Siapkan Nyawamu di Luar Negeri!

Ini bukan tentang menjaga diri dari hal-hal yang berbahaya selama bepergian. Juga bukan tentang menjaga kesehatan apalagi menghadapi bahaya terorisme. Ini hanyalah tulisan tentang mempersiapkan sebuah benda yang sangat penting di kala bepergian. Paspor dan visa, alias nyawa kita ketika bepergian terutama ke luar negeri. Mengapa ini jadi nyawa kita? Karena paspor, terlebih lagi visa, adalah identitas kita di luar negeri sekaligus dokumen yang punya pernyataan sah bahwa kita memasuki atau berada di wilayah suatu negara secara legal. Kita tidak bisa jalan-jalan tanpa ini. Memasuki negara tertentu saja belum tentu bisa. Nah, kalau hilang? Ya udah mati aja. Hahaha..Β  Gak seburuk itu sih. Kalau hilang ya harus mengurus ke polisi dan KBRI yang pastinya ribet. Jangan sampai tertangkap gak punya paspor atau visa karena ancaman hukumannya deportasi dan larangan memasuki negara tersebut. Gak mau kan?

Beruntunglah saya belum pernah punya pengalaman kehilangan paspor dan visa. Bisa nangis kejer di pojokan deh kalau kejadian. Bikinnya aja susah terus hilang πŸ˜₯ Bicara tentang buat paspor dan visa, di sini saya akan cerita tentang pengalaman saya membuat keduanya.

Paspor

Saya membuat paspor pertama kali tahun 2009 sebelum berangkat ke Thailand untuk pertukaran pelajar dari SMA. Bikinnya bisa dibilang dadakan. Maklum, belum pernah ke luar negeri sebelumnya, bahkan gak kebayang bakal bisa ke luar negeri di usia semuda itu. Singkat cerita, guru saya yang mengurus pertukaran pelajar tiba-tiba bertanya apakah saya sudah punya paspor. Ketika saya jawab tidak, beliau buru-buru menyuruh saya buat karena tanggal keberangkatan tidak lama lagi. Waktu itu saya buat paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur, walaupun saya domisili di Bekasi. Biar mudah saja, karena kebetulan ada kenalan orang tua di situ. Setelah diambil data-data biometrik dan wawancara singkat tentang alasan pembuatan paspor, akhirnya paspor pun jadi beberapa hari kemudian. Saya tidak terlalu ingat proses detilnya karena masih bingung dengan ini itu.

Kemudian pada tahun 2014, saya perpanjang paspor saya. Proses yang kali ini lebih terekam di ingatan saya karena saya sudah lebih dewasa dan banyak tahu. Kali ini buatnya di Kantor Imigrasi Karawang. Wuahh.. tambah jauh! Alasannya saat itu karena ibu saya berkantor di Cikarang dan di situlah ia biasa membantu karyawan-karyawan membuat paspor untuk dinas. Wahh.. jarak 5 tahun sudah beda sekali. Kantor imigrasi lebih tertib prosesnya, lebih bersih dan lebih rapi. Prosesnya kurang lebih sama: memasukkan dokumen-dokumen yang diperlukan (misalnya akte kelahiran dan KK), mengambil data-data biometrik (foto dan scan sidik jari), dan wawancara singkat. Hati-hati jika kalian bertato di bagian yang terlihat pada foto karena petugasnya suka sensi dan keberatan. Padahal sih menurut saya aneh, karena tato justru berguna untuk tanda pengenal diri. Setelah semuanya selesai, paspor bisa diambil maksimal seminggu setelahnya. Paspor lama saya tidak dibuang, tetapi dikembalikan dalam keadaan digunting dan dicap. Tandanya tidak berlaku lagi. Selesailah urusan nyawa yang pertama.

