Memasuki Gerbang Norwegia Utara

Sebelum masuk ke episode selanjutnya dari perjalanan darat saya di Skandinavia, saya mau cerita tentang behind the scene-nya dulu nih, Pembaca. Jadi, bagian ini adalah salah satu bagian yang saya rasa paling berat untuk ditulis. Bukan karena sulit atau terlalu membosankan, melainkan karena ada sepotong ingatan saya yang hilang berkaitan dengan bagian yang akan saya ceritakan ini. Biasanya, saya selalu rajin menulis detil-detil kecil perjalanan yang menarik dalam jurnal perjalanan saya, tetapi kali ini tidak. Pada tahap perjalanan ini, saya sedang malas. Selain karena mulai lelah berada di dalam mobil dengan posisi duduk yang sama selama berhari-hari, pemandangan di sekitar saya yang biasanya bergunung-gunung mulai tak terlihat. Sekedar info, saya penggemar berat lanskap gunung bercampur hutan hijau dan danau atau fjord biru. Saya tidak begitu suka pantai (apalagi yang bukan pantai tropis) dan tundra yang sepi pohon. Akibat kemalasan saya ini, saya jadi lebih banyak meremehkan saktinya punya jurnal perjalanan dan lebih memilih untuk mengandalkan memori visual saya yang biasanya tajam. Entah karena saya tidur terlalu lama atau karena memori tersebut tidak seistimewa bagian lain dari perjalanan ini, ia hilang begitu saja. Akan tetapi, kisah perjalanan tetap harus ditulis dan dilanjutkan, bukan? Oleh karena itu, saya pun berusaha mengumpulkan motivasi untuk menulis juga cerita ini pada akhirnya.

Oke, kita mulai lagi, ya? Ingatkah Pembaca tentang kompleks perkemahan saya yang berada dekat dengan pelabuhan feri? Setelah saya dijemput di Trondheim, kami tidak langsung bergerak ke utara, tetapi ke arah barat menuju pelabuhan feri di perkemahan tersebut. Entah apa alasannya, tetapi kami mengambil jalan memutar yang menyeberangi fjord dan melewati daratan di seberang sana yang katanya sih akan menyatu kembali di ujungnya.

Untuk menaiki feri, kami harus mengantri bersama mobil-mobil lainnya. Pelayaran kali itu terasa sangat singkat karena Trondheimfjord yang kami seberangi tidak begitu luas. Di bawah sinar mentari siang hari yang terik, kami tiba di seberang, di sebuah wilayah bernama Rørvik. Mobil kami memasuki rute 715 yang menyusuri tepi Trondheimfjord yang biru. Meski namanya fjord, ia tidak dipagari tebing tinggi seperti Hardangerfjord dan Geirangerfjord. Jika kita tidak mengetahui sejarah pembentukannya, fjord ini lebih tampak seperti teluk biasa yang jauh menjorok ke daratan.

Usut punya usut, alasan mengapa mobil kami memutar ke arah barat dan tidak langsung ke utara dari Trondheim adalah karena ayah Chris, Tor Vidar, ingin menunjukkan sebuah tempat yang sangat sering ia datangi. Tor Vidar mempunyai hobi berburu dan biasanya hal tersebut dilakukan bersama teman-temannya di Norwegia Utara. Jika ia pergi berburu, ia akan menginap di sebuah kabin yang disewakan di tepi fjord tersebut. Kabin tersebut hanya terdiri dari sebuah rumah milik pribadi dengan beberapa kamar yang disewakan, tetapi populer oleh turis-turis yang bepergian seorang diri.

Saat kami tiba di sana, kami bertemu dengan seorang turis perempuan asal Jerman berusia sekitar 40 tahun yang bersepeda dari Jerman ke Norwegia seorang diri. Whoa! Saya sampai kagum ketika ia menyebutkan rute perjalanannya selagi berbasa-basi dengan kami. Norwegia memang menjadi tujuan favorit turis-turis asal Jerman yang ingin mengikuti semangat zurück zur Natur atau kembali ke alam yang sudah didengungkan sejak zaman Romantik. Bahkan bahasa Jerman menjadi bahasa asing kedua setelah Inggris dalam dunia turisme di Norwegia. Saya jadi tergoda prospek kerja di sini nih, Pembaca hehehe 😛

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Trondheimfjord ke utara. Sebuah jembatan yang menyambung dua daratan yang terpisah oleh dua fjord akhirnya mengantarkan kami pada jalan utama yang seharusnya kami lewati apabila tidak memutar dari Trondheim. Saya tidak ingat banyak mengenai perjalanan tersebut karena saya banyak tertidur. Yang saya ingat hanyalah hamparan vegetasi yang sudah bercampur dengan tetumbuhan tundra yang didominasi warna kuning dan merah. Ada beberapa danau besar yang tidak saya tahu namanya yang juga sempat kami lewati di sepanjang jalan. Cuaca sedikit mendung hari itu dan jalanan yang kami lalui tampak sangat sepi. Lagi-lagi kami sempat berkendara cukup lama tanpa bertemu satu mobil pun.

Saya juga sempat melihat pemandangan yang menyedihkan (meskipun sebetulnya mungkin bukan apa-apa). Di beberapa hutan yang terhampar di kiri kanan jalan, saya menemukan adanya bagian-bagian yang gundul dan hanya ditumbuhi tunggul-tunggul pohon. Tebakan saya langsung mengarah pada penebangan hutan. Mungkin hutan tersebut memang boleh digunakan untuk industri atau sekedar bahan baku di rumah untuk kayu bakar dan sejenisnya, saya juga tidak tahu. Tetapi agak sedih memang melihat hutan di negara tersebut yang sangat hijau dan nyaris menutup seluruh area kecuali kota dan desa memiliki area yang gundul karena ditebang 😦 Kalau dari jendela mobil kelihatan sekali, lho, Pembaca.

Ketika saya terbangun, mobil sudah siap-siap parkir di depan sebuah supermarket. Tujuan kami adalah mencari makan di dalam gedung supermarket yang tampak seperti mal nanggung berlantai satu. Tentu saja tujuan kami itu tidak terpenuhi, karena memang sepengetahuan saya, restoran di dalam gedung supermarket itu merupakan hal yang tidak lazim di Norwegia. Beruntunglah ada seorang ibu-ibu penduduk setempat yang menunjukkan keberadaan sebuah restoran tidak jauh dari bangunan supermarket itu.

Bagian inilah yang hilang dari memori saya. Saya tidak ingat sama sekali apa nama restoran tersebut. Saya hanya yakin bahwa kota kecil tersebut bernama Grong dan terletak di provinsi Nord-Trondelag, provinsi Norwegia selatan yang paling utara. Restoran tersebut terletak tidak jauh dari sebuah kios bahan-bahan pokok. Di bagian luarnya terdapat semacam teras untuk area makan outdoor dengan meja-meja berpayung. Saya ingat langit mulai gerimis ketika saya memasuki restoran tersebut.

3674166955_2fb541fe34

Pusat kota Grong. Saya yakin betul restoran yang saya singgahi berada di daerah ini. Sumber: http://www.flickriver.com/

Saya sama sekali tidak mengetahui apa menu yang dijual di sana. Fokus saya hanya pada interior bagian dalam restoran tersebut. Kesan saya terhadap interiornya adalah rumahan. Meja-mejanya besar seperti meja makan keluarga dan ada banyak meja kosong di sana sini. Saya yang berjalan paling depan memilih sebuah meja di sudut ruangan, di bawah rak yang berisi pajangan-pajangan khas pedesaan Norwegia. Tamplak meja berwarna putih dengan alas makan berwarna hijau muda. Desain tirai dan tata meja betul-betul mengingatkan saya pada suasana rumah di pedesaan.

Di meja tersebut ada beberapa majalah dan brosur yang berkaitan dengan kota tersebut dan tempat wisata yang ada di sekitarnya. Dari salah satu brosur tersebut saya mengetahui bahwa wilayah itu terkenal dengan peternakan salmonnya. Ada sebuah tempat budidaya salmon yang berlokasi tidak jauh dari pusat kota. Akan tetapi, saya tidak menemukan adanya buku menu di antara brosur-brosur tersebut, sehingga saya tidak mengetahui makanan apa yang dijual di restoran tersebut.

6388509211_e001edf5e3

Patung di pusat kota Grong, menggambarkan wilayah tersebut sebagai penghasil salmon. Sumber: http://www.flickriver.com/

Pucuk dicinta, ulam tiba. Di saat saya sedang memimpikan hidangan hangat di hari hujan tersebut (dan karena berhari-hari saya sudah makan makanan dingin atau cepat dingin karena dimakan di alam terbuka), ibu Chris berjalan kembali ke meja dari arah dapur dan memberi tahu saya kabar terbaik yang bisa saya dapatkan di hari itu. Restoran tersebut adalah restoran all you can eat yang dengan membayar sejumlah biaya sudah bisa makan apa saja yang tersedia. Bukan hanya itu saja, menu yang tersedia semuanya fresh, homemade dan masih hangat. :”3

Dari delapan menu yang ada, saya mencoba enam macam menu. Di antaranya ada pasta, salmon, tumis sayuran sejenis capcay dan daging bersaus gravy. Piring saya sampai penuh oleh makanan-makanan yang kalau dimakan bersama-sama entah rasanya cocok atau tidak. Bukannya saya rakus, Pembaca, tetapi saya belum makan sejak pagi, plus kapan lagi ‘kan ada makanan homemade yang masih hangat? Setelah sukses mendapatkan semua makanan yang saya inginkan tersebut, saya kembali ke meja dan duduk di sebelah Chris yang memesan burger khas Meksiko dengan nachos yang akhirnya diberikan ke saya karena ia tidak begitu menyukainya.

Santapan tersebut betul-betul membuat saya kenyang. Seusai dari restoran yang saya lupa namanya itu, kami berjalan kaki sedikit menuju sebuah supermarket yang berada tepat di sebelahnya. Saatnya menyetok camilan dan minuman untuk perjalanan yang masih panjang. Saya membeli beberapa bungkus keripik yang berukuran besar dan tidak bohong. Maksudnya tidak bohong adalah bungkus-bungkus keripik tersebut besar karena keripiknya dan bukan karena setengahnya berisi angin. 😀

Berbekal perut kenyang, camilan yang banyak serta minum, kami melanjutkan perjalanan menuju utara. Kami menggunakan jalan raya E6 yang berkelok-kelok mengikuti sebuah sungai yang salah satu air terjunnya digunakan untuk pembangkit listrik. Jalan tersebut membawa kami pada sebuah kota kecil bernama Namsskogan yang terletak di sebuah daratan mirip pulau di sungai tersebut. Kota yang terletak di Nord Trondelag ini menjadi kota terakhir yang kami lalui sebelum memasuki wilayah Norwegia Utara.

Tepat di perbatasan antara Nord-Trondelag dan provinsi Nordland di sebelah utaranya kami berhenti sejenak. Meski ada semacam area tempat parkir di sebelah kiri jalan, kami memilih untuk berhenti di tengah jalan. Alasannya karena sama sekali tidak ada mobil yang lewat selain mobil kami! Jalanan tersebut betul-betul kosong. Di depan kami berdiri sebuah gapura yang cantik yang bernama Nordlandsporten. Desainnya yang berlekuk-lekuk dengan warna hijau, putih dan kemerahan, langsung mengingatkan saya pada aurora yang menjadi atraksi utama wisata di Norwegia Utara. Di bawah gapura tersebut juga terpampang tulisan “Nord Norge” berwarna biru yang menandakan ketibaan saya di wilayah itu. Akan tetapi, karena hari sedikit hujan dan kami berhenti di tengah jalan, saya hanya membuka jendela dan mengabadikan pemandangan tersebut dari dalam mobil.

13697237_10210506222118295_4656081447858195550_n

Nordlandsporten di hari hujan.

13729172_10210506222158296_1059795228298464525_n

Tulisan di gerbang yang berarti Norwegia Utara.

Melewati gapura tersebut berarti menyeberang dari Nord-Trondelag di Norwegia bagian selatan menuju Nordland di Norwegia Utara. Kami semakin dekat dengan ujung perjalanan kami. Kota pertama yang kami lalui bernama Majavatn. Kota ini terletak di tepi sebuah danau besar bernama sama. Danau besar itu memiliki anak danau yang berukuran lebih kecil bernama Lille Majavatnet. Di sebelah timurnya tampak menjulang pegunungan Børgefjell yang juga merupakan taman nasional. Memasuki wilayah Norwegia Utara juga berarti memasuki wilayah suku Sami. Suku asli daerah Skandinavia dan Kutub yang dahulu sempat terdiskriminasi ini banyak mendiami wilayah tersebut. Majavatn adalah salah satu daerah yang mereka gunakan untuk menggembalakan rusa kutub.

Jalur selanjutnya membentang sejajar dengan rel kereta api jurusan Trondheim-Bodø yang juga melintasi stasiun Majavatn. Di kiri kanan saya menjulang pegunungan-pegunungan yang meski tidak terlalu tinggi tetap memiliki puncak-puncak berselimutkan salju karena dinginnya udara. Di antara jalan raya dan pegunungan tersebut terbentang padang tundra dengan semak dan lumut berwarna kuning kemerahan yang disela-selanya terdapat kolam-kolam atau sungai kecil yang mengalir. Beberapa kali jalan yang kami lalui bersilangan dengan rel kereta api, tetapi tidak pernah betul-betul bertemu di permukaan yang sama. Kadang-kadang, jalanan yang kami lalui memasuki terowongan selagi rel kereta membentang di atasnya. Kadang-kadang terjadi hal sebaliknya, rel kereta yang melewati terowongan yang di atasnya adalah jalan untuk kendaraan. Jujur saja, Pembaca, selama di Norwegia saya belum pernah bertemu palang pintu kereta api, apalagi perlintasan yang tidak berpalang. Kereta yang lewat juga sangat jarang, meski saya mengetahui keberadaannya karena dua tahun sebelumnya saya pernah menaikinya.

32494901

Danau Majavatnet di Majavatn. Sumber: http://www.geodruid.com/

Dari Majavatn kami melewati sebuah kota yang ukurannya lebih besar lagi dan lagi-lagi terletak di antara perairan, tetapi kali ini perairannya adalah sebuah sungai. Kota ini namanya Trofors dan juga memiliki sebuah stasiun yang dilalui jika kita menggunakan kereta dari Trondheim ke arah utara. Kami tidak berhenti di Trofors dan terus melanjutkan perjalanan. Pikiran untuk mencari tempat bermalam mulai muncul di kepala kami karena di balik matahari yang masih bersinar terdapat jam yang sudah menunjuk pukul 19:00. Saya tidak menolak ide tersebut, karena sebetulnya punggung saya sudah lelah duduk di mobil sepanjang hari.

Beberapa saat setelah melewati Trofors, kami tiba di sebuah kota yang lebih besar lagi dan terletak tepat di mulut sebuah fjord bernama Vefsnfjorden (jangan tanya bacanya gimana ya, Pembaca 🙂 ). Kota bernama Mosjøen ini memiliki salah satu kompleks perkemahan terbaik di Norwegia (menurut saya) yaitu Pluscamp. Pokoknya, kalau Pembaca berkesempatan mengunjungi Norwegia dan harus menginap dalam perjalanan, carilah kompleks ini jika ada, karena Pembaca sekalian tidak akan menyesal. Aduh, kok saya jadi endorse gratisan begini ya? Seandainya bisa dibayar pakai Kroner.

