Sebut Namaku di Geirangerfjord

Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Norwegia, saya sempat bertemu teman-teman dekat saya di kampus. Begitu mereka tahu bahwa saya akan pergi road trip dan melewati tempat-tempat yang super cantik, mereka langsung titip sesuatu. Titipannya bukan oleh-oleh dan bukan foto juga. Titipan agak aneh ini namanya titip sebut nama. Pertama kali muncul ketika salah satu dari teman-teman dalam “geng” saya itu berangkat ke Munich, Jerman mendahului yang lain karena menang kompetisi mengarang di Goethe-Institut. Kami semua tak percaya bahwa salah satu dari kami akhirnya berangkat ke Eropa, ke kota impiannya pula. Sebelum ia berangkat, kami semua memintanya untuk menyebut nama kami satu persatu di tempat-tempat yang khas Munich, terutama yang kita ngebet banget untuk kunjungi. Kita percaya bahwa sebut nama itu setara dengan doa agar orang yang kita sebut namanya akan tiba di tempat itu juga suatu hari nanti.

Sama seperti teman saya, saya pun kena titipan sebut nama ini. Kadang-kadang titipannya disampaikan lewat pesan Whatsapp atau komentar di foto Instagram ketika saya sudah berangkat. Jadilah daftar panjang nama yang harus saya hafalkan supaya tidak ada yang terlewat. Tempat sebut nama yang mereka pesan adalah Geirangerfjord, yang tidak jauh dari tempat saya menginap di akhir hari kedua perjalanan darat saya.

Boleh dibilang, kamar tempat saya bermalam ketika tiba di Geiranger adalah kamar sisa. Selain opsinya sebagai kamar di rumah privat yang sebetulnya nggak saya banget karena kurangnya privasi, dua kamar yang kami peroleh juga merupakan dua kamar yang tersisa di rumah tersebut. Total ada empat kamar yang disewakan oleh pasangan orang tua pemilik rumah itu. Sebelumnya, kamar-kamar di rumah berlantai tiga tersebut dihuni oleh anak-anak mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan pindah ke kota, orang tua mereka menyewakan kamar-kamar tersebut untuk turis yang berkunjung ke Geiranger.

Suasana menginap di rumah milik privat memang sangat berbeda dari hotel atau kabin. Tidak ada resepsionis, yang ada hanya sebuah buku tamu yang tergeletak di atas meja di depan pintu. Buku tamu ini harus diisi dengan data singkat penyewa, di antaranya nama, alamat dan nomor telepon. Pernah saya iseng membuka-buka buku tersebut karena penasaran siapa yang menginap di kamar-kamar tersebut. Ternyata, tamu-tamu yang menginap di sana datang dari mancanegara, bahkan negara-negara yang jauh seperti Kanada dan Australia.

Interior kamar memang terkesan seadanya dan tabrak warna. Persis seperti rumah sederhana. Hanya satu yang menyatukan semua gaya tersebut, kesan zaman dulu yang tentunya tidak mengherankan mengingat pemiliknya adalah pasangan manula. Saya mendapat kamar yang ukurannya cukup luas dengan tempat tidur queen size bersprei ungu tanpa corak. Di atas sprei tersebut dihamparkan penutup tempat tidur yang terbuat dari bahan rajutan. Di kamar tersebut ada meja dengan lampu tidur, meja dan kursi dekat jendela, lemari kecil, mesin pembuat kopi yang juga bisa dipakai merebus air, dan wastafel dengan air hangat dan dingin yang bisa dipakai untuk cuci muka dan gosok gigi. Lumayan banget ‘kan? Sementara untuk mandi disediakan dua buah kamar mandi yang dapat dipakai bergantian dengan tamu lain. Ukurannya terbilang sempit, namun dilengkapi air panas dan sangat bersih. 🙂

Akan tetapi, bukan hal-hal tersebut yang membuat saya menyukai tempat itu. Pada pagi hari ketiga dalam perjalanan darat kami, saya terbangun cukup cepat untuk ukuran musim panas Norwegia. Kira-kira pukul 8 pagi, saya melangkah turun dari tempat tidur hendak membuka jendela untuk mengganti udara kamar. Begitu saya buka tirai berwarna krem yang menutupi jendela kaca besar khas rumah-rumah Skandinavia itu, saya menyadari bahwa hari tengah hujan. Tidak deras memang, hanya rintik-rintik seperti ketika saya tiba di tempat tersebut malam sebelumnya. Saya urung membuka jendela dan menunggu beberapa saat sambil menulis jurnal perjalanan.