Sekedar saran nih, ada baiknya kalau sempat kita sudah buat paspor bahkan sebelum berencana ke luar negeri. Selain mempersingkat waktu persiapan keberangkatan kalau tiba-tiba ketiban berkat, juga menginspirasi dan memacu kita untuk melakukan perjalanan lebih jauh lagi. Hal ini juga disarankan oleh salah satu dosen FEBUI yang terkenal, Bapak Rhenald Kasali. Dalam tulisannya (bisa dibaca di sini nih: https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/patrya-pratama/passport-by-rhenald-kasali), beliau pernah menceritakan bagaimana beliau mempersiapkan mahasiswa-mahasiswanya untuk menjadi warga dunia dan menjelajah dunia lebih luas lagi. Caranya: buat paspor dulu bahkan sebelum ada rencana pergi!

Visa

Dari berbagai jenis visa yang ada di dunia turisme, saya hanya pernah membuat visa Schengen. Visa Schengen dapat digunakan untuk bepergian di negara-negara Uni Eropa dan beberapa negara EEA (seperti Norwegia dan Islandia) dengan lama maksimal 90 hari/3 bulan. Biasanya, sekali sudah dicap di salah satu bandara yang berada di wilayah Schengen, kita bisa bepergian ke wilayah Schengen lain tanpa melalui pemeriksaan paspor dan visa. Setidaknya demikian pengalaman saya ketika bepergian ke Austria melalui Jerman. Akan tetapi, perkembangan terbaru yang muncul akibat gelombang migrasi ke Eropa mengubah peraturan tersebut di beberapa daerah. Baru-baru ini, saya memasuki Norwegia via Swedia lewat laut dan mereka tetap memberlakukan pengecekan paspor dan visa alias border control.

Lalu, bagaimana cara memperoleh visa Schengen? Visa Schengen bisa di-apply di semua kedutaan yang termasuk wilayahnya. Ada beberapa alternatif negara yang bisa dipilih untuk pembuatan visa Schengen, yaitu: 1) negara pertama yang dikunjungi atau negara tempat kita memasuki wilayah Schengen atau 2) negara tujuan utama tempat kita akan tinggal paling lama selama perjalanan. Saya selalu memilih alternatif kedua. Beberapa negara yang termasuk wilayah Schengen tidak punya perwakilan kedutaan di Indonesia, sehingga kita harus mengajukan visa lewat kedutaan lain yang mengambil tanggung jawabnya, misalnya visa ke Latvia harus lewat kedubes Jerman sedangkan visa Islandia bisa lewat kedubes negara Nordik lain seperti Denmark atau Norwegia.

Visa Schengen Lewat Kedubes Jerman

Tahun 2013, saya mengajukan permohonan visa Schengen melalui kedutaan Jerman karena memang saya akan berada di sana selama 1 bulan. Proses pengajuan visa diawali dengan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan berdasarkan jenis visa yang diinginkan dan membuat janji temu dengan pihak kedutaan. Pada saat itu, formulir pengajuan visa hanya dapat diisi secara manual, tetapi sekarang sudah ada versi online yang bisa diisi secara elektronik dan tinggal dicetak. Janji temu dapat dibuat melalui website kedutaan Jerman, yang biasanya dapat dipilih dari pk 08.00 – 12.00 dari hari Senin sampai Jumat. Jika terlambat, kita akan diletakkan pada urutan terakhir dan kalau tidak memungkinkan, kita harus membuat janji temu lagi.

Waktu itu saya berangkat pk 08.00 untuk janji temu pk 10.00. Jangan lupa untuk membawa bukti pembuatan janji temu tersebut untuk ditunjukkan pada pihak kedutaan. Sudah sepagi itu pun jalanan Jakarta masih macet luar biasa. Beruntunglah supir taksi yang saya tumpangi pintar dan berhasil menerobos kemacetan. Caranya? Masuk tol dan nebeng di belakang mobil pejabat yang lewat. Hehehe.. Dari arah Pancoran tahu-tahu saya sudah tiba di daerah Semanggi. Kedubesnya sendiri ada di Jl. Thamrin, di seberang Menara BCA dan di samping Mandarin Oriental Hotel.