031_hr

Halaman depan area berkemah Pluscamp di Mosjøen. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

Pluscamp Mosjøen berlokasi sangat strategis. Kami tidak perlu masuk hutan naik gunung atau masuk-masuk jalanan kota untuk mencapainya. Cukup berbelok kiri sedikit dari jalur E6 yang kami lalui, kami sudah tiba di kompleks perkemahan dengan deretan kabin berwarna merah yang sangat khas Norwegia. Dari halaman depannya saja, saya bisa mengetahui ada fasilitas apa saja di sana. Selain kafe dan pizzeria, perkemahan ini juga memiliki arena bowling, mini golf, kereta api mini dan berbagai mainan outdoor untuk keluarga. Jarak kompleks ini juga tidak jauh dari kolam renang kota. Bukan hanya itu saja, meskipun namanya perkemahan, tempat ini tidak hanya menawarkan kemah saja. Segala bentuk tempat bermalam ada mulai dari kemah, mobil trailer, kabin, bungalow, hostel bahkan hotel. Nah, puas memilih ‘kan?

Karena hanya transit dan untuk menghemat biaya, kami menyewa sebuah bungalow dengan satu kamar saja. Bungalow ini unik, karena terletak dalam satu bangunan rumah besar yang terbagi empat tanpa pintu penghubung. Dalam satu bagian sudah terdapat garasi, satu kamar tidur, kamar mandi luas dengan shower, meja makan, kitchen set, sofa yang bisa dibuka menjadi tempat tidur, dan teras belakang dengan tempat untuk duduk-duduk. Melihat ukurannya yang dua kali rumah saya bikin saya tidak berkeberatan untuk tinggal di situ saja. Kamar tidur jatuh kepada kedua orang tua sedangkan saya dan Chris akan bersempit ria di sofa.

027_hr-4

Bungalow yang kita sewa. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

001_hr

Sofa tempat saya tidur dan dapur. Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

005_hr

Meja makan. Luas ‘kan bungalownya? Sumber: http:www.mosjoenhotell.no/

Jam menunjukkan pukul 20:00 yang berarti saya seharusnya sudah lapar. Akan tetapi, rasa lapar saya dikalahkan oleh keinginan bermain bowling. Gara-gara mencoba main bowling di acara perpisahan salah satu kolega di kantor saya yang sekaligus jadi yang pertama kalinya bagi saya, saya jadi ketagihan bermain olahraga yang satu ini. Tentu saja saat itu saya menjadi yang paling bontot, tetapi hari ini saya ingin mencoba untuk tidak menjadi yang terbontot.

Setelah beristirahat sejenak, kami segera melangkah keluar dari bungalow dan menuju bangunan utama tempat kafe, pizzeria dan arena bowling berada. Tempat tersebut akan tutup pukul 21:00, sehingga permainan kami mungkin akan berlangsung satu ronde saja. Sebelum menuju arena bowling, kami terlebih dahulu melintasi restoran yang cat dan interiornya didominasi warna-warna cerah penggugah selera. Restoran itu sangat amat ramai. Bukan hanya oleh manusia tetapi juga oleh suara-suara mereka. Saya langsung mengenali bahasa yang mereka bicarakan – bahasa Jerman. Semua tamu restoran itu turis-turis Jerman, dan mereka sibuk menatap layar televisi besar yang ternyata menayangkan kompetisi sepakbola se-Eropa tempat kesebelasan Jerman tengah berlaga. Ya ampun, saya jadi ingin ikut nonton dan teriak. Maklum, saya sudah menjadi penggemar berat kesebelasan Jerman sejak tahun 2006 😀 Kalau nggak ada timnas Jerman, saya nggak bakal nih sampai di Norwegia. Tapi cerita yang itu lain kali aja ya, Pembaca 🙂

Arena bowling terletak di sisi belakang bangunan restoran. Hanya terdapat enam lini saja di ruangan tersebut. Bola-bola aneka warna tersusun rapi di tempatnya. Pada saat tiba, saya tidak tahu sama sekali bahwa perbedaan warna tersebut menandai perbedaan berat. Bahkan beratnya berapa saja tercantum dalam sebuah plakat informasi di dekat susunan bola tersebut. Seperti biasa kami harus menyebutkan nama untuk dicantumkan di papan skor serta ukuran sepatu untuk mendapatkan sepatu khusus yang mereka pinjamkan.

7_hr

Arena bowling di Mosjøen Camping. Sumber: http://www.mosjoenhotell.no

13709807_10210506224038343_2886542650695744732_n

Rak bola dan area duduk.

Urutan bermainnya adalah ibu dan ayah Chris, kemudian Chris dan terakhir saya. Pada mulanya, saya memimpin klasemen, sedangkan ayah Chris menjadi yang paling bontot. Tapi jangan senang dulu, karena ini yang namanya keberuntungan pemula. Menurut papan skor yang juga bisa mengukur keras dan cepatnya lemparan kita, lemparan saya sangat pelan dan sesungguhnya tidak memadai. Jadi, skor-skor tinggi yang saya peroleh di awal permainan sebetulnya hanya karena kebetulan saja lemparan saya sedang lurus.

13769629_10210506222718310_8139659809903286610_n

Skor awal. Abaikan typo di nama saya 😛

Memasuki pertengahan ronde, tangan saya mulai pegal. Tadinya saya tidak sadar hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan saya akan berat bola. Saya hanya mengambil dan mengukur bola berdasarkan informasi dari ketiga pemain lain yang badan-badannya sebesar raksasa dibanding saya 😦 Tentu saja ringan bagi mereka masih tergolong berat bagi saya. Saya punya bola favorit yang warnanya oranye dan pink. Bola tersebutlah yang dianjurkan oleh mereka untuk saya pakai karena katanya paling ringan. Akan tetapi, skor yang saya dapatkan justru semakin rendah, karena lemparan saya sudah jauh dari lurus. Ibu Chris yang saat itu memimpin di papan skor menyarankan saya untuk memperkuat lemparannya.

13700111_10210506225838388_7839711189934625619_n

Bola oranye dan pink jadi favorit saya.

Ketika tiba giliran saya melempar, saya pun segera mengambil ancang-ancang. Tanpa mau sok-sok berpose ala atlet bowling profesional, saya cengkeram bola kuat-kuat dan siap melempar. Akan tetapi, dasar saya yang memang terbelakang di olahraga, bola itu malah jatuh ke lantai sebelum saya berhasil melemparnya. Saya pun langsung jadi bahan tertawaan oleh keluarga Chris. :’D Saat itu saya hanya bersyukur bolanya tidak menimpa kaki saya.

13728927_10210506225878389_5147341954524943384_n

Chris dan Tor Vidar. Menunggu giliran sambil nge-bir 😀

Melewati pertengahan ronde, saya sudah cukup pasrah mengetahui bahwa apa pun yang saya lakukan, saya akan berakhir di urutan paling belakang. Sementara itu, ayah Chris yang tadinya paling bontot berhasil mengejar dan menduduki peringkat dua klasemen. Ibunya semakin tidak tertandingi. Jujur saja, saya tidak pernah melihatnya sebagai sosok atlet sebelumnya. Saya hanya mengenalnya sebagai ibu yang pandai memasak dan membuat prakarya, tetapi juga aktif di kegiatan-kegiatan politik. Ternyata beliau diam-diam berbakat juga jadi atlet bowling, hahaha 😀 Klasemen final menunjukkan ibu Chris di urutan pertama, ayahnya di urutan kedua, Chris ketiga dan saya menjadi buntut. Persis seperti urutan nama kami dalam klasemen. Tidak apa-apa ya, Pembaca, yang penting senang.

Anehnya, setelah bermain bowling, saya hanya merasa lapar dan tidak lelah. Setelah kembali ke bungalow dan makan smørbrød (lagi), saya bergabung dengan Chris di sofa yang sudah sibuk mengeluarkan pion-pion dari sebuah kotak berwarna biru. Kotak itu kami beli di toko suvenir dekat Nidarosdomen. Isinya adalah permainan tradisional bangsa Viking yang dikenal dengan Hnefatafl. Permainan ini bisa dibilang caturnya bangsa Viking. Di dalam kotak biru itu terdapat selembar kain bergambar persegi berkotak-kotak yang menjadi arena bermain dan pion-pion dalam dua warna berbentuk prajurit Viking. Salah satu pion berukuran lebih besar dan menyimbolkan seorang raja atau jarl. Nah, ini dia permainan yang cocok untuk saya!

hnefatafl1_70

Hnefatafl. Sumber: http://www.norseamerica.com

Bagaimana sih cara bermain Hnefatafl ini? Cara bermainnya sangat mudah, Pembaca. Salah satu pemain akan menjadi suku yang bertahan. Tugasnya adalah melindungi dan mengantarkan raja dari kotak di tengah menuju salah satu dari empat bentengnya, yaitu kotak yang berada di keempat sudut arena bermain. Raja akan dilindungi oleh pion-pion pasukannya sejumlah 13 orang. Sementara itu, pemain lainnya akan bermain menjadi suku penyerang. Mereka mendapatkan 24 pion yang disusun berbaris di keempat sisi arena bermain. Tugas pion adalah melucuti satu persatu pasukan raja dan menangkap raja sebelum ia berhasil masuk ke dalam benteng. Semua pion tersebut diizinkan bergerak ke arah vertikal dan horisontal tetapi tidak boleh diagonal. Yang diperbolehkan melangkah diagonal hanya raja. Untuk melucuti pasukan lawan, pemain harus memerangkap pion sasaran di antara dua pion miliknya. Kebayang ‘kan, Pembaca?

hnefatafl-viking-white-pieces-king

Pion-pion Hnefatafl berbentuk mini Viking. Sumber: http://www.mastersofgames.com/

Saat itu saya bermain sebagai penyerang, sedangkan Chris menjadi pemain bertahan. Saya membutuhkan waktu kira-kira 20-25 menit untuk memenangkan ronde itu. Saya berhasil menduduki benteng dan menawan raja. Lumayanlah, hadiah hiburan setelah jadi si bontot dalam permainan bowling. Kemenangan tersebut bukan keberuntungan pemula lho, Pembaca. Rahasianya terletak pada karakter saya yang overthinker, yang kebetulan berkebalikan dengan Chris yang action dulu baru mikir 😀 Balik lagi ke permainannya, Hnefatafl ini memang permainan yang cocok untuk para overthinkers atau mereka yang mau olahraga otak.

Dengan berakhirnya permainan Hnefatafl yang melelahkan otak itu, berakhir pula hari kelima perjalanan darat kami. Kedua orang tua Chris sudah pergi tidur. Saatnya kami berdua pergi tidur juga. Rencananya, besok pagi kami akan langsung melanjutkan perjalanan menuju tujuan terakhir bagi kedua orang tua Chris tetapi tidak bagi kami para penggemar sejarah zaman Viking. Ada apa di hari keenam? Ikuti terus perjalanan si tukang mimpi di blog ini ya, Pembaca! 🙂

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Pluscamp di Mosjøen:

http://mosjoenhotell.no/camping/en/

Tentang Norwegia Utara:

http://www.nordnorge.com/en

Antibosan di Kala Berkemah: Main di Pantai, Yatzy dan Obrolan Antarbudaya

Saya terbangun pada pagi hari kedua di perkemahan karena merasa tempat tidur saya semakin lama semakin tidak nyaman. Usut punya usut, setelah merangkak keluar dari ruang tidur, saya baru tahu bahwa matras saya kempes. Sepertinya karena memang sudah tua dan mungkin udaranya keluar pelan-pelan selama saya tertidur. Dimulailah pekerjaan memompa matras yang melelahkan tersebut untuk kedua kalinya.

Selesai dengan matras dan melipat selimut, saya dan yang lainnya duduk mengitari meja makan untuk menyantap sarapan yang tak lain dan tak bukan adalah smørbrød. Ellen sudah mengambil beraneka macam topping dari kotak pendingin di mobil dan menyebarnya di atas meja. Berbagai pilihan topping dari asin, manis sampai tidak berasa tersedia di sana. Saya sih masih tetap setia dengan topping favorit saya. 🙂

Tidak ada waktu banyak untuk berleha-leha di hari itu, karena kami semua sudah punya kegiatan sepanjang siang hingga sore hari. Orang tua Chris akan pergi memancing di laut sedangkan kami berdua akan mengunjungi sebuah kota kenangan. Aduh, istilahnya ya, Pembaca hehehe 😛 Akhirnya, saya memutuskan untuk mandi dan keramas sambil menunggu baterei ponsel saya terisi penuh kembali. Percaya tidak percaya, kompleks perkemahan ini canggih juga. Setiap tenda mendapatkan satu rol berisi empat stop kontak untuk listrik yang langsung tersambung pada pancang-pancang listrik yang tersebar di area tersebut. Tidak hanya itu, kompleks perkemahan Flakk Camping ini juga memiliki akses wifi gratis bagi para tamu-tamunya. Tentu saja kecepatannya bukan kecepatan super yang cocok untuk streaming film di Youtube, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan browsing standar. Akses wifi tercepat dapat diperoleh di dekat bangunan resepsionis yang menyatu dengan kamar mandi dan dapur.

img_5438-730x350

Bangunan resepsionis yang tersambung dengan kamar mandi dan dapur.

Saat saya tiba di kamar mandi, saya tidak lagi mendapati keadaan sepi seperti malam sebelumnya. Kali ini ada beberapa pekemah lain yang sudah di sana. Saya harus mengantri satu giliran untuk dapat menggunakan salah satu bilik kamar mandi di situ. Selain itu, saya tidak lagi bisa berlama-lama menikmati air panas gratis karena ketika saya di dalam, saya mendengar suara kasak-kusuk beberapa orang di luar, yang sepertinya juga mengantri mandi di belakang saya. Salah juga memutuskan untuk keramas sekarang. Untungnya saya punya motivasi lain, yaitu cepat-cepat berangkat menuju kota kenangan agar sempat melihat banyak hal di sana.

Kami diantar oleh Tor Vidar dengan mobil menuju kota tersebut. Kami berangkat pada pukul 11.00 pagi dan menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Sementara itu, Ellen dengan baik hati menawarkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk karena kami belum sempat mencuci sama sekali di perjalanan tersebut. Mungkin kalau di negara kita, yang begini sudah dibilang tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Saya enak-enak bermain sedangkan ibunya yang sudah membantu saya agar bisa mewujudkan road trip impian ini sibuk mencuci pakaian kotor sendiri. Sudah begitu, cucian di perkemahan tersebut tidak boleh ditinggal-tinggal karena kemungkinan pencurian atau hilang selalu ada. Sebetulnya di Norwegia sendiri tidak banyak peristiwa pencurian, tetapi kompleks perkemahan ini ‘kan untuk wisatawan mancanegara.

Saya menghabiskan waktu di kota kenangan hingga pukul 18.00. Sesungguhnya petualangan saya belum berakhir ketika saya dijemput kembali setelah orang tua Chris selesai memancing. Untungnya, mereka bersedia mengantar kami kembali ke kota tersebut esok pagi. Cerita tentang petualangan di kota kenangan ini, berikut nama kotanya akan saya bagikan di bagian selanjutnya ya, Pembaca 🙂 Sepanjang jalan pulang kami saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tentang impian yang saya miliki di kota yang baru saja saya kunjungi dan tentang ketidakberuntungan orang tua pacar saya dalam mendapatkan banyak ikan. Sebelum kembali ke perkemahan, kami pun sempat mampir di sebuah minimarket (menurut saya, karena bagi orang di pedesaan tersebut toko itu adalah supermarket) untuk membeli bahan makan malam.

