Harta Karun Bersejarah di Istana Uskup Trondheim

Hari ketiga saya di perkemahan diawali dengan terbangunnya saya karena tenda yang saya tempati bergoyang ke sana kemari. Udara juga terasa semakin dingin. Ketika saya membuka mata, saya tersadar bahwa angin bertiup sangat kencang di pagi itu. Saya yakin kalau patok yang kami pasang untuk mendirikan tenda itu tidak terpasang kuat, tenda itu pasti sudah terbang tertiup angin.

Saya merangkak keluar dari ruang tidur saya dan mendapati hanya ayah Chris yang sudah bangun dan mulai membereskan barang. Kegiatan pagi itu adalah mengepak kembali barang-barang kami karena sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan ke arah utara. Setelah kegagalan mendapatkan tangkapan yang memuaskan ketika memancing, kami harus mencari tempat lain yang mungkin memiliki lebih banyak ikan. Saya sendiri sudah punya rencana tentang tempat-tempat lain yang harus saya kunjungi.

Singkat cerita, orang tua Chris menawarkan untuk menyelesaikan proses pengepakan barang dan membongkar tenda, sedangkan kami berdua akan diantar kembali ke Trondheim untuk menghabiskan dua museum yang tersisa dengan tiket terusan yang kami punya. Kali ini saya tidak lagi merasa seperti anak kurang ajar karena sudah dijelaskan dalam obrolan antarbudaya di malam sebelumnya. Akhirnya, setelah selesai mengepak tas dan koper sendiri, saya dan Chris kembali diantar oleh ayahnya ke Trondheim.

Kami tidak punya waktu banyak untuk berpetualang di hari itu, karena kami akan dijemput lagi sekitar tengah hari untuk melanjutkan perjalanan. Kami turun di seberang Munkegata karena alun-alun ditutup untuk kendaraan bermotor. Ketika melintasi alun-alun tersebutlah saya memperoleh kesempatan untuk melihat lebih dekat proyek galian yang tersebar di pinggir jalan. Dari jauh, tempat tersebut tampak seperti perbaikan jalan, namun setelah didekati, terdapat hal yang berbeda pada pagar pembatasnya. Bukan hanya tulisan “dilarang melintas” yang terpasang di pagar pembatasnya, melainkan juga kertas-kertas berlaminating yang berisi foto-foto benda-benda yang tampak seperti penemuan arkeologis seperti sepatu tua dan potongan kain tua. Tulisan keterangan dalam kertas-kertas itu berbahasa Norwegia dan saya tidak mengerti seluruhnya, namun saya berhasil menangkap informasi bahwa proyek galian tersebut adalah proyek penggalian situs arkeologi. Tampaknya telah ditemukan banyak peninggalan-peninggalan dari masa lampau di bawah pusat kota Trondheim. Wow, pembaca, saya menjadi sangat penasaran dan bersemangat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penemuan-penemuan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, saya tidak dapat berlama-lama membaca satu persatu kertas informasi tersebut. Saya dan Chris kembali menyusuri Munkegata untuk memasuki kompleks Nidarosdomen. Tujuan kami adalah kompleks bekas istana uskup yang memiliki beberapa museum di dalamnya. Kami memilih museum pertama yang berada di sebelah kanan gerbang kompleks yang tampak berbenteng tersebut. Meski interior bangunan bagian dalam kompleks tersebut tampak tua, museum yang kami datangi ini memiliki pintu kaca dan interiornya jauh lebih modern dibandingkan tampak luarnya.

photo0jpg

Pintu masuk Riksregaliene yang bergaya abad pertengahan. Sumber: http://www.tripadvisor.com

Museum yang kami kunjungi pertama tersebut adalah Riksregaliene atau Crown Regalia. Museum ini memajang koleksi benda-benda kerajaan khususnya mahkota, perhiasan dan tongkat yang digunakan untuk upacara-upacara kenegaraan. Salah satu upacara tersebut tentu saja upacara pelantikan raja yang biasa dilakukan di Nidarosdomen. Di lantai satu terdapat sejarah singkat mengenai Kerajaan Norwegia. Meskipun saat ini pemerintahannya dikepalai oleh seorang perdana menteri, negara ini adalah satu dari sedikit negara Eropa yang bertahan dalam bentuk monarki.

Pada masa Viking Age, Norwegia terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Salah satu raja kerajaan tersebut, Harald Hårfagre, memimpin pemberontakan yang berujung pada penyatuan kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Sayangnya, persatuan ini tak berlangsung lama karena kemudian kerajaan tersebut jatuh ke tangan Kerajaan Denmark. Setelah kristenisasi oleh Olav Tryggvasson yang dilanjutkan oleh Olav Haraldson (St.Olav), Norwegia sempat lepas sesaat dari jajahan Denmark. Selanjutnya selama bertahun-tahun, negara ini berpindah-pindah dari tangan Kerajaan Swedia dan Denmark sebagai bagian dari sebuah persatuan dua negara (union). Tanggal 17 Mei 1814 menjadi hari di mana Kerajaan Norwegia akhirnya berdiri sebagai kerajaan merdeka yang tidak lagi menjadi anggota perserikatan dengan Swedia maupun Denmark. Saat ini, Kerajaan Norwegia dipimpin oleh Raja Harald V dan Ratu Sonja.

Dari lantai satu, saya beranjak menuruni tangga. Suasana di museum tersebut cenderung gelap karena minimnya lampu penerangan besar. Menuruni tangga tersebut membawa saya pada ruangan-ruangan yang lebih gelap lagi. Yang saya ingat, seluruh dindingnya berwarna hitam dan lampu-lampu hanya ditempatkan di dekat koleksi museum. Tangga tersebut mengantar saya pada sebuah lorong yang dindingnya dipenuhi deretan foto dan lukisan. Foto-foto dan lukisan tersebut dipasang berurutan dari yang paling tua hingga yang paling baru. Semuanya menampilkan upacara pemahkotaan raja-raja yang pernah memimpin di Norwegia, termasuk Raja Harald V yang dimahkotai tahun 1991.

13920789_10157956431480377_4246437749748692284_n

Foto/lukisan upacara penobatan Raja Harald V dan Ratu Sonja di Nidarosdomen tahun 1991.

Memasuki ruangan selanjutnya, saya berpapasan dengan seorang bapak-bapak tanpa ekspresi yang berpakaian resmi seperti pengawal kerajaan modern. Mulanya, saya pikir beliau hanyalah petugas museum yang menyediakan jasa pemandu. Karena saya hanya ingin melihat-lihat, saya tidak begitu fokus dengan keberadaannya. Apa yang ada dalam ruangan selanjutnya jauh lebih layak menjadi fokus saya. Deretan kotak-kotak kaca dengan lampu di sekitarnya menampakkan koleksi perhiasan milik keluarga kerajaan sejak zaman raja-raja terdahulu di ruangan gelap tersebut. Rupanya inilah sebabnya mengapa ruangan-ruangan di museum tersebut sengaja dibuat gelap – agar kita dapat mengamati koleksi perhiasan tersebut lebih detil.

Tidak hanya koleksi perhiasan, beberapa kotak kaca di ruangan tersebut juga memajang pedang-pedang yang menjadi aksesoris pakaian resmi kerajaan. Pedang-pedang tersebut memiliki sarung berlapis emas dan berhias ukiran ornamen aneka bentuk. Akan tetapi, bagian terbaik dari koleksi tersebut tentu saja berbagai aksesoris yang dikenakan oleh Raja Harald V dan Ratu Sonja pada hari penobatan mereka. Satu set aksesoris tersebut terdiri dari jubah merah berbulu seperti kostum raja dalam dongeng-dongeng, sebuah mahkota besar yang terbuat dari emas dengan hiasan aneka batu mulia dan mutiara air tawar Norwegia, sebuah tongkat emas dan sebuah bola bertahtakan salib yang mereka bawa di tangan kanan dan kiri mereka selagi mengucap sumpah. Bola tersebut merupakan simbol planet bumi dan kekuasaan monarki sedangkan tongkat melambangkan otoritas raja yang sifatnya sementara saja. Ada pula sebuah tanduk kecil dari emas yang berisi minyak urapan. Tradisi minyak urapan berasal dari Timur Tengah dan melambangkan raja sebagai wakil pilihan Tuhan di dunia. Keindahan dan nilai historisnya membuat saya ingin mengabadikan benda-benda itu dalam foto, yang tentu saja tidak jadi karena lagi-lagi saya melihat bapak-bapak lain berpakaian resmi seperti pengawal itu mondar-mandir di ruangan tempat saya berada. Rasanya seperti diawasi ketat, Pembaca hahaha… 😀

riksregalier1

Jubah kebesaran raja yang dikenakan pada upacara penobatan. Sumber: http://www.trondheim.no

Karena merasa tidak nyaman, saya menyarungkan kembali kamera saya. Saya jadi penasaran, jangan-jangan koleksi ini asli dan bukan replika. Kemudian, bapak-bapak yang dari tadi mondar-mandir di ruangan ini bukanlah petugas museum atau pemandu (karena mereka tidak pakai jubah merah seperti seragam petugas museum lainnya), melainkan betul-betul penjaga barang-barang berharga tersebut. Dan benar saja dugaan saya, Pembaca! Chris tiba-tiba datang mendekati saya dan bilang bahwa semua benda di ruangan itu asli dan bukan replika. Ia baru saja bertanya langsung pada salah satu dari bapak-bapak itu. Katanya, jika ada acara resmi kerajaan yang menggunakan pakaian atau aksesoris tersebut, benda-benda koleksi museum itu akan dikeluarkan dan diambil dari kotak kacanya. Wow, saya nyaris tidak percaya. Semua benda tersebut asli dan diletakkan di bangunan yang menurut saya tampak tidak tahan maling. Kalau di negara saya pasti sudah ada usaha perampokan dari kapan tau.

Setelah berkeliling di ruangan tersebut dan melihat semua koleksi, saya beranjak pergi menuju ruang pembatas lorong dan tangga. Chris tidak terlihat, sepertinya ada di belakang saya. Saya sempat melihat ada mesin pengunci dengan kode yang melekat di samping pintu pembatas ruangan koleksi tersebut dengan tangga. Kemudian, Chris datang menyusul saya sambil menunjukkan hasil jepretan terbaru kameranya. Foto-foto hasil mengabadikan koleksi museum yang baru kami lihat ada di sana. Bisa-bisanya anak ini diam-diam mengambil foto. Katanya sih, petugasnya mengamati dia tetapi diam saja. Saya pun menyesal tidak mengambil foto satu pun di sana. 😦

Tujuan kami selanjutnya adalah museum terakhir di area tersebut yang dapat diakses dengan tiket terusan, yaitu Erkebispegården atau Museum Istana Uskup. Seperti namanya, museum ini mengambil sebagian besar bekas bangunan yang dulunya merupakan istana uskup, tepatnya pada bagian sayap selatan dan timur. Kami melintasi pelataran dalam bekas istana tersebut, yang kini sudah berupa lapangan kering tanpa apa-apa. Seluruh bangunan istana uskup tersebut sebetulnya masih tampak seperti aslinya, bercat merah dan terbuat dari kayu dengan penampakan seperti mansion dari abad pertengahan.

erkebispegarden-archbishop1

Kompleks istana uskup – halaman dalam. Sumber: http://www.tripadvisor.com.