Begitu tiba, saya harus absen ke satpam kedutaan sambil menunjukkan bukti janji temu yang dicocokkan dengan nomor paspor saya di daftar yang dibawanya. Selanjutnya, saya disuruh menunggu di luar pagar sembari antri. Maklum, tiba kepagian setelah nebeng mobil pejabat ^^. Ternyata, saya baru boleh masuk kira-kira satu jam sebelum giliran kita tiba. Begitu masuk, tas saya diperiksa dan handphone wajib dimatikan sebelum dititipkan pada satpam. Handphone tersebut akan ditempatkan di loker yang kuncinya boleh saya bawa untuk nanti diambil lagi setelah selesai. Kemudian, saya langsung naik ke lantai 2 di bagian pembuatan visa.

Tiba di lantai dua, saya diabsen lagi. Kali ini oleh staf kedutaan bagian konsuler. Ternyata kita tidak bisa langsung ke loket. Setelah dipastikan hadir, nama kita akan diserahkan pada petugas loket untuk kemudian dipanggil. Lagi-lagi menunggu dan tanpa handphone atau apapun yang bisa dijadikan penghilang bosan. Alhasil saya pun mengepo pembicaraan orang-orang sekitar πŸ˜€ Ada yang mau ke Jerman untuk kuliah, kerja, bahkan nikah. Waktu itu sempat mikir, kapan ya saya ke sana buat nikah? Hahaa.. Sekarang sih sudah gak lagi berhubung sudah pindah haluan πŸ˜›

Kira-kira setengah jam kemudian, tibalah giliran saya. Penyerahan dokumen relatif lancar karena petugas tidak banyak bertanya terutama setelah mengetahui bahwa saya berangkat dengan beasiswa dari insitusi Jerman (DAAD). Hanya saja petugasnya kurang ramah. Waktu itu, saya yang masih bego belum tahu kalau dokumen hanya perlu diletakkan di kotak yang ada di depan saya. Kotak itu kemudian akan ditarik oleh si petugas sehingga bergeser ke tempatnya dan dokumen pun bisa diambil. Berhubung saya belum pernah lihat sistem kotak begitu, saya letakkan tangan saya di situ bersama dengan dokumen-dokumen yang saya bawa. Dengan suara tinggi dan wajah sebal, si petugas langsung berkata: “kalau tangan kamu masih ditaruh di situ gimana caranya saya bisa ambil dokumen kamu?!”. Dalam hati saya, ya ampun Mbak… ‘kan bisa dijelasin pelan-pelan. Belakangan saya tahu dari rekan kerja kalau memang petugas kedutaan dilatih untuk galak dan bicara seperti itu. Dalam hati lagi, ya ampun kasihan banget ya… bertahun-tahun kerja diajarin jadi beremosi negatif gitu.Β Katanya sih buat keamanan. Katanya. Tapi saya jadi punya penilaian negatif terhadap pelayanannya. Semoga tidak kejadian dengan para pembaca sekalian πŸ™‚

Hal yang mengecewakan tidak sampai di situ, karena waktu proses visa yang sebetulnya relatif cepat dibandingkan negara-negara Schengen lain (min. 3 hari dan rata-rata seminggu) jadi lebih lama karena dokumen yang kurang. Ya, betul sekali, saya tidak memasukkan asuransi perjalanan, karena ternyata beasiswa saya hanya memberikan asuransi untuk selama di sana. Parahnya, petugas yang galak saat itu tidak memberi tahu apa-apa dan langsung menerima semua dokumen saya seperti tanpa masalah. Begitu tiba hari yang dijadwalkan untuk pengambilan visa, saya baru ditelepon bahwa ada yang kurang. Alhasil saya membuang waktu 1 minggu hanya untuk mengantarkan dokumen yang kurang tersebut. Beruntunglah pada akhirnya saya memperoleh visa tersebut tanpa kendala yang berarti. Rata-rata visa Jerman, apabila tidak terkendala, bisa diambil seminggu setelah hari pengajuan.

