Sebut Namaku di Geirangerfjord

Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Norwegia, saya sempat bertemu teman-teman dekat saya di kampus. Begitu mereka tahu bahwa saya akan pergi road trip dan melewati tempat-tempat yang super cantik, mereka langsung titip sesuatu. Titipannya bukan oleh-oleh dan bukan foto juga. Titipan agak aneh ini namanya titip sebut nama. Pertama kali muncul ketika salah satu dari teman-teman dalam “geng” saya itu berangkat ke Munich, Jerman mendahului yang lain karena menang kompetisi mengarang di Goethe-Institut. Kami semua tak percaya bahwa salah satu dari kami akhirnya berangkat ke Eropa, ke kota impiannya pula. Sebelum ia berangkat, kami semua memintanya untuk menyebut nama kami satu persatu di tempat-tempat yang khas Munich, terutama yang kita ngebet banget untuk kunjungi. Kita percaya bahwa sebut nama itu setara dengan doa agar orang yang kita sebut namanya akan tiba di tempat itu juga suatu hari nanti.

Sama seperti teman saya, saya pun kena titipan sebut nama ini. Kadang-kadang titipannya disampaikan lewat pesan Whatsapp atau komentar di foto Instagram ketika saya sudah berangkat. Jadilah daftar panjang nama yang harus saya hafalkan supaya tidak ada yang terlewat. Tempat sebut nama yang mereka pesan adalah Geirangerfjord, yang tidak jauh dari tempat saya menginap di akhir hari kedua perjalanan darat saya.

Boleh dibilang, kamar tempat saya bermalam ketika tiba di Geiranger adalah kamar sisa. Selain opsinya sebagai kamar di rumah privat yang sebetulnya nggak saya banget karena kurangnya privasi, dua kamar yang kami peroleh juga merupakan dua kamar yang tersisa di rumah tersebut. Total ada empat kamar yang disewakan oleh pasangan orang tua pemilik rumah itu. Sebelumnya, kamar-kamar di rumah berlantai tiga tersebut dihuni oleh anak-anak mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan pindah ke kota, orang tua mereka menyewakan kamar-kamar tersebut untuk turis yang berkunjung ke Geiranger.

Suasana menginap di rumah milik privat memang sangat berbeda dari hotel atau kabin. Tidak ada resepsionis, yang ada hanya sebuah buku tamu yang tergeletak di atas meja di depan pintu. Buku tamu ini harus diisi dengan data singkat penyewa, di antaranya nama, alamat dan nomor telepon. Pernah saya iseng membuka-buka buku tersebut karena penasaran siapa yang menginap di kamar-kamar tersebut. Ternyata, tamu-tamu yang menginap di sana datang dari mancanegara, bahkan negara-negara yang jauh seperti Kanada dan Australia.

Interior kamar memang terkesan seadanya dan tabrak warna. Persis seperti rumah sederhana. Hanya satu yang menyatukan semua gaya tersebut, kesan zaman dulu yang tentunya tidak mengherankan mengingat pemiliknya adalah pasangan manula. Saya mendapat kamar yang ukurannya cukup luas dengan tempat tidur queen size bersprei ungu tanpa corak. Di atas sprei tersebut dihamparkan penutup tempat tidur yang terbuat dari bahan rajutan. Di kamar tersebut ada meja dengan lampu tidur, meja dan kursi dekat jendela, lemari kecil, mesin pembuat kopi yang juga bisa dipakai merebus air, dan wastafel dengan air hangat dan dingin yang bisa dipakai untuk cuci muka dan gosok gigi. Lumayan banget ‘kan? Sementara untuk mandi disediakan dua buah kamar mandi yang dapat dipakai bergantian dengan tamu lain. Ukurannya terbilang sempit, namun dilengkapi air panas dan sangat bersih. 🙂

Akan tetapi, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya menyukai tempat itu. Pada pagi hari ketiga dalam perjalanan darat kami, saya terbangun cukup cepat untuk ukuran musim panas Norwegia. Kira-kira pukul 8 pagi, saya melangkah turun dari tempat tidur hendak membuka jendela untuk mengganti udara kamar. Begitu saya buka tirai berwarna krem yang menutupi jendela kaca besar khas rumah-rumah Skandinavia itu, saya menyadari bahwa hari tengah hujan. Tidak deras memang, hanya rintik-rintik seperti ketika saya tiba di tempat tersebut malam sebelumnya. Saya urung membuka jendela dan menunggu beberapa saat sambil menulis jurnal perjalanan.

Tak lama kemudian, hujan pun berhenti dan awan kabut yang tadinya menutupi pemandangan di luar menghilang perlahan. Saya kembali membuka tirai dan mendorong daun jendela. Astaga, bagusnya! Sebuah air terjun tampak mengalir jatuh dari tebing tak jauh dari kamar saya. Saya menggeser pandangan ke sebelah barat dan hanya dapat terpana menyaksikan apa yang saya lihat. Sebuah pelangi cantik yang tampak jelas melengkung indah di atas Geirangerfjord. Fjord biru tersebut masih saja sepi dari kapal-kapal turis, menambah keindahan panorama yang saya saksikan dari jendela kamar saya. Detik itu juga saya ingin tinggal di situ saja supaya bisa menyaksikan pemandangan semacam itu setiap pagi.

view hotel

Hotel di seberang jendela kamar saya.

view waterfall

Ada air terjun jauh di atas tebing.

rainbow geiranger

Pelangi di Geirangerfjord. Pengen gak sih lihat begini tiap bangun pagi?

Sayangnya, aktivitas menikmati pemandangan saya tidak dapat berlangsung lama, karena saya harus beranjak lagi untuk perjalanan berikutnya. Setelah mandi, bersiap-siap dan makan pagi, kami meninggalkan kamar bernuansa vintage tersebut untuk kembali berkendara menuju utara. Rute yang akan kami tempuh adalah salah satu rute turis nasional Norwegia yang terpopuler: Geiranger-Trollstigen.

Dari penginapan tersebut, kami menuruni jalan berkelok menuju Geirangerfjord dan melintasi jembatan yang di bawahnya mengalir jeram yang berasal dari air terjun yang saya lihat dari jendela tadi. Air terjun tersebut mengalir ke Geirangerfjord melalui sungai itu. Di kiri-kanan jalan banyak terdapat penginapan, kabin dan hotel aneka rupa dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Geiranger ini memang merupakan kota turis yang sangat populer. Siapa coba yang tidak tertarik menyaksikan keindahan fjord yang masuk dalam daftar UNESCO World’s Heritage List ini?

Geirangerfjord, bersama dengan Nærøyfjord memang bertengger di daftar warisan budaya dunia versi UNESCO. Tentu alasannya bukan hanya sekedar karena keindahannya. Menurut situs resmi UNESCO, kedua fjord di barat Norwegia tersebut berhasil masuk dalam daftar karena bentuknya yang paling menyerupai model fjord zaman purba dan masih menunjukkan proses geologi pembentukan fjord hingga kini. Benar saja lho, kabarnya, tebing-tebing pegunungan setinggi kurang lebih 1400 m yang mengapit Geirangerfjord masih mengalami pergeseran setiap tahunnya. Jika pergeseran yang terjadi cukup besar, hal tersebut berpotensi menimbulkan runtuhnya bebatuan gunung atau bahkan sebagian tubuh gunung ke fjord berkedalaman kira-kira 500 m itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Tsunami besar yang akan menghantam kota turis Geiranger, seperti yang menjadi inspirasi cerita film Norwegia berjudul Bølgen atau The Wave dalam versi Inggrisnya. Aduh, seramnya! Memang tidak ada ya, tempat di dunia ini yang sungguh-sungguh aman.

Selain karena struktur dan kenampakannya, Geirangerfjord juga terdaftar sebagai situs warisan budaya dunia karena lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Penduduk desa-desa di sepanjang Geirangerfjord mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak serta berbicara dalam dialek Sunnmøre, yang kalau kata Chris merupakan dialek terindah di Norwegia. Nah, peternakan dan pertanian mereka ini kadang-kadang dibangun jauh di atas tebing-tebing yang hanya dapat dicapai dengan mendaki atau berjalan kaki. Beberapa kompleks pertanian ini sekarang sudah ditinggalkan dan berubah jadi tujuan wisata yang aksesnya sangat terbatas. Sayangnya, saya belum sempat lihat langsung peternakan-peternakan di tebing ini.

Ketika saya tiba di kota Geiranger, sebuah kapal pesiar besar berwarna putih tampak sedang berlabuh. Dari namanya, kapal tersebut tampaknya merupakan kapal turis dari Italia. Ia membunyikan klaksonnya berulang-ulang hingga suaranya bergema ketika menyentuh tebing-tebing fjord yang saya tanjaki. Sebetulnya, pada awalnya saya berpikir bahwa saya akan punya kesempatan untuk berlayar di Geirangerfjord dan nggak cuma sekedar menyeberang dengan feri saja. Tentu saja hal tersebut tidak terjadi. Mobil kami justru semakin menanjaki tebing menjauhi Geiranger. Saya pun jadi kecewa karena saya pikir saya hanya akan numpang lewat saja di fjord terindah di Norwegia tersebut.

Beberapa saat setelah melewati beberapa tikungan di tebing tersebut, saya melihat keramaian di sebuah sudut jalan. Rupanya ada sebuah teras pandang untuk menikmati panorama Geirangerfjord dari atas. Woohoo!! Begitu mendapat izin keluar, saya langsung lompat dari mobil dan menyeberang jalan menuju teras pandang tersebut. Suara gemericik air dari air terjun kecil di dekat teras pandang itu segera menyambut saya. Teras pandang tersebut bernama Ørnesvingen atau Tikungan Elang, karena letaknya yang memang di tikungan kesebelas di tebing tersebut dan memungkinkan kita menyaksikan keindahan Geirangerfjord dari perspektif elang alias dari atas. Tepat di bawah teras pandang yang beberapa bagiannya terbuat dari kaca tersebut, mengalir sungai kecil yang merupakan sambungan dari air terjun yang menyambut saya tadi.

white cruise ship

Geirangerfjord dan kapal pesiar tampak dari Ørnesvingen.

ab3b516e727be1a4504792f0500488a1

Air terjun yang mengalir melalui kaca-kaca di Ørnesvingen. Arsitektur yang keren ini karya perusahaan arsitektur 3RW – Sixten Rahlff. Sumber: http://www.nasjonaleturistveger.no/

Dari teras pandang tersebut, saya dapat melihat kota Geiranger di sebelah timur yang tampak kecil. Kapal pesiar Italia tadi juga masih berlabuh pada tempatnya. Sementara itu, di sebelah kanan, agak jauh dekat kelokan pertama di Geirangerfjord, tampak air terjun yang sangat terkenal, yaitu De Sju Søstre. Mungkin Pembaca sering mendengarnya dengan nama Seven Sisters Waterfall. Air terjun ini merupakan air terjun dengan tujuh aliran yang jaraknya sangat berdekatan dan merupakan salah satu highlight dari tur di Geirangerfjord dengan menggunakan kapal.

seven sisters 3

Seven Sisters Waterfall dekat kelokan di Geirangerfjord.

seven sisters detail

Seven Sisters Waterfall (close up)

Setelah mengabadikan panorama yang khas gambar kartu pos tersebut, saya menyepi di sudut yang mendekati air terjun terkenal itu. Selagi tidak banyak orang, saya mengeluarkan daftar nama-nama di otak saya dan mulai menyebut satu persatu nama teman saya yang sudah titip sebut nama. Pertama-tama, dua nama teman saya yang sama-sama penyuka abad pertengahan dan Skandinavia, kemudian teman saya yang memperkenalkan saya pada negara-negara Skandinavia, adik saya, teman saya yang lain dan begitu seterusnya sampai nama-nama itu kesebut semua. Mudah-mudahan suatu hari nanti kalian bisa berdiri di teras pandang ini ya, teman-teman dan Pembaca sekalian yang namanya tidak bisa saya sebut satu persatu. 🙂

me and seven sisters

Numpang narsis sebelum perjalanan berlanjut lagi 🙂 hehehe…

Selesai dengan ritual sebut nama, saya menghampiri Chris yang rupanya sibuk membuat beberapa foto dalam berbagai mode dan filter dengan kamera DSLR-nya. Selanjutnya, kami kembali menyeberang jalan menuju mobil yang terparkir untuk melanjutkan perjalanan di rute Geiranger-Trollstigen yang akan semakin seru tentunya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi turisme Norwegia yang berisi tujuan-tujuan wisata dari seluruh Norwegia beserta tips-tips yang berguna:

https://www.visitnorway.com/

Website resmi turisme di Geiranger dan area sekitarnya:

http://www.visitalesund-geiranger.com/en/

Tentang teras pandang Ørnesvingen di Geiranger:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=%C3%98rnesvingen

 

 

Menuju Geiranger: Fjord, Danau dan Terowongan Terpanjang di Dunia

Berbeda dari banyak orang lainnya, saya nggak mau jalan-jalan ke tujuan-tujuan wisata dan cuma main jepret kamera. Apalagi kalau isinya muka saya semua. Saya senang belajar, terlebih lagi mengetahui fakta-fakta unik tentang suatu tempat. Kalau bisa nggak cuma yang diberi tahu oleh pemandu wisata. Maka dari itu, maklum-maklum saja ya, Pembaca, kalau foto-foto yang bertebaran di blog ini kurang bagus atau banyak yang mencong. Saya memang tidak terlalu fokus dengan jepretan foto, terutama kalau sedang di tempat bagus. Kamera terbaik adalah mata kita, bukan begitu Pembaca?

