapan di sepanjang jalan menuju lembah sudah penuh. Maklum saja, karena saya memang semakin mendekati salah satu tujuan wisata terfavorit di Norwegia. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil kamar kosong apapun yang kami temukan setelah itu.

Di sebuah belokan dekat Hotel Utsikten, mata kami menangkap sebuah papan yang dipasang di pinggir jalan yang menginformasikan adanya kamar kosong. Tentu bukan kamar di hotel tersebut, melainkan kamar di sebuah rumah milik pasangan manula yang terletak di seberang hotel. Rumah tersebut bergaya jadul mengikuti pemiliknya, bahkan cara pembayaran sewa kamar pun sudah lanjut usia. Ketika mayoritas penduduk Norwegia sudah cashless, pasangan ini justru menagih bayar sewa dengan uang kontan. Alhasil, orang tua Chris harus mencari ATM di kota terdekat.

Sementara mereka pergi, saya dibiarkan turun dan menikmati pemandangan. Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun seperti biasa langit masih terang benderang. Bahkan langit lebih terang dari malam sebelumnya karena lokasi saya berada jauh lebih di utara. Dengan semangat, saya melipir di tepi jalan raya, mencari tempat yang lebih terbuka dan tidak tertutup pepohonan. Setelah menemukan tempat terbaik, saya berhenti. Dibatasi oleh pagar pembatas jalan, jauh di bawah sana tepat di depan mata saya, terbentang perhentian terakhir perjalanan darat hari kedua: Geirangerfjord. Karena hari telah larut, perairan tersebut sangat kosong. Tak satu pun kapal pesiar para turis yang tampak seperti pada gambar-gambar dalam kartu pos. Sebuah air terjun yang deras tampak jatuh dari pegunungan di belakang saya. Airnya mengalir melalui jeram-jeram kecil menuju fjord yang indah tersebut.

geirangerfjord

Geirangerfjord dari pinggir jalan, dekat tempat saya menginap pada pukul 23.00

Apakah saya bosan dengan fjord? Tidak sama sekali. Saya bahkan berdiri di titik tersebut, memandangi Geirangerfjord selama bermenit-menit sampai mobil kembali. Entah berapa fjord telah saya lewati sejak dari Eidfjord. Konon katanya, jika kita berkendara dari Kristiansand (kota di selatan Norwegia) sampai Trondheim, kita harus menyeberang 8 fjord dan memakan waktu 22 jam. Saya tidak bertemu fjord sebanyak itu, tapi saya rasa cukup sering untuk membuat hal tersebut tidak istimewa lagi. Tidak seperti itu sih kalau bagi saya. Tidak percaya? Kalau kata slogan sebuah perusahaan pelayaran di fjord bernama Fjord Norway, you have to be here to believe it – kamu harus berada di sini untuk percaya.:)

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Informasi tentang Hardangerfjord dan jembatannya:

http://en.hardangerfjord.com/ullensvang/things-to-do/hardanger-bridge-on-foot-or-on-wheels-p1083353

Tvindefoss dan area perkemahan di sekitarnya:

http://www.tvinde.no/

Salah satu perusahaan pelayaran untuk wisata fjord:

http://www.fjordnorway.com/

Paket tur yang saya sebut-sebut di atas dan selalu bikin saya pengen:

https://www.norwaynutshell.com/original-norway-in-a-nutshell/

 

Apakah Air Fjord Asin atau Tawar?

Bertahun lamanya saya punya pertanyaan ini di kepala saya. Kebetulan saya belum pernah sungguh-sungguh berdiri di tepi fjord dan mencicipi airnya. Jadi, bagaimana saya bisa tahu jawaban pertanyaan yang super nggak penting itu? Ditambah lagi, dua hari petualangan menyaksikan panorama alam Norwegia semakin menambah pertanyaan-pertanyaan di otak saya yang selalu haus pengetahuan. Saya boleh berbahagia, karena tidak lama setelah saya meninggalkan Vøringfossen, saya segera mendapatkan jawabannya. Woohoo!! 🙂

