“Numpang Lewat” di Hardangervidda Nasjonalpark

Sekitar tiga jam lamanya saya habiskan waktu saya hari itu di Heddal. Kira-kira pukul 17.00 mobil kami beranjak meninggalkan kota kecil bersejarah itu. Saya pikir, sebentar lagi kami akan segera menutup perjalanan hari ini. Ternyata saya salah besar. Perjalanan yang begitu panjang ke arah utara masih akan berlanjut kira-kira enam jam lagi. Saya lupa bahwa di Norwegia, matahari musim panas nyaris abadi di langit selama enam bulan. Alam yang bermandikan sinar mentari masih akan memanjakan mata saya yang suntuk setelah enam bulan melihat kota besar berpolusi dan kepadatan penduduk.

Beranjak dari Heddal, kami berputar arah menuju Kongsberg untuk kemudian naik ke utara melalui Rute 40. Di daratan Eropa atau zona Schengen, jalan-jalan utamanya tidak dinamai dengan nama seperti di Indonesia tetapi dengan angka. Ada yang disebut jalur Eropa (jalur ini merupakan rute darat resmi di zona Schengen) yang namanya selalu diawali dengan huruf E. Contohnya adalah E134 yang saya lalui ketika hendak menuju Heddal. Ada pula jalan yang namanya hanya berupa angka, yang merupakan jalan raya dalam negeri seperti Rute 40 ini. Di Norwegia, jalan ini disebut Rv 40 yang merupakan kependekan dari Riksvei 40 atau jalan negara nomor 40.

Rute 40 ini menanjak ke pegunungan yang memang telah menanti saya di depan mata. Kembali saya dimanjakan oleh pemandangan cantik kota-kota kecil dan pedesaan di sela-sela hijaunya padang rumput dan hutan. Di satu bagian perjalanan tersebut, mobil kami berjalan di sisi kiri sebuah danau. Saya melihat suatu bangunan panjang berwarna kuning di seberang danau tersebut. Di belakangnya berdiri tegak sebuah tebing, yang anehnya memiliki pipa-pipa raksasa yang menempel di dindingnya. Dari tebing tersebut juga menjulur kabel-kabel menuju ke bangunan berwarna kuning tersebut. Ternyata, menurut informasi Ellen, pipa-pipa itu mengalirkan air terjun dari tebing menuju bangunan tersebut yang adalah sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (Terjun)! Wow, saya tidak ingat jika ada hal semacam ini di negara saya.

13710060_10210487311285536_8589341696309201591_n

Pembangkit Listrik Tenaga Air Terjun yang saya lihat dari jendela mobil.

Seiring dengan berlalunya waktu, jalan yang kami lalui semakin menanjak. Jalan tersebut berkelok-kelok sampai ke puncak gunung. Di sepanjang jalan terdapat beberapa kabin yang jaraknya berjauhan satu sama lain. Lucu juga, saya pikir di ketinggian seperti itu tidak akan ada manusia yang tinggal. Saya melihat bahwa vegetasi gunung pun mulai berubah. Tidak lagi banyak ditumbuhi pohon-pohon berukuran tinggi. Yang ada hanya semak belukar dan tundra. Apa yang dicari orang di tempat seperti ini? Personal space tentunya. Semua orang begitu membutuhkan personal space, sampai-sampai di tempat yang saya pikir tidak akan ada orang masih saja ada orang.

Kami tiba di dataran luas yang dipenuhi tumbuhan semacam lumut yang menempel pada bebatuan. Danau-danau kecil terhampar di kiri kanan. Tak berapa lama kemudian, saya melihat keterangan di tepi jalan. 1000 m.d.p.l. Wow, rupanya sudah demikian tinggi kami berkendara!

Jalan tersebut mengantar kami pada turunan yang berkelok menuju ke lembah. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah kelokan yang ditumbuhi bunga-bunga Buttercup untuk menikmati pemandangan. Dari kelokan tersebut, tampak sebuah perairan luas yang biru menggenangi lembah di bawah. Awalnya saya pikir perairan tersebut adalah Hardangerfjord, yang memang terletak tidak terlalu jauh dari daerah tersebut. Rupanya perairan tersebut adalah sebuah danau bernama Holmevatnet. Memang karena ukuran danau di Norwegia yang luas-luas, saya jadi sering rancu antara danau dan fjord. Beberapa kali saya melontarkan pertanyaan di mobil ketika melewati perairan, “ini danau atau fjord?” 😛 Tebakan saya tentu saja sering salah. Maklum, bukan daerah asalnya 🙂 Tapi akhirnya saya tahu sedikit banyak bagaimana membedakan danau dan fjord, yang tentunya tidak mudah.