 

 

Museum Istana Uskup ini sebetulnya merupakan museum arkeologi. Dari luar tampak kecil, padahal museum ini memiliki tiga lantai dan banyak sekali koleksi. Koleksi-koleksi tersebut berupa rekam sejarah pembangunan Nidarosdomen dan benda-benda temuan dari penggalian arkeologis di bawah katedral tersebut serta kompleks istana uskup. Mungkin suatu hari nanti koleksi itu akan bertambah dengan temuan-temuan dari proyek galian yang saya lihat di dekat alun-alun tadi.

Begitu saya memasuki pintu museum, saya langsung disambut dengan patung batu yang dipajang bersama dengan papan informasi berisi ajakan untuk mencoba menyentuhnya. Permukaan batu itu sangat hitam, yang langsung meyakinkan saya bahwa batu itu adalah soapstone, yang dipakai untuk membangun Nidarosdomen. Patung batu itu menjadi satu-satunya koleksi dari soapstone yang boleh disentuh pengunjung. Patung-patung lain yang rupanya jauh lebih indah di dalam museum itu dilarang untuk disentuh.

erkebisp1

Deretan patung orang kudus dan lengkung jendela bergaya Gotik di lantai satu. Sumber: http://www.trondheim.no

Lantai satu museum tersebut memajang koleksi patung-patung asli yang ditemukan di Nidarosdomen. Patung-patung berbagai orang kudus dan dekorasi pahatan wajah manusia yang ditemukan pada pilar-pilar Nidarosdomen menghiasi dinding-dinding ruangan di lantai satu. Wajah-wajah manusia tersebut menampilkan aneka ekspresi dan emosi yang berbeda. Tidak diketahui wajah-wajah siapakah yang dijadikan penghias tiang tersebut. Ada pula tiga potongan dari patung gargoyle yang biasanya menjadi saluran air hujan di gereja-gereja berarsitektur Gotik. Di tengah ruangan terdapat kolam air mancur kecil dengan hiasan patung kodok yang juga ditemukan di katedral tersebut. Pada bagian belakang ruangan, saya dapat melihat detil pahatan lengkung jendela yang menjadi ciri khas bangunan bergaya Gotik.

13880185_10157956432130377_989940612195488199_n

Air mancur patung kodok.

 

Selanjutnya, saya menaiki tangga menuju lantai dua. Koleksi di lantai dua lebih berfokus pada sejarah kota Trondheim dan Nidarosdomen itu sendiri. Dekat dengan tangga terdapat jajaran miniatur bangunan gereja dari bentuknya yang paling awal hingga menjadi seperti yang sekarang ini. Setiap miniatur bangunan di masa lampau diletakkan pada fondasi yang bergambar denah ruangan dari bentuk yang paling baru, sehingga kami bisa melihat perbandingan luas antara Nidarosdomen di masa lalu dan masa kini.

13920946_10157956432160377_7979093211412051557_n

Bangunan awal Nidarosdomen (kapel St.Olav) dan denah bangunan Nidarosdomen sekarang.

Setelah melalui deretan miniatur tersebut, saya tiba pada ruangan berbentuk lingkaran terbuka yang dindingnya dipenuhi lukisan. Lukisan yang tampak seperti sketsa pada buku dongeng tersebut menceritakan sejarah Nidarosdomen yang berkembang seiring dengan meluasnya kota Trondheim. Kisah tersebut berawal pada peperangan yang menewaskan St.Olav, pendirian kapel yang menjadi tujuan peziarah, pembangunan gereja yang semakin besar, bencana kebakaran yang dialami berulang kali, hingga renovasi dan restorasi bangunan katedral di zaman modern. Dipamerkan pula lukisan yang menceritakan awal mula kota Trondheim yang berupa pemukiman bangsa Viking di tepi fjord yang semakin meluas di sepanjang Sungai Nidelva hingga menjadi kota abad pertengahan yang maju dan menjadi salah satu yang terbesar di Norwegia. Ada pula lukisan-lukisan suasana sehari-hari di istana uskup, yang ternyata pernah menjadi markas militer juga.

Pada awalnya, saya tidak mengetahui bahwa museum tersebut lebih luas dari yang sudah saya jelajahi. Adanya beberapa pengunjung yang menuruni tangga menuju ke lantai dasar memberi tahu saya, bahwa tangga dari lantai satu ke bawah ternyata dapat diakses. Tepat di bawah tangga terhampar banyak potongan bebatuan yang dipajang begitu saja. Tampaknya bebatuan tersebut adalah bagian-bagian dari bangunan katedral yang belum ditemukan pasangan atau letaknya. Saya tiba-tiba teringat salah satu perkataan pemandu wisata di Nidarosdomen. Ada legenda populer di kota itu mengatakan bahwa jika Nidarosdomen selesai dibangun kembali seperti sediakala, seluruh kota Trondheim akan tenggelam di dalam fjord. Entah legenda itu benar atau tidak, kenyataannya sampai saat ini tim renovasi Nidarosdomen memang menyembunyikan sepotong batu di antara potongan-potongan batu yang berserakan tersebut agar pembangunan katedral itu tidak pernah 100% selesai.

Di seberang tumpukan batu-batu tersebut, tepatnya di sisi timur ruangan terdapat semacam bekas fondasi bangunan berupa susunan batu yang usianya tampak sudah ratusan tahun. Rupanya, tumpukan bebatuan itu adalah fondasi dan dinding asli dari istana uskup tersebut. Di samping fondasi tersebut ada miniatur ruangan berbentuk persegi dari potongan-potongan kayu yang di dalamnya berisi diorama orang-orang sedang bekerja dari abad pertengahan. Tersebar di sekeliling miniatur tersebut dipajang berbagai temuan-temuan arkeologis dari penggalian situs Nidarosdomen dan istana uskup dalam sebuah ruangan luas berdinding batu bata.

archbishops-palace-museum-trondheim_3867407_l

Ruangan berdinding batu bata yang memamerkan koleksi penemuan arkeologis. Wilayah berpagar tersebut adalah lantai dan fondasi asli bangunan istana uskup. Sumber: http://www.mygola.com

Setiap koleksi di ruangan itu seolah mendongengi saya dengan kisah-kisah dan sejarah bangunan tersebut dari abad pertengahan. Pada masa itu, uskup yang berkedudukan di Nidarosdomen tinggal di dalam istana tersebut bersama seperangkat pembantunya, pelayan, pekerja, dan budak-budak. Bahkan uskup diperbolehkan memiliki tentara, khususnya ketika konflik antara pemuka agama dengan para bangsawan semakin menajam. Seperti dikisahkan pada banyak sejarah abad pertengahan, masa itu adalah masa kegelapan ketika kekuatan agama banyak ikut campur dalam dunia politik, yang menjadikan para rohaniwan menjadi ikut gila kekuasaan dan tamak. Runtuhnya kekuasaan uskup Katolik di Nidarosdomen tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik dengan bangsawan tersebut dan menurunnya pamor akibat reformasi gereja yang digaungkan Martin Luther.

Meskipun namanya istana uskup, ia tidak sama dengan biara-biara yang hanya dihuni oleh rohaniwan atau sesama pria. Penemuan arkeologis berupa sisir rambut, cermin, perhiasan, potongan pakaian dan sepatu tua yang masih awet bentuknya menunjukkan bahwa di dalam istana tersebut tinggal juga wanita dan anak-anak. Penggalian arkeologis juga menemukan naskah-naskah religi kuno di kompleks istana uskup tersebut. Beberapa naskah tersebut berbahasa Latin, tetapi masih menggunakan aksara Rune khas bangsa Viking. Di bagian belakang kiri ruangan tersebut ada koleksi koin-koin dan berbagai bentuk alat tukar yang ditemukan juga di kompleks istana uskup. Koin-koin tersebut memiliki cap wajah atau kode nama uskup yang sedang berkuasa, persis seperti koin-koin bercap wajah atau nama raja yang sering kita temui. Hal tersebut menandakan bahwa pada masa itu, istana uskup memiliki pencetak koin sendiri. Dipamerkan pula berbagai alat yang digunakan oleh para pencetak koin tersebut untuk menghasilkan alat tukar yang terbuat dari emas atau perak itu. Pada masa itu, orang tidak menilai harga koin berdasarkan angka yang tertera di sana, melainkan berdasarkan ukuran atau beratnya.

3d67a04d81c834fa51a98ef4802250c8

Diorama pekerja pencetak koin di istana uskup. Sumber: http://www.allevent.in

Sebagai penggemar berat sejarah abad pertengahan, berkeliling di antara koleksi temuan arkeologis di istana uskup serasa dikelilingi oleh harta karun. Harta karun-harta karun ini bercerita pada saya seperti apakah kehidupan di masa lampau itu. Saya membayangkan bangunan tempat saya berdiri itu sebagai sebuah rumah besar dengan halaman luas yang selalu sibuk, khususnya di siang hari. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Hewan-hewan ternak mencari makan dan berjalan-jalan di halaman tersebut. Pedagang berbagai benda berlalu lalang dan para pengawal bergantian menjaga gerbang. Di berbagai ruangan yang masih ada hingga sekarang itu, para pelayan uskup hidup dan bekerja menghasilkan bahan-bahan pokok untuk kehidupan. Pembuat roti menggiling gandum dan memanggang roti, para pencetak koin memproduksi keping-keping emas, para wanita menjahit dan mencuci pakaian, dan beraneka kegiatan lainnya. Sang uskup akan sibuk melayani audiensi dan misa di katedral, lalu kembali ke istananya di malam hari untuk berdoa, membaca manuskrip religi dan mengerjakan tugas-tugas administratif. Semuanya terjadi di balik tembok tinggi yang membentengi istana uskup tersebut.

Bagaimana dengan di sisi sebaliknya? Apa yang terjadi di luar dinding istana uskup? Di berbagai rumah-rumah dan bangunan tua yang tersebar di penjuru kota Trondheim abad pertengahan yang semakin meluas? Adakah istana yang lebih besar lagi dari istana sang uskup? Adakah kesibukan para nelayan dan penjual ikan dekat jembatan kota tua dan gerbang kebahagiaan? Adakah festival atau pasar besar di alun-alun kota? Hanya waktu yang akan menjawabnya, seiring dengan terungkapnya harta karun-harta karun lainnya yang tengah digali di alun-alun kota. Kembali saya melintasi proyek penggalian itu ketika hendak kembali ke mobil yang sudah menjemput dan akan membawa saya lebih jauh ke utara. Selamat tinggal, Trondheim, semoga saya kembali ke sana lagi suatu hari nanti. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Riksregaliene

https://www.trondheim.com/norwegian-crown-regalia

http://www.kongehuset.no/seksjon.html?tid=28696&sek=27269

Tentang Erkebispegården

http://www.nidarosdomen.no/en/attractions/erkebispeg%C3%A5rden

Menilik Sejarah Kristenisasi Bangsa Viking di Nidarosdomen

Musim gugur 2014 adalah kali pertama kaki saya menjejak tanah Norwegia. Dengan rute yang nyaris sama, saya melakukan perjalanan dari selatan ke utara, tetapi saat itu saya menggunakan kereta. Suatu hari dalam dua minggu perjalanan saya, saya tiba di sebuah stasiun di tengah hujan yang turun rintik-rintik. Suatu kesalahan fatal membuat saya terpaksa membuang waktu satu hari yang seharusnya saya gunakan untuk mengeksplor kota tempat stasiun tersebut berada. Sialnya lagi, cuaca betul-betul tidak berpihak pada saya. Satu hari yang tersisa sebagai satu-satunya kesempatan saya untuk menikmati kota tersebut terpaksa dihabiskan di hotel saja, karena begitu saya tiba di kamar hotel, hujan justru bertambah deras. Sejak hari itu, saya bertekad untuk membayar kesalahan saya dan mengunjungi kota tersebut suatu hari nanti.

