Asyiknya Berkemah Pertama Kali

Ketika teman-teman saya dulu berlomba-lomba naik gunung dan berkemah, saya sama sekali tidak tertarik. Bayangan saya, berkemah itu repot. Sudah bawa-bawa tenda di backpack (tahu sendiri badan saya mungil ^^), harus masak sendiri pakai bahan-bahan yang juga harus dibawa, plus bingung kalau mau mandi. Dulu sekali waktu saya kecil, saya pernah ke Bumi Perkemahan Pramuka yang ada di Cibubur. Setelah lihat keadaannya plus kamar mandinya, saya menyimpulkan bahwa berkemah itu bukan untuk saya.

Baru setelah saya punya pacar di kampus, yang sekarang sudah jadi mantan, saya mulai tertarik berkemah. Ini gara-gara mantan saya itu aktif di kegiatan kampus seperti Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) dan organisasi lainnya yang untuk team building saja harus berkemah segala, di tepi laut pula. Saya ingat di salah satu ceritanya, dia pamer ke saya soal melihat bintang di malam hari dari luar tenda. Katanya, biasanya daerah perkemahan yang di alam bebas itu gelap, sehingga polusi cahaya sedikit dan bintang-bintang di langit jadi kelihatan. Mupenglah saya sejak saat itu. Hahaha…

Nasib kurang berpihak pada saya. Selama saya di Indonesia, saya tidak pernah punya kesempatan berkemah. Pernah suatu kali saya diajak oleh mantan saya, yang tentunya kepentok izin orang tua. Ternyata, kesempatan saya memang ditahan dulu oleh Tuhan yang Mahaesa. Sama seperti pengalaman berlayar, saya pun berkemah pertama kali justru bukan di Indonesia melainkan di Norwegia. *sembah sujud kepada Tuhan yang Maha Memberi* huehehe 😛

Awalnya, kami tidak berencana untuk berkemah. Rencananya, setelah dari Trollstigen, kami akan bergerak ke arah utara menuju sebuah kota bernama Trondheim. Kota ini adalah kota terbesar ketiga di Norwegia dan kami berencana untuk menginap di kabin yang tidak jauh dari sana. Kabin yang kami incar letaknya di dalam kompleks Øysand Camping, yaitu sebuah lokasi berlibur yang dilengkapi kabin-kabin dan lahan untuk mendirikan kemah. Letak kompleks ini sekitar satu jam di selatan Trondheim dan langsung menghadap ke laut lepas yang juga adalah Fjord Trondheim. Kompleks kemah ini juga memiliki pantai berpasir sepanjang 2 km. Kebayang ‘kan cantiknya?

Ada dua rute yang bisa digunakan untuk mencapai Øysand dari Trollstigen. Rute pertama melalui Åndalsnes dan berjarak lebih pendek, tetapi harus menyeberangi fjord beberapa kali. Rute kedua jauh lebih panjang karena memutari Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella yang luas, tetapi tanpa fjord. Kami memutuskan untuk mengambil rute yang panjang untuk menghemat biaya, karena kapal feri untuk menyeberangi fjord itu tidak murah juga kalau dihitung-hitung.

Saya tidak begitu ingat apa saja yang saya lihat di sepanjang perjalanan selain pegunungan yang dikelilingi hutan-hutan hijau yang di antaranya terselip desa-desa kecil dan sungai-sungai yang berkelok-kelok. Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella sendiri merupakan rangkaian pegunungan yang diapit lembah-lembah di antaranya. Salah satu rangkaiannya, Trollheimen, pernah muncul dalam salah satu film horor Norwegia yang saya tonton, judulnya “Trollhunter”. Trollheimen, seperti namanya, menjadi sebuah dataran tinggi yang didiami oleh troll-troll berukuran raksasa yang mengejar manusia yang memburunya. Meskipun digambarkan suram dan dingin di dalam film, dataran tinggi yang berada di taman nasional ini sangat cerah dan berwarna di musim panas 🙂 Tidak ada pepohonan yang tumbuh, karena ketinggiannya memberikannya iklim tundra. Yang tersebar hanya bebatuan dan lumut yang berwarna cerah.

mv5bmtkymtgxnziwof5bml5banbnxkftztcwnjyynjm5na-_v1_uy268_cr00182268_al_

Poster film Trollhunter yang bersetting di Taman Nasional Dovrefjell-Sunndalsfjella.

