Heddal Stavkirke: Cerita Menarik dari Masa Lampau

Ada sebuah masa ketika laki-laki dan perempuan tak boleh duduk bersama dalam bangunan gereja di Norwegia. Bukan karena mereka tidak setara, melainkan karena perempuan dipercaya memiliki kelebihan yang menguntungkan bagi laki-laki. Ada suatu waktu ketika orang tak hanya membawa kitab suci ketika beribadah di gereja, tetapi juga pisau dan kapak. Fakta-fakta unik tersebut baru saya ketahui ketika menjejakkan kaki di sebuah gereja tua abad pertengahan di kota kecil bernama Heddal yang terletak di wilayah (Kommune) Telemark.

Heddal berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Sandefjord, bahkan mungkin bisa lebih singkat dari itu, karena saya sempat berhenti beberapa saat dan salah jalan karena GPS pun kadang-kadang gagal membaca peta ^^. Perjalanan darat dari Sandefjord melewati pedesaan yang asri dengan rumah-rumah yang terletak saling berjauhan. Di kiri kanan jalan terhampar ladang gandum yang luas, yang gandum-gandumnya sudah dipanen dan diletakkan dalam kantung-kantung berbentuk gulungan berwarna putih atau merah muda. Unik juga melihat beberapa gulungan berwarna merah muda yang ternyata merupakan salah satu bagian dari kampanye donasi bagi penderita kanker payudara.

Beberapa bagian jalan dipagari oleh bunga-bunga cantik berwarna ungu dan merah muda yang disebut Lupin (lupinus perennis). Bunga-bunga ini sangat sering dijumpai di sepanjang jalan dan rel kereta api. Meskipun cantik, bunga ini sudah masuk daftar hitam pemerintah Norwegia karena tumbuh seperti parasit. Mereka dapat bertahan hidup hingga 50 tahun dan mudah sekali tumbuh hingga menutupi semua area terbuka seperti rumput liar dan mematikan tumbuhan-tumbuhan lain. Saat ini ada larangan untuk membiakkan tanaman cantik tersebut.

13707567_10210478037213690_966267333865620098_n

Lupin di tepi jalan.

13709890_10210478036893682_755905832452098007_n

Lupin – detil

Kembali ke jalan setelah mengamati lupin, saya pun tiba di Heddal sekitar pukul 14.00. Dari parkiran mobil, saya dapat melihat Heddal Stavkirke (entah bagaimana menerjemahkan kata ini dalam bahasa Indonesia ^^) menjulang dengan menaranya yang tua dan berarsitektur unik. Di seberang bangunan gereja terdapat bangunan yang berbentuk seperti peternakan yang dulunya pun sempat difungsikan sebagai gereja. Saat ini, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi gedung administrasi dengan museum mini di basement serta kafe dan toko suvenir di lantai dasar. Di tempat inilah kita harus membeli tiket sebelum mengunjungi bangunan gereja. Tiket yang berbentuk stiker bundar bergambar bangunan gereja tersebut harus ditempelkan pada dada atau bagian pakaian lainnya. Tiket tersebut berlaku untuk gereja, museum di basement dan museum terbuka yang berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki. Harganya 70 NOK untuk low season (20 Mei – 14 Juni dan 1 September – 10 September) dan 80 NOK untuk high season (15 Juni – 31 Agustus). Seperti banyak museum lainnya di Norwegia, Heddal Stavkirke hanya buka pada musim panas.

