Antibosan di Kala Berkemah: Main di Pantai, Yatzy dan Obrolan Antarbudaya

Saya terbangun pada pagi hari kedua di perkemahan karena merasa tempat tidur saya semakin lama semakin tidak nyaman. Usut punya usut, setelah merangkak keluar dari ruang tidur, saya baru tahu bahwa matras saya kempes. Sepertinya karena memang sudah tua dan mungkin udaranya keluar pelan-pelan selama saya tertidur. Dimulailah pekerjaan memompa matras yang melelahkan tersebut untuk kedua kalinya.

Selesai dengan matras dan melipat selimut, saya dan yang lainnya duduk mengitari meja makan untuk menyantap sarapan yang tak lain dan tak bukan adalah smΓΈrbrΓΈd. Ellen sudah mengambil beraneka macam topping dari kotak pendingin di mobil dan menyebarnya di atas meja. Berbagai pilihan topping dari asin, manis sampai tidak berasa tersedia di sana. Saya sih masih tetap setia dengan topping favorit saya. πŸ™‚

Tidak ada waktu banyak untuk berleha-leha di hari itu, karena kami semua sudah punya kegiatan sepanjang siang hingga sore hari. Orang tua Chris akan pergi memancing di laut sedangkan kami berdua akan mengunjungi sebuah kota kenangan. Aduh, istilahnya ya, Pembaca hehehe πŸ˜› Akhirnya, saya memutuskan untuk mandi dan keramas sambil menunggu baterei ponsel saya terisi penuh kembali. Percaya tidak percaya, kompleks perkemahan ini canggih juga. Setiap tenda mendapatkan satu rol berisi empat stop kontak untuk listrik yang langsung tersambung pada pancang-pancang listrik yang tersebar di area tersebut. Tidak hanya itu, kompleks perkemahan Flakk Camping ini juga memiliki akses wifi gratis bagi para tamu-tamunya. Tentu saja kecepatannya bukan kecepatan super yang cocok untuk streaming film di Youtube, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan browsing standar. Akses wifi tercepat dapat diperoleh di dekat bangunan resepsionis yang menyatu dengan kamar mandi dan dapur.

img_5438-730x350

Bangunan resepsionis yang tersambung dengan kamar mandi dan dapur.

Saat saya tiba di kamar mandi, saya tidak lagi mendapati keadaan sepi seperti malam sebelumnya. Kali ini ada beberapa pekemah lain yang sudah di sana. Saya harus mengantri satu giliran untuk dapat menggunakan salah satu bilik kamar mandi di situ. Selain itu, saya tidak lagi bisa berlama-lama menikmati air panas gratis karena ketika saya di dalam, saya mendengar suara kasak-kusuk beberapa orang di luar, yang sepertinya juga mengantri mandi di belakang saya. Salah juga memutuskan untuk keramas sekarang. Untungnya saya punya motivasi lain, yaitu cepat-cepat berangkat menuju kota kenangan agar sempat melihat banyak hal di sana.

Kami diantar oleh Tor Vidar dengan mobil menuju kota tersebut. Kami berangkat pada pukul 11.00 pagi dan menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Sementara itu, Ellen dengan baik hati menawarkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk karena kami belum sempat mencuci sama sekali di perjalanan tersebut. Mungkin kalau di negara kita, yang begini sudah dibilang tidak sopan atau tidak tahu terima kasih. Saya enak-enak bermain sedangkan ibunya yang sudah membantu saya agar bisa mewujudkan road trip impian ini sibuk mencuci pakaian kotor sendiri. Sudah begitu, cucian di perkemahan tersebut tidak boleh ditinggal-tinggal karena kemungkinan pencurian atau hilang selalu ada. Sebetulnya di Norwegia sendiri tidak banyak peristiwa pencurian, tetapi kompleks perkemahan ini ‘kan untuk wisatawan mancanegara.

Saya menghabiskan waktu di kota kenangan hingga pukul 18.00. Sesungguhnya petualangan saya belum berakhir ketika saya dijemput kembali setelah orang tua Chris selesai memancing. Untungnya, mereka bersedia mengantar kami kembali ke kota tersebut esok pagi. Cerita tentang petualangan di kota kenangan ini, berikut nama kotanya akan saya bagikan di bagian selanjutnya ya, Pembaca πŸ™‚ Sepanjang jalan pulang kami saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tentang impian yang saya miliki di kota yang baru saja saya kunjungi dan tentang ketidakberuntungan orang tua pacar saya dalam mendapatkan banyak ikan. Sebelum kembali ke perkemahan, kami pun sempat mampir di sebuah minimarket (menurut saya, karena bagi orang di pedesaan tersebut toko itu adalah supermarket) untuk membeli bahan makan malam.