Tiba kembali di kemah, saya mendapati tetangga-tetangga kami telah berganti. Kini di seberang kami berdiri sebuah lavvu, yaitu tenda kerucut khas suku Sami, suku asli yang mendiami wilayah utara Skandinavia. Saya mengira penghuninya pun orang Sami, ternyata bukan. Tenda besar itu milik sebuah keluarga Filipina yang salah satu anggotanya menikah dengan orang Norwegia. Filipina-Norwegia adalah pasangan Skandinasia paling mainstream di negara tersebut. Seperti orang-orang Indonesia, keluarga yang didominasi perempuan tersebut bersuara sangat lantang dibandingkan mayoritas wisatawan Eropa yang ada di sana. Mereka sibuk main kartu, memasak, dan melakukan aktivitas lainnya dengan disertai mengobrol dan bercanda. Suara cekikikan berulang kali terdengar. Suasana yang tadinya tenang seperti di hutan tiba-tiba berubah seperti suasana bus sekolah yang dipenuhi murid-murid yang hendak pergi study tour. 😥

Meski cukup berisik, sepertinya aktivitas tersebut legal karena tidak ada yang menegur. Saya pun memutuskan untuk menghindari keramaian dengan pergi mengeksplor berbagai sudut perkemahan. Lagi-lagi saya dan Chris meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk memasak makan malam. Tujuan utama saya sebetulnya adalah pantai yang terletak di daerah perkemahan tersebut. Tentu saja saya tidak berharap banyak, karena saya tahu bahwa pantai-pantai di sini tidak akan seindah di kampung halaman saya. Satu hal yang saya inginkan adalah memperoleh cinderamata dari alam berupa bebatuan unik atau kulit kerang. Saya memang hobi mengumpulkan benda-benda dari alam ketika sedang bepergian. Selain batu dan kulit kerang, saya mengoleksi daun kering, bunga liar dan bulu burung yang jatuh di tanah.

Ternyata, akses menuju pantai tidak mudah untuk ditemukan. Mula-mula saya berusaha memasuki pantai dari sisi kiri yang dekat dengan dermaga feri. Daerah tersebut dipenuhi oleh karavan wisatawan dan para pekemah yang tengah berjemur. Tidak ingin mengganggu, saya pun berjalan melewati jalan setapak dan mencari daerah yang sepi oleh pekemah. Bagian tengah pantai tampak sepi, tetapi begitu tiba di sana, saya mendapati kumpulan semak-semak berupa rerumputan tinggi yang tampak tajam. Karena saya hanya mengenakan sandal jepit, saya tidak berani menerobos semak-semak tersebut. Di situ pula saya menyadari hal yang lucu. Rupanya, identiknya pantai dan sandal jepit itu hanya ditemukan di pantai-pantai tropis atau Mediterania. Saya mengamati anak-anak wisatawan yang bermain di sisi kiri pantai rata-rata mengenakan sepatu bot karet atau sepatu lain yang tertutup. Wah, memang ya, beda alam beda pakaian hahaa 😀

img_5309-730x350

Pantai dekat Flakk Camping. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

275-640x306

Dermaga dekat penyeberangan feri. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

img_6765-730x350

Kadang-kadang dari pantai juga tampak kapal-kapal yang melintas. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

Setelah kembali ke jalan setapak dan menyusuri deretan kabin, saya menemukan akses mudah menuju pantai, yang ternyata dipagari kawat berduri dan dipasangi tulisan yang kira-kira berarti “wilayah privat”. Lho, kok wilayah privat? Bukankah di Norwegia ada hak mengakses alam bagi semua orang? Saya pun belajar bahwa semua kebebasan ada batasnya. Rupanya, allemansratten yang terkenal itu tidak mutlak berlaku di semua wilayah. Ada beberapa wilayah yang sangat dekat dengan alam yang masih termasuk wilayah privat. Umumnya wilayah tersebut adalah lahan pertanian dan peternakan.

Kecewa karena tidak menemukan akses ke pantai, saya hampir menyerah dan bermaksud kembali ke tenda. Akan tetapi, rasa penasaran dan semangat menjelajah saya terus membujuk saya untuk pergi ke pantai. Akhirnya setelah intip sana longok sini, saya dan Chris pun berhasil mencapai pantai dengan menemukan sebuah perahu yang terparkir tak jauh dari salah satu kabin. Perahu tersebut seakan menjadi penunjuk jalan bagi kami untuk menuju pantai yang nyaris tidak berpasir dan dipenuhi bebatuan. Laut yang berada di dekatnya pun tidak tampak indah karena dipenuhi ganggang hijau dan rumput laut yang membuat airnya pun berubah menjadi hijau seperti beracun. Pokoknya jelek deh kalau dibandingkan dengan pantai di negara tropis.

13707655_10210506183117320_4820452775019664205_n

Sisi indah pantai yang berhasil saya abadikan.

13754412_10210506182877314_6049990346547174463_n

Di sebelah kiri adalah pelabuhan feri.

Saya pun langsung berfokus pada pencarian bebatuan dan kerang unik. Di dekat pagar yang membatasi pantai dengan wilayah privat tadi, terdapat hamparan bebatuan putih yang dipenuhi dengan kulit kerang yang tersapu ombak hingga ke pantai. Saya melompati bebatuan, mencelupkan kaki di air laut dan melewati onggokan-onggokan rumput laut kering yang terbawa ombak hingga tiba ke hamparan bebatuan tersebut. Selagi saya sibuk mencari kerang, Chris mencari bebatuan unik di dekat laut. Tiba-tiba ia memanggil saya untuk mengingatkan agar saya berhati-hati, karena ternyata ia menemukan banyak paku dan besi-besi rongsokan yang sudah berkarat teronggok di salah satu bagian pantai. Rongsokan berkarat tersebut mengubah warna bebatuan putih menjadi coklat kemerah-merahan. Tampaknya rongsokan besi tersebut berasal dari rongsokan perahu atau kapal yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Agak kecewa melihat ketidaksempurnaan keindahan alam di negeri impian saya 😦

13718608_10210506184757361_1845469634209788576_n

Warna bebatuan yang kemerahan terkena karat dari rongsokan besi.

13690808_10210506184797362_7051292684426885602_n

Pantai tiga warna: merah di kanan bawah, hijau abu-abu di kiri bawah dan putih di bagian atas.

Meski keindahannya tak sempurna dan jauh tertinggal dibandingkan pantai Indonesia, kami menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai tersebut hingga matahari menjelang terbenam. Kami berhasil mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan unik sebanyak yang mampu kami bawa dengan tangan kosong, karena kami lupa membawa wadah atau kantong plastik. Dengan perut yang mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan menyantap makan malam.

Ketika kami tiba, makan malam sudah terhidang di atas meja lipat plastik yang kami bawa. Hari itu menunya adalah nasi dengan lauk berupa campuran daging sapi, jamur dan paprika bersaus coklat kental yang entah apa namanya. Saya suka menyebutnya nasi kari Norwegia, meskipun menurut pakar masakan pasti namanya lain lagi. Saya juga harus menyebutkan, bahwa nasi di sini lebih pulen dibandingkan nasi di beberapa wilayah di Indonesia (kecuali di rumah saya tentunya, karena saya sangat suka nasi pulen). Mengapa bisa demikian? Rahasianya adalah karena mereka tidak kenal magic jar atau magic com dan alat-alat memasak nasi lainnya. Beras di Norwegia tidak dijual dalam karung-karung seperti di Indonesia, tetapi di dalam kotak-kotak semacam sereal. Di dalam kotak tersebut, beras sudah ditakar per porsi di dalam plastik-plastik yang aman jika terkena panas. Yang harus kita lakukan tinggal memasukkan plastik itu ke dalam air panas dan merebusnya selama kira-kira 10-15 menit sampai nasi tanak. Sejujurnya saya lebih suka cara ini karena kepraktisannya. Tidak perlu lagi mencuci beras atau membersihkan magic jar. Kita pun bisa sesekali memeriksa tingkat kepulenan nasi tanpa harus buka tutup magic jar yang sedang memasak. Tidak ada tuh istilah nasi kurang air, setengah jadi dan sebagainya. Hehehe 😛

Kami semua menyantap makan malam tersebut dengan lahap, bahkan ada yang menambah. Selesai makan dan membereskan piring kotor, kami tak juga beranjak dari meja makan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam kedua di tenda tersebut dengan bermain Yatzy. Permainan ini sebetulnya versi Skandinavianya Yahtzee, hanya berbeda sedikit pada aturannya. Sejak mencoba bermain pada malam tahun baru 2016, saya agak ketagihan main ini. Cara bermainnya adalah dengan mengocok enam buah dadu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan permintaan dalam daftar dan jumlahnya sebesar mungkin. Misalnya, dua buah angka yang sama dan tiga buah angka yang sama, maka saya harus memperoleh misalnya 3 x angka 6 dan 2 x angka 5. Yang menang adalah yang mengumpulkan angka tertinggi jika seluruh hasil dijumlah. Permainan ini akan jadi seru kalau hokinya besar, karena untuk menang memang sangat mengandalkan hoki. Akhirnya segala cara yang nggak masuk akal pun dicoba, misalnya meniup-niup dadu sebelum dilempar. Ya kali bakal ada efeknya 😀

Ketika saya bermain di malam tahun baru, saya ketiban keberuntungan pemula. Baru mencoba main pertama kali, saya langsung menang. Lain dengan permainan di kemah. Tiba-tiba keberuntungan saya hilang seperti tertiup angin. Dua sampai tiga ronde bermain, nama saya hanya nangkring di posisi dua atau tiga. Sepertinya saya harus bersyukur dengan tidak menempati posisi bontot. Sebaliknya, Chris yang berada di urutan terakhir di malam tahun baru justru menang atau berada di atas saya. Begitulah, Pembaca, serunya bermain Yatzy yang hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Selain itu, permainan ini juga merupakan antibosan yang ampuh ketika berkemah atau melakukan perjalanan panjang. Sayangnya, ia tidak begitu populer di Indonesia.

Karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, Tor Vidar yang akan menyetir pun pamit tidur setelah permainan selesai. Sementara itu, saya, Chris dan Ellen duduk-duduk di sekitar meja makan dan mengobrol. Saya pun memanfaatkan waktu itu sambil mengerjakan salah satu hobi saya, yaitu mewarnai. Sekedar info, saya salah satu penggemar berat adult coloring book. 😛 Sambil menggerakkan spidol di atas gambar yang saya warnai, saya bertanya banyak hal, mula-mula dengan Chris. Kami mendiskusikan tentang perbedaan budaya – hal yang sangat saya sukai.

Saya bertanya tentang hal yang selama dua hari ini telah saya dan dia lakukan – sibuk bermain selagi orang tuanya mengurus segalanya. Kalau di Indonesia, hal tersebut sudah pasti dianggap kurang sopan, apalagi jika pihak orang tua tidak mengungkapkan izinnya atau justru menyuruh anaknya untuk pergi bermain. Mendengar pembicaraan kami, Ellen pun ikut menimbrung. Ia menjelaskan bahwa memang demikian hubungan anak dan orang tua di negaranya. Secara fisik terkesan sama sekali tidak dekat. Jujur saja, saya cuma pernah lihat Chris dan orang tuanya berpelukan ketika ia hendak pergi jauh, misalnya ke tempat saya. Sedangkan saya sampai sekarang masih suka gelendotan ke ibu saya. 😀 Selain itu, orang tua dan anak kedudukannya relatif setara, terutama ketika sang anak sudah dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, di mana kedudukan orang tua dan anak ya atas bawah, bahkan kadang-kadang sampai anaknya menikah (apalagi kalau anaknya perempuan).

Mendengar cerita saya, Ellen balik bertanya apakah orang tua di Indonesia sangat ketat dalam mendidik anak. Saya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan Skandinavia, tentu terkesan sangat ketat, tetapi kami juga sangat dekat secara fisik dan emosional. Chris bilang, di Norwegia, anak-anak justru tidak sabar untuk lepas dari orang tuanya. Semakin mereka dewasa, mereka akan semakin berusaha menjauh. Fenomena ini juga ada di Indonesia, tetapi tentu kita tidak bisa sebebas itu. Ada hubungan timbal balik yang sangat berbeda antara kedua negara tersebut.

Di Indonesia, ketika orang tua memutuskan untuk memiliki anak, sebagian besar masih banyak berpikir bahwa mereka akan melakukan pengorbanan besar demi pertumbuhan anaknya. Tetapi pengorbanan besar tersebut seringkali bukan tanpa pamrih. Ada beberapa orang tua yang saya kenal yang kemudian berekspektasi bahwa anaknya akan berbalik membantunya ketika sudah dewasa. Membantu di sini bukan secara fisik, tetapi materi. Misalnya dengan berprofesi yang menghasilkan banyak uang atau bahkan (yang lebih parah), meneruskan cita-cita orang tuanya yang tidak kesampaian. Menurut analisis sederhana dan amatiran saya, penyebabnya adalah kurang baiknya kondisi kesejahteraan dan perekonomian negara. Wah, jauh sekali ya! Mengapa bisa demikian?

Saya bandingkan keadaaan di Indonesia dengan keadaan di Norwegia berdasarkan penjelasan Chris dan ibunya. Di Norwegia, sebuah negara yang ekonominya sudah sejahtera, orang tua tidak terlalu pusing memikirkan pengorbanan besar berupa materi yang harus mereka keluarkan demi membesarkan anak. Ketika anak lahir, mereka sudah memperoleh tunjangan dari pemerintah, kalau tidak salah sampai anak tersebut berusia 18 tahun. Selain itu, biaya pendidikan yang biasanya menelan paling banyak porsi dari bujet hidup sudah gratis, kecuali universitas. Ditambah lagi, ketika orang tua sudah pensiun, mereka mendapat uang pensiun yang jumlahnya tidak kecil dari pemerintah. Nah, kebayang ‘kan, dari situ saja bebannya sudah berkurang banyak. Begitulah kalau uang rakyat tidak dikorupsi. Padahal dua negara di atas sama-sama penghasil minyak. 😉 Intinya, orang tua dan anak menjadi tidak punya tanggung jawab bantuan materi secara timbal balik seperti di Indonesia.