13690759_10210487312445565_1202321576658519234_n

Holmevatnet dari kelokan di Rute 40

13770533_10210487313245585_3160113064802642675_n.jpg

Pemandangan di kelokan yang sama, ketinggian 1000 m.d.p.l

Mobil kami terus meluncur di sepanjang Rute 40 hingga tiba di sebuah kota bernama Geilo. Kota kecil ini tampak biasa-biasa saja di musim panas. Di musim dingin, ia akan menyajikan pemandangan yang berbeda sekali. Geilo adalah kota resor ski dan merupakan salah satu yang paling terkenal di Norwegia. Ketika tiba di sana, lanskap yang ada didominasi warna hijau. Sama sekali tidak tampak bagian mana dari daerah tersebut yang dijadikan arena ski. Saya pun jadi menebak-nebak, lereng gunung yang mana yang akan dipakai meluncur tiap musim dingin 🙂 Mungkin lain kali saya harus coba sendiri main ski di sana hehehe.. 😛

Dari Geilo, kami berbelok ke arah barat dan mengambil rute 7. Jalan ini lebih kecil daripada Rute 40 dan melalui daerah yang lebih terpencil lagi. Kami melewati beberapa fjord  kecil dan kembali naik ke ketinggian 1000 meter. Dekat perbatasan wilayah Buskerud dan Hordaland, kami berhenti sejenak di tempat perhentian terbuka untuk beristirahat dan meluruskan kaki. Sekedar informasi, tempat perhentian terbuka semacam ini ada banyak sekali di sepanjang jalur-jalur turistik di Norwegia. Beberapa di antaranya dilengkapi dengan papan informasi mengenai rute yang dilalui, toilet, serta bangku-bangku untuk menikmati pemandangan atau makan. Kebetulan, tempat saya berhenti tidak terlalu luas dan hanya dilengkapi dengan papan informasi tentang rute Hardangervidda saja, yaitu jalur yang saya lewati saat itu. Meski demikian, pemandangan yang terhampar luas tak ternilai keindahannya.

Di bawah mentari pukul 9 malam (ya, saya serius! Pukul 9 malam seperti pukul 3 sore di Indonesia ^^), saya meniti bebatuan perlahan-lahan untuk turun mendekati danau yang terletak dekat dengan tempat perhentian tersebut. Karena letaknya yang sudah tinggi, pemandangan saya tak terhalang pepohonan apapun. Hanya ada bebatuan, lumut dan semak-semak tundra. Yang membuat tempat itu begitu cantik adalah formasi bebatuan yang entah bagaimana dapat bersusun dengan seimbang tanpa runtuh atau jatuh. Belakangan baru saya ketahui bahwa bebatuan tersebut memang disusun demikian dengan sengaja oleh para pendaki untuk menandai jalan agar tidak tersesat. Juga digunakan untuk menolong pendaki lainnya. Sekitar lima hingga sepuluh menit saya mengeksplor bebatuan tersebut. Tak lupa saya mengambil foto kenang-kenangan memanfaatkan cahaya matahari yang masih terang dan hangat.

13692535_10210487372047055_2214932817147750880_n.jpg

Ini dia tempat perhentian cantik yang saya bilang 🙂

13669055_10210487370567018_7324768904267419658_n.jpg

Susunan bebatuan yang menarik.

