Menuruni Tangga Troll Berkelok Sebelas

Kalau di Indonesia ada jalan meliuk-liuk yang terkenal dengan nama Kelok 9, di Norwegia juga ada yang serupa, tapi keloknya ada 11. Mungkin belum apa-apa dibanding Kelok 44-nya Indonesia, yang saya juga kaget ketika membaca tentang jalan tersebut pertama kali, tetapi Kelok 11 ini lebih terkenal dan lebih menantang. Apa penyebabnya?

Kelok 11-nya Norwegia ini namanya Trollstigen, yang artinya “Tangga Troll” dan letaknya tepat di mulut lembah yang dipagari oleh gunung Trollveggen, yang berarti “Dinding Troll”. Yang pernah menonton film-film fantasi seperti Harry Potter dan The Hobbit pasti familiar dengan makhluk ini. Di film-film fantasi semacam itu, troll digambarkan sebagai makhluk raksasa yang bau dan bodoh, serta bisa berubah menjadi batu jika terkena sinar matahari. Tentu saja legenda aslinya lebih mengerikan lagi, karena troll bisa memangsa manusia bahkan menukar bayi manusia dengan anaknya. Demikian kata dongeng-dongeng kuno Skandinavia. Konon katanya, troll hidup berkelompok di dalam hutan atau gua-gua yang terletak di dinding gunung. Mereka takut terhadap cahaya matahari, petir dan bunyi lonceng gereja.

Meskipun mengerikan, makhluk mistis ini menjadi ikon dalam pariwisata Norwegia. Selain banyaknya nama tempat yang mengandung kata “troll”, khususnya nama gunung, kita juga dapat menemukan banyak sekali patung troll maupun aneka suvenir yang menampilkan bentuknya di toko-toko di seluruh Norwegia. Salah satu tempat tersebut adalah Trollstigen, si Kelok 11 yang menjadi highlight dari rute turis nasional Geiranger-Trollstigen.

2813717880_bc4bb900bf_b

Rambu-rambu jalan yang kira-kira berarti “hati-hati Anda memasuki kawasan tempat tinggal Troll” di sebuah jalan dekat Trollstigen.

Untuk mencapai Trollstigen, saya berkendara dari Gudbrandsjuvet ke utara mengikuti Rv 63. Setelah melewati lembah dan danau, saya tiba di sebuah parkiran yang luas. Udara dingin segera menyambut saya begitu keluar dari mobil. Dari parkiran tersebut, yang terlihat hanyalah rangkaian pegunungan Trolltindene tempat gunung Trollveggen menjulang dalam barisan. Di sebelah utara dari lapangan parkir tersebut terdapat bangunan berbentuk segitiga yang bergaya modern dan berdinding kaca. Bangunan itulah yang meyakinkan saya bahwa saya telah tiba di Trollstigen, karena dari foto-foto traveler pendahulu terlihat bahwa bangunan tersebut bersambungan dengan teras pandang di tempat itu.

13770445_10210497692905070_956772189147172521_n

Pemandangan dari parkiran mobil. Mobilnya sengaja nggak kelihatan soalnya gunung-gunungnya lebih bagus hehehe... 😛

Dari parkiran mobil tersebut, saya berjalan menuju kompleks bangunan modern itu. Dekat ke arah parkiran ada bagian bangunan yang memanjang, yang terdiri dari sebuah toko suvenir dan toilet. Bangunan utama yang berbentuk segitiga itu sendiri merupakan sebuah kafe yang dilengkapi dengan area outdoor untuk bersantap sambil menikmati udara terbuka. Melewati kafe tersebut, saya tiba di sebuah jembatan kecil. Di bawah saya mengalir Sungai Istra yang dangkal dan berair jernih. Saking jernihnya, saya sampai dapat melihat bebatuan yang ada di dasarnya. Saya hampir yakin, air tersebut aman diminum terutama bagi manusia-manusia berperut negara dunia ketiga yang terbiasa dengan air jorok. 😀

13781773_10210497692825068_5553267697006949204_n

Sungai Istra yang mengalir dari pegunungan menuju Trollstigen. Bangunan kecil di sebelah kiri adalah bagian dari toko suvenir dan toilet.

