Menuju Geiranger: Fjord, Danau dan Terowongan Terpanjang di Dunia

Berbeda dari banyak orang lainnya, saya nggak mau jalan-jalan ke tujuan-tujuan wisata dan cuma main jepret kamera. Apalagi kalau isinya muka saya semua. Saya senang belajar, terlebih lagi mengetahui fakta-fakta unik tentang suatu tempat. Kalau bisa nggak cuma yang diberi tahu oleh pemandu wisata. Maka dari itu, maklum-maklum saja ya, Pembaca, kalau foto-foto yang bertebaran di blog ini kurang bagus atau banyak yang mencong. Saya memang tidak terlalu fokus dengan jepretan foto, terutama kalau sedang di tempat bagus. Kamera terbaik adalah mata kita, bukan begitu Pembaca?

Omong-omong soal mata adalah kamera, kira-kira itulah bekal saya di 11 jam perjalanan berikutnya bersama dengan pelajaran geografi yang telah saya refresh di otak saya di Hardangervidda Natursenter. Dalam 11 jam yang sama sekali tidak singkat ini, mobil kami akan menempuh jarak kurang lebih 377 km ke utara, melewati kenampakan alam seperti yang telah saya pelajari di museum tersebut. Akhirnya, saya nggak cuma belajar teori tapi praktik juga 😀 Tapi, sudah tentu ada bedanya menggunakan kamera sungguhan dan mata sendiri. Kamera sungguhan punya memori, mata kita bisa menipu. Alhasil, saya pun harus mengakui bahwa ini adalah tulisan tersulit yang saya hasilkan dari seluruh perjalanan saya. Dengan jalan yang begitu panjang dan kenampakan alam yang mirip atau serupa berulang-ulang di depan mata saya, berulang kali saya harus memutar otak untuk mengingat rute yang benar yang saya lalui dalam perjalanan tersebut. Waduh, saya jadi banyak mengoceh nih. Langsung aja dimulai cerita selanjutnya yah..

Setelah berhenti beberapa saat di Øvre Eidfjord, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Eidfjord yang terletak di tepi Hardangerfjord, salah satu fjord yang terkenal di Norwegia. Melihat fjord yang biru tersebut, saya kini dapat membayangkan, bahwa ujung yang terletak dekat kota Eidfjord tersebut pasti sangat dalam, karena Eidfjord adalah kota di tepi Hardangerfjord yang paling jauh dari laut.

hardanger

Hardangerfjord

Dari Rv 7, saya berbelok ke Rv 13 melalui sebuah terowongan yang berujung pada sebuah jembatan panjang bernama Hardangerbrua. Hardangerbrua membentang di atas Hardangerfjord dan merupakan salah satu jembatan terpanjang di dunia. Sudah sejak lama saya ingin menyaksikan Hardangerfjord dari jembatan ini. Sayang sekali, ruang bagi kendaraan cukup sempit sehingga meskipun jembatan ini dilengkapi dengan jalur sepeda dan pejalan kaki, saya tidak bisa menepi sembarangan untuk turun dan mengambil foto. 😦 Padahal, dulu saya sering iseng menggunakan fitur street view Google Maps dan menjatuhkan kursor berbentuk orang-orangan di atas jembatan ini, hanya untuk mengagumi pemandangannya dari layar komputer saya. Jembatan ini menghubungkan terowongan Bu dengan terowongan Vallavik. Sebetulnya, dekat dengan terowongan Bu ada tempat parkir apabila kita ingin berjalan kaki di sepanjang Hardangerbrua. Kami tidak mengambil kesempatan tersebut mengingat perjalanan yang masih begitu panjang. Akhirnya, saya (terpaksa) membuat permohonan lagi dalam hati, agar suatu hari dapat berjalan melintasi jembatan tersebut.

en.hardangerfjord.com

Hardangerbrua dan zona pejalan kakinya. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

en.hardangerfjord.com.jpg2

Hardangerfjord yang cantik dilihat dari Hardangerbrua. Sumber: http://www.hardangerfjord.com/ oleh Hilde Opedal.

