Menilik Sejarah Kristenisasi Bangsa Viking di Nidarosdomen

Musim gugur 2014 adalah kali pertama kaki saya menjejak tanah Norwegia. Dengan rute yang nyaris sama, saya melakukan perjalanan dari selatan ke utara, tetapi saat itu saya menggunakan kereta. Suatu hari dalam dua minggu perjalanan saya, saya tiba di sebuah stasiun di tengah hujan yang turun rintik-rintik. Suatu kesalahan fatal membuat saya terpaksa membuang waktu satu hari yang seharusnya saya gunakan untuk mengeksplor kota tempat stasiun tersebut berada. Sialnya lagi, cuaca betul-betul tidak berpihak pada saya. Satu hari yang tersisa sebagai satu-satunya kesempatan saya untuk menikmati kota tersebut terpaksa dihabiskan di hotel saja, karena begitu saya tiba di kamar hotel, hujan justru bertambah deras. Sejak hari itu, saya bertekad untuk membayar kesalahan saya dan mengunjungi kota tersebut suatu hari nanti.

Kota tersebut adalah Trondheim, yang oleh karena pengalaman saya maka saya sebut kota kenangan. 🙂 Tentu tak hanya itu saja alasannya, karena bertualang di kota tersebut di bawah mentari musim panas adalah hal yang tak terlupakan. Trondheim dapat dicapai dengan mobil dari Flakk Camping selama 30 menit. Sudah sejak lama, saya dan Chris sangat ingin mengunjungi kota ini. Sebagai penggemar berat sejarah abad pertengahan dan bangsa Viking, Trondheim adalah kota wajib kunjung bagi kami berdua.

Tujuan utama saya di sini adalah sebuah bangunan yang juga menjadi ikon kota Trondheim, yaitu Nidarosdomen. Nidarosdomen adalah katedralnya kota Trondheim yang juga merupakan satu-satunya gereja berarsitektur gotik di seluruh Norwegia. Tidak hanya itu saja, katedral ini sudah berdiri sejak masa abad pertengahan dan menjadi saksi sejarah kristenisasi bangsa Viking dan perkembangan gereja di negara tersebut. Nah, kebayang ‘kan berapa banyak cerita yang tidak sabar untuk diungkap di balik bangunan ini?

Karena saya naik mobil, saya tidak menemui kesulitan untuk mencapai Nidarosdomen. Akan tetapi, jika saya naik kereta, saya harus berjalan cukup lumayan untuk tiba di sana. Dari stasiun, saya harus menyeberangi jembatan yang tepat berada di depan pintu masuk stasiun menuju Sondre Gate. Saya harus menyusuri jalan tersebut hingga tiba di Kongens Gate tempat saya harus mengambil belokan ke kanan. Begitu tiba di bundaran yang juga merupakan alun-alun kota, saya tinggal berbelok ke kiri memasuki Munkegata. Sebetulnya dari alun-alun tersebut sangat mudah untuk menemukan Nidarosdomen. Menaranya yang menjulang tinggi akan tampak jelas dari sana.

IMG_4134

Alun-alun kota Trondheim

Jika naik mobil, kita bisa memarkir mobil di sepanjang Munkegata. Jalan tersebut dipagari oleh gedung-gedung penting, termasuk gedung pengadilan dan balai kota. Dahulu, ketika Nidarosdomen masih digunakan dalam upacara penobatan raja atau anggota kerajaan, mereka akan diarak melalui jalan tersebut. Di ujung Munkegata adalah pintu masuk utara kompleks katedral Nidarosdomen. Begitu tiba, saya langsung disambut oleh hijaunya pepohonan yang menaungi area pemakaman yang mengelilingi Nidarosdomen. Batu-batu nisan yang indah berhiaskan patung maupun batu-batu nisan yang sudah sangat tua tersebar di pemakaman nan asri tersebut. Tidak jauh dari pintu masuk berdiri sebuah patung peringatan untuk mengenang para pejuang yang gugur dalam Perang Dunia II. Tampak juga bangku-bangku taman yang dapat digunakan untuk duduk-duduk sambil menikmati pemandangan. Meskipun tua, pemakaman ini tampak sama sekali tidak menyeramkan.