Kota tersebut adalah Trondheim, yang oleh karena pengalaman saya maka saya sebut kota kenangan. 🙂 Tentu tak hanya itu saja alasannya, karena bertualang di kota tersebut di bawah mentari musim panas adalah hal yang tak terlupakan. Trondheim dapat dicapai dengan mobil dari Flakk Camping selama 30 menit. Sudah sejak lama, saya dan Chris sangat ingin mengunjungi kota ini. Sebagai penggemar berat sejarah abad pertengahan dan bangsa Viking, Trondheim adalah kota wajib kunjung bagi kami berdua.

Tujuan utama saya di sini adalah sebuah bangunan yang juga menjadi ikon kota Trondheim, yaitu Nidarosdomen. Nidarosdomen adalah katedralnya kota Trondheim yang juga merupakan satu-satunya gereja berarsitektur gotik di seluruh Norwegia. Tidak hanya itu saja, katedral ini sudah berdiri sejak masa abad pertengahan dan menjadi saksi sejarah kristenisasi bangsa Viking dan perkembangan gereja di negara tersebut. Nah, kebayang ‘kan berapa banyak cerita yang tidak sabar untuk diungkap di balik bangunan ini?

Karena saya naik mobil, saya tidak menemui kesulitan untuk mencapai Nidarosdomen. Akan tetapi, jika saya naik kereta, saya harus berjalan cukup lumayan untuk tiba di sana. Dari stasiun, saya harus menyeberangi jembatan yang tepat berada di depan pintu masuk stasiun menuju Sondre Gate. Saya harus menyusuri jalan tersebut hingga tiba di Kongens Gate tempat saya harus mengambil belokan ke kanan. Begitu tiba di bundaran yang juga merupakan alun-alun kota, saya tinggal berbelok ke kiri memasuki Munkegata. Sebetulnya dari alun-alun tersebut sangat mudah untuk menemukan Nidarosdomen. Menaranya yang menjulang tinggi akan tampak jelas dari sana.

IMG_4134

Alun-alun kota Trondheim

Jika naik mobil, kita bisa memarkir mobil di sepanjang Munkegata. Jalan tersebut dipagari oleh gedung-gedung penting, termasuk gedung pengadilan dan balai kota. Dahulu, ketika Nidarosdomen masih digunakan dalam upacara penobatan raja atau anggota kerajaan, mereka akan diarak melalui jalan tersebut. Di ujung Munkegata adalah pintu masuk utara kompleks katedral Nidarosdomen. Begitu tiba, saya langsung disambut oleh hijaunya pepohonan yang menaungi area pemakaman yang mengelilingi Nidarosdomen. Batu-batu nisan yang indah berhiaskan patung maupun batu-batu nisan yang sudah sangat tua tersebar di pemakaman nan asri tersebut. Tidak jauh dari pintu masuk berdiri sebuah patung peringatan untuk mengenang para pejuang yang gugur dalam Perang Dunia II. Tampak juga bangku-bangku taman yang dapat digunakan untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan. Meskipun tua, pemakaman ini tampak sama sekali tidak menyeramkan.

Saya berbelok ke kanan menuju sisi barat bangunan Nidarosdomen. Untuk memasuki katedral tersebut sebagai turis, saya perlu membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk tersebut dapat dibeli di Nidarosdomen Besøkssenter yang berlokasi di sisi kiri pintu masuk utama gereja. Tempat tersebut, selain melayani penjualan tiket juga merupakan toko suvenir dan memiliki kafe di dalamnya. Untuk petualangan hari itu, saya membeli tiket kombinasi seharga 180 NOK. Harga tersebut sudah termasuk tur dengan pemandu di Nidarosdomen, Erkebispegården (Archbishop’s Palace Museum) dan Riksregaliene (Crown Regalia). Dengan tiket terpisah, saya harus membayar 90 NOK untuk setiap tempat tersebut. Hal tersebut berarti saya mendapat 3 tempat dengan membayar untuk 2 tempat dengan tiket kombinasi. Semua dana hasil penjualan tiket tersebut masuk ke kantong pemerintah setempat dan digunakan untuk restorasi dan perawatan bangunan tersebut yang terus berlangsung dan tidak murah. Jadi, jangan komplain ya kalau harganya mahal hehehe 😛

Sebelum memasuki bangunan katedral untuk memulai tur, saya menikmati keindahan arsitektur fasade depan gereja. Wajah depan Nidarosdomen dihias dengan patung-patung orang kudus yang bernaung di bawah lengkung-lengkung atap khas gaya gotik. Deret paling atas adalah patung-patung nabi dan raja dari kitab Perjanjian Lama. Deret tengah merupakan tempat patung-patung santo-santa dari Norwegia sedangkan pada deret paling bawah terdapat patung rasul-rasul dan kisah penyaliban. Dua menara menjulang dengan atap-atapnya yang lancip di sisi kiri dan kanan. Pada puncak menara barat laut berdiri patung malaikat Mikael. Ada fakta unik di balik pembuatan patung-patung tersebut. Karena para pematungnya tidak mengetahui wajah asli orang-orang kudus tersebut, mereka pun menggunakan tokoh-tokoh modern sebagai model wajahnya. Contohnya, patung malaikat Mikael mencontoh wajah Bob Dylan, yang dipilih karena terinspirasi oleh perjuangannya menentang Perang Vietnam. Dari sisi depan tersebut tampak pula menara utama di bagian tengah yang beratap kerucut berwarna hijau. Dinding katedral tersebut dihias oleh jendela-jendela tinggi yang melancip di atas. Pada bagian tengah wajah depannya terpasang kaca patri bunga mawar yang juga menjadi khas bangunan katedral. Di atasnya adalah ukiran bertema penghakiman terakhir. Bagian barat gereja yang rumit ini juga merupakan bagian bangunan yang paling baru dan terakhir selesai direstorasi pada tahun 1969.

IMG_4099

Wajah depan Nidarosdomen, dipenuhi deretan patung orang kudus.

IMG_4133

Wajah depan Nidarosdomen (detil) dengan patung kisah penyaliban di tengah tepat di bawah jendela mawar.

Puas mengagumi keindahan wajah barat katedral Nidaros, saya masuk dan mengikuti turis-turis lainnya. Rupanya, seorang pemandu telah siap memulai tur di dalam katedral tersebut. Kami duduk di deretan kursi di bagian belakang gereja selagi pemandu yang berpakaian seragam jubah merah tersebut memulai penjelasannya. Selain bahasa Inggris, yang juga adalah tur yang saya ikuti karena bahasa Norwegia saya masih sangat terbelakang :’D, tersedia juga tur dalam bahasa Prancis dan Jerman. Sang pemandu memulai penjelasannya dengan memberi tahu kami sebuah aturan yang sangat mengecewakan. Dilarang mengambil foto di dalam Nidarosdomen, katanya. 😦 Sayang sekali, padahal arsitektur bagian dalamnya sangat cantik.

Sang pemandu mulai bercerita, bahwa pada zaman dahulu, kira-kira pada abad ke-9, terjadi ekspansi bangsa Viking besar-besaran ke berbagai penjuru Eropa. Salah satu dari mereka, Olav Haraldsson adalah seorang kepala suku Viking yang terkenal karena aksi heroiknya di wilayah Baltik. Dari Baltik, ia berlayar ke berbagai tempat lainnya seperti Inggris dan Prancis. Ketika di wilayah Normadia, Prancis, ia berkenalan dengan ajaran kristiani yang digunakan oleh penguasa setempat sebagai alat untuk mengendalikan dan memimpin masyarakat sampai ke dunia spiritual mereka. Di saat itulah ia menyadari betapa menguntungkannya ajaran Kristiani. Konon katanya ia mempelajari ajaran ini dan dibaptis pula. Ketika suatu saat ia dipercaya untuk memimpin Norwegia Timur oleh Raja Denmark, ia mendirikan gereja sebagai suatu institusi dan menjadikan agama Katolik Roma sebagai agama resmi negara karena terinspirasi oleh Duke Normandia. Ia juga melarang ritual agama lain, termasuk kaum pagan yang saat itu mendominasi Skandinavia. Akibatnya, banyak penduduk setempat yang dipaksa menganut agama Katolik dengan hukuman mati sebagai ganjarannya apabila mereka menolak. Dalam peperangan di Stiklestad, Olav dan pasukannya berhasil dikalahkan oleh penduduk wilayah Trondelag yang memberontak akibat pemaksaan agama yang dilakukannya.

Sejujurnya saya bingung, bagaimana orang bertangan besi seperti itu dapat menjadi orang kudus. Rupanya, raja Denmark yang kemudian mengambil alih pemerintahan setelah tewasnya Olav memerintah dengan lebih kejam lagi. Ia menarik pajak tinggi dari rakyat dan membuat mereka sengsara. Kondisi terjajah membuat orang-orang menginginkan sosok seperti Olav yang meskipun kejam tetapi berjuang untuk kemerdekaan bangsa mereka dari penjajahan. Hal ini pun dimanfaatkan oleh masyarakat yang mendukung Raja Olav dengan memulai kultus yang menyatakan bahwa Raja Olav tewas sebagai martir dan kemudian menjadi santo pelindung Norwegia.

4b7650cfae98f36f0b459029cc498a9d

Patung St. Olav di fasade depan gereja dalam perayaan pesta namanya.

Lalu apa kaitannya kisah Raja Olav dengan Nidarosdomen? Menurut Mbak Pemandu Wisata, Nidarosdomen dibangun di atas makam St. Olav. Berawal dari sebuah kapel kecil pada abad pertengahan yang semakin ramai oleh peziarah, Nidarosdomen terus dibangun dan diperluas. Pembangunannya melintasi berbagai zaman yang buktinya tampak jelas pada perbedaan gaya arsitektur bagian-bagian yang membentuk gereja tersebut. Nidarosdomen juga sempat mengalami bencana kebakaran beberapa kali. Setelah peristiwa yang terakhir bahkan sempat lama tidak diperbaiki atau direstorasi seadanya karena saat itu Norwegia didominasi oleh Kristen Protestan yang tidak begitu mementingkan keindahan bangunan gereja yang dipenuhi patung apalagi mengkultuskan Santo Olav. Bangunan yang ada sekarang berukuran lebih kecil daripada ukuran terbesar yang pernah ada, tetapi sebagian besar desainnya dibuat semirip mungkin kecuali lukisan-lukisan pada kaca patri.