Tak lama kemudian, hujan pun berhenti dan awan kabut yang tadinya menutupi pemandangan di luar menghilang perlahan. Saya kembali membuka tirai dan mendorong daun jendela. Astaga, bagusnya! Sebuah air terjun tampak mengalir jatuh dari tebing tak jauh dari kamar saya. Saya menggeser pandangan ke sebelah barat dan hanya dapat terpana menyaksikan apa yang saya lihat. Sebuah pelangi cantik yang tampak jelas melengkung indah di atas Geirangerfjord. Fjord biru tersebut masih saja sepi dari kapal-kapal turis, menambah keindahan panorama yang saya saksikan dari jendela kamar saya. Detik itu juga saya ingin tinggal di situ saja supaya bisa menyaksikan pemandangan semacam itu setiap pagi.

view hotel

Hotel di seberang jendela kamar saya.

view waterfall

Ada air terjun jauh di atas tebing.

rainbow geiranger

Pelangi di Geirangerfjord. Pengen gak sih lihat begini tiap bangun pagi?

Sayangnya, aktivitas menikmati pemandangan saya tidak dapat berlangsung lama, karena saya harus beranjak lagi untuk perjalanan berikutnya. Setelah mandi, bersiap-siap dan makan pagi, kami meninggalkan kamar bernuansa vintage tersebut untuk kembali berkendara menuju utara. Rute yang akan kami tempuh adalah salah satu rute turis nasional Norwegia yang terpopuler: Geiranger-Trollstigen.

Dari penginapan tersebut, kami menuruni jalan berkelok menuju Geirangerfjord dan melintasi jembatan yang di bawahnya mengalir jeram yang berasal dari air terjun yang saya lihat dari jendela tadi. Air terjun tersebut mengalir ke Geirangerfjord melalui sungai itu. Di kiri-kanan jalan banyak terdapat penginapan, kabin dan hotel aneka rupa dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Geiranger ini memang merupakan kota turis yang sangat populer. Siapa coba yang tidak tertarik menyaksikan keindahan fjord yang masuk dalam daftar UNESCO World’s Heritage List ini?

Geirangerfjord, bersama dengan Nærøyfjord memang bertengger di daftar warisan budaya dunia versi UNESCO. Tentu alasannya bukan hanya sekedar karena keindahannya. Menurut situs resmi UNESCO, kedua fjord di barat Norwegia tersebut berhasil masuk dalam daftar karena bentuknya yang paling menyerupai model fjord zaman purba dan masih menunjukkan proses geologi pembentukan fjord hingga kini. Benar saja lho, kabarnya, tebing-tebing pegunungan setinggi kurang lebih 1400 m yang mengapit Geirangerfjord masih mengalami pergeseran setiap tahunnya. Jika pergeseran yang terjadi cukup besar, hal tersebut berpotensi menimbulkan runtuhnya bebatuan gunung atau bahkan sebagian tubuh gunung ke fjord berkedalaman kira-kira 500 m itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Tsunami besar yang akan menghantam kota turis Geiranger, seperti yang menjadi inspirasi cerita film Norwegia berjudul Bølgen atau The Wave dalam versi Inggrisnya. Aduh, seramnya! Memang tidak ada ya, tempat di dunia ini yang sungguh-sungguh aman.

Selain karena struktur dan kenampakannya, Geirangerfjord juga terdaftar sebagai situs warisan budaya dunia karena lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Penduduk desa-desa di sepanjang Geirangerfjord mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak serta berbicara dalam dialek Sunnmøre, yang kalau kata Chris merupakan dialek terindah di Norwegia. Nah, peternakan dan pertanian mereka ini kadang-kadang dibangun jauh di atas tebing-tebing yang hanya dapat dicapai dengan mendaki atau berjalan kaki. Beberapa kompleks pertanian ini sekarang sudah ditinggalkan dan berubah jadi tujuan wisata yang aksesnya sangat terbatas. Sayangnya, saya belum sempat lihat langsung peternakan-peternakan di tebing ini.