Meninggalkan lahan parkir dekat titik pandang kedua di Vøringfossen, mobil kami bergerak menuruni gunung menuju lembah Måbødalen di bawah. Pemandangan alam yang hijau berulang kali lenyap setiap kali mobil kami memasuki terowongan. Dugaan saya, mungkin ada ribuan terowongan di Norwegia. Beberapa di antaranya saya lalui dalam perjalanan menuju ke lembah. Terowongan-terowongan ini berbeda dengan yang pernah saya lalui di Indonesia, tempat kebanyakan terowongan hanya melintas di bawah jalan layang atau rel kereta api. Terowongan di Norwegia betul-betul menembus gunung, sehingga ketika saya masuk dari satu sisi dinding gunung, di ujung terowongan saya bisa tiba di sisi sebaliknya dengan pemandangan yang sama sekali berbeda. Pada umumnya, terowongan-terowongan di Norwegia sangat panjang. Misalnya terowongan yang saya lalui di daerah tersebut, saya lalui dalam waktu 3 menit. Namanya saja menembus gunung hehehe..

Setelah melewati beberapa terowongan, tibalah saya di kaki pegunungan tempat sebuah kota (atau desa?) bernama Øvre Eidfjord terletak. Daerah ini sebetulnya merupakan bagian yang lebih tinggi dari kota Eidfjord yang sebelumnya saya sebut. Berhubung orang tua Chris ingin beristirahat dan duduk-duduk mengopi, kami berhenti di sebuah bangunan semacam museum yang berwarna merah. Di seberang bangunan itu adalah sebuah toko suvenir dan kafe yang menjual aneka makanan dan minuman yang bervariasi. Karena saya dan Chris tidak lapar dan tidak suka kopi, berpencarlah tim lintas alam kami. Orang tuanya beranjak ke kafe, sedangkan kami menuju museum.

Museum tersebut adalah Hardangervidda Natursenter, yang memajang berbagai koleksi interaktif mengenai kondisi alam yang tersebar di wilayah Taman Nasional Hardangervidda. Museum berlantai tiga tersebut menyajikan berbagai pengetahuan mengenai keadaan biologis, ekologis, dan geografis wilayah tersebut dengan cara yang sangat menarik. Museum ini buka dari tanggal 20 Maret sampai 31 Oktober, mulai pukul 10.00 sampai 18.00. Khusus tanggal 15 Juni sampai 20 Agustus atau high season, mereka buka sejak pukul 09.00 sampai 19.00. Setelah membeli tiket seharga 130 NOK per orang, saya dan pacar saya memulai eksplorasi di museum tersebut.

13754293_10210487774017104_8079086022493348786_n

Hardangervidda Natursenter

 

Rute yang saya pilih untuk berkeliling di museum tersebut agak aneh. Kebanyakan orang memulai dengan menonton tayangan film pengetahuan alam yang menunjukkan panorama di Hardangervidda. Akan tetapi, saya terpaksa harus melewatkan film tersebut karena ketika saya masuk, film tersebut sudah dimulai. Tidak mau mengganggu yang lain, saya pun memutuskan untuk berkeliling. Pertama-tama, saya memulai dari lantai dua (yaitu tempat loket pembelian tiket berada), kemudian turun ke lantai satu dan kembali naik ke lantai tiga.

Di lantai dua terdapat koleksi rusa kutub dalam berbagai ukuran yang diawetkan dan dipajang sebagai diorama. Diorama tersebut menunjukkan bagaimana penduduk dari zaman batu telah mendiami wilayah Hardangervidda karena mengikuti migrasi rusa kutub untuk mata pencaharian mereka. Dari situ pula saya baru tahu bahwa rusa kutub adalah satu-satunya jenis rusa yang setara secara biologis. Eh? Maksudnya? Ya, karena mereka sama-sama punya tanduk.

natursenteret_reinsdyr-forfra.jpg

Diorama migrasi rusa kutub. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Di lantai yang sama, terdapat simulasi runtuhnya bebatuan gunung yang merupakan salah satu hal yang sering terjadi di lereng gunung. Simulasi ini dilengkapi dengan suara yang menyerupai runtuhan gunung. Di pojok belakang kiri terdapat diorama beberapa jenis burung yang hidup di Taman Nasional Hardangervidda. Selain itu, hal yang menarik bagi saya adalah miniatur gunung berapi dan berbagai jenis bentuk letusannya yang bersifat interaktif. Jika kita menekan tombol yang ada di kotak pelindungnya, kita akan menyaksikan simulasi letusan dan lelehan lava yang menarik. Saya jadi ingat pelajaran geografi saya di SMA. 🙂