13697228_10210497692945071_4460814014682775778_n

Jernihnya air Sungai Istra

13769603_10210497694785117_678421444593349411_n

Bebatuan yang tampak di dasar kolam

Rupanya Sungai Istra mengalir ke sebuah kolam, namun ia tidak berhenti di situ. Kolam yang tenang tersebut dangkal dan bertingkat-tingkat, tetapi, seiring dengan langkah saya di tepinya yang mengarah pada teras pandang, kolam itu berlanjut menjadi air terjun Stigfossen yang meluncur deras ke lembah Isterdalen. Air terjun Stigfossen tersebut memotong jalan berkelok-kelok Trollstigen di bawah jembatan Stigfossbrua. Jatuhan airnya menciptakan musik alam yang mengiringi eksplorasi saya di tempat tersebut.

13775557_10210497693545086_4949504534842049945_n

Jatuhan Sungai Istra menjadi air terjun Stigfossen yang berada di bawah teras pandang pertama.

Setelah berjalan sekitar 3 menit dari kafe, saya tiba di percabangan jalan. Jika saya berjalan lurus, saya akan tiba di teras pandang pertama. Dari teras pandang ini, saya dapat menyaksikan Stigfossen dari dekat karena letaknya tepat di atas jatuhan air terjun tersebut. Pagar teralis yang tidak terlalu tinggi memungkinkan saya untuk menikmati pemandangan lembah di bawah beserta sebelas kelokan yang menegangkan tersebut dari atas.

13731556_10210497694145101_2782790880908267803_n

Percabangan jalan yang saya temui. Belokan di sebelah kanan membawa saya ke teras pandang pertama.

13731549_10210497694425108_3892594050079029013_n

Sungai Istra jatuh dari kolam bertingkat tepat di bawah teras pandang pertama.

13729072_10210497693625088_2360366054819675380_n

Aliran Sungai Istra

13718499_10210497698105200_1669695545800383779_n

Ujung atas Stigfossen yang meluncur turun menuju lembah Isterdalen.

Beberapa menit berdiri di teras pandang pertama, saya mulai merasa kedinginan. Hari itu memang tidak hujan. Bisa dibilang, cuacanya cukup baik untuk menyaksikan keindahan Trollstigen dan saya cukup beruntung mendapatkannya. Seorang teman yang baru tiba di sana beberapa hari setelah saya meninggalkan tempat itu hanya dapat melihat kelokan-kelokan yang tertutup kabut. Meski demikian, cuaca hari itu tidak bisa dibilang cerah juga. Matahari masih malu-malu bersembunyi di balik awan dan tanpa matahari di atas, udara dingin pegunungan langsung menusuk kulit, ditambah lagi dengan angin yang berhembus. Rasanya, kalau sedang tidak travelling, saya maunya mlungker di pojok kafe yang hangat.

Akan tetapi, yang semacam itu tentu bukan saya. Setelah berpencar karena orang tua Chris ingin bersantai menghangatkan badan di kafe, saya dan dia berlanjut menuju platform view kedua. Letak platform view ini ada di ujung jalan yang berbelok ke kanan dari percabangan jalan yang saya sebut di atas tadi. Untuk mencapainya, kami harus menuruni banyak anak tangga yang dibangun di atas tebing-tebing gunung. Tenang saja, tangga ini sama sekali tidak berbahaya kok. Seperti platform view lainnya yang sudah saya kunjungi selama di Norwegia, teras pandang Trollstigen juga menganut prinsip aman dan indah. Prinsip tersebut  berarti menyediakan sarana bagi turis untuk menyaksikan pemandangan dan menikmati alam dari titik yang terindah melalui bangunan-bangunan yang aman tetapi juga bernilai estetis pada arsitekturnya. Keren, yah! 🙂

Di tengah dinginnya angin, saya pun akhirnya tiba di ujung tangga tersebut. Platform view yang kedua sangat menjorok ke luar dinding tebing dan nyaris seperti menggantung tanpa pijakan di bawah lantainya. Akan tetapi di situlah pemandangan terbaik Trollstigen dapat disaksikan. Di sebelah kanan tampak jelas Stigfossen mengalir deras menuju lembah Isterdalen, sedangkan jauh di sebelah kiri terdapat air terjun kecil lain yang berasal dari lelehan salju di puncak gunung dan jatuh ke sungai Tverelva. Sementara itu, mobil-mobil yang tampak kecil berjalan meliuk-liuk mengikuti sebelas kelokan tangga troll tersebut. Gunung Trollveggen juga tampak menjulang di sebelah kanan lembah, sedangkan Gunung Bispe di sebelah kirinya.