Tiba kembali di kemah, saya mendapati tetangga-tetangga kami telah berganti. Kini di seberang kami berdiri sebuah lavvu, yaitu tenda kerucut khas suku Sami, suku asli yang mendiami wilayah utara Skandinavia. Saya mengira penghuninya pun orang Sami, ternyata bukan. Tenda besar itu milik sebuah keluarga Filipina yang salah satu anggotanya menikah dengan orang Norwegia. Filipina-Norwegia adalah pasangan Skandinasia paling mainstream di negara tersebut. Seperti orang-orang Indonesia, keluarga yang didominasi perempuan tersebut bersuara sangat lantang dibandingkan mayoritas wisatawan Eropa yang ada di sana. Mereka sibuk main kartu, memasak, dan melakukan aktivitas lainnya dengan disertai mengobrol dan bercanda. Suara cekikikan berulang kali terdengar. Suasana yang tadinya tenang seperti di hutan tiba-tiba berubah seperti suasana bus sekolah yang dipenuhi murid-murid yang hendak pergi study tour. πŸ˜₯

Meski cukup berisik, sepertinya aktivitas tersebut legal karena tidak ada yang menegur. Saya pun memutuskan untuk menghindari keramaian dengan pergi mengeksplor berbagai sudut perkemahan. Lagi-lagi saya dan Chris meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk memasak makan malam. Tujuan utama saya sebetulnya adalah pantai yang terletak di daerah perkemahan tersebut. Tentu saja saya tidak berharap banyak, karena saya tahu bahwa pantai-pantai di sini tidak akan seindah di kampung halaman saya. Satu hal yang saya inginkan adalah memperoleh cinderamata dari alam berupa bebatuan unik atau kulit kerang. Saya memang hobi mengumpulkan benda-benda dari alam ketika sedang bepergian. Selain batu dan kulit kerang, saya mengoleksi daun kering, bunga liar dan bulu burung yang jatuh di tanah.

Ternyata, akses menuju pantai tidak mudah untuk ditemukan. Mula-mula saya berusaha memasuki pantai dari sisi kiri yang dekat dengan dermaga feri. Daerah tersebut dipenuhi oleh karavan wisatawan dan para pekemah yang tengah berjemur. Tidak ingin mengganggu, saya pun berjalan melewati jalan setapak dan mencari daerah yang sepi oleh pekemah. Bagian tengah pantai tampak sepi, tetapi begitu tiba di sana, saya mendapati kumpulan semak-semak berupa rerumputan tinggi yang tampak tajam. Karena saya hanya mengenakan sandal jepit, saya tidak berani menerobos semak-semak tersebut. Di situ pula saya menyadari hal yang lucu. Rupanya, identiknya pantai dan sandal jepit itu hanya ditemukan di pantai-pantai tropis atau Mediterania. Saya mengamati anak-anak wisatawan yang bermain di sisi kiri pantai rata-rata mengenakan sepatu bot karet atau sepatu lain yang tertutup. Wah, memang ya, beda alam beda pakaian hahaa πŸ˜€

img_5309-730x350

Pantai dekat Flakk Camping. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

275-640x306

Dermaga dekat penyeberangan feri. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

img_6765-730x350

Kadang-kadang dari pantai juga tampak kapal-kapal yang melintas. (http://www.flakk-camping.no/pictures)

Setelah kembali ke jalan setapak dan menyusuri deretan kabin, saya menemukan akses mudah menuju pantai, yang ternyata dipagari kawat berduri dan dipasangi tulisan yang kira-kira berarti “wilayah privat”. Lho, kok wilayah privat? Bukankah di Norwegia ada hak mengakses alam bagi semua orang? Saya pun belajar bahwa semua kebebasan ada batasnya. Rupanya, allemansratten yang terkenal itu tidak mutlak berlaku di semua wilayah. Ada beberapa wilayah yang sangat dekat dengan alam yang masih termasuk wilayah privat. Umumnya wilayah tersebut adalah lahan pertanian dan peternakan.