Omong-omong soal mata adalah kamera, kira-kira itulah bekal saya di 11 jam perjalanan berikutnya bersama dengan pelajaran geografi yang telah saya refresh di otak saya di Hardangervidda Natursenter. Dalam 11 jam yang sama sekali tidak singkat ini, mobil kami akan menempuh jarak kurang lebih 377 km ke utara, melewati kenampakan alam seperti yang telah saya pelajari di museum tersebut. Akhirnya, saya nggak cuma belajar teori tapi praktik juga 😀 Tapi, sudah tentu ada bedanya menggunakan kamera sungguhan dan mata sendiri. Kamera sungguhan punya memori, mata kita bisa menipu. Alhasil, saya pun harus mengakui bahwa ini adalah tulisan tersulit yang saya hasilkan dari seluruh perjalanan saya. Dengan jalan yang begitu panjang dan kenampakan alam yang mirip atau serupa berulang-ulang di depan mata saya, berulang kali saya harus memutar otak untuk mengingat rute yang benar yang saya lalui dalam perjalanan tersebut. Waduh, saya jadi banyak mengoceh nih. Langsung aja dimulai cerita selanjutnya yah..

Setelah berhenti beberapa saat di Øvre Eidfjord, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Eidfjord yang terletak di tepi Hardangerfjord, salah satu fjord yang terkenal di Norwegia. Melihat fjord yang biru tersebut, saya kini dapat membayangkan, bahwa ujung yang terletak dekat kota Eidfjord tersebut pasti sangat dalam, karena Eidfjord adalah kota di tepi Hardangerfjord yang paling jauh dari laut.

hardanger

Hardangerfjord

Dari Rv 7, saya berbelok ke Rv 13 melalui sebuah terowongan yang berujung pada sebuah jembatan panjang bernama Hardangerbrua. Hardangerbrua membentang di atas Hardangerfjord dan merupakan salah satu jembatan terpanjang di dunia. Sudah sejak lama saya ingin menyaksikan Hardangerfjord dari jembatan ini. Sayang sekali, ruang bagi kendaraan cukup sempit sehingga meskipun jembatan ini dilengkapi dengan jalur sepeda dan pejalan kaki, saya tidak bisa menepi sembarangan untuk turun dan mengambil foto. 😦 Padahal, dulu saya sering iseng menggunakan fitur street view Google Maps dan menjatuhkan kursor berbentuk orang-orangan di atas jembatan ini, hanya untuk mengagumi pemandangannya dari layar komputer saya. Jembatan ini menghubungkan terowongan Bu dengan terowongan Vallavik. Sebetulnya, dekat dengan terowongan Bu ada tempat parkir apabila kita ingin berjalan kaki di sepanjang Hardangerbrua. Kami tidak mengambil kesempatan tersebut mengingat perjalanan yang masih begitu panjang. Akhirnya, saya (terpaksa) membuat permohonan lagi dalam hati, agar suatu hari dapat berjalan melintasi jembatan tersebut.

en.hardangerfjord.com

Hardangerbrua dan zona pejalan kakinya. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

en.hardangerfjord.com.jpg2

Hardangerfjord yang cantik dilihat dari Hardangerbrua. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

Terowongan Vallavik (Vallaviktunnelen) ini panjangnya 7,51 km. Bisa dibilang inilah pertama kalinya saya memasuki terowongan yang demikian panjang. Jangan kaget dulu, Pembaca, karena nanti saya akan ketemu dengan yang lebih panjang lagi. 😛 Terowongan Vallavik memiliki sebuah bundaran bercabang tiga di dalamnya yang masing-masing mengantar kita ke sisi gunung yang berbeda. Jalur yang saya ambil menembus gunung hingga ke tepi sebuah danau bernama Granvinsvatnet dekat kota Granvin, Hordaland. Berkendara menyusuri danau itu, saya berjalan terus menuju sebuah kota cantik bernama Vossevangen atau sering juga disebut dengan Voss. Kami berhenti sebentar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kota ini untuk membeli makanan ringan untuk bekal di perjalanan.

Saya mengikuti jalan bernama Strandavegen di Rute E16 dari Voss. Di sebelah kiri saya tersebar rumah-rumah bergaya tradisional Norwegia di lereng gunung, sedangkan di kiri saya adalah Sungai Strandaelvi. Beberapa kilometer ke arah utara, mobil kami melalui sebuah air terjun di tepi jalan. Air terjun tersebut, Tvindefoss, betul-betul terletak di tepi jalan dan hanya dipisahkan oleh kompleks camping dan berseberangan dengan Sungai Strandaelvi. Di sekitar Tvindefoss ini terdapat banyak area rekreasi untuk aneka kegiatan seperti memancing dan arung jeram. Air terjun tersebut sendiri memiliki ketinggian 120 m tetapi jatuhannya yang mengalir turun melalui tebing batu membuatnya tampak seperti selendang putih.

tvindefoss

Tvindefoss di tepi jalan.

Terus berkendara di Rute E16, saya melalui kota Gudvangen dan Flåm. Dua kota kecil ini terletak di tepi dua fjord yang merupakan anak dari Sognefjord. Sognefjord adalah fjord yang serba “ter-” di Norwegia, yaitu terdalam, terlebar dan terpanjang. Gudvangen ada di ujung Naerøyfjord sedangkan Flåm ada di ujung Aurlandsfjord. Saya mengetahui tentang keindahan dua kota dan fjord ini melalui salah satu buku favorit saya, “Scandinavian Explorer” karangan Asanti Astari.

11543323

Buku yang sangat saya rekomendasikan buat yang tertarik ke Skandinavia 🙂 Sumber: http://www.goodreads.com/

Menurut buku itu juga, Gudvangen dan Flåm adalah dua kota yang akan dilalui jika kita mengikuti tur singkat “Norway in a Nutshell” dari Bergen ke Oslo. Dengan tur yang super populer tersebut, kalian sudah dapat melihat poin-poin penting dari alam Norwegia seperti fjord, air terjun, kota tua dan pegunungan. Dalam paket tur itu, para peserta bisa berlayar dari Gudvangen ke Flåm melalui kedua fjord tersebut dengan kapal. Serius, waktu baca bukunya saya pengen banget. Sayangnya ketika saya berkesempatan untuk berada di kota tersebut, saya cuma numpang lewat. 😦

 

Ya, namanya juga road trip pasti bakal banyak tempat yang cuma numpang dilewati. Sambil bikin permohonan lagi supaya bisa ikut Norway in a Nutshell suatu hari, saya melanjutkan perjalanan menuju Lærdal. Untuk mencapai kota tersebut dari tepi Aurlandsfjord, saya harus memasuki terowongan yang panjangnya tak terdeskripsikan lagi. Dua puluh empat setengah kilo, Pembaca! 24,5 km! Nggak tanggung-tanggung lagi, terowongan Lærdal (Lærdaltunnelen) ini langsung menyandang nama sebagai terowongan darat terpanjang di dunia. Padahal, terowongan nomor dua terpanjang yang ada di Swiss “hanya” 16 km. Kalau terowongan Vallavik yang saya lewati sebelumnya itu menembus gunung, terowongan ini pasti menembus pegunungan. Saya sempat jatuh tertidur dalam proses menembus pegunungan tersebut. Parahnya lagi, ketika saya bangun, saya masih berada di dalam terowongan itu. Kebayang ‘kan panjangnya? Berasa naik mobil dari Jakarta Pusat sampai Depok.

europe-norway-facts-worlds-longest-tunnel-laerdals-tunnel_outside_dsc05697

Lærdaltunnelen. Sumber: http://www.bergen-guide.com/

lc3a6rdalstunnelen_norway

Dalamnya terowongan terpanjang di dunia. Sumber: http://en.wikipedia.org/

Untunglah terowongan mahapanjang ini masih ada ujungnya. Betapa bahagianya saya ketika melihat cahaya di ujung dan pegunungan hijau kembali menyambut saya. Saya pun tiba di Lærdal dengan selamat tanpa keruntuhan bebatuan gunung maupun terjebak dalam terowongan karena hal lain. Setelah beberapa saat menempuh jalan yang diapit lembah hijau dan satu terowongan lagi, saya tiba di tepi Sognefjord yang entah sisi sebelah mananya lagi.

Fjord ini adalah fjord keempat yang saya lihat selama perjalanan ini. Tenang saja, Pembaca, saya tidak akan muntah karena bosan. Saya justru suka dengan pemandangan fjord yang tidak ada di negara saya ini. Belum lagi, kali ini saya punya cara berbeda untuk menikmatinya. Tidak dengan berkendara melipir di sisinya, tidak juga lewat jembatan panjang. Saya akan berlayar menyeberangi Sognefjord. Woohoo!! Girangnya saya mendengar adanya kesempatan berlayar di fjord meskipun cuma 20 menit.

Prosesnya tidak jauh berbeda dengan naik feri. Pertama-tama mengantri di depan pintu kapal, membayar tiket kemudian masuk dan parkir di lantai dasar. Selanjutnya, saya diperbolehkan turun dan berjalan-jalan ke dek atas maupun minum kopi di kafe kapal sampai kapal merapat di seberang. Tentu saja saya memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati pemandangan fjord terbesar di Norwegia itu sambil mencari udara segar. Rasa lelah akibat duduk berjam-jam di mobil segera terobati ketika saya berdiri di dek dan merekam sedikit perjalanan menyeberangi Sognefjord yang singkat namun tak terlupakan dengan kamera saya.

sognefjord with ferry

Menyeberangi Sognefjord

sognefjord

Dalam waktu singkat, kapal merapat di sisi utara fjord terpanjang di Norwegia tersebut. Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke utara sambil mulai tengak-tengok kiri kanan mencari restoran buka. Setelah berjam-jam, perut saya pun menyerah dan minta diisi makanan selain keripik atau snack-snack ringan lainnya. Jujur saja, mencari makanan di Norwegia itu sampai sekarang masih jadi masalah saya. Bukan karena saya alergi dengan makanan Skandinavia atau terlalu tawar dan lain-lain. Kalau lapar, makanan dingin pun akan saya santap. Masalahnya, mencari restoran di Norwegia dengan menu yang variatif dan harga yang terjangkau itu seperti mencari rusa kutub di gurun sahara. Karena (nyaris) tidak mungkin, kami mencari alternatif, seperti membawa bekal sendiri atau terpaksa makan makanan junk food.

Beberapa kali makan makanan buatan sendiri yang tentu saja terdiri dari smørbrød, lidah kami ingin sesuatu yang lain. Berhentilah kami di sebuah kota di salah satu cabang fjord yang lain bernama Sogndalfjøra. Tadinya, kami bermaksud mencari makanan Asia, yang ternyata hanya ada minimarketnya tanpa restoran. Setelah mondar-mandir di jalan yang sama, kami berhenti di sebuah restoran bernama Den Gamle Nabo. Begitu masuk, tampak interior yang mengesankan bahwa restoran tersebut adalah restoran mewah. Lain kesannya setelah saya duduk dan membuka menu makanan. Ujung-ujungnya isinya burger dan kebab juga. Memang bukan junk food sih, karena dimasaknya saja lama sekali dan bukan makanan cepat saji, tapi tetap saja saya bosan dengan sandwich, burger dan teman-temannya itu. Hiks 😥 Sekedar info, menurut saya restoran ini nggak terlalu recommended. Selain makanannya yang lama datangnya, rasanya terbilang biasa saja dan harganya agak overpriced.

Kami meninggalkan restoran itu dan Sogndalfjøra di bawah awan mendung dan gerimis. Meskipun demikian, sinar matahari tetap dapat menembus awan tersebut, membuat hari tetap terang untuk melanjutkan perjalanan. Kami melalui Rv 5 dan terus menuju ke utara. Setelah lembah dan gunung serta jalanan berkelok-kelok, kami mendekati taman nasional lagi. Jostedalbreen Nasjonalpark, taman nasional itu, adalah rumah dari gletser terbesar yang ada di daratan Eropa. Luas total dari gletsernya sendiri adalah 487 km persegi. Sama seperti Sognefjord, gletser ini pun memiliki cabang-cabang. Pelajaran geografi di Hardangervidda Natursenter membantu saya membayangkan, bahwa pada zaman es dulu, Sognefjord dan anak-anaknya pun menjadi bagian dari gletser raksasa ini.

boyabreen

Bøyabreen, salah satu anak gletser dari Jostedalbreen.

Kalau dilihat dari atas lewat peta Google, gletser ini tampak seperti tangan putih besar yang jari-jarinya menjulur ke berbagai arah. Salah satu jari tersebut, Bøyabreen, menjulur ke arah kota Fjærland dan tampak dari Rv 5 yang saya lalui. Wow, ternyata ukurannya cukup besar meski hanya cabang dari gletser utama. Untuk mencapai gletser ini, ada belokan kecil ke kanan dari jalan raya utama. Di sisi jalan tersebut terdapat kabin dan area berkemah. Kalau mengikuti jalan tersebut, kita akan tiba di sebuah danau kecil di kaki gletser tersebut. Tentu saja saya tidak mampir ke danau maupun gletser tersebut (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu. Sekedar informasi, gletser-gletser ini, betapa pun indahnya, sedang terancam kehancuran akibat pemanasan global. Ukuran mereka semakin menyusut setiap tahunnya karena es abadi yang ada pada mereka mencair perlahan-lahan.