13716014_10210497698505210_1670436514549290200_n

Gunung Bispe menjulang di sebelah kiri teras pandang.

13707663_10210497694105100_7223438750275678365_n

Pegunungan Trolltindene yang memagari lembah Isterdalen.

Situasi di teras pandang kedua cukup ramai. Banyak turis yang ingin berfoto bersama fenomena alam tersebut. Untuk mendapatkan foto, saya harus bergiliran mengantri agar dapat berdiri di titik terbaik. Selagi mengantri, saya mengamati beberapa jenis turis yang ada di sana. Pasangan manula tampak mendominasi, kebanyakan berasal dari Jerman. Kuat juga ternyata mereka melalui anak tangga yang demikian banyak. Ada pula pasangan muda dengan bayinya yang masih dibawa dalam baby stroller. Waduh, saya nggak sanggup deh petualangan di alam sambil bawa-bawa kereta bayi. Ada lagi empat turis perempuan yang tampaknya bersaudara atau berteman, yang mengenakan pakaian agak janggal untuk petualangan di alam: rok terusan tipis  dan sepatu berhak. Ajaib, pikir saya, bagaimana bisa wanita-wanita tangguh ini melawan alam dalam pakaian demikian. Saya saja sudah kedinginan.

13700227_10210497698225203_1096881325932044091_n

Sebelas kelokan Trollstigen dan jembatan kecil Stigfossbrua yang menyebrangi aliran Stigfossen.

13680871_10210497693705090_6122799112275390689_n

Air terjun kecil di sebelah kanan teras pandang yang jatuh ke Sungai Tverelva di lembah.

Begitu giliran saya tiba, saya segera memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Saya khawatir langit akan semakin mendung dan jadi hujan. Beberapa foto berhasil saya dapatkan dari teras pandang kedua. Setelah selesai, saya segera beranjak dari tempat itu dan memberikan spot tersebut bagi pemburu foto selanjutnya. Dinginnya angin berhasil membujuk saya untuk menyusul kedua orang tua Chris untuk menghangatkan bada di kafe. Sudah terbayang lezatnya secangkir coklat panas yang mungkin ada di sana. Rupanya, untuk sampai ke kafe saja, saya harus jalan perlahan-lahan agar bisa mengatur nafas. Anak tangga yang banyak jumlahnya tadi kali ini harus dinaiki, bukan dituruni. Kira-kira 15 menit kemudian saya pun berhasil tiba di kafe dengan selamat.

13716164_10210497697385182_643850141368773684_n

Trollstigen yang dilalui mobil-mobil yang tampak kecil.

13769554_10210497695025123_4288420993302560546_n

Lembah Isterdalen

Menu di Kafe Trollstigen dijual semi prasmanan. Mirip Hoka Hoka Bento gitu deh. Untuk makanan, kita bisa memilih berbagai jenis smørbrød yang ada di etalase, atau memesan sesuai daftar yang tertera di situ. Seperti kafetaria di Norwegia pada umumnya, Kafe Trollstigen juga menyediakan menu harian yang berbeda setiap harinya. Kali ini menunya adalah sup. Setelah melihat-lihat, pilihan saya pun jatuh pada secangkir coklat panas dan waffle dengan selai stroberi khas Norwegia. Masih belum bisa move on dari stroberi hehehe..:P

