Antibosan di Kala Berkemah: Main di Pantai, Yatzy dan Obrolan Antarbudaya

Saya terbangun pada pagi hari kedua di perkemahan karena merasa tempat tidur saya semakin lama semakin tidak nyaman. Usut punya usut, setelah merangkak keluar dari ruang tidur, saya baru tahu bahwa matras saya kempes. Sepertinya karena memang sudah tua dan mungkin udaranya keluar pelan-pelan selama saya tertidur. Dimulailah pekerjaan memompa matras yang melelahkan tersebut untuk kedua kalinya.

Selesai dengan matras dan melipat selimut, saya dan yang lainnya duduk mengitari meja makan untuk menyantap sarapan yang tak lain dan tak bukan adalah smรธrbrรธd. Ellen sudah mengambil beraneka macam topping dari kotak pendingin di mobil dan menyebarnya di atas meja. Berbagai pilihan topping dari asin, manis sampai tidak berasa tersedia di sana. Saya sih masih tetap setia dengan topping favorit saya. ๐Ÿ™‚

Tidak ada waktu banyak untuk berleha-leha di hari itu, karena kami semua sudah punya kegiatan sepanjang siang hingga sore hari. Orang tua Chris akan pergi memancing di laut sedangkan kami berdua akan mengunjungi sebuah kota kenangan. Aduh, istilahnya ya, Pembaca hehehe ๐Ÿ˜› Akhirnya, saya memutuskan untuk mandi dan keramas sambil menunggu baterei ponsel saya terisi penuh kembali. Percaya tidak percaya, kompleks perkemahan ini canggih juga. Setiap tenda mendapatkan satu rol berisi empat stop kontak untuk listrik yang langsung tersambung pada pancang-pancang listrik yang tersebar di area tersebut. Tidak hanya itu, kompleks perkemahan Flakk Camping ini juga memiliki akses wifi gratis bagi para tamu-tamunya. Tentu saja kecepatannya bukan kecepatan super yang cocok untuk streaming film di Youtube, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan browsing standar. Akses wifi tercepat dapat diperoleh di dekat bangunan resepsionis yang menyatu dengan kamar mandi dan dapur.

img_5438-730x350

Bangunan resepsionis yang tersambung dengan kamar mandi dan dapur.

Saat saya tiba di kamar mandi, saya tidak lagi mendapati keadaan sepi seperti malam sebelumnya. Kali ini ada beberapa pekemah lain yang sudah di sana. Saya harus mengantri satu giliran untuk dapat menggunakan salah satu bilik kamar mandi di situ. Selain itu, saya tidak lagi bisa berlama-lama menikmati air panas gratis karena ketika saya di dalam, saya mendengar suara kasak-kusuk beberapa orang di luar, yang sepertinya juga mengantri mandi di belakang saya. Salah juga memutuskan untuk keramas sekarang. Untungnya saya punya motivasi lain, yaitu cepat-cepat berangkat menuju kota kenangan agar sempat melihat banyak hal di sana.

Kami diantar oleh Tor Vidar dengan mobil menuju kota tersebut. Kami berangkat pada pukul 11.00 pagi dan menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Sementara itu, Ellen dengan baik hati menawarkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk karena kami belum sempat mencuci sama sekali di perjalanan tersebut. Mungkin kalau di negara kita, yang begini sudah dibilang tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Saya enak-enak bermain sedangkan ibunya yang sudah membantu saya agar bisa mewujudkan road trip impian ini sibuk mencuci pakaian kotor sendiri. Sudah begitu, cucian di perkemahan tersebut tidak boleh ditinggal-tinggal karena kemungkinan pencurian atau hilang selalu ada. Sebetulnya di Norwegia sendiri tidak banyak peristiwa pencurian, tetapi kompleks perkemahan ini ‘kan untuk wisatawan mancanegara.

Saya menghabiskan waktu di kota kenangan hingga pukul 18.00. Sesungguhnya petualangan saya belum berakhir ketika saya dijemput kembali setelah orang tua Chris selesai memancing. Untungnya, mereka bersedia mengantar kami kembali ke kota tersebut esok pagi. Cerita tentang petualangan di kota kenangan ini, berikut nama kotanya akan saya bagikan di bagian selanjutnya ya, Pembaca ๐Ÿ™‚ Sepanjang jalan pulang kami saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tentang impian yang saya miliki di kota yang baru saja saya kunjungi dan tentang ketidakberuntungan orang tua pacar saya dalam mendapatkan banyak ikan. Sebelum kembali ke perkemahan, kami pun sempat mampir di sebuah minimarket (menurut saya, karena bagi orang di pedesaan tersebut toko itu adalah supermarket) untuk membeli bahan makan malam.