Bagaimana, Pembaca? Sudah lelah mengikuti cerita saya? Tenang saja, kita sudah setengah jalan, kok. Kalau lihat gambar-gambar yang ada mungkin bisa sedikit mengurangi rasa lelah. Hehehe 😛 Lewat dari Bøyabreen, saya melalui beberapa terowongan pendek dan tiba di kota Skei. Setelah bundaran, saya mengambil jalan ke arah utara melewati jalur E39. Lagi-lagi jalur Eropa. Jalur E39 berkelok-kelok melewati beberapa danau di kiri-kanan, menanjak di dekat Byrkjelo dan turun ke kota Utvik yang terletak di tepi sebuah fjord. *terdengar suara gubrak dari bangku pembaca* Cape deh..

Fjord yang kali ini tidak panjang dan besar seperti Sognefjord. Namanya adalah Innvikfjord dan merupakan cabang bagian dalam dari Nordfjord yang terletak dekat laut. Begitu banyaknya fjord di negara ini, saya sampai berpikir jangan-jangan waktu Tuhan menciptakan Norwegia, Dia tinggal copy paste edit edit lagi. Hahahaa..  Duh, kan saya jadi melantur. Di Innvikfjord ini (sialnya) tidak ada jembatan maupun jasa penyeberangan feri. Alhasil kami pun harus memutari lewat tepiannya untuk mencapai kota Stryn di seberang. By the way, kota Stryn ini cantik sekali lho. Ketika saya tiba di sana, matahari bersinar cerah sekali meski hari sudah menjelang senja. Stryn menjadi tampak seperti resor musim panas yang diapit laut (fjord) dan dipunggungi pegunungan. Tak jauh dari tepi fjord banyak terdapat trailer-trailer para wisatawan dan kabin-kabin liburan yang menandakan bahwa kota ini memang tempat wisata yang populer.

xxxxxstryn

Stryn di tepi fjord dan kaki gunung. Sumber: http://www.morenytt.no/

Jalan kembali menanjak ke arah pegunungan yang melatari kota tersebut. Di samping saya, sungai Stryneelva berkelok-kelok dengan cantik, membawa air jernih dari pegunungan hingga turun ke fjord. Agak di atas, saya bertemu dengan danau lagi yang menjadi sumber air bagi Innvikfjord, yaitu Oppstrynsvatnet. Di tepi danau tersebut terdapat Pusat Pengunjung Taman Nasional Jostedalbreen (Jostedalbreen Nasjonalparksenter). Stryn dan kakaknya yang terletak agak di atas, Oppstryn, memang menjadi start awal bagi para petualang yang ingin mendaki gletser-gletser Jostedal karena letaknya yang memang dekat.

Saya terus melanjutkan perjalanan semakin naik ke pegunungan. Perjalanan mendaki gunung tersebut dibantu oleh terowongan-terowongan yang mempersingkat waktu. Tahu-tahu saya sudah pindah provinsi dari Sogn og Fjordane ke Oppdal. Begitu keluar dari terowongan terakhir, di samping saya terbentang danau yang panjang. Nama danau itu, Langvatnet, betul-betul berarti Danau Panjang. Tidak jauh berkendara menyusuri danau tersebut, ada lagi danau yang namanya Danau Dalam alias Djupvatnet. Saya mulai berpikir, jangan-jangan saking banyaknya danau, orang Norwegia kehabisan nama untuk menamai mereka. Terbukti ada beberapa danau dengan nama yang sama kalau kita niat banget meneliti setiap peta provinsi di Norwegia. Djupvatnet terletak di provinsi yang berbeda lagi, namanya More og Romsdal. Ternyata ada perbatasan tiga provinsi di atas pegunungan tersebut.

djupvatnet

Djupvatnet dikelilingi pegunungan bersalju.

Puncak pegunungan tersebut masih banyak yang tertutup salju. Beberapa bagian tampak seperti daerah kutub utara atau Svalbard, kepulauan di utara Norwegia tempat kediaman beruang kutub. Dari jauh, ketika saya baru saja keluar dari terowongan, tempat tersebut tampaknya sepi. Tidak ada tetumbuhan yang terlihat selain lumut tundra. Hanya ada beberapa mobil yang melintas. Saya nyaris yakin bahwa tempat tersebut tidak berpenghuni dan sangat antah-berantah di puncak gunung, sampai saya melihat sebuah bangunan dari kayu yang ternyata kabin dan penginapan. Astaga! Benar-benar ya orang-orang utara ini, mencari personal space sampai ke puncak gunung yang dingin begini!

Sebuah papan informasi di pinggir jalan memberi tahu saya bahwa tempat yang saya lalui berketinggian  1.030 m.d.p.l., lebih tinggi dari Hardangervidda. Tidak jauh dari penginapan tersebut, terdapat papan penunjuk arah dan jalan kecil yang menanjak. Jalan tersebut, mengarah ke puncak tertinggi di dekat situ, Dalsnibba, dengan ketinggian 1.476 m.d.p.l. Karena diburu waktu, kami tidak mengambil jalan tersebut melainkan turun menuju lembah. Mengikuti Rv 63, kami berhenti di sebuah titik pandang yang terletak di pinggir jalan. Dari tepi jalan yang tanpa pagar pembatas tersebut, saya berdiri dan menyaksikan keindahan panorama lembah yang berkelok di bawah. Pegunungan bersalju di kejauhan membingkai lembah hijau tersebut. Dari tebing-tebing di kiri kanan lembah, saya dapat melihat air terjun-air terjun kecil hasil lelehan salju di puncak gunung. Sungguh pemandangan yang bisa mencuri nafas saking bagusnya.

13707610_10210497256414158_560097613247220246_n

Pemandangan lembah dari viewing point di ketinggian 1.030 m.d.p.l.

Dari tempat itu, saya dapat melihat hasil dari proses pembentukan alam yang saya pelajari di Hardangervidda Natursenter. Danau-danau di puncak gunung tadi, seperti Langvatnet dan Djupvatnet adalah danau yang menampung air hujan atau lelehan salju. Danau tersebut mengalir menjadi air terjun kecil melalui tebing-tebing dan jatuh ke aliran sungai di lembah. Aliran sungai yang berkelok tersebut kemudian berlanjut ke fjord. Fjord terus mengalir hingga ke laut. Menakjubkan, bukan? Semua teori yang saya pelajari jadi nyata di depan mata. 🙂

Setelah menikmati pemandangan dan meluruskan kaki beberapa menit, kami berjalan lagi menuju lembah, kali ini dengan sebuah tujuan: mencari tempat bermalam. Kebetulan, mayoritas tim roadtrip kami adalah procrascinator yang senang mencari di detik-detik terakhir menjelang tengah malam. Tentu saja hal tersebut berdampak buruk, karena beberapa penginapan di sepanjang jalan menuju lembah sudah penuh. Maklum saja, karena saya memang semakin mendekati salah satu tujuan wisata terfavorit di Norwegia. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil kamar kosong apapun yang kami temukan setelah itu.

Di sebuah belokan dekat Hotel Utsikten, mata kami menangkap sebuah papan yang dipasang di pinggir jalan yang menginformasikan adanya kamar kosong. Tentu bukan kamar di hotel tersebut, melainkan kamar di sebuah rumah milik pasangan manula yang terletak di seberang hotel. Rumah tersebut bergaya jadul mengikuti pemiliknya, bahkan cara pembayaran sewa kamar pun sudah lanjut usia. Ketika mayoritas penduduk Norwegia sudah cashless, pasangan ini justru menagih bayar sewa dengan uang kontan. Alhasil, orang tua Chris harus mencari ATM di kota terdekat.

Sementara mereka pergi, saya dibiarkan turun dan menikmati pemandangan. Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun seperti biasa langit masih terang benderang. Bahkan langit lebih terang dari malam sebelumnya karena lokasi saya berada jauh lebih di utara. Dengan semangat, saya melipir di tepi jalan raya, mencari tempat yang lebih terbuka dan tidak tertutup pepohonan. Setelah menemukan tempat terbaik, saya berhenti. Dibatasi oleh pagar pembatas jalan, jauh di bawah sana tepat di depan mata saya, terbentang perhentian terakhir perjalanan darat hari kedua: Geirangerfjord. Karena hari telah larut, perairan tersebut sangat kosong. Tak satu pun kapal pesiar para turis yang tampak seperti pada gambar-gambar dalam kartu pos. Sebuah air terjun yang deras tampak jatuh dari pegunungan di belakang saya. Airnya mengalir melalui jeram-jeram kecil menuju fjord yang indah tersebut.

geirangerfjord

Geirangerfjord dari pinggir jalan, dekat tempat saya menginap pada pukul 23.00

Apakah saya bosan dengan fjord? Tidak sama sekali. Saya bahkan berdiri di titik tersebut, memandangi Geirangerfjord selama bermenit-menit sampai mobil kembali. Entah berapa fjord telah saya lewati sejak dari Eidfjord. Konon katanya, jika kita berkendara dari Kristiansand (kota di selatan Norwegia) sampai Trondheim, kita harus menyeberang 8 fjord dan memakan waktu 22 jam. Saya tidak bertemu fjord sebanyak itu, tapi saya rasa cukup sering untuk membuat hal tersebut tidak istimewa lagi. Tidak seperti itu sih kalau bagi saya. Tidak percaya? Kalau kata slogan sebuah perusahaan pelayaran di fjord bernama Fjord Norway, you have to be here to believe it – kamu harus berada di sini untuk percaya.:)

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Informasi tentang Hardangerfjord dan jembatannya:

http://en.hardangerfjord.com/ullensvang/things-to-do/hardanger-bridge-on-foot-or-on-wheels-p1083353

Tvindefoss dan area perkemahan di sekitarnya:

http://www.tvinde.no/

Salah satu perusahaan pelayaran untuk wisata fjord:

http://www.fjordnorway.com/

Paket tur yang saya sebut-sebut di atas dan selalu bikin saya pengen:

https://www.norwaynutshell.com/original-norway-in-a-nutshell/

 

Apakah Air Fjord Asin atau Tawar?

Bertahun lamanya saya punya pertanyaan ini di kepala saya. Kebetulan saya belum pernah sungguh-sungguh berdiri di tepi fjord dan mencicipi airnya. Jadi, bagaimana saya bisa tahu jawaban pertanyaan yang super nggak penting itu? Ditambah lagi, dua hari petualangan menyaksikan panorama alam Norwegia semakin menambah pertanyaan-pertanyaan di otak saya yang selalu haus pengetahuan. Saya boleh berbahagia, karena tidak lama setelah saya meninggalkan Vøringfossen, saya segera mendapatkan jawabannya. Woohoo!! 🙂

Meninggalkan lahan parkir dekat titik pandang kedua di Vøringfossen, mobil kami bergerak menuruni gunung menuju lembah Måbødalen di bawah. Pemandangan alam yang hijau berulang kali lenyap setiap kali mobil kami memasuki terowongan. Dugaan saya, mungkin ada ribuan terowongan di Norwegia. Beberapa di antaranya saya lalui dalam perjalanan menuju ke lembah. Terowongan-terowongan ini berbeda dengan yang pernah saya lalui di Indonesia, tempat kebanyakan terowongan hanya melintas di bawah jalan layang atau rel kereta api. Terowongan di Norwegia betul-betul menembus gunung, sehingga ketika saya masuk dari satu sisi dinding gunung, di ujung terowongan saya bisa tiba di sisi sebaliknya dengan pemandangan yang sama sekali berbeda. Pada umumnya, terowongan-terowongan di Norwegia sangat panjang. Misalnya terowongan yang saya lalui di daerah tersebut, saya lalui dalam waktu 3 menit. Namanya saja menembus gunung hehehe..

Setelah melewati beberapa terowongan, tibalah saya di kaki pegunungan tempat sebuah kota (atau desa?) bernama Øvre Eidfjord terletak. Daerah ini sebetulnya merupakan bagian yang lebih tinggi dari kota Eidfjord yang sebelumnya saya sebut. Berhubung orang tua Chris ingin beristirahat dan duduk-duduk mengopi, kami berhenti di sebuah bangunan semacam museum yang berwarna merah. Di seberang bangunan itu adalah sebuah toko suvenir dan kafe yang menjual aneka makanan dan minuman yang bervariasi. Karena saya dan Chris tidak lapar dan tidak suka kopi, berpencarlah tim lintas alam kami. Orang tuanya beranjak ke kafe, sedangkan kami menuju museum.

Museum tersebut adalah Hardangervidda Natursenter, yang memajang berbagai koleksi interaktif mengenai kondisi alam yang tersebar di wilayah Taman Nasional Hardangervidda. Museum berlantai tiga tersebut menyajikan berbagai pengetahuan mengenai keadaan biologis, ekologis, dan geografis wilayah tersebut dengan cara yang sangat menarik. Museum ini buka dari tanggal 20 Maret sampai 31 Oktober, mulai pukul 10.00 sampai 18.00. Khusus tanggal 15 Juni sampai 20 Agustus atau high season, mereka buka sejak pukul 09.00 sampai 19.00. Setelah membeli tiket seharga 130 NOK per orang, saya dan pacar saya memulai eksplorasi di museum tersebut.