Dari lantai dua, saya turun ke lantai satu. Segera saya disambut dengan akuarium besar yang mengoleksi beberapa jenis ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Di samping akuarium tersebut, terdapat diorama suasana hutan dengan patung seorang pemburu dari abad pertengahan bernama Ottar. Diorama ini pun bersifat interaktif. Ottar dapat menjelaskan mengenai kehidupan di dataran tinggi pegunungan dari berbagai masa. Serasa didongengi deh!

akvarium_fisk

Salah satu ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Tak jauh dari kedua diorama tersebut, terdapat koleksi glasiologi. Glasiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gletser, yang memang banyak terdapat di Norwegia. Ayo, siapa yang masih ingat apakah gletser itu? 🙂 Sebetulnya saya juga tidak ingat sampai ketika saya membaca lagi di Hardangervidda Natursenter 😛 Jadi intinya, gletser adalah endapan es yang terbentuk karena tumpukan salju yang turun terus menerus, biasanya di daerah kutub atau di puncak gunung yang sangat tinggi. Es yang semakin berat akan tertarik gravitasi dan mengalir ke bawah secara perlahan-lahan seperti sungai dan mengikis permukaan tanah, membentuk daratan berbentuk cekung seperti sungai, danau, lembah, ngarai dan sebagainya. Fenomena gletser ini merupakan salah satu topik favorit saya dalam buku “Pustaka Alam LIFE: Gunung” yang selalu saya baca ketika kecil dulu. Sayangnya, saya belum sempat merasakan sensasi berjalan di atas gletser yang banyak dipromosikan oleh jasa-jasa tur di Norwegia. 😦

Dekat dengan penjelasan mengenai gletser itu terdapat semacam benda putih mirip es yang dipajang di dinding. Dugaan saya, benda itu adalah simulasi bentuk es yang ada di gletser. Saya terkejut ketika saya menyentuhnya dan mendapati bahwa benda itu dingin dan basah. Wah, es sungguhan ternyata! Kembali saya menjadi norak dan berkali-kali menyentuh es tersebut. Karena aneh, Pembaca, esnya tidak meleleh sama sekali. Malah lucu bagi saya, karena ada cap tangan di sana. Seseorang pasti iseng menempelkan tangan di es tersebut.

glasiologi

Contoh es gletser sebelum ada cap tangannya hehehe.. 😛 Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Berlalu dari es tersebut, saya menuju sebuah layar di tengah ruangan yang menampilkan semacam film singkat. Film itulah yang akhirnya menjawab pertanyaan saya. Ternyata, fjord adalah anaknya gletser yang sudah terbentuk sejak 25 juta tahun lalu. Fjord terbentuk dari gletser yang ketika meluncur ke bawah dengan lambat turut mengikis permukaan tanah yang berada di bawahnya. Proses ini berlangsung selama jutaan tahun hingga tanah terkikis bermeter-meter dalamnya. Suatu ketika. gletser yang telah mencair tersebut mengering, sehingga air laut menggenangi cekungan yang terbentuk dari erosinya. Lahirlah fjord, yang semakin mendekati laut semakin dangkal. Dari penjelasan itu, saya pun dapat menyimpulkan, bahwa air fjord tawar pada ujungnya dan semakin asin pada mulutnya yang dekat dengan laut ^^.

Di sebelah layar tersebut terdapat diorama berbentuk gua yang dapat kita masuki. Di dalam gua batu tersebut dipajang berbagai koleksi bebatuan dan mineral yang ditemukan di wilayah Hardangervidda. Menariknya, koleksi tersebut boleh disentuh, sehingga saya pun mengambil kesempatan tersebut untuk merasakan aneka permukaan batu yang berbeda. Batu-batuan yang banyak ditemukan di Hardangervidda antara lain konglomerat dan berbagai jenis marmer. Percaya atau tidak, batuan tertua yang ditemukan di Hardangervidda berusia 1100 dan 1700 juta tahun. Fosil-fosil batuan yang ditemukan menunjukkan bahwa dulu sekali dataran ini terletak di dasar laut dan Norwegia terletak di selatan khatulistiwa. Ini fakta paling mencengangkan yang saya pelajari di museum ini, Pembaca!

