Dari Swedia ke Norwegia via Laut Utara

Sekali berlayar, satu dua negara terlampaui. Begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk awal perjalanan darat saya sembari menikmati musim panas Skandinavia. Sebetulnya kurang tepat juga sih disebut “melampaui”, karena saya hanya menyebrang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Gak apa-apalah, setidaknya menginjakkan kaki di dua negara ^^ Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya naik kapal feri lho. Padahal saya tinggal di negara kepulauan dan maritim, tapi ujung-ujungnya justru berlayar pertama kali di negeri orang.

Perjalanan darat saya menuju Norwegia Utara musim panas 2016 ini dimulai di kota tepi pantai Halden di perbatasan Norwegia-Swedia. Perjalanan yang telah menjadi impian saya sejak lama ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari pacar saya, Chris dan ayah ibunya, Tor Vidar dan Ellen. Dari Halden, saya berangkat pukul 09.00 menuju kota pelabuhan lainnya di Swedia yang bernama Strömstad. Strömstad berjarak 30 menit perjalanan dengan mobil dari Halden, tepatnya sedikit di sebelah selatan. Lho? Kok malah turun ke Selatan dan bukan naik ke Utara? Karena perjalanan darat akan melalui sebelah barat Norwegia dan untuk mencapai kota pertama di sana yaitu Sandefjord, jalur tercepat adalah melalui laut dari Strömstad. Lebih jelasnya lagi memang harus lihat peta di bawah ini 😀

fesavcoloroutes

Rute-rute Color Line. Rute yang saya lalui adalah Strömstad – Sandefjord. Sumber: http://www.ferrysavers.es/

Dari Strömstad, saya menumpang kapal feri milik maskapai pelayaran Color Line bernama M/S Bohus. Woohoo.. pelayaran dengan feri pertama saya!! *norak mode: on*. Tarif perjalanan dengan M/S Bohus dapat berubah-ubah sesuai kapasitas dan permintaan pasar. Untuk saat ini, tarif satu kali pelayaran adalah 130 NOK untuk satu mobil dan satu orang, plus 30 NOK per penumpang tambahan. Dengan tiket tersebut, kita sudah memperoleh makan siang berupa buffet dan berbelanja di duty free Color Line. Lumayan banget nih 🙂

Perjalanan berawal di pelabuhan Strömstad. Setelah mobil diparkir di lantai dasar kapal, penumpang naik ke lantai dua tempat restoran dan kafe berada. Restoran untuk buffet berada di bagian belakang kapal dengan dikelilingi jendela kaca yang memungkinkan kita untuk melihat pemandangan laut yang biru dan pulau-pulau karang yang bertebaran. Saya mendapat meja dekat jendela belakang kapal, sehingga saya dapat melihat pelabuhan Strömstad semakin mengecil di kejauhan seiring dengan berlayarnya kapal. Lamanya pelayaran menuju Sandefjord adalah 2 jam 30 menit.

300px-color_bohus

M/S Bohus, kapal feri yang saya tumpangi. Sumber: http://www.en.wikimedia.org/

Interior kapal didominasi warna coklat tua dari kayu-kayu yang membentuk dindingnya dan memberi suasana antik pada kapal. Tidak perlu banyak penerangan di dalam kapal karena sinar matahari bersinar cerah hari itu hingga mampu menembus jendela-jendela di sepanjang dinding kapal. Ombaknya cukup kuat karena angin berhembus relatif kencang. Saya terombang-ambing ketika hendak mengambil makanan dari buffet yang tersedia. Derita punya badan kecil 😥 Alhasil saya harus berjalan sambil berpegangan pada tiang atau meja-kursi.

bohus_1971_inr_001

Interior restaurant buffet M/S Bohus yang didominasi kayu. Sumber: http://www.faktaomfartyg.se/

Menu yang ditawarkan sangat bervariatif meski didominasi makanan Eropa. Untuk menu pembuka disediakan beberapa jenis salad yang bisa kita ramu sendiri. Menu utama disediakan pilihan potato wedges atau roti dengan lauk berupa sosis, telur dan daging yang dimasak dengan berbagai cara. Ada salmon juga yang menjadi favorit saya setiap kali pergi ke Norwegia. Sebagai penutup, kita bisa memilih es krim, buah dan puding. Nyam! Lezatnya 🙂