Dari jalan raya E6 yang saya lalui untuk mengitari taman nasional tersebut, terdapat sebuah belokan ke kiri yang jika diikuti akan mengantar saya pada sebuah lapangan parkir dan jalan setapak menuju bangunan yang menjadi viewing point di daerah itu. Viewing point kali ini bukan berbentuk teras melainkan bangunan persegi panjang yang terbuat dari baja dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap ke arah Snøhetta, gunung tertinggi kedua di Norwegia. Jika duduk di dalam kotak besar tersebut, kita juga dapat menyaksikan panorama tundra pegunungan yang luas dan masih alami. Omong-omong, saya cerita begini bukan karena saya pernah berdiri di dalamnya, tetapi saya sempat melihat foto beserta informasinya di acara Nordic Midsummer Party tahun 2015 yang diselenggarakan oleh kedutaan-kedutaan negara Nordik. Mobil saya sih meluncur bebas saja selama di E6 dan tentunya melewati belokan ke arah viewing point tersebut. Mungkin lain kali ya, Pembaca 🙂

Setelah melintasi tundra pegunungan di Dovrefjell, saya terus berkendara ke utara melewati beberapa kota lagi. Setelah berhari-hari melalui jalanan yang menanjak, kali ini jalan yang kami lalui semakin menurun. Pepohonan hijau dan lahan-lahan pertanian semakin banyak dijumpai. Gunung-gunung yang menjulang sekarang ada di belakang kami dan semakin tidak terlihat. Suhu udara terasa lebih hangat karena semakin ke utara, matahari semakin lama bersinar, tetapi tidak dengan anginnya yang tetap saja dingin. Kali ini angin lebih banyak berhembus dari arah laut.

Saya tiba di Øysand pada senja hari yang tampak seperti siang hari karena mentari yang begitu cerah. Selagi orang tua Chris masuk ke bangunan resepsionis untuk menanyakan tempat, kami berdua menumpang ke toilet. Percayalah, perjalanan ke toilet yang sebetulnya singkat ini menjadi sangat menyenangkan bagi saya. Setelah berhari-hari melihat gunung, kini saya dapat melihat hamparan pasir pantai dan laut biru yang berkilauan diterpa sinar matahari. Letak pantai tersebut tepat di samping bangunan toilet yang menyatu dengan bangunan kamar mandi. Saya sempat melihat hal unik pula di area mandi tersebut. Ternyata, untuk membuka pintu kamar mandi, para tamu yang berkemah di situ dibekali dengan kartu akses yang harus ditempelkan ke pintu. Wah, modern sekali kompleks kemah ini. Pikiran saya pun mulai membanding-bandingkan keadaan yang baru saya lihat dengan keadaan di kampung halaman 😀

58508188

Pantai pasir di Øysand Camping diterpa sinar matahari terbenam. Cantik banget ya.. 🙂 Sumber: http://www.panoramio.com/

dsc-0479

Bangunan resepsionis di Øysand Camping. Sumber: http://www.oysandcamping.no/

Sayangnya, saya justru disambut kabar buruk begitu tiba di mobil. Semua kamar dan lahan kemah penuh. Terpaksa saya mengucapkan selamat tinggal pada deburan ombak yang menenangkan, pasir yang putih dan hangat serta pemandangan matahari terbenam yang saya yakin akan tampak sangat cantik dari tempat tersebut. Akan tetapi, setidaknya ada satu hal yang berhasil kami dapatkan dari tempat itu, yaitu sebuah buku kumpulan alamat lokasi-lokasi perkemahan yang tersebar di seluruh Norwegia. Mulailah kami membuka halaman demi halaman dan mencari tempat yang cocok sebagai pengganti Øysand Camping. Salah satunya yang tampak begitu menjanjikan adalah Flakk Camping, yang terletak sekitar 30 menit di utara Øysand, mendekati Trondheim. Dari foto-foto di buku itu, tampaknya kompleks perkemahan tersebut punya kabin yang kamarnya cukup luas dan teras untuk berjemur. Lumayanlah kalau masih ada tempat 🙂

img_5584-730x350

Kompleks perkemahan Flakk Camping. Sama-sama di tepi pantai seperti Øysand Camping. Sumber: http://www.flakk-camping.no/

 

Mobil pun kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara melintasi desa-desa hingga tiba di kompleks perkemahan Flakk Camping yang juga terletak di tepi laut, bahkan dekat dengan pelabuhan feri. Mulanya, saya bersemangat membayangkan kabin-kabin kecil yang ada di foto dalam buku, hingga saya pun menerima kabar buruk kembali. Semua kabin sudah direservasi. Yang tersisa hanyalah lahan untuk mendirikan kemah. Waduh! Jujur saja, meskipun saya tadinya mupeng berkemah, setelah berjam-jam duduk di mobil dan kelelahan, saya sekarang lebih memilih kabin. Nggak kebayang kalau harus mendirikan tenda sendiri dan mandi cepat-cepat karena banyak yang antri. 😥 Ya, tapi apa boleh buat?

img_7076-730x350

Tadinya saya ingin kabin kecil ini. 😦 Sumber: http://www.flakk-camping.no/

 

img_53101-730x350

Atau trailer dengan tenda tambahan seperti ini. Sumber: http://www.flakk-camping.no/