geologi

Diorama berbentuk gua dan contoh bebatuan yang bisa disentuh. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Selesai mengeksplor lantai satu, saya naik ke lantai tiga. Sebagian besar lantai tiga digunakan untuk memajang diorama-diorama ekologis yang berfokus pada keragaman flora dan fauna di Hardangervidda. Beberapa diorama dilengkapi dengan layar yang menampilkan kuis interaktif. Pertanyaan-pertanyaannya seputar habitat, makanan dan cara berkembang biak hewan-hewan yang ada di sana, misalnya burung hantu, rubah kutub dan kelinci salju. Ada juga informasi tentang jenis-jenis bunga yang tumbuh di Hardangervidda. Menarik sekali. Saya mengetahui dari koleksi-koleksi tersebut, bahwa dataran tinggi Hardangervidda adalah satu-satunya tempat di Norwegia yang terletak cukup jauh dari kutub tetapi memiliki keragaman satwa yang khas wilayah kutub, seperti rubah arktik.

Akhirnya, berakhirlah pelajaran geografi saya di Hardangervidda Natursenter. Secara teori, saya jadi tahu banyak tentang kondisi geografis di negara impian saya. Secara praktek, saya belum ada apa-apanya. Saya masih perlu banyak belajar (baca: menyaksikan secara langsung yang sudah dipelajari). Haha.. bilang aja mau jalan-jalan, ya? 😛 Dengan senang hati, saya turun ke lantai dua, mengamati peta area Hardangervidda dan melangkah keluar menuju kafe tempat orang tua Chris masih duduk dan asyik minum kopi.

13700220_10210487774137107_5545287188875557187_n.jpg

Kafe dan beberapa rumah di kota Øvre Eidfjord yang dikelilingi pegunungan cantik dan air terjun.

 

Sambil menunggu mereka, saya mengamati keadaan sekitar. Kota kecil tersebut, Øvre Eidfjord, bagi saya tampak seperti desa. Pada dasarnya tidak ada yang spesial di situ, selain karena pesona alam yang mengelilinginya. Saya pribadi tidak keberatan pindah ke sana, walaupun kabarnya kota kecil ini semakin ditinggalkan penduduknya. Hanya ada sekitar 100 sampai 200 orang yang masih mendiami kota tersebut. Sebagian besarnya orang-orang lanjut usia atau petani yang hidup dari turisme dan pertanian. Anak-anak mudanya sudah pergi ke kota-kota yang lebih besar mencari pekerjaan yang lebih baik. Kabar baiknya, Eidfjord baru kedatangan penduduk baru dari luar Norwegia. Beberapa orang dari Jerman dan Belanda baru saja pindah ke kota tersebut. Duh, saya jadi pengen juga nih, Pembaca 🙂 Tapi saya malah harus meninggalkan kota itu, karena perjalanan ke tempat bermalam selanjutnya masih sangat sangat panjang. Ikuti terus, ya! 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Hardangervidda Natursenter:

http://hardangerviddanatursenter.no/

 

 

 

Air Terjun Vøringfossen: Semakin Cantik dari Tepi Jurang

Perjalanan hari kedua saya akan dimulai di sekitar sebuah kota kecil yang berlokasi sekitar 5 km dari kabin saya. Namanya Eidfjord. Kota yang menurut saya lebih tepat disebut desa ini dikelilingi pesona alam mulai dari air terjun sampai fjord. Saya akan bertualang di beberapa pesona alam tersebut. Oleh karena itu, sejak malam hari saya diwanti-wanti untuk bangun pagi.