13754293_10210487774017104_8079086022493348786_n

Hardangervidda Natursenter

 

Rute yang saya pilih untuk berkeliling di museum tersebut agak aneh. Kebanyakan orang memulai dengan menonton tayangan film pengetahuan alam yang menunjukkan panorama di Hardangervidda. Akan tetapi, saya terpaksa harus melewatkan film tersebut karena ketika saya masuk, film tersebut sudah dimulai. Tidak mau mengganggu yang lain, saya pun memutuskan untuk berkeliling. Pertama-tama, saya memulai dari lantai dua (yaitu tempat loket pembelian tiket berada), kemudian turun ke lantai satu dan kembali naik ke lantai tiga.

Di lantai dua terdapat koleksi rusa kutub dalam berbagai ukuran yang diawetkan dan dipajang sebagai diorama. Diorama tersebut menunjukkan bagaimana penduduk dari zaman batu telah mendiami wilayah Hardangervidda karena mengikuti migrasi rusa kutub untuk mata pencaharian mereka. Dari situ pula saya baru tahu bahwa rusa kutub adalah satu-satunya jenis rusa yang setara secara biologis. Eh? Maksudnya? Ya, karena mereka sama-sama punya tanduk.

natursenteret_reinsdyr-forfra.jpg

Diorama migrasi rusa kutub. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Di lantai yang sama, terdapat simulasi runtuhnya bebatuan gunung yang merupakan salah satu hal yang sering terjadi di lereng gunung. Simulasi ini dilengkapi dengan suara yang menyerupai runtuhan gunung. Di pojok belakang kiri terdapat diorama beberapa jenis burung yang hidup di Taman Nasional Hardangervidda. Selain itu, hal yang menarik bagi saya adalah miniatur gunung berapi dan berbagai jenis bentuk letusannya yang bersifat interaktif. Jika kita menekan tombol yang ada di kotak pelindungnya, kita akan menyaksikan simulasi letusan dan lelehan lava yang menarik. Saya jadi ingat pelajaran geografi saya di SMA. 🙂

Dari lantai dua, saya turun ke lantai satu. Segera saya disambut dengan akuarium besar yang mengoleksi beberapa jenis ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Di samping akuarium tersebut, terdapat diorama suasana hutan dengan patung seorang pemburu dari abad pertengahan bernama Ottar. Diorama ini pun bersifat interaktif. Ottar dapat menjelaskan mengenai kehidupan di dataran tinggi pegunungan dari berbagai masa. Serasa didongengi deh!

akvarium_fisk

Salah satu ikan yang hidup di perairan Hardangervidda. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Tak jauh dari kedua diorama tersebut, terdapat koleksi glasiologi. Glasiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gletser, yang memang banyak terdapat di Norwegia. Ayo, siapa yang masih ingat apakah gletser itu? 🙂 Sebetulnya saya juga tidak ingat sampai ketika saya membaca lagi di Hardangervidda Natursenter 😛 Jadi intinya, gletser adalah endapan es yang terbentuk karena tumpukan salju yang turun terus menerus, biasanya di daerah kutub atau di puncak gunung yang sangat tinggi. Es yang semakin berat akan tertarik gravitasi dan mengalir ke bawah secara perlahan-lahan seperti sungai dan mengikis permukaan tanah, membentuk daratan berbentuk cekung seperti sungai, danau, lembah, ngarai dan sebagainya. Fenomena gletser ini merupakan salah satu topik favorit saya dalam buku “Pustaka Alam LIFE: Gunung” yang selalu saya baca ketika kecil dulu. Sayangnya, saya belum sempat merasakan sensasi berjalan di atas gletser yang banyak dipromosikan oleh jasa-jasa tur di Norwegia. 😦

Dekat dengan penjelasan mengenai gletser itu terdapat semacam benda putih mirip es yang dipajang di dinding. Dugaan saya, benda itu adalah simulasi bentuk es yang ada di gletser. Saya terkejut ketika saya menyentuhnya dan mendapati bahwa benda itu dingin dan basah. Wah, es sungguhan ternyata! Kembali saya menjadi norak dan berkali-kali menyentuh es tersebut. Karena aneh, Pembaca, esnya tidak meleleh sama sekali. Malah lucu bagi saya, karena ada cap tangan di sana. Seseorang pasti iseng menempelkan tangan di es tersebut.

glasiologi

Contoh es gletser sebelum ada cap tangannya hehehe.. 😛 Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Berlalu dari es tersebut, saya menuju sebuah layar di tengah ruangan yang menampilkan semacam film singkat. Film itulah yang akhirnya menjawab pertanyaan saya. Ternyata, fjord adalah anaknya gletser yang sudah terbentuk sejak 25 juta tahun lalu. Fjord terbentuk dari gletser yang ketika meluncur ke bawah dengan lambat turut mengikis permukaan tanah yang berada di bawahnya. Proses ini berlangsung selama jutaan tahun hingga tanah terkikis bermeter-meter dalamnya. Suatu ketika. gletser yang telah mencair tersebut mengering, sehingga air laut menggenangi cekungan yang terbentuk dari erosinya. Lahirlah fjord, yang semakin mendekati laut semakin dangkal. Dari penjelasan itu, saya pun dapat menyimpulkan, bahwa air fjord tawar pada ujungnya dan semakin asin pada mulutnya yang dekat dengan laut ^^.

Di sebelah layar tersebut terdapat diorama berbentuk gua yang dapat kita masuki. Di dalam gua batu tersebut dipajang berbagai koleksi bebatuan dan mineral yang ditemukan di wilayah Hardangervidda. Menariknya, koleksi tersebut boleh disentuh, sehingga saya pun mengambil kesempatan tersebut untuk merasakan aneka permukaan batu yang berbeda. Batu-batuan yang banyak ditemukan di Hardangervidda antara lain konglomerat dan berbagai jenis marmer. Percaya atau tidak, batuan tertua yang ditemukan di Hardangervidda berusia 1100 dan 1700 juta tahun. Fosil-fosil batuan yang ditemukan menunjukkan bahwa dulu sekali dataran ini terletak di dasar laut dan Norwegia terletak di selatan khatulistiwa. Ini fakta paling mencengangkan yang saya pelajari di museum ini, Pembaca!

geologi

Diorama berbentuk gua dan contoh bebatuan yang bisa disentuh. Sumber: http://www.hardangerviddanatursenter.no/

 

Selesai mengeksplor lantai satu, saya naik ke lantai tiga. Sebagian besar lantai tiga digunakan untuk memajang diorama-diorama ekologis yang berfokus pada keragaman flora dan fauna di Hardangervidda. Beberapa diorama dilengkapi dengan layar yang menampilkan kuis interaktif. Pertanyaan-pertanyaannya seputar habitat, makanan dan cara berkembang biak hewan-hewan yang ada di sana, misalnya burung hantu, rubah kutub dan kelinci salju. Ada juga informasi tentang jenis-jenis bunga yang tumbuh di Hardangervidda. Menarik sekali. Saya mengetahui dari koleksi-koleksi tersebut, bahwa dataran tinggi Hardangervidda adalah satu-satunya tempat di Norwegia yang terletak cukup jauh dari kutub tetapi memiliki keragaman satwa yang khas wilayah kutub, seperti rubah arktik.

Akhirnya, berakhirlah pelajaran geografi saya di Hardangervidda Natursenter. Secara teori, saya jadi tahu banyak tentang kondisi geografis di negara impian saya. Secara praktek, saya belum ada apa-apanya. Saya masih perlu banyak belajar (baca: menyaksikan secara langsung yang sudah dipelajari). Haha.. bilang aja mau jalan-jalan, ya? 😛 Dengan senang hati, saya turun ke lantai dua, mengamati peta area Hardangervidda dan melangkah keluar menuju kafe tempat orang tua Chris masih duduk dan asyik minum kopi.

13700220_10210487774137107_5545287188875557187_n.jpg

Kafe dan beberapa rumah di kota Øvre Eidfjord yang dikelilingi pegunungan cantik dan air terjun.

 

Sambil menunggu mereka, saya mengamati keadaan sekitar. Kota kecil tersebut, Øvre Eidfjord, bagi saya tampak seperti desa. Pada dasarnya tidak ada yang spesial di situ, selain karena pesona alam yang mengelilinginya. Saya pribadi tidak keberatan pindah ke sana, walaupun kabarnya kota kecil ini semakin ditinggalkan penduduknya. Hanya ada sekitar 100 sampai 200 orang yang masih mendiami kota tersebut. Sebagian besarnya orang-orang lanjut usia atau petani yang hidup dari turisme dan pertanian. Anak-anak mudanya sudah pergi ke kota-kota yang lebih besar mencari pekerjaan yang lebih baik. Kabar baiknya, Eidfjord baru kedatangan penduduk baru dari luar Norwegia. Beberapa orang dari Jerman dan Belanda baru saja pindah ke kota tersebut. Duh, saya jadi pengen juga nih, Pembaca 🙂 Tapi saya malah harus meninggalkan kota itu, karena perjalanan ke tempat bermalam selanjutnya masih sangat sangat panjang. Ikuti terus, ya! 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Hardangervidda Natursenter:

http://hardangerviddanatursenter.no/

 

 

 

Air Terjun Vøringfossen: Semakin Cantik dari Tepi Jurang

Perjalanan hari kedua saya akan dimulai di sekitar sebuah kota kecil yang berlokasi sekitar 5 km dari kabin saya. Namanya Eidfjord. Kota yang menurut saya lebih tepat disebut desa ini dikelilingi pesona alam mulai dari air terjun sampai fjord. Saya akan bertualang di beberapa pesona alam tersebut. Oleh karena itu, sejak malam hari saya diwanti-wanti untuk bangun pagi.

Sebetulnya saya bingung dengan definisi “pagi” di Norwegia, atau lebih tepatnya di keluarga Chris. Kalau saya atau keluarga saya akan berkendara selama 13 jam, saya pasti sudah disuruh-suruh bangun dari jam 5 pagi. Tapi di sini lain. Pagi yang dimaksud adalah maksimal jam 9 pagi, karena kita akan berangkat pukul 10. Anehnya, dalam waktu satu jam itu tiba-tiba semua orang sudah siap. Entah karena orang di sana punya kemampuan menghentikan waktu atau memang waktu berjalan lebih lambat di belahan bumi utara pada siang hari. Atau mungkin memang saya saja yang pikirannya aneh hehehe 😛

Beruntunglah saya terbangun cukup pagi karena langit yang sudah terang kembali tampak di jendela kecil kamar saya. Mumpung belum ada yang bangun, seperti biasa saya beranjak menuju kamar mandi. Siapa bangun duluan dapat air panas paling banyak 😀 Memang itu yang saya incar sejak mengetahui bahwa air panas terbatas. Siapa coba yang mau mandi di air beku di ketinggian tidak jauh lebih rendah dari 1000 meter?

Setelah saya mandi, berturut-turut keluarga pacar saya bangun dan mandi. Kemudian, kami makan bersama di ruang makan. Menunya tidak jauh-jauh dari makanan paling khas Skandinavia, smørbrødMakanan ini berbentuk sandwich yang terbuka alias tidak ditumpuk. Topping-nya bisa dipilih dari berbagai variasi makanan beku maupun selai aneka buah. Intinya, smørbrød ini makanan dingin. Saya sempat mengalami culture shock ketika menyusun toppingnya. Sebetulnya ini bukan pertama kalinya saya menyantap sandwich ini, tapi berkali-kali memakan makanan yang sama membuat saya ingin mencoba variasi topping. Apalagi, topping yang kami bawa sebagai bekal dari rumah banyak sekali. Kalau dijejer bisa memenuhi satu meja panjang.

norwegian-open-sandwich-01

Smørbrød, makanan khas Skandinavia dengan dua jenis topping. Sumber: http://www.wikipedia.no

Saat itu, saya menaruh daging asap di atas roti gandum saya. Kemudian, saya menghiasnya dengan keju rasa daging asap yang bentuk tempatnya menyerupai pasta gigi (kebayang ‘kan?). Melihat itu, Chris dan Ellen tertawa terbahak-bahak. Saya yang tidak tahu menahu apa-apa menjadi malu dan merasa aneh. Rupanya, keju olesan tadi harusnya dijadikan dasar seperti mentega. Ellen sampai berpikir, “anak ini seleranya unik!”. Sekarang saya sudah punya topping favorit, yaitu leverpostei (semacam olesan yang terbuat dari hati babi), daging asap atau salmon segar, salad, saus Thousand Island dan bawang goreng. Bawang gorengnya beda lho dengan yang di Indonesia.

Usai makan, kami bergotong royong membersihkan kabin dan mengepak kembali koper-koper ke mobil. Di kabin disediakan sebuah vacuum cleaner yang harus digunakan untuk membersihkan semua ruangan. Kami juga harus mencuci semua peralatan makan dan memasak yang kami gunakan. Sebetulnya boleh saja kalau ingin meninggalkan kabin setelah digunakan dan membiarkan jasa bersih-bersih dari pihak penginapan untuk melakukannya. Untuk itu dikenakan biaya tambahan yang kebetulan saya tidak tahu berapa.