Kami pun segera memarkir mobil kami di lahan yang sudah disediakan. Lahan berbentuk persegi panjang yang ditumbuhi rumput dan berbatasan dengan lahan pertanian milik pribadi tersebut ternyata sudah dipenuhi para wisatawan. Bentuk dan ukuran tenda mereka bermacam-macam. Ada yang sangat kecil dan hanya bisa digunakan untuk tidur, sedangkan meja dan kursi lipat mereka dipasang di dekatnya. Ada pula yang super komplit dengan bagian kamar tidur yang terpisah dan ruangan lain untuk memasak. Karena cuaca sangat cerah, sebagian besar para penghuni tenda tersebut duduk-duduk di kursi lipat sambil makan dan berjemur.

Saat itu sekitar pukul 20.00 dan matahari masih menggantung di langit dengan sinarnya yang sangat cerah. Kami segera memanfaatkan waktu tersebut untuk memasang tenda. Ini adalah kali pertama saya melihat proses memasang tenda. Wuih, ternyata teknologi pemasangan tenda sudah modern sekali ya! Atau sebetulnya biasa-biasa saja tapi memang dasar saya yang belum pernah berkemah sebelumnya. Intinya, walaupun semua dikerjakan secara manual, ternyata segala peralatan sudah ada. Pertama-tama, saya menyambung rangka. Kira-kira ada enam buah rangka yang akan membentuk atap tenda saya. Jujur saja, saya tidak tahu bahan yang digunakan untuk membuat rangka tersebut. Yang saya ingat, rangka tersebut dipasang dengan cara menyambung-nyambung seperti kalau kita main sambung sedotan yang ada di acara-acara outbound. Meskipun tekstur luarnya keras, ternyata setelah disambung hingga panjang dan dimasukkan ke dalam lubang-lubang di tendanya, rangka itu bisa ditekuk.

fb_img_1478597578635

Apa daya cuma ada yang seperti ini 😦

Ujung rangka tersebut kemudian ditancapkan ke tanah. Di beberapa bagian rangka tersebut terdapat pula semacam tali yang digunakan untuk memperkokoh tenda. Tali tersebut harus ditarik dan diikat pada pancang-pancang yang kemudian ditancapkan di tanah sampai dalam. Hal ini dilakukan juga untuk mencegah tenda terbang akibat tertiup angin. Menurut saya, ini bagian yang tersulit, karena pancang tersebut harus betul-betul menancap di dalam tanah hingga hanya tersisa bagian kepalanya saja. Saya mencoba dengan kaki tidak berhasil, dengan palu pun masih gagal. Akhirnya saya menyerah dan membiarkan para pria mengambil alih hahaha 😀

 

Setelah tenda berdiri, kami memasang pemisah ruangan. Tenda kami yang berwarna kuning dan hijau tersebut berukuran cukup besar dan dapat dibagi menjadi tiga ruangan. Dua ruangan untuk kamar tidur dan satu ruangan yang terbuka untuk meletakkan meja makan dan berfungsi sebagai dapur. Saya nyaris bernafas lega melihat tenda yang sudah berdiri dan pemisah ruangan yang sudah terpasang. Ternyata masih ada satulagi yang harus saya lakukan: menyiapkan tempat tidur. Di dalam mobil, kami sudah membawa dua buah matras. Yang pertama lebih modern, tinggal tekan tombol dan matras akan terisi udara serta menggembung dengan sendirinya. Tentu saja yang satu ini jatuh ke tangan kedua orang tua. Saya pun harus mengambil matras yang

20160630_202749

Bekerja keras memompa matras 😀

harus dipompa secara manual. Mula-mula, saya memompa dengan kaki. Kemudian saya merasa lelah dan berganti menggunakan tangan. Akhirnya tangan dan kaki pun menjadi lelah dan Chris gantian yang memompa matras tersebut sampai penuh. Memang sepertinya badan saya tidak didesain untuk berkemah 😀

 

Selesai dengan tenda, kami segera membuka meja dan mulai memasak makan malam seadanya. Kali ini menunya burger sederhana. Isinya hanya daging burger, saus dan bumbu campuran yang banyak mecinnya, persis seperti burgernya abang-abang kaki lima jajanan anak SD. Meskipun bukan favorit saya sama sekali, saya tetap menyantapnya sampai habis karena makanan terakhir yang saya makan adalah wafel di Trollstigen. Kebayang ‘kan laparnya kayak apa? Dua tangkup burger berhasil saya santap dalam waktu singkat di malam hari itu.