Saya berbelok ke kanan menuju sisi barat bangunan Nidarosdomen. Untuk memasuki katedral tersebut sebagai turis, saya perlu membeli tiket terlebih dahulu. Tiket masuk tersebut dapat dibeli di Nidarosdomen Besøkssenter yang berlokasi di sisi kiri pintu masuk utama gereja. Tempat tersebut, selain melayani penjualan tiket juga merupakan toko suvenir dan memiliki kafe di dalamnya. Untuk petualangan hari itu, saya membeli tiket kombinasi seharga 180 NOK. Harga tersebut sudah termasuk tur dengan pemandu di Nidarosdomen, Erkebispegården (Archbishop’s Palace Museum) dan Riksregaliene (Crown Regalia). Dengan tiket terpisah, saya harus membayar 90 NOK untuk setiap tempat tersebut. Hal tersebut berarti saya mendapat 3 tempat dengan membayar untuk 2 tempat dengan tiket kombinasi. Semua dana hasil penjualan tiket tersebut masuk ke kantong pemerintah setempat dan digunakan untuk restorasi dan perawatan bangunan tersebut yang terus berlangsung dan tidak murah. Jadi, jangan komplain ya kalau harganya mahal hehehe 😛

Sebelum memasuki bangunan katedral untuk memulai tur, saya menikmati keindahan arsitektur fasade depan gereja. Wajah depan Nidarosdomen dihias dengan patung-patung orang kudus yang bernaung di bawah lengkung-lengkung atap khas gaya gotik. Deret paling atas adalah patung-patung nabi dan raja dari kitab Perjanjian Lama. Deret tengah merupakan tempat patung-patung santo-santa dari Norwegia sedangkan pada deret paling bawah terdapat patung rasul-rasul dan kisah penyaliban. Dua menara menjulang dengan atap-atapnya yang lancip di sisi kiri dan kanan. Pada puncak menara barat laut berdiri patung malaikat Mikael. Ada fakta unik di balik pembuatan patung-patung tersebut. Karena para pematungnya tidak mengetahui wajah asli orang-orang kudus tersebut, mereka pun menggunakan tokoh-tokoh modern sebagai model wajahnya. Contohnya, patung malaikat Mikael mencontoh wajah Bob Dylan, yang dipilih karena terinspirasi oleh perjuangannya menentang Perang Vietnam. Dari sisi depan tersebut tampak pula menara utama di bagian tengah yang beratap kerucut berwarna hijau. Dinding katedral tersebut dihias oleh jendela-jendela tinggi yang melancip di atas. Pada bagian tengah wajah depannya terpasang kaca patri bunga mawar yang juga menjadi khas bangunan katedral. Di atasnya adalah ukiran bertema penghakiman terakhir. Bagian barat gereja yang rumit ini juga merupakan bagian bangunan yang paling baru dan terakhir selesai direstorasi pada tahun 1969.

IMG_4099

Wajah depan Nidarosdomen, dipenuhi deretan patung orang kudus.

IMG_4133

Wajah depan Nidarosdomen (detil) dengan patung kisah penyaliban di tengah tepat di bawah jendela mawar.

Puas mengagumi keindahan wajah barat katedral Nidaros, saya masuk dan mengikuti turis-turis lainnya. Rupanya, seorang pemandu telah siap memulai tur di dalam katedral tersebut. Kami duduk di deretan kursi di bagian belakang gereja selagi pemandu yang berpakaian seragam jubah merah tersebut memulai penjelasannya. Selain bahasa Inggris, yang juga adalah tur yang saya ikuti karena bahasa Norwegia saya masih sangat terbelakang :’D, tersedia juga tur dalam bahasa Prancis dan Jerman. Sang pemandu memulai penjelasannya dengan memberi tahu kami sebuah aturan yang sangat mengecewakan. Dilarang mengambil foto di dalam Nidarosdomen, katanya. 😦 Sayang sekali, padahal arsitektur bagian dalamnya sangat cantik.

Sang pemandu mulai bercerita, bahwa pada zaman dahulu, kira-kira pada abad ke-9, terjadi ekspansi bangsa Viking besar-besaran ke berbagai penjuru Eropa. Salah satu dari mereka, Olav Haraldsson adalah seorang kepala suku Viking yang terkenal karena aksi heroiknya di wilayah Baltik. Dari Baltik, ia berlayar ke berbagai tempat lainnya seperti Inggris dan Prancis. Ketika di wilayah Normadia, Prancis, ia berkenalan dengan ajaran kristiani yang digunakan oleh penguasa setempat sebagai alat untuk mengendalikan dan memimpin masyarakat sampai ke dunia spiritual mereka. Di saat itulah ia menyadari betapa menguntungkannya ajaran Kristiani. Konon katanya ia mempelajari ajaran ini dan dibaptis pula. Ketika suatu saat ia dipercaya untuk memimpin Norwegia Timur oleh Raja Denmark, ia mendirikan gereja sebagai suatu institusi dan menjadikan agama Katolik Roma sebagai agama resmi negara karena terinspirasi oleh Duke Normandia. Ia juga melarang ritual agama lain, termasuk kaum pagan yang saat itu mendominasi Skandinavia. Akibatnya, banyak penduduk setempat yang dipaksa menganut agama Katolik dengan hukuman mati sebagai ganjarannya apabila mereka menolak. Dalam peperangan di Stiklestad, Olav dan pasukannya berhasil dikalahkan oleh penduduk wilayah Trondelag yang memberontak akibat pemaksaan agama yang dilakukannya.