Memikirkan hal tersebut, saya pun jadi penasaran. Di Indonesia, orang tua banyak yang bekerja keras membanting tulang agar anaknya dapat kuliah setinggi-tingginya, sehingga ketika anak gagal memperoleh pekerjaan yang sebanding dengan biaya kuliahnya, orang tua pun jadi kecewa. Bagaimana keadaannya di negeri matahari tengah malam ini? Ternyata, hal tersebut sangat jarang terjadi, Pembaca. Menurut Ellen, ada beberapa orang tua yang melakukannya dan tentu hal tersebut – menabung dari hasil kerja demi kuliah anaknya – adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, sebagian besar orang tua menganggap kuliah adalah pilihan anaknya dan tidak wajib, sehingga jika mereka ingin berkuliah, merekalah yang harus mencari uangnya sendiri. Toh sebetulnya biaya kuliah tidak terlalu mahal dan ada program pinjaman pemerintah. Saya pernah cek biaya kuliah sebuah jurusan sastra di Universitas Bergen hanya sebesar Rp 800.000,- kalau dikurs ke Rupiah, sedangkan saya ketika di UI dulu satu semester bisa 3 juta! Alhasil, anak-anak yang ingin kuliah banyak yang membiayai sendiri kuliahnya, misalnya dengan bekerja part time. Wah, berbeda sekali ya 🙂

Pada akhirnya, kedua budaya yang berbeda tersebut tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, ada keyakinan populer di masyarakat bahwa sebetulnya yang dibutuhkan manusia adalah relasi dan komunikasi dengan manusia lainnya. Terlalu individualis tentu saja tidak baik. Di sisi lain, manusia memang pada dasarnya terlahir seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Ada baiknya belajar menjadi mandiri sepenuhnya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita terpaksa berdiri sendiri atau kapan orang-orang yang biasa membantu tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya, diskusi itu membuat saya berkesimpulan dan bertekad untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak-anak di masa depan saya dengan budaya Skandinasia, gabungan antara Skandinavia dan Asia, Norwegia dan Indonesia. Itu pun kalau hubungannya berlanjut, hehehe 🙂 Doakan saja ya, Pembaca!

mit Liebe,

Frouwelinde

 

 

 

Menuruni Tangga Troll Berkelok Sebelas

Kalau di Indonesia ada jalan meliuk-liuk yang terkenal dengan nama Kelok 9, di Norwegia juga ada yang serupa, tapi keloknya ada 11. Mungkin belum apa-apa dibanding Kelok 44-nya Indonesia, yang saya juga kaget ketika membaca tentang jalan tersebut pertama kali, tetapi Kelok 11 ini lebih terkenal dan lebih menantang. Apa penyebabnya?

Kelok 11-nya Norwegia ini namanya Trollstigen, yang artinya “Tangga Troll” dan letaknya tepat di mulut lembah yang dipagari oleh gunung Trollveggen, yang berarti “Dinding Troll”. Yang pernah menonton film-film fantasi seperti Harry Potter dan The Hobbit pasti familiar dengan makhluk ini. Di film-film fantasi semacam itu, troll digambarkan sebagai makhluk raksasa yang bau dan bodoh, serta bisa berubah menjadi batu jika terkena sinar matahari. Tentu saja legenda aslinya lebih mengerikan lagi, karena troll bisa memangsa manusia bahkan menukar bayi manusia dengan anaknya. Demikian kata dongeng-dongeng kuno Skandinavia. Konon katanya, troll hidup berkelompok di dalam hutan atau gua-gua yang terletak di dinding gunung. Mereka takut terhadap cahaya matahari, petir dan bunyi lonceng gereja.

Meskipun mengerikan, makhluk mistis ini menjadi ikon dalam pariwisata Norwegia. Selain banyaknya nama tempat yang mengandung kata “troll”, khususnya nama gunung, kita juga dapat menemukan banyak sekali patung troll maupun aneka suvenir yang menampilkan bentuknya di toko-toko di seluruh Norwegia. Salah satu tempat tersebut adalah Trollstigen, si Kelok 11 yang menjadi highlight dari rute turis nasional Geiranger-Trollstigen.

2813717880_bc4bb900bf_b

Rambu-rambu jalan yang kira-kira berarti “hati-hati Anda memasuki kawasan tempat tinggal Troll” di sebuah jalan dekat Trollstigen.

Untuk mencapai Trollstigen, saya berkendara dari Gudbrandsjuvet ke utara mengikuti Rv 63. Setelah melewati lembah dan danau, saya tiba di sebuah parkiran yang luas. Udara dingin segera menyambut saya begitu keluar dari mobil. Dari parkiran tersebut, yang terlihat hanyalah rangkaian pegunungan Trolltindene tempat gunung Trollveggen menjulang dalam barisan. Di sebelah utara dari lapangan parkir tersebut terdapat bangunan berbentuk segitiga yang bergaya modern dan berdinding kaca. Bangunan itulah yang meyakinkan saya bahwa saya telah tiba di Trollstigen, karena dari foto-foto traveler pendahulu terlihat bahwa bangunan tersebut bersambungan dengan teras pandang di tempat itu.

13770445_10210497692905070_956772189147172521_n

Pemandangan dari parkiran mobil. Mobilnya sengaja nggak kelihatan soalnya gunung-gunungnya lebih bagus hehehe... 😛

Dari parkiran mobil tersebut, saya berjalan menuju kompleks bangunan modern itu. Dekat ke arah parkiran ada bagian bangunan yang memanjang, yang terdiri dari sebuah toko suvenir dan toilet. Bangunan utama yang berbentuk segitiga itu sendiri merupakan sebuah kafe yang dilengkapi dengan area outdoor untuk bersantap sambil menikmati udara terbuka. Melewati kafe tersebut, saya tiba di sebuah jembatan kecil. Di bawah saya mengalir Sungai Istra yang dangkal dan berair jernih. Saking jernihnya, saya sampai dapat melihat bebatuan yang ada di dasarnya. Saya hampir yakin, air tersebut aman diminum terutama bagi manusia-manusia berperut negara dunia ketiga yang terbiasa dengan air jorok. 😀

13781773_10210497692825068_5553267697006949204_n

Sungai Istra yang mengalir dari pegunungan menuju Trollstigen. Bangunan kecil di sebelah kiri adalah bagian dari toko suvenir dan toilet.

13697228_10210497692945071_4460814014682775778_n

Jernihnya air Sungai Istra

13769603_10210497694785117_678421444593349411_n

Bebatuan yang tampak di dasar kolam

Rupanya Sungai Istra mengalir ke sebuah kolam, namun ia tidak berhenti di situ. Kolam yang tenang tersebut dangkal dan bertingkat-tingkat, tetapi, seiring dengan langkah saya di tepinya yang mengarah pada teras pandang, kolam itu berlanjut menjadi air terjun Stigfossen yang meluncur deras ke lembah Isterdalen. Air terjun Stigfossen tersebut memotong jalan berkelok-kelok Trollstigen di bawah jembatan Stigfossbrua. Jatuhan airnya menciptakan musik alam yang mengiringi eksplorasi saya di tempat tersebut.

13775557_10210497693545086_4949504534842049945_n

Jatuhan Sungai Istra menjadi air terjun Stigfossen yang berada di bawah teras pandang pertama.

Setelah berjalan sekitar 3 menit dari kafe, saya tiba di percabangan jalan. Jika saya berjalan lurus, saya akan tiba di teras pandang pertama. Dari teras pandang ini, saya dapat menyaksikan Stigfossen dari dekat karena letaknya tepat di atas jatuhan air terjun tersebut. Pagar teralis yang tidak terlalu tinggi memungkinkan saya untuk menikmati pemandangan lembah di bawah beserta sebelas kelokan yang menegangkan tersebut dari atas.

13731556_10210497694145101_2782790880908267803_n

Percabangan jalan yang saya temui. Belokan di sebelah kanan membawa saya ke teras pandang pertama.

13731549_10210497694425108_3892594050079029013_n

Sungai Istra jatuh dari kolam bertingkat tepat di bawah teras pandang pertama.

13729072_10210497693625088_2360366054819675380_n

Aliran Sungai Istra

13718499_10210497698105200_1669695545800383779_n

Ujung atas Stigfossen yang meluncur turun menuju lembah Isterdalen.

Beberapa menit berdiri di teras pandang pertama, saya mulai merasa kedinginan. Hari itu memang tidak hujan. Bisa dibilang, cuacanya cukup baik untuk menyaksikan keindahan Trollstigen dan saya cukup beruntung mendapatkannya. Seorang teman yang baru tiba di sana beberapa hari setelah saya meninggalkan tempat itu hanya dapat melihat kelokan-kelokan yang tertutup kabut. Meski demikian, cuaca hari itu tidak bisa dibilang cerah juga. Matahari masih malu-malu bersembunyi di balik awan dan tanpa matahari di atas, udara dingin pegunungan langsung menusuk kulit, ditambah lagi dengan angin yang berhembus. Rasanya, kalau sedang tidak travelling, saya maunya mlungker di pojok kafe yang hangat.

Akan tetapi, yang semacam itu tentu bukan saya. Setelah berpencar karena orang tua Chris ingin bersantai menghangatkan badan di kafe, saya dan dia berlanjut menuju platform view kedua. Letak platform view ini ada di ujung jalan yang berbelok ke kanan dari percabangan jalan yang saya sebut di atas tadi. Untuk mencapainya, kami harus menuruni banyak anak tangga yang dibangun di atas tebing-tebing gunung. Tenang saja, tangga ini sama sekali tidak berbahaya kok. Seperti platform view lainnya yang sudah saya kunjungi selama di Norwegia, teras pandang Trollstigen juga menganut prinsip aman dan indah. Prinsip tersebut  berarti menyediakan sarana bagi turis untuk menyaksikan pemandangan dan menikmati alam dari titik yang terindah melalui bangunan-bangunan yang aman tetapi juga bernilai estetis pada arsitekturnya. Keren, yah! 🙂

Di tengah dinginnya angin, saya pun akhirnya tiba di ujung tangga tersebut. Platform view yang kedua sangat menjorok ke luar dinding tebing dan nyaris seperti menggantung tanpa pijakan di bawah lantainya. Akan tetapi di situlah pemandangan terbaik Trollstigen dapat disaksikan. Di sebelah kanan tampak jelas Stigfossen mengalir deras menuju lembah Isterdalen, sedangkan jauh di sebelah kiri terdapat air terjun kecil lain yang berasal dari lelehan salju di puncak gunung dan jatuh ke sungai Tverelva. Sementara itu, mobil-mobil yang tampak kecil berjalan meliuk-liuk mengikuti sebelas kelokan tangga troll tersebut. Gunung Trollveggen juga tampak menjulang di sebelah kanan lembah, sedangkan Gunung Bispe di sebelah kirinya.

13716014_10210497698505210_1670436514549290200_n

Gunung Bispe menjulang di sebelah kiri teras pandang.

13707663_10210497694105100_7223438750275678365_n

Pegunungan Trolltindene yang memagari lembah Isterdalen.

Situasi di teras pandang kedua cukup ramai. Banyak turis yang ingin berfoto bersama fenomena alam tersebut. Untuk mendapatkan foto, saya harus bergiliran mengantri agar dapat berdiri di titik terbaik. Selagi mengantri, saya mengamati beberapa jenis turis yang ada di sana. Pasangan manula tampak mendominasi, kebanyakan berasal dari Jerman. Kuat juga ternyata mereka melalui anak tangga yang demikian banyak. Ada pula pasangan muda dengan bayinya yang masih dibawa dalam baby stroller. Waduh, saya nggak sanggup deh petualangan di alam sambil bawa-bawa kereta bayi. Ada lagi empat turis perempuan yang tampaknya bersaudara atau berteman, yang mengenakan pakaian agak janggal untuk petualangan di alam: rok terusan tipis  dan sepatu berhak. Ajaib, pikir saya, bagaimana bisa wanita-wanita tangguh ini melawan alam dalam pakaian demikian. Saya saja sudah kedinginan.

13700227_10210497698225203_1096881325932044091_n

Sebelas kelokan Trollstigen dan jembatan kecil Stigfossbrua yang menyebrangi aliran Stigfossen.

13680871_10210497693705090_6122799112275390689_n

Air terjun kecil di sebelah kanan teras pandang yang jatuh ke Sungai Tverelva di lembah.

Begitu giliran saya tiba, saya segera memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Saya khawatir langit akan semakin mendung dan jadi hujan. Beberapa foto berhasil saya dapatkan dari teras pandang kedua. Setelah selesai, saya segera beranjak dari tempat itu dan memberikan spot tersebut bagi pemburu foto selanjutnya. Dinginnya angin berhasil membujuk saya untuk menyusul kedua orang tua Chris untuk menghangatkan bada di kafe. Sudah terbayang lezatnya secangkir coklat panas yang mungkin ada di sana. Rupanya, untuk sampai ke kafe saja, saya harus jalan perlahan-lahan agar bisa mengatur nafas. Anak tangga yang banyak jumlahnya tadi kali ini harus dinaiki, bukan dituruni. Kira-kira 15 menit kemudian saya pun berhasil tiba di kafe dengan selamat.

13716164_10210497697385182_643850141368773684_n

Trollstigen yang dilalui mobil-mobil yang tampak kecil.

13769554_10210497695025123_4288420993302560546_n

Lembah Isterdalen

Menu di Kafe Trollstigen dijual semi prasmanan. Mirip Hoka Hoka Bento gitu deh. Untuk makanan, kita bisa memilih berbagai jenis smørbrød yang ada di etalase, atau memesan sesuai daftar yang tertera di situ. Seperti kafetaria di Norwegia pada umumnya, Kafe Trollstigen juga menyediakan menu harian yang berbeda setiap harinya. Kali ini menunya adalah sup. Setelah melihat-lihat, pilihan saya pun jatuh pada secangkir coklat panas dan waffle dengan selai stroberi khas Norwegia. Masih belum bisa move on dari stroberi hehehe..:P

Setelah mendapatkan pesanan, saya memilih meja di tengah ruangan berarsitektur modern tersebut. Ruangan yang didominasi warna netral seperti abu-abu dan putih itu memiliki dinding kaca di kedua sisinya yang berhadapan pada kolam air terjun Stigfossen dan pegunungan Trolltindene. Di salah satu sisinya yang memiliki tembok tergantung beberapa foto berukuran besar berwarna hitam putih. Foto-foto tersebut adalah bagian dari museum mini Trollstigen yang menyajikan informasi tentang bagaimana jalan berkelok 11 tersebut dibangun pada awalnya. Di tengah ruangan tersebut saya bercakap-cakap dengan pacar saya sambil menikmati makan siang saya yang berupa waffle tersebut. Waffle khas Norwegia tersebut berbentuk empat hati yang bertemu di bagian tengahnya. Bagian atasnya dituangi saus stroberi yang manis. Saking manisnya sampai-sampai membuat coklat panas saya terasa pahit 😀 Seharusnya saya tidak menghabiskan coklatnya setelah saya selesai dengan waffle-nya, ya?

13508950_10157770420730377_7226976578999220056_n

Di dalam kafe Trollstigen, waffle saya sudah habis sedangkan coklat panas masih penuh 😛

Kami menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit sampai setengah jam di kafe tersebut. Dengan perut kenyang, kami meninggalkan tempat itu menuju toko suvenir. Toko suvenir di Trollstigen adalah salah satu yang terlengkap dari beberapa toko suvenir yang telah saya kunjungi. Selain pajangan, kaos dan magnet kulkas yang umum dijumpai, toko ini juga menjual aneka syal dengan motif khas Viking dan aksesoris dari perak atau platina berbentuk benda-benda khas Norwegia. Salah satu yang saya peroleh di sini adalah syal merah hati bergambar ukiran Viking dan sepasang anting-anting perak berbentuk hewan favorit saya, beruang kutub. 😛

Tepat ketika saya keluar dari toko suvenir, gerimis mulai turun kembali. Cuaca memang cepat berubah di Norwegia, terutama di daerah pegunungan. Saya sudah mengingat informasi tersebut sejak membaca buku “Scandinavian Explorer”. Oleh karena itu, setidaknya jaket bertudung selalu ada di tangan saya. Beruntungnya saya, jarak dari toko suvenir ke mobil tidak terlalu jauh, sehingga saya dapat segera berteduh dan melanjutkan perjalanan. Kali ini, kami akan betul-betul merasakan sensasi menuruni tangga troll tersebut. Konon katanya, menaikinya akan lebih sulit lagi karena kemiringan tanjakannya mencapai 10%.