Perjalanan kami lanjutkan dengan terus memasuki Hardangervidda Nasjonalpark yang memang sudah berada di depan mata dari tempat perhentian tersebut. Taman nasional seluas 3.422 meter persegi tersebut merupakan dataran tinggi terluas di daratan Eropa sekaligus taman nasional terluas di Norwegia dan Skandinavia. Kalau dibandingkan dengan luas totalnya, mungkin perjalanan yang saya lakukan di sana bisa dibilang hanya numpang lewat 😛 Tapi mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa berpetualang lebih banyak di taman nasional ini ya, Pembaca. 🙂

Sambil melintasi dataran yang sudah beriklim tundra tersebut karena ketinggiannya, saya mendengar cerita dari Ellen. Dulu ketika beliau masih muda, beliau dan keluarganya melintasi taman nasional ini di bulan Agustus dengan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan apa yang saya lihat saat itu. Menurut beliau, waktu itu salju masih menyelimuti taman nasional ini bahkan di musim panas. Kebayang deh betapa parahnya pemanasan global yang terjadi sekarang ini. Dari jendela mobil, saya melihat hamparan-hamparan kecil sisa salju musim dingin yang meleleh perlahan menjadi air terjun kecil menuju danau-danau terdekat.

13782184_10210487314245610_4672155371637810323_n.jpg

Salju yang tersisa.

13728986_10210487439848750_2581586221363612593_n

Tonggak penanda batas jalan di musim dingin.

 

Musim dingin menjadi satu-satunya waktu untuk melihat hamparan salju di taman nasional tersebut. Tapi, jangan kaget kalau tahu seberapa banyak salju yang akan menumpuk di Hardangervidda ^^. Berapa banyaknya salju dapat diketahui dari tonggak-tonggak kayu yang ditancapkan di sepanjang jalan di Hardangervidda Nasjonalpark. Awalnya, saya pun penasaran, mengapa di sepanjang jalan ini ditancapkan tonggak-tonggak setinggi kira-kira 2 sampai 2,5 m tersebut. Rupanya, tonggak-tonggak tersebut adalah penanda batas jalan di musim dingin, karena batas jalan yang sesungguhnya tertimbun salju. Biasanya, hanya sedikit dari bagian atas tonggak-tonggak tersebut yang masih tampak di musim dingin. Brrrr…

Meski sangat dingin dan terletak cukup tinggi di atas permukaan laut, wilayah ini bukan tanpa kehidupan. Sejak zaman batu, manusia pun sudah mendiami dataran tinggi Hardanger. Mereka mengikuti migrasi rusa kutub yang terjadi setiap tahunnya. Mereka mendiami rumah-rumah berbentuk seperti igloo yang menyerupai rumah suku Sami, suku asli daerah Skandinavia utara (Laplandia). Salah satu contoh rumahnya berhasil saya abadikan dalam foto seperti di bawah ini. 🙂

13697168_10210487439888751_3831554588846246265_n

Saya tidak terlalu lama berada di Hardangervidda Nasjonalpark karena kami hanya melewatinya saja. Tidak ada waktu untuk mengelilingi taman nasional yang pesonanya masih membuat saya penasaran ini, terutama karena hari sudah hampir berganti. Saya tidak bilang bahwa hari menjelang malam karena masih ada beberapa jam lagi hingga matahari tidak lagi tampak wujudnya. Jam menunjukkan pukul 10 dan kami baru menyadari bahwa kami belum menemukan tempat untuk bermalam. Keasyikan menikmati alam membuat kami lupa bahwa kami butuh tidur. 😀 Mungkin juga karena efek cahaya yang membuat kami (terutama saya) lupa kalau hari sudah larut. Beruntunglah kami berada di zona turistik, sehingga ada banyak penginapan di kiri kanan jalan.

Tampaknya, penduduk Norwegia sangat menyukai perjalanan darat. Saya hampir lupa bercerita, bahwa di sepanjang perjalanan dari Sandefjord hingga ke tempat tersebut, saya banyak sekali melihat karavan atau trailer. Itu lho, mobil-mobil van besar yang punya tempat tidur dan kadang-kadang punya kamar mandi juga. Nggak populer memang di Indonesia karena sepertinya terlalu mahal untuk masyarakat kita. Selain itu kita juga lebih nyaman naik bus atau kereta. Apa enaknya lama-lama di karavan karena terjebak macet?