Tiba kembali di kemah, saya mendapati tetangga-tetangga kami telah berganti. Kini di seberang kami berdiri sebuah lavvu, yaitu tenda kerucut khas suku Sami, suku asli yang mendiami wilayah utara Skandinavia. Saya mengira penghuninya pun orang Sami, ternyata bukan. Tenda besar itu milik sebuah keluarga Filipina yang salah satu anggotanya menikah dengan orang Norwegia. Filipina-Norwegia adalah pasangan Skandinasia paling mainstream di negara tersebut. Seperti orang-orang Indonesia, keluarga yang didominasi perempuan tersebut bersuara sangat lantang dibandingkan mayoritas wisatawan Eropa yang ada di sana. Mereka sibuk main kartu, memasak, dan melakukan aktivitas lainnya dengan disertai mengobrol dan bercanda. Suara cekikikan berulang kali terdengar. Suasana yang tadinya tenang seperti di hutan tiba-tiba berubah seperti suasana bus sekolah yang dipenuhi murid-murid yang hendak pergi study tour. ๐Ÿ˜ฅ

Meski cukup berisik, sepertinya aktivitas tersebut legal karena tidak ada yang menegur. Saya pun memutuskan untuk menghindari keramaian dengan pergi mengeksplor berbagai sudut perkemahan. Lagi-lagi saya dan Chris meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk memasak makan malam. Tujuan utama saya sebetulnya adalah pantai yang terletak di daerah perkemahan tersebut. Tentu saja saya tidak berharap banyak, karena saya tahu bahwa pantai-pantai di sini tidak akan seindah di kampung halaman saya. Satu hal yang saya inginkan adalah memperoleh cinderamata dari alam berupa bebatuan unik atau kulit kerang. Saya memang hobi mengumpulkan benda-benda dari alam ketika sedang bepergian. Selain batu dan kulit kerang, saya mengoleksi daun kering, bunga liar dan bulu burung yang jatuh di tanah.

Ternyata, akses menuju pantai tidak mudah untuk ditemukan. Mula-mula saya berusaha memasuki pantai dari sisi kiri yang dekat dengan dermaga feri. Daerah tersebut dipenuhi oleh karavan wisatawan dan para pekemah yang tengah berjemur. Tidak ingin mengganggu, saya pun berjalan melewati jalan setapak dan mencari daerah yang sepi oleh pekemah. Bagian tengah pantai tampak sepi, tetapi begitu tiba di sana, saya mendapati kumpulan semak-semak berupa rerumputan tinggi yang tampak tajam. Karena saya hanya mengenakan sandal jepit, saya tidak berani menerobos semak-semak tersebut. Di situ pula saya menyadari hal yang lucu. Rupanya, identiknya pantai dan sandal jepit itu hanya ditemukan di pantai-pantai tropis atau Mediterania. Saya mengamati anak-anak wisatawan yang bermain di sisi kiri pantai rata-rata mengenakan sepatu bot karet atau sepatu lain yang tertutup. Wah, memang ya, beda alam beda pakaian hahaa ๐Ÿ˜€

img_5309-730x350

Pantai dekat Flakk Camping. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

275-640x306

Dermaga dekat penyeberangan feri. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

img_6765-730x350

Kadang-kadang dari pantai juga tampak kapal-kapal yang melintas. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

Setelah kembali ke jalan setapak dan menyusuri deretan kabin, saya menemukan akses mudah menuju pantai, yang ternyata dipagari kawat berduri dan dipasangi tulisan yang kira-kira berarti “wilayah privat”. Lho, kok wilayah privat? Bukankah di Norwegia ada hak mengakses alam bagi semua orang? Saya pun belajar bahwa semua kebebasan ada batasnya. Rupanya, allemansratten yang terkenal itu tidak mutlak berlaku di semua wilayah. Ada beberapa wilayah yang sangat dekat dengan alam yang masih termasuk wilayah privat. Umumnya wilayah tersebut adalah lahan pertanian dan peternakan.

Kecewa karena tidak menemukan akses ke pantai, saya hampir menyerah dan bermaksud kembali ke tenda. Akan tetapi, rasa penasaran dan semangat menjelajah saya terus membujuk saya untuk pergi ke pantai. Akhirnya setelah intip sana longok sini, saya dan Chris pun berhasil mencapai pantai dengan menemukan sebuah perahu yang terparkir tak jauh dari salah satu kabin. Perahu tersebut seakan menjadi penunjuk jalan bagi kami untuk menuju pantai yang nyaris tidak berpasir dan dipenuhi bebatuan. Laut yang berada di dekatnya pun tidak tampak indah karena dipenuhi ganggang hijau dan rumput laut yang membuat airnya pun berubah menjadi hijau seperti beracun. Pokoknya jelek deh kalau dibandingkan dengan pantai di negara tropis.

13707655_10210506183117320_4820452775019664205_n

Sisi indah pantai yang berhasil saya abadikan.

13754412_10210506182877314_6049990346547174463_n

Di sebelah kiri adalah pelabuhan feri.