Sejujurnya saya bingung, bagaimana orang bertangan besi seperti itu dapat menjadi orang kudus. Rupanya, raja Denmark yang kemudian mengambil alih pemerintahan setelah tewasnya Olav memerintah dengan lebih kejam lagi. Ia menarik pajak tinggi dari rakyat dan membuat mereka sengsara. Kondisi terjajah membuat orang-orang menginginkan sosok seperti Olav yang meskipun kejam tetapi berjuang untuk kemerdekaan bangsa mereka dari penjajahan. Hal ini pun dimanfaatkan oleh masyarakat yang mendukung Raja Olav dengan memulai kultus yang menyatakan bahwa Raja Olav tewas sebagai martir dan kemudian menjadi santo pelindung Norwegia.

4b7650cfae98f36f0b459029cc498a9d

Patung St. Olav di fasade depan gereja dalam perayaan pesta namanya.

Lalu apa kaitannya kisah Raja Olav dengan Nidarosdomen? Menurut Mbak Pemandu Wisata, Nidarosdomen dibangun di atas makam St. Olav. Berawal dari sebuah kapel kecil pada abad pertengahan yang semakin ramai oleh peziarah, Nidarosdomen terus dibangun dan diperluas. Pembangunannya melintasi berbagai zaman yang buktinya tampak jelas pada perbedaan gaya arsitektur bagian-bagian yang membentuk gereja tersebut. Nidarosdomen juga sempat mengalami bencana kebakaran beberapa kali. Setelah peristiwa yang terakhir bahkan sempat lama tidak diperbaiki atau direstorasi seadanya karena saat itu Norwegia didominasi oleh Kristen Protestan yang tidak begitu mementingkan keindahan bangunan gereja yang dipenuhi patung apalagi mengkultuskan Santo Olav. Bangunan yang ada sekarang berukuran lebih kecil daripada ukuran terbesar yang pernah ada, tetapi sebagian besar desainnya dibuat semirip mungkin kecuali lukisan-lukisan pada kaca patri.

Kaca patri sisi utara menggambarkan kisah Perjanjian Lama sedangkan bagian selatan menceritakan kisah Perjanjian Baru. Kaca patri mawar yang berada di dinding barat Nidarosdomen adalah karya Gabriel Kielland dan menggambarkan kisah penghakiman terakhir. Kaca-kaca patri ini mengelilingi ruangan bagian barat yang juga menjadi sisi panjang dari keseluruhan bangunan yang berbentuk salib. Di bawah kaca patri mawar terpasang megah organ Steinmeyer yang berukuran sangat besar. Pada bagian depan ruangan tersebut berdiri salib besar dari perak di atas sebuah altar kecil. Salib tersebut merupakan pemberian dari emigran Norwegia-Amerika di abad ke-20.

13938357_10157956426940377_3762976875906191797_n

Kaca patri mawar dengan kisah penghakiman terakhir di atas organ Steinmeyer. Jangan tanya bagaimana cara mendapatkan foto ini 😀

13939558_10157956431855377_582581952923537058_n

Salib perak besar di altar sebelah barat pemberian emigran Norwegia-Amerika.

Dari sisi barat bangunan, saya mengikuti pemandu menuju sayap utara Nidarosdomen. Di sisi utara tersebut juga terdapat organ yang ukurannya lebih kecil dan tidak semegah organ Steinmeyer di bagian barat. Akan tetapi, organ yang bernama Wagner ini lebih legendaris. Bukan karena ia ada hubungannya dengan Richard Wagner sang komposer ternama, melainkan karena organ ini dibuat oleh orang yang sama dengan yang membuat organ milik Johann Sebastian Bach. Kebayang ‘kan setua apa? Uniknya lagi, organ bergaya barok ini menjadi salah satu dari sejumlah kecil organ bertipe sama yang masih bertahan dan lestari hingga saat ini. Sebagian besar organ Wagner yang pernah dibuat telah hancur akibat Perang Dunia II. Sebagai penutup di ruangan tersebut, pemandu menginformasikan bahwa akan ada konser musik singkat menggunakan organ tersebut di hari itu. Wah, beruntungnya saya! 🙂