13690676_10210478036933683_4729573031571280846_n

Heddal Stavkirke dan kompleks pemakamannya

Eksplorasi saya di kompleks Heddal Stavkirke diawali dengan mengunjungi museum mini di basement yang terdiri dari dua ruangan. Museum kecil ini menceritakan sedikit tentang sejarah pembangunan Heddal Stavkirke dan benda-benda bersejarah yang digunakan atau ditemukan di daerah tersebut. Salah satunya adalah delapan buah kapak tua yang dipajang di dinding. Kapak-kapak tersebut merupakan milik para penduduk yang juga menjadi jemaat gereja pada masa lampau. Mereka hidup sekitar tahun 1600, ketika memiliki senjata adalah hukum wajib bagi semua pria. Minimal mereka harus memiliki sebuah kapak. Para jemaat gereja tersebut, yang kebanyakan adalah petani, membawa kapak-kapak tersebut ke gereja dan menempatkannya di bagian luar dari bangunan gereja. Tindakan tersebut dipercaya mampu menakut-nakuti atau menjaga gereja dari serangan roh-roh jahat di luar.

13680740_10210487172162058_5396257890338219052_n

Kapak-kapak tua milik para jemaat gereja masa lalu.

Selain kapak tersebut, di museum juga dipajang lukisan-lukisan dan replika potongan detil dekorasi bangunan gereja. Lukisan-lukisan yang ada menceritakan beberapa kejadian penting dalam sejarah bangsa Viking, yang gaya dekorasinya memberikan pengaruh kuat pada arsitektur gereja. Rupanya, teknik pemotongan kayu dan pembangunan Stavkirke sama dengan teknik yang digunakan bangsa Viking untuk membangun kapal-kapal panjang (longship) mereka. Hal tersebut menjadi rahasia kokohnya bangunan gereja hingga saat ini. Di ruangan kedua dipamerkan benda-benda peninggalan bangsa Viking yang mereka gunakan sehari-hari seperti aneka senjata, tameng, perhiasan dan peralatan rumah tangga. Di bagian tengah ruangan kedua terdapat etalase berisi benda-benda yang dulu pernah digunakan di dalam gereja. Salah satunya merupakan sebuah kitab suci tua berukuran besar yang ditulis dalam aksara Gotik seperti yang digunakan Gutenberg pada mesin cetaknya.

13709930_10210487177442190_971905180996368197_n

Kitab suci tua dengan aksara bergaya Gotik.

Tidak hanya memajang barang koleksi, museum kecil tersebut juga menyediakan kostum abad pertengahan yang dapat kita sewa untuk berfoto, juga kursus singkat mengenai aksara Rune yang digunakan bangsa Viking beserta cara mengukirnya di kayu. Ketika saya berada di ruangan tersebut, seorang pria berkostum Viking berwarna merah tengah sibuk berbicara dengan seorang perempuan yang entah sesama pengunjung atau staf museum saya juga tidak tahu. Kita simpan dulu cerita tentang pria Viking ini, karena nantinya ia akan jadi karakter penting dalam petualangan saya hari itu.

Berlanjut dari museum mini, saya keluar dan menyeberang jalan kecil menuju Heddal Stavkirke. Gereja tua berarsitektur unik tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-12. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa mungkin bangunan tersebut berusia lebih tua lagi. Heddal Stavkirke, yang dikelilingi kompleks pemakaman sebagaimana gereja-gereja di Norwegia pada umumnya, merupakan salah satu dari 750 bangunan gereja serupa yang dahulu pernah berdiri di negeri Viking tersebut. Saat ini hanya ada 28 Stavkirke yang masih berdiri dan Heddal Stavkirke adalah yang terbesar. Istilah Stavkirke atau stave church merujuk pada struktur rangka penopang bangunan berupa pilar-pilar kayu (staves) vertikal dan horisontal yang terbuat dari kayu pinus. Struktur seperti ini merupakan hal yang khas dari bangunan gereja di Eropa barat laut (Skandinavia).