Visa Schengen Lewat Norway Visa Application Center

Nah, mengapa bukan di kedutaan? Pertanyaan bagus, nih. Karena Norwegia menggunakan pihak ketiga untuk membantu mengurus pengajuan visa. Bisa saja sih, kalau mau apply via kedutaan, tetapi prosesnya lebih lama dan waktu yang tersedia lebih sedikit. Norway Visa Application Center letaknya ada di kantor VFS Global di Kuningan City. Informasi tambahan, negara-negara lain yang juga pakai jasa VFS Global adalah Italia, Spanyol, Denmark, Swedia, Austria, UK, dan Selandia Baru.

Sejujurnya, dibandingkan dengan lewat kedutaan, saya lebih suka cara ini. Atmosfer tempat pengajuan visa jauh lebih santai karena tidak berada di tanah diplomatik yang diawasi security selama 24 jam. Pelayanannya juga jauh lebih memuaskan dan ramah karena petugas-petugasnya dilatih untuk bersikap ramah dan helpful, bukan galak dan awas. Selain itu, lokasinya juga lebih terjangkau dan murah dari tempat tinggal saya (terutama setelah ada feeder Transjakarta dari Stasiun Tebet hehehe..).

Dibandingkan ketika mengajukan visa ke Jerman, dokumen yang saya bawa jauh lebih rumit dan banyak. Proses pengajuan visa diawali dengan memilih tipe visa. Jangan salah, kalau di kedubes Jerman hanya ada 3 tipe visa (turisme, kunjungan dan bisnis), di kedubes Norwegia mungkin ada lebih dari 7 tipe! Di antaranya ada kunjungan turis, kunjungan teman, kunjungan kekasih/partner, bisnis/kerja, kuliah, au pair, dll. Semua tipe tersebut punya persyaratan yang beda-beda. Berhubung saya diundang oleh pacar sendiri, saya harus memenuhi persyaratan dokumen untuk kunjungan kekasih/partner. Yang berbeda dari tipe ini dengan tipe visa lain adalah adanya surat undangan dari pihak pengundang, surat garansi sponsor (alias bukti kalau dia dan keluarganya akan membiayai akomodasi saya dan tidak menelantarkan saya di sana), kartu identitasnya/paspornya dan kuesioner mengenai hubungan yang dijalani. Paling malas mengisi yang terakhir ini karena rasanya seperti dikepo luar biasa. Bahkan ada pertanyaan: “apakah Anda berencana menikah? Sudah menentukan tanggal?” Aduhh.. yang begitu dibaca banyak orang dari petugas loket visa sampai bagian konsuler kedutaan. Diarsipkan pula oleh dinas imigrasi Norwegia. Tapi tenang, syarat ini baru saja dihapus tahun 2016 πŸ™‚

Kembali pada proses, setelah semua dokumen disiapkan, selanjutnya adalah mengisi formulir pengajuan visa. Formulir yang berhalaman-halaman ini sama persis isinya dengan yang saya isi secara manual di kedubes Jerman. Bedanya, untuk dapat mengisi formulir ini, kita harus buat akun di website dinas imigrasi Norwegia (UDI). Setelah punya akun, barulah kita bisa mengisi formulir dan melakukan pengajuan visa sebanyak yang kita inginkan. Kalau belum mengisi ini plus membayar biaya pembuatan visa Schengen sebesar 60 Euro, kita tidak bisa mengajukan visa ke Application Center. Cara membayarnya pun wajib menggunakan kartu kredit. Nah, ini dia bencananya buat yang belum terbiasa dengan masyarakat cashless seperti Norwegia. Alhasil saya selalu pinjam punya pacar hehehe… πŸ˜›

Selanjutnya, formulir yang sudah diprint, cover letter beserta bukti bayar yang kita peroleh dari situs tersebut harus dibawa bersama dengan sisa dokumen pelengkap ke Application Center. Karena biasanya tidak banyak antrian, untuk Norway Visa Application Center tidak diperlukan pembuatan janji temu (horeee..!!!). Saya langsung saja datang, melalui pemeriksaan tas, mematikan handphone, memperoleh nomor antrian dan menunggu di area tunggu yang sudah disediakan di dalam dengan banyak kursi dan TV layar datar yang memutar film promosi masing-masing negara tujuan. Puas deh di-spoiler sebelum pergi πŸ™‚