Kaca patri sisi utara menggambarkan kisah Perjanjian Lama sedangkan bagian selatan menceritakan kisah Perjanjian Baru. Kaca patri mawar yang berada di dinding barat Nidarosdomen adalah karya Gabriel Kielland dan menggambarkan kisah penghakiman terakhir. Kaca-kaca patri ini mengelilingi ruangan bagian barat yang juga menjadi sisi panjang dari keseluruhan bangunan yang berbentuk salib. Di bawah kaca patri mawar terpasang megah organ Steinmeyer yang berukuran sangat besar. Pada bagian depan ruangan tersebut berdiri salib besar dari perak di atas sebuah altar kecil. Salib tersebut merupakan pemberian dari emigran Norwegia-Amerika di abad ke-20.

13938357_10157956426940377_3762976875906191797_n

Kaca patri mawar dengan kisah penghakiman terakhir di atas organ Steinmeyer. Jangan tanya bagaimana cara mendapatkan foto ini 😀

13939558_10157956431855377_582581952923537058_n

Salib perak besar di altar sebelah barat pemberian emigran Norwegia-Amerika.

Dari sisi barat bangunan, saya mengikuti pemandu menuju sayap utara Nidarosdomen. Di sisi utara tersebut juga terdapat organ yang ukurannya lebih kecil dan tidak semegah organ Steinmeyer di bagian barat. Akan tetapi, organ yang bernama Wagner ini lebih legendaris. Bukan karena ia ada hubungannya dengan Richard Wagner sang komposer ternama, melainkan karena organ ini dibuat oleh orang yang sama dengan yang membuat organ milik Johann Sebastian Bach. Kebayang ‘kan setua apa? Uniknya lagi, organ bergaya barok ini menjadi salah satu dari sejumlah kecil organ bertipe sama yang masih bertahan dan lestari hingga saat ini. Sebagian besar organ Wagner yang pernah dibuat telah hancur akibat Perang Dunia II. Sebagai penutup di ruangan tersebut, pemandu menginformasikan bahwa akan ada konser musik singkat menggunakan organ tersebut di hari itu. Wah, beruntungnya saya! 🙂

Selanjutnya, saya beralih ke bagian timur bangunan gereja yang juga membentuk kepala salib. Zona tersebut mungkin menjadi zona yang paling penting dari seluruh bangunan gereja, terutama karena kekayaannya akan sejarah dan legenda yang berkaitan dengan St. Olav. Setelah melalui sederetan kursi umat, saya tiba di altar lain yang lebih besar. Altar ini terletak di dalam oktagon, yaitu semacam ruang berbentuk segi delapan yang dipagari oleh lengkung-lengkung khas gaya gotik. Di atas oktagon terpaku sebuah salib besar dan kiri kanannya berdiri patung-patung. Tidak jauh dari oktagon tersebut terdapat sebuah baskom tua yang dulu digunakan untuk upacara pembaptisan.

Oktagon ini menyimpan banyak cerita. Menurut pemandu, ruangan tersebut dulunya merupakan tempat menyimpan relikui St. Olav. Sekedar informasi, setiap gereja yang dibangun umumnya memiliki relikui dari santo santa yang namanya digunakan untuk gereja tersebut. Konon katanya, relikui St. Olav ditempatkan dalam sebuah kotak berbentuk bangunan gereja berhiaskan kepala naga, sama seperti kepala naga yang menghias Heddal Stavkirke yang terinspirasi dari arsitektur bangsa Viking. Sayangnya, baik relikui maupun kotaknya sudah tidak ada. Lagi-lagi menurut pemandu, sebetulnya tidak ada orang yang tahu di mana tepatnya makam St. Olav. Pada intinya, cerita yang mereka percaya adalah bahwa di atas tanah tersebut pernah berdiri kapel kecil di atas makam St. Olav yang selalu ramai oleh peziarah. Entah sebetulnya di sisi gereja yang mana makam tersebut berada tidak ada yang tahu.

Saya dan pengunjung lainnya kemudian diajak untuk memutari sisi luar oktagon tersebut. Di bagian belakang oktagon terdapat ruangan kecil yang berisi altar tua yang juga kecil dan berhiaskan lukisan kisah hidup St. Olav. Tidak jauh dari ruangan tersebut terdapat ceruk kecil yang dipagari. Di bagian atasnya terdapat cermin yang memungkinkan kita untuk melongok ke dalamnya. Tempat tersebut adalah sumur St. Olav yang airnya diyakini dapat menyembuhkan orang sakit. Ketika airnya mengering, sumur tersebut berubah menjadi sumur permohonan tempat orang melempar koin dan berharap doanya dikabulkan. Dikatakan bahwa sumur tersebut adalah tempat yang paling sering didatangi dan disentuh orang. Pemandu menunjukkan dinding di sekitar sumur yang berwarna sangat hitam, sangat berbeda dengan sisi dinding lain di gereja tersebut yang cenderung abu-abu. Ternyata, Nidarosdomen dibangun menggunakan soapstone, yang jika disentuh manusia lama kelamaan akan berubah warna menjadi hitam karena bereaksi dengan keringat.

13921198_10157956427120377_2589680361280272305_n

Altar di belakang oktagon yang berlukiskan kisah hidup St. Olav.

Tur hampir berakhir. Pemandu mengantar saya dan para pengunjung lain menuju sisi selatan bangunan gereja sebagai perhentian terakhir. Di tempat itu, kursi-kursi sudah mulai disusun sebagai persiapan untuk menonton konser organ. Menutup penjelasannya, ia menunjukkan arsitektur sisi selatan yang tampak berbeda dari bagian lain gereja tersebut. Arsitektur bagian ini tidak didekorasi oleh lengkung lancip, tetapi hanya lengkung biasa dan lebih sederhana ciri khas gaya Romanik yang berasal dari Italia. Romanik dan gotik memang merupakan dua gaya bangunan yang dominan dan menjadi ciri khas abad pertengahan dengan romanik sebagai yang lebih tua. Gaya romanik yang tersisa di sisi selatan Nidarosdomen menunjukkan bahwa bagian tersebut berasal dari masa yang berbeda dari sisi lain yang selamat dari bencana kebakaran. Sambil menginformasikan mengenai konser yang akan segera dimulai dan sisi bangunan lain yang masih dapat dijelajahi, sang pemandu mengakhiri turnya.

13935158_10157956431800377_1290815797782794496_n

Detil bangunan yang bergaya gotik.

Selagi menunggu konser dimulai, saya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang belum dieksplor bersama pemandu. Salah satunya adalah sebuah meja yang terletak di sisi kiri altar utama yang berisi kertas-kertas kecil tempat saya dapat menuliskan doa. Menurut keterangan yang ada di atas meja tersebut, doa-doa yang ditulis oleh para pengunjung akan didoakan bersama-sama dalam misa atau ibadah yang berikutnya. Ada pula sebuah meja lain di dekat deretan kursi yang disusun untuk menonton konser. Meja ini lebih merupakan tempat menaruh lilin. Di dekatnya disediakan lilin yang boleh saya ambil dan saya nyalakan. Keterangan di tempat menaruh lilin tersebut mengajak para pengunjung untuk menyalakan lilin bagi keluarga atau kenalan yang sudah meninggal dan mendoakan mereka agar selalu berada dalam damai.

IMG_4106

Meja tempat pengunjung menulis doa.

IMG_4107

Keranjang berisi kumpulan doa.

Sebelum menonton konser, saya juga sempat mengunjungi makam bawah tanah di Nidarosdomen. Tidak terlalu mudah menemukan makam ini. Saya hanya mengetahui bahwa ruangan tersebut dapat diakses, namun setelah berputar-putar, saya baru menyadari adanya sebuah tangga untuk turun ke bawah tanah melalui sisi kanan sayap barat bangunan gereja. Makam bawah tanah tersebut diterangi oleh lampu-lampu yang cukup terang sehingga jauh dari kesan seram. Di dalamnya terdapat makam-makam dengan batu-batu nisan yang besar. Nisan-nisan tersebut dipahat dengan indah, namun sudah banyak yang retak akibat berbagai bencana yang terjadi selama ratusan tahun. Pahatan membentuk malaikat menjadi motif dominan pada nisan-nisan tersebut, diikuti oleh simbol-simbol keluarga bangsawan. Memang, sebagian besar orang yang boleh dimakamkan di Nidarosdomen di masa itu hanyalah kaum bangsawan dan orang-orang yang terpandang di masyarakat. Akan tetapi, saat ini, memakamkan orang di Nidarosdomen sudah tidak diperbolehkan lagi karena katedral ini sudah menjadi cagar budaya.

Selesai berkeliling di makam bawah tanah, saya beranjak kembali ke atas karena konser organ akan segera dimulai. Saya duduk di barisan belakang dan menikmati permainan organ yang terdiri dari lagu-lagu klasik, salah satunya adalah favorit saya, Canon in D karya Johann Pachelbel. Kira-kira ada total lima lagu yang dimainkan oleh sang organis. Konser berlangsung sekitar setengah jam dan suara organ Wagner tua tersebut terdengar sangat merdu. Penampilan sang organis pun sukses memukau penonton.

Setelah konser berakhir, kursi disusun kembali untuk memberi ruang bagi para pengunjung. Tujuan saya berikutnya adalah suatu tempat yang memang sengaja saya sisakan untuk penutup yang manis. Menara tertinggi katedral Nidarosdomen yang dapat dicapai dari tangga di sudut kanan sayap selatan gedung gereja. Tahun 2013, ketika saya berada di Munich, saya juga pernah menaiki 139 anak tangga untuk mencapai puncak menara salah satu gereja tertua di pusat kotanya. Ternyata, menyaksikan kota dari ketinggian telah diam-diam menjadi hobi saya. 😀 Kali ini saya bermaksud menantang kemampuan diri dengan menaiki menara yang lebih tinggi lagi, yaitu 172 anak tangga.

Untuk mencapai puncak menara, pengunjung tidak diperbolehkan naik sendirian. Harus ada pemandu yang membimbing mereka. Pemandu ini akan mengumpulkan para pengunjung yang hendak mengikuti tur singkat ke menara sekaligus menarik biaya tiket tambahan sebesar 40 NOK. Pemandu grup saya saat itu namanya Maria. Sebelum mulai naik, Maria berpesan pada kami bahwa ukuran tangga yang akan kami naiki sangat sempit, sehingga bagi peserta yang berpenyakit atau berbadan terlalu besar untuk ukuran tangga disarankan untuk mengundurkan diri. Ia menambahkan peringatan itu dengan menceritakan tentang seorang turis yang sangat gemuk dan terjepit di tangga.

Dari sejumlah turis yang berkumpul dan berniat naik, akhirnya tersisa enam orang termasuk saya dan pacar saya. Dua orang lainnya adalah pasangan turis berbahasa Italia dan dua lainnya adalah pria dan wanita yang umurnya cukup tua. Rombongan kami pun mulai menaiki tangga dengan Maria berada di urutan paling belakang karena ia harus siap mengantar turun apabila ada anggota rombongan yang tiba-tiba sakit atau mengalami klaustrofobia akibat sempitnya tangga. Benar saja, ketika tangga sampai pada lingkaran kedua, dua orang tua tersebut menyerah dan turun. Saya pikir, sayang sekali 40 Kroner mereka, tapi lebih baik daripada tiba-tiba sakit atau tewas. Sebelum melanjutkan langkah, saya menunggu Maria kembali, sengaja agar saya mudah jika ingin bertanya-tanya.