Kecewa karena tidak menemukan akses ke pantai, saya hampir menyerah dan bermaksud kembali ke tenda. Akan tetapi, rasa penasaran dan semangat menjelajah saya terus membujuk saya untuk pergi ke pantai. Akhirnya setelah intip sana longok sini, saya dan Chris pun berhasil mencapai pantai dengan menemukan sebuah perahu yang terparkir tak jauh dari salah satu kabin. Perahu tersebut seakan menjadi penunjuk jalan bagi kami untuk menuju pantai yang nyaris tidak berpasir dan dipenuhi bebatuan. Laut yang berada di dekatnya pun tidak tampak indah karena dipenuhi ganggang hijau dan rumput laut yang membuat airnya pun berubah menjadi hijau seperti beracun. Pokoknya jelek deh kalau dibandingkan dengan pantai di negara tropis.

13707655_10210506183117320_4820452775019664205_n

Sisi indah pantai yang berhasil saya abadikan.

13754412_10210506182877314_6049990346547174463_n

Di sebelah kiri adalah pelabuhan feri.

Saya pun langsung berfokus pada pencarian bebatuan dan kerang unik. Di dekat pagar yang membatasi pantai dengan wilayah privat tadi, terdapat hamparan bebatuan putih yang dipenuhi dengan kulit kerang yang tersapu ombak hingga ke pantai. Saya melompati bebatuan, mencelupkan kaki di air laut dan melewati onggokan-onggokan rumput laut kering yang terbawa ombak hingga tiba ke hamparan bebatuan tersebut. Selagi saya sibuk mencari kerang, Chris mencari bebatuan unik di dekat laut. Tiba-tiba ia memanggil saya untuk mengingatkan agar saya berhati-hati, karena ternyata ia menemukan banyak paku dan besi-besi rongsokan yang sudah berkarat teronggok di salah satu bagian pantai. Rongsokan berkarat tersebut mengubah warna bebatuan putih menjadi coklat kemerah-merahan. Tampaknya rongsokan besi tersebut berasal dari rongsokan perahu atau kapal yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Agak kecewa melihat ketidaksempurnaan keindahan alam di negeri impian saya 😦

13718608_10210506184757361_1845469634209788576_n

Warna bebatuan yang kemerahan terkena karat dari rongsokan besi.

13690808_10210506184797362_7051292684426885602_n

Pantai tiga warna: merah di kanan bawah, hijau abu-abu di kiri bawah dan putih di bagian atas.

Meski keindahannya tak sempurna dan jauh tertinggal dibandingkan pantai Indonesia, kami menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai tersebut hingga matahari menjelang terbenam. Kami berhasil mengumpulkan beberapa kerang dan bebatuan unik sebanyak yang mampu kami bawa dengan tangan kosong, karena kami lupa membawa wadah atau kantong plastik. Dengan perut yang mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan menyantap makan malam.

Ketika kami tiba, makan malam sudah terhidang di atas meja lipat plastik yang kami bawa. Hari itu menunya adalah nasi dengan lauk berupa campuran daging sapi, jamur dan paprika bersaus coklat kental yang entah apa namanya. Saya suka menyebutnya nasi kari Norwegia, meskipun menurut pakar masakan pasti namanya lain lagi. Saya juga harus menyebutkan, bahwa nasi di sini lebih pulen dibandingkan nasi di beberapa wilayah di Indonesia (kecuali di rumah saya tentunya, karena saya sangat suka nasi pulen). Mengapa bisa demikian? Rahasianya adalah karena mereka tidak kenal magic jar atau magic com dan alat-alat memasak nasi lainnya. Beras di Norwegia tidak dijual dalam karung-karung seperti di Indonesia, tetapi di dalam kotak-kotak semacam sereal. Di dalam kotak tersebut, beras sudah ditakar per porsi di dalam plastik-plastik yang aman jika terkena panas. Yang harus kita lakukan tinggal memasukkan plastik itu ke dalam air panas dan merebusnya selama kira-kira 10-15 menit sampai nasi tanak. Sejujurnya saya lebih suka cara ini karena kepraktisannya. Tidak perlu lagi mencuci beras atau membersihkan magic jar. Kita pun bisa sesekali memeriksa tingkat kepulenan nasi tanpa harus buka tutup magic jar yang sedang memasak. Tidak ada tuh istilah nasi kurang air, setengah jadi dan sebagainya. Hehehe πŸ˜›