Tiga kali saya mengajukan visa di sini, sebanyak dua kali saya bisa langsung ke loket nyaris tanpa antri. Apalagi ketika musim dingin, seingat saya waktu itu cuma ada saya. Mana tahan orang Indonesia sama dingin beku ala kutub utara πŸ˜€ Pengalaman berbeda terjadi pada liburan musim panas. Tiba-tiba seolah-olah semua orang Indonesia ingin berlibur ke Norwegia. Hasil menguping pembicaraan beberapa staf tour and travel yang mengantri bersama saya, ternyata pasar turisme Rusia-Skandinavia lagi booming akhir-akhir ini (atau mungkin memang banyak orang Indonesia yang bertambah kaya ^^). Bukan hanya antrian yang memanjang, melainkan juga proses pembuatan visa. Saya ingat, visa Norwegia pertama saya jadi hanya dalam waktu 3 hari alias standar minimum waktu proses visa Schengen. Visa liburan musim panas saya jadi dalam waktu 8-9 hari gara-gara antrian dari grup-grup tur yang banyak luar biasa itu.

Di loket sendiri semuanya sangat lancar. Petugasnya ramah dan sangat membantu. Mereka akan membantu memastikan bahwa tipe visa kita sudah tepat, kemudian mengecek dan menyusun satu persatu dokumen yang kita bawa sesuai persyaratan dengan teliti. Bahkan kadang-kadang menandai bagian-bagian penting dengan stabilo untuk memudahkan pihak kedutaan. Jika ada yang salah tulis, mereka membantu kita mengoreksinya dengan tip ex dan bolpoin yang kemudian dibubuhkan tanda tangan kita dekat dengan bagian informasi yang diganti. Sama sekali tidak kaku dan ketat. Satu-satunya syarat yang sangat mereka tekankan adalah tidak ada dokumen yang distaples dan bahwa paspor tidak boleh diberikan bersama sarungnya. Jika ada dokumen yang kurang, mereka akan meminta kita untuk menggunakan jasa fotokopi yang ada di tempat tersebut, mencetaknya dengan printer yang juga disediakan, atau menyusulkannya via email ke website mereka yang akan diteruskan ke pihak kedutaan. Mudah sekali, sama sekali tidak ada yang dipersulit.

Tentu saja pelayanan tersebut tidak gratis ^^ hahaha… tapi setidaknya ada pilihan, bukan? Untuk pelayanan tersebut dikenakan biaya Rp 200.000, – dan tambahan Rp 20.000,- jika kita ingin menggunakan jasa notifikasi SMS untuk proses visa kita dan kapan bisa diambil. Rangkaian proses pengajuan visa berakhir dengan pengambilan data biometrik (foto dan sidik jari) apabila kita belum pernah melakukannya. Sejak beberapa tahun terakhir, negara-negara Schengen mewajibkan hal ini. Apabila kita sudah pernah memberikan data biometrik di salah satu negara Schengen, dalam 5 tahun ke depan kita tidak perlu lagi memberikannya karena sudah tersimpan di database semua negara Schengen πŸ™‚ Kecuali kalau tidak bisa terbaca seperti yang terjadi pada saya tahun lalu *hiks*

Pada intinya, setiap tempat pengajuan visa punya plus minus baik dari segi keamanan maupun kenyamanan. Kalau saya pribadi sih, masih tetap berharap kedutaan Jerman membuka loket di Kuningan City πŸ™‚

med kjærlighet,

Frouwelinde

Useful websites that I use:

Visa Schengen via Jerman

http://www.jakarta.diplo.de/Vertretung/jakarta/id/01_20Visa_20idn/0-visabestimmungen.html

Visa Schengen via Norwegia

http://www.norway.or.id/studywork/visaandresidence/Visas-and-Residence-Permits/Schengen-visa/Schengen-Visa/

http://www.vfsglobal.com/norway/indonesia/

https://www.udi.no/en/ (website resmi Dinas Imigrasi Norwegia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s