Selanjutnya, saya beralih ke bagian timur bangunan gereja yang juga membentuk kepala salib. Zona tersebut mungkin menjadi zona yang paling penting dari seluruh bangunan gereja, terutama karena kekayaannya akan sejarah dan legenda yang berkaitan dengan St. Olav. Setelah melalui sederetan kursi umat, saya tiba di altar lain yang lebih besar. Altar ini terletak di dalam oktagon, yaitu semacam ruang berbentuk segi delapan yang dipagari oleh lengkung-lengkung khas gaya gotik. Di atas oktagon terpaku sebuah salib besar dan kiri kanannya berdiri patung-patung. Tidak jauh dari oktagon tersebut terdapat sebuah baskom tua yang dulu digunakan untuk upacara pembaptisan.

Oktagon ini menyimpan banyak cerita. Menurut pemandu, ruangan tersebut dulunya merupakan tempat menyimpan relikui St. Olav. Sekedar informasi, setiap gereja yang dibangun umumnya memiliki relikui dari santo santa yang namanya digunakan untuk gereja tersebut. Konon katanya, relikui St. Olav ditempatkan dalam sebuah kotak berbentuk bangunan gereja berhiaskan kepala naga, sama seperti kepala naga yang menghias Heddal Stavkirke yang terinspirasi dari arsitektur bangsa Viking. Sayangnya, baik relikui maupun kotaknya sudah tidak ada. Lagi-lagi menurut pemandu, sebetulnya tidak ada orang yang tahu di mana tepatnya makam St. Olav. Pada intinya, cerita yang mereka percaya adalah bahwa di atas tanah tersebut pernah berdiri kapel kecil di atas makam St. Olav yang selalu ramai oleh peziarah. Entah sebetulnya di sisi gereja yang mana makam tersebut berada tidak ada yang tahu.

Saya dan pengunjung lainnya kemudian diajak untuk memutari sisi luar oktagon tersebut. Di bagian belakang oktagon terdapat ruangan kecil yang berisi altar tua yang juga kecil dan berhiaskan lukisan kisah hidup St. Olav. Tidak jauh dari ruangan tersebut terdapat ceruk kecil yang dipagari. Di bagian atasnya terdapat cermin yang memungkinkan kita untuk melongok ke dalamnya. Tempat tersebut adalah sumur St. Olav yang airnya diyakini dapat menyembuhkan orang sakit. Ketika airnya mengering, sumur tersebut berubah menjadi sumur permohonan tempat orang melempar koin dan berharap doanya dikabulkan. Dikatakan bahwa sumur tersebut adalah tempat yang paling sering didatangi dan disentuh orang. Pemandu menunjukkan dinding di sekitar sumur yang berwarna sangat hitam, sangat berbeda dengan sisi dinding lain di gereja tersebut yang cenderung abu-abu. Ternyata, Nidarosdomen dibangun menggunakan soapstone, yang jika disentuh manusia lama kelamaan akan berubah warna menjadi hitam karena bereaksi dengan keringat.

13921198_10157956427120377_2589680361280272305_n

Altar di belakang oktagon yang berlukiskan kisah hidup St. Olav.

Tur hampir berakhir. Pemandu mengantar saya dan para pengunjung lain menuju sisi selatan bangunan gereja sebagai perhentian terakhir. Di tempat itu, kursi-kursi sudah mulai disusun sebagai persiapan untuk menonton konser organ. Menutup penjelasannya, ia menunjukkan arsitektur sisi selatan yang tampak berbeda dari bagian lain gereja tersebut. Arsitektur bagian ini tidak didekorasi oleh lengkung lancip, tetapi hanya lengkung biasa dan lebih sederhana ciri khas gaya Romanik yang berasal dari Italia. Romanik dan gotik memang merupakan dua gaya bangunan yang dominan dan menjadi ciri khas abad pertengahan dengan romanik sebagai yang lebih tua. Gaya romanik yang tersisa di sisi selatan Nidarosdomen menunjukkan bahwa bagian tersebut berasal dari masa yang berbeda dari sisi lain yang selamat dari bencana kebakaran. Sambil menginformasikan mengenai konser yang akan segera dimulai dan sisi bangunan lain yang masih dapat dijelajahi, sang pemandu mengakhiri turnya.

13935158_10157956431800377_1290815797782794496_n

Detil bangunan yang bergaya gotik.