Terowongan Vallavik (Vallaviktunnelen) ini panjangnya 7,51 km. Bisa dibilang inilah pertama kalinya saya memasuki terowongan yang demikian panjang. Jangan kaget dulu, Pembaca, karena nanti saya akan ketemu dengan yang lebih panjang lagi. 😛 Terowongan Vallavik memiliki sebuah bundaran bercabang tiga di dalamnya yang masing-masing mengantar kita ke sisi gunung yang berbeda. Jalur yang saya ambil menembus gunung hingga ke tepi sebuah danau bernama Granvinsvatnet dekat kota Granvin, Hordaland. Berkendara menyusuri danau itu, saya berjalan terus menuju sebuah kota cantik bernama Vossevangen atau sering juga disebut dengan Voss. Kami berhenti sebentar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kota ini untuk membeli makanan ringan untuk bekal di perjalanan.

Saya mengikuti jalan bernama Strandavegen di Rute E16 dari Voss. Di sebelah kiri saya tersebar rumah-rumah bergaya tradisional Norwegia di lereng gunung, sedangkan di kiri saya adalah Sungai Strandaelvi. Beberapa kilometer ke arah utara, mobil kami melalui sebuah air terjun di tepi jalan. Air terjun tersebut, Tvindefoss, betul-betul terletak di tepi jalan dan hanya dipisahkan oleh kompleks camping dan berseberangan dengan Sungai Strandaelvi. Di sekitar Tvindefoss ini terdapat banyak area rekreasi untuk aneka kegiatan seperti memancing dan arung jeram. Air terjun tersebut sendiri memiliki ketinggian 120 m tetapi jatuhannya yang mengalir turun melalui tebing batu membuatnya tampak seperti selendang putih.

tvindefoss

Tvindefoss di tepi jalan.

Terus berkendara di Rute E16, saya melalui kota Gudvangen dan Flåm. Dua kota kecil ini terletak di tepi dua fjord yang merupakan anak dari Sognefjord. Sognefjord adalah fjord yang serba “ter-” di Norwegia, yaitu terdalam, terlebar dan terpanjang. Gudvangen ada di ujung Naerøyfjord sedangkan Flåm ada di ujung Aurlandsfjord. Saya mengetahui tentang keindahan dua kota dan fjord ini melalui salah satu buku favorit saya, “Scandinavian Explorer” karangan Asanti Astari.

11543323

Buku yang sangat saya rekomendasikan buat yang tertarik ke Skandinavia 🙂 Sumber: http://www.goodreads.com/

Menurut buku itu juga, Gudvangen dan Flåm adalah dua kota yang akan dilalui jika kita mengikuti tur singkat “Norway in a Nutshell” dari Bergen ke Oslo. Dengan tur yang super populer tersebut, kalian sudah dapat melihat poin-poin penting dari alam Norwegia seperti fjord, air terjun, kota tua dan pegunungan. Dalam paket tur itu, para peserta bisa berlayar dari Gudvangen ke Flåm melalui kedua fjord tersebut dengan kapal. Serius, waktu baca bukunya saya pengen banget. Sayangnya ketika saya berkesempatan untuk berada di kota tersebut, saya cuma numpang lewat. 😦

 

Ya, namanya juga road trip pasti bakal banyak tempat yang cuma numpang dilewati. Sambil bikin permohonan lagi supaya bisa ikut Norway in a Nutshell suatu hari, saya melanjutkan perjalanan menuju Lærdal. Untuk mencapai kota tersebut dari tepi Aurlandsfjord, saya harus memasuki terowongan yang panjangnya tak terdeskripsikan lagi. Dua puluh empat setengah kilo, Pembaca! 24,5 km! Nggak tanggung-tanggung lagi, terowongan Lærdal (Lærdaltunnelen) ini langsung menyandang nama sebagai terowongan darat terpanjang di dunia. Padahal, terowongan nomor dua terpanjang yang ada di Swiss “hanya” 16 km. Kalau terowongan Vallavik yang saya lewati sebelumnya itu menembus gunung, terowongan ini pasti menembus pegunungan. Saya sempat jatuh tertidur dalam proses menembus pegunungan tersebut. Parahnya lagi, ketika saya bangun, saya masih berada di dalam terowongan itu. Kebayang ‘kan panjangnya? Berasa naik mobil dari Jakarta Pusat sampai Depok.