Kami semua menyantap makan malam tersebut dengan lahap, bahkan ada yang menambah. Selesai makan dan membereskan piring kotor, kami tak juga beranjak dari meja makan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam kedua di tenda tersebut dengan bermain Yatzy. Permainan ini sebetulnya versi Skandinavianya Yahtzee, hanya berbeda sedikit pada aturannya. Sejak mencoba bermain pada malam tahun baru 2016, saya agak ketagihan main ini. Cara bermainnya adalah dengan mengocok enam buah dadu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan permintaan dalam daftar dan jumlahnya sebesar mungkin. Misalnya, dua buah angka yang sama dan tiga buah angka yang sama, maka saya harus memperoleh misalnya 3 x angka 6 dan 2 x angka 5. Yang menang adalah yang mengumpulkan angka tertinggi jika seluruh hasil dijumlah. Permainan ini akan jadi seru kalau hokinya besar, karena untuk menang memang sangat mengandalkan hoki. Akhirnya segala cara yang nggak masuk akal pun dicoba, misalnya meniup-niup dadu sebelum dilempar. Ya kali bakal ada efeknya πŸ˜€

Ketika saya bermain di malam tahun baru, saya ketiban keberuntungan pemula. Baru mencoba main pertama kali, saya langsung menang. Lain dengan permainan di kemah. Tiba-tiba keberuntungan saya hilang seperti tertiup angin. Dua sampai tiga ronde bermain, nama saya hanya nangkring di posisi dua atau tiga. Sepertinya saya harus bersyukur dengan tidak menempati posisi bontot. Sebaliknya, Chris yang berada di urutan terakhir di malam tahun baru justru menang atau berada di atas saya. Begitulah, Pembaca, serunya bermain Yatzy yang hasilnya tidak pernah bisa ditebak. Selain itu, permainan ini juga merupakan antibosan yang ampuh ketika berkemah atau melakukan perjalanan panjang. Sayangnya, ia tidak begitu populer di Indonesia.

Karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, Tor Vidar yang akan menyetir pun pamit tidur setelah permainan selesai. Sementara itu, saya, Chris dan Ellen duduk-duduk di sekitar meja makan dan mengobrol. Saya pun memanfaatkan waktu itu sambil mengerjakan salah satu hobi saya, yaitu mewarnai. Sekedar info, saya salah satu penggemar berat adult coloring book. πŸ˜› Sambil menggerakkan spidol di atas gambar yang saya warnai, saya bertanya banyak hal, mula-mula dengan Chris. Kami mendiskusikan tentang perbedaan budaya – hal yang sangat saya sukai.

Saya bertanya tentang hal yang selama dua hari ini telah saya dan dia lakukan – sibuk bermain selagi orang tuanya mengurus segalanya. Kalau di Indonesia, hal tersebut sudah pasti dianggap kurang sopan, apalagi jika pihak orang tua tidak mengungkapkan izinnya atau justru menyuruh anaknya untuk pergi bermain. Mendengar pembicaraan kami, Ellen pun ikut menimbrung. Ia menjelaskan bahwa memang demikian hubungan anak dan orang tua di negaranya. Secara fisik terkesan sama sekali tidak dekat. Jujur saja, saya cuma pernah lihat Chris dan orang tuanya berpelukan ketika ia hendak pergi jauh, misalnya ke tempat saya. Sedangkan saya sampai sekarang masih suka gelendotan ke ibu saya. πŸ˜€ Selain itu, orang tua dan anak kedudukannya relatif setara, terutama ketika sang anak sudah dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia, di mana kedudukan orang tua dan anak ya atas bawah, bahkan kadang-kadang sampai anaknya menikah (apalagi kalau anaknya perempuan).

Mendengar cerita saya, Ellen balik bertanya apakah orang tua di Indonesia sangat ketat dalam mendidik anak. Saya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan Skandinavia, tentu terkesan sangat ketat, tetapi kami juga sangat dekat secara fisik dan emosional. Chris bilang, di Norwegia, anak-anak justru tidak sabar untuk lepas dari orang tuanya. Semakin mereka dewasa, mereka akan semakin berusaha menjauh. Fenomena ini juga ada di Indonesia, tetapi tentu kita tidak bisa sebebas itu. Ada hubungan timbal balik yang sangat berbeda antara kedua negara tersebut.