Setelah tiga tingkat saya lalui, saya tiba di sebuah pintu. Pintu tersebut mengarah ke pelataran dalam gereja yang mengelilingi aula-aula besarnya. Akan tetapi, pelataran tersebut terbilang sempit, sehingga hanya dapat digunakan untuk lewat saja. Di situ saya menyadari adanya bendera yang lebih mirip permadani dinding tergantung menjulur ke bawah dari langit-langit sayap selatan gereja. Salah satunya bersimbol kerajaan Inggris. Menurut penjelasan Maria, bendera tersebut dipasang sebagai penghormatan terhadap Inggris yang telah bersedia menampung keluarga kerajaan Norwegia yang mengungsi selama Perang Dunia II. Karena alasan yang sama pula, Nidarosdomen juga menyelenggarakan misa gereja Anglikan. Info tambahan, Nidarosdomen dimiliki oleh tiga denominasi gereja yang bergantian merayakan misa atau kebaktian di dalamnya, yaitu Katolik, Protestan dan Anglikan.

Melalui pelataran dalam tersebut, saya menyeberang menuju bagian tengah gereja tempat tangga menuju menara terletak. Pintu menuju tangga berukuran lebih kecil dari pintu yang saya lalui sebelumnya. Demikian pula tangga yang melingkar-lingkar menuju puncak. Ruang tangga yang sempit dan anak tangga yang ketinggiannya tidak selalu sama membuat saya harus berhati-hati menaikinya. Ternyata, pembangunan tangga yang demikian bukan tanpa alasan. Tangga-tangga menuju menara di bangunan abad pertengahan selalu didesain sempit, tidak rata dan melingkar searah jarum jam. Alasannya karena hal tersebut memudahkan penghuni bangunan bertahan dari serangan musuh. Musuh yang menyerang dari bawah dan menaiki tangga akan kesulitan mengayunkan pedang karena ruang dekat bagian tengah tangga yang tersedia bagi tangan kanan mereka lebih sempit, terlebih lagi tidak ada pegangan di tangga menara tersebut. Sementara itu, tangan kanan penghuni yang bertahan memiliki ruang yang lebih luas untuk mengayunkan pedang karena berada dekat dinding luar tangga. Kondisi anak tangga dengan ketinggian tidak sama juga menguntungkan pihak penghuni yang sudah hafal dengan kondisi rumahnya sendiri. Musuh yang harus berjalan dalam kegelapan akan lebih sulit menapak dengan hati-hati. Hebat ya, ternyata, arsitek-arsitek abad pertengahan sudah mampu berpikir sedetil itu.

Tapi bangsa Viking ‘kan badannya tinggi-tinggi, bagaimana bisa mereka melalui tangga sesempit ini dengan leluasa? Pertanyaan saya langsung disambut jawaban Maria yang tidak saya duga. Katanya, orang Norwegia termasuk bangsa Viking pada abad pertengahan memiliki tinggi rata-rata yang hanya 160 cm. Sulit dipercaya ya, Pembaca? Mereka hanya 10 cm lebih tinggi dari saya! Dan lagi, mereka sudah merupakan yang tertinggi di Eropa di masa itu. Berarti tinggi rata-rata penduduk Eropa abad pertengahan mungkin lebih rendah dibandingkan penduduk Indonesia di masa kini.

Setelah dua kali berhenti karena harus mengatur nafas, saya tiba dengan selamat di puncak menara. Saya lihat Chris ternyata lebih ngos-ngosan lagi. Sepertinya badannya yang nyaris terlalu besar untuk ruang tangga lumayan menyulitkan dirinya. Kami beristirahat sejenak sebelum melangkah ke pelataran di puncak menara. Maria tidak ikut, karena ia akan berjaga di dekat pintu dan siap apabila ada dari kami yang ingin bertanya. Ia akan menjadi orang terakhir yang turun setelah kami semua puas melihat-lihat dan memutuskan untuk kembali.

Akhirnya saya melangkah keluar. Dengan berpegangan pada atap menara, saya berjalan pelan-pelan memutari puncak menara sembari mengagumi keindahan Trondheim dari ketinggian. Pemandangan terindah ada di sisi utara yang menghadap ke fjord. Dari situ terlihat pula Munkholmen yang tampak kecil di Trondheimsfjord, yaitu sebuah pulau tempat sebuah biara yang telah berdiri sejak abad pertengahan berada. Biara tersebut sempat menjadi penjara dan benteng pada zaman-zaman setelahnya dan saat ini menjadi museum yang dapat dikunjungi dengan menumpang perahu dari pelabuhan Trondheim. Sementara itu, pelataran sisi selatan menyajikan pemandangan sungai Nidelva yang berkelok-kelok di belakang kompleks istana uskup yang kini telah menjadi museum.

13912763_10157956428770377_3627441134496933_n

Munkegata dengan Munkholmen yang tampak di kejauhan.

IMG_4118

Sisi barat kota Trondheim.

IMG_4125

Sisi timur kota Trondheim.

IMG_4128

Pekarangan dalam benteng yang dulunya kompleks istana uskup.

IMG_4127

Sisi selatan kota Trondheim dan Sungai Nidelva.

Sambil berjalan memutari pelataran, Chris menceritakan pengalamannya kepada saya. Ternyata, kunjungan kami ke Nidarosdomen saat itu bukan yang pertama untuknya. Waktu masih kecil, dia pernah juga naik ke menara ini bersama orang tuanya, tapi saat itu ia berjalan merangkak karena takut ketinggian. Haha, lucunya! Saya dulu juga pernah jadi penakut, takut berdiri di atas gunung karena saya pikir saya akan merosot karena gunung itu miring. :’D Selagi mengobrol, saya juga memperhatikan atap menara yang berwarna hijau telur asin. Warna tersebut sama dengan atap gereja katedral di Jakarta. Belakangan saya baru mengetahui bahwa untuk membuat warna tersebut, arsitek dan konstruktor bangunan yang bertugas merestorasi Nidarosdomen menggunakan campuran dari air seni hewan dan zat kimia yang sifatnya asam. Hiiiyyy…

IMG_4113

Menara barat laut yang terdapat patung malaikat Mikael dan atap hijau gereja.

Setelah selesai mengitari pelataran, saya kembali bertemu dengan Maria yang menunggu di dekat tangga. Kami adalah dua orang terakhir yang tiba. Pasangan yang berbahasa Italia yang naik bersama kami tadi sudah turun lebih dahulu. Sebelum turun, kami meminta tolong Maria untuk mengambil foto kami berdua. Sambil cekikikan tiba-tiba Chris iseng bertanya apakah mungkin menyewa Nidarosdomen untuk pernikahan. Wah, sebetulnya dari tadi saya juga bertanya-tanya, Pembaca. Siapa yang tidak bermimpi menikah di gereja seindah ini dan sebersejarah ini? Kebetulan saya juga pecinta sejarah abad pertengahan. Pas banget pokoknya! Sambil tertawa pula Maria menjawab, bahwa untuk menikah di Nidarosdomen calon pengantin harus membooking dari 2 tahun sebelum tanggal pernikahannya. Untuk menikah dikenakan biaya sebesar 11000 NOK, sudah termasuk segala fasilitas di dalamnya termasuk pastur yang menikahkan dan koor. Wah, saya jadi bermimpi nih, Pembaca. 😀

13880167_10157956429250377_248092827643299993_n

Oleh-oleh foto dari Maria, pemandu wisata kami.

Kunjungan ke menara menjadi penutup dari rangkaian tur saya di Nidarosdomen. Tidak terasa berjam-jam sudah saya habiskan untuk menjelajah katedral abad pertengahan tersebut. Keluar dari bangunan gereja, saya baru tersadar bahwa tiket saya berlaku untuk dua museum lain. Saya melihat jam di ponsel sudah menampilkan angka 14.00. Dengan terburu-buru saya berlari menyeberangi halaman depan gereja menuju kompleks yang terpagari benteng tua yang tampak seperti bangunan abad pertengahan. Di balik tembok tersebut terdapat lapangan lagi dengan papan penunjuk jalan yang memberi tahu arah kedua museum lain yang bisa diakses dengan tiket terusan. Saya langsung menuju museum pertama yang berada dekat dengan pintu masuk di benteng tersebut. Tentu saja saya harus kecewa ketika petugas museum di balik meja resepsionis memberi tahu bahwa mereka akan tutup. Ternyata, selain akhir pekan, museum-museum di area tersebut hanya buka dari pukul 10.00 sampai 14.00 saja. Nyaris saja saya pulang dengan kerugian sebesar 120 NOK jika saja mas-mas petugas tidak mengatakan pada saya bahwa tiket terusan berlaku 3 hari. 🙂

13557762_10157774297340377_1033448694795456581_n

Foto berdua dulu sebelum pulang 🙂 🙂 🙂

Akhirnya, saya dan Chris berniat untuk kembali ke Trondheim esok hari sebelum kami meneruskan perjalanan ke utara. Sebagai penghibur akan gagalnya kami mencapai museum lainnya tepat waktu, kami beranjak menuju bangunan bersejarah lain di kota tersebut yang layak dikunjungi. Bangunan tersebut merupakan sebuah jembatan tua yang menyeberangi sungai Nidelva dan terletak di sebelah timur jika berjalan dari Nidarosdomen. Dari bentuknya, jembatan tersebut tak lebih dari jembatan biasa, meski ia memiliki dua gapura merah dari kayu yang disebut oleh Gerbang Kebahagiaan (Lykkens Portal) oleh masyarakat setempat. Selain nama tersebut, jembatan tua itu tidak memiliki nama lain. Orang menyebutnya Gamle Bybrua saja, yang kalau diterjemahkan memang bermakna Jembatan Kota Tua.

IMG_4143

Gamle Bybrua yang memiliki jalur sepeda dan pejalan kaki.

IMG_4135

Plakat tentang sejarah pembangunan jembatan.

Gamle Bybrua pertama kali berdiri pada tahun 1685 setelah kebakaran besar yang melanda Trondheim yang juga menghancurkan Nidarosdomen. Jembatan ini menggantikan jembatan lama yang dibiarkan hancur, yaitu Elgeseter. Konon, kenampakannya berbeda sekali dengan yang dapat kita lihat saat ini. Dahulu, jembatan ini terbuat dari kayu yang berdiri di atas tiga penyangga dari batu. Jembatan ini tertutup dan memiliki gerbang. Di setiap ujungnya terdapat pos jaga tempat orang membayar pajak jika ingin melintas. Pada masa itu, fungsinya lebih sebagai menjaga dari serangan musuh dibandingkan sebagai penghubung antarzona kota.

Jembatan versi modernnya berdiri pada 1861. Ia tidak lagi memiliki gerbang dan tertutup, bahkan memungkinkan saya untuk melihat pemandangan rumah-rumah tua dan dermaga di kedua tepi sungai. Rumah-rumah beraneka warna ini memang menjadi ciri khas pelabuhan di Norwegia. Ia tidak hanya terdapat di Trondheim, tetapi juga di Bergen (yang paling terkenal) dan Oslo (yang sudah menjadi kawasan elit dan modern). Gamle Bybrua tidak mengalami perubahan ukuran lebar jalan. Kebanyakan hanya pejalan kaki dan sepeda yang menyeberang melalui jembatan ini. Setidaknya, saya tidak sempat melihat mobil melaluinya ketika saya berada di sana.

