Lembah Stroberi dan Sungai Legenda di Valldal

Salah satu hal yang menginspirasi saya untuk bermimpi melakukan perjalanan ke Norwegia adalah sebuah tayangan acara panduan wisata di televisi. Dahulu, ketika tayangan stasiun TV di Indonesia masih bermutu, acara semacam ini banyak sekali tersebar di berbagai stasiun TV, terutama pada akhir pekan. Salah satu acara wisata favorit saya berjudul Food Discovery, yang dulu pernah tayang di Metro TV pada minggu pagi. Food Discovery ini pada intinya mengajak pemirsanya berjalan-jalan ke berbagai belahan dunia untuk mencicipi makanan khas yang dibuat dari bahan-bahan khas dari negara yang didatangi pula. Usut punya usut, program Food Discovery ini ternyata buatan Nordic World AS; salah satu perusahaan penyiaran di Norwegia 😀 Memang kalau sudah jodoh nggak ke mana ya, Pembaca 🙂

Dalam episodenya yang berjudul “Norway: Strawberries and Wild Salmon”, penonton dapat ikut bertualang di alam Norwegia sembari memetik stroberi segar dan memancing salmon di sungai-sungai yang kemudian dimasak ala Norwegia. Ya ampun, waktu saya lihat stroberi-stroberinya, saya sampai ngiler-ngiler. Segar-segar dan merah sekali. Stroberi-stroberi tersebut dimakan dengan krim sebagai hidangan penutup dalam tayangan tersebut. Sejujurnya, saya tidak pernah begitu menyukai stroberi karena rasanya kebanyakan asam. Hanya saja, tayangan Food Discovery yang langsung menjadi episode favorit saya itu berhasil meyakinkan saya bahwa di belahan bumi lain ada stroberi-stroberi merah segar yang manis.

Bertahun-tahun setelah saya menyaksikan tayangan yang begitu membekas di benak saya ini (lebay banget ya, Pembaca!), saya duduk di sebuah mobil mini van berwarna biru yang tengah berkendara di sepanjang rute turisme Geiranger-Trollstigen di Norwegia. Tuh, betul ‘kan, saya memang berjodoh sama negara ini. 😉 Dari teras pandang Ørnesvingen, saya mencapai puncak pegunungan dan turun lagi melalui lembah Eidsdal. Di bagian atas, lembah ini tampak sepi tak berpenghuni. Hanya ada daratan hijau dan sungai kecil yang mengalir dari air terjun-air terjun di tebing-tebing gunung. Semakin ke bawah, semakin banyak terdapat rumah-rumah dan peternakan, yang pada akhirnya berujung di desa Eidsdal.

123807810

Desa Eidsdal di tepi Storfjord tempat pelabuhan feri untuk menyeberang ke Valldal. Sumber: http://www.panoramio.com

Eidsdal terletak di tepi Storfjord yang merupakan ibu dari Geirangerfjord. Dari sanalah saya akan menyeberangi fjord tersebut menuju daratan di seberang. Mungkin di sinilah titik bosannya saya dengan fjord. Karena lamanya yang tidak lebih dari 30 menit, saya memutuskan untuk diam di dalam mobil selagi feri tersebut menyeberang. Kebetulan mobil saya berada di tengah-tengah feri di antara mobil-mobil lainnya dan agak sulit diakses kembali kalau saya tinggal turun dan berjalan-jalan. Benar juga, tak lama menunggu sudah terdengar kembali pengumuman bahwa feri akan merapat di seberang.

Tiba di seberang, kami berkendara di tepian Storfjord yang airnya berkilauan tertimpa sinar matahari. Rasanya kalau punya banyak waktu, saya masih ingin leyeh-leyeh di tepi fjord sambil mendinginkan kaki dan menikmati pemandangan. Road trip itu melelahkan lho meskipun kerjanya hanya duduk saja. Mungkin justru karena itu, ya?

Rute yang kami tempuh adalah Rv 63. Rute ini menyeberangi mulut Sungai Valldøla yang mengalir langsung ke Storfjord dan berbelok ke utara memasuki lembah Valldal. Lembah Valldal inilah tempat di mana impian masa kecil saya yang muncul akibat menonton Food Discovery terwujud. Berlalu dari pusat kota, di kiri kanan jalan semakin terdapat jajaran semak-semak hijau yang adalah perkebunan stroberi. Setiap rumah tampak dikelilingi oleh perkebunan stroberi yang terhampar luas. Tampaknya, pertanian stroberi adalah industri yang menyokong kota ini, di samping turisme tentunya.

13718803_10210497555621638_7443641769481001047_n

Kebun stroberi di sepanjang jalan.

13718713_10210497555541636_797349671437581808_n

Perkebunan stroberi adalah sumber mata pencaharian penduduk Valldal.

Beberapa saat berkendara di antara kebun stroberi, mata saya menangkap pemandangan yang tidak biasa. Ada beberapa ibu-ibu duduk di tepi jalan dengan penutup kepala khas pedesaan di bawah payung di belakang meja yang dipenuhi stroberi. Di depan tumpukan kemasan stroberi tersebut tertera angka yang menunjukkan harga. Mereka adalah penjual jalanan pertama di Norwegia yang saya lihat yang menjajakan makanan, karena penjual jalanan di sana rata-rata menjual koran dan majalah. Saya kira ibu-ibu pedagang seperti itu hanya ada di Cisarua 😀 Kami pun berhenti di dekat salah seorang dari mereka dan membeli sekotak stroberi seharga 40 NOK.