Saya pun langsung berfokus pada pencarian bebatuan dan kerang unik. Di dekat pagar yang membatasi pantai dengan wilayah privat tadi, terdapat hamparan bebatuan putih yang dipenuhi dengan kulit kerang yang tersapu ombak hingga ke pantai. Saya melompati bebatuan, mencelupkan kaki di air laut dan melewati onggokan-onggokan rumput laut kering yang terbawa ombak hingga tiba ke hamparan bebatuan tersebut. Selagi saya sibuk mencari kerang, Chris mencari bebatuan unik di dekat laut. Tiba-tiba ia memanggil saya untuk mengingatkan agar saya berhati-hati, karena ternyata ia menemukan banyak paku dan besi-besi rongsokan yang sudah berkarat teronggok di salah satu bagian pantai. Rongsokan berkarat tersebut mengubah warna bebatuan putih menjadi coklat kemerah-merahan. Tampaknya rongsokan besi tersebut berasal dari rongsokan perahu atau kapal yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Agak kecewa melihat ketidaksempurnaan keindahan alam di negeri impian saya ๐Ÿ˜ฆ

13718608_10210506184757361_1845469634209788576_n

Warna bebatuan yang kemerahan terkena karat dari rongsokan besi.

13690808_10210506184797362_7051292684426885602_n

Pantai tiga warna: merah di kanan bawah, hijau abu-abu di kiri bawah dan putih di bagian atas.

Meski keindahannya tak sempurna dan jauh tertinggal dibandingkan pantai Indonesia, kami menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai tersebut hingga matahari menjelang terbenam. Kami berhasil mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan unik sebanyak yang mampu kami bawa dengan tangan kosong, karena kami lupa membawa wadah atau kantong plastik. Dengan perut yang mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan menyantap makan malam.

Ketika kami tiba, makan malam sudah terhidang di atas meja lipat plastik yang kami bawa. Hari itu menunya adalah nasi dengan lauk berupa campuran daging sapi, jamur dan paprika bersaus coklat kental yang entah apa namanya. Saya suka menyebutnya nasi kari Norwegia, meskipun menurut pakar masakan pasti namanya lain lagi. Saya juga harus menyebutkan, bahwa nasi di sini lebih pulen dibandingkan nasi di beberapa wilayah di Indonesia (kecuali di rumah saya tentunya, karena saya sangat suka nasi pulen). Mengapa bisa demikian? Rahasianya adalah karena mereka tidak kenal magic jar atau magic com dan alat-alat memasak nasi lainnya. Beras di Norwegia tidak dijual dalam karung-karung seperti di Indonesia, tetapi di dalam kotak-kotak semacam sereal. Di dalam kotak tersebut, beras sudah ditakar per porsi di dalam plastik-plastik yang aman jika terkena panas. Yang harus kita lakukan tinggal memasukkan plastik itu ke dalam air panas dan merebusnya selama kira-kira 10-15 menit sampai nasi tanak. Sejujurnya saya lebih suka cara ini karena kepraktisannya. Tidak perlu lagi mencuci beras atau membersihkan magic jar. Kita pun bisa sesekali memeriksa tingkat kepulenan nasi tanpa harus buka tutup magic jar yang sedang memasak. Tidak ada tuh istilah nasi kurang air, setengah jadi dan sebagainya. Hehehe ๐Ÿ˜›

Kami semua menyantap makan malam tersebut dengan lahap, bahkan ada yang menambah. Selesai makan dan membereskan piring kotor, kami tak juga beranjak dari meja makan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam kedua di tenda tersebut dengan bermain Yatzy. Permainan ini sebetulnya versi Skandinavianya Yahtzee, hanya berbeda sedikit pada aturannya. Sejak mencoba bermain pada malam tahun baru 2016, saya agak ketagihan main ini. Cara bermainnya adalah dengan mengocok enam buah dadu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan permintaan dalam daftar dan jumlahnya sebesar mungkin. Misalnya, dua buah angka yang sama dan tiga buah angka yang sama, maka saya harus memperoleh misalnya 3 x angka 6 dan 2 x angka 5. Yang menang adalah yang mengumpulkan angka tertinggi jika seluruh hasil dijumlah. Permainan ini akan jadi seru kalau hokinya besar, karena untuk menang memang sangat mengandalkan hoki. Akhirnya segala cara yang nggak masuk akal pun dicoba, misalnya meniup-niup dadu sebelum dilempar. Ya kali bakal ada efeknya ๐Ÿ˜€

Ketika saya bermain di malam tahun baru, saya ketiban keberuntungan pemula. Baru mencoba main pertama kali, saya langsung menang. Lain dengan permainan di kemah. Tiba-tiba keberuntungan saya hilang seperti tertiup angin. Dua sampai tiga ronde bermain, nama saya hanya nangkring di posisi dua atau tiga. Sepertinya saya harus bersyukur dengan tidak menempati posisi bontot. Sebaliknya, Chris yang berada di urutan terakhir di malam tahun baru justru menang atau berada di atas saya. Begitulah, Pembaca, serunya bermain Yatzy yang hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Selain itu, permainan ini juga merupakan antibosan yang ampuh ketika berkemah atau melakukan perjalanan panjang. Sayangnya, ia tidak begitu populer di Indonesia.

Karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, Tor Vidar yang akan menyetir pun pamit tidur setelah permainan selesai. Sementara itu, saya, Chris dan Ellen duduk-duduk di sekitar meja makan dan mengobrol. Saya pun memanfaatkan waktu itu sambil mengerjakan salah satu hobi saya, yaitu mewarnai. Sekedar info, saya salah satu penggemar berat adult coloring book. ๐Ÿ˜› Sambil menggerakkan spidol di atas gambar yang saya warnai, saya bertanya banyak hal, mula-mula dengan Chris. Kami mendiskusikan tentang perbedaan budaya – hal yang sangat saya sukai.