IMG_4136

Rumah-rumah pelabuhan dan dermaga.

IMG_4137

Rumah-rumah beraneka warna.

13873111_10157956430155377_3751723672716774171_n

Sisi lain Sungai Nidelva.

IMG_4147

Numpang narsis di Gamle Bybrua.

Berputar-putar di Trondheim akhirnya membuat perut saya keroncongan. Saya teringat makanan yang terakhir saya makan adalah waktu sarapan tadi. Saya dan Chris memutuskan untuk mampir ke mall nanggung yang ada di alun-alun sambil menunggu orang tuanya menjemput kami kembali ke perkemahan. Saat itu, suasana berisik sekali karena sedang ada konser musik dan bazaar di alun-alun. Ingatan saya melayang ke dua tahun lalu, ketika saya berada di kota ini pertama kali. Hotel yang saya tempati tidak jauh dari alun-alun maupun Nidarosdomen. Akan tetapi, saat ini hotel tersebut sudah tidak tampak lagi. Dua tahun cukup untuk mengubah sedikit wajah kota itu. Di sana-sini memang saya lihat sedang ada banyak perbaikan jalan. Tampak dari banyaknya area di dekat alun-alun yang dipagari tanda larangan untuk dilewati. Sebetulnya area tersebut bukan perbaikan jalan, namun hal itu akan saya ketahui pada hari berikutnya, ketika saya melanjutkan petualangan saya di Trondheim.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Situs resmi Nidarosdomen:

http://www.nidarosdomen.no/en/

Situs resmi kota Trondheim:

https://trondheim.com/

Artikel tentang Gamle Bybrua:

https://www.visitnorway.com/places-to-go/trondelag/trondheim/things-to-do/attractions/the-old-town-bridge-gamle-bybro/

Disclaimer: foto-foto di dalam katedral diambil oleh Chris, entah bagaimana ia bisa mengambil foto di dalam saya juga tidak tahu 😀

Antibosan di Kala Berkemah: Main di Pantai, Yatzy dan Obrolan Antarbudaya

Saya terbangun pada pagi hari kedua di perkemahan karena merasa tempat tidur saya semakin lama semakin tidak nyaman. Usut punya usut, setelah merangkak keluar dari ruang tidur, saya baru tahu bahwa matras saya kempes. Sepertinya karena memang sudah tua dan mungkin udaranya keluar pelan-pelan selama saya tertidur. Dimulailah pekerjaan memompa matras yang melelahkan tersebut untuk kedua kalinya.

Selesai dengan matras dan melipat selimut, saya dan yang lainnya duduk mengitari meja makan untuk menyantap sarapan yang tak lain dan tak bukan adalah smørbrød. Ellen sudah mengambil beraneka macam topping dari kotak pendingin di mobil dan menyebarnya di atas meja. Berbagai pilihan topping dari asin, manis sampai tidak berasa tersedia di sana. Saya sih masih tetap setia dengan topping favorit saya. 🙂

Tidak ada waktu banyak untuk berleha-leha di hari itu, karena kami semua sudah punya kegiatan sepanjang siang hingga sore hari. Orang tua Chris akan pergi memancing di laut sedangkan kami berdua akan mengunjungi sebuah kota kenangan. Aduh, istilahnya ya, Pembaca hehehe 😛 Akhirnya, saya memutuskan untuk mandi dan keramas sambil menunggu baterei ponsel saya terisi penuh kembali. Percaya tidak percaya, kompleks perkemahan ini canggih juga. Setiap tenda mendapatkan satu rol berisi empat stop kontak untuk listrik yang langsung tersambung pada pancang-pancang listrik yang tersebar di area tersebut. Tidak hanya itu, kompleks perkemahan Flakk Camping ini juga memiliki akses wifi gratis bagi para tamu-tamunya. Tentu saja kecepatannya bukan kecepatan super yang cocok untuk streaming film di Youtube, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan browsing standar. Akses wifi tercepat dapat diperoleh di dekat bangunan resepsionis yang menyatu dengan kamar mandi dan dapur.

img_5438-730x350

Bangunan resepsionis yang tersambung dengan kamar mandi dan dapur.

Saat saya tiba di kamar mandi, saya tidak lagi mendapati keadaan sepi seperti malam sebelumnya. Kali ini ada beberapa pekemah lain yang sudah di sana. Saya harus mengantri satu giliran untuk dapat menggunakan salah satu bilik kamar mandi di situ. Selain itu, saya tidak lagi bisa berlama-lama menikmati air panas gratis karena ketika saya di dalam, saya mendengar suara kasak-kusuk beberapa orang di luar, yang sepertinya juga mengantri mandi di belakang saya. Salah juga memutuskan untuk keramas sekarang. Untungnya saya punya motivasi lain, yaitu cepat-cepat berangkat menuju kota kenangan agar sempat melihat banyak hal di sana.

Kami diantar oleh Tor Vidar dengan mobil menuju kota tersebut. Kami berangkat pada pukul 11.00 pagi dan menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Sementara itu, Ellen dengan baik hati menawarkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk karena kami belum sempat mencuci sama sekali di perjalanan tersebut. Mungkin kalau di negara kita, yang begini sudah dibilang tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Saya enak-enak bermain sedangkan ibunya yang sudah membantu saya agar bisa mewujudkan road trip impian ini sibuk mencuci pakaian kotor sendiri. Sudah begitu, cucian di perkemahan tersebut tidak boleh ditinggal-tinggal karena kemungkinan pencurian atau hilang selalu ada. Sebetulnya di Norwegia sendiri tidak banyak peristiwa pencurian, tetapi kompleks perkemahan ini ‘kan untuk wisatawan mancanegara.

Saya menghabiskan waktu di kota kenangan hingga pukul 18.00. Sesungguhnya petualangan saya belum berakhir ketika saya dijemput kembali setelah orang tua Chris selesai memancing. Untungnya, mereka bersedia mengantar kami kembali ke kota tersebut esok pagi. Cerita tentang petualangan di kota kenangan ini, berikut nama kotanya akan saya bagikan di bagian selanjutnya ya, Pembaca 🙂 Sepanjang jalan pulang kami saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tentang impian yang saya miliki di kota yang baru saja saya kunjungi dan tentang ketidakberuntungan orang tua pacar saya dalam mendapatkan banyak ikan. Sebelum kembali ke perkemahan, kami pun sempat mampir di sebuah minimarket (menurut saya, karena bagi orang di pedesaan tersebut toko itu adalah supermarket) untuk membeli bahan makan malam.

Tiba kembali di kemah, saya mendapati tetangga-tetangga kami telah berganti. Kini di seberang kami berdiri sebuah lavvu, yaitu tenda kerucut khas suku Sami, suku asli yang mendiami wilayah utara Skandinavia. Saya mengira penghuninya pun orang Sami, ternyata bukan. Tenda besar itu milik sebuah keluarga Filipina yang salah satu anggotanya menikah dengan orang Norwegia. Filipina-Norwegia adalah pasangan Skandinasia paling mainstream di negara tersebut. Seperti orang-orang Indonesia, keluarga yang didominasi perempuan tersebut bersuara sangat lantang dibandingkan mayoritas wisatawan Eropa yang ada di sana. Mereka sibuk main kartu, memasak, dan melakukan aktivitas lainnya dengan disertai mengobrol dan bercanda. Suara cekikikan berulang kali terdengar. Suasana yang tadinya tenang seperti di hutan tiba-tiba berubah seperti suasana bus sekolah yang dipenuhi murid-murid yang hendak pergi study tour. 😥

Meski cukup berisik, sepertinya aktivitas tersebut legal karena tidak ada yang menegur. Saya pun memutuskan untuk menghindari keramaian dengan pergi mengeksplor berbagai sudut perkemahan. Lagi-lagi saya dan Chris meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk memasak makan malam. Tujuan utama saya sebetulnya adalah pantai yang terletak di daerah perkemahan tersebut. Tentu saja saya tidak berharap banyak, karena saya tahu bahwa pantai-pantai di sini tidak akan seindah di kampung halaman saya. Satu hal yang saya inginkan adalah memperoleh cinderamata dari alam berupa bebatuan unik atau kulit kerang. Saya memang hobi mengumpulkan benda-benda dari alam ketika sedang bepergian. Selain batu dan kulit kerang, saya mengoleksi daun kering, bunga liar dan bulu burung yang jatuh di tanah.

Ternyata, akses menuju pantai tidak mudah untuk ditemukan. Mula-mula saya berusaha memasuki pantai dari sisi kiri yang dekat dengan dermaga feri. Daerah tersebut dipenuhi oleh karavan wisatawan dan para pekemah yang tengah berjemur. Tidak ingin mengganggu, saya pun berjalan melewati jalan setapak dan mencari daerah yang sepi oleh pekemah. Bagian tengah pantai tampak sepi, tetapi begitu tiba di sana, saya mendapati kumpulan semak-semak berupa rerumputan tinggi yang tampak tajam. Karena saya hanya mengenakan sandal jepit, saya tidak berani menerobos semak-semak tersebut. Di situ pula saya menyadari hal yang lucu. Rupanya, identiknya pantai dan sandal jepit itu hanya ditemukan di pantai-pantai tropis atau Mediterania. Saya mengamati anak-anak wisatawan yang bermain di sisi kiri pantai rata-rata mengenakan sepatu bot karet atau sepatu lain yang tertutup. Wah, memang ya, beda alam beda pakaian hahaa 😀

img_5309-730x350

Pantai dekat Flakk Camping. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

275-640x306

Dermaga dekat penyeberangan feri. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

img_6765-730x350

Kadang-kadang dari pantai juga tampak kapal-kapal yang melintas. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

Setelah kembali ke jalan setapak dan menyusuri deretan kabin, saya menemukan akses mudah menuju pantai, yang ternyata dipagari kawat berduri dan dipasangi tulisan yang kira-kira berarti “wilayah privat”. Lho, kok wilayah privat? Bukankah di Norwegia ada hak mengakses alam bagi semua orang? Saya pun belajar bahwa semua kebebasan ada batasnya. Rupanya, allemansratten yang terkenal itu tidak mutlak berlaku di semua wilayah. Ada beberapa wilayah yang sangat dekat dengan alam yang masih termasuk wilayah privat. Umumnya wilayah tersebut adalah lahan pertanian dan peternakan.

Kecewa karena tidak menemukan akses ke pantai, saya hampir menyerah dan bermaksud kembali ke tenda. Akan tetapi, rasa penasaran dan semangat menjelajah saya terus membujuk saya untuk pergi ke pantai. Akhirnya setelah intip sana longok sini, saya dan Chris pun berhasil mencapai pantai dengan menemukan sebuah perahu yang terparkir tak jauh dari salah satu kabin. Perahu tersebut seakan menjadi penunjuk jalan bagi kami untuk menuju pantai yang nyaris tidak berpasir dan dipenuhi bebatuan. Laut yang berada di dekatnya pun tidak tampak indah karena dipenuhi ganggang hijau dan rumput laut yang membuat airnya pun berubah menjadi hijau seperti beracun. Pokoknya jelek deh kalau dibandingkan dengan pantai di negara tropis.