Setelah mengembalikan kunci ke bangunan administrasi, kami berkendara sejauh 2-3 km menuju tujuan kami berikutnya, Vøringfossen. Air terjun dengan ketinggian 182 m ini merupakan salah satu pesona alam tak jauh dari Eidfjord yang saya kunjungi hari itu. Untuk menikmati keindahannya, disediakan dua titik pandang yang dilengkapi dengan platform view (kira-kira diterjemahkan jadi apa ya ini? Teras pandang?) bagi para turis. Teras pandang pertama terletak lebih tinggi, tidak jauh dari Hotel Fossli yang terkenal dengan arsitektur Art Nouveau-nya. Untuk mencapainya, cukup mengikuti papan penunjuk jalan dari Rute 7 yang akan menunjukkan belokan kecil di sisi kanan menuju hotel tersebut. Dengan mengikuti jalan kecil tersebut, kita akan tiba di parkiran bangunan hotel yang dibatasi oleh kios suvenir dan kafe di sisi kanannya.

Dari parkiran tersebut, saya berjalan turun ke arah barat menuju teras pandang yang pertama. Pada saat itu, sebagian dari teras tersebut sedang direnovasi. Belakangan saya baru mengetahui bahwa renovasi tersebut merupakan bagian dari rencana pembuatan titik pandang yang lebih aman di area air terjun tersebut. Desainnya mengikuti desain dari pemenang sayembara arsitektur tersebut yang bernama Carl Viggo Hølmebakk. Rencananya, teras pandang yang baru akan memiliki sebuah jembatan yang memungkinkan kita untuk berjalan menyeberang di atas air terjun tersebut. Sayang sekali, diperkirakan teras pandang ini baru akan jadi pada tahun 2023. Duh, saya sudah tidak sabar nih, Pembaca 🙂

Meskipun sedang direnovasi, kita tetap dapat menikmati pemandangan utama di air terjun tersebut dari sisi lain teras yang panjang. Saya berjalan ke arah barat untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Vøringfossen, air terjun yang terdiri dari dua buah aliran utama berukuran besar dan kecil ini, bersumber dari sungai Bjoreia. Pada musim dingin, aliran sungai ini dialihkan sebagian untuk PLTA, sehingga mengakibatkan berkurangnya volume air yang jatuh ke lembah. Oleh karena itu, waktu yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Vøringfossen adalah selama musim panas. Dari ketinggian 182 m (ada juga yang mengatakan 145 m), air terjun cantik ini jatuh ke lembah Måbødalen membentuk sungai kecil berkelok-kelok. Berdiri di teras pandang tersebut, saya dapat berada dekat dengan aliran air terjun yang berukuran kecil dan berhadapan dengan air terjun utama.

13775342_10210487685374888_5381075976703549339_n

Air terjun besar jatuh ke lembah Måbødalen setinggi 182 m dilihat dari teras pandang pertama.

13707653_10210487687054930_91134712225383818_n

Lembah Måbødalen tampak berkelok-kelok dari teras pandang pertama.

Pada awalnya, saya tidak berencana untuk berhenti di titik pandang kedua, karena saya tidak tahu tentang keberadaannya. Dari teras pandang pertama tersebutlah saya melihat ke bawah bahwa ada suatu tempat di mana bus-bus turis berhenti dan orang-orang berkerumun mengabadikan foto. Kebetulan, titik pandang kedua berlokasi tidak jauh dari titik pandang pertama dan memang akan saya lewati dalam perjalanan menuju tujuan selanjutnya. Cukup kembali ke jalan utama, yaitu Rute 7, kemudian menyeberangi Sungai Bjoreia dan saya tiba di titik pandang kedua.

Titik pandang kedua tidak memiliki teras pandang, melainkan hanya berupa bukit-bukit batu dan jalan raya yang memiliki trotoar yang langsung berbatasan dengan lembah Måbødalen yang curam. Tempat tersebut juga dilengkapi dengan lahan parkir, kafe dan toko suvenir. Dari tempat itu, saya dan Chris berpisah dengan orang tuanya. Mula-mula saya berjalan menyusuri trotoar tersebut. Dari titik pandang kedua inilah saya berhasil mengabadikan air terjun Vøringfossen persis seperti yang tampak pada kartu pos-kartu pos. Tempat tersebut memungkinkan saya melihat kedua air terjun secara lebih jelas. Jika ingin lebih jelas lagi, disediakan jalan setapak menuju kaki air terjun, tetapi kita harus menuju Måbødalen terlebih dahulu. Lamanya trekking menuju kaki air terjun adalah sekitar 90 menit perjalanan bolak-balik.

13781972_10210487688134957_5322852074411576658_n

Kedua air terjun tampak dari titik pandang kedua (dari trotoar tepi jalan). Bangunan merah di puncak adalah Hotel Fossli, tempat teras pandang pertama berada.

Dasar saya yang tidak gampang puas, saya masih merasa bahwa pemandangan di trotoar tersebut belum cukup. Kebetulan sekali di perjalanan kembali ke lahan parkir, saya bertemu dengan orang tua Chris yang rupanya memilih sudut pandang lain, yaitu bukit-bukit batu. Bergeraklah saya menuju bukit-bukit batu yang ada di sebelah kanan lahan parkir. Bukit-bukit batu tersebut tidak memiliki jalan setapak dan ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, sehingga kita harus memilih jalan sendiri dengan menentukan pijakan yang aman.

Sebelum mulai mendaki, saya menyadari bahwa beberapa pohon diikat dengan pita putih di rantingnya, terutama jika ada percabangan jalan. Di situlah saya menyadari bahwa pita putih tersebut adalah penanda jalan yang aman. Di saat saya begitu yakin dengan jalan yang saya pilih, di situlah saya menyadari keberadaan beberapa batu nisan di bukit batu tersebut. Batu nisan yang dilengkapi foto itu mencatat nama seseorang beserta negara asalnya, yang anehnya bukan dari Norwegia. Saya pun menggali informasi pada pacar saya karena penasaran. Ternyata, batu nisan tersebut hanya penanda. Maksudnya, tidak ada jenazah yang dikuburkan di bawahnya. Lalu ke manakah jenazahnya? Entahlah, konon katanya tidak ditemukan. Orang-orang di foto tersebut adalah turis-turis yang mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang Måbødalen karena kurang hati-hati ketika mengamati air terjun. Hiiii… bulu kuduk saya langsung merinding membayangkan hal tersebut.

Seolah menjadi peringatan bagi saya, saya pun melangkah dengan hati-hati ketika menaiki bukit batu. Dengan teliti, saya berusaha memperhatikan pita putih agar tidak salah jalan. Saya berhasil mencapai puncak bukit yang ternyata nyaris tidak memiliki pagar pembatas di tepi jurang. Antara saya dan air terjun yang jatuh ratusan meter itu betul-betul tidak ada batasnya! Sekarang saya paham mengapa banyak turis yang jatuh ke jurang. Bahkan ketika saya berada di sana pun, saya sempat bertemu dengan pasangan fotografer yang dengan gilanya bisa duduk di tepi jurang dengan kaki menggantung, atau berbaring di tepinya demi mendapatkan foto terbaik. Saya saja terpaksa berjalan pelan-pelan karena kaki sudah gemetaran melihat curam dan tingginya jurang, meskipun bahaya tersebut tidak menghentikan saya untuk mengabadikan dan menikmati keindahan panorama di situ.

13754402_10210487691055030_8919875463095236640_n

Lembah Måbødalen tampak dari titik pandang di bukit batu. Untuk mengambil foto ini saya harus doa dulu hehehe.. 😀 Perhatikan, tidak ada batas antara jurang dan tanah yang saya pijak.

 

13707572_10210487689574993_916131325475627775_n

Duduk di tepi jurang dengan latar belakang air terjun kecil. Di belakang saya itu sudah jurang dan tidak ada pagarnya >.<

 

Lembah Måbødalen yang berkelok mengikuti sungai terlihat lebih jelas dari puncak bukit tersebut. Diiringi suara derasnya air yang jatuh dari Bjoreia, saya melongok ke bawah, menyaksikan Vøringfossen dari jarak yang begitu dekat. Dari tempat tersebut pula saya dapat melihat air terjun yang kecil dengan lebih jelas. Tebing-tebing di sepanjang lembah tampak berdiri tegak dengan curam. Saya kadang berandai-andai, bagaimana orang dapat mencapai puncak tebing itu ketika belum ada helikopter.

Puas bertakut ria di puncak bukit sembari menikmati indahnya air terjun Vøringfossen, saya berniat kembali ke lahan parkir karena mendung mulai tiba. Beberapa langkah turun ke bawah, saya terjebak kebingungan. Saya merasa ada lebih banyak pohon yang ditandai pita putih. Bukan hanya itu, tiba-tiba ada turis-turis datang dari berbagai arah. Saya jadi bingung ke mana arah pulang. Dengan nekad, saya mengambil salah satu jalan di sebelah kiri. Jalan ini lebih sulit dibandingkan ketika saya naik tadi. Bebatuan yang saya gunakan untuk menapak lebih licin dan memiliki perbedaan ketinggian yang jauh antara satu sama lain. Jalan tersebut membawa saya ke bagian yang agak tinggi. Dari situlah saya melihat lahan parkir. Tanpa basa basi lagi saya langsung melangkah ke arah lahan parkir tempat kedua orang tua Chris (lagi-lagi) sudah menunggu. Dengan rasa lega saya pun kembali ke mobil dan bersiap untuk pesona alam selanjutnya.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.fjordnorway.com/top-attractions/voringsfossen

 

“Numpang Lewat” di Hardangervidda Nasjonalpark

Sekitar tiga jam lamanya saya habiskan waktu saya hari itu di Heddal. Kira-kira pukul 17.00 mobil kami beranjak meninggalkan kota kecil bersejarah itu. Saya pikir, sebentar lagi kami akan segera menutup perjalanan hari ini. Ternyata saya salah besar. Perjalanan yang begitu panjang ke arah utara masih akan berlanjut kira-kira enam jam lagi. Saya lupa bahwa di Norwegia, matahari musim panas nyaris abadi di langit selama enam bulan. Alam yang bermandikan sinar mentari masih akan memanjakan mata saya yang suntuk setelah enam bulan melihat kota besar berpolusi dan kepadatan penduduk.

Beranjak dari Heddal, kami berputar arah menuju Kongsberg untuk kemudian naik ke utara melalui Rute 40. Di daratan Eropa atau zona Schengen, jalan-jalan utamanya tidak dinamai dengan nama seperti di Indonesia tetapi dengan angka. Ada yang disebut jalur Eropa (jalur ini merupakan rute darat resmi di zona Schengen) yang namanya selalu diawali dengan huruf E. Contohnya adalah E134 yang saya lalui ketika hendak menuju Heddal. Ada pula jalan yang namanya hanya berupa angka, yang merupakan jalan raya dalam negeri seperti Rute 40 ini. Di Norwegia, jalan ini disebut Rv 40 yang merupakan kependekan dari Riksvei 40 atau jalan negara nomor 40.

Rute 40 ini menanjak ke pegunungan yang memang telah menanti saya di depan mata. Kembali saya dimanjakan oleh pemandangan cantik kota-kota kecil dan pedesaan di sela-sela hijaunya padang rumput dan hutan. Di satu bagian perjalanan tersebut, mobil kami berjalan di sisi kiri sebuah danau. Saya melihat suatu bangunan panjang berwarna kuning di seberang danau tersebut. Di belakangnya berdiri tegak sebuah tebing, yang anehnya memiliki pipa-pipa raksasa yang menempel di dindingnya. Dari tebing tersebut juga menjulur kabel-kabel menuju ke bangunan berwarna kuning tersebut. Ternyata, menurut informasi Ellen, pipa-pipa itu mengalirkan air terjun dari tebing menuju bangunan tersebut yang adalah sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (Terjun)! Wow, saya tidak ingat jika ada hal semacam ini di negara saya.

13710060_10210487311285536_8589341696309201591_n

Pembangkit Listrik Tenaga Air Terjun yang saya lihat dari jendela mobil.

Seiring dengan berlalunya waktu, jalan yang kami lalui semakin menanjak. Jalan tersebut berkelok-kelok sampai ke puncak gunung. Di sepanjang jalan terdapat beberapa kabin yang jaraknya berjauhan satu sama lain. Lucu juga, saya pikir di ketinggian seperti itu tidak akan ada manusia yang tinggal. Saya melihat bahwa vegetasi gunung pun mulai berubah. Tidak lagi banyak ditumbuhi pohon-pohon berukuran tinggi. Yang ada hanya semak belukar dan tundra. Apa yang dicari orang di tempat seperti ini? Personal space tentunya. Semua orang begitu membutuhkan personal space, sampai-sampai di tempat yang saya pikir tidak akan ada orang masih saja ada orang.

Kami tiba di dataran luas yang dipenuhi tumbuhan semacam lumut yang menempel pada bebatuan. Danau-danau kecil terhampar di kiri kanan. Tak berapa lama kemudian, saya melihat keterangan di tepi jalan. 1000 m.d.p.l. Wow, rupanya sudah demikian tinggi kami berkendara!