Saya bertanya tentang hal yang selama dua hari ini telah saya dan dia lakukan – sibuk bermain selagi orang tuanya mengurus segalanya. Kalau di Indonesia, hal tersebut sudah pasti dianggap kurang sopan, apalagi jika pihak orang tua tidak mengungkapkan izinnya atau justru menyuruh anaknya untuk pergi bermain. Mendengar pembicaraan kami, Ellen pun ikut menimbrung. Ia menjelaskan bahwa memang demikian hubungan anak dan orang tua di negaranya. Secara fisik terkesan sama sekali tidak dekat. Jujur saja, saya cuma pernah lihat Chris dan orang tuanya berpelukan ketika ia hendak pergi jauh, misalnya ke tempat saya. Sedangkan saya sampai sekarang masih suka gelendotan ke ibu saya. ๐Ÿ˜€ Selain itu, orang tua dan anak kedudukannya relatif setara, terutama ketika sang anak sudah dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, di mana kedudukan orang tua dan anak ya atas bawah, bahkan kadang-kadang sampai anaknya menikah (apalagi kalau anaknya perempuan).

Mendengar cerita saya, Ellen balik bertanya apakah orang tua di Indonesia sangat ketat dalam mendidik anak. Saya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan Skandinavia, tentu terkesan sangat ketat, tetapi kami juga sangat dekat secara fisik dan emosional. Chris bilang, di Norwegia, anak-anak justru tidak sabar untuk lepas dari orang tuanya. Semakin mereka dewasa, mereka akan semakin berusaha menjauh. Fenomena ini juga ada di Indonesia, tetapi tentu kita tidak bisa sebebas itu. Ada hubungan timbal balik yang sangat berbeda antara kedua negara tersebut.

Di Indonesia, ketika orang tua memutuskan untuk memiliki anak, sebagian besar masih banyak berpikir bahwa mereka akan melakukan pengorbanan besar demi pertumbuhan anaknya. Tetapi pengorbanan besar tersebut seringkali bukan tanpa pamrih. Ada beberapa orang tua yang saya kenal yang kemudian berekspektasi bahwa anaknya akan berbalik membantunya ketika sudah dewasa. Membantu di sini bukan secara fisik, tetapi materi. Misalnya dengan berprofesi yang menghasilkan banyak uang atau bahkan (yang lebih parah), meneruskan cita-cita orang tuanya yang tidak kesampaian. Menurut analisis sederhana dan amatiran saya, penyebabnya adalah kurang baiknya kondisi kesejahteraan dan perekonomian negara. Wah, jauh sekali ya! Mengapa bisa demikian?

Saya bandingkan keadaaan di Indonesia dengan keadaan di Norwegia berdasarkan penjelasan Chris dan ibunya. Di Norwegia, sebuah negara yang ekonominya sudah sejahtera, orang tua tidak terlalu pusing memikirkan pengorbanan besar berupa materi yang harus mereka keluarkan demi membesarkan anak. Ketika anak lahir, mereka sudah memperoleh tunjangan dari pemerintah, kalau tidak salah sampai anak tersebut berusia 18 tahun. Selain itu, biaya pendidikan yang biasanya menelan paling banyak porsi dari bujet hidup sudah gratis, kecuali universitas. Ditambah lagi, ketika orang tua sudah pensiun, mereka mendapat uang pensiun yang jumlahnya tidak kecil dari pemerintah. Nah, kebayang ‘kan, dari situ saja bebannya sudah berkurang banyak. Begitulah kalau uang rakyat tidak dikorupsi. Padahal dua negara di atas sama-sama penghasil minyak. ๐Ÿ˜‰ Intinya, orang tua dan anak menjadi tidak punya tanggung jawab bantuan materi secara timbal balik seperti di Indonesia.

Memikirkan hal tersebut, saya pun jadi penasaran. Di Indonesia, orang tua banyak yang bekerja keras membanting tulang agar anaknya dapat kuliah setinggi-tingginya, sehingga ketika anak gagal memperoleh pekerjaan yang sebanding dengan biaya kuliahnya, orang tua pun jadi kecewa. Bagaimana keadaannya di negeri matahari tengah malam ini? Ternyata, hal tersebut sangat jarang terjadi, Pembaca. Menurut Ellen, ada beberapa orang tua yang melakukannya dan tentu hal tersebut – menabung dari hasil kerja demi kuliah anaknya – adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, sebagian besar orang tua menganggap kuliah adalah pilihan anaknya dan tidak wajib, sehingga jika mereka ingin berkuliah, merekalah yang harus mencari uangnya sendiri. Toh sebetulnya biaya kuliah tidak terlalu mahal dan ada program pinjaman pemerintah. Saya pernah cek biaya kuliah sebuah jurusan sastra di Universitas Bergen hanya sebesar Rp 800.000,- kalau dikurs ke Rupiah, sedangkan saya ketika di UI dulu satu semester bisa 3 juta! Alhasil, anak-anak yang ingin kuliah banyak yang membiayai sendiri kuliahnya, misalnya dengan bekerja part time.ย Wah, berbeda sekali ya ๐Ÿ™‚