Selagi menunggu konser dimulai, saya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang belum dieksplor bersama pemandu. Salah satunya adalah sebuah meja yang terletak di sisi kiri altar utama yang berisi kertas-kertas kecil tempat saya dapat menuliskan doa. Menurut keterangan yang ada di atas meja tersebut, doa-doa yang ditulis oleh para pengunjung akan didoakan bersama-sama dalam misa atau ibadah yang berikutnya. Ada pula sebuah meja lain di dekat deretan kursi yang disusun untuk menonton konser. Meja ini lebih merupakan tempat menaruh lilin. Di dekatnya disediakan lilin yang boleh saya ambil dan saya nyalakan. Keterangan di tempat menaruh lilin tersebut mengajak para pengunjung untuk menyalakan lilin bagi keluarga atau kenalan yang sudah meninggal dan mendoakan mereka agar selalu berada dalam damai.

IMG_4106

Meja tempat pengunjung menulis doa.

IMG_4107

Keranjang berisi kumpulan doa.

Sebelum menonton konser, saya juga sempat mengunjungi makam bawah tanah di Nidarosdomen. Tidak terlalu mudah menemukan makam ini. Saya hanya mengetahui bahwa ruangan tersebut dapat diakses, namun setelah berputar-putar, saya baru menyadari adanya sebuah tangga untuk turun ke bawah tanah melalui sisi kanan sayap barat bangunan gereja. Makam bawah tanah tersebut diterangi oleh lampu-lampu yang cukup terang sehingga jauh dari kesan seram. Di dalamnya terdapat makam-makam dengan batu-batu nisan yang besar. Nisan-nisan tersebut dipahat dengan indah, namun sudah banyak yang retak akibat berbagai bencana yang terjadi selama ratusan tahun. Pahatan membentuk malaikat menjadi motif dominan pada nisan-nisan tersebut, diikuti oleh simbol-simbol keluarga bangsawan. Memang, sebagian besar orang yang boleh dimakamkan di Nidarosdomen di masa itu hanyalah kaum bangsawan dan orang-orang yang terpandang di masyarakat. Akan tetapi, saat ini, memakamkan orang di Nidarosdomen sudah tidak diperbolehkan lagi karena katedral ini sudah menjadi cagar budaya.

Selesai berkeliling di makam bawah tanah, saya beranjak kembali ke atas karena konser organ akan segera dimulai. Saya duduk di barisan belakang dan menikmati permainan organ yang terdiri dari lagu-lagu klasik, salah satunya adalah favorit saya, Canon in D karya Johann Pachelbel. Kira-kira ada total lima lagu yang dimainkan oleh sang organis. Konser berlangsung sekitar setengah jam dan suara organ Wagner tua tersebut terdengar sangat merdu. Penampilan sang organis pun sukses memukau penonton.

Setelah konser berakhir, kursi disusun kembali untuk memberi ruang bagi para pengunjung. Tujuan saya berikutnya adalah suatu tempat yang memang sengaja saya sisakan untuk penutup yang manis. Menara tertinggi katedral Nidarosdomen yang dapat dicapai dari tangga di sudut kanan sayap selatan gedung gereja. Tahun 2013, ketika saya berada di Munich, saya juga pernah menaiki 139 anak tangga untuk mencapai puncak menara salah satu gereja tertua di pusat kotanya. Ternyata, menyaksikan kota dari ketinggian telah diam-diam menjadi hobi saya. 😀 Kali ini saya bermaksud menantang kemampuan diri dengan menaiki menara yang lebih tinggi lagi, yaitu 172 anak tangga.

Untuk mencapai puncak menara, pengunjung tidak diperbolehkan naik sendirian. Harus ada pemandu yang membimbing mereka. Pemandu ini akan mengumpulkan para pengunjung yang hendak mengikuti tur singkat ke menara sekaligus menarik biaya tiket tambahan sebesar 40 NOK. Pemandu grup saya saat itu namanya Maria. Sebelum mulai naik, Maria berpesan pada kami bahwa ukuran tangga yang akan kami naiki sangat sempit, sehingga bagi peserta yang berpenyakit atau berbadan terlalu besar untuk ukuran tangga disarankan untuk mengundurkan diri. Ia menambahkan peringatan itu dengan menceritakan tentang seorang turis yang sangat gemuk dan terjepit di tangga.

Dari sejumlah turis yang berkumpul dan berniat naik, akhirnya tersisa enam orang termasuk saya dan pacar saya. Dua orang lainnya adalah pasangan turis berbahasa Italia dan dua lainnya adalah pria dan wanita yang umurnya cukup tua. Rombongan kami pun mulai menaiki tangga dengan Maria berada di urutan paling belakang karena ia harus siap mengantar turun apabila ada anggota rombongan yang tiba-tiba sakit atau mengalami klaustrofobia akibat sempitnya tangga. Benar saja, ketika tangga sampai pada lingkaran kedua, dua orang tua tersebut menyerah dan turun. Saya pikir, sayang sekali 40 Kroner mereka, tapi lebih baik daripada tiba-tiba sakit atau tewas. Sebelum melanjutkan langkah, saya menunggu Maria kembali, sengaja agar saya mudah jika ingin bertanya-tanya.