Jalan tersebut mengantar kami pada turunan yang berkelok menuju ke lembah. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah kelokan yang ditumbuhi bunga-bunga Buttercup untuk menikmati pemandangan. Dari kelokan tersebut, tampak sebuah perairan luas yang biru menggenangi lembah di bawah. Awalnya saya pikir perairan tersebut adalah Hardangerfjord, yang memang terletak tidak terlalu jauh dari daerah tersebut. Rupanya perairan tersebut adalah sebuah danau bernama Holmevatnet. Memang karena ukuran danau di Norwegia yang luas-luas, saya jadi sering rancu antara danau dan fjord. Beberapa kali saya melontarkan pertanyaan di mobil ketika melewati perairan, “ini danau atau fjord?” 😛 Tebakan saya tentu saja sering salah. Maklum, bukan daerah asalnya 🙂 Tapi akhirnya saya tahu sedikit banyak bagaimana membedakan danau dan fjord, yang tentunya tidak mudah.

13690759_10210487312445565_1202321576658519234_n

Holmevatnet dari kelokan di Rute 40

13770533_10210487313245585_3160113064802642675_n.jpg

Pemandangan di kelokan yang sama, ketinggian 1000 m.d.p.l

Mobil kami terus meluncur di sepanjang Rute 40 hingga tiba di sebuah kota bernama Geilo. Kota kecil ini tampak biasa-biasa saja di musim panas. Di musim dingin, ia akan menyajikan pemandangan yang berbeda sekali. Geilo adalah kota resor ski dan merupakan salah satu yang paling terkenal di Norwegia. Ketika tiba di sana, lanskap yang ada didominasi warna hijau. Sama sekali tidak tampak bagian mana dari daerah tersebut yang dijadikan arena ski. Saya pun jadi menebak-nebak, lereng gunung yang mana yang akan dipakai meluncur tiap musim dingin 🙂 Mungkin lain kali saya harus coba sendiri main ski di sana hehehe.. 😛

Dari Geilo, kami berbelok ke arah barat dan mengambil rute 7. Jalan ini lebih kecil daripada Rute 40 dan melalui daerah yang lebih terpencil lagi. Kami melewati beberapa fjord  kecil dan kembali naik ke ketinggian 1000 meter. Dekat perbatasan wilayah Buskerud dan Hordaland, kami berhenti sejenak di tempat perhentian terbuka untuk beristirahat dan meluruskan kaki. Sekedar informasi, tempat perhentian terbuka semacam ini ada banyak sekali di sepanjang jalur-jalur turistik di Norwegia. Beberapa di antaranya dilengkapi dengan papan informasi mengenai rute yang dilalui, toilet, serta bangku-bangku untuk menikmati pemandangan atau makan. Kebetulan, tempat saya berhenti tidak terlalu luas dan hanya dilengkapi dengan papan informasi tentang rute Hardangervidda saja, yaitu jalur yang saya lewati saat itu. Meski demikian, pemandangan yang terhampar luas tak ternilai keindahannya.

Di bawah mentari pukul 9 malam (ya, saya serius! Pukul 9 malam seperti pukul 3 sore di Indonesia ^^), saya meniti bebatuan perlahan-lahan untuk turun mendekati danau yang terletak dekat dengan tempat perhentian tersebut. Karena letaknya yang sudah tinggi, pemandangan saya tak terhalang pepohonan apapun. Hanya ada bebatuan, lumut dan semak-semak tundra. Yang membuat tempat itu begitu cantik adalah formasi bebatuan yang entah bagaimana dapat bersusun dengan seimbang tanpa runtuh atau jatuh. Belakangan baru saya ketahui bahwa bebatuan tersebut memang disusun demikian dengan sengaja oleh para pendaki untuk menandai jalan agar tidak tersesat. Juga digunakan untuk menolong pendaki lainnya. Sekitar lima hingga sepuluh menit saya mengeksplor bebatuan tersebut. Tak lupa saya mengambil foto kenang-kenangan memanfaatkan cahaya matahari yang masih terang dan hangat.

13692535_10210487372047055_2214932817147750880_n.jpg

Ini dia tempat perhentian cantik yang saya bilang 🙂

13669055_10210487370567018_7324768904267419658_n.jpg

Susunan bebatuan yang menarik.

Perjalanan kami lanjutkan dengan terus memasuki Hardangervidda Nasjonalpark yang memang sudah berada di depan mata dari tempat perhentian tersebut. Taman nasional seluas 3.422 meter persegi tersebut merupakan dataran tinggi terluas di daratan Eropa sekaligus taman nasional terluas di Norwegia dan Skandinavia. Kalau dibandingkan dengan luas totalnya, mungkin perjalanan yang saya lakukan di sana bisa dibilang hanya numpang lewat 😛 Tapi mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa berpetualang lebih banyak di taman nasional ini ya, Pembaca. 🙂

Sambil melintasi dataran yang sudah beriklim tundra tersebut karena ketinggiannya, saya mendengar cerita dari Ellen. Dulu ketika beliau masih muda, beliau dan keluarganya melintasi taman nasional ini di bulan Agustus dengan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan apa yang saya lihat saat itu. Menurut beliau, waktu itu salju masih menyelimuti taman nasional ini bahkan di musim panas. Kebayang deh betapa parahnya pemanasan global yang terjadi sekarang ini. Dari jendela mobil, saya melihat hamparan-hamparan kecil sisa salju musim dingin yang meleleh perlahan menjadi air terjun kecil menuju danau-danau terdekat.

13782184_10210487314245610_4672155371637810323_n.jpg

Salju yang tersisa.

13728986_10210487439848750_2581586221363612593_n

Tonggak penanda batas jalan di musim dingin.

 

Musim dingin menjadi satu-satunya waktu untuk melihat hamparan salju di taman nasional tersebut. Tapi, jangan kaget kalau tahu seberapa banyak salju yang akan menumpuk di Hardangervidda ^^. Berapa banyaknya salju dapat diketahui dari tonggak-tonggak kayu yang ditancapkan di sepanjang jalan di Hardangervidda Nasjonalpark. Awalnya, saya pun penasaran, mengapa di sepanjang jalan ini ditancapkan tonggak-tonggak setinggi kira-kira 2 sampai 2,5 m tersebut. Rupanya, tonggak-tonggak tersebut adalah penanda batas jalan di musim dingin, karena batas jalan yang sesungguhnya tertimbun salju. Biasanya, hanya sedikit dari bagian atas tonggak-tonggak tersebut yang masih tampak di musim dingin. Brrrr…

Meski sangat dingin dan terletak cukup tinggi di atas permukaan laut, wilayah ini bukan tanpa kehidupan. Sejak zaman batu, manusia pun sudah mendiami dataran tinggi Hardanger. Mereka mengikuti migrasi rusa kutub yang terjadi setiap tahunnya. Mereka mendiami rumah-rumah berbentuk seperti igloo yang menyerupai rumah suku Sami, suku asli daerah Skandinavia utara (Laplandia). Salah satu contoh rumahnya berhasil saya abadikan dalam foto seperti di bawah ini. 🙂

13697168_10210487439888751_3831554588846246265_n

Saya tidak terlalu lama berada di Hardangervidda Nasjonalpark karena kami hanya melewatinya saja. Tidak ada waktu untuk mengelilingi taman nasional yang pesonanya masih membuat saya penasaran ini, terutama karena hari sudah hampir berganti. Saya tidak bilang bahwa hari menjelang malam karena masih ada beberapa jam lagi hingga matahari tidak lagi tampak wujudnya. Jam menunjukkan pukul 10 dan kami baru menyadari bahwa kami belum menemukan tempat untuk bermalam. Keasyikan menikmati alam membuat kami lupa bahwa kami butuh tidur. 😀 Mungkin juga karena efek cahaya yang membuat kami (terutama saya) lupa kalau hari sudah larut. Beruntunglah kami berada di zona turistik, sehingga ada banyak penginapan di kiri kanan jalan.

Tampaknya, penduduk Norwegia sangat menyukai perjalanan darat. Saya hampir lupa bercerita, bahwa di sepanjang perjalanan dari Sandefjord hingga ke tempat tersebut, saya banyak sekali melihat karavan atau trailer. Itu lho, mobil-mobil van besar yang punya tempat tidur dan kadang-kadang punya kamar mandi juga. Nggak populer memang di Indonesia karena sepertinya terlalu mahal untuk masyarakat kita. Selain itu kita juga lebih nyaman naik bus atau kereta. Apa enaknya lama-lama di karavan karena terjebak macet?

Nah, karavan ini menjadi salah satu pilihan populer bagi masyarakat Eropa untuk tempat beristirahat. Katanya, harganya sangat mahal, sehingga ada pula sebagian masyarakat yang belum mampu membelinya dan memilih opsi lain untuk beristirahat di perjalanan darat. Opsi lain yang sangat populer adalah kabin atau hytte. Mungkin kita lebih mengenalnya dengan sebutan bungalow, karena modelnya memang mirip bungalow, yaitu berupa rumah-rumah mini dengan beberapa kamar, dapur dan kamar mandi. Tapi hytte bukan bungalow. Saya tahu itu karena saya pernah membaca tentang kehidupan alam bebas khas Norwegia.

Kembali ke perjalanan saya dulu. Sejak dari taman nasional, kami mencoba mencari kamar atau kabin yang kosong. Sekedar info, kadang-kadang kamar hotel lebih mahal dibandingkan kabin meskipun ukurannya lebih kecil, sehingga kami lebih memilih mendapatkan kabin dibandingkan menyewa dua kamar hotel. Musim panas membuat sebagian besar kamar sudah penuh. Akhirnya, kami berhenti di sebuah pondok kecil yang tampaknya adalah kantor administrasi dari salah satu jasa penyewaan kabin bernama Garen Gaard og Hyttesenter. Mulanya, tidak ada seorang pun yang menjawab ketika pintu diketuk. Mungkin karena kami tiba terlampau larut, yaitu menjelang pukul 23.00. Ayah Chris kemudian menelepon nomor yang tertera di dinding luar bangunan tersebut. Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dan membantu kami memperoleh sebuah kabin.

Kabin tempat saya bermalam ada di seberang jalan dari bangunan administrasi tersebut. Sedikit menaiki bukit yang bisa dilalui oleh mobil, saya sudah tiba di kabin yang berbentuk pondok kayu coklat tua berukuran kecil. Ukurannya masih lebih besar sih jika dibandingkan apartemen saya 🙂 Dalamnya dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk mengakomodasi permintaan turisme, karena kabin asli Norwegia sesungguhnya sangat sederhana. Bahkan memasak masih harus menggunakan tungku dan kayu bakar, serta toilet berupa outhouse atau MCK di luar. Bayangkan! Tidak ada air pula.

13775354_10210487440488766_3446920016830323866_n

Kabin tempat saya bermalam.

13731519_10210487440528767_5504082628297853903_n

Kompleks kabin di Garen Gaard og Hyttesenter

 

Kabin ini lebih menyerupai bungalow berukuran mini. Ia memiliki tiga kamar tidur yang ukurannya sangat mini, kamar mandi dengan air panas yang terbatas, dapur dengan kompor listrik dan kulkas, meja makan dan ruang keluarga dengan sofa serta TV tua. Meskipun demikian, semua hal tersebut umumnya lebih murah daripada kamar hotel. Rahasianya? Karena kabin harus kita bersihkan sendiri sebelum check out. Kita juga harus masak sendiri karena tidak ada layanan panggilan kamar untuk mengantar makanan kalau kita lapar di tengah malam. Begitulah. Bahkan di bungalow pun kita masih dapat layanan tersebut.

Pukul 23.30, langit mulai menggelap meskipun tidak sempurna. Sinar matahari langsung sudah tidak tampak, tetapi cahayanya masih membuat langit berwarna putih dan bukan hitam. Entah kapan langit akan menggelap saya tidak tahu, tetapi saya cukup lelah untuk bisa tertidur meski langit tidak gelap sempurna. Akhirnya, setelah makan malam dan “rebutan” kamar, kami yang muda mengalah kepada yang tua dan memberikan kamar tidur terluas dengan dua tempat tidur terpisah pada beliau-beliau. Saya pun harus berdesakan di kamar yang lebih sempit. Tidak masalah. Hari pertama perjalanan darat saya masih bisa dibilang sempurna. 🙂 God natt, alle sammen!

13495007_10210305441298900_6407266922634963185_n.jpg

Langit sebelum saya beranjak tidur.

 

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi tentang wisata di area Hardanger:

http://en.hardangerfjord.com/attractions/hardangervidda-national-park-p970463

Informasi tentang kabin tempat saya bermalam:

http://en.hardangerfjord.com/accommodation/garen-gaard-og-hyttesenter-p969453

 

 

 

Heddal Stavkirke: Cerita Menarik dari Masa Lampau

Ada sebuah masa ketika laki-laki dan perempuan tak boleh duduk bersama dalam bangunan gereja di Norwegia. Bukan karena mereka tidak setara, melainkan karena perempuan dipercaya memiliki kelebihan yang menguntungkan bagi laki-laki. Ada suatu waktu ketika orang tak hanya membawa kitab suci ketika beribadah di gereja, tetapi juga pisau dan kapak. Fakta-fakta unik tersebut baru saya ketahui ketika menjejakkan kaki di sebuah gereja tua abad pertengahan di kota kecil bernama Heddal yang terletak di wilayah (Kommune) Telemark.

