Air Terjun Vøringfossen: Semakin Cantik dari Tepi Jurang

Perjalanan hari kedua saya akan dimulai di sekitar sebuah kota kecil yang berlokasi sekitar 5 km dari kabin saya. Namanya Eidfjord. Kota yang menurut saya lebih tepat disebut desa ini dikelilingi pesona alam mulai dari air terjun sampai fjord. Saya akan bertualang di beberapa pesona alam tersebut. Oleh karena itu, sejak malam hari saya diwanti-wanti untuk bangun pagi.

Sebetulnya saya bingung dengan definisi “pagi” di Norwegia, atau lebih tepatnya di keluarga Chris. Kalau saya atau keluarga saya akan berkendara selama 13 jam, saya pasti sudah disuruh-suruh bangun dari jam 5 pagi. Tapi di sini lain. Pagi yang dimaksud adalah maksimal jam 9 pagi, karena kita akan berangkat pukul 10. Anehnya, dalam waktu satu jam itu tiba-tiba semua orang sudah siap. Entah karena orang di sana punya kemampuan menghentikan waktu atau memang waktu berjalan lebih lambat di belahan bumi utara pada siang hari. Atau mungkin memang saya saja yang pikirannya aneh hehehe 😛

Beruntunglah saya terbangun cukup pagi karena langit yang sudah terang kembali tampak di jendela kecil kamar saya. Mumpung belum ada yang bangun, seperti biasa saya beranjak menuju kamar mandi. Siapa bangun duluan dapat air panas paling banyak 😀 Memang itu yang saya incar sejak mengetahui bahwa air panas terbatas. Siapa coba yang mau mandi di air beku di ketinggian tidak jauh lebih rendah dari 1000 meter?

Setelah saya mandi, berturut-turut keluarga pacar saya bangun dan mandi. Kemudian, kami makan bersama di ruang makan. Menunya tidak jauh-jauh dari makanan paling khas Skandinavia, smørbrødMakanan ini berbentuk sandwich yang terbuka alias tidak ditumpuk. Topping-nya bisa dipilih dari berbagai variasi makanan beku maupun selai aneka buah. Intinya, smørbrød ini makanan dingin. Saya sempat mengalami culture shock ketika menyusun toppingnya. Sebetulnya ini bukan pertama kalinya saya menyantap sandwich ini, tapi berkali-kali memakan makanan yang sama membuat saya ingin mencoba variasi topping. Apalagi, topping yang kami bawa sebagai bekal dari rumah banyak sekali. Kalau dijejer bisa memenuhi satu meja panjang.

norwegian-open-sandwich-01

Smørbrød, makanan khas Skandinavia dengan dua jenis topping. Sumber: http://www.wikipedia.no

Saat itu, saya menaruh daging asap di atas roti gandum saya. Kemudian, saya menghiasnya dengan keju rasa daging asap yang bentuk tempatnya menyerupai pasta gigi (kebayang ‘kan?). Melihat itu, Chris dan Ellen tertawa terbahak-bahak. Saya yang tidak tahu menahu apa-apa menjadi malu dan merasa aneh. Rupanya, keju olesan tadi harusnya dijadikan dasar seperti mentega. Ellen sampai berpikir, “anak ini seleranya unik!”. Sekarang saya sudah punya topping favorit, yaitu leverpostei (semacam olesan yang terbuat dari hati babi), daging asap atau salmon segar, salad, saus Thousand Island dan bawang goreng. Bawang gorengnya beda lho dengan yang di Indonesia.

Usai makan, kami bergotong royong membersihkan kabin dan mengepak kembali koper-koper ke mobil. Di kabin disediakan sebuah vacuum cleaner yang harus digunakan untuk membersihkan semua ruangan. Kami juga harus mencuci semua peralatan makan dan memasak yang kami gunakan. Sebetulnya boleh saja kalau ingin meninggalkan kabin setelah digunakan dan membiarkan jasa bersih-bersih dari pihak penginapan untuk melakukannya. Untuk itu dikenakan biaya tambahan yang kebetulan saya tidak tahu berapa.

Setelah mengembalikan kunci ke bangunan administrasi, kami berkendara sejauh 2-3 km menuju tujuan kami berikutnya, Vøringfossen. Air terjun dengan ketinggian 182 m ini merupakan salah satu pesona alam tak jauh dari Eidfjord yang saya kunjungi hari itu. Untuk menikmati keindahannya, disediakan dua titik pandang yang dilengkapi dengan platform view (kira-kira diterjemahkan jadi apa ya ini? Teras pandang?) bagi para turis. Teras pandang pertama terletak lebih tinggi, tidak jauh dari Hotel Fossli yang terkenal dengan arsitektur Art Nouveau-nya. Untuk mencapainya, cukup mengikuti papan penunjuk jalan dari Rute 7 yang akan menunjukkan belokan kecil di sisi kanan menuju hotel tersebut. Dengan mengikuti jalan kecil tersebut, kita akan tiba di parkiran bangunan hotel yang dibatasi oleh kios suvenir dan kafe di sisi kanannya.