Setelah tiga tingkat saya lalui, saya tiba di sebuah pintu. Pintu tersebut mengarah ke pelataran dalam gereja yang mengelilingi aula-aula besarnya. Akan tetapi, pelataran tersebut terbilang sempit, sehingga hanya dapat digunakan untuk lewat saja. Di situ saya menyadari adanya bendera yang lebih mirip permadani dinding tergantung menjulur ke bawah dari langit-langit sayap selatan gereja. Salah satunya bersimbol kerajaan Inggris. Menurut penjelasan Maria, bendera tersebut dipasang sebagai penghormatan terhadap Inggris yang telah bersedia menampung keluarga kerajaan Norwegia yang mengungsi selama Perang Dunia II. Karena alasan yang sama pula, Nidarosdomen juga menyelenggarakan misa gereja Anglikan. Info tambahan, Nidarosdomen dimiliki oleh tiga denominasi gereja yang bergantian merayakan misa atau kebaktian di dalamnya, yaitu Katolik, Protestan dan Anglikan.

Melalui pelataran dalam tersebut, saya menyeberang menuju bagian tengah gereja tempat tangga menuju menara terletak. Pintu menuju tangga berukuran lebih kecil dari pintu yang saya lalui sebelumnya. Demikian pula tangga yang melingkar-lingkar menuju puncak. Ruang tangga yang sempit dan anak tangga yang ketinggiannya tidak selalu sama membuat saya harus berhati-hati menaikinya. Ternyata, pembangunan tangga yang demikian bukan tanpa alasan. Tangga-tangga menuju menara di bangunan abad pertengahan selalu didesain sempit, tidak rata dan melingkar searah jarum jam. Alasannya karena hal tersebut memudahkan penghuni bangunan bertahan dari serangan musuh. Musuh yang menyerang dari bawah dan menaiki tangga akan kesulitan mengayunkan pedang karena ruang dekat bagian tengah tangga yang tersedia bagi tangan kanan mereka lebih sempit, terlebih lagi tidak ada pegangan di tangga menara tersebut. Sementara itu, tangan kanan penghuni yang bertahan memiliki ruang yang lebih luas untuk mengayunkan pedang karena berada dekat dinding luar tangga. Kondisi anak tangga dengan ketinggian tidak sama juga menguntungkan pihak penghuni yang sudah hafal dengan kondisi rumahnya sendiri. Musuh yang harus berjalan dalam kegelapan akan lebih sulit menapak dengan hati-hati. Hebat ya, ternyata, arsitek-arsitek abad pertengahan sudah mampu berpikir sedetil itu.

Tapi bangsa Viking ‘kan badannya tinggi-tinggi, bagaimana bisa mereka melalui tangga sesempit ini dengan leluasa? Pertanyaan saya langsung disambut jawaban Maria yang tidak saya duga. Katanya, orang Norwegia termasuk bangsa Viking pada abad pertengahan memiliki tinggi rata-rata yang hanya 160 cm. Sulit dipercaya ya, Pembaca? Mereka hanya 10 cm lebih tinggi dari saya! Dan lagi, mereka sudah merupakan yang tertinggi di Eropa di masa itu. Berarti tinggi rata-rata penduduk Eropa abad pertengahan mungkin lebih rendah dibandingkan penduduk Indonesia di masa kini.

Setelah dua kali berhenti karena harus mengatur nafas, saya tiba dengan selamat di puncak menara. Saya lihat Chris ternyata lebih ngos-ngosan lagi. Sepertinya badannya yang nyaris terlalu besar untuk ruang tangga lumayan menyulitkan dirinya. Kami beristirahat sejenak sebelum melangkah ke pelataran di puncak menara. Maria tidak ikut, karena ia akan berjaga di dekat pintu dan siap apabila ada dari kami yang ingin bertanya. Ia akan menjadi orang terakhir yang turun setelah kami semua puas melihat-lihat dan memutuskan untuk kembali.

