In the Beginning…

“Um erfolgreich zu sein, musst du alles geben.” – Bastian Schweinsteiger.

Kutipan di atas berasal dari salah satu pemain sepak bola dari timnas Jerman yang namanya sudah tidak asing lagi. Jika diterjemahkan kira-kira berbunyi “untuk menjadi sukses, kamu harus memberikan segalanya.” Kutipan ini memang baru saya dengar di tahun 2008 ketika Jerman bertanding di ajang Piala Eropa di Swiss dan Austria. Sejak saat itu, kutipan ini langsung menjadi salah satu kata-kata motivasi favorit saya.

Lantas apa kaitannya dengan semua perjalanan yang saya lakukan?

Kisah panjang itu dimulai jauh di masa kecil saya. Sedari kecil, saya adalah seorang anak yang senang mempelajari pengetahuan umum. Ibu saya bercerita, sejak usia 2 atau 3 tahun, saya sudah diajak menghafal nama-nama bandara di Indonesia dan dunia. Tidak banyak memang, hanya yang mudah dan terkenal saja. Ibu juga bercerita bahwa saya punya daya ingat yang kuat akan tempat. Misalnya, jika saya sekeluarga berkunjung ke rumah kakek dan nenek di Solo, ibu saya suka menunjukkan tempat-tempat di masa kecilnya. Dengan mudah saya menghafal tempat-tempat itu. Di rumah kakek dan nenek, saya mempunyai tempat favorit, yaitu sofa yang berada dekat dengan rak buku. Di dalam rak buku tersebut tersimpan buku-buku berukuran besar yang sangat saya sukai. Saya ingat ketika hampir setiap hari jika saya sedang berada di rumah saja, saya akan memanjat sofa tersebut dan meraih buku-buku seri Pustaka Alam LIFE yang membahas kenampakan alam, flora dan fauna di berbagai belahan dunia. Saya akan duduk di sana sangat lama sembari membolak-balik halaman buku-buku tersebut. Saya akan berhenti dan terpana dengan foto pemandangan berjudul “Lembah Lauterbrunnen di Swiss” dalam buku berjudul “Gunung”. Pada hari lain saya melahap halaman demi halaman tentang perjalanan Robert S. Parry dan Roald Amundsen ke kedua kutub, tak lupa mengagumi foto aurora borealis yang ada di dalam buku berjudul “Kutub”.

Ayah saya mengetahui betul kegemaran saya akan tempat-tempat yang jauh dan asing. Bahkan ketika kecil dulu saya ditanya tentang cita-cita, saya selalu menjawab bahwa saya akan menjadi pilot. Ketika saya memasuki usia SD, saya suka mendatangi ayah saya dan meminta untuk dibuatkan soal serupa kuis Who Wants to be a Millionaire tetapi khusus pertanyaan-pertanyaan geografi regional. Sambil bermain, ia berpesan pada saya, “kamu belajar yang pintar biar bisa sekolah di luar negeri. Kalau kamu dapat beasiswa, kamu bisa kuliah di luar negeri dan melihat tempat-tempat yang kamu inginkan.” Lalu saya bertanya, “tempat favorit papa apa?” “Kalau papa ke luar negeri, papa ingin ke Swiss atau Skandinavia. Di sana bagus pemandangannya. Banyak gunung-gunung bersalju seperti yang kamu suka,” jawabnya.

Banyak Jalan Menuju Jerman

Rupanya kata-kata di atas merupakan satu dari dua hal yang beliau wariskan pada saya sebelum meninggalnya beliau di tahun 2006. Hal kedua yang diwariskan pada saya adalah kesukaan terhadap Jerman setelah kami menghabiskan sebulan terakhir hidupnya menonton aksi Jerman di Piala Dunia 2006 bersama-sama. Saya sebelumnya tidak pernah suka bola, tetapi entah mengapa pada tahun itu saya mendapat kesan bahwa menonton sepak bola ternyata sangat menyenangkan. Dari sanalah kesukaan saya akan Jerman berasal dan terus berkembang hingga kini.

Karena kesukaan itu, saya pun memilih jurusan Bahasa di SMA dengan alasan agar saya dapat mempelajari bahasa Jerman. Kebetulan SMA saya merupakan salah satu partner pemerintah Jerman dalam program PASCH Schulen: Partner der Zukunft. Sebagai akibatnya, sekolah saya memberi kesempatan bagi murid-murid dengan nilai tes terbaik untuk mengikuti pertukaran pelajar selama 3 minggu di Jerman. Saya pikir, hal itu adalah kesempatan pertama saya untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh ayah beberapa tahun lalu. Saya begitu percaya diri pada awal tahap seleksi. Akan tetapi, kesombongan berbuah pahit. Saya gagal dalam seleksi itu. Kegagalan itu sempat membuat saya ingin menyerah dan berhenti mendalami bahasa Jerman. Beruntunglah saya memiliki seorang ibu yang terus memotivasi saya untuk berjuang dan mencoba lagi. Saya ingat nasehat beliau ketika itu: “tidak apa-apa, kamu tidak dapat karena memang belum waktunya. Biarkan teman-temanmu yang pergi. Mungkin ini kesempatan satu-satunya bagi mereka. Untuk kamu masih ada lagi, nanti jika kamu kuliah.” Memang di saat itu saya sudah berencana untuk mengambil jurusan Sastra Jerman di Universitas Indonesia.