Saya memasuki bangunan gereja tepat ketika pemandu mulai menjelaskan detil-detil dan aneka fakta menarik mengenai gereja tersebut. Sekedar informasi, tur dengan pemandu sudah termasuk dalam harga tiket. Pemandu menjelaskan bahwa Heddal Stavkirke didedikasikan untuk Bunda Maria yang namanya terukir dalam aksara Rune di salah satu dinding kayu lorong luar gereja. Selain struktur pilarnya, bangunan gereja ini memiliki beberapa detil yang menarik. Salah satunya adalah ukiran atap dan pintu yang menggambarkan hewan dan tumbuhan yang merupakan motif khas bangsa Viking. Ukiran-ukiran tersebut konon dipercaya sebagai simbol-simbol untuk menangkal roh-roh jahat yang datang dari utara. Jika diperhatikan, pada bagian gerbang terdapat ukiran yang menyerupai ular yang melingkar sedemikian rupa hingga kepala ular tersebut bertemu ekornya. Desain ini sangat banyak ditemui pada karya seni dan arsitektur Viking, tetapi di gereja ini, ia menjadi simbol lingkaran tak berujung. Simbol ini seolah memperingatkan roh jahat agar tidak mengganggu karena mereka akan terperangkap dalam lingkaran tak berujung seperti ular tersebut. Entah apa makna asli dari desain tersebut pada masa Viking sebelum agama kristen masuk, tetapi pendapat pribadi saya mengatakan bahwa simbol itu sudah ditafsirkan ulang untuk memenuhi ide-ide kristiani.

13729153_10210487222203309_3968156055809752292_n

Ukiran ular tak berujung pada bagian pintu.

13782103_10210487202042805_844442292418862898_n

Interior dalam gereja.

Kepercayaan bahwa roh-roh jahat datang dari sebelah utara membuat perempuan dan laki-laki harus duduk terpisah. Perempuanlah yang harus duduk pada deret bangku sebelah utara sementara laki-laki menempati deret selatan. Hal ini dilakukan karena masyarakat pada masa itu meyakini bahwa perempuan memiliki kemampuan magis untuk menangkal roh jahat dan melindungi para pria tersebut. Menarik, bukan? Ternyata penghargaan terhadap perempuan yang menjadi salah satu hal yang khas dari negara-negara Skandinavia sudah ada sejak zaman dahulu.

Para perempuan tersebut duduk di sisi utara, tempat tiang tertua dari bangunan gereja tersebut berdiri kokoh di sudutnya. Pada dinding sebelah utara pula kita dapat memperhatikan bahwa lukisan di dinding tersebut telah diganti. Awal mulanya, Heddal Stavkirke merupakan gereja Katolik yang memiliki lukisan para rasul dan kisah jalan salib di dinding sekelilingnya. Namun, sejak Reformasi Gereja sekitar tahun 1600-an, lukisan tersebut ditimpa dengan lukisan ornamen bunga mawar untuk menghindari kultus terhadap gambar atau patung yang tidak sesuai dengan ajaran Protestan. Sampai saat ini, kita masih dapat melihat lukisan asli di sela-sela lukisan ornamen mawar tersebut.

Sementara itu, para pria duduk di sebelah kanan atau sisi selatan bangunan gereja. Jika diperhatikan, dinding kayu di sisi selatan memiliki banyak lubang pipih di permukaannya. Menurut penjelasan Mbak Pemandu, lubang-lubang tersebut berasal dari pisau yang ditancapkan di dinding pada masa lalu oleh para jemaat gereja sebagai tempat menggantung topi. Tapi tidak semua jemaat boleh melakukannya, karena kebiasaan unik ini hanya boleh dilakukan oleh orang kaya saja. Hmm.. ternyata masih ada pengkelasan dari segi ekonomi 😀

13769421_10210487202922827_5016864429074121055_n

Kursi berukiran kisah Volsunga Saga dan bagian tangan yang menghitam.