Pada akhirnya, kedua budaya yang berbeda tersebut tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, ada keyakinan populer di masyarakat bahwa sebetulnya yang dibutuhkan manusia adalah relasi dan komunikasi dengan manusia lainnya. Terlalu individualis tentu saja tidak baik. Di sisi lain, manusia memang pada dasarnya terlahir seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Ada baiknya belajar menjadi mandiri sepenuhnya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita terpaksa berdiri sendiri atau kapan orang-orang yang biasa membantu tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya, diskusi itu membuat saya berkesimpulan dan bertekad untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak-anak di masa depan saya dengan budaya Skandinasia, gabungan antara Skandinavia dan Asia, Norwegia dan Indonesia. Itu pun kalau hubungannya berlanjut, hehehe ๐Ÿ™‚ Doakan saja ya, Pembaca!

mit Liebe,

Frouwelinde

 

 

 

Asyiknya Berkemah Pertama Kali

Ketika teman-teman saya dulu berlomba-lomba naik gunung dan berkemah, saya sama sekali tidak tertarik. Bayangan saya, berkemah itu repot. Sudah bawa-bawa tenda di backpack (tahu sendiri badan saya mungil ^^), harus masak sendiri pakai bahan-bahan yang juga harus dibawa, plus bingung kalau mau mandi. Dulu sekali waktu saya kecil, saya pernah ke Bumi Perkemahan Pramuka yang ada di Cibubur. Setelah lihat keadaannya plus kamar mandinya, saya menyimpulkan bahwa berkemah itu bukan untuk saya.

Baru setelah saya punya pacar di kampus, yang sekarang sudah jadi mantan, saya mulai tertarik berkemah. Ini gara-gara mantan saya itu aktif di kegiatan kampus seperti Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) dan organisasi lainnya yang untuk team building saja harus berkemah segala, di tepi laut pula. Saya ingat di salah satu ceritanya, dia pamer ke saya soal melihat bintang di malam hari dari luar tenda. Katanya, biasanya daerah perkemahan yang di alam bebas itu gelap, sehingga polusi cahaya sedikit dan bintang-bintang di langit jadi kelihatan. Mupenglah saya sejak saat itu. Hahaha…

Nasib kurang berpihak pada saya. Selama saya di Indonesia, saya tidak pernah punya kesempatan berkemah. Pernah suatu kali saya diajak oleh mantan saya, yang tentunya kepentok izin orang tua. Ternyata, kesempatan saya memang ditahan dulu oleh Tuhan yang Mahaesa. Sama seperti pengalaman berlayar, saya pun berkemah pertama kali justru bukan di Indonesia melainkan di Norwegia. *sembah sujud kepada Tuhan yang Maha Memberi* huehehe ๐Ÿ˜›

Awalnya, kami tidak berencana untuk berkemah. Rencananya, setelah dari Trollstigen, kami akan bergerak ke arah utara menuju sebuah kota bernama Trondheim. Kota ini adalah kota terbesar ketiga di Norwegia dan kami berencana untuk menginap di kabin yang tidak jauh dari sana. Kabin yang kami incar letaknya di dalam kompleks ร˜ysand Camping, yaitu sebuah lokasi berlibur yang dilengkapi kabin-kabin dan lahan untuk mendirikan kemah. Letak kompleks ini sekitar satu jam di selatan Trondheim dan langsung menghadap ke laut lepas yang juga adalah Fjord Trondheim. Kompleks kemah ini juga memiliki pantai berpasir sepanjang 2 km. Kebayang ‘kan cantiknya?

Ada dua rute yang bisa digunakan untuk mencapai ร˜ysand dari Trollstigen. Rute pertama melalui ร…ndalsnes dan berjarak lebih pendek, tetapi harus menyeberangi fjord beberapa kali. Rute kedua jauh lebih panjang karena memutari Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella yang luas, tetapi tanpa fjord. Kami memutuskan untuk mengambil rute yang panjang untuk menghemat biaya, karena kapal feri untuk menyeberangi fjord itu tidak murah juga kalau dihitung-hitung.

Saya tidak begitu ingat apa saja yang saya lihat di sepanjang perjalanan selain pegunungan yang dikelilingi hutan-hutan hijau yang di antaranya terselip desa-desa kecil dan sungai-sungai yang berkelok-kelok. Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella sendiri merupakan rangkaian pegunungan yang diapit lembah-lembah di antaranya. Salah satu rangkaiannya, Trollheimen, pernah muncul dalam salah satu film horor Norwegia yang saya tonton, judulnya “Trollhunter”. Trollheimen, seperti namanya, menjadi sebuah dataran tinggi yang didiami oleh troll-troll berukuran raksasa yang mengejar manusia yang memburunya. Meskipun digambarkan suram dan dingin di dalam film, dataran tinggi yang berada di taman nasional ini sangat cerah dan berwarna di musim panas ๐Ÿ™‚ Tidak ada pepohonan yang tumbuh, karena ketinggiannya memberikannya iklim tundra. Yang tersebar hanya bebatuan dan lumut yang berwarna cerah.

mv5bmtkymtgxnziwof5bml5banbnxkftztcwnjyynjm5na-_v1_uy268_cr00182268_al_

Poster film Trollhunter yang bersetting di Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella.