Akhirnya saya melangkah keluar. Dengan berpegangan pada atap menara, saya berjalan pelan-pelan memutari puncak menara sembari mengagumi keindahan Trondheim dari ketinggian. Pemandangan terindah ada di sisi utara yang menghadap ke fjord. Dari situ terlihat pula Munkholmen yang tampak kecil di Trondheimsfjord, yaitu sebuah pulau tempat sebuah biara yang telah berdiri sejak abad pertengahan berada. Biara tersebut sempat menjadi penjara dan benteng pada zaman-zaman setelahnya dan saat ini menjadi museum yang dapat dikunjungi dengan menumpang perahu dari pelabuhan Trondheim. Sementara itu, pelataran sisi selatan menyajikan pemandangan sungai Nidelva yang berkelok-kelok di belakang kompleks istana uskup yang kini telah menjadi museum.

13912763_10157956428770377_3627441134496933_n

Munkegata dengan Munkholmen yang tampak di kejauhan.

IMG_4118

Sisi barat kota Trondheim.

IMG_4125

Sisi timur kota Trondheim.

IMG_4128

Pekarangan dalam benteng yang dulunya kompleks istana uskup.

IMG_4127

Sisi selatan kota Trondheim dan Sungai Nidelva.

Sambil berjalan memutari pelataran, Chris menceritakan pengalamannya kepada saya. Ternyata, kunjungan kami ke Nidarosdomen saat itu bukan yang pertama untuknya. Waktu masih kecil, dia pernah juga naik ke menara ini bersama orang tuanya, tapi saat itu ia berjalan merangkak karena takut ketinggian. Haha, lucunya! Saya dulu juga pernah jadi penakut, takut berdiri di atas gunung karena saya pikir saya akan merosot karena gunung itu miring. :’D Selagi mengobrol, saya juga memperhatikan atap menara yang berwarna hijau telur asin. Warna tersebut sama dengan atap gereja katedral di Jakarta. Belakangan saya baru mengetahui bahwa untuk membuat warna tersebut, arsitek dan konstruktor bangunan yang bertugas merestorasi Nidarosdomen menggunakan campuran dari air seni hewan dan zat kimia yang sifatnya asam. Hiiiyyy…

IMG_4113

Menara barat laut yang terdapat patung malaikat Mikael dan atap hijau gereja.

Setelah selesai mengitari pelataran, saya kembali bertemu dengan Maria yang menunggu di dekat tangga. Kami adalah dua orang terakhir yang tiba. Pasangan yang berbahasa Italia yang naik bersama kami tadi sudah turun lebih dahulu. Sebelum turun, kami meminta tolong Maria untuk mengambil foto kami berdua. Sambil cekikikan tiba-tiba Chris iseng bertanya apakah mungkin menyewa Nidarosdomen untuk pernikahan. Wah, sebetulnya dari tadi saya juga bertanya-tanya, Pembaca. Siapa yang tidak bermimpi menikah di gereja seindah ini dan sebersejarah ini? Kebetulan saya juga pecinta sejarah abad pertengahan. Pas banget pokoknya! Sambil tertawa pula Maria menjawab, bahwa untuk menikah di Nidarosdomen calon pengantin harus membooking dari 2 tahun sebelum tanggal pernikahannya. Untuk menikah dikenakan biaya sebesar 11000 NOK, sudah termasuk segala fasilitas di dalamnya termasuk pastur yang menikahkan dan koor. Wah, saya jadi bermimpi nih, Pembaca. 😀

13880167_10157956429250377_248092827643299993_n

Oleh-oleh foto dari Maria, pemandu wisata kami.

Kunjungan ke menara menjadi penutup dari rangkaian tur saya di Nidarosdomen. Tidak terasa berjam-jam sudah saya habiskan untuk menjelajah katedral abad pertengahan tersebut. Keluar dari bangunan gereja, saya baru tersadar bahwa tiket saya berlaku untuk dua museum lain. Saya melihat jam di ponsel sudah menampilkan angka 14.00. Dengan terburu-buru saya berlari menyeberangi halaman depan gereja menuju kompleks yang terpagari benteng tua yang tampak seperti bangunan abad pertengahan. Di balik tembok tersebut terdapat lapangan lagi dengan papan penunjuk jalan yang memberi tahu arah kedua museum lain yang bisa diakses dengan tiket terusan. Saya langsung menuju museum pertama yang berada dekat dengan pintu masuk di benteng tersebut. Tentu saja saya harus kecewa ketika petugas museum di balik meja resepsionis memberi tahu bahwa mereka akan tutup. Ternyata, selain akhir pekan, museum-museum di area tersebut hanya buka dari pukul 10.00 sampai 14.00 saja. Nyaris saja saya pulang dengan kerugian sebesar 120 NOK jika saja mas-mas petugas tidak mengatakan pada saya bahwa tiket terusan berlaku 3 hari. 🙂