20160630_214710

Burger setengah jadi. Abaikan saja bagian sausnya haha 😛

Kegiatan berikutnya yang saya lakukan setelah perut terisi penuh adalah mandi. Kegiatan ini adalah yang paling saya benci ketika berada di tempat umum. Saya tidak suka berbagi kamar mandi dengan orang lain yang tidak saya kenal, apalagi kalau orangnya banyak. Dari kecil saya paling tidak suka acara retreat, rekoleksi, seminar atau apapun namanya yang menginap di luar rumah dan harus berbagi kamar mandi dengan banyak orang. Seringkali saya bangun sangat pagi demi mendapatkan kamar mandi yang bersih. Kalau tidak, biasanya saya akan menemukan sampah berupa bungkus sachet sampo atau sabun, tisu dan rambut-rambut rontok di lantai kamar mandi yang basah. Hiiiiiyyyy…

Malam itu saya terpaksa harus mandi meski sudah larut. Sudah seharian tidak bersentuhan dengan air, kulit menjadi lengket dan tentu tidak nyaman jika langsung pergi tidur. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mandi di kamar mandi yang digunakan beramai-ramai oleh wisatawan mancanegara tersebut. Alangkah bahagianya saya ketika mendapati tidak adanya antrian di kamar mandi tersebut (ya iyalah, siapa coba yang mau mandi malam-malam?). Di dalam bangunan kamar mandi terdapat empat bilik. Salah satunya hanya berisi toilet. Meski demikian, toilet tersebut bukan satu-satunya yang tersedia di kompleks perkemahan tersebut. Masih ada toilet lain yang berada di bangunan yang terpisah. Sepertinya memang sengaja ditempatkan terpisah agar antrian tidak menumpuk. Karena urusan saya hanya mandi, saya pun masuk ke salah satu bilik setelah sebelumnya melepas sandal yang saya pakai dan meletakkannya di rak di depan pintu kamar mandi.

Di dalam kamar mandi yang relatif sempit tersebut ada sebuah kursi untuk menaruh pakaian bersih. Antara kursi dan ruang shower dipisahkan oleh tirai. Sekali lagi saya terkejut ketika mengetahui keadaan shower tersebut. Selain memiliki air panas, rupanya shower itu bekerja secara otomatis. Ia hanya akan menyala apabila sensornya merasakan panas tubuh kita. Begitu kita bergerak dan berdiri sejauh lebih dari 30 cm, shower akan mati secara otomatis. Wah, pintar juga caranya. Dengan begini air tidak akan membanjiri atau menyiprat ke segala arah. Bahkan tidak akan membasahi ruangan tempat kursi berada. Mandi larut malam yang saya pikir akan jadi mimpi buruk malah membuat saya betah berlama-lama di dalam kamar mandi. Saya pun langsung membuat rencana untuk keramas besok paginya berhubung rambut sudah lepek karena tidak dikeramas berhari-hari.

Selesai mandi, saya berjalan kembali ke tenda melewati dapur umum. Dapur berupa ruangan yang dilengkapi bak cuci piring dan bangku-bangku untuk makan dan menunggu tersebut rupanya memiliki hal yang menarik yang baru pertama kali saya temui. Di sisi kiri dinding dapur terdapat rak buku dua tingkat yang di dalamnya terletak buku-buku dari berbagai bahasa. Belakangan, saya baru mengetahui dari Ellen bahwa setiap wisatawan boleh meletakkan satu buku di situ dan mengambil yang lain dengan gratis. Wow, cara yang sangat menarik untuk bertukar budaya! Akan sangat beruntung jika kita bisa menguasai beberapa bahasa. Sayangnya, satu-satunya buku yang saya bawa masih sangat saya sayangi dan belum rela untuk ditukar hehehe.. 🙂

Tantangan saya berikutnya adalah tidur. Mulanya saya bingung, bagaimana bisa orang tidak kehabisan nafas dengan tidur di tenda yang pintu pemisah antarruangnya diretsleting rapat. Saya berpikir untuk menyisakan lubang kecil di retsleting itu agar udara bisa masuk, namun dicegah oleh Chris karena katanya udara akan jadi dingin nantinya. Agak tidak percaya sih, tapi ya sudahlah ikut saja karena saya baru pertama kali berkemah. Di bawah langit yang masih sangat terang, saya merangkak masuk ke bilik tidur saya yang berupa matras beralaskan kain dan dilengkapi selimut tebal. Rupanya, matras tersebut terasa sangat dingin. Saya langsung menggulung diri di dalam selimut tebal dan berusaha tidur. Beruntung saya sudah kelelahan, sehingga tak butuh waktu lama untuk jatuh tertidur. 🙂

Hari pertama berkemah memberi saya kesan yang baik. Ternyata berkemah itu cukup menyenangkan, terutama kalau fasilitasnya bersih. Buat saya, hal tersebut adalah yang terpenting. Saya jadi tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi di hari kedua. Sampai jumpa di cerita berikutnya! 😀

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang tempat-tempat berkemah yang saya lewati:

http://www.oysandcamping.no/

http://www.flakk-camping.no/?lang=en

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s