13707655_10210506183117320_4820452775019664205_n

Sisi indah pantai yang berhasil saya abadikan.

13754412_10210506182877314_6049990346547174463_n

Di sebelah kiri adalah pelabuhan feri.

Saya pun langsung berfokus pada pencarian bebatuan dan kerang unik. Di dekat pagar yang membatasi pantai dengan wilayah privat tadi, terdapat hamparan bebatuan putih yang dipenuhi dengan kulit kerang yang tersapu ombak hingga ke pantai. Saya melompati bebatuan, mencelupkan kaki di air laut dan melewati onggokan-onggokan rumput laut kering yang terbawa ombak hingga tiba ke hamparan bebatuan tersebut. Selagi saya sibuk mencari kerang, Chris mencari bebatuan unik di dekat laut. Tiba-tiba ia memanggil saya untuk mengingatkan agar saya berhati-hati, karena ternyata ia menemukan banyak paku dan besi-besi rongsokan yang sudah berkarat teronggok di salah satu bagian pantai. Rongsokan berkarat tersebut mengubah warna bebatuan putih menjadi coklat kemerah-merahan. Tampaknya rongsokan besi tersebut berasal dari rongsokan perahu atau kapal yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Agak kecewa melihat ketidaksempurnaan keindahan alam di negeri impian saya 😦

13718608_10210506184757361_1845469634209788576_n

Warna bebatuan yang kemerahan terkena karat dari rongsokan besi.

13690808_10210506184797362_7051292684426885602_n

Pantai tiga warna: merah di kanan bawah, hijau abu-abu di kiri bawah dan putih di bagian atas.

Meski keindahannya tak sempurna dan jauh tertinggal dibandingkan pantai Indonesia, kami menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai tersebut hingga matahari menjelang terbenam. Kami berhasil mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan unik sebanyak yang mampu kami bawa dengan tangan kosong, karena kami lupa membawa wadah atau kantong plastik. Dengan perut yang mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan menyantap makan malam.

Ketika kami tiba, makan malam sudah terhidang di atas meja lipat plastik yang kami bawa. Hari itu menunya adalah nasi dengan lauk berupa campuran daging sapi, jamur dan paprika bersaus coklat kental yang entah apa namanya. Saya suka menyebutnya nasi kari Norwegia, meskipun menurut pakar masakan pasti namanya lain lagi. Saya juga harus menyebutkan, bahwa nasi di sini lebih pulen dibandingkan nasi di beberapa wilayah di Indonesia (kecuali di rumah saya tentunya, karena saya sangat suka nasi pulen). Mengapa bisa demikian? Rahasianya adalah karena mereka tidak kenal magic jar atau magic com dan alat-alat memasak nasi lainnya. Beras di Norwegia tidak dijual dalam karung-karung seperti di Indonesia, tetapi di dalam kotak-kotak semacam sereal. Di dalam kotak tersebut, beras sudah ditakar per porsi di dalam plastik-plastik yang aman jika terkena panas. Yang harus kita lakukan tinggal memasukkan plastik itu ke dalam air panas dan merebusnya selama kira-kira 10-15 menit sampai nasi tanak. Sejujurnya saya lebih suka cara ini karena kepraktisannya. Tidak perlu lagi mencuci beras atau membersihkan magic jar. Kita pun bisa sesekali memeriksa tingkat kepulenan nasi tanpa harus buka tutup magic jar yang sedang memasak. Tidak ada tuh istilah nasi kurang air, setengah jadi dan sebagainya. Hehehe 😛

Kami semua menyantap makan malam tersebut dengan lahap, bahkan ada yang menambah. Selesai makan dan membereskan piring kotor, kami tak juga beranjak dari meja makan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam kedua di tenda tersebut dengan bermain Yatzy. Permainan ini sebetulnya versi Skandinavianya Yahtzee, hanya berbeda sedikit pada aturannya. Sejak mencoba bermain pada malam tahun baru 2016, saya agak ketagihan main ini. Cara bermainnya adalah dengan mengocok enam buah dadu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan permintaan dalam daftar dan jumlahnya sebesar mungkin. Misalnya, dua buah angka yang sama dan tiga buah angka yang sama, maka saya harus memperoleh misalnya 3 x angka 6 dan 2 x angka 5. Yang menang adalah yang mengumpulkan angka tertinggi jika seluruh hasil dijumlah. Permainan ini akan jadi seru kalau hokinya besar, karena untuk menang memang sangat mengandalkan hoki. Akhirnya segala cara yang nggak masuk akal pun dicoba, misalnya meniup-niup dadu sebelum dilempar. Ya kali bakal ada efeknya 😀

Ketika saya bermain di malam tahun baru, saya ketiban keberuntungan pemula. Baru mencoba main pertama kali, saya langsung menang. Lain dengan permainan di kemah. Tiba-tiba keberuntungan saya hilang seperti tertiup angin. Dua sampai tiga ronde bermain, nama saya hanya nangkring di posisi dua atau tiga. Sepertinya saya harus bersyukur dengan tidak menempati posisi bontot. Sebaliknya, Chris yang berada di urutan terakhir di malam tahun baru justru menang atau berada di atas saya. Begitulah, Pembaca, serunya bermain Yatzy yang hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Selain itu, permainan ini juga merupakan antibosan yang ampuh ketika berkemah atau melakukan perjalanan panjang. Sayangnya, ia tidak begitu populer di Indonesia.

Karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, Tor Vidar yang akan menyetir pun pamit tidur setelah permainan selesai. Sementara itu, saya, Chris dan Ellen duduk-duduk di sekitar meja makan dan mengobrol. Saya pun memanfaatkan waktu itu sambil mengerjakan salah satu hobi saya, yaitu mewarnai. Sekedar info, saya salah satu penggemar berat adult coloring book. 😛 Sambil menggerakkan spidol di atas gambar yang saya warnai, saya bertanya banyak hal, mula-mula dengan Chris. Kami mendiskusikan tentang perbedaan budaya – hal yang sangat saya sukai.

Saya bertanya tentang hal yang selama dua hari ini telah saya dan dia lakukan – sibuk bermain selagi orang tuanya mengurus segalanya. Kalau di Indonesia, hal tersebut sudah pasti dianggap kurang sopan, apalagi jika pihak orang tua tidak mengungkapkan izinnya atau justru menyuruh anaknya untuk pergi bermain. Mendengar pembicaraan kami, Ellen pun ikut menimbrung. Ia menjelaskan bahwa memang demikian hubungan anak dan orang tua di negaranya. Secara fisik terkesan sama sekali tidak dekat. Jujur saja, saya cuma pernah lihat Chris dan orang tuanya berpelukan ketika ia hendak pergi jauh, misalnya ke tempat saya. Sedangkan saya sampai sekarang masih suka gelendotan ke ibu saya. 😀 Selain itu, orang tua dan anak kedudukannya relatif setara, terutama ketika sang anak sudah dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, di mana kedudukan orang tua dan anak ya atas bawah, bahkan kadang-kadang sampai anaknya menikah (apalagi kalau anaknya perempuan).

Mendengar cerita saya, Ellen balik bertanya apakah orang tua di Indonesia sangat ketat dalam mendidik anak. Saya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan Skandinavia, tentu terkesan sangat ketat, tetapi kami juga sangat dekat secara fisik dan emosional. Chris bilang, di Norwegia, anak-anak justru tidak sabar untuk lepas dari orang tuanya. Semakin mereka dewasa, mereka akan semakin berusaha menjauh. Fenomena ini juga ada di Indonesia, tetapi tentu kita tidak bisa sebebas itu. Ada hubungan timbal balik yang sangat berbeda antara kedua negara tersebut.

Di Indonesia, ketika orang tua memutuskan untuk memiliki anak, sebagian besar masih banyak berpikir bahwa mereka akan melakukan pengorbanan besar demi pertumbuhan anaknya. Tetapi pengorbanan besar tersebut seringkali bukan tanpa pamrih. Ada beberapa orang tua yang saya kenal yang kemudian berekspektasi bahwa anaknya akan berbalik membantunya ketika sudah dewasa. Membantu di sini bukan secara fisik, tetapi materi. Misalnya dengan berprofesi yang menghasilkan banyak uang atau bahkan (yang lebih parah), meneruskan cita-cita orang tuanya yang tidak kesampaian. Menurut analisis sederhana dan amatiran saya, penyebabnya adalah kurang baiknya kondisi kesejahteraan dan perekonomian negara. Wah, jauh sekali ya! Mengapa bisa demikian?

Saya bandingkan keadaaan di Indonesia dengan keadaan di Norwegia berdasarkan penjelasan Chris dan ibunya. Di Norwegia, sebuah negara yang ekonominya sudah sejahtera, orang tua tidak terlalu pusing memikirkan pengorbanan besar berupa materi yang harus mereka keluarkan demi membesarkan anak. Ketika anak lahir, mereka sudah memperoleh tunjangan dari pemerintah, kalau tidak salah sampai anak tersebut berusia 18 tahun. Selain itu, biaya pendidikan yang biasanya menelan paling banyak porsi dari bujet hidup sudah gratis, kecuali universitas. Ditambah lagi, ketika orang tua sudah pensiun, mereka mendapat uang pensiun yang jumlahnya tidak kecil dari pemerintah. Nah, kebayang ‘kan, dari situ saja bebannya sudah berkurang banyak. Begitulah kalau uang rakyat tidak dikorupsi. Padahal dua negara di atas sama-sama penghasil minyak. 😉 Intinya, orang tua dan anak menjadi tidak punya tanggung jawab bantuan materi secara timbal balik seperti di Indonesia.

Memikirkan hal tersebut, saya pun jadi penasaran. Di Indonesia, orang tua banyak yang bekerja keras membanting tulang agar anaknya dapat kuliah setinggi-tingginya, sehingga ketika anak gagal memperoleh pekerjaan yang sebanding dengan biaya kuliahnya, orang tua pun jadi kecewa. Bagaimana keadaannya di negeri matahari tengah malam ini? Ternyata, hal tersebut sangat jarang terjadi, Pembaca. Menurut Ellen, ada beberapa orang tua yang melakukannya dan tentu hal tersebut – menabung dari hasil kerja demi kuliah anaknya – adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, sebagian besar orang tua menganggap kuliah adalah pilihan anaknya dan tidak wajib, sehingga jika mereka ingin berkuliah, merekalah yang harus mencari uangnya sendiri. Toh sebetulnya biaya kuliah tidak terlalu mahal dan ada program pinjaman pemerintah. Saya pernah cek biaya kuliah sebuah jurusan sastra di Universitas Bergen hanya sebesar Rp 800.000,- kalau dikurs ke Rupiah, sedangkan saya ketika di UI dulu satu semester bisa 3 juta! Alhasil, anak-anak yang ingin kuliah banyak yang membiayai sendiri kuliahnya, misalnya dengan bekerja part time. Wah, berbeda sekali ya 🙂

Pada akhirnya, kedua budaya yang berbeda tersebut tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, ada keyakinan populer di masyarakat bahwa sebetulnya yang dibutuhkan manusia adalah relasi dan komunikasi dengan manusia lainnya. Terlalu individualis tentu saja tidak baik. Di sisi lain, manusia memang pada dasarnya terlahir seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Ada baiknya belajar menjadi mandiri sepenuhnya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita terpaksa berdiri sendiri atau kapan orang-orang yang biasa membantu tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya, diskusi itu membuat saya berkesimpulan dan bertekad untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak-anak di masa depan saya dengan budaya Skandinasia, gabungan antara Skandinavia dan Asia, Norwegia dan Indonesia. Itu pun kalau hubungannya berlanjut, hehehe 🙂 Doakan saja ya, Pembaca!

mit Liebe,

Frouwelinde

 

 

 

In the Beginning…

“Um erfolgreich zu sein, musst du alles geben.” – Bastian Schweinsteiger.