Heddal berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Sandefjord, bahkan mungkin bisa lebih singkat dari itu, karena saya sempat berhenti beberapa saat dan salah jalan karena GPS pun kadang-kadang gagal membaca peta ^^. Perjalanan darat dari Sandefjord melewati pedesaan yang asri dengan rumah-rumah yang terletak saling berjauhan. Di kiri kanan jalan terhampar ladang gandum yang luas, yang gandum-gandumnya sudah dipanen dan diletakkan dalam kantung-kantung berbentuk gulungan berwarna putih atau merah muda. Unik juga melihat beberapa gulungan berwarna merah muda yang ternyata merupakan salah satu bagian dari kampanye donasi bagi penderita kanker payudara.

Beberapa bagian jalan dipagari oleh bunga-bunga cantik berwarna ungu dan merah muda yang disebut Lupin (lupinus perennis). Bunga-bunga ini sangat sering dijumpai di sepanjang jalan dan rel kereta api. Meskipun cantik, bunga ini sudah masuk daftar hitam pemerintah Norwegia karena tumbuh seperti parasit. Mereka dapat bertahan hidup hingga 50 tahun dan mudah sekali tumbuh hingga menutupi semua area terbuka seperti rumput liar dan mematikan tumbuhan-tumbuhan lain. Saat ini ada larangan untuk membiakkan tanaman cantik tersebut.

13707567_10210478037213690_966267333865620098_n

Lupin di tepi jalan.

13709890_10210478036893682_755905832452098007_n

Lupin – detil

Kembali ke jalan setelah mengamati lupin, saya pun tiba di Heddal sekitar pukul 14.00. Dari parkiran mobil, saya dapat melihat Heddal Stavkirke (entah bagaimana menerjemahkan kata ini dalam bahasa Indonesia ^^) menjulang dengan menaranya yang tua dan berarsitektur unik. Di seberang bangunan gereja terdapat bangunan yang berbentuk seperti peternakan yang dulunya pun sempat difungsikan sebagai gereja. Saat ini, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi gedung administrasi dengan museum mini di basement serta kafe dan toko suvenir di lantai dasar. Di tempat inilah kita harus membeli tiket sebelum mengunjungi bangunan gereja. Tiket yang berbentuk stiker bundar bergambar bangunan gereja tersebut harus ditempelkan pada dada atau bagian pakaian lainnya. Tiket tersebut berlaku untuk gereja, museum di basement dan museum terbuka yang berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki. Harganya 70 NOK untuk low season (20 Mei – 14 Juni dan 1 September – 10 September) dan 80 NOK untuk high season (15 Juni – 31 Agustus). Seperti banyak museum lainnya di Norwegia, Heddal Stavkirke hanya buka pada musim panas.

13690676_10210478036933683_4729573031571280846_n

Heddal Stavkirke dan kompleks pemakamannya

Eksplorasi saya di kompleks Heddal Stavkirke diawali dengan mengunjungi museum mini di basement yang terdiri dari dua ruangan. Museum kecil ini menceritakan sedikit tentang sejarah pembangunan Heddal Stavkirke dan benda-benda bersejarah yang digunakan atau ditemukan di daerah tersebut. Salah satunya adalah delapan buah kapak tua yang dipajang di dinding. Kapak-kapak tersebut merupakan milik para penduduk yang juga menjadi jemaat gereja pada masa lampau. Mereka hidup sekitar tahun 1600, ketika memiliki senjata adalah hukum wajib bagi semua pria. Minimal mereka harus memiliki sebuah kapak. Para jemaat gereja tersebut, yang kebanyakan adalah petani, membawa kapak-kapak tersebut ke gereja dan menempatkannya di bagian luar dari bangunan gereja. Tindakan tersebut dipercaya mampu menakut-nakuti atau menjaga gereja dari serangan roh-roh jahat di luar.

13680740_10210487172162058_5396257890338219052_n

Kapak-kapak tua milik para jemaat gereja masa lalu.

Selain kapak tersebut, di museum juga dipajang lukisan-lukisan dan replika potongan detil dekorasi bangunan gereja. Lukisan-lukisan yang ada menceritakan beberapa kejadian penting dalam sejarah bangsa Viking, yang gaya dekorasinya memberikan pengaruh kuat pada arsitektur gereja. Rupanya, teknik pemotongan kayu dan pembangunan Stavkirke sama dengan teknik yang digunakan bangsa Viking untuk membangun kapal-kapal panjang (longship) mereka. Hal tersebut menjadi rahasia kokohnya bangunan gereja hingga saat ini. Di ruangan kedua dipamerkan benda-benda peninggalan bangsa Viking yang mereka gunakan sehari-hari seperti aneka senjata, tameng, perhiasan dan peralatan rumah tangga. Di bagian tengah ruangan kedua terdapat etalase berisi benda-benda yang dulu pernah digunakan di dalam gereja. Salah satunya merupakan sebuah kitab suci tua berukuran besar yang ditulis dalam aksara Gotik seperti yang digunakan Gutenberg pada mesin cetaknya.

13709930_10210487177442190_971905180996368197_n

Kitab suci tua dengan aksara bergaya Gotik.

Tidak hanya memajang barang koleksi, museum kecil tersebut juga menyediakan kostum abad pertengahan yang dapat kita sewa untuk berfoto, juga kursus singkat mengenai aksara Rune yang digunakan bangsa Viking beserta cara mengukirnya di kayu. Ketika saya berada di ruangan tersebut, seorang pria berkostum Viking berwarna merah tengah sibuk berbicara dengan seorang perempuan yang entah sesama pengunjung atau staf museum saya juga tidak tahu. Kita simpan dulu cerita tentang pria Viking ini, karena nantinya ia akan jadi karakter penting dalam petualangan saya hari itu.

Berlanjut dari museum mini, saya keluar dan menyeberang jalan kecil menuju Heddal Stavkirke. Gereja tua berarsitektur unik tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-12. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa mungkin bangunan tersebut berusia lebih tua lagi. Heddal Stavkirke, yang dikelilingi kompleks pemakaman sebagaimana gereja-gereja di Norwegia pada umumnya, merupakan salah satu dari 750 bangunan gereja serupa yang dahulu pernah berdiri di negeri Viking tersebut. Saat ini hanya ada 28 Stavkirke yang masih berdiri dan Heddal Stavkirke adalah yang terbesar. Istilah Stavkirke atau stave church merujuk pada struktur rangka penopang bangunan berupa pilar-pilar kayu (staves) vertikal dan horisontal yang terbuat dari kayu pinus. Struktur seperti ini merupakan hal yang khas dari bangunan gereja di Eropa barat laut (Skandinavia).

Saya memasuki bangunan gereja tepat ketika pemandu mulai menjelaskan detil-detil dan aneka fakta menarik mengenai gereja tersebut. Sekedar informasi, tur dengan pemandu sudah termasuk dalam harga tiket. Pemandu menjelaskan bahwa Heddal Stavkirke didedikasikan untuk Bunda Maria yang namanya terukir dalam aksara Rune di salah satu dinding kayu lorong luar gereja. Selain struktur pilarnya, bangunan gereja ini memiliki beberapa detil yang menarik. Salah satunya adalah ukiran atap dan pintu yang menggambarkan hewan dan tumbuhan yang merupakan motif khas bangsa Viking. Ukiran-ukiran tersebut konon dipercaya sebagai simbol-simbol untuk menangkal roh-roh jahat yang datang dari utara. Jika diperhatikan, pada bagian gerbang terdapat ukiran yang menyerupai ular yang melingkar sedemikian rupa hingga kepala ular tersebut bertemu ekornya. Desain ini sangat banyak ditemui pada karya seni dan arsitektur Viking, tetapi di gereja ini, ia menjadi simbol lingkaran tak berujung. Simbol ini seolah memperingatkan roh jahat agar tidak mengganggu karena mereka akan terperangkap dalam lingkaran tak berujung seperti ular tersebut. Entah apa makna asli dari desain tersebut pada masa Viking sebelum agama kristen masuk, tetapi pendapat pribadi saya mengatakan bahwa simbol itu sudah ditafsirkan ulang untuk memenuhi ide-ide kristiani.

13729153_10210487222203309_3968156055809752292_n

Ukiran ular tak berujung pada bagian pintu.

13782103_10210487202042805_844442292418862898_n

Interior dalam gereja.

Kepercayaan bahwa roh-roh jahat datang dari sebelah utara membuat perempuan dan laki-laki harus duduk terpisah. Perempuanlah yang harus duduk pada deret bangku sebelah utara sementara laki-laki menempati deret selatan. Hal ini dilakukan karena masyarakat pada masa itu meyakini bahwa perempuan memiliki kemampuan magis untuk menangkal roh jahat dan melindungi para pria tersebut. Menarik, bukan? Ternyata penghargaan terhadap perempuan yang menjadi salah satu hal yang khas dari negara-negara Skandinavia sudah ada sejak zaman dahulu.

Para perempuan tersebut duduk di sisi utara, tempat tiang tertua dari bangunan gereja tersebut berdiri kokoh di sudutnya. Pada dinding sebelah utara pula kita dapat memperhatikan bahwa lukisan di dinding tersebut telah diganti. Awal mulanya, Heddal Stavkirke merupakan gereja Katolik yang memiliki lukisan para rasul dan kisah jalan salib di dinding sekelilingnya. Namun, sejak Reformasi Gereja sekitar tahun 1600-an, lukisan tersebut ditimpa dengan lukisan ornamen bunga mawar untuk menghindari kultus terhadap gambar atau patung yang tidak sesuai dengan ajaran Protestan. Sampai saat ini, kita masih dapat melihat lukisan asli di sela-sela lukisan ornamen mawar tersebut.

Sementara itu, para pria duduk di sebelah kanan atau sisi selatan bangunan gereja. Jika diperhatikan, dinding kayu di sisi selatan memiliki banyak lubang pipih di permukaannya. Menurut penjelasan Mbak Pemandu, lubang-lubang tersebut berasal dari pisau yang ditancapkan di dinding pada masa lalu oleh para jemaat gereja sebagai tempat menggantung topi. Tapi tidak semua jemaat boleh melakukannya, karena kebiasaan unik ini hanya boleh dilakukan oleh orang kaya saja. Hmm.. ternyata masih ada pengkelasan dari segi ekonomi 😀

13769421_10210487202922827_5016864429074121055_n

Kursi berukiran kisah Volsunga Saga dan bagian tangan yang menghitam.

Deretan bangku di utara dan selatan menghadap ke daerah altar yang tidak boleh diakses pengunjung (tapi boleh dilihat kok ^^). Tema lukisan pada altar adalah kisah penyaliban dan perjamuan terakhir. Selain dari suasananya yang sangat khas abad pertengahan, di dekat altar terdapat sebuah kursi kayu yang unik. Kursi tersebut didekorasi dengan ukiran yang lagi-lagi tipikal Norse yaitu kisah tentang Brynhildr dan Sigurd Fåvnesbane sang penakluk naga dalam saga Germanik kuno, Volsunga Saga. Saga yang berkaitan kuat dengan mitologi Norse ini juga merupakan salah satu media lisan yang digunakan dalam penyebaran agama kristen di abad pertengahan. Bukan cuma itu yang menarik dari kursi tua ini. Pada ujung sandaran tangan terdapat semacam bagian berbentuk bulat yang menghitam. Konon katanya, bagian tersebut menjadi hitam akibat sering dipelintir oleh uskup ketika berkunjung dan duduk di situ. Jika sang uskup marah, ia akan memelintir ujung sandaran tangan tersebut. Hahaha.. boleh percaya, boleh juga tidak 🙂

Setelah puas berkeliling di area bangunan gereja dan tak lupa meninggalkan kesan pesan dalam buku tamu, saya beranjak ke museum terbuka yang terletak di atas bukit di sebelah timur. Untuk mencapainya, saya harus berjalan kaki di jalan setapak yang menanjak selama sekitar 15 menit. Museum terbuka yang disebut Heddal Bygdetun ini merupakan kompleks peternakan dan pemukiman penduduk dari abad ke-18 yang dilestarikan dan dijadikan museum. Setiap rumah memiliki nama serta tahun pembangunannya dan masing-masing memamerkan berbagai hal yang khas dari wilayah Telemark mulai dari arsitektur kayunya sampai pakaian tradisionalnya.

Rumah pertama yang saya masuki berlantai dua dan berlangit-langit rendah. Isinya adalah perabotan rumah tangga dan peralatan masak seperti panci dan tungku. Rumah di sebelahnya yang masih semodel memamerkan karya-karya rajutan dengan motif-motif khas Telemark. Dari kedua rumah tersebut, saya berjalan menuju rumah utama yang paling besar dan terletak di tengah kompleks. Rumah tersebut, selain berfungsi sebagai dapur dari kafe mini yang ada di kompleks museum, juga memajang berbagai koleksi yang masih asli dari masa lampau. Ruangan besar di lantai satu yang terletak di sebelah dapur memajang sebuah meja panjang dan perapian tua. Dahulu, ruangan tersebut berfungsi sebagai ruang makan.