13754616_10210497698025198_6345388384742234700_n

Penulis numpang narsis yaa… 😛

Dengan perlahan, mobil meluncur mengikuti kelokan-kelokan berbentuk seperti jepit rambut yang ada. Di setiap kelokan, terdapat papan petunjuk yang dipasang di bebatuan di dekatnya dan bertuliskan nama dari kelokan tersebut. Nama-nama tersebut di antaranya Bispesvingen, Uri Martin Svingen, Langdalsvingen dan lain-lain. Di antara kelokan ke-5 dan ke-6, terdapat jembatan kecil Stigfossbrua yang melintang di atas aliran air terjun Stigfossen yang saya lihat di teras pandang tadi. Brandlisvingen pun menutup rangkaian kelokan di tangga troll ini sebagai kelokan ke-11.

Untuk menyetir melalui Trollstigen ini diperlukan keahlian yang cukup, terutama untuk urusan berbelok di jalan sempit. Selain itu, kendaraan-kendaraan yang ukurannya terlalu panjang juga dilarang melalui jalan ini karena akan susah berbelok. Perlu diingat pula, Trollstigen hanya dibuka selama beberapa bulan dalam setahun, umumnya sejak akhir musim semi (Mei) sampai awal musim gugur (Oktober) dengan tanggal yang bervariasi yang bisa diketahui dari website resmi turisme Norwegia atau rute turisme nasional Geiranger-Trollstigen. Hal ini disebabkan oleh cuaca buruk dan salju yang menumpuk pada musim dingin yang akan membahayakan para pengendara. Jadi, selamat menguji kemampuan menyetir kalian! Atau kalau takut, silakan naik bus turis dan jadi penumpang seperti saya. 😀

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Trollstigen di rute turis nasional Geiranger-Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=Trollstigen

Tentang detil arsitektur teras pandang dan Kafe Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/about-us/architecture-and-art?start=Reiulf+Ramstad+Arkitekter+AS

Lembah Stroberi dan Sungai Legenda di Valldal

Salah satu hal yang menginspirasi saya untuk bermimpi melakukan perjalanan ke Norwegia adalah sebuah tayangan acara panduan wisata di televisi. Dahulu, ketika tayangan stasiun TV di Indonesia masih bermutu, acara semacam ini banyak sekali tersebar di berbagai stasiun TV, terutama pada akhir pekan. Salah satu acara wisata favorit saya berjudul Food Discovery, yang dulu pernah tayang di Metro TV pada minggu pagi. Food Discovery ini pada intinya mengajak pemirsanya berjalan-jalan ke berbagai belahan dunia untuk mencicipi makanan khas yang dibuat dari bahan-bahan khas dari negara yang didatangi pula. Usut punya usut, program Food Discovery ini ternyata buatan Nordic World AS; salah satu perusahaan penyiaran di Norwegia 😀 Memang kalau sudah jodoh nggak ke mana ya, Pembaca 🙂

Dalam episodenya yang berjudul “Norway: Strawberries and Wild Salmon”, penonton dapat ikut bertualang di alam Norwegia sembari memetik stroberi segar dan memancing salmon di sungai-sungai yang kemudian dimasak ala Norwegia. Ya ampun, waktu saya lihat stroberi-stroberinya, saya sampai ngiler-ngiler. Segar-segar dan merah sekali. Stroberi-stroberi tersebut dimakan dengan krim sebagai hidangan penutup dalam tayangan tersebut. Sejujurnya, saya tidak pernah begitu menyukai stroberi karena rasanya kebanyakan asam. Hanya saja, tayangan Food Discovery yang langsung menjadi episode favorit saya itu berhasil meyakinkan saya bahwa di belahan bumi lain ada stroberi-stroberi merah segar yang manis.

Bertahun-tahun setelah saya menyaksikan tayangan yang begitu membekas di benak saya ini (lebay banget ya, Pembaca!), saya duduk di sebuah mobil mini van berwarna biru yang tengah berkendara di sepanjang rute turisme Geiranger-Trollstigen di Norwegia. Tuh, betul ‘kan, saya memang berjodoh sama negara ini. 😉 Dari teras pandang Ørnesvingen, saya mencapai puncak pegunungan dan turun lagi melalui lembah Eidsdal. Di bagian atas, lembah ini tampak sepi tak berpenghuni. Hanya ada daratan hijau dan sungai kecil yang mengalir dari air terjun-air terjun di tebing-tebing gunung. Semakin ke bawah, semakin banyak terdapat rumah-rumah dan peternakan, yang pada akhirnya berujung di desa Eidsdal.

123807810

Desa Eidsdal di tepi Storfjord tempat pelabuhan feri untuk menyeberang ke Valldal. Sumber: http://www.panoramio.com

Eidsdal terletak di tepi Storfjord yang merupakan ibu dari Geirangerfjord. Dari sanalah saya akan menyeberangi fjord tersebut menuju daratan di seberang. Mungkin di sinilah titik bosannya saya dengan fjord. Karena lamanya yang tidak lebih dari 30 menit, saya memutuskan untuk diam di dalam mobil selagi feri tersebut menyeberang. Kebetulan mobil saya berada di tengah-tengah feri di antara mobil-mobil lainnya dan agak sulit diakses kembali kalau saya tinggal turun dan berjalan-jalan. Benar juga, tak lama menunggu sudah terdengar kembali pengumuman bahwa feri akan merapat di seberang.

Tiba di seberang, kami berkendara di tepian Storfjord yang airnya berkilauan tertimpa sinar matahari. Rasanya kalau punya banyak waktu, saya masih ingin leyeh-leyeh di tepi fjord sambil mendinginkan kaki dan menikmati pemandangan. Road trip itu melelahkan lho meskipun kerjanya hanya duduk saja. Mungkin justru karena itu, ya?

Rute yang kami tempuh adalah Rv 63. Rute ini menyeberangi mulut Sungai Valldøla yang mengalir langsung ke Storfjord dan berbelok ke utara memasuki lembah Valldal. Lembah Valldal inilah tempat di mana impian masa kecil saya yang muncul akibat menonton Food Discovery terwujud. Berlalu dari pusat kota, di kiri kanan jalan semakin terdapat jajaran semak-semak hijau yang adalah perkebunan stroberi. Setiap rumah tampak dikelilingi oleh perkebunan stroberi yang terhampar luas. Tampaknya, pertanian stroberi adalah industri yang menyokong kota ini, di samping turisme tentunya.

13718803_10210497555621638_7443641769481001047_n

Kebun stroberi di sepanjang jalan.

13718713_10210497555541636_797349671437581808_n

Perkebunan stroberi adalah sumber mata pencaharian penduduk Valldal.

Beberapa saat berkendara di antara kebun stroberi, mata saya menangkap pemandangan yang tidak biasa. Ada beberapa ibu-ibu duduk di tepi jalan dengan penutup kepala khas pedesaan di bawah payung di belakang meja yang dipenuhi stroberi. Di depan tumpukan kemasan stroberi tersebut tertera angka yang menunjukkan harga. Mereka adalah penjual jalanan pertama di Norwegia yang saya lihat yang menjajakan makanan, karena penjual jalanan di sana rata-rata menjual koran dan majalah. Saya kira ibu-ibu pedagang seperti itu hanya ada di Cisarua 😀 Kami pun berhenti di dekat salah seorang dari mereka dan membeli sekotak stroberi seharga 40 NOK.

13726764_10210497555581637_4557067469048957665_n

Ini dia stroberi yang saya beli di pinggir jalan 🙂 Ini no filter, no edit lho gambarnya. Selamat ngiler ya, Pembaca! 😛

Jujur, saya belum pernah melihat stroberi sebesar-besar dan semerah stroberi itu sebelumnya. Dengan yakin, saya pun menarik daunnya dan langsung menggigit daging stroberi yang sangat juicy tersebut. Wow, ternyata tayangan Food Discovery itu nggak bohong, Pembaca! Stroberi merah segar dan manis memang tumbuh di belahan bumi utara yang memiliki empat musim. Terbayang betapa lezatnya jika saat itu saya punya krim kocok untuk melengkapi stroberi tersebut. Satu lagi impian dalam daftar saya yang bisa dicoret. 🙂

Berbekal stroberi segar dari Valldal, saya kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara melawan arah arus Sungai Valldøla yang berkelok-kelok di sisi jalan raya. Sekitar 15 km ke utara dari kota Valldal, terdapat perhentian di tepi jalan dekat sebuah jembatan. Di dekat perhentian itu ada sebuah platform view lain, tapi pemandangannya bukan lagi fjord melainkan Sungai Valldøla yang jernih. Platform view berbentuk jembatan yang berkelok-kelok di antara pepohonan itu menyeberangi sungai jernih yang jatuh dalam sebuah jurang sempit bernama Gudbrandsjuvet.

jsa_2

Platform view yang menjembatani Sungai Valldøla. Sumber: architektur.mapolismagazin.com

 

Apa yang menarik dari jurang sempit ini? Pertama, formasi bebatuannya yang berbentuk seperti relung-relung gua. Bentuk bebatuan tersebut tercipta dari kikisan air Sungai Valldøla selama ratusan tahun. Menariknya lagi, kalau dilihat dari atas, air sungai yang mengalir menerobos bebatuan dan menabrak dinding-dinding gua tersebut berwarna biru muda cerah dan sangat jernih. Semua pemandangan ini dilatarbelakangi oleh Gunung Trollkyrkja yang menjulang jauh di selatan. Kalau saja hari tidak mulai gerimis ketika saya tiba di sana, mungkin saya bisa berlama-lama memandangi tarian sungai di bawah kaki saya dan memotret gerakannya dari berbagai sudut 🙂

13699991_10210497637983697_4421603176788588366_n

Gunung Trollkyrkja di selatan Sungai Valldøla

13697228_10210497641263779_7063496354760320236_n

Sungai Valldøla mengalir melalui relung-relung bebatuan Gudbrandsjuvet.

13729036_10210497640463759_910385978884913404_n

Melalui bebatuan dengan indahnya

13697161_10210497638663714_8050249868958279901_n

Tuh, lihat, biru banget ya airnya.. 🙂

Selain keindahan dan kejernihannya, jurang selebar 5 m dengan kedalaman 25 m ini juga menarik karena legendanya. Nama Gudbrandsjuvet sendiri berarti Jurang Gudbrand. Konon dikatakan dalam dongeng abad ke-16 bahwa ada seorang pria bernama Gudbrand yang melompat ke dalam jurang ini untuk melarikan diri dari orang-orang yang mengejarnya. Gudbrand, yang diceritakan selamat dan akhirnya tinggal di sebuah pondok di tepi Sungai Valldøla ini, diburu orang-orang yang marah karena ia membawa lari seorang perempuan untuk dinikahinya. Karena legenda ini, orang menamai jurang tersebut dengan namanya.

Di tempat ini, sekali lagi arsitek-arsitek lanskap Norwegia memamerkan kebolehan mereka. Teras pandang yang berkelok dan menjembatani sungai tersebut juga dilengkapi dengan pijakan-pijakan yang diberi lubang dan dinding-dinding pembatas dari kaca sehingga memungkinkan kita untuk mengintip apa yang ada di bawah jembatan. Di ujung teras pandang tersebut terdapat Cafe Juvet, yaitu sebuah kafe berarsitektur modern dengan dinding-dinding kaca yang menghadap pemandangan Sungai Valldøla. Desainnya persis seperti rumah modern impian saya yang punya banyak jendela besar dan terletak di dekat alam bebas. Sayangnya, karena hari hujan, saya pun tidak dapat berlama-lama di tempat tersebut karena saya harus cepat-cepat berlalu ke perhentian selanjutnya sebelum cuaca semakin memburuk.

706274

Lanskap platform view berlatar belakang pegunungan Trollkyrkja. Di sebelah kanan adalah Cafe Juvet yang berdinding kaca. Sumber: http://www.nasjonalturistveger.no

utendors

Platform view dilihat dari atas. Sumber: http://www.trollstigen.no

Untuk kembali ke mobil, saya mengambil jalan memutar sehingga tidak melewati platform view melainkan jembatan batu tempat jalan raya untuk kendaraan melintas. Ternyata, di sisi lain jembatan tersebut itulah Sungai Valldøla menjadi air terjun yang jatuh ke lembah Valldal dan mengalir berkelok-kelok hingga ke muaranya di Storfjord. Jembatan tersebut mengantar saya kembali ke tempat parkir mobil-mobil. Tepat sebelum gerimis semakin lebat, saya berhasil masuk ke mobil. Tinggal berharap cuaca akan membaik sebelum saya tiba di destinasi selanjutnya.

13668977_10210497638343706_6768529989582049433_n

Jembatan yang saya lalui ketika kembali ke mobil. Di sebaliknya adalah Sungai Valldøla yang jatuh ke lembah Valldal menjadi air terjun.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Gudbrandsjuvet di rute turis nasional Geiranger – Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=Gudbrandsjuvet

Sebut Namaku di Geirangerfjord

Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Norwegia, saya sempat bertemu teman-teman dekat saya di kampus. Begitu mereka tahu bahwa saya akan pergi road trip dan melewati tempat-tempat yang super cantik, mereka langsung titip sesuatu. Titipannya bukan oleh-oleh dan bukan foto juga. Titipan agak aneh ini namanya titip sebut nama. Pertama kali muncul ketika salah satu dari teman-teman dalam “geng” saya itu berangkat ke Munich, Jerman mendahului yang lain karena menang kompetisi mengarang di Goethe-Institut. Kami semua tak percaya bahwa salah satu dari kami akhirnya berangkat ke Eropa, ke kota impiannya pula. Sebelum ia berangkat, kami semua memintanya untuk menyebut nama kami satu persatu di tempat-tempat yang khas Munich, terutama yang kita ngebet banget untuk kunjungi. Kita percaya bahwa sebut nama itu setara dengan doa agar orang yang kita sebut namanya akan tiba di tempat itu juga suatu hari nanti.

Sama seperti teman saya, saya pun kena titipan sebut nama ini. Kadang-kadang titipannya disampaikan lewat pesan Whatsapp atau komentar di foto Instagram ketika saya sudah berangkat. Jadilah daftar panjang nama yang harus saya hafalkan supaya tidak ada yang terlewat. Tempat sebut nama yang mereka pesan adalah Geirangerfjord, yang tidak jauh dari tempat saya menginap di akhir hari kedua perjalanan darat saya.

Boleh dibilang, kamar tempat saya bermalam ketika tiba di Geiranger adalah kamar sisa. Selain opsinya sebagai kamar di rumah privat yang sebetulnya nggak saya banget karena kurangnya privasi, dua kamar yang kami peroleh juga merupakan dua kamar yang tersisa di rumah tersebut. Total ada empat kamar yang disewakan oleh pasangan orang tua pemilik rumah itu. Sebelumnya, kamar-kamar di rumah berlantai tiga tersebut dihuni oleh anak-anak mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan pindah ke kota, orang tua mereka menyewakan kamar-kamar tersebut untuk turis yang berkunjung ke Geiranger.

Suasana menginap di rumah milik privat memang sangat berbeda dari hotel atau kabin. Tidak ada resepsionis, yang ada hanya sebuah buku tamu yang tergeletak di atas meja di depan pintu. Buku tamu ini harus diisi dengan data singkat penyewa, di antaranya nama, alamat dan nomor telepon. Pernah saya iseng membuka-buka buku tersebut karena penasaran siapa yang menginap di kamar-kamar tersebut. Ternyata, tamu-tamu yang menginap di sana datang dari mancanegara, bahkan negara-negara yang jauh seperti Kanada dan Australia.