Dari jalan raya E6 yang saya lalui untuk mengitari taman nasional tersebut, terdapat sebuah belokan ke kiri yang jika diikuti akan mengantar saya pada sebuah lapangan parkir dan jalan setapak menuju bangunan yang menjadi viewing point di daerah itu. Viewing point kali ini bukan berbentuk teras melainkan bangunan persegi panjang yang terbuat dari baja dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap ke arah Snรธhetta, gunung tertinggi kedua di Norwegia. Jika duduk di dalam kotak besar tersebut, kita juga dapat menyaksikan panorama tundra pegunungan yang luas dan masih alami. Omong-omong, saya cerita begini bukan karena saya pernah berdiri di dalamnya, tetapi saya sempat melihat foto beserta informasinya di acara Nordic Midsummer Party tahun 2015 yang diselenggarakan oleh kedutaan-kedutaan negara Nordik. Mobil saya sih meluncur bebas saja selama di E6 dan tentunya melewati belokan ke arah viewing point tersebut. Mungkin lain kali ya, Pembaca ๐Ÿ™‚

Setelah melintasi tundra pegunungan di Dovrefjell, saya terus berkendara ke utara melewati beberapa kota lagi. Setelah berhari-hari melalui jalanan yang menanjak, kali ini jalan yang kami lalui semakin menurun. Pepohonan hijau dan lahan-lahan pertanian semakin banyak dijumpai. Gunung-gunung yang menjulang sekarang ada di belakang kami dan semakin tidak terlihat. Suhu udara terasa lebih hangat karena semakin ke utara, matahari semakin lama bersinar, tetapi tidak dengan anginnya yang tetap saja dingin. Kali ini angin lebih banyak berhembus dari arah laut.

Saya tiba di ร˜ysand pada senja hari yang tampak seperti siang hari karena mentari yang begitu cerah. Selagi orang tua Chris masuk ke bangunan resepsionis untuk menanyakan tempat, kami berdua menumpang ke toilet. Percayalah, perjalanan ke toilet yang sebetulnya singkat ini menjadi sangat menyenangkan bagi saya. Setelah berhari-hari melihat gunung, kini saya dapat melihat hamparan pasir pantai dan laut biru yang berkilauan diterpa sinar matahari. Letak pantai tersebut tepat di samping bangunan toilet yang menyatu dengan bangunan kamar mandi. Saya sempat melihat hal unik pula di area mandi tersebut. Ternyata, untuk membuka pintu kamar mandi, para tamu yang berkemah di situ dibekali dengan kartu akses yang harus ditempelkan ke pintu. Wah, modern sekali kompleks kemah ini. Pikiran saya pun mulai membanding-bandingkan keadaan yang baru saya lihat dengan keadaan di kampung halaman ๐Ÿ˜€

58508188

Pantai pasir di ร˜ysand Camping diterpa sinar matahari terbenam. Cantik banget ya.. ๐Ÿ™‚ Sumber: http://www.panoramio.com/

dsc-0479

Bangunan resepsionis di ร˜ysand Camping. Sumber: http://www.oysandcamping.no/

Sayangnya, saya justru disambut kabar buruk begitu tiba di mobil. Semua kamar dan lahan kemah penuh. Terpaksa saya mengucapkan selamat tinggal pada deburan ombak yang menenangkan, pasir yang putih dan hangat serta pemandangan matahari terbenam yang saya yakin akan tampak sangat cantik dari tempat tersebut. Akan tetapi, setidaknya ada satu hal yang berhasil kami dapatkan dari tempat itu, yaitu sebuah buku kumpulan alamat lokasi-lokasi perkemahan yang tersebar di seluruh Norwegia. Mulailah kami membuka halaman demi halaman dan mencari tempat yang cocok sebagai pengganti ร˜ysand Camping. Salah satunya yang tampak begitu menjanjikan adalah Flakk Camping, yang terletak sekitar 30 menit di utara ร˜ysand, mendekati Trondheim. Dari foto-foto di buku itu, tampaknya kompleks perkemahan tersebut punya kabin yang kamarnya cukup luas dan teras untuk berjemur. Lumayanlah kalau masih ada tempat ๐Ÿ™‚

img_5584-730x350

Kompleks perkemahan Flakk Camping. Sama-sama di tepi pantai seperti ร˜ysand Camping. Sumber: http://www.flakk-camping.no/

 

Mobil pun kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara melintasi desa-desa hingga tiba di kompleks perkemahan Flakk Camping yang juga terletak di tepi laut, bahkan dekat dengan pelabuhan feri. Mulanya, saya bersemangat membayangkan kabin-kabin kecil yang ada di foto dalam buku, hingga saya pun menerima kabar buruk kembali. Semua kabin sudah direservasi. Yang tersisa hanyalah lahan untuk mendirikan kemah. Waduh! Jujur saja, meskipun saya tadinya mupeng berkemah, setelah berjam-jam duduk di mobil dan kelelahan, saya sekarang lebih memilih kabin. Nggak kebayang kalau harus mendirikan tenda sendiri dan mandi cepat-cepat karena banyak yang antri. ๐Ÿ˜ฅ Ya, tapi apa boleh buat?