Nah, karavan ini menjadi salah satu pilihan populer bagi masyarakat Eropa untuk tempat beristirahat. Katanya, harganya sangat mahal, sehingga ada pula sebagian masyarakat yang belum mampu membelinya dan memilih opsi lain untuk beristirahat di perjalanan darat. Opsi lain yang sangat populer adalah kabin atau hytte. Mungkin kita lebih mengenalnya dengan sebutan bungalow, karena modelnya memang mirip bungalow, yaitu berupa rumah-rumah mini dengan beberapa kamar, dapur dan kamar mandi. Tapi hytte bukan bungalow. Saya tahu itu karena saya pernah membaca tentang kehidupan alam bebas khas Norwegia.

Kembali ke perjalanan saya dulu. Sejak dari taman nasional, kami mencoba mencari kamar atau kabin yang kosong. Sekedar info, kadang-kadang kamar hotel lebih mahal dibandingkan kabin meskipun ukurannya lebih kecil, sehingga kami lebih memilih mendapatkan kabin dibandingkan menyewa dua kamar hotel. Musim panas membuat sebagian besar kamar sudah penuh. Akhirnya, kami berhenti di sebuah pondok kecil yang tampaknya adalah kantor administrasi dari salah satu jasa penyewaan kabin bernama Garen Gaard og Hyttesenter. Mulanya, tidak ada seorang pun yang menjawab ketika pintu diketuk. Mungkin karena kami tiba terlampau larut, yaitu menjelang pukul 23.00. Ayah Chris kemudian menelepon nomor yang tertera di dinding luar bangunan tersebut. Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dan membantu kami memperoleh sebuah kabin.

Kabin tempat saya bermalam ada di seberang jalan dari bangunan administrasi tersebut. Sedikit menaiki bukit yang bisa dilalui oleh mobil, saya sudah tiba di kabin yang berbentuk pondok kayu coklat tua berukuran kecil. Ukurannya masih lebih besar sih jika dibandingkan apartemen saya 🙂 Dalamnya dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk mengakomodasi permintaan turisme, karena kabin asli Norwegia sesungguhnya sangat sederhana. Bahkan memasak masih harus menggunakan tungku dan kayu bakar, serta toilet berupa outhouse atau MCK di luar. Bayangkan! Tidak ada air pula.

13775354_10210487440488766_3446920016830323866_n

Kabin tempat saya bermalam.

13731519_10210487440528767_5504082628297853903_n

Kompleks kabin di Garen Gaard og Hyttesenter

 

Kabin ini lebih menyerupai bungalow berukuran mini. Ia memiliki tiga kamar tidur yang ukurannya sangat mini, kamar mandi dengan air panas yang terbatas, dapur dengan kompor listrik dan kulkas, meja makan dan ruang keluarga dengan sofa serta TV tua. Meskipun demikian, semua hal tersebut umumnya lebih murah daripada kamar hotel. Rahasianya? Karena kabin harus kita bersihkan sendiri sebelum check out. Kita juga harus masak sendiri karena tidak ada layanan panggilan kamar untuk mengantar makanan kalau kita lapar di tengah malam. Begitulah. Bahkan di bungalow pun kita masih dapat layanan tersebut.

Pukul 23.30, langit mulai menggelap meskipun tidak sempurna. Sinar matahari langsung sudah tidak tampak, tetapi cahayanya masih membuat langit berwarna putih dan bukan hitam. Entah kapan langit akan menggelap saya tidak tahu, tetapi saya cukup lelah untuk bisa tertidur meski langit tidak gelap sempurna. Akhirnya, setelah makan malam dan “rebutan” kamar, kami yang muda mengalah kepada yang tua dan memberikan kamar tidur terluas dengan dua tempat tidur terpisah pada beliau-beliau. Saya pun harus berdesakan di kamar yang lebih sempit. Tidak masalah. Hari pertama perjalanan darat saya masih bisa dibilang sempurna. 🙂 God natt, alle sammen!

13495007_10210305441298900_6407266922634963185_n.jpg

Langit sebelum saya beranjak tidur.

 

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi tentang wisata di area Hardanger:

http://en.hardangerfjord.com/attractions/hardangervidda-national-park-p970463

Informasi tentang kabin tempat saya bermalam:

http://en.hardangerfjord.com/accommodation/garen-gaard-og-hyttesenter-p969453

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on ““Numpang Lewat” di Hardangervidda Nasjonalpark

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s