Interior kamar memang terkesan seadanya dan tabrak warna. Persis seperti rumah sederhana. Hanya satu yang menyatukan semua gaya tersebut, kesan zaman dulu yang tentunya tidak mengherankan mengingat pemiliknya adalah pasangan manula. Saya mendapat kamar yang ukurannya cukup luas dengan tempat tidur queen size bersprei ungu tanpa corak. Di atas sprei tersebut dihamparkan penutup tempat tidur yang terbuat dari bahan rajutan. Di kamar tersebut ada meja dengan lampu tidur, meja dan kursi dekat jendela, lemari kecil, mesin pembuat kopi yang juga bisa dipakai merebus air, dan wastafel dengan air hangat dan dingin yang bisa dipakai untuk cuci muka dan gosok gigi. Lumayan banget ‘kan? Sementara untuk mandi disediakan dua buah kamar mandi yang dapat dipakai bergantian dengan tamu lain. Ukurannya terbilang sempit, namun dilengkapi air panas dan sangat bersih. 🙂

Akan tetapi, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya menyukai tempat itu. Pada pagi hari ketiga dalam perjalanan darat kami, saya terbangun cukup cepat untuk ukuran musim panas Norwegia. Kira-kira pukul 8 pagi, saya melangkah turun dari tempat tidur hendak membuka jendela untuk mengganti udara kamar. Begitu saya buka tirai berwarna krem yang menutupi jendela kaca besar khas rumah-rumah Skandinavia itu, saya menyadari bahwa hari tengah hujan. Tidak deras memang, hanya rintik-rintik seperti ketika saya tiba di tempat tersebut malam sebelumnya. Saya urung membuka jendela dan menunggu beberapa saat sambil menulis jurnal perjalanan.

Tak lama kemudian, hujan pun berhenti dan awan kabut yang tadinya menutupi pemandangan di luar menghilang perlahan. Saya kembali membuka tirai dan mendorong daun jendela. Astaga, bagusnya! Sebuah air terjun tampak mengalir jatuh dari tebing tak jauh dari kamar saya. Saya menggeser pandangan ke sebelah barat dan hanya dapat terpana menyaksikan apa yang saya lihat. Sebuah pelangi cantik yang tampak jelas melengkung indah di atas Geirangerfjord. Fjord biru tersebut masih saja sepi dari kapal-kapal turis, menambah keindahan panorama yang saya saksikan dari jendela kamar saya. Detik itu juga saya ingin tinggal di situ saja supaya bisa menyaksikan pemandangan semacam itu setiap pagi.

view hotel

Hotel di seberang jendela kamar saya.

view waterfall

Ada air terjun jauh di atas tebing.

rainbow geiranger

Pelangi di Geirangerfjord. Pengen gak sih lihat begini tiap bangun pagi?

Sayangnya, aktivitas menikmati pemandangan saya tidak dapat berlangsung lama, karena saya harus beranjak lagi untuk perjalanan berikutnya. Setelah mandi, bersiap-siap dan makan pagi, kami meninggalkan kamar bernuansa vintage tersebut untuk kembali berkendara menuju utara. Rute yang akan kami tempuh adalah salah satu rute turis nasional Norwegia yang terpopuler: Geiranger-Trollstigen.

Dari penginapan tersebut, kami menuruni jalan berkelok menuju Geirangerfjord dan melintasi jembatan yang di bawahnya mengalir jeram yang berasal dari air terjun yang saya lihat dari jendela tadi. Air terjun tersebut mengalir ke Geirangerfjord melalui sungai itu. Di kiri-kanan jalan banyak terdapat penginapan, kabin dan hotel aneka rupa dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Geiranger ini memang merupakan kota turis yang sangat populer. Siapa coba yang tidak tertarik menyaksikan keindahan fjord yang masuk dalam daftar UNESCO World’s Heritage List ini?

Geirangerfjord, bersama dengan Nærøyfjord memang bertengger di daftar warisan budaya dunia versi UNESCO. Tentu alasannya bukan hanya sekedar karena keindahannya. Menurut situs resmi UNESCO, kedua fjord di barat Norwegia tersebut berhasil masuk dalam daftar karena bentuknya yang paling menyerupai model fjord zaman purba dan masih menunjukkan proses geologi pembentukan fjord hingga kini. Benar saja lho, kabarnya, tebing-tebing pegunungan setinggi kurang lebih 1400 m yang mengapit Geirangerfjord masih mengalami pergeseran setiap tahunnya. Jika pergeseran yang terjadi cukup besar, hal tersebut berpotensi menimbulkan runtuhnya bebatuan gunung atau bahkan sebagian tubuh gunung ke fjord berkedalaman kira-kira 500 m itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Tsunami besar yang akan menghantam kota turis Geiranger, seperti yang menjadi inspirasi cerita film Norwegia berjudul Bølgen atau The Wave dalam versi Inggrisnya. Aduh, seramnya! Memang tidak ada ya, tempat di dunia ini yang sungguh-sungguh aman.

Selain karena struktur dan kenampakannya, Geirangerfjord juga terdaftar sebagai situs warisan budaya dunia karena lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Penduduk desa-desa di sepanjang Geirangerfjord mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak serta berbicara dalam dialek Sunnmøre, yang kalau kata Chris merupakan dialek terindah di Norwegia. Nah, peternakan dan pertanian mereka ini kadang-kadang dibangun jauh di atas tebing-tebing yang hanya dapat dicapai dengan mendaki atau berjalan kaki. Beberapa kompleks pertanian ini sekarang sudah ditinggalkan dan berubah jadi tujuan wisata yang aksesnya sangat terbatas. Sayangnya, saya belum sempat lihat langsung peternakan-peternakan di tebing ini.

Ketika saya tiba di kota Geiranger, sebuah kapal pesiar besar berwarna putih tampak sedang berlabuh. Dari namanya, kapal tersebut tampaknya merupakan kapal turis dari Italia. Ia membunyikan klaksonnya berulang-ulang hingga suaranya bergema ketika menyentuh tebing-tebing fjord yang saya tanjaki. Sebetulnya, pada awalnya saya berpikir bahwa saya akan punya kesempatan untuk berlayar di Geirangerfjord dan nggak cuma sekedar menyeberang dengan feri saja. Tentu saja hal tersebut tidak terjadi. Mobil kami justru semakin menanjaki tebing menjauhi Geiranger. Saya pun jadi kecewa karena saya pikir saya hanya akan numpang lewat saja di fjord terindah di Norwegia tersebut.

Beberapa saat setelah melewati beberapa tikungan di tebing tersebut, saya melihat keramaian di sebuah sudut jalan. Rupanya ada sebuah teras pandang untuk menikmati panorama Geirangerfjord dari atas. Woohoo!! Begitu mendapat izin keluar, saya langsung lompat dari mobil dan menyeberang jalan menuju teras pandang tersebut. Suara gemericik air dari air terjun kecil di dekat teras pandang itu segera menyambut saya. Teras pandang tersebut bernama Ørnesvingen atau Tikungan Elang, karena letaknya yang memang di tikungan kesebelas di tebing tersebut dan memungkinkan kita menyaksikan keindahan Geirangerfjord dari perspektif elang alias dari atas. Tepat di bawah teras pandang yang beberapa bagiannya terbuat dari kaca tersebut, mengalir sungai kecil yang merupakan sambungan dari air terjun yang menyambut saya tadi.

white cruise ship

Geirangerfjord dan kapal pesiar tampak dari Ørnesvingen.

ab3b516e727be1a4504792f0500488a1

Air terjun yang mengalir melalui kaca-kaca di Ørnesvingen. Arsitektur yang keren ini karya perusahaan arsitektur 3RW – Sixten Rahlff. Sumber: http://www.nasjonaleturistveger.no/

Dari teras pandang tersebut, saya dapat melihat kota Geiranger di sebelah timur yang tampak kecil. Kapal pesiar Italia tadi juga masih berlabuh pada tempatnya. Sementara itu, di sebelah kanan, agak jauh dekat kelokan pertama di Geirangerfjord, tampak air terjun yang sangat terkenal, yaitu De Sju Søstre. Mungkin Pembaca sering mendengarnya dengan nama Seven Sisters Waterfall. Air terjun ini merupakan air terjun dengan tujuh aliran yang jaraknya sangat berdekatan dan merupakan salah satu highlight dari tur di Geirangerfjord dengan menggunakan kapal.

seven sisters 3

Seven Sisters Waterfall dekat kelokan di Geirangerfjord.

seven sisters detail

Seven Sisters Waterfall (close up)

Setelah mengabadikan panorama yang khas gambar kartu pos tersebut, saya menyepi di sudut yang mendekati air terjun terkenal itu. Selagi tidak banyak orang, saya mengeluarkan daftar nama-nama di otak saya dan mulai menyebut satu persatu nama teman saya yang sudah titip sebut nama. Pertama-tama, dua nama teman saya yang sama-sama penyuka abad pertengahan dan Skandinavia, kemudian teman saya yang memperkenalkan saya pada negara-negara Skandinavia, adik saya, teman saya yang lain dan begitu seterusnya sampai nama-nama itu kesebut semua. Mudah-mudahan suatu hari nanti kalian bisa berdiri di teras pandang ini ya, teman-teman dan Pembaca sekalian yang namanya tidak bisa saya sebut satu persatu. 🙂

me and seven sisters

Numpang narsis sebelum perjalanan berlanjut lagi 🙂 hehehe…

Selesai dengan ritual sebut nama, saya menghampiri Chris yang rupanya sibuk membuat beberapa foto dalam berbagai mode dan filter dengan kamera DSLR-nya. Selanjutnya, kami kembali menyeberang jalan menuju mobil yang terparkir untuk melanjutkan perjalanan di rute Geiranger-Trollstigen yang akan semakin seru tentunya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi turisme Norwegia yang berisi tujuan-tujuan wisata dari seluruh Norwegia beserta tips-tips yang berguna:

https://www.visitnorway.com/

Website resmi turisme di Geiranger dan area sekitarnya:

http://www.visitalesund-geiranger.com/en/

Tentang teras pandang Ørnesvingen di Geiranger:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=%C3%98rnesvingen

 

 

Menuju Geiranger: Fjord, Danau dan Terowongan Terpanjang di Dunia

Berbeda dari banyak orang lainnya, saya nggak mau jalan-jalan ke tujuan-tujuan wisata dan cuma main jepret kamera. Apalagi kalau isinya muka saya semua. Saya senang belajar, terlebih lagi mengetahui fakta-fakta unik tentang suatu tempat. Kalau bisa nggak cuma yang diberi tahu oleh pemandu wisata. Maka dari itu, maklum-maklum saja ya, Pembaca, kalau foto-foto yang bertebaran di blog ini kurang bagus atau banyak yang mencong. Saya memang tidak terlalu fokus dengan jepretan foto, terutama kalau sedang di tempat bagus. Kamera terbaik adalah mata kita, bukan begitu Pembaca?

Omong-omong soal mata adalah kamera, kira-kira itulah bekal saya di 11 jam perjalanan berikutnya bersama dengan pelajaran geografi yang telah saya refresh di otak saya di Hardangervidda Natursenter. Dalam 11 jam yang sama sekali tidak singkat ini, mobil kami akan menempuh jarak kurang lebih 377 km ke utara, melewati kenampakan alam seperti yang telah saya pelajari di museum tersebut. Akhirnya, saya nggak cuma belajar teori tapi praktik juga 😀 Tapi, sudah tentu ada bedanya menggunakan kamera sungguhan dan mata sendiri. Kamera sungguhan punya memori, mata kita bisa menipu. Alhasil, saya pun harus mengakui bahwa ini adalah tulisan tersulit yang saya hasilkan dari seluruh perjalanan saya. Dengan jalan yang begitu panjang dan kenampakan alam yang mirip atau serupa berulang-ulang di depan mata saya, berulang kali saya harus memutar otak untuk mengingat rute yang benar yang saya lalui dalam perjalanan tersebut. Waduh, saya jadi banyak mengoceh nih. Langsung aja dimulai cerita selanjutnya yah..

Setelah berhenti beberapa saat di Øvre Eidfjord, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Eidfjord yang terletak di tepi Hardangerfjord, salah satu fjord yang terkenal di Norwegia. Melihat fjord yang biru tersebut, saya kini dapat membayangkan, bahwa ujung yang terletak dekat kota Eidfjord tersebut pasti sangat dalam, karena Eidfjord adalah kota di tepi Hardangerfjord yang paling jauh dari laut.

hardanger

Hardangerfjord

Dari Rv 7, saya berbelok ke Rv 13 melalui sebuah terowongan yang berujung pada sebuah jembatan panjang bernama Hardangerbrua. Hardangerbrua membentang di atas Hardangerfjord dan merupakan salah satu jembatan terpanjang di dunia. Sudah sejak lama saya ingin menyaksikan Hardangerfjord dari jembatan ini. Sayang sekali, ruang bagi kendaraan cukup sempit sehingga meskipun jembatan ini dilengkapi dengan jalur sepeda dan pejalan kaki, saya tidak bisa menepi sembarangan untuk turun dan mengambil foto. 😦 Padahal, dulu saya sering iseng menggunakan fitur street view Google Maps dan menjatuhkan kursor berbentuk orang-orangan di atas jembatan ini, hanya untuk mengagumi pemandangannya dari layar komputer saya. Jembatan ini menghubungkan terowongan Bu dengan terowongan Vallavik. Sebetulnya, dekat dengan terowongan Bu ada tempat parkir apabila kita ingin berjalan kaki di sepanjang Hardangerbrua. Kami tidak mengambil kesempatan tersebut mengingat perjalanan yang masih begitu panjang. Akhirnya, saya (terpaksa) membuat permohonan lagi dalam hati, agar suatu hari dapat berjalan melintasi jembatan tersebut.

en.hardangerfjord.com

Hardangerbrua dan zona pejalan kakinya. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

en.hardangerfjord.com.jpg2

Hardangerfjord yang cantik dilihat dari Hardangerbrua. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

Terowongan Vallavik (Vallaviktunnelen) ini panjangnya 7,51 km. Bisa dibilang inilah pertama kalinya saya memasuki terowongan yang demikian panjang. Jangan kaget dulu, Pembaca, karena nanti saya akan ketemu dengan yang lebih panjang lagi. 😛 Terowongan Vallavik memiliki sebuah bundaran bercabang tiga di dalamnya yang masing-masing mengantar kita ke sisi gunung yang berbeda. Jalur yang saya ambil menembus gunung hingga ke tepi sebuah danau bernama Granvinsvatnet dekat kota Granvin, Hordaland. Berkendara menyusuri danau itu, saya berjalan terus menuju sebuah kota cantik bernama Vossevangen atau sering juga disebut dengan Voss. Kami berhenti sebentar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kota ini untuk membeli makanan ringan untuk bekal di perjalanan.

Saya mengikuti jalan bernama Strandavegen di Rute E16 dari Voss. Di sebelah kiri saya tersebar rumah-rumah bergaya tradisional Norwegia di lereng gunung, sedangkan di kiri saya adalah Sungai Strandaelvi. Beberapa kilometer ke arah utara, mobil kami melalui sebuah air terjun di tepi jalan. Air terjun tersebut, Tvindefoss, betul-betul terletak di tepi jalan dan hanya dipisahkan oleh kompleks camping dan berseberangan dengan Sungai Strandaelvi. Di sekitar Tvindefoss ini terdapat banyak area rekreasi untuk aneka kegiatan seperti memancing dan arung jeram. Air terjun tersebut sendiri memiliki ketinggian 120 m tetapi jatuhannya yang mengalir turun melalui tebing batu membuatnya tampak seperti selendang putih.

tvindefoss

Tvindefoss di tepi jalan.