Ketika saya tiba di kota Geiranger, sebuah kapal pesiar besar berwarna putih tampak sedang berlabuh. Dari namanya, kapal tersebut tampaknya merupakan kapal turis dari Italia. Ia membunyikan klaksonnya berulang-ulang hingga suaranya bergema ketika menyentuh tebing-tebing fjord yang saya tanjaki. Sebetulnya, pada awalnya saya berpikir bahwa saya akan punya kesempatan untuk berlayar di Geirangerfjord dan nggak cuma sekedar menyeberang dengan feri saja. Tentu saja hal tersebut tidak terjadi. Mobil kami justru semakin menanjaki tebing menjauhi Geiranger. Saya pun jadi kecewa karena saya pikir saya hanya akan numpang lewat saja di fjord terindah di Norwegia tersebut.

Beberapa saat setelah melewati beberapa tikungan di tebing tersebut, saya melihat keramaian di sebuah sudut jalan. Rupanya ada sebuah teras pandang untuk menikmati panorama Geirangerfjord dari atas. Woohoo!! Begitu mendapat izin keluar, saya langsung lompat dari mobil dan menyeberang jalan menuju teras pandang tersebut. Suara gemericik air dari air terjun kecil di dekat teras pandang itu segera menyambut saya. Teras pandang tersebut bernama Ørnesvingen atau Tikungan Elang, karena letaknya yang memang di tikungan kesebelas di tebing tersebut dan memungkinkan kita menyaksikan keindahan Geirangerfjord dari perspektif elang alias dari atas. Tepat di bawah teras pandang yang beberapa bagiannya terbuat dari kaca tersebut, mengalir sungai kecil yang merupakan sambungan dari air terjun yang menyambut saya tadi.

white cruise ship

Geirangerfjord dan kapal pesiar tampak dari Ørnesvingen.

ab3b516e727be1a4504792f0500488a1

Air terjun yang mengalir melalui kaca-kaca di Ørnesvingen. Arsitektur yang keren ini karya perusahaan arsitektur 3RW – Sixten Rahlff. Sumber: http://www.nasjonaleturistveger.no/

Dari teras pandang tersebut, saya dapat melihat kota Geiranger di sebelah timur yang tampak kecil. Kapal pesiar Italia tadi juga masih berlabuh pada tempatnya. Sementara itu, di sebelah kanan, agak jauh dekat kelokan pertama di Geirangerfjord, tampak air terjun yang sangat terkenal, yaitu De Sju Søstre. Mungkin Pembaca sering mendengarnya dengan nama Seven Sisters Waterfall. Air terjun ini merupakan air terjun dengan tujuh aliran yang jaraknya sangat berdekatan dan merupakan salah satu highlight dari tur di Geirangerfjord dengan menggunakan kapal.

seven sisters 3

Seven Sisters Waterfall dekat kelokan di Geirangerfjord.

seven sisters detail

Seven Sisters Waterfall (close up)

Setelah mengabadikan panorama yang khas gambar kartu pos tersebut, saya menyepi di sudut yang mendekati air terjun terkenal itu. Selagi tidak banyak orang, saya mengeluarkan daftar nama-nama di otak saya dan mulai menyebut satu persatu nama teman saya yang sudah titip sebut nama. Pertama-tama, dua nama teman saya yang sama-sama penyuka abad pertengahan dan Skandinavia, kemudian teman saya yang memperkenalkan saya pada negara-negara Skandinavia, adik saya, teman saya yang lain dan begitu seterusnya sampai nama-nama itu kesebut semua. Mudah-mudahan suatu hari nanti kalian bisa berdiri di teras pandang ini ya, teman-teman dan Pembaca sekalian yang namanya tidak bisa saya sebut satu persatu. 🙂

me and seven sisters

Numpang narsis sebelum perjalanan berlanjut lagi 🙂 hehehe…

Selesai dengan ritual sebut nama, saya menghampiri Chris yang rupanya sibuk membuat beberapa foto dalam berbagai mode dan filter dengan kamera DSLR-nya. Selanjutnya, kami kembali menyeberang jalan menuju mobil yang terparkir untuk melanjutkan perjalanan di rute Geiranger-Trollstigen yang akan semakin seru tentunya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi turisme Norwegia yang berisi tujuan-tujuan wisata dari seluruh Norwegia beserta tips-tips yang berguna:

https://www.visitnorway.com/

Website resmi turisme di Geiranger dan area sekitarnya:

http://www.visitalesund-geiranger.com/en/

Tentang teras pandang Ørnesvingen di Geiranger:

http://www.nasjonaleturistveger.no/en/routes/geiranger-trollstigen?attraction=%C3%98rnesvingen

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s