Sebetulnya saya bingung dengan definisi “pagi” di Norwegia, atau lebih tepatnya di keluarga Chris. Kalau saya atau keluarga saya akan berkendara selama 13 jam, saya pasti sudah disuruh-suruh bangun dari jam 5 pagi. Tapi di sini lain. Pagi yang dimaksud adalah maksimal jam 9 pagi, karena kita akan berangkat pukul 10. Anehnya, dalam waktu satu jam itu tiba-tiba semua orang sudah siap. Entah karena orang di sana punya kemampuan menghentikan waktu atau memang waktu berjalan lebih lambat di belahan bumi utara pada siang hari. Atau mungkin memang saya saja yang pikirannya aneh hehehe 😛

Beruntunglah saya terbangun cukup pagi karena langit yang sudah terang kembali tampak di jendela kecil kamar saya. Mumpung belum ada yang bangun, seperti biasa saya beranjak menuju kamar mandi. Siapa bangun duluan dapat air panas paling banyak 😀 Memang itu yang saya incar sejak mengetahui bahwa air panas terbatas. Siapa coba yang mau mandi di air beku di ketinggian tidak jauh lebih rendah dari 1000 meter?

Setelah saya mandi, berturut-turut keluarga pacar saya bangun dan mandi. Kemudian, kami makan bersama di ruang makan. Menunya tidak jauh-jauh dari makanan paling khas Skandinavia, smørbrødMakanan ini berbentuk sandwich yang terbuka alias tidak ditumpuk. Topping-nya bisa dipilih dari berbagai variasi makanan beku maupun selai aneka buah. Intinya, smørbrød ini makanan dingin. Saya sempat mengalami culture shock ketika menyusun toppingnya. Sebetulnya ini bukan pertama kalinya saya menyantap sandwich ini, tapi berkali-kali memakan makanan yang sama membuat saya ingin mencoba variasi topping. Apalagi, topping yang kami bawa sebagai bekal dari rumah banyak sekali. Kalau dijejer bisa memenuhi satu meja panjang.

norwegian-open-sandwich-01

Smørbrød, makanan khas Skandinavia dengan dua jenis topping. Sumber: http://www.wikipedia.no

Saat itu, saya menaruh daging asap di atas roti gandum saya. Kemudian, saya menghiasnya dengan keju rasa daging asap yang bentuk tempatnya menyerupai pasta gigi (kebayang ‘kan?). Melihat itu, Chris dan Ellen tertawa terbahak-bahak. Saya yang tidak tahu menahu apa-apa menjadi malu dan merasa aneh. Rupanya, keju olesan tadi harusnya dijadikan dasar seperti mentega. Ellen sampai berpikir, “anak ini seleranya unik!”. Sekarang saya sudah punya topping favorit, yaitu leverpostei (semacam olesan yang terbuat dari hati babi), daging asap atau salmon segar, salad, saus Thousand Island dan bawang goreng. Bawang gorengnya beda lho dengan yang di Indonesia.

Usai makan, kami bergotong royong membersihkan kabin dan mengepak kembali koper-koper ke mobil. Di kabin disediakan sebuah vacuum cleaner yang harus digunakan untuk membersihkan semua ruangan. Kami juga harus mencuci semua peralatan makan dan memasak yang kami gunakan. Sebetulnya boleh saja kalau ingin meninggalkan kabin setelah digunakan dan membiarkan jasa bersih-bersih dari pihak penginapan untuk melakukannya. Untuk itu dikenakan biaya tambahan yang kebetulan saya tidak tahu berapa.

Setelah mengembalikan kunci ke bangunan administrasi, kami berkendara sejauh 2-3 km menuju tujuan kami berikutnya, Vøringfossen. Air terjun dengan ketinggian 182 m ini merupakan salah satu pesona alam tak jauh dari Eidfjord yang saya kunjungi hari itu. Untuk menikmati keindahannya, disediakan dua titik pandang yang dilengkapi dengan platform view (kira-kira diterjemahkan jadi apa ya ini? Teras pandang?) bagi para turis. Teras pandang pertama terletak lebih tinggi, tidak jauh dari Hotel Fossli yang terkenal dengan arsitektur Art Nouveau-nya. Untuk mencapainya, cukup mengikuti papan penunjuk jalan dari Rute 7 yang akan menunjukkan belokan kecil di sisi kanan menuju hotel tersebut. Dengan mengikuti jalan kecil tersebut, kita akan tiba di parkiran bangunan hotel yang dibatasi oleh kios suvenir dan kafe di sisi kanannya.