europe-norway-facts-worlds-longest-tunnel-laerdals-tunnel_outside_dsc05697

Lærdaltunnelen. Sumber: http://www.bergen-guide.com/

lc3a6rdalstunnelen_norway

Dalamnya terowongan terpanjang di dunia. Sumber: http://en.wikipedia.org/

Untunglah terowongan mahapanjang ini masih ada ujungnya. Betapa bahagianya saya ketika melihat cahaya di ujung dan pegunungan hijau kembali menyambut saya. Saya pun tiba di Lærdal dengan selamat tanpa keruntuhan bebatuan gunung maupun terjebak dalam terowongan karena hal lain. Setelah beberapa saat menempuh jalan yang diapit lembah hijau dan satu terowongan lagi, saya tiba di tepi Sognefjord yang entah sisi sebelah mananya lagi.

Fjord ini adalah fjord keempat yang saya lihat selama perjalanan ini. Tenang saja, Pembaca, saya tidak akan muntah karena bosan. Saya justru suka dengan pemandangan fjord yang tidak ada di negara saya ini. Belum lagi, kali ini saya punya cara berbeda untuk menikmatinya. Tidak dengan berkendara melipir di sisinya, tidak juga lewat jembatan panjang. Saya akan berlayar menyeberangi Sognefjord. Woohoo!! Girangnya saya mendengar adanya kesempatan berlayar di fjord meskipun cuma 20 menit.

Prosesnya tidak jauh berbeda dengan naik feri. Pertama-tama mengantri di depan pintu kapal, membayar tiket kemudian masuk dan parkir di lantai dasar. Selanjutnya, saya diperbolehkan turun dan berjalan-jalan ke dek atas maupun minum kopi di kafe kapal sampai kapal merapat di seberang. Tentu saja saya memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati pemandangan fjord terbesar di Norwegia itu sambil mencari udara segar. Rasa lelah akibat duduk berjam-jam di mobil segera terobati ketika saya berdiri di dek dan merekam sedikit perjalanan menyeberangi Sognefjord yang singkat namun tak terlupakan dengan kamera saya.

sognefjord with ferry

Menyeberangi Sognefjord

sognefjord

Dalam waktu singkat, kapal merapat di sisi utara fjord terpanjang di Norwegia tersebut. Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke utara sambil mulai tengak-tengok kiri kanan mencari restoran buka. Setelah berjam-jam, perut saya pun menyerah dan minta diisi makanan selain keripik atau snack-snack ringan lainnya. Jujur saja, mencari makanan di Norwegia itu sampai sekarang masih jadi masalah saya. Bukan karena saya alergi dengan makanan Skandinavia atau terlalu tawar dan lain-lain. Kalau lapar, makanan dingin pun akan saya santap. Masalahnya, mencari restoran di Norwegia dengan menu yang variatif dan harga yang terjangkau itu seperti mencari rusa kutub di gurun sahara. Karena (nyaris) tidak mungkin, kami mencari alternatif, seperti membawa bekal sendiri atau terpaksa makan makanan junk food.

Beberapa kali makan makanan buatan sendiri yang tentu saja terdiri dari smørbrød, lidah kami ingin sesuatu yang lain. Berhentilah kami di sebuah kota di salah satu cabang fjord yang lain bernama Sogndalfjøra. Tadinya, kami bermaksud mencari makanan Asia, yang ternyata hanya ada minimarketnya tanpa restoran. Setelah mondar-mandir di jalan yang sama, kami berhenti di sebuah restoran bernama Den Gamle Nabo. Begitu masuk, tampak interior yang mengesankan bahwa restoran tersebut adalah restoran mewah. Lain kesannya setelah saya duduk dan membuka menu makanan. Ujung-ujungnya isinya burger dan kebab juga. Memang bukan junk food sih, karena dimasaknya saja lama sekali dan bukan makanan cepat saji, tapi tetap saja saya bosan dengan sandwich, burger dan teman-temannya itu. Hiks 😥 Sekedar info, menurut saya restoran ini nggak terlalu recommended. Selain makanannya yang lama datangnya, rasanya terbilang biasa saja dan harganya agak overpriced.