Di Indonesia, ketika orang tua memutuskan untuk memiliki anak, sebagian besar masih banyak berpikir bahwa mereka akan melakukan pengorbanan besar demi pertumbuhan anaknya. Tetapi pengorbanan besar tersebut seringkali bukan tanpa pamrih. Ada beberapa orang tua yang saya kenal yang kemudian berekspektasi bahwa anaknya akan berbalik membantunya ketika sudah dewasa. Membantu di sini bukan secara fisik, tetapi materi. Misalnya dengan berprofesi yang menghasilkan banyak uang atau bahkan (yang lebih parah), meneruskan cita-cita orang tuanya yang tidak kesampaian. Menurut analisis sederhana dan amatiran saya, penyebabnya adalah kurang baiknya kondisi kesejahteraan dan perekonomian negara. Wah, jauh sekali ya! Mengapa bisa demikian?

Saya bandingkan keadaaan di Indonesia dengan keadaan di Norwegia berdasarkan penjelasan Chris dan ibunya. Di Norwegia, sebuah negara yang ekonominya sudah sejahtera, orang tua tidak terlalu pusing memikirkan pengorbanan besar berupa materi yang harus mereka keluarkan demi membesarkan anak. Ketika anak lahir, mereka sudah memperoleh tunjangan dari pemerintah, kalau tidak salah sampai anak tersebut berusia 18 tahun. Selain itu, biaya pendidikan yang biasanya menelan paling banyak porsi dari bujet hidup sudah gratis, kecuali universitas. Ditambah lagi, ketika orang tua sudah pensiun, mereka mendapat uang pensiun yang jumlahnya tidak kecil dari pemerintah. Nah, kebayang ‘kan, dari situ saja bebannya sudah berkurang banyak. Begitulah kalau uang rakyat tidak dikorupsi. Padahal dua negara di atas sama-sama penghasil minyak. πŸ˜‰ Intinya, orang tua dan anak menjadi tidak punya tanggung jawab bantuan materi secara timbal balik seperti di Indonesia.

Memikirkan hal tersebut, saya pun jadi penasaran. Di Indonesia, orang tua banyak yang bekerja keras membanting tulang agar anaknya dapat kuliah setinggi-tingginya, sehingga ketika anak gagal memperoleh pekerjaan yang sebanding dengan biaya kuliahnya, orang tua pun jadi kecewa. Bagaimana keadaannya di negeri matahari tengah malam ini? Ternyata, hal tersebut sangat jarang terjadi, Pembaca. Menurut Ellen, ada beberapa orang tua yang melakukannya dan tentu hal tersebut – menabung dari hasil kerja demi kuliah anaknya – adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi, sebagian besar orang tua menganggap kuliah adalah pilihan anaknya dan tidak wajib, sehingga jika mereka ingin berkuliah, merekalah yang harus mencari uangnya sendiri. Toh sebetulnya biaya kuliah tidak terlalu mahal dan ada program pinjaman pemerintah. Saya pernah cek biaya kuliah sebuah jurusan sastra di Universitas Bergen hanya sebesar Rp 800.000,- kalau dikurs ke Rupiah, sedangkan saya ketika di UI dulu satu semester bisa 3 juta! Alhasil, anak-anak yang ingin kuliah banyak yang membiayai sendiri kuliahnya, misalnya dengan bekerja part time.Β Wah, berbeda sekali ya πŸ™‚

Pada akhirnya, kedua budaya yang berbeda tersebut tentu ada plus minusnya. Di satu sisi, ada keyakinan populer di masyarakat bahwa sebetulnya yang dibutuhkan manusia adalah relasi dan komunikasi dengan manusia lainnya. Terlalu individualis tentu saja tidak baik. Di sisi lain, manusia memang pada dasarnya terlahir seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Ada baiknya belajar menjadi mandiri sepenuhnya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita terpaksa berdiri sendiri atau kapan orang-orang yang biasa membantu tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya, diskusi itu membuat saya berkesimpulan dan bertekad untuk memiliki keluarga dan membesarkan anak-anak di masa depan saya dengan budaya Skandinasia, gabungan antara Skandinavia dan Asia, Norwegia dan Indonesia. Itu pun kalau hubungannya berlanjut, hehehe πŸ™‚ Doakan saja ya, Pembaca!

mit Liebe,

Frouwelinde

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s