Kutipan di atas berasal dari salah satu pemain sepak bola dari timnas Jerman yang namanya sudah tidak asing lagi. Jika diterjemahkan kira-kira berbunyi “untuk menjadi sukses, kamu harus memberikan segalanya.” Kutipan ini memang baru saya dengar di tahun 2008 ketika Jerman bertanding di ajang Piala Eropa di Swiss dan Austria. Sejak saat itu, kutipan ini langsung menjadi salah satu kata-kata motivasi favorit saya.

Lantas apa kaitannya dengan semua perjalanan yang saya lakukan?

Kisah panjang itu dimulai jauh di masa kecil saya. Sedari kecil, saya adalah seorang anak yang senang mempelajari pengetahuan umum. Ibu saya bercerita, sejak usia 2 atau 3 tahun, saya sudah diajak menghafal nama-nama bandara di Indonesia dan dunia. Tidak banyak memang, hanya yang mudah dan terkenal saja. Ibu juga bercerita bahwa saya punya daya ingat yang kuat akan tempat. Misalnya, jika saya sekeluarga berkunjung ke rumah kakek dan nenek di Solo, ibu saya suka menunjukkan tempat-tempat di masa kecilnya. Dengan mudah saya menghafal tempat-tempat itu. Di rumah kakek dan nenek, saya mempunyai tempat favorit, yaitu sofa yang berada dekat dengan rak buku. Di dalam rak buku tersebut tersimpan buku-buku berukuran besar yang sangat saya sukai. Saya ingat ketika hampir setiap hari jika saya sedang berada di rumah saja, saya akan memanjat sofa tersebut dan meraih buku-buku seri Pustaka Alam LIFE yang membahas kenampakan alam, flora dan fauna di berbagai belahan dunia. Saya akan duduk di sana sangat lama sembari membolak-balik halaman buku-buku tersebut. Saya akan berhenti dan terpana dengan foto pemandangan berjudul “Lembah Lauterbrunnen di Swiss” dalam buku berjudul “Gunung”. Pada hari lain saya melahap halaman demi halaman tentang perjalanan Robert S. Parry dan Roald Amundsen ke kedua kutub, tak lupa mengagumi foto aurora borealis yang ada di dalam buku berjudul “Kutub”.

Ayah saya mengetahui betul kegemaran saya akan tempat-tempat yang jauh dan asing. Bahkan ketika kecil dulu saya ditanya tentang cita-cita, saya selalu menjawab bahwa saya akan menjadi pilot. Ketika saya memasuki usia SD, saya suka mendatangi ayah saya dan meminta untuk dibuatkan soal serupa kuis Who Wants to be a Millionaire tetapi khusus pertanyaan-pertanyaan geografi regional. Sambil bermain, ia berpesan pada saya, “kamu belajar yang pintar biar bisa sekolah di luar negeri. Kalau kamu dapat beasiswa, kamu bisa kuliah di luar negeri dan melihat tempat-tempat yang kamu inginkan.” Lalu saya bertanya, “tempat favorit papa apa?” “Kalau papa ke luar negeri, papa ingin ke Swiss atau Skandinavia. Di sana bagus pemandangannya. Banyak gunung-gunung bersalju seperti yang kamu suka,” jawabnya.

Banyak Jalan Menuju Jerman

Rupanya kata-kata di atas merupakan satu dari dua hal yang beliau wariskan pada saya sebelum meninggalnya beliau di tahun 2006. Hal kedua yang diwariskan pada saya adalah kesukaan terhadap Jerman setelah kami menghabiskan sebulan terakhir hidupnya menonton aksi Jerman di Piala Dunia 2006 bersama-sama. Saya sebelumnya tidak pernah suka bola, tetapi entah mengapa pada tahun itu saya mendapat kesan bahwa menonton sepak bola ternyata sangat menyenangkan. Dari sanalah kesukaan saya akan Jerman berasal dan terus berkembang hingga kini.

Karena kesukaan itu, saya pun memilih jurusan Bahasa di SMA dengan alasan agar saya dapat mempelajari bahasa Jerman. Kebetulan SMA saya merupakan salah satu partner pemerintah Jerman dalam program PASCH Schulen: Partner der Zukunft. Sebagai akibatnya, sekolah saya memberi kesempatan bagi murid-murid dengan nilai tes terbaik untuk mengikuti pertukaran pelajar selama 3 minggu di Jerman. Saya pikir, hal itu adalah kesempatan pertama saya untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh ayah beberapa tahun lalu. Saya begitu percaya diri pada awal tahap seleksi. Akan tetapi, kesombongan berbuah pahit. Saya gagal dalam seleksi itu. Kegagalan itu sempat membuat saya ingin menyerah dan berhenti mendalami bahasa Jerman. Beruntunglah saya memiliki seorang ibu yang terus memotivasi saya untuk berjuang dan mencoba lagi. Saya ingat nasehat beliau ketika itu: “tidak apa-apa, kamu tidak dapat karena memang belum waktunya. Biarkan teman-temanmu yang pergi. Mungkin ini kesempatan satu-satunya bagi mereka. Untuk kamu masih ada lagi, nanti jika kamu kuliah.” Memang di saat itu saya sudah berencana untuk mengambil jurusan Sastra Jerman di Universitas Indonesia.

Singkat cerita, saya lulus SMA dan dengan berkat Tuhan berhasil diterima di jurusan yang saya inginkan. Betapa semangatnya saya ketika mendengar bahwa ada kesempatan beasiswa kuliah musim panas selama sebulan di Jerman. Wow, sebulan! Lebih lama satu minggu daripada kesempatan di SMA. Lebih serunya lagi, kita diberi kesempatan memilih kota dan universitas yang kita inginkan berikut programnya. Saya langsung tancap gas dan belajar rajin sejak semester 1, karena calon-calon penerima beasiswa dipilih dari nilai. Di sinilah salah satu cobaan datang. Mungkin karena saya terlalu heboh belajar, teman-teman jadi tidak menyukainya. Tahun ketiga kuliah, saya berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut. Saya memilih Ludwig Maximillian Universität di München, kota favorit saya. Pengalaman saya selama di München menjadi hal yang tidak pernah terlupakan, terlebih lagi karena ada satu momen yang akhirnya menentukan cerita-cerita di masa depan saya.

Belok ke Skandinavia

Satu momen di München tersebut tidak dapat dilepaskan dari cerita beloknya minat saya ke arah utara, tepatnya ke negara-negara Skandinavia. Jadi ceritanya, ketika saya masih di tahun pertama kuliah, saya ikut di kelas wajib jurusan Sastra Jerman yang namanya Pengantar Kebudayaan Jerman (PKJ). Mata kuliah yang merupakan momok maba Jerman karena sumber-sumber materinya yang sebagian besar bahasa Jerman dan nilai-nilai ujian yang ajaib ini justru menjadi favorit saya. Mengapa? Karena di sinilah saya mengenal kebudayaan masa lampau yang membentuk negara Jerman, tepatnya kebudayaan pada masa abad pertengahan. Di sinilah saya mempelajari banyak karya sastra Jerman abad pertengahan, salah satunya yang menjadi favorit saya sampai sekarang, yaitu Nibelungenlied. Nibelungenlied adalah sebuah epos yang ditulis pada masa abad pertengahan dan terinspirasi dari sastra lisan yang berkembang ketika suku-suku Germania masih melakukan migrasi besar dari timur Eropa. Kebetulan, tema inilah yang menjadi tema presentasi saya dan karenanya saya jadi banyak membaca tentangnya. Rupanya, Nibelungenlied ini merupakan versi Jerman dari suatu karya yang lebih tua lagi, yang dikenal dengan nama Volsunga Saga, yang berasal dari daerah Skandinavia. Di sinilah saya mengenal bahwa mitologi yang terkandung dalam karya sastra Jerman abad pertengahan adalah pengaruh dari mitologi Norse Skandinavia. Saya pun jatuh hati pada negeri-negeri Eropa Utara tersebut, khususnya Norwegia, yang menurut saya memiliki kenampakan alam yang paling indah dengan fjord dan aurora borealisnya (ingat bahwa saya suka sekali membaca tentang ekspedisi kutub ^^).

Ketertarikan saya kepada Norwegia membuat saya mencari sahabat pena lewat situs Interpals.net untuk membantu saya mempelajari bahasa dan budaya Norwegia. Saya pun bertemu seorang teman pria yang sangat ramah, sebut saja namanya Fenris (seperti username Interpalsnya) yang meskipun saya menghilang dari situs tersebut berkali-kali tetap saja bersedia membalas pesan dan email saya. Dari Interpals, kami pindah ke Skype. Sampai pada tahun 2013 ketika saya di München, ia memutuskan untuk menemui saya. Kami bersahabat dekat saat itu. Selama 2 hari, tepatnya di tanggal 21 dan 22 Agustus 2013, kami berjalan-jalan bersama mengelilingi kota München. Sayang memang hanya 2 hari, tapi apa boleh buat, saya sibuk berkuliah saat itu. Akan tetapi, dua hari saja sudah cukup untuk membuat kami yakin bahwa kami ingin mengenal satu sama lain lebih banyak lagi. Demikianlah, setahun kemudian kami menjadi pasangan kekasih dan bukan hanya sahabat lagi. 🙂

Tahun 2014, ia mengundang saya selepas lulus untuk bertemu keluarganya di Norwegia. Bayangkan, saya pun tidak bisa percaya sampai sekarang bahwa pada usia ke-21 saya sudah bisa mewujudkan salah satu impian terbesar saya: travelling ke luar negeri seperti yang pernah saya obrolkan dengan ayah saya. Dan kedua negara yang saya kunjungi adalah juga kedua negara favorit saya! Tidak sampai di sana saja, karena semua perjalanan saya gratis hehehe 😀

Sekarang saya sering merenung, kalau saja saya menyerah pada kegagalan pertama di SMA, saya mungkin tidak akan sampai di sini. Kalau saja saya break down setelah meninggalnya ayah saya, mungkin saya tidak akan mewujudkan impian saya. Kalau saja saya berhenti berjuang karena omongan teman-teman, mungkin saya masih menjadi seorang gadis biasa yang terjebak pada rutinitas kehidupan yang lurus tanpa pengalaman berarti. Saya tidak akan sepuas dan sebahagia sekarang. Benar kata Schweinsteiger, berikan semuanya untuk menjadi sukses. Jangan menyerah mencapai impian 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Baca lebih lanjut:

Kisah cinta saya dengan Jerman: http://mysecretcornflowerfield.blogspot.co.id/2010/07/its-d-for-deutschland.html

Lebih lanjut tentang Interpals.net: http://mysecretcornflowerfield.blogspot.co.id/2013/07/interpals-meet-your-international.html