Setelah mendapatkan pesanan, saya memilih meja di tengah ruangan berarsitektur modern tersebut. Ruangan yang didominasi warna netral seperti abu-abu dan putih itu memiliki dinding kaca di kedua sisinya yang berhadapan pada kolam air terjun Stigfossen dan pegunungan Trolltindene. Di salah satu sisinya yang memiliki tembok tergantung beberapa foto berukuran besar berwarna hitam putih. Foto-foto tersebut adalah bagian dari museum mini Trollstigen yang menyajikan informasi tentang bagaimana jalan berkelok 11 tersebut dibangun pada awalnya. Di tengah ruangan tersebut saya bercakap-cakap dengan pacar saya sambil menikmati makan siang saya yang berupa waffle tersebut. Waffle khas Norwegia tersebut berbentuk empat hati yang bertemu di bagian tengahnya. Bagian atasnya dituangi saus stroberi yang manis. Saking manisnya sampai-sampai membuat coklat panas saya terasa pahit 😀 Seharusnya saya tidak menghabiskan coklatnya setelah saya selesai dengan waffle-nya, ya?

13508950_10157770420730377_7226976578999220056_n

Di dalam kafe Trollstigen, waffle saya sudah habis sedangkan coklat panas masih penuh 😛

Kami menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit sampai setengah jam di kafe tersebut. Dengan perut kenyang, kami meninggalkan tempat itu menuju toko suvenir. Toko suvenir di Trollstigen adalah salah satu yang terlengkap dari beberapa toko suvenir yang telah saya kunjungi. Selain pajangan, kaos dan magnet kulkas yang umum dijumpai, toko ini juga menjual aneka syal dengan motif khas Viking dan aksesoris dari perak atau platina berbentuk benda-benda khas Norwegia. Salah satu yang saya peroleh di sini adalah syal merah hati bergambar ukiran Viking dan sepasang anting-anting perak berbentuk hewan favorit saya, beruang kutub. 😛

Tepat ketika saya keluar dari toko suvenir, gerimis mulai turun kembali. Cuaca memang cepat berubah di Norwegia, terutama di daerah pegunungan. Saya sudah mengingat informasi tersebut sejak membaca buku “Scandinavian Explorer”. Oleh karena itu, setidaknya jaket bertudung selalu ada di tangan saya. Beruntungnya saya, jarak dari toko suvenir ke mobil tidak terlalu jauh, sehingga saya dapat segera berteduh dan melanjutkan perjalanan. Kali ini, kami akan betul-betul merasakan sensasi menuruni tangga troll tersebut. Konon katanya, menaikinya akan lebih sulit lagi karena kemiringan tanjakannya mencapai 10%.

13754616_10210497698025198_6345388384742234700_n

Penulis numpang narsis yaa… 😛

Dengan perlahan, mobil meluncur mengikuti kelokan-kelokan berbentuk seperti jepit rambut yang ada. Di setiap kelokan, terdapat papan petunjuk yang dipasang di bebatuan di dekatnya dan bertuliskan nama dari kelokan tersebut. Nama-nama tersebut di antaranya Bispesvingen, Uri Martin Svingen, Langdalsvingen dan lain-lain. Di antara kelokan ke-5 dan ke-6, terdapat jembatan kecil Stigfossbrua yang melintang di atas aliran air terjun Stigfossen yang saya lihat di teras pandang tadi. Brandlisvingen pun menutup rangkaian kelokan di tangga troll ini sebagai kelokan ke-11.

Untuk menyetir melalui Trollstigen ini diperlukan keahlian yang cukup, terutama untuk urusan berbelok di jalan sempit. Selain itu, kendaraan-kendaraan yang ukurannya terlalu panjang juga dilarang melalui jalan ini karena akan susah berbelok. Perlu diingat pula, Trollstigen hanya dibuka selama beberapa bulan dalam setahun, umumnya sejak akhir musim semi (Mei) sampai awal musim gugur (Oktober) dengan tanggal yang bervariasi yang bisa diketahui dari website resmi turisme Norwegia atau rute turisme nasional Geiranger-Trollstigen. Hal ini disebabkan oleh cuaca buruk dan salju yang menumpuk pada musim dingin yang akan membahayakan para pengendara. Jadi, selamat menguji kemampuan menyetir kalian! Atau kalau takut, silakan naik bus turis dan jadi penumpang seperti saya. 😀

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Trollstigen di rute turis nasional Geiranger-Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=Trollstigen

Tentang detil arsitektur teras pandang dan Kafe Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/about-us/architecture-and-art?start=Reiulf+Ramstad+Arkitekter+AS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s