Kami meninggalkan restoran itu dan Sogndalfjøra di bawah awan mendung dan gerimis. Meskipun demikian, sinar matahari tetap dapat menembus awan tersebut, membuat hari tetap terang untuk melanjutkan perjalanan. Kami melalui Rv 5 dan terus menuju ke utara. Setelah lembah dan gunung serta jalanan berkelok-kelok, kami mendekati taman nasional lagi. Jostedalbreen Nasjonalpark, taman nasional itu, adalah rumah dari gletser terbesar yang ada di daratan Eropa. Luas total dari gletsernya sendiri adalah 487 km persegi. Sama seperti Sognefjord, gletser ini pun memiliki cabang-cabang. Pelajaran geografi di Hardangervidda Natursenter membantu saya membayangkan, bahwa pada zaman es dulu, Sognefjord dan anak-anaknya pun menjadi bagian dari gletser raksasa ini.

boyabreen

Bøyabreen, salah satu anak gletser dari Jostedalbreen.

Kalau dilihat dari atas lewat peta Google, gletser ini tampak seperti tangan putih besar yang jari-jarinya menjulur ke berbagai arah. Salah satu jari tersebut, Bøyabreen, menjulur ke arah kota Fjærland dan tampak dari Rv 5 yang saya lalui. Wow, ternyata ukurannya cukup besar meski hanya cabang dari gletser utama. Untuk mencapai gletser ini, ada belokan kecil ke kanan dari jalan raya utama. Di sisi jalan tersebut terdapat kabin dan area berkemah. Kalau mengikuti jalan tersebut, kita akan tiba di sebuah danau kecil di kaki gletser tersebut. Tentu saja saya tidak mampir ke danau maupun gletser tersebut (lagi-lagi) karena keterbatasan waktu. Sekedar informasi, gletser-gletser ini, betapa pun indahnya, sedang terancam kehancuran akibat pemanasan global. Ukuran mereka semakin menyusut setiap tahunnya karena es abadi yang ada pada mereka mencair perlahan-lahan.

Bagaimana, Pembaca? Sudah lelah mengikuti cerita saya? Tenang saja, kita sudah setengah jalan, kok. Kalau lihat gambar-gambar yang ada mungkin bisa sedikit mengurangi rasa lelah. Hehehe 😛 Lewat dari Bøyabreen, saya melalui beberapa terowongan pendek dan tiba di kota Skei. Setelah bundaran, saya mengambil jalan ke arah utara melewati jalur E39. Lagi-lagi jalur Eropa. Jalur E39 berkelok-kelok melewati beberapa danau di kiri-kanan, menanjak di dekat Byrkjelo dan turun ke kota Utvik yang terletak di tepi sebuah fjord. *terdengar suara gubrak dari bangku pembaca* Cape deh..

Fjord yang kali ini tidak panjang dan besar seperti Sognefjord. Namanya adalah Innvikfjord dan merupakan cabang bagian dalam dari Nordfjord yang terletak dekat laut. Begitu banyaknya fjord di negara ini, saya sampai berpikir jangan-jangan waktu Tuhan menciptakan Norwegia, Dia tinggal copy paste edit edit lagi. Hahahaa..  Duh, kan saya jadi melantur. Di Innvikfjord ini (sialnya) tidak ada jembatan maupun jasa penyeberangan feri. Alhasil kami pun harus memutari lewat tepiannya untuk mencapai kota Stryn di seberang. By the way, kota Stryn ini cantik sekali lho. Ketika saya tiba di sana, matahari bersinar cerah sekali meski hari sudah menjelang senja. Stryn menjadi tampak seperti resor musim panas yang diapit laut (fjord) dan dipunggungi pegunungan. Tak jauh dari tepi fjord banyak terdapat trailer-trailer para wisatawan dan kabin-kabin liburan yang menandakan bahwa kota ini memang tempat wisata yang populer.