Terus berkendara di Rute E16, saya melalui kota Gudvangen dan Flåm. Dua kota kecil ini terletak di tepi dua fjord yang merupakan anak dari Sognefjord. Sognefjord adalah fjord yang serba “ter-” di Norwegia, yaitu terdalam, terlebar dan terpanjang. Gudvangen ada di ujung Naerøyfjord sedangkan Flåm ada di ujung Aurlandsfjord. Saya mengetahui tentang keindahan dua kota dan fjord ini melalui salah satu buku favorit saya, “Scandinavian Explorer” karangan Asanti Astari.

11543323

Buku yang sangat saya rekomendasikan buat yang tertarik ke Skandinavia 🙂 Sumber: http://www.goodreads.com/

Menurut buku itu juga, Gudvangen dan Flåm adalah dua kota yang akan dilalui jika kita mengikuti tur singkat “Norway in a Nutshell” dari Bergen ke Oslo. Dengan tur yang super populer tersebut, kalian sudah dapat melihat poin-poin penting dari alam Norwegia seperti fjord, air terjun, kota tua dan pegunungan. Dalam paket tur itu, para peserta bisa berlayar dari Gudvangen ke Flåm melalui kedua fjord tersebut dengan kapal. Serius, waktu baca bukunya saya pengen banget. Sayangnya ketika saya berkesempatan untuk berada di kota tersebut, saya cuma numpang lewat. 😦

 

Ya, namanya juga road trip pasti bakal banyak tempat yang cuma numpang dilewati. Sambil bikin permohonan lagi supaya bisa ikut Norway in a Nutshell suatu hari, saya melanjutkan perjalanan menuju Lærdal. Untuk mencapai kota tersebut dari tepi Aurlandsfjord, saya harus memasuki terowongan yang panjangnya tak terdeskripsikan lagi. Dua puluh empat setengah kilo, Pembaca! 24,5 km! Nggak tanggung-tanggung lagi, terowongan Lærdal (Lærdaltunnelen) ini langsung menyandang nama sebagai terowongan darat terpanjang di dunia. Padahal, terowongan nomor dua terpanjang yang ada di Swiss “hanya” 16 km. Kalau terowongan Vallavik yang saya lewati sebelumnya itu menembus gunung, terowongan ini pasti menembus pegunungan. Saya sempat jatuh tertidur dalam proses menembus pegunungan tersebut. Parahnya lagi, ketika saya bangun, saya masih berada di dalam terowongan itu. Kebayang ‘kan panjangnya? Berasa naik mobil dari Jakarta Pusat sampai Depok.

europe-norway-facts-worlds-longest-tunnel-laerdals-tunnel_outside_dsc05697

Lærdaltunnelen. Sumber: http://www.bergen-guide.com/

lc3a6rdalstunnelen_norway

Dalamnya terowongan terpanjang di dunia. Sumber: http://en.wikipedia.org/

Untunglah terowongan mahapanjang ini masih ada ujungnya. Betapa bahagianya saya ketika melihat cahaya di ujung dan pegunungan hijau kembali menyambut saya. Saya pun tiba di Lærdal dengan selamat tanpa keruntuhan bebatuan gunung maupun terjebak dalam terowongan karena hal lain. Setelah beberapa saat menempuh jalan yang diapit lembah hijau dan satu terowongan lagi, saya tiba di tepi Sognefjord yang entah sisi sebelah mananya lagi.

Fjord ini adalah fjord keempat yang saya lihat selama perjalanan ini. Tenang saja, Pembaca, saya tidak akan muntah karena bosan. Saya justru suka dengan pemandangan fjord yang tidak ada di negara saya ini. Belum lagi, kali ini saya punya cara berbeda untuk menikmatinya. Tidak dengan berkendara melipir di sisinya, tidak juga lewat jembatan panjang. Saya akan berlayar menyeberangi Sognefjord. Woohoo!! Girangnya saya mendengar adanya kesempatan berlayar di fjord meskipun cuma 20 menit.

Prosesnya tidak jauh berbeda dengan naik feri. Pertama-tama mengantri di depan pintu kapal, membayar tiket kemudian masuk dan parkir di lantai dasar. Selanjutnya, saya diperbolehkan turun dan berjalan-jalan ke dek atas maupun minum kopi di kafe kapal sampai kapal merapat di seberang. Tentu saja saya memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati pemandangan fjord terbesar di Norwegia itu sambil mencari udara segar. Rasa lelah akibat duduk berjam-jam di mobil segera terobati ketika saya berdiri di dek dan merekam sedikit perjalanan menyeberangi Sognefjord yang singkat namun tak terlupakan dengan kamera saya.

sognefjord with ferry

Menyeberangi Sognefjord

sognefjord

Dalam waktu singkat, kapal merapat di sisi utara fjord terpanjang di Norwegia tersebut. Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke utara sambil mulai tengak-tengok kiri kanan mencari restoran buka. Setelah berjam-jam, perut saya pun menyerah dan minta diisi makanan selain keripik atau snack-snack ringan lainnya. Jujur saja, mencari makanan di Norwegia itu sampai sekarang masih jadi masalah saya. Bukan karena saya alergi dengan makanan Skandinavia atau terlalu tawar dan lain-lain. Kalau lapar, makanan dingin pun akan saya santap. Masalahnya, mencari restoran di Norwegia dengan menu yang variatif dan harga yang terjangkau itu seperti mencari rusa kutub di gurun sahara. Karena (nyaris) tidak mungkin, kami mencari alternatif, seperti membawa bekal sendiri atau terpaksa makan makanan junk food.

Beberapa kali makan makanan buatan sendiri yang tentu saja terdiri dari smørbrød, lidah kami ingin sesuatu yang lain. Berhentilah kami di sebuah kota di salah satu cabang fjord yang lain bernama Sogndalfjøra. Tadinya, kami bermaksud mencari makanan Asia, yang ternyata hanya ada minimarketnya tanpa restoran. Setelah mondar-mandir di jalan yang sama, kami berhenti di sebuah restoran bernama Den Gamle Nabo. Begitu masuk, tampak interior yang mengesankan bahwa restoran tersebut adalah restoran mewah. Lain kesannya setelah saya duduk dan membuka menu makanan. Ujung-ujungnya isinya burger dan kebab juga. Memang bukan junk food sih, karena dimasaknya saja lama sekali dan bukan makanan cepat saji, tapi tetap saja saya bosan dengan sandwich, burger dan teman-temannya itu. Hiks 😥 Sekedar info, menurut saya restoran ini nggak terlalu recommended. Selain makanannya yang lama datangnya, rasanya terbilang biasa saja dan harganya agak overpriced.

Kami meninggalkan restoran itu dan Sogndalfjøra di bawah awan mendung dan gerimis. Meskipun demikian, sinar matahari tetap dapat menembus awan tersebut, membuat hari tetap terang untuk melanjutkan perjalanan. Kami melalui Rv 5 dan terus menuju ke utara. Setelah lembah dan gunung serta jalanan berkelok-kelok, kami mendekati taman nasional lagi. Jostedalbreen Nasjonalpark, taman nasional itu, adalah rumah dari gletser terbesar yang ada di daratan Eropa. Luas total dari gletsernya sendiri adalah 487 km persegi. Sama seperti Sognefjord, gletser ini pun memiliki cabang-cabang. Pelajaran geografi di Hardangervidda Natursenter membantu saya membayangkan, bahwa pada zaman es dulu, Sognefjord dan anak-anaknya pun menjadi bagian dari gletser raksasa ini.

boyabreen

Bøyabreen, salah satu anak gletser dari Jostedalbreen.

Kalau dilihat dari atas lewat peta Google, gletser ini tampak seperti tangan putih besar yang jari-jarinya menjulur ke berbagai arah. Salah satu jari tersebut, Bøyabreen, menjulur ke arah kota Fjærland dan tampak dari Rv 5 yang saya lalui. Wow, ternyata ukurannya cukup besar meski hanya cabang dari gletser utama. Untuk mencapai gletser ini, ada belokan kecil ke kanan dari jalan raya utama. Di sisi jalan tersebut terdapat kabin dan area berkemah. Kalau mengikuti jalan tersebut, kita akan tiba di sebuah danau kecil di kaki gletser tersebut. Tentu saja saya tidak mampir ke danau maupun gletser tersebut (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu. Sekedar informasi, gletser-gletser ini, betapa pun indahnya, sedang terancam kehancuran akibat pemanasan global. Ukuran mereka semakin menyusut setiap tahunnya karena es abadi yang ada pada mereka mencair perlahan-lahan.

Bagaimana, Pembaca? Sudah lelah mengikuti cerita saya? Tenang saja, kita sudah setengah jalan, kok. Kalau lihat gambar-gambar yang ada mungkin bisa sedikit mengurangi rasa lelah. Hehehe 😛 Lewat dari Bøyabreen, saya melalui beberapa terowongan pendek dan tiba di kota Skei. Setelah bundaran, saya mengambil jalan ke arah utara melewati jalur E39. Lagi-lagi jalur Eropa. Jalur E39 berkelok-kelok melewati beberapa danau di kiri-kanan, menanjak di dekat Byrkjelo dan turun ke kota Utvik yang terletak di tepi sebuah fjord. *terdengar suara gubrak dari bangku pembaca* Cape deh..

Fjord yang kali ini tidak panjang dan besar seperti Sognefjord. Namanya adalah Innvikfjord dan merupakan cabang bagian dalam dari Nordfjord yang terletak dekat laut. Begitu banyaknya fjord di negara ini, saya sampai berpikir jangan-jangan waktu Tuhan menciptakan Norwegia, Dia tinggal copy paste edit edit lagi. Hahahaa..  Duh, kan saya jadi melantur. Di Innvikfjord ini (sialnya) tidak ada jembatan maupun jasa penyeberangan feri. Alhasil kami pun harus memutari lewat tepiannya untuk mencapai kota Stryn di seberang. By the way, kota Stryn ini cantik sekali lho. Ketika saya tiba di sana, matahari bersinar cerah sekali meski hari sudah menjelang senja. Stryn menjadi tampak seperti resor musim panas yang diapit laut (fjord) dan dipunggungi pegunungan. Tak jauh dari tepi fjord banyak terdapat trailer-trailer para wisatawan dan kabin-kabin liburan yang menandakan bahwa kota ini memang tempat wisata yang populer.

xxxxxstryn

Stryn di tepi fjord dan kaki gunung. Sumber: http://www.morenytt.no/

Jalan kembali menanjak ke arah pegunungan yang melatari kota tersebut. Di samping saya, sungai Stryneelva berkelok-kelok dengan cantik, membawa air jernih dari pegunungan hingga turun ke fjord. Agak di atas, saya bertemu dengan danau lagi yang menjadi sumber air bagi Innvikfjord, yaitu Oppstrynsvatnet. Di tepi danau tersebut terdapat Pusat Pengunjung Taman Nasional Jostedalbreen (Jostedalbreen Nasjonalparksenter). Stryn dan kakaknya yang terletak agak di atas, Oppstryn, memang menjadi start awal bagi para petualang yang ingin mendaki gletser-gletser Jostedal karena letaknya yang memang dekat.

Saya terus melanjutkan perjalanan semakin naik ke pegunungan. Perjalanan mendaki gunung tersebut dibantu oleh terowongan-terowongan yang mempersingkat waktu. Tahu-tahu saya sudah pindah provinsi dari Sogn og Fjordane ke Oppdal. Begitu keluar dari terowongan terakhir, di samping saya terbentang danau yang panjang. Nama danau itu, Langvatnet, betul-betul berarti Danau Panjang. Tidak jauh berkendara menyusuri danau tersebut, ada lagi danau yang namanya Danau Dalam alias Djupvatnet. Saya mulai berpikir, jangan-jangan saking banyaknya danau, orang Norwegia kehabisan nama untuk menamai mereka. Terbukti ada beberapa danau dengan nama yang sama kalau kita niat banget meneliti setiap peta provinsi di Norwegia. Djupvatnet terletak di provinsi yang berbeda lagi, namanya More og Romsdal. Ternyata ada perbatasan tiga provinsi di atas pegunungan tersebut.

djupvatnet

Djupvatnet dikelilingi pegunungan bersalju.

Puncak pegunungan tersebut masih banyak yang tertutup salju. Beberapa bagian tampak seperti daerah kutub utara atau Svalbard, kepulauan di utara Norwegia tempat kediaman beruang kutub. Dari jauh, ketika saya baru saja keluar dari terowongan, tempat tersebut tampaknya sepi. Tidak ada tetumbuhan yang terlihat selain lumut tundra. Hanya ada beberapa mobil yang melintas. Saya nyaris yakin bahwa tempat tersebut tidak berpenghuni dan sangat antah-berantah di puncak gunung, sampai saya melihat sebuah bangunan dari kayu yang ternyata kabin dan penginapan. Astaga! Benar-benar ya orang-orang utara ini, mencari personal space sampai ke puncak gunung yang dingin begini!

Sebuah papan informasi di pinggir jalan memberi tahu saya bahwa tempat yang saya lalui berketinggian  1.030 m.d.p.l., lebih tinggi dari Hardangervidda. Tidak jauh dari penginapan tersebut, terdapat papan penunjuk arah dan jalan kecil yang menanjak. Jalan tersebut, mengarah ke puncak tertinggi di dekat situ, Dalsnibba, dengan ketinggian 1.476 m.d.p.l. Karena diburu waktu, kami tidak mengambil jalan tersebut melainkan turun menuju lembah. Mengikuti Rv 63, kami berhenti di sebuah titik pandang yang terletak di pinggir jalan. Dari tepi jalan yang tanpa pagar pembatas tersebut, saya berdiri dan menyaksikan keindahan panorama lembah yang berkelok di bawah. Pegunungan bersalju di kejauhan membingkai lembah hijau tersebut. Dari tebing-tebing di kiri kanan lembah, saya dapat melihat air terjun-air terjun kecil hasil lelehan salju di puncak gunung. Sungguh pemandangan yang bisa mencuri nafas saking bagusnya.

13707610_10210497256414158_560097613247220246_n

Pemandangan lembah dari viewing point di ketinggian 1.030 m.d.p.l.

Dari tempat itu, saya dapat melihat hasil dari proses pembentukan alam yang saya pelajari di Hardangervidda Natursenter. Danau-danau di puncak gunung tadi, seperti Langvatnet dan Djupvatnet adalah danau yang menampung air hujan atau lelehan salju. Danau tersebut mengalir menjadi air terjun kecil melalui tebing-tebing dan jatuh ke aliran sungai di lembah. Aliran sungai yang berkelok tersebut kemudian berlanjut ke fjord. Fjord terus mengalir hingga ke laut. Menakjubkan, bukan? Semua teori yang saya pelajari jadi nyata di depan mata. 🙂

Setelah menikmati pemandangan dan meluruskan kaki beberapa menit, kami berjalan lagi menuju lembah, kali ini dengan sebuah tujuan: mencari tempat bermalam. Kebetulan, mayoritas tim roadtrip kami adalah procrascinator yang senang mencari di detik-detik terakhir menjelang tengah malam. Tentu saja hal tersebut berdampak buruk, karena beberapa penginapan di sepanjang jalan menuju lembah sudah penuh. Maklum saja, karena saya memang semakin mendekati salah satu tujuan wisata terfavorit di Norwegia. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil kamar kosong apapun yang kami temukan setelah itu.