Dari parkiran tersebut, saya berjalan turun ke arah barat menuju teras pandang yang pertama. Pada saat itu, sebagian dari teras tersebut sedang direnovasi. Belakangan saya baru mengetahui bahwa renovasi tersebut merupakan bagian dari rencana pembuatan titik pandang yang lebih aman di area air terjun tersebut. Desainnya mengikuti desain dari pemenang sayembara arsitektur tersebut yang bernama Carl Viggo Hølmebakk. Rencananya, teras pandang yang baru akan memiliki sebuah jembatan yang memungkinkan kita untuk berjalan menyeberang di atas air terjun tersebut. Sayang sekali, diperkirakan teras pandang ini baru akan jadi pada tahun 2023. Duh, saya sudah tidak sabar nih, Pembaca 🙂

Meskipun sedang direnovasi, kita tetap dapat menikmati pemandangan utama di air terjun tersebut dari sisi lain teras yang panjang. Saya berjalan ke arah barat untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Vøringfossen, air terjun yang terdiri dari dua buah aliran utama berukuran besar dan kecil ini, bersumber dari sungai Bjoreia. Pada musim dingin, aliran sungai ini dialihkan sebagian untuk PLTA, sehingga mengakibatkan berkurangnya volume air yang jatuh ke lembah. Oleh karena itu, waktu yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Vøringfossen adalah selama musim panas. Dari ketinggian 182 m (ada juga yang mengatakan 145 m), air terjun cantik ini jatuh ke lembah Måbødalen membentuk sungai kecil berkelok-kelok. Berdiri di teras pandang tersebut, saya dapat berada dekat dengan aliran air terjun yang berukuran kecil dan berhadapan dengan air terjun utama.

13775342_10210487685374888_5381075976703549339_n

Air terjun besar jatuh ke lembah Måbødalen setinggi 182 m dilihat dari teras pandang pertama.

13707653_10210487687054930_91134712225383818_n

Lembah Måbødalen tampak berkelok-kelok dari teras pandang pertama.

Pada awalnya, saya tidak berencana untuk berhenti di titik pandang kedua, karena saya tidak tahu tentang keberadaannya. Dari teras pandang pertama tersebutlah saya melihat ke bawah bahwa ada suatu tempat di mana bus-bus turis berhenti dan orang-orang berkerumun mengabadikan foto. Kebetulan, titik pandang kedua berlokasi tidak jauh dari titik pandang pertama dan memang akan saya lewati dalam perjalanan menuju tujuan selanjutnya. Cukup kembali ke jalan utama, yaitu Rute 7, kemudian menyeberangi Sungai Bjoreia dan saya tiba di titik pandang kedua.

Titik pandang kedua tidak memiliki teras pandang, melainkan hanya berupa bukit-bukit batu dan jalan raya yang memiliki trotoar yang langsung berbatasan dengan lembah Måbødalen yang curam. Tempat tersebut juga dilengkapi dengan lahan parkir, kafe dan toko suvenir. Dari tempat itu, saya dan Chris berpisah dengan orang tuanya. Mula-mula saya berjalan menyusuri trotoar tersebut. Dari titik pandang kedua inilah saya berhasil mengabadikan air terjun Vøringfossen persis seperti yang tampak pada kartu pos-kartu pos. Tempat tersebut memungkinkan saya melihat kedua air terjun secara lebih jelas. Jika ingin lebih jelas lagi, disediakan jalan setapak menuju kaki air terjun, tetapi kita harus menuju Måbødalen terlebih dahulu. Lamanya trekking menuju kaki air terjun adalah sekitar 90 menit perjalanan bolak-balik.

13781972_10210487688134957_5322852074411576658_n

Kedua air terjun tampak dari titik pandang kedua (dari trotoar tepi jalan). Bangunan merah di puncak adalah Hotel Fossli, tempat teras pandang pertama berada.