img_7076-730x350

Tadinya saya ingin kabin kecil ini. ๐Ÿ˜ฆ Sumber: http://www.flakk-camping.no/

 

img_53101-730x350

Atau trailer dengan tenda tambahan seperti ini. Sumber: http://www.flakk-camping.no/

Kami pun segera memarkir mobil kami di lahan yang sudah disediakan. Lahan berbentuk persegi panjang yang ditumbuhi rumput dan berbatasan dengan lahan pertanian milik pribadi tersebut ternyata sudah dipenuhi para wisatawan. Bentuk dan ukuran tenda mereka bermacam-macam. Ada yang sangat kecil dan hanya bisa digunakan untuk tidur, sedangkan meja dan kursi lipat mereka dipasang di dekatnya. Ada pula yang super komplit dengan bagian kamar tidur yang terpisah dan ruangan lain untuk memasak. Karena cuaca sangat cerah, sebagian besar para penghuni tenda tersebut duduk-duduk di kursi lipat sambil makan dan berjemur.

Saat itu sekitar pukul 20.00 dan matahari masih menggantung di langit dengan sinarnya yang sangat cerah. Kami segera memanfaatkan waktu tersebut untuk memasang tenda. Ini adalah kali pertama saya melihat proses memasang tenda. Wuih, ternyata teknologi pemasangan tenda sudah modern sekali ya! Atau sebetulnya biasa-biasa saja tapi memang dasar saya yang belum pernah berkemah sebelumnya. Intinya, walaupun semua dikerjakan secara manual, ternyata segala peralatan sudah ada. Pertama-tama, saya menyambung rangka. Kira-kira ada enam buah rangka yang akan membentuk atap tenda saya. Jujur saja, saya tidak tahu bahan yang digunakan untuk membuat rangka tersebut. Yang saya ingat, rangka tersebut dipasang dengan cara menyambung-nyambung seperti kalau kita main sambung sedotan yang ada di acara-acara outbound. Meskipun tekstur luarnya keras, ternyata setelah disambung hingga panjang dan dimasukkan ke dalam lubang-lubang di tendanya, rangka itu bisa ditekuk.

fb_img_1478597578635

Apa daya cuma ada yang seperti ini ๐Ÿ˜ฆ

Ujung rangka tersebut kemudian ditancapkan ke tanah. Di beberapa bagian rangka tersebut terdapat pula semacam tali yang digunakan untuk memperkokoh tenda. Tali tersebut harus ditarik dan diikat pada pancang-pancang yang kemudian ditancapkan di tanah sampai dalam. Hal ini dilakukan juga untuk mencegah tenda terbang akibat tertiup angin. Menurut saya, ini bagian yang tersulit, karena pancang tersebut harus betul-betul menancap di dalam tanah hingga hanya tersisa bagian kepalanya saja. Saya mencoba dengan kaki tidak berhasil, dengan palu pun masih gagal. Akhirnya saya menyerah dan membiarkan para pria mengambil alih hahaha ๐Ÿ˜€

 

Setelah tenda berdiri, kami memasang pemisah ruangan. Tenda kami yang berwarna kuning dan hijau tersebut berukuran cukup besar dan dapat dibagi menjadi tiga ruangan. Dua ruangan untuk kamar tidur dan satu ruangan yang terbuka untuk meletakkan meja makan dan berfungsi sebagai dapur. Saya nyaris bernafas lega melihat tenda yang sudah berdiri dan pemisah ruangan yang sudah terpasang. Ternyata masih ada satulagi yang harus saya lakukan: menyiapkan tempat tidur. Di dalam mobil, kami sudah membawa dua buah matras. Yang pertama lebih modern, tinggal tekan tombol dan matras akan terisi udara serta menggembung dengan sendirinya. Tentu saja yang satu ini jatuh ke tangan kedua orang tua. Saya pun harus mengambil matras yang

20160630_202749

Bekerja keras memompa matras ๐Ÿ˜€

harus dipompa secara manual. Mula-mula, saya memompa dengan kaki. Kemudian saya merasa lelah dan berganti menggunakan tangan. Akhirnya tangan dan kaki pun menjadi lelah dan Chris gantian yang memompa matras tersebut sampai penuh. Memang sepertinya badan saya tidak didesain untuk berkemah ๐Ÿ˜€

 

Selesai dengan tenda, kami segera membuka meja dan mulai memasak makan malam seadanya. Kali ini menunya burger sederhana. Isinya hanya daging burger, saus dan bumbu campuran yang banyak mecinnya, persis seperti burgernya abang-abang kaki lima jajanan anak SD. Meskipun bukan favorit saya sama sekali, saya tetap menyantapnya sampai habis karena makanan terakhir yang saya makan adalah wafel di Trollstigen. Kebayang ‘kan laparnya kayak apa? Dua tangkup burger berhasil saya santap dalam waktu singkat di malam hari itu.