Singkat cerita, saya lulus SMA dan dengan berkat Tuhan berhasil diterima di jurusan yang saya inginkan. Betapa semangatnya saya ketika mendengar bahwa ada kesempatan beasiswa kuliah musim panas selama sebulan di Jerman. Wow, sebulan! Lebih lama satu minggu daripada kesempatan di SMA. Lebih serunya lagi, kita diberi kesempatan memilih kota dan universitas yang kita inginkan berikut programnya. Saya langsung tancap gas dan belajar rajin sejak semester 1, karena calon-calon penerima beasiswa dipilih dari nilai. Di sinilah salah satu cobaan datang. Mungkin karena saya terlalu heboh belajar, teman-teman jadi tidak menyukainya. Tahun ketiga kuliah, saya berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut. Saya memilih Ludwig Maximillian Universität di München, kota favorit saya. Pengalaman saya selama di München menjadi hal yang tidak pernah terlupakan, terlebih lagi karena ada satu momen yang akhirnya menentukan cerita-cerita di masa depan saya.

Belok ke Skandinavia

Satu momen di München tersebut tidak dapat dilepaskan dari cerita beloknya minat saya ke arah utara, tepatnya ke negara-negara Skandinavia. Jadi ceritanya, ketika saya masih di tahun pertama kuliah, saya ikut di kelas wajib jurusan Sastra Jerman yang namanya Pengantar Kebudayaan Jerman (PKJ). Mata kuliah yang merupakan momok maba Jerman karena sumber-sumber materinya yang sebagian besar bahasa Jerman dan nilai-nilai ujian yang ajaib ini justru menjadi favorit saya. Mengapa? Karena di sinilah saya mengenal kebudayaan masa lampau yang membentuk negara Jerman, tepatnya kebudayaan pada masa abad pertengahan. Di sinilah saya mempelajari banyak karya sastra Jerman abad pertengahan, salah satunya yang menjadi favorit saya sampai sekarang, yaitu Nibelungenlied. Nibelungenlied adalah sebuah epos yang ditulis pada masa abad pertengahan dan terinspirasi dari sastra lisan yang berkembang ketika suku-suku Germania masih melakukan migrasi besar dari timur Eropa. Kebetulan, tema inilah yang menjadi tema presentasi saya dan karenanya saya jadi banyak membaca tentangnya. Rupanya, Nibelungenlied ini merupakan versi Jerman dari suatu karya yang lebih tua lagi, yang dikenal dengan nama Volsunga Saga, yang berasal dari daerah Skandinavia. Di sinilah saya mengenal bahwa mitologi yang terkandung dalam karya sastra Jerman abad pertengahan adalah pengaruh dari mitologi Norse Skandinavia. Saya pun jatuh hati pada negeri-negeri Eropa Utara tersebut, khususnya Norwegia, yang menurut saya memiliki kenampakan alam yang paling indah dengan fjord dan aurora borealisnya (ingat bahwa saya suka sekali membaca tentang ekspedisi kutub ^^).

Ketertarikan saya kepada Norwegia membuat saya mencari sahabat pena lewat situs Interpals.net untuk membantu saya mempelajari bahasa dan budaya Norwegia. Saya pun bertemu seorang teman pria yang sangat ramah, sebut saja namanya Fenris (seperti username Interpalsnya) yang meskipun saya menghilang dari situs tersebut berkali-kali tetap saja bersedia membalas pesan dan email saya. Dari Interpals, kami pindah ke Skype. Sampai pada tahun 2013 ketika saya di München, ia memutuskan untuk menemui saya. Kami bersahabat dekat saat itu. Selama 2 hari, tepatnya di tanggal 21 dan 22 Agustus 2013, kami berjalan-jalan bersama mengelilingi kota München. Sayang memang hanya 2 hari, tapi apa boleh buat, saya sibuk berkuliah saat itu. Akan tetapi, dua hari saja sudah cukup untuk membuat kami yakin bahwa kami ingin mengenal satu sama lain lebih banyak lagi. Demikianlah, setahun kemudian kami menjadi pasangan kekasih dan bukan hanya sahabat lagi. 🙂

Tahun 2014, ia mengundang saya selepas lulus untuk bertemu keluarganya di Norwegia. Bayangkan, saya pun tidak bisa percaya sampai sekarang bahwa pada usia ke-21 saya sudah bisa mewujudkan salah satu impian terbesar saya: travelling ke luar negeri seperti yang pernah saya obrolkan dengan ayah saya. Dan kedua negara yang saya kunjungi adalah juga kedua negara favorit saya! Tidak sampai di sana saja, karena semua perjalanan saya gratis hehehe 😀

Sekarang saya sering merenung, kalau saja saya menyerah pada kegagalan pertama di SMA, saya mungkin tidak akan sampai di sini. Kalau saja saya break down setelah meninggalnya ayah saya, mungkin saya tidak akan mewujudkan impian saya. Kalau saja saya berhenti berjuang karena omongan teman-teman, mungkin saya masih menjadi seorang gadis biasa yang terjebak pada rutinitas kehidupan yang lurus tanpa pengalaman berarti. Saya tidak akan sepuas dan sebahagia sekarang. Benar kata Schweinsteiger, berikan semuanya untuk menjadi sukses. Jangan menyerah mencapai impian 🙂

mit Liebe,

Frouwelinde

Baca lebih lanjut:

Kisah cinta saya dengan Jerman: http://mysecretcornflowerfield.blogspot.co.id/2010/07/its-d-for-deutschland.html

Lebih lanjut tentang Interpals.net: http://mysecretcornflowerfield.blogspot.co.id/2013/07/interpals-meet-your-international.html

 

 

Advertisements

2 thoughts on “In the Beginning…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s