Di sebuah belokan dekat Hotel Utsikten, mata kami menangkap sebuah papan yang dipasang di pinggir jalan yang menginformasikan adanya kamar kosong. Tentu bukan kamar di hotel tersebut, melainkan kamar di sebuah rumah milik pasangan manula yang terletak di seberang hotel. Rumah tersebut bergaya jadul mengikuti pemiliknya, bahkan cara pembayaran sewa kamar pun sudah lanjut usia. Ketika mayoritas penduduk Norwegia sudah cashless, pasangan ini justru menagih bayar sewa dengan uang kontan. Alhasil, orang tua Chris harus mencari ATM di kota terdekat.

Sementara mereka pergi, saya dibiarkan turun dan menikmati pemandangan. Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun seperti biasa langit masih terang benderang. Bahkan langit lebih terang dari malam sebelumnya karena lokasi saya berada jauh lebih di utara. Dengan semangat, saya melipir di tepi jalan raya, mencari tempat yang lebih terbuka dan tidak tertutup pepohonan. Setelah menemukan tempat terbaik, saya berhenti. Dibatasi oleh pagar pembatas jalan, jauh di bawah sana tepat di depan mata saya, terbentang perhentian terakhir perjalanan darat hari kedua: Geirangerfjord. Karena hari telah larut, perairan tersebut sangat kosong. Tak satu pun kapal pesiar para turis yang tampak seperti pada gambar-gambar dalam kartu pos. Sebuah air terjun yang deras tampak jatuh dari pegunungan di belakang saya. Airnya mengalir melalui jeram-jeram kecil menuju fjord yang indah tersebut.

geirangerfjord

Geirangerfjord dari pinggir jalan, dekat tempat saya menginap pada pukul 23.00

Apakah saya bosan dengan fjord? Tidak sama sekali. Saya bahkan berdiri di titik tersebut, memandangi Geirangerfjord selama bermenit-menit sampai mobil kembali. Entah berapa fjord telah saya lewati sejak dari Eidfjord. Konon katanya, jika kita berkendara dari Kristiansand (kota di selatan Norwegia) sampai Trondheim, kita harus menyeberang 8 fjord dan memakan waktu 22 jam. Saya tidak bertemu fjord sebanyak itu, tapi saya rasa cukup sering untuk membuat hal tersebut tidak istimewa lagi. Tidak seperti itu sih kalau bagi saya. Tidak percaya? Kalau kata slogan sebuah perusahaan pelayaran di fjord bernama Fjord Norway, you have to be here to believe it – kamu harus berada di sini untuk percaya.:)

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Informasi tentang Hardangerfjord dan jembatannya:

http://en.hardangerfjord.com/ullensvang/things-to-do/hardanger-bridge-on-foot-or-on-wheels-p1083353

Tvindefoss dan area perkemahan di sekitarnya:

http://www.tvinde.no/

Salah satu perusahaan pelayaran untuk wisata fjord:

http://www.fjordnorway.com/

Paket tur yang saya sebut-sebut di atas dan selalu bikin saya pengen:

https://www.norwaynutshell.com/original-norway-in-a-nutshell/

 

Apakah Air Fjord Asin atau Tawar?

Bertahun lamanya saya punya pertanyaan ini di kepala saya. Kebetulan saya belum pernah sungguh-sungguh berdiri di tepi fjord dan mencicipi airnya. Jadi, bagaimana saya bisa tahu jawaban pertanyaan yang super nggak penting itu? Ditambah lagi, dua hari petualangan menyaksikan panorama alam Norwegia semakin menambah pertanyaan-pertanyaan di otak saya yang selalu haus pengetahuan. Saya boleh berbahagia, karena tidak lama setelah saya meninggalkan Vøringfossen, saya segera mendapatkan jawabannya. Woohoo!! 🙂

Meninggalkan lahan parkir dekat titik pandang kedua di Vøringfossen, mobil kami bergerak menuruni gunung menuju lembah Måbødalen di bawah. Pemandangan alam yang hijau berulang kali lenyap setiap kali mobil kami memasuki terowongan. Dugaan saya, mungkin ada ribuan terowongan di Norwegia. Beberapa di antaranya saya lalui dalam perjalanan menuju ke lembah. Terowongan-terowongan ini berbeda dengan yang pernah saya lalui di Indonesia, tempat kebanyakan terowongan hanya melintas di bawah jalan layang atau rel kereta api. Terowongan di Norwegia betul-betul menembus gunung, sehingga ketika saya masuk dari satu sisi dinding gunung, di ujung terowongan saya bisa tiba di sisi sebaliknya dengan pemandangan yang sama sekali berbeda. Pada umumnya, terowongan-terowongan di Norwegia sangat panjang. Misalnya terowongan yang saya lalui di daerah tersebut, saya lalui dalam waktu 3 menit. Namanya saja menembus gunung hehehe..

Setelah melewati beberapa terowongan, tibalah saya di kaki pegunungan tempat sebuah kota (atau desa?) bernama Øvre Eidfjord terletak. Daerah ini sebetulnya merupakan bagian yang lebih tinggi dari kota Eidfjord yang sebelumnya saya sebut. Berhubung orang tua Chris ingin beristirahat dan duduk-duduk mengopi, kami berhenti di sebuah bangunan semacam museum yang berwarna merah. Di seberang bangunan itu adalah sebuah toko suvenir dan kafe yang menjual aneka makanan dan minuman yang bervariasi. Karena saya dan Chris tidak lapar dan tidak suka kopi, berpencarlah tim lintas alam kami. Orang tuanya beranjak ke kafe, sedangkan kami menuju museum.

Museum tersebut adalah Hardangervidda Natursenter, yang memajang berbagai koleksi interaktif mengenai kondisi alam yang tersebar di wilayah Taman Nasional Hardangervidda. Museum berlantai tiga tersebut menyajikan berbagai pengetahuan mengenai keadaan biologis, ekologis, dan geografis wilayah tersebut dengan cara yang sangat menarik. Museum ini buka dari tanggal 20 Maret sampai 31 Oktober, mulai pukul 10.00 sampai 18.00. Khusus tanggal 15 Juni sampai 20 Agustus atau high season, mereka buka sejak pukul 09.00 sampai 19.00. Setelah membeli tiket seharga 130 NOK per orang, saya dan pacar saya memulai eksplorasi di museum tersebut.

13754293_10210487774017104_8079086022493348786_n

Hardangervidda Natursenter

 

Rute yang saya pilih untuk berkeliling di museum tersebut agak aneh. Kebanyakan orang memulai dengan menonton tayangan film pengetahuan alam yang menunjukkan panorama di Hardangervidda. Akan tetapi, saya terpaksa harus melewatkan film tersebut karena ketika saya masuk, film tersebut sudah dimulai. Tidak mau mengganggu yang lain, saya pun memutuskan untuk berkeliling. Pertama-tama, saya memulai dari lantai dua (yaitu tempat loket pembelian tiket berada), kemudian turun ke lantai satu dan kembali naik ke lantai tiga.

Di lantai dua terdapat koleksi rusa kutub dalam berbagai ukuran yang diawetkan dan dipajang sebagai diorama. Diorama tersebut menunjukkan bagaimana penduduk dari zaman batu telah mendiami wilayah Hardangervidda karena mengikuti migrasi rusa kutub untuk mata pencaharian mereka. Dari situ pula saya baru tahu bahwa rusa kutub adalah satu-satunya jenis rusa yang setara secara biologis. Eh? Maksudnya? Ya, karena mereka sama-sama punya tanduk.

natursenteret_reinsdyr-forfra.jpg

Diorama migrasi rusa kutub. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Di lantai yang sama, terdapat simulasi runtuhnya bebatuan gunung yang merupakan salah satu hal yang sering terjadi di lereng gunung. Simulasi ini dilengkapi dengan suara yang menyerupai runtuhan gunung. Di pojok belakang kiri terdapat diorama beberapa jenis burung yang hidup di Taman Nasional Hardangervidda. Selain itu, hal yang menarik bagi saya adalah miniatur gunung berapi dan berbagai jenis bentuk letusannya yang bersifat interaktif. Jika kita menekan tombol yang ada di kotak pelindungnya, kita akan menyaksikan simulasi letusan dan lelehan lava yang menarik. Saya jadi ingat pelajaran geografi saya di SMA. 🙂

Dari lantai dua, saya turun ke lantai satu. Segera saya disambut dengan akuarium besar yang mengoleksi beberapa jenis ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Di samping akuarium tersebut, terdapat diorama suasana hutan dengan patung seorang pemburu dari abad pertengahan bernama Ottar. Diorama ini pun bersifat interaktif. Ottar dapat menjelaskan mengenai kehidupan di dataran tinggi pegunungan dari berbagai masa. Serasa didongengi deh!

akvarium_fisk

Salah satu ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Tak jauh dari kedua diorama tersebut, terdapat koleksi glasiologi. Glasiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gletser, yang memang banyak terdapat di Norwegia. Ayo, siapa yang masih ingat apakah gletser itu? 🙂 Sebetulnya saya juga tidak ingat sampai ketika saya membaca lagi di Hardangervidda Natursenter 😛 Jadi intinya, gletser adalah endapan es yang terbentuk karena tumpukan salju yang turun terus menerus, biasanya di daerah kutub atau di puncak gunung yang sangat tinggi. Es yang semakin berat akan tertarik gravitasi dan mengalir ke bawah secara perlahan-lahan seperti sungai dan mengikis permukaan tanah, membentuk daratan berbentuk cekung seperti sungai, danau, lembah, ngarai dan sebagainya. Fenomena gletser ini merupakan salah satu topik favorit saya dalam buku “Pustaka Alam LIFE: Gunung” yang selalu saya baca ketika kecil dulu. Sayangnya, saya belum sempat merasakan sensasi berjalan di atas gletser yang banyak dipromosikan oleh jasa-jasa tur di Norwegia. 😦

Dekat dengan penjelasan mengenai gletser itu terdapat semacam benda putih mirip es yang dipajang di dinding. Dugaan saya, benda itu adalah simulasi bentuk es yang ada di gletser. Saya terkejut ketika saya menyentuhnya dan mendapati bahwa benda itu dingin dan basah. Wah, es sungguhan ternyata! Kembali saya menjadi norak dan berkali-kali menyentuh es tersebut. Karena aneh, Pembaca, esnya tidak meleleh sama sekali. Malah lucu bagi saya, karena ada cap tangan di sana. Seseorang pasti iseng menempelkan tangan di es tersebut.

glasiologi

Contoh es gletser sebelum ada cap tangannya hehehe.. 😛 Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Berlalu dari es tersebut, saya menuju sebuah layar di tengah ruangan yang menampilkan semacam film singkat. Film itulah yang akhirnya menjawab pertanyaan saya. Ternyata, fjord adalah anaknya gletser yang sudah terbentuk sejak 25 juta tahun lalu. Fjord terbentuk dari gletser yang ketika meluncur ke bawah dengan lambat turut mengikis permukaan tanah yang berada di bawahnya. Proses ini berlangsung selama jutaan tahun hingga tanah terkikis bermeter-meter dalamnya. Suatu ketika. gletser yang telah mencair tersebut mengering, sehingga air laut menggenangi cekungan yang terbentuk dari erosinya. Lahirlah fjord, yang semakin mendekati laut semakin dangkal. Dari penjelasan itu, saya pun dapat menyimpulkan, bahwa air fjord tawar pada ujungnya dan semakin asin pada mulutnya yang dekat dengan laut ^^.

Di sebelah layar tersebut terdapat diorama berbentuk gua yang dapat kita masuki. Di dalam gua batu tersebut dipajang berbagai koleksi bebatuan dan mineral yang ditemukan di wilayah Hardangervidda. Menariknya, koleksi tersebut boleh disentuh, sehingga saya pun mengambil kesempatan tersebut untuk merasakan aneka permukaan batu yang berbeda. Batu-batuan yang banyak ditemukan di Hardangervidda antara lain konglomerat dan berbagai jenis marmer. Percaya atau tidak, batuan tertua yang ditemukan di Hardangervidda berusia 1100 dan 1700 juta tahun. Fosil-fosil batuan yang ditemukan menunjukkan bahwa dulu sekali dataran ini terletak di dasar laut dan Norwegia terletak di selatan khatulistiwa. Ini fakta paling mencengangkan yang saya pelajari di museum ini, Pembaca!

geologi

Diorama berbentuk gua dan contoh bebatuan yang bisa disentuh. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Selesai mengeksplor lantai satu, saya naik ke lantai tiga. Sebagian besar lantai tiga digunakan untuk memajang diorama-diorama ekologis yang berfokus pada keragaman flora dan fauna di Hardangervidda. Beberapa diorama dilengkapi dengan layar yang menampilkan kuis interaktif. Pertanyaan-pertanyaannya seputar habitat, makanan dan cara berkembang biak hewan-hewan yang ada di sana, misalnya burung hantu, rubah kutub dan kelinci salju. Ada juga informasi tentang jenis-jenis bunga yang tumbuh di Hardangervidda. Menarik sekali. Saya mengetahui dari koleksi-koleksi tersebut, bahwa dataran tinggi Hardangervidda adalah satu-satunya tempat di Norwegia yang terletak cukup jauh dari kutub tetapi memiliki keragaman satwa yang khas wilayah kutub, seperti rubah arktik.

Akhirnya, berakhirlah pelajaran geografi saya di Hardangervidda Natursenter. Secara teori, saya jadi tahu banyak tentang kondisi geografis di negara impian saya. Secara praktek, saya belum ada apa-apanya. Saya masih perlu banyak belajar (baca: menyaksikan secara langsung yang sudah dipelajari). Haha.. bilang aja mau jalan-jalan, ya? 😛 Dengan senang hati, saya turun ke lantai dua, mengamati peta area Hardangervidda dan melangkah keluar menuju kafe tempat orang tua Chris masih duduk dan asyik minum kopi.

13700220_10210487774137107_5545287188875557187_n.jpg

Kafe dan beberapa rumah di kota Øvre Eidfjord yang dikelilingi pegunungan cantik dan air terjun.

 

Sambil menunggu mereka, saya mengamati keadaan sekitar. Kota kecil tersebut, Øvre Eidfjord, bagi saya tampak seperti desa. Pada dasarnya tidak ada yang spesial di situ, selain karena pesona alam yang mengelilinginya. Saya pribadi tidak keberatan pindah ke sana, walaupun kabarnya kota kecil ini semakin ditinggalkan penduduknya. Hanya ada sekitar 100 sampai 200 orang yang masih mendiami kota tersebut. Sebagian besarnya orang-orang lanjut usia atau petani yang hidup dari turisme dan pertanian. Anak-anak mudanya sudah pergi ke kota-kota yang lebih besar mencari pekerjaan yang lebih baik. Kabar baiknya, Eidfjord baru kedatangan penduduk baru dari luar Norwegia. Beberapa orang dari Jerman dan Belanda baru saja pindah ke kota tersebut. Duh, saya jadi pengen juga nih, Pembaca 🙂 Tapi saya malah harus meninggalkan kota itu, karena perjalanan ke tempat bermalam selanjutnya masih sangat sangat panjang. Ikuti terus, ya! 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Hardangervidda Natursenter:

http://hardangerviddanatursenter.no/