Dasar saya yang tidak gampang puas, saya masih merasa bahwa pemandangan di trotoar tersebut belum cukup. Kebetulan sekali di perjalanan kembali ke lahan parkir, saya bertemu dengan orang tua Chris yang rupanya memilih sudut pandang lain, yaitu bukit-bukit batu. Bergeraklah saya menuju bukit-bukit batu yang ada di sebelah kanan lahan parkir. Bukit-bukit batu tersebut tidak memiliki jalan setapak dan ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, sehingga kita harus memilih jalan sendiri dengan menentukan pijakan yang aman.

Sebelum mulai mendaki, saya menyadari bahwa beberapa pohon diikat dengan pita putih di rantingnya, terutama jika ada percabangan jalan. Di situlah saya menyadari bahwa pita putih tersebut adalah penanda jalan yang aman. Di saat saya begitu yakin dengan jalan yang saya pilih, di situlah saya menyadari keberadaan beberapa batu nisan di bukit batu tersebut. Batu nisan yang dilengkapi foto itu mencatat nama seseorang beserta negara asalnya, yang anehnya bukan dari Norwegia. Saya pun menggali informasi pada pacar saya karena penasaran. Ternyata, batu nisan tersebut hanya penanda. Maksudnya, tidak ada jenazah yang dikuburkan di bawahnya. Lalu ke manakah jenazahnya? Entahlah, konon katanya tidak ditemukan. Orang-orang di foto tersebut adalah turis-turis yang mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang Måbødalen karena kurang hati-hati ketika mengamati air terjun. Hiiii… bulu kuduk saya langsung merinding membayangkan hal tersebut.

Seolah menjadi peringatan bagi saya, saya pun melangkah dengan hati-hati ketika menaiki bukit batu. Dengan teliti, saya berusaha memperhatikan pita putih agar tidak salah jalan. Saya berhasil mencapai puncak bukit yang ternyata nyaris tidak memiliki pagar pembatas di tepi jurang. Antara saya dan air terjun yang jatuh ratusan meter itu betul-betul tidak ada batasnya! Sekarang saya paham mengapa banyak turis yang jatuh ke jurang. Bahkan ketika saya berada di sana pun, saya sempat bertemu dengan pasangan fotografer yang dengan gilanya bisa duduk di tepi jurang dengan kaki menggantung, atau berbaring di tepinya demi mendapatkan foto terbaik. Saya saja terpaksa berjalan pelan-pelan karena kaki sudah gemetaran melihat curam dan tingginya jurang, meskipun bahaya tersebut tidak menghentikan saya untuk mengabadikan dan menikmati keindahan panorama di situ.

13754402_10210487691055030_8919875463095236640_n

Lembah Måbødalen tampak dari titik pandang di bukit batu. Untuk mengambil foto ini saya harus doa dulu hehehe.. 😀 Perhatikan, tidak ada batas antara jurang dan tanah yang saya pijak.

 

13707572_10210487689574993_916131325475627775_n

Duduk di tepi jurang dengan latar belakang air terjun kecil. Di belakang saya itu sudah jurang dan tidak ada pagarnya >.<

 

Lembah Måbødalen yang berkelok mengikuti sungai terlihat lebih jelas dari puncak bukit tersebut. Diiringi suara derasnya air yang jatuh dari Bjoreia, saya melongok ke bawah, menyaksikan Vøringfossen dari jarak yang begitu dekat. Dari tempat tersebut pula saya dapat melihat air terjun yang kecil dengan lebih jelas. Tebing-tebing di sepanjang lembah tampak berdiri tegak dengan curam. Saya kadang berandai-andai, bagaimana orang dapat mencapai puncak tebing itu ketika belum ada helikopter.

Puas bertakut ria di puncak bukit sembari menikmati indahnya air terjun Vøringfossen, saya berniat kembali ke lahan parkir karena mendung mulai tiba. Beberapa langkah turun ke bawah, saya terjebak kebingungan. Saya merasa ada lebih banyak pohon yang ditandai pita putih. Bukan hanya itu, tiba-tiba ada turis-turis datang dari berbagai arah. Saya jadi bingung ke mana arah pulang. Dengan nekad, saya mengambil salah satu jalan di sebelah kiri. Jalan ini lebih sulit dibandingkan ketika saya naik tadi. Bebatuan yang saya gunakan untuk menapak lebih licin dan memiliki perbedaan ketinggian yang jauh antara satu sama lain. Jalan tersebut membawa saya ke bagian yang agak tinggi. Dari situlah saya melihat lahan parkir. Tanpa basa basi lagi saya langsung melangkah ke arah lahan parkir tempat kedua orang tua Chris (lagi-lagi) sudah menunggu. Dengan rasa lega saya pun kembali ke mobil dan bersiap untuk pesona alam selanjutnya.

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.fjordnorway.com/top-attractions/voringsfossen

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s