13726764_10210497555581637_4557067469048957665_n

Ini dia stroberi yang saya beli di pinggir jalan 🙂 Ini no filter, no edit lho gambarnya. Selamat ngiler ya, Pembaca! 😛

Jujur, saya belum pernah melihat stroberi sebesar-besar dan semerah stroberi itu sebelumnya. Dengan yakin, saya pun menarik daunnya dan langsung menggigit daging stroberi yang sangat juicy tersebut. Wow, ternyata tayangan Food Discovery itu nggak bohong, Pembaca! Stroberi merah segar dan manis memang tumbuh di belahan bumi utara yang memiliki empat musim. Terbayang betapa lezatnya jika saat itu saya punya krim kocok untuk melengkapi stroberi tersebut. Satu lagi impian dalam daftar saya yang bisa dicoret. 🙂

Berbekal stroberi segar dari Valldal, saya kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara melawan arah arus Sungai Valldøla yang berkelok-kelok di sisi jalan raya. Sekitar 15 km ke utara dari kota Valldal, terdapat perhentian di tepi jalan dekat sebuah jembatan. Di dekat perhentian itu ada sebuah platform view lain, tapi pemandangannya bukan lagi fjord melainkan Sungai Valldøla yang jernih. Platform view berbentuk jembatan yang berkelok-kelok di antara pepohonan itu menyeberangi sungai jernih yang jatuh dalam sebuah jurang sempit bernama Gudbrandsjuvet.

jsa_2

Platform view yang menjembatani Sungai Valldøla. Sumber: architektur.mapolismagazin.com

 

Apa yang menarik dari jurang sempit ini? Pertama, formasi bebatuannya yang berbentuk seperti relung-relung gua. Bentuk bebatuan tersebut tercipta dari kikisan air Sungai Valldøla selama ratusan tahun. Menariknya lagi, kalau dilihat dari atas, air sungai yang mengalir menerobos bebatuan dan menabrak dinding-dinding gua tersebut berwarna biru muda cerah dan sangat jernih. Semua pemandangan ini dilatarbelakangi oleh Gunung Trollkyrkja yang menjulang jauh di selatan. Kalau saja hari tidak mulai gerimis ketika saya tiba di sana, mungkin saya bisa berlama-lama memandangi tarian sungai di bawah kaki saya dan memotret gerakannya dari berbagai sudut 🙂

13699991_10210497637983697_4421603176788588366_n

Gunung Trollkyrkja di selatan Sungai Valldøla

13697228_10210497641263779_7063496354760320236_n

Sungai Valldøla mengalir melalui relung-relung bebatuan Gudbrandsjuvet.

13729036_10210497640463759_910385978884913404_n

Melalui bebatuan dengan indahnya

13697161_10210497638663714_8050249868958279901_n

Tuh, lihat, biru banget ya airnya.. 🙂

Selain keindahan dan kejernihannya, jurang selebar 5 m dengan kedalaman 25 m ini juga menarik karena legendanya. Nama Gudbrandsjuvet sendiri berarti Jurang Gudbrand. Konon dikatakan dalam dongeng abad ke-16 bahwa ada seorang pria bernama Gudbrand yang melompat ke dalam jurang ini untuk melarikan diri dari orang-orang yang mengejarnya. Gudbrand, yang diceritakan selamat dan akhirnya tinggal di sebuah pondok di tepi Sungai Valldøla ini, diburu orang-orang yang marah karena ia membawa lari seorang perempuan untuk dinikahinya. Karena legenda ini, orang menamai jurang tersebut dengan namanya.

Di tempat ini, sekali lagi arsitek-arsitek lanskap Norwegia memamerkan kebolehan mereka. Teras pandang yang berkelok dan menjembatani sungai tersebut juga dilengkapi dengan pijakan-pijakan yang diberi lubang dan dinding-dinding pembatas dari kaca sehingga memungkinkan kita untuk mengintip apa yang ada di bawah jembatan. Di ujung teras pandang tersebut terdapat Cafe Juvet, yaitu sebuah kafe berarsitektur modern dengan dinding-dinding kaca yang menghadap pemandangan Sungai Valldøla. Desainnya persis seperti rumah modern impian saya yang punya banyak jendela besar dan terletak di dekat alam bebas. Sayangnya, karena hari hujan, saya pun tidak dapat berlama-lama di tempat tersebut karena saya harus cepat-cepat berlalu ke perhentian selanjutnya sebelum cuaca semakin memburuk.

706274

Lanskap platform view berlatar belakang pegunungan Trollkyrkja. Di sebelah kanan adalah Cafe Juvet yang berdinding kaca. Sumber: http://www.nasjonalturistveger.no

utendors

Platform view dilihat dari atas. Sumber: http://www.trollstigen.no

Untuk kembali ke mobil, saya mengambil jalan memutar sehingga tidak melewati platform view melainkan jembatan batu tempat jalan raya untuk kendaraan melintas. Ternyata, di sisi lain jembatan tersebut itulah Sungai Valldøla menjadi air terjun yang jatuh ke lembah Valldal dan mengalir berkelok-kelok hingga ke muaranya di Storfjord. Jembatan tersebut mengantar saya kembali ke tempat parkir mobil-mobil. Tepat sebelum gerimis semakin lebat, saya berhasil masuk ke mobil. Tinggal berharap cuaca akan membaik sebelum saya tiba di destinasi selanjutnya.

13668977_10210497638343706_6768529989582049433_n

Jembatan yang saya lalui ketika kembali ke mobil. Di sebaliknya adalah Sungai Valldøla yang jatuh ke lembah Valldal menjadi air terjun.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Tentang Gudbrandsjuvet di rute turis nasional Geiranger – Trollstigen:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=Gudbrandsjuvet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s