xxxxxstryn

Stryn di tepi fjord dan kaki gunung. Sumber: http://www.morenytt.no/

Jalan kembali menanjak ke arah pegunungan yang melatari kota tersebut. Di samping saya, sungai Stryneelva berkelok-kelok dengan cantik, membawa air jernih dari pegunungan hingga turun ke fjord. Agak di atas, saya bertemu dengan danau lagi yang menjadi sumber air bagi Innvikfjord, yaitu Oppstrynsvatnet. Di tepi danau tersebut terdapat Pusat Pengunjung Taman Nasional Jostedalbreen (Jostedalbreen Nasjonalparksenter). Stryn dan kakaknya yang terletak agak di atas, Oppstryn, memang menjadi start awal bagi para petualang yang ingin mendaki gletser-gletser Jostedal karena letaknya yang memang dekat.

Saya terus melanjutkan perjalanan semakin naik ke pegunungan. Perjalanan mendaki gunung tersebut dibantu oleh terowongan-terowongan yang mempersingkat waktu. Tahu-tahu saya sudah pindah provinsi dari Sogn og Fjordane ke Oppdal. Begitu keluar dari terowongan terakhir, di samping saya terbentang danau yang panjang. Nama danau itu, Langvatnet, betul-betul berarti Danau Panjang. Tidak jauh berkendara menyusuri danau tersebut, ada lagi danau yang namanya Danau Dalam alias Djupvatnet. Saya mulai berpikir, jangan-jangan saking banyaknya danau, orang Norwegia kehabisan nama untuk menamai mereka. Terbukti ada beberapa danau dengan nama yang sama kalau kita niat banget meneliti setiap peta provinsi di Norwegia. Djupvatnet terletak di provinsi yang berbeda lagi, namanya More og Romsdal. Ternyata ada perbatasan tiga provinsi di atas pegunungan tersebut.

djupvatnet

Djupvatnet dikelilingi pegunungan bersalju.

Puncak pegunungan tersebut masih banyak yang tertutup salju. Beberapa bagian tampak seperti daerah kutub utara atau Svalbard, kepulauan di utara Norwegia tempat kediaman beruang kutub. Dari jauh, ketika saya baru saja keluar dari terowongan, tempat tersebut tampaknya sepi. Tidak ada tetumbuhan yang terlihat selain lumut tundra. Hanya ada beberapa mobil yang melintas. Saya nyaris yakin bahwa tempat tersebut tidak berpenghuni dan sangat antah-berantah di puncak gunung, sampai saya melihat sebuah bangunan dari kayu yang ternyata kabin dan penginapan. Astaga! Benar-benar ya orang-orang utara ini, mencari personal space sampai ke puncak gunung yang dingin begini!

Sebuah papan informasi di pinggir jalan memberi tahu saya bahwa tempat yang saya lalui berketinggian  1.030 m.d.p.l., lebih tinggi dari Hardangervidda. Tidak jauh dari penginapan tersebut, terdapat papan penunjuk arah dan jalan kecil yang menanjak. Jalan tersebut, mengarah ke puncak tertinggi di dekat situ, Dalsnibba, dengan ketinggian 1.476 m.d.p.l. Karena diburu waktu, kami tidak mengambil jalan tersebut melainkan turun menuju lembah. Mengikuti Rv 63, kami berhenti di sebuah titik pandang yang terletak di pinggir jalan. Dari tepi jalan yang tanpa pagar pembatas tersebut, saya berdiri dan menyaksikan keindahan panorama lembah yang berkelok di bawah. Pegunungan bersalju di kejauhan membingkai lembah hijau tersebut. Dari tebing-tebing di kiri kanan lembah, saya dapat melihat air terjun-air terjun kecil hasil lelehan salju di puncak gunung. Sungguh pemandangan yang bisa mencuri nafas saking bagusnya.

13707610_10210497256414158_560097613247220246_n

Pemandangan lembah dari viewing point di ketinggian 1.030 m.d.p.l.