Dari parkiran tersebut, saya berjalan turun ke arah barat menuju teras pandang yang pertama. Pada saat itu, sebagian dari teras tersebut sedang direnovasi. Belakangan saya baru mengetahui bahwa renovasi tersebut merupakan bagian dari rencana pembuatan titik pandang yang lebih aman di area air terjun tersebut. Desainnya mengikuti desain dari pemenang sayembara arsitektur tersebut yang bernama Carl Viggo Hølmebakk. Rencananya, teras pandang yang baru akan memiliki sebuah jembatan yang memungkinkan kita untuk berjalan menyeberang di atas air terjun tersebut. Sayang sekali, diperkirakan teras pandang ini baru akan jadi pada tahun 2023. Duh, saya sudah tidak sabar nih, Pembaca 🙂

Meskipun sedang direnovasi, kita tetap dapat menikmati pemandangan utama di air terjun tersebut dari sisi lain teras yang panjang. Saya berjalan ke arah barat untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Vøringfossen, air terjun yang terdiri dari dua buah aliran utama berukuran besar dan kecil ini, bersumber dari sungai Bjoreia. Pada musim dingin, aliran sungai ini dialihkan sebagian untuk PLTA, sehingga mengakibatkan berkurangnya volume air yang jatuh ke lembah. Oleh karena itu, waktu yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Vøringfossen adalah selama musim panas. Dari ketinggian 182 m (ada juga yang mengatakan 145 m), air terjun cantik ini jatuh ke lembah Måbødalen membentuk sungai kecil berkelok-kelok. Berdiri di teras pandang tersebut, saya dapat berada dekat dengan aliran air terjun yang berukuran kecil dan berhadapan dengan air terjun utama.

13775342_10210487685374888_5381075976703549339_n

Air terjun besar jatuh ke lembah Måbødalen setinggi 182 m dilihat dari teras pandang pertama.

13707653_10210487687054930_91134712225383818_n

Lembah Måbødalen tampak berkelok-kelok dari teras pandang pertama.

Pada awalnya, saya tidak berencana untuk berhenti di titik pandang kedua, karena saya tidak tahu tentang keberadaannya. Dari teras pandang pertama tersebutlah saya melihat ke bawah bahwa ada suatu tempat di mana bus-bus turis berhenti dan orang-orang berkerumun mengabadikan foto. Kebetulan, titik pandang kedua berlokasi tidak jauh dari titik pandang pertama dan memang akan saya lewati dalam perjalanan menuju tujuan selanjutnya. Cukup kembali ke jalan utama, yaitu Rute 7, kemudian menyeberangi Sungai Bjoreia dan saya tiba di titik pandang kedua.

Titik pandang kedua tidak memiliki teras pandang, melainkan hanya berupa bukit-bukit batu dan jalan raya yang memiliki trotoar yang langsung berbatasan dengan lembah Måbødalen yang curam. Tempat tersebut juga dilengkapi dengan lahan parkir, kafe dan toko suvenir. Dari tempat itu, saya dan Chris berpisah dengan orang tuanya. Mula-mula saya berjalan menyusuri trotoar tersebut. Dari titik pandang kedua inilah saya berhasil mengabadikan air terjun Vøringfossen persis seperti yang tampak pada kartu pos-kartu pos. Tempat tersebut memungkinkan saya melihat kedua air terjun secara lebih jelas. Jika ingin lebih jelas lagi, disediakan jalan setapak menuju kaki air terjun, tetapi kita harus menuju Måbødalen terlebih dahulu. Lamanya trekking menuju kaki air terjun adalah sekitar 90 menit perjalanan bolak-balik.

13781972_10210487688134957_5322852074411576658_n

Kedua air terjun tampak dari titik pandang kedua (dari trotoar tepi jalan). Bangunan merah di puncak adalah Hotel Fossli, tempat teras pandang pertama berada.

Dasar saya yang tidak gampang puas, saya masih merasa bahwa pemandangan di trotoar tersebut belum cukup. Kebetulan sekali di perjalanan kembali ke lahan parkir, saya bertemu dengan orang tua Chris yang rupanya memilih sudut pandang lain, yaitu bukit-bukit batu. Bergeraklah saya menuju bukit-bukit batu yang ada di sebelah kanan lahan parkir. Bukit-bukit batu tersebut tidak memiliki jalan setapak dan ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, sehingga kita harus memilih jalan sendiri dengan menentukan pijakan yang aman.