Entah mengapa, sehabis makan saya justru mengantuk parah. Mungkin akibat masih jet lag karena saya baru mendarat dua hari lalu sehabis terbang 19 jam dari Jakarta. Mungkin juga akibat ombak yang terasa seperti ayunan bayi (eh, beneran loh! Saya ‘kan baru pertama kali naik kapal feri 😀) Saya pun sukses tertidur pulas di meja selama kira-kira setengah jam. Astaga! Beneran buang-buang waktu. Untungnya saya masih punya peran lain, yaitu mengawasi tas-tas dan barang-barang bawaan yang ditinggal keluarga Chris yang dengan asyiknya menikmati udara segar di luar.

Nah, udara segar! Ini dia yang saya butuhkan supaya berhenti tidur. Akhirnya, begitu orang tua Chris kembali, saya dan dia buru-buru naik ke lantai atas untuk menikmati udara segar. Sulit juga ternyata berjalan di dalam kapal yang terombang-ambing, terutama ketika menaiki tangga. Ternyata, di lantai tiga terdapat dek yang terbuka. Di sana berjajar beberapa meja yang di atasnya dipasang atap tempat orang-orang bisa makan dan minum di udara terbuka. Sedikit ke atas lagi di bagian belakang kapal adalah daerah yang benar-benar terbuka (tanpa atap) yang juga dilengkapi beberapa bangku. Senangnya berlibur di Norwegia adalah sedikitnya jumlah manusia, sehingga bangku-bangku tersebut tidak penuh, apalagi oleh orang-orang yang berfoto tanpa henti ^^ Akan tetapi, sebagai orang Asia (atau Indonesia) saya tentu tidak lupa menjepret beberapa foto dan selfie di sini, walaupun angin bertiup kencang dan berkali-kali foto selfie saya dipenuhi rambut hahaha 😀 Rasa kantuk saya langsung terobati setelah duduk-duduk di atas beberapa saat. Sekedar info, meskipun matahari bersinar dan langit cerah tanpa awan, angin laut Skandinavia cukup dingin. Jangan lupa membawa jaket atau cardigan (syukur-syukur punya windbreaker) sebagai penangkal dingin 🙂

13669053_10210478002692827_4267706585559891217_n

Birunya laut dan langit utara 🙂

13700141_10210478002532823_7280807025074329443_n

Narsis di tengah tiupan angin laut hehehe… 😛

Berlalu dari dek terbuka, saya menuju bagian depan kapal yang ternyata tempat toko-toko berada. Ada toko suvenir Color Line yang menjual aneka suvenir bertema laut atau kapal dan pakaian-pakaian, khususnya pakaian anti dingin yang sangat penting dibawa ketika bepergian ke Skandinavia. Di bagian terdepan adalah duty free shop yang menjual aneka benda dari kosmetik hingga makanan. Di duty free shop ini kita cukup menunjukkan tiket dan akan mendapatkan potongan harga yang lumayan. Cukup murah dibandingkan dengan membeli di darat, terlebih di Norwegia yang nilai mata uangnya lebih tinggi dibanding Swedia. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli bekal minuman di perjalanan dan beberapa snack.

Selesai membayar, terdengarlah pengumuman dari nahkoda kapal yang memberi tahu kami untuk kembali ke mobil karena kapal akan segera merapat di pelabuhan Sandefjord. Berakhirlah pelayaran singkat dengan kapal feri pertama saya yang sangat berkesan tersebut. Setelah kembali ke mobil dan menunggu beberapa saat, pintu kapal dibuka dan kami pun langsung meluncur kembali ke Norwegia. Eits, tidak bisa langsung keluar dari pelabuhan, karena mobil kita dihentikan sebentar oleh petugas. Beliau meminta kami memperlihatkan identitas atau paspor. Border control, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, untuk menghindari masuknya imigran ilegal dari Uni Eropa. Dengan ramah, Pak Petugas mencari saya ketika melihat ada paspor Indonesia. Saya pun membalas dengan sapaan dan tersenyum. Kemudian, ia mempersilakan mobil kami untuk terus berjalan. Dengan demikian, dimulailah perjalanan darat kami yang sesungguhnya. 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Useful links:

http://www.colorline.com/crossings/from_str_mstad_to_sandefjord

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s