Deretan bangku di utara dan selatan menghadap ke daerah altar yang tidak boleh diakses pengunjung (tapi boleh dilihat kok ^^). Tema lukisan pada altar adalah kisah penyaliban dan perjamuan terakhir. Selain dari suasananya yang sangat khas abad pertengahan, di dekat altar terdapat sebuah kursi kayu yang unik. Kursi tersebut didekorasi dengan ukiran yang lagi-lagi tipikal Norse yaitu kisah tentang Brynhildr dan Sigurd Fåvnesbane sang penakluk naga dalam saga Germanik kuno, Volsunga Saga. Saga yang berkaitan kuat dengan mitologi Norse ini juga merupakan salah satu media lisan yang digunakan dalam penyebaran agama kristen di abad pertengahan. Bukan cuma itu yang menarik dari kursi tua ini. Pada ujung sandaran tangan terdapat semacam bagian berbentuk bulat yang menghitam. Konon katanya, bagian tersebut menjadi hitam akibat sering dipelintir oleh uskup ketika berkunjung dan duduk di situ. Jika sang uskup marah, ia akan memelintir ujung sandaran tangan tersebut. Hahaha.. boleh percaya, boleh juga tidak 🙂

Setelah puas berkeliling di area bangunan gereja dan tak lupa meninggalkan kesan pesan dalam buku tamu, saya beranjak ke museum terbuka yang terletak di atas bukit di sebelah timur. Untuk mencapainya, saya harus berjalan kaki di jalan setapak yang menanjak selama sekitar 15 menit. Museum terbuka yang disebut Heddal Bygdetun ini merupakan kompleks peternakan dan pemukiman penduduk dari abad ke-18 yang dilestarikan dan dijadikan museum. Setiap rumah memiliki nama serta tahun pembangunannya dan masing-masing memamerkan berbagai hal yang khas dari wilayah Telemark mulai dari arsitektur kayunya sampai pakaian tradisionalnya.

Rumah pertama yang saya masuki berlantai dua dan berlangit-langit rendah. Isinya adalah perabotan rumah tangga dan peralatan masak seperti panci dan tungku. Rumah di sebelahnya yang masih semodel memamerkan karya-karya rajutan dengan motif-motif khas Telemark. Dari kedua rumah tersebut, saya berjalan menuju rumah utama yang paling besar dan terletak di tengah kompleks. Rumah tersebut, selain berfungsi sebagai dapur dari kafe mini yang ada di kompleks museum, juga memajang berbagai koleksi yang masih asli dari masa lampau. Ruangan besar di lantai satu yang terletak di sebelah dapur memajang sebuah meja panjang dan perapian tua. Dahulu, ruangan tersebut berfungsi sebagai ruang makan.

13754130_10210487288604969_7629065352935167194_n

Heddal Bygdetun

Dari lantai satu, saya menaiki tangga sempit yang berada di bagian depan rumah untuk mencapai lantai dua. Di lantai dua juga terdapat dua ruangan. Yang pertama merupakan ruang tinggal bagi keluarga yang menempati rumah tersebut di masa lalu. Di ruang tersebut terdapat dua tempat tidur kayu yang menurut saya ukurannya terlalu kecil untuk tidur dengan nyaman. Di sudut lain ruangan tersebut terdapat tempat tidur bayi, yang bersebelahan dengan meja di depan dinding berlukisan malaikat. Dari situ, saya berjalan ke ruangan kedua yang memajang pakaian tradisional Norwegia atau yang disebut bunad.

Setiap wilayah memiliki bunad yang berbeda-beda meski bentuk dasarnya sama. Di ruangan ini dipajang bunad khas Telemark dan biografi tentang seorang wanita yang pernah tinggal di peternakan tersebut dan bekerja sebagai pembuat bunad. Awalnya, ia hanya menjahit untuk dirinya sendiri. Namun, setiap kali ia menyelesaikan satu bunad, tetangga atau kenalannya akan meminta atau berusaha membelinya. Akhirnya, ia pun menjadi penjahit bunad.