Sebelum mulai mendaki, saya menyadari bahwa beberapa pohon diikat dengan pita putih di rantingnya, terutama jika ada percabangan jalan. Di situlah saya menyadari bahwa pita putih tersebut adalah penanda jalan yang aman. Di saat saya begitu yakin dengan jalan yang saya pilih, di situlah saya menyadari keberadaan beberapa batu nisan di bukit batu tersebut. Batu nisan yang dilengkapi foto itu mencatat nama seseorang beserta negara asalnya, yang anehnya bukan dari Norwegia. Saya pun menggali informasi pada pacar saya karena penasaran. Ternyata, batu nisan tersebut hanya penanda. Maksudnya, tidak ada jenazah yang dikuburkan di bawahnya. Lalu ke manakah jenazahnya? Entahlah, konon katanya tidak ditemukan. Orang-orang di foto tersebut adalah turis-turis yang mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang Måbødalen karena kurang hati-hati ketika mengamati air terjun. Hiiii… bulu kuduk saya langsung merinding membayangkan hal tersebut.

Seolah menjadi peringatan bagi saya, saya pun melangkah dengan hati-hati ketika menaiki bukit batu. Dengan teliti, saya berusaha memperhatikan pita putih agar tidak salah jalan. Saya berhasil mencapai puncak bukit yang ternyata nyaris tidak memiliki pagar pembatas di tepi jurang. Antara saya dan air terjun yang jatuh ratusan meter itu betul-betul tidak ada batasnya! Sekarang saya paham mengapa banyak turis yang jatuh ke jurang. Bahkan ketika saya berada di sana pun, saya sempat bertemu dengan pasangan fotografer yang dengan gilanya bisa duduk di tepi jurang dengan kaki menggantung, atau berbaring di tepinya demi mendapatkan foto terbaik. Saya saja terpaksa berjalan pelan-pelan karena kaki sudah gemetaran melihat curam dan tingginya jurang, meskipun bahaya tersebut tidak menghentikan saya untuk mengabadikan dan menikmati keindahan panorama di situ.

13754402_10210487691055030_8919875463095236640_n

Lembah Måbødalen tampak dari titik pandang di bukit batu. Untuk mengambil foto ini saya harus doa dulu hehehe.. 😀 Perhatikan, tidak ada batas antara jurang dan tanah yang saya pijak.

 

13707572_10210487689574993_916131325475627775_n

Duduk di tepi jurang dengan latar belakang air terjun kecil. Di belakang saya itu sudah jurang dan tidak ada pagarnya >.<

 

Lembah Måbødalen yang berkelok mengikuti sungai terlihat lebih jelas dari puncak bukit tersebut. Diiringi suara derasnya air yang jatuh dari Bjoreia, saya melongok ke bawah, menyaksikan Vøringfossen dari jarak yang begitu dekat. Dari tempat tersebut pula saya dapat melihat air terjun yang kecil dengan lebih jelas. Tebing-tebing di sepanjang lembah tampak berdiri tegak dengan curam. Saya kadang berandai-andai, bagaimana orang dapat mencapai puncak tebing itu ketika belum ada helikopter.

Puas bertakut ria di puncak bukit sembari menikmati indahnya air terjun Vøringfossen, saya berniat kembali ke lahan parkir karena mendung mulai tiba. Beberapa langkah turun ke bawah, saya terjebak kebingungan. Saya merasa ada lebih banyak pohon yang ditandai pita putih. Bukan hanya itu, tiba-tiba ada turis-turis datang dari berbagai arah. Saya jadi bingung ke mana arah pulang. Dengan nekad, saya mengambil salah satu jalan di sebelah kiri. Jalan ini lebih sulit dibandingkan ketika saya naik tadi. Bebatuan yang saya gunakan untuk menapak lebih licin dan memiliki perbedaan ketinggian yang jauh antara satu sama lain. Jalan tersebut membawa saya ke bagian yang agak tinggi. Dari situlah saya melihat lahan parkir. Tanpa basa basi lagi saya langsung melangkah ke arah lahan parkir tempat kedua orang tua Chris (lagi-lagi) sudah menunggu. Dengan rasa lega saya pun kembali ke mobil dan bersiap untuk pesona alam selanjutnya.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.fjordnorway.com/top-attractions/voringsfossen