13754130_10210487288604969_7629065352935167194_n

Heddal Bygdetun

Dari lantai satu, saya menaiki tangga sempit yang berada di bagian depan rumah untuk mencapai lantai dua. Di lantai dua juga terdapat dua ruangan. Yang pertama merupakan ruang tinggal bagi keluarga yang menempati rumah tersebut di masa lalu. Di ruang tersebut terdapat dua tempat tidur kayu yang menurut saya ukurannya terlalu kecil untuk tidur dengan nyaman. Di sudut lain ruangan tersebut terdapat tempat tidur bayi, yang bersebelahan dengan meja di depan dinding berlukisan malaikat. Dari situ, saya berjalan ke ruangan kedua yang memajang pakaian tradisional Norwegia atau yang disebut bunad.

Setiap wilayah memiliki bunad yang berbeda-beda meski bentuk dasarnya sama. Di ruangan ini dipajang bunad khas Telemark dan biografi tentang seorang wanita yang pernah tinggal di peternakan tersebut dan bekerja sebagai pembuat bunad. Awalnya, ia hanya menjahit untuk dirinya sendiri. Namun, setiap kali ia menyelesaikan satu bunad, tetangga atau kenalannya akan meminta atau berusaha membelinya. Akhirnya, ia pun menjadi penjahit bunad.

Lelah berjalan-jalan, saya memutuskan untuk mencicipi hidangan khas daerah tersebut di kafe kecil di lantai bawah. Seorang pelayan dengan pakaian bunad merekomendasikan semacam pancake yang disebut lapper dan disertai pilihan saus stroberi atau krim. Saya duduk di beberapa bangku yang disediakan di sekitar rumah utama tersebut sambil menikmati udara segar musim panas Norwegia. Hidangan pun datang dalam beberapa menit saja. Sambil menghidangkan, sang pelayan menjelaskan bahwa makanan tersebut biasa dimakan untuk sarapan para penduduk desa tersebut di masa lampau. Lapper ini, meskipun tampaknya agak gosong karena dipanggang di tungku tradisional, rasanya manis seperti pancake atau kue khas Jepang dorayaki. Semakin lezat terutama setelah dibubuhi saus stroberi dan krim. Walaupun hanya makan satu potong, saya cukup kenyang untuk melanjutkan perjalanan.

13718500_10210487289164983_8307632213461258181_n

Lapper dan jus apel

Dari Heddal Bygdetun, saya kembali menuruni jalan setapak yang mengarah ke bangunan gereja. Saatnya mengakhiri eksplorasi saya di Heddal Stavkirke dan melanjutkan ke perhentian berikutnya. Demikian rencana yang ada di kepala saya, pacar saya dan orang tuanya. Tapi dasar gak mau rugi, alih-alih lurus ke parkiran mobil, saya justru berbelok kembali ke gedung administrasi. Niatnya hanya mau beli suvenir titipan ibu saya berupa magnet lemari es, kemudian dilanjut ke toilet. Eh, justru saya dan pacar saya belok kembali ke museum mini di basement.

Saya tahu ada yang saya belum lakukan di sana. Untuk melaksanakan maksud kami, kami pun berbicara dengan pria Viking yang sedari tadi masih di sana. Ia adalah staf museum, sekaligus guru yang akan mengajari saya tentang Rune. Dengan biaya 30 NOK, saya mengambil menit-menit terakhir sebelum tutupnya museum untuk berguru pada pria Viking tersebut. Oh ya, saya tidak sebut namanya karena memang saya tidak tanya. Takut terlalu pribadi untuk masyarakat introvert seperti Norwegia. Tetapi, sambil berusaha mengukir huruf Rune pada potongan kayu seperti yang ia ajarkan, saya justru mengepo sedikit kehidupannya. Ternyata, ia adalah seorang lulusan arkeologi dan sejarah yang menggemari reenactment atau rekonstruksi hidup peristiwa-peristiwa sejarah. Ia sudah sering memasang stand di festival-festival abad pertengahan yang sangat saya sukai.

Tangannya begitu terampil mengukir huruf-huruf Rune di atas potongan kayu ask. Saya berusaha mengikutinya sambil bertanya tentang aksara Rune. Rupanya, aksara Rune sudah tidak digunakan lagi sejak orang-orang mengenal perkamen dan tinta. Aksara Rune hanya digunakan pada kayu dan batu, mengingat bentuknya yang patah-patah dan kaku. Setiap huruf memiliki makna masing-masing, yang nanti akan saya bahas di cerita petualangan lainnya (ditunggu ya ^^).

Setelah obrolan panjang, jari-jari pegal dan serutan kulit kayu di mana-mana, saya berhasil mengukir Rune saya sendiri yang berbunyi “Helsing fra Heddal” yang berarti “Salam dari Heddal”. Saya pun berpamitan dan berterima kasih pada sang guru yang sudah dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan saya, berikut menghadapi wajah norak saya sebagai penggemar sejarah Viking dan abad pertengahan dari negeri yang jauh. Saya pun kembali ke mobil dan menemui kedua orang tua Chris yang tampak tidak sabar menunggu. Maklum, perjalanan masih panjang. Maaf ya, Om dan Tante! Tapi saya bahagia banget lho!

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Heddal Stavkirke dalam bahasa Inggris:

http://www.heddalstavkirke.no/lang/gb

Kisah Volsunga Saga:

http://www.timelessmyths.com/norse/nibelungs.html

Dari Swedia ke Norwegia via Laut Utara

Sekali berlayar, satu dua negara terlampaui. Begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk awal perjalanan darat saya sembari menikmati musim panas Skandinavia. Sebetulnya kurang tepat juga sih disebut “melampaui”, karena saya hanya menyebrang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Gak apa-apalah, setidaknya menginjakkan kaki di dua negara ^^ Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya naik kapal feri lho. Padahal saya tinggal di negara kepulauan dan maritim, tapi ujung-ujungnya justru berlayar pertama kali di negeri orang.

Perjalanan darat saya menuju Norwegia Utara musim panas 2016 ini dimulai di kota tepi pantai Halden di perbatasan Norwegia-Swedia. Perjalanan yang telah menjadi impian saya sejak lama ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari pacar saya, Chris dan ayah ibunya, Tor Vidar dan Ellen. Dari Halden, saya berangkat pukul 09.00 menuju kota pelabuhan lainnya di Swedia yang bernama Strömstad. Strömstad berjarak 30 menit perjalanan dengan mobil dari Halden, tepatnya sedikit di sebelah selatan. Lho? Kok malah turun ke Selatan dan bukan naik ke Utara? Karena perjalanan darat akan melalui sebelah barat Norwegia dan untuk mencapai kota pertama di sana yaitu Sandefjord, jalur tercepat adalah melalui laut dari Strömstad. Lebih jelasnya lagi memang harus lihat peta di bawah ini 😀

fesavcoloroutes

Rute-rute Color Line. Rute yang saya lalui adalah Strömstad – Sandefjord. Sumber: http://www.ferrysavers.es/

Dari Strömstad, saya menumpang kapal feri milik maskapai pelayaran Color Line bernama M/S Bohus. Woohoo.. pelayaran dengan feri pertama saya!! *norak mode: on*. Tarif perjalanan dengan M/S Bohus dapat berubah-ubah sesuai kapasitas dan permintaan pasar. Untuk saat ini, tarif satu kali pelayaran adalah 130 NOK untuk satu mobil dan satu orang, plus 30 NOK per penumpang tambahan. Dengan tiket tersebut, kita sudah memperoleh makan siang berupa buffet dan berbelanja di duty free Color Line. Lumayan banget nih 🙂

Perjalanan berawal di pelabuhan Strömstad. Setelah mobil diparkir di lantai dasar kapal, penumpang naik ke lantai dua tempat restoran dan kafe berada. Restoran untuk buffet berada di bagian belakang kapal dengan dikelilingi jendela kaca yang memungkinkan kita untuk melihat pemandangan laut yang biru dan pulau-pulau karang yang bertebaran. Saya mendapat meja dekat jendela belakang kapal, sehingga saya dapat melihat pelabuhan Strömstad semakin mengecil di kejauhan seiring dengan berlayarnya kapal. Lamanya pelayaran menuju Sandefjord adalah 2 jam 30 menit.

300px-color_bohus

M/S Bohus, kapal feri yang saya tumpangi. Sumber: http://www.en.wikimedia.org/

Interior kapal didominasi warna coklat tua dari kayu-kayu yang membentuk dindingnya dan memberi suasana antik pada kapal. Tidak perlu banyak penerangan di dalam kapal karena sinar matahari bersinar cerah hari itu hingga mampu menembus jendela-jendela di sepanjang dinding kapal. Ombaknya cukup kuat karena angin berhembus relatif kencang. Saya terombang-ambing ketika hendak mengambil makanan dari buffet yang tersedia. Derita punya badan kecil 😥 Alhasil saya harus berjalan sambil berpegangan pada tiang atau meja-kursi.

bohus_1971_inr_001

Interior restaurant buffet M/S Bohus yang didominasi kayu. Sumber: http://www.faktaomfartyg.se/

Menu yang ditawarkan sangat bervariatif meski didominasi makanan Eropa. Untuk menu pembuka disediakan beberapa jenis salad yang bisa kita ramu sendiri. Menu utama disediakan pilihan potato wedges atau roti dengan lauk berupa sosis, telur dan daging yang dimasak dengan berbagai cara. Ada salmon juga yang menjadi favorit saya setiap kali pergi ke Norwegia. Sebagai penutup, kita bisa memilih es krim, buah dan puding. Nyam! Lezatnya 🙂

Entah mengapa, sehabis makan saya justru mengantuk parah. Mungkin akibat masih jet lag karena saya baru mendarat dua hari lalu sehabis terbang 19 jam dari Jakarta. Mungkin juga akibat ombak yang terasa seperti ayunan bayi (eh, beneran loh! Saya ‘kan baru pertama kali naik kapal feri 😀) Saya pun sukses tertidur pulas di meja selama kira-kira setengah jam. Astaga! Beneran buang-buang waktu. Untungnya saya masih punya peran lain, yaitu mengawasi tas-tas dan barang-barang bawaan yang ditinggal keluarga Chris yang dengan asyiknya menikmati udara segar di luar.

Nah, udara segar! Ini dia yang saya butuhkan supaya berhenti tidur. Akhirnya, begitu orang tua Chris kembali, saya dan dia buru-buru naik ke lantai atas untuk menikmati udara segar. Sulit juga ternyata berjalan di dalam kapal yang terombang-ambing, terutama ketika menaiki tangga. Ternyata, di lantai tiga terdapat dek yang terbuka. Di sana berjajar beberapa meja yang di atasnya dipasang atap tempat orang-orang bisa makan dan minum di udara terbuka. Sedikit ke atas lagi di bagian belakang kapal adalah daerah yang benar-benar terbuka (tanpa atap) yang juga dilengkapi beberapa bangku. Senangnya berlibur di Norwegia adalah sedikitnya jumlah manusia, sehingga bangku-bangku tersebut tidak penuh, apalagi oleh orang-orang yang berfoto tanpa henti ^^ Akan tetapi, sebagai orang Asia (atau Indonesia) saya tentu tidak lupa menjepret beberapa foto dan selfie di sini, walaupun angin bertiup kencang dan berkali-kali foto selfie saya dipenuhi rambut hahaha 😀 Rasa kantuk saya langsung terobati setelah duduk-duduk di atas beberapa saat. Sekedar info, meskipun matahari bersinar dan langit cerah tanpa awan, angin laut Skandinavia cukup dingin. Jangan lupa membawa jaket atau cardigan (syukur-syukur punya windbreaker) sebagai penangkal dingin 🙂

13669053_10210478002692827_4267706585559891217_n

Birunya laut dan langit utara 🙂

13700141_10210478002532823_7280807025074329443_n

Narsis di tengah tiupan angin laut hehehe… 😛

Berlalu dari dek terbuka, saya menuju bagian depan kapal yang ternyata tempat toko-toko berada. Ada toko suvenir Color Line yang menjual aneka suvenir bertema laut atau kapal dan pakaian-pakaian, khususnya pakaian anti dingin yang sangat penting dibawa ketika bepergian ke Skandinavia. Di bagian terdepan adalah duty free shop yang menjual aneka benda dari kosmetik hingga makanan. Di duty free shop ini kita cukup menunjukkan tiket dan akan mendapatkan potongan harga yang lumayan. Cukup murah dibandingkan dengan membeli di darat, terlebih di Norwegia yang nilai mata uangnya lebih tinggi dibanding Swedia. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli bekal minuman di perjalanan dan beberapa snack.

Selesai membayar, terdengarlah pengumuman dari nahkoda kapal yang memberi tahu kami untuk kembali ke mobil karena kapal akan segera merapat di pelabuhan Sandefjord. Berakhirlah pelayaran singkat dengan kapal feri pertama saya yang sangat berkesan tersebut. Setelah kembali ke mobil dan menunggu beberapa saat, pintu kapal dibuka dan kami pun langsung meluncur kembali ke Norwegia. Eits, tidak bisa langsung keluar dari pelabuhan, karena mobil kita dihentikan sebentar oleh petugas. Beliau meminta kami memperlihatkan identitas atau paspor. Border control, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, untuk menghindari masuknya imigran ilegal dari Uni Eropa. Dengan ramah, Pak Petugas mencari saya ketika melihat ada paspor Indonesia. Saya pun membalas dengan sapaan dan tersenyum. Kemudian, ia mempersilakan mobil kami untuk terus berjalan. Dengan demikian, dimulailah perjalanan darat kami yang sesungguhnya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.colorline.com/crossings/from_str_mstad_to_sandefjord