Lelah berjalan-jalan, saya memutuskan untuk mencicipi hidangan khas daerah tersebut di kafe kecil di lantai bawah. Seorang pelayan dengan pakaian bunad merekomendasikan semacam pancake yang disebut lapper dan disertai pilihan saus stroberi atau krim. Saya duduk di beberapa bangku yang disediakan di sekitar rumah utama tersebut sambil menikmati udara segar musim panas Norwegia. Hidangan pun datang dalam beberapa menit saja. Sambil menghidangkan, sang pelayan menjelaskan bahwa makanan tersebut biasa dimakan untuk sarapan para penduduk desa tersebut di masa lampau. Lapper ini, meskipun tampaknya agak gosong karena dipanggang di tungku tradisional, rasanya manis seperti pancake atau kue khas Jepang dorayaki. Semakin lezat terutama setelah dibubuhi saus stroberi dan krim. Walaupun hanya makan satu potong, saya cukup kenyang untuk melanjutkan perjalanan.

13718500_10210487289164983_8307632213461258181_n

Lapper dan jus apel

Dari Heddal Bygdetun, saya kembali menuruni jalan setapak yang mengarah ke bangunan gereja. Saatnya mengakhiri eksplorasi saya di Heddal Stavkirke dan melanjutkan ke perhentian berikutnya. Demikian rencana yang ada di kepala saya, pacar saya dan orang tuanya. Tapi dasar gak mau rugi, alih-alih lurus ke parkiran mobil, saya justru berbelok kembali ke gedung administrasi. Niatnya hanya mau beli suvenir titipan ibu saya berupa magnet lemari es, kemudian dilanjut ke toilet. Eh, justru saya dan pacar saya belok kembali ke museum mini di basement.

Saya tahu ada yang saya belum lakukan di sana. Untuk melaksanakan maksud kami, kami pun berbicara dengan pria Viking yang sedari tadi masih di sana. Ia adalah staf museum, sekaligus guru yang akan mengajari saya tentang Rune. Dengan biaya 30 NOK, saya mengambil menit-menit terakhir sebelum tutupnya museum untuk berguru pada pria Viking tersebut. Oh ya, saya tidak sebut namanya karena memang saya tidak tanya. Takut terlalu pribadi untuk masyarakat introvert seperti Norwegia. Tetapi, sambil berusaha mengukir huruf Rune pada potongan kayu seperti yang ia ajarkan, saya justru mengepo sedikit kehidupannya. Ternyata, ia adalah seorang lulusan arkeologi dan sejarah yang menggemari reenactment atau rekonstruksi hidup peristiwa-peristiwa sejarah. Ia sudah sering memasang stand di festival-festival abad pertengahan yang sangat saya sukai.

Tangannya begitu terampil mengukir huruf-huruf Rune di atas potongan kayu ask. Saya berusaha mengikutinya sambil bertanya tentang aksara Rune. Rupanya, aksara Rune sudah tidak digunakan lagi sejak orang-orang mengenal perkamen dan tinta. Aksara Rune hanya digunakan pada kayu dan batu, mengingat bentuknya yang patah-patah dan kaku. Setiap huruf memiliki makna masing-masing, yang nanti akan saya bahas di cerita petualangan lainnya (ditunggu ya ^^).

Setelah obrolan panjang, jari-jari pegal dan serutan kulit kayu di mana-mana, saya berhasil mengukir Rune saya sendiri yang berbunyi “Helsing fra Heddal” yang berarti “Salam dari Heddal”. Saya pun berpamitan dan berterima kasih pada sang guru yang sudah dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan saya, berikut menghadapi wajah norak saya sebagai penggemar sejarah Viking dan abad pertengahan dari negeri yang jauh. Saya pun kembali ke mobil dan menemui kedua orang tua Chris yang tampak tidak sabar menunggu. Maklum, perjalanan masih panjang. Maaf ya, Om dan Tante! Tapi saya bahagia banget lho!

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful links:

Website resmi Heddal Stavkirke dalam bahasa Inggris:

http://www.heddalstavkirke.no/lang/gb

Kisah Volsunga Saga:

http://www.timelessmyths.com/norse/nibelungs.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s