13557762_10157774297340377_1033448694795456581_n

Foto berdua dulu sebelum pulang 🙂 🙂 🙂

Akhirnya, saya dan Chris berniat untuk kembali ke Trondheim esok hari sebelum kami meneruskan perjalanan ke utara. Sebagai penghibur akan gagalnya kami mencapai museum lainnya tepat waktu, kami beranjak menuju bangunan bersejarah lain di kota tersebut yang layak dikunjungi. Bangunan tersebut merupakan sebuah jembatan tua yang menyeberangi sungai Nidelva dan terletak di sebelah timur jika berjalan dari Nidarosdomen. Dari bentuknya, jembatan tersebut tak lebih dari jembatan biasa, meski ia memiliki dua gapura merah dari kayu yang disebut oleh Gerbang Kebahagiaan (Lykkens Portal) oleh masyarakat setempat. Selain nama tersebut, jembatan tua itu tidak memiliki nama lain. Orang menyebutnya Gamle Bybrua saja, yang kalau diterjemahkan memang bermakna Jembatan Kota Tua.

IMG_4143

Gamle Bybrua yang memiliki jalur sepeda dan pejalan kaki.

IMG_4135

Plakat tentang sejarah pembangunan jembatan.

Gamle Bybrua pertama kali berdiri pada tahun 1685 setelah kebakaran besar yang melanda Trondheim yang juga menghancurkan Nidarosdomen. Jembatan ini menggantikan jembatan lama yang dibiarkan hancur, yaitu Elgeseter. Konon, kenampakannya berbeda sekali dengan yang dapat kita lihat saat ini. Dahulu, jembatan ini terbuat dari kayu yang berdiri di atas tiga penyangga dari batu. Jembatan ini tertutup dan memiliki gerbang. Di setiap ujungnya terdapat pos jaga tempat orang membayar pajak jika ingin melintas. Pada masa itu, fungsinya lebih sebagai menjaga dari serangan musuh dibandingkan sebagai penghubung antarzona kota.

Jembatan versi modernnya berdiri pada 1861. Ia tidak lagi memiliki gerbang dan tertutup, bahkan memungkinkan saya untuk melihat pemandangan rumah-rumah tua dan dermaga di kedua tepi sungai. Rumah-rumah beraneka warna ini memang menjadi ciri khas pelabuhan di Norwegia. Ia tidak hanya terdapat di Trondheim, tetapi juga di Bergen (yang paling terkenal) dan Oslo (yang sudah menjadi kawasan elit dan modern). Gamle Bybrua tidak mengalami perubahan ukuran lebar jalan. Kebanyakan hanya pejalan kaki dan sepeda yang menyeberang melalui jembatan ini. Setidaknya, saya tidak sempat melihat mobil melaluinya ketika saya berada di sana.

IMG_4136

Rumah-rumah pelabuhan dan dermaga.

IMG_4137

Rumah-rumah beraneka warna.

13873111_10157956430155377_3751723672716774171_n

Sisi lain Sungai Nidelva.

IMG_4147

Numpang narsis di Gamle Bybrua.

Berputar-putar di Trondheim akhirnya membuat perut saya keroncongan. Saya teringat makanan yang terakhir saya makan adalah waktu sarapan tadi. Saya dan Chris memutuskan untuk mampir ke mall nanggung yang ada di alun-alun sambil menunggu orang tuanya menjemput kami kembali ke perkemahan. Saat itu, suasana berisik sekali karena sedang ada konser musik dan bazaar di alun-alun. Ingatan saya melayang ke dua tahun lalu, ketika saya berada di kota ini pertama kali. Hotel yang saya tempati tidak jauh dari alun-alun maupun Nidarosdomen. Akan tetapi, saat ini hotel tersebut sudah tidak tampak lagi. Dua tahun cukup untuk mengubah sedikit wajah kota itu. Di sana-sini memang saya lihat sedang ada banyak perbaikan jalan. Tampak dari banyaknya area di dekat alun-alun yang dipagari tanda larangan untuk dilewati. Sebetulnya area tersebut bukan perbaikan jalan, namun hal itu akan saya ketahui pada hari berikutnya, ketika saya melanjutkan petualangan saya di Trondheim.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Situs resmi Nidarosdomen:

http://www.nidarosdomen.no/en/

Situs resmi kota Trondheim:

https://trondheim.com/

Artikel tentang Gamle Bybrua:

https://www.visitnorway.com/places-to-go/trondelag/trondheim/things-to-do/attractions/the-old-town-bridge-gamle-bybro/

Disclaimer: foto-foto di dalam katedral diambil oleh Chris, entah bagaimana ia bisa mengambil foto di dalam saya juga tidak tahu 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s