20160630_214710

Burger setengah jadi. Abaikan saja bagian sausnya haha ๐Ÿ˜›

Kegiatan berikutnya yang saya lakukan setelah perut terisi penuh adalah mandi. Kegiatan ini adalah yang paling saya benci ketika berada di tempat umum. Saya tidak suka berbagi kamar mandi dengan orang lain yang tidak saya kenal, apalagi kalau orangnya banyak. Dari kecil saya paling tidak suka acara retreat, rekoleksi, seminar atau apapun namanya yang menginap di luar rumah dan harus berbagi kamar mandi dengan banyak orang. Seringkali saya bangun sangat pagi demi mendapatkan kamar mandi yang bersih. Kalau tidak, biasanya saya akan menemukan sampah berupa bungkus sachet sampo atau sabun, tisu dan rambut-rambut rontok di lantai kamar mandi yang basah. Hiiiiiyyyy…

Malam itu saya terpaksa harus mandi meski sudah larut. Sudah seharian tidak bersentuhan dengan air, kulit menjadi lengket dan tentu tidak nyaman jika langsung pergi tidur. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mandi di kamar mandi yang digunakan beramai-ramai oleh wisatawan mancanegara tersebut. Alangkah bahagianya saya ketika mendapati tidak adanya antrian di kamar mandi tersebut (ya iyalah, siapa coba yang mau mandi malam-malam?). Di dalam bangunan kamar mandi terdapat empat bilik. Salah satunya hanya berisi toilet. Meski demikian, toilet tersebut bukan satu-satunya yang tersedia di kompleks perkemahan tersebut. Masih ada toilet lain yang berada di bangunan yang terpisah. Sepertinya memang sengaja ditempatkan terpisah agar antrian tidak menumpuk. Karena urusan saya hanya mandi, saya pun masuk ke salah satu bilik setelah sebelumnya melepas sandal yang saya pakai dan meletakkannya di rak di depan pintu kamar mandi.

Di dalam kamar mandi yang relatif sempit tersebut ada sebuah kursi untuk menaruh pakaian bersih. Antara kursi dan ruang shower dipisahkan oleh tirai. Sekali lagi saya terkejut ketika mengetahui keadaan shower tersebut. Selain memiliki air panas, rupanya shower itu bekerja secara otomatis. Ia hanya akan menyala apabila sensornya merasakan panas tubuh kita. Begitu kita bergerak dan berdiri sejauh lebih dari 30 cm, shower akan mati secara otomatis. Wah, pintar juga caranya. Dengan begini air tidak akan membanjiri atau menyiprat ke segala arah. Bahkan tidak akan membasahi ruangan tempat kursi berada. Mandi larut malam yang saya pikir akan jadi mimpi buruk malah membuat saya betah berlama-lama di dalam kamar mandi. Saya pun langsung membuat rencana untuk keramas besok paginya berhubung rambut sudah lepek karena tidak dikeramas berhari-hari.

Selesai mandi, saya berjalan kembali ke tenda melewati dapur umum. Dapur berupa ruangan yang dilengkapi bak cuci piring dan bangku-bangku untuk makan dan menunggu tersebut rupanya memiliki hal yang menarik yang baru pertama kali saya temui. Di sisi kiri dinding dapur terdapat rak buku dua tingkat yang di dalamnya terletak buku-buku dari berbagai bahasa. Belakangan, saya baru mengetahui dari Ellen bahwa setiap wisatawan boleh meletakkan satu buku di situ dan mengambil yang lain dengan gratis. Wow, cara yang sangat menarik untuk bertukar budaya! Akan sangat beruntung jika kita bisa menguasai beberapa bahasa. Sayangnya, satu-satunya buku yang saya bawa masih sangat saya sayangi dan belum rela untuk ditukar hehehe.. ๐Ÿ™‚

Tantangan saya berikutnya adalah tidur. Mulanya saya bingung, bagaimana bisa orang tidak kehabisan nafas dengan tidur di tenda yang pintu pemisah antarruangnya diretsleting rapat. Saya berpikir untuk menyisakan lubang kecil di retsleting itu agar udara bisa masuk, namun dicegah oleh Chris karena katanya udara akan jadi dingin nantinya. Agak tidak percaya sih, tapi ya sudahlah ikut saja karena saya baru pertama kali berkemah. Di bawah langit yang masih sangat terang, saya merangkak masuk ke bilik tidur saya yang berupa matras beralaskan kain dan dilengkapi selimut tebal. Rupanya, matras tersebut terasa sangat dingin. Saya langsung menggulung diri di dalam selimut tebal dan berusaha tidur. Beruntung saya sudah kelelahan, sehingga tak butuh waktu lama untuk jatuh tertidur. ๐Ÿ™‚

Hari pertama berkemah memberi saya kesan yang baik. Ternyata berkemah itu cukup menyenangkan, terutama kalau fasilitasnya bersih. Buat saya, hal tersebut adalah yang terpenting. Saya jadi tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi di hari kedua. Sampai jumpa di cerita berikutnya! ๐Ÿ˜€

med kjรฆrlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang tempat-tempat berkemah yang saya lewati:

http://www.oysandcamping.no/

http://www.flakk-camping.no/?lang=en