Dari tempat itu, saya dapat melihat hasil dari proses pembentukan alam yang saya pelajari di Hardangervidda Natursenter. Danau-danau di puncak gunung tadi, seperti Langvatnet dan Djupvatnet adalah danau yang menampung air hujan atau lelehan salju. Danau tersebut mengalir menjadi air terjun kecil melalui tebing-tebing dan jatuh ke aliran sungai di lembah. Aliran sungai yang berkelok tersebut kemudian berlanjut ke fjord. Fjord terus mengalir hingga ke laut. Menakjubkan, bukan? Semua teori yang saya pelajari jadi nyata di depan mata. 🙂

Setelah menikmati pemandangan dan meluruskan kaki beberapa menit, kami berjalan lagi menuju lembah, kali ini dengan sebuah tujuan: mencari tempat bermalam. Kebetulan, mayoritas tim roadtrip kami adalah procrascinator yang senang mencari di detik-detik terakhir menjelang tengah malam. Tentu saja hal tersebut berdampak buruk, karena beberapa penginapan di sepanjang jalan menuju lembah sudah penuh. Maklum saja, karena saya memang semakin mendekati salah satu tujuan wisata terfavorit di Norwegia. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil kamar kosong apapun yang kami temukan setelah itu.

Di sebuah belokan dekat Hotel Utsikten, mata kami menangkap sebuah papan yang dipasang di pinggir jalan yang menginformasikan adanya kamar kosong. Tentu bukan kamar di hotel tersebut, melainkan kamar di sebuah rumah milik pasangan manula yang terletak di seberang hotel. Rumah tersebut bergaya jadul mengikuti pemiliknya, bahkan cara pembayaran sewa kamar pun sudah lanjut usia. Ketika mayoritas penduduk Norwegia sudah cashless, pasangan ini justru menagih bayar sewa dengan uang kontan. Alhasil, orang tua Chris harus mencari ATM di kota terdekat.

Sementara mereka pergi, saya dibiarkan turun dan menikmati pemandangan. Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun seperti biasa langit masih terang benderang. Bahkan langit lebih terang dari malam sebelumnya karena lokasi saya berada jauh lebih di utara. Dengan semangat, saya melipir di tepi jalan raya, mencari tempat yang lebih terbuka dan tidak tertutup pepohonan. Setelah menemukan tempat terbaik, saya berhenti. Dibatasi oleh pagar pembatas jalan, jauh di bawah sana tepat di depan mata saya, terbentang perhentian terakhir perjalanan darat hari kedua: Geirangerfjord. Karena hari telah larut, perairan tersebut sangat kosong. Tak satu pun kapal pesiar para turis yang tampak seperti pada gambar-gambar dalam kartu pos. Sebuah air terjun yang deras tampak jatuh dari pegunungan di belakang saya. Airnya mengalir melalui jeram-jeram kecil menuju fjord yang indah tersebut.

geirangerfjord

Geirangerfjord dari pinggir jalan, dekat tempat saya menginap pada pukul 23.00

Apakah saya bosan dengan fjord? Tidak sama sekali. Saya bahkan berdiri di titik tersebut, memandangi Geirangerfjord selama bermenit-menit sampai mobil kembali. Entah berapa fjord telah saya lewati sejak dari Eidfjord. Konon katanya, jika kita berkendara dari Kristiansand (kota di selatan Norwegia) sampai Trondheim, kita harus menyeberang 8 fjord dan memakan waktu 22 jam. Saya tidak bertemu fjord sebanyak itu, tapi saya rasa cukup sering untuk membuat hal tersebut tidak istimewa lagi. Tidak seperti itu sih kalau bagi saya. Tidak percaya? Kalau kata slogan sebuah perusahaan pelayaran di fjord bernama Fjord Norway, you have to be here to believe it – kamu harus berada di sini untuk percaya.:)

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Informasi tentang Hardangerfjord dan jembatannya:

http://en.hardangerfjord.com/ullensvang/things-to-do/hardanger-bridge-on-foot-or-on-wheels-p1083353

Tvindefoss dan area perkemahan di sekitarnya:

http://www.tvinde.no/

Salah satu perusahaan pelayaran untuk wisata fjord:

http://www.fjordnorway.com/

Paket tur yang saya sebut-sebut di atas dan selalu bikin saya pengen:

https://www.norwaynutshell.com